• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Mathiassen et al. (2000, p115), application domain adalah organisasi yang mengatur, memonitor, atau mengendalikan problem domain. Analisis application domain memfokuskan pada bagaimana target sistem akan digunakan dengan menentukan kebutuhan function dan antar muka sistem.

Analisis application-domain memiliki tiga kegiatan yaitu:

Kegiatan Isi Konsep

Usage

Bagaimana sistem berinteraksi dengan orang lain dan dengan sistem lain dalam konteks?

Use case dan actor

Function Bagaimana kemampuan sistem dalam

memproses informasi? Function

Interfaces Apa kebutuhan antar muka dari sistem target?

Interface, user interface, dan sistem interface Tabel 2.3 Kerangka Analisis Application Domain

(Sumber: Lars Mathiassen)

Berikut ini merupakan jalur kegiatan dalam analisis application-domain:

F u n c t i o n s

I n t e r f a c e s

U s a g e S y s t e m D e f i n i t i o n

R e q u i r e me n t s

Gambar 2.8 Application-Domain Analysis (Sumber: Lars Mathiassen)

Pada gambar di atas, dimulai dengan mendefinisikan sistem yang dibutuhkan oleh user. Dalam hal ini, kerja sama antara pengembang dan pengguna sangat dibutuhkan. Ketentuan yang dibutuhkan pada usage, functions, dan interface harus dievaluasikan. Pada akhir dari kegiatan analisis ini menghasilkan prasyarat-prasyarat yang dibutuhkan untuk mendefinisi sistem.

2.5.6.1. Usage

Menurut Mathiassen et al. (2000, p119), kegiatan usage merupakan kegiatan pertama dalam analisis applicatin domain bertujuan untuk menentukan bagaimana aktor-aktor merupakan pengguna atau sistem lain berinterkasi dengan sistem yang dituju. Interaksi antara aktor dengan sistem tersebut dinyatakan dalam use case. Adapun use case dapat dimulai oleh aktor atau oleh sistem target. Hasil dari analisis kegiatan usage ini adalah deskripsi lengkap dari semua use case dan aktor yang ada.

Menurut Dennis dan Wixom (2003), cara untuk mengidentifikasi aktor adalah dengan mengetahui alasan aktor menggunakan sistem.

Aktor dapat digambarkan dalam spesifikasi aktor yang memiliki tiga bagian yaitu: tujuan, karakteristik, dan contoh dari aktor tersebut. Tujuan merupakan peran dari aktor dalam sistem target. Sementara karakteristik menggambarkan aspek-aspek yang penting dari aktor.

Use case dapat digambarkan dengan menggunakan spesifikasi use case, di mana use case dijelaskan secara singkat namun jelas dan dapat disertai dengan keterangan objek sistem yang terlibat dan function dari use case tersebut atau dengan diagram statechart, karena use case adalah sebuah fenomena dinamik.

Manurut Bennett, McRobb, Farmer (2002), mengungkapkan use case diagram mempunyai dua jenis hubungan (relationship) yaitu: extend dan include. Hubungan extend digunakan ketika ingin menunjukkan bahwa sebuah use case menyediakan fungsi tambahan yang mungkin digunakan oleh use case lain. Sedangkan hubungan include berguna ketika sering kali terdapat urutan behaviour digunakan oleh sejumlah use case dan ingin dihindari pengkopian deskripsi sama ke setiap use case yang akan menggunakan perilaku tersebut.

Manurut Bennett, McRobb, Farmer (2002), sequence diagram membantu kebutuhan seorang analisis dalam mengidentifikasi rincian dari kegiatan yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi dari sebuah use case. Tidak ada suatu sequence diagram yang benar untuk use case tertentu, melainkan ada sejumlah kemungkinan sequence diagram, dapat lebih atau kurang memenuhi kebutuhan dari use case.

Menurut Whitten, Bently, Ditmann (2001), sequence menggambarkan bagaimana pesan atau message dikirim dan diterima antar objek dalam sequence tertentu.

2.5.6.2. Function

Menurut Mathiassen (2000, p137) kegiatan function merupakan kegiatan kedua dalam analisis application domain. Function memfokuskan pada bagaimana cara sebuah sistem dapat membantu aktor dalam melaksanakan pekerjaannya.

Tujuan dari kegiatan function adalah untuk menentukan kemampuan sistem memproses informasi. Hasil dari kegiatan ini adalah sebuah daftar fungsi untuk merinci fungsi-fungsi yang kompleks. Daftar fungsi harus lengkap, menyatakan

kebutuhan kolektif dari pelanggan dan aktor dan harus konsisten dengan use case. Function memiliki empat tipe yang berbeda yaitu:

1. Update, fungsi yang diaktifkan dengan event problem domain dan menghasilkan perubahan dalam model state tersebut.

2. Signal, fungsi di mana diaktifkan dengan perubahan keadaan dari model yang dapat menghasilkan reaksi pada konteks. Reaksi ini dapat berupa tampilan bagi aktor di application domain, atau intervensi langsung di problem domain. 3. Read, fungsi yang diaktifkan dengan kebutuhan akan informasi dalam

pekerjaan aktor dan mengakibatkan sistem menampilkan bagian di mana berhubungan dengan model.

4. Compute, fungsi yang diaktifkan dengan kebutuhan akan informasi dalam pekerjaan aktor dan berisi perhitungan di mana melibatkan informasi dan disediakan oleh aktor atau model. Hasil dari function ini adalah tampilan dari komputasi.

Cara untuk mengidentifikasikan function adalah dengan melihat deskripsi problem domain ditampilkan oleh class dan event, dan melihat deskripsi application domain yang ditampilkan dalam use case. Class dapat menyebabkan munculnya function baca dan update. Event memungkinkan munculnya kebutuhan terhadap function update. Sementara use case dapat menyebabkan munculnya semua jenis function.

2.5.6.3. Interface

Menurut Mathiassen (2000) interface digunakan oleh aktor untuk berinteraksi dengan sistem. Kegiatan interface memiliki tiga konsep yaitu:

1. Interface, yaitu fasilitas yang membuat model sistem dan fungsi-fungsi dapat digunakan oleh aktor.

2. User Interface, yaitu tampilan yang menghubungkan pengguna dengan sistem.

3. System Interface, yaitu tampilan yang menghubungkan sistem satu dengan sistem lain.

Sebuah user interface yang baik harus dapat beradaptasi dengan pekerjaan dan pemahaman user terhadap sistem. Kualitas user interface ditentukan oleh kegunaan atau usability interface tersebut bagi pengguna. Usability bergantung dengan siapa yang menggunakan dan situasi pada saat sistem tersebut digunakan. Oleh sebab itu, usability bukan sebuah ukuran yang pasti dan objektif.

Terdapat empat jenis pola dialog yang penting dalam menentukan user interface yaitu:

1. Menu-selection yang menampilkan pilihan-pilihan menu dalam user interface.

2. Form fill in yang merupakan pola klasik untuk memasukkan data berdasarkan terminal karakter.

3. Command-language yang berguna bagi pengguna untuk memasukkan dan mengaktifkan format perintah sendiri.

4. Direct manipulation di mana pengguna memilih objek dan melaksanakan fungsi-fungsi atas objek dan melihat hasil dari interaksi diri.

Kegiatan analisis user interface ini berdasarkan pada hasil dari kegiatan analisis lainnya, yaitu model problem domain, kebutuhan functional dan use case. Hasil dari kegiatan ini adalah sebuah deskripsi elemen-elemen user interface dan

system interface yang lengkap, di mana kelengkapan menunjukkan pemenuhan kebutuhan pengguna. Hasil dari kegiatan user interface berupa form presentasi dan dialogue style, diagram window terpilih, dan diagram navigasi. Sedangkan hasil dari system interface berupa class diagram untuk peralatan dan protocol ekternal untuk berinteraksi dengan sistem yang lain.

Dokumen terkait