• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Analisis Aspek Non Finansial

Analisis aspek non finansial dilakukan untuk mengetahui kelayakan restrukturisasi mesin PG Kremboong dilihat dari aspek-aspek non finansial. Dalam penelitian ini, dikaji beberapa aspek non finansial diantaranya aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum, serta sosial ekonomi.

6.1.1 Aspek Pasar 6.1.1.1 Peluang Pasar

Gula adalah salah satu kebutuhan pokok yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat. Kebutuhan gula nasional baik untuk konsumsi maupun industri akan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Pada tahun 2009, dengan jumlah penduduk 230,6 juta jiwa, Indonesia membutuhkan 4,85 juta ton gula yang terdiri dari 2,7 juta ton untuk konsumsi langsung (rumah tangga) masyarakat dan 2,15 juta ton untuk keperluan industri. Pada tahun 2009, produksi gula dalam negeri baru sekitar 2,6 juta ton. Jumlah ini hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi langsung masyarakat. Pemerintah berharap pada tahun 2014 produksi gula dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan gula konsumsi serta industri makanan dan minuman sebesar 5,7 juta ton yang terdiri dari 2,96 juta ton untuk konsumsi langsung masyarakat dan 2,74 juta ton untuk keperluan industri3.

      

3 

[Ditjenbun] Direktorat Jendral Perkebunan (2010). Mewujudkan Swasembada Gula 2014.  www.ditjenbun. deptan.go.id [4 Maret 2011] 

Tabel 5. Konsumsi Gula Indonesia Tahun 2000-2009 (juta ton)

No Tahun Konsumsi Total

Langsung Industri 1 2000 2,31 0,85 3,16 2 2001 2,42 0,95 3,37 3 2002 2,45 1,05 3,50 4 2003 2,49 1,10 3,59 5 2004 2,59 1,09 3,68 6 2005 2,78 1,21 3,99 7 2006 3,08 1,22 4,30 8 2007 3,39 1,31 4,70 9 2008 3,83 1,51 4,34 10 2009 2,97 1,57 4,54

Sumber: Asosiasi Gula Indonesia (2011)

Saat ini, Indonesia hanya memiliki 62 pabrik gula dengan total kapasitas sekitar 200.000 TCD yang mampu memproduksi 2,3 juta ton gula dari total kapasitas produksi 3,54 juta ton. Kebutuhan gula yang tidak mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri diperoleh dari impor gula yang berasal dari Thailand, Brazil, dan Amerika. Oleh karena itu, usaha pabrik gula masih sangat berpotensi untuk dikembangkan, karena selama ini masih banyak permintaan yang belum dapat dipenuhi.

Tabel 6. Produksi Gula Indonesia Tahun 2005-2010

No Tahun Tebu

(Ton atau Ha)

Gula (Ton atau Ha) Rendemen (%) Hablur (Juta Ton) 1 2005 81,43 5,87 7,20 2,24 2 2006 76,35 5,83 7,53 2,31 3 2007 78,02 5,74 7,35 2,95 4 2008 78,80 6,23 7,91 2,57 5 2009 72,65 5,52 7,60 2,30 6 2010 91,90 5,31 6,48 2,24

6.1.1.2 Bauran Pemasaran

a) Produk

Produk yang dihasilkan dari unit usaha PG Kremboong terdiri atas produk utama dan produk sampingan. Produk utama dari PG Kremboong adalah gula kristal putih SHS 1A. Gula jenis ini merupakan gula pasir yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat dan menjadi salah satu kebutuhan pokok. Sedangkan produk sampingan yang dihasilkan berupa tetes tebu dan kompos. Gula yang dihasilkan merupakan jenis gula kristal putih dengan mutu SHS 1A dengan standar kualitas produk sebagai berikut:

• Warna ICUMSA : < 200 IU

• Besar jenis Butir : 0,9-1,1 mm

• Kadar Air : < 5 ppm

• Kadar SO2 : < 5 ppm

• Polarisasi : > 99,5 persen

Produk sampingan dari proses produksi gula adalah tetes, ampas, dan blotong. Tetes merupakan salah satu limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan gula dan terbentuk dari hasil sentrifugasi pada stasiun putaran. Tetes tebu menjadi bahan baku pembuatan Monosodium Glutamat (MSG), spiritus, dan alkohol. Tetes yang dihasilkan dilelang bersama gula dengan konsumen utama industri MSG dan alkohol. Selain tetes, proses produksi gula juga menghasilkan blotong dan ampas. Ampas digunakan sebagai bahan bakar boiler, sedangkan blotong merupakan limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan kompos. Sebelumnya blotong adalah limbah yang tidak memiliki nilai ekonomis dan dapat merusak tanaman namun sekarang blotong telah diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman tebu. Kompos dibuat dari blotong yang telah ditambahkan beberapa zat kimia dan kemudian difermentasikan. Kompos yang diproduksi oleh PG Kremboong tersebut digunakan sebagai pupuk pada lahan milik pabrik gula. Selain digunakan sendiri, kompos juga digunakan oleh petani mitra PG Kremboong.

Gambar 6. Gula Kristal Putih PG Kremboong Sumber: Data Primer PG Kremboong (2011)

b) Harga

PG Kremboong tidak menjual langsung produknya pada masyarakat. Gula dan tetes milik pabrik dilelang oleh direksi bersamaan dengan gula dan tetes hasil pabrik gula lain di PTPN X. Oleh karena itu, harga yang terbentuk bergantung pada hasil lelang yang dilakukan oleh direksi. Walaupun harga terbentuk dari besarnya permintaan dan penawaran, namun ada ketentuan harga dasar gula dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag), sehingga tidak merugikan petani. Lelang dilakukan selama periode giling pabrik gula. Kompos hasil olahan blotong dijual pada petani seharga Rp 250,00 per kg. Tabel di bawah ini menyajikan data hasil lelang gula dan tetes milik PG Kremboong pada masa giling tahun 2010.

Tabel 7. Harga Gula Hasil Lelang Tahun 2010

Periode Harga Gula atau Ku (Rp) Harga Tetes per kg (Rp)

1 746.000 1.300 2 746.000 1.300 3 913.000 1.300 4 860.000 1.300 5 841.500 1.300 6 853.000 1.300 7 862.500 1.300 8 924.000 1.600 9 924.000 1.600 10 912.500 1.600 11 956.500 1.600 12 911.000 1.600 13 928.900 1.600

Sumber: Data PG Kremboong 2011

c) Tempat (saluran distribusi)

PG Kremboong dan pabrik gula lain di PTPN X tidak menjual langsung gula dan tetes hasil produksinya pada masyarakat, namun menjualnya dengan sistem lelang yang diselenggarakan oleh direksi PTPN X. Peserta yang memenangkan lelang berhak untuk menjual dan mendistribusikan gula tersebut pada masyarakat. Lelang dilakukan bersamaan dengan gula hasil produksi pabrik gula lain di kantor Direksi PTPN X. Direksi PTPN X menyelenggarakan lelang setiap dua minggu sekali pada saat musim giling. Selain gula dan tetes, PG Kremboong juga menghasilkan blotong yang diolah menjadi kompos. Sebagian kompos hasil olahan blotong dipergunakan sebagai pupuk untuk tebu pada lahan sewa atau TS (Tebu Sendiri) dan sisanya dijual ke petani TR (Tebu Rakyat).

d) Promosi

Pihak PG Kremboong tidak melakukan promosi atau pengiklanan gula dan tetes yang dihasilkan, karena PG Kremboong tidak menjual sendiri outputnya. Seluruh hasil produksi dijual melalui sistem lelang yang diselenggarakan oleh Direksi PTPN X. Undangan lelang secara resmi dikirimkan kepada rekanan-

rekanan PTPN X yang rata-rata merupakan distributor utama gula pasir seperti PT Berlian Penta dan Persatuan Pedagang Gula Indonesia (PPGI).

6.1.1.3 Hasil Analisis Aspek Pasar

Permintaan gula pasir semakin meningkat setiap tahun seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan peningkatan pendapatan. Saat ini produksi gula dalam negeri masih belum dapat mencukupi kebutuhan gula nasional, sehingga harus mengimpor gula. Gula yang dipasarkan di dalam negeri melalui persaingan bebas dan terkoordinir (lelang dan negosiasi), sedangkan pembeli produk tetes adalah pabrikan (end user) dan tender. Usaha pabrik gula masih memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan. Pemasaran pabrik gula melalui sistem lelang juga menunjang kelayakan aspek pasar, karena peningkatan kuantitas produksi akan tetap dapat disalurkan pada peserta lelang yaitu distributor utama gula. Oleh karena itu, restrukturisasi mesin PG Kremboong jika dilihat dari aspek pasar dapat dikatakan layak untuk dijalankan.

6.1.2 Aspek Teknis

Analisis aspek teknis yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pemilihan lokasi usaha, ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, proses produksi, layout pabrik, serta pemilihan teknologi.

6.1.2.1 Pemilihan Lokasi Usaha

PG Kremboong telah berdiri sejak tahun 1847 dan merupakan pabrik peninggalan Belanda. Pada dasarnya, pemilihan lokasi pendirian pabrik gula berdasarkan kondisi lingkungan dan agroekosistem yang cocok untuk pertumbuhan tanaman tebu serta ketersediaan tenaga kerja.

a) Lingkungan Agroekosistem

Sidoarjo adalah daerah delta, yaitu endapan yang dibuat di muara sungai di mana sungai yang mengalir ke dalam laut, muara, danau, waduk, atau ke sungai. Daerah delta Sidoarjo sangat subur dan diapit oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Mas dan Sungai Brantas. PG Kremboong terletak di Desa Krembung, Kecamatan

Krembung, Kabupaten Sidoarjo, tepatnya ± 20 km sebelah selatan Kota Sidoarjo pada ketinggian 7 meter dpl (di atas permukaan laut) dan curah hujan 1.450–1.675 mm per tahun serta jenis tanah alluvial (Sidoarjo) dan regusol (Mojokerto). Kondisi ini sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman tebu. Lokasi yang dipilih untuk perkebunan tebu harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu, yaitu lahan dengan tanah yang subur, ada pengairan teknis, drainase yang baik, dekat dengan sungai besar, dan ada sungai untuk mengeluarkan limbah.

Lahan milik Petani Tebu Rakyat (PTR) yang menjadi mitra petani juga harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu, antara lain pengairan dan pembuangan mudah, aman, luas tidak terlalu sempit (minimum 5 Ha), dan tidak jauh dari pabrik gula. Syarat ini diperlukan agar dapat memberi hasil dan keuntungan yang baik. Pihak PTPN X juga memberikan panduan bercocok tanam dan Standar Operasional Prosedur (SOP) bagi petani mitra.

b) Pasokan Tenaga Kerja

Selain dekat dengan input, pemilihan lokasi pada masa itu didasarkan pada ketersediaan tenaga kerja. Pada awal pendirian PG Kremboong, tenaga kerja mudah didapatkan di Desa Krembung dan daerah lain di Sidoarjo. Saat ini, sebagian besar tenaga kerja juga berasal dari Desa Krembung dan sekitarnya terutama karyawan tetap, kampanye, dan PKWT. Karyawan yang bekerja di PG Kremboong tergolong dalam empat jenis, yaitu karyawan pimpinan, karyawan tetap, karyawan kampanye, dan karyawan pada waktu tertentu (PKWT). Karyawan pimpinan dan tetap bekerja sepanjang tahun tetapi karyawan kampanye dan PKWT hanya bekerja pada masa giling. Karyawan tetap, kampanye, dan PKWT direkrut oleh PG Kremboong sehingga proses tes hingga wawancara dilakukan oleh pihak PG Kremboong. Sedangkan karyawan di level pimpinan harus melalui tes yang diselenggarakan oleh PTPN X. Realisasi tenaga kerja di PG Kremboong pada tahun 2011 terlihat pada Tabel 8.

Tabel8. Realisasi Tenaga Kerja PG Kremboong Tahun 2011

NO BAGIAN

GOLONGAN

JUMLAH III-IV I-II KAMP PKWT HON

1 A.K dan U 7 23 3 12 - 45 2 TANAMAN 10 38 15 34 - 97 3 TEBANG ANGKUT 1 9 75 14 - 99 4 INSTALASI 4 76 59 96 - 235 5 PENGOLAHAN 6 5 62 94 1 168 6 KENDARAAN 1 12 - 9 - 22 7 TRAKTOR - 2 9 - - 11 8 SATPAM - 13 - - 1 14 9 DOK. REMISE - 3 - 17 - 20 JUMLAH 29 181 223 276 2 711

Sumber: Data Primer PG Kremboong (2011)

Pada tahun 2010, jumlah karyawan mencapai 836 tetapi karena banyak yang pensiun maka saat ini total jumlah karyawan yang bekerja di PG Kremboong sebanyak 711 orang. Walaupun sudah banyak berkurang, namun jumlah ini masih terlalu besar untuk pabrik gula seukuran PG Kremboong karena idealnya PG Kremboong hanya mempekerjakan 650 orang karyawan. Karyawan yang akan dipekerjakan di PG Kremboong akan semakin berkurang jumlahnya karena banyak karyawan yang akan pensiun dan tidak akan digantikan sehingga pengurangan karyawan hingga 25 persen di tahun 2015 terjadi secara alami. Oleh karena itu, restrukturisasi mesin harus dilakukan bersamaan dengan momen ini, sebab jika ditunda maka PG Kremboong harus merekrut tenaga kerja kembali. Hal

ini disebabkan mesin yang lama harus dijalankan secara manual dengan tenaga manusia dan mesin yang baru dapat bekerja secara otomatis.

6.1.2.2 Ketersediaan bahan baku

Bahan baku utama dalam usaha yang dilakukan oleh PG Kremboong adalah tebu. Restrukturisasi mesin yang akan dilakukan akan meningkatkan kapasitas giling sehingga pasokan bahan baku juga harus ditingkatkan. Mesin lama dengan kapasitas sebesar 1.600 TCD akan diganti dengan mesin-mesin baru yang akan meningkatkan kapasitas hingga 2.750 TCD. Oleh karena itu, pasokan bahan baku akan ditingkatkan dengan melakukan intensifikasi dan perluasan lahan. Selama ini, bahan baku dipasok oleh petani di beberapa kecamatan sekitar PG Kremboong dan petani dari luar Sidoarjo. Tebu luar diperoleh dari Lumajang, Pasuruan, dan Malang. Selain dari petani, pihak PG Kremboong juga mengusahakan kebun tebu dari lahan yang disewa. Rekapitulasi per wilayah perkebunan tebu dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Rekapitulasi Per Wilayah Perkebunan Tebu

Wilayah Luas (Ha) Dalam PG Luar PG Ku atau Ha Ku Tebu

Prambon 251,576 179,724 71,852 878 220.760 Krembung 545,814 498,331 47,483 856 466.957 Porong 247,893 233,240 14,653 868 215.175 Jumlah SDA 1.045,283 911,295 133,988 864 902.892 Kutorejo 206,353 118,999 87,354 689 142.121 Mojosari 175,685 95,680 80,005 783 137.519 Pungging 158,378 142,256 16,122 792 125.421 Ngoro 247,196 233,405 11,791 798 197.245 Bangsal 284,850 269,773 15,077 841 239.496 Pacet/Trawas 148,419 71,559 76,860 728 108.090 Jumlah MJK 1.220,881 933,672 287,209 728 949.892 Pengembangan 206,423 - 206,423 954 196.899 Total 2.472,587 1.844,967 627,620 829 2.049.683 Sumber: Data Bagian Tanaman (2011)

Peningkatan kapasitas produksi hingga 2.750 TCD pada tahun 2014 harus didukung oleh ketersediaan pasokan bahan baku sebanyak 4.400.000 ku tebu. Penyediaan tebu sebanyak itu harus diperoleh dari 5.176 Ha lahan dengan asumsi produktivitas lahan 850 ku tebu per Ha. Saat ini, lahan petani ditambah dengan lahan sewa hanya sebesar 2.500 Ha sehingga perusahaan harus mencari lahan seluas 2.600 Ha untuk memenuhi kapasitas produksi. Perusahaan terus meningkatkan luas lahan hingga mencapai 4.680,50 Ha saat restrukturisasi mesin selesai. Selisih antara pasokan tebu yang tersedia dengan kapasitas produksi pabrik akan dipenuhi dari tebu luar. Tebu luar adalah tebu yang diperoleh dari petani bukan mitra yang berasal dari Malang, Lumajang, dan Pasuruan. Salah satu cara peningkatan pasokan tebu selain memperluas lahan adalah dengan meningkatkan produktivitas lahan melalui intensifikasi. Intensifikasi adalah usaha meningkatkan hasil pertanian tanpa meningkatkan luas lahan, yaitu dengan cara pemilihan bibit unggul, pemupukan, pengairan yang baik, pemberantasan hama, pengolahan lahan secara tepat, penanaman serta pemeliharaan tebu sesuai dengan standar perusahaan. Selama ini perkebunan tebu yang dikelola petani masih belum memenuhi standar penanaman yang ditentukan oleh perusahaan sehingga produktivitas maupun rendemennya belum sesuai dengan harapan perusahaan. Usaha peningkatan kuantitas bahan baku juga dilakukan oleh PTPN X dengan membuka lahan untuk perkebunan tebu di Madura seluas 500-1000 Ha. Tebu yang akan digiling di PG Kremboong memiliki persyaratan tersendiri. Tebu yang diterima PG Kremboong hanya tebu dengan mutu A dan B sedangkan tebu dengan mutu C akan dikembalikan. Macam-macam mutu tebu yaitu:

A. Masak, bersih, besar, segar, lurus. B. Masak, bersih, segar sedikit daduk.

C. Kotor, banyak sogolan, pucukan, daduk, akar, tanah, tebu kecil, wayu, varietas BZ 148.

D. Tebu terbakar.

Tebu yang masuk untuk digiling sebagian besar berasal dari tebu petani di sekitar PG Kremboong. Selain tebu petani, pasokan tebu juga berasal dari Malang, Lumajang, dan Pasuruan. Perusahaan menjalin kemitraan dengan para petani sehingga pabrik tidak membeli tebu petani yang masuk, namun menerapkan

sistem bagi hasil. Perusahaan dan petani sepakat membagi gula hasil produksi pabrik berdasarkan rendemen tebu petani. Selain gula, petani juga mendapat bagi hasil produk sampingan yang berupa tetes tebu, yaitu 3 kg per ku tebu. Proporsi bagi hasil gula antara petani dengan perusahaan dapat dilihat lebih jelas pada tabel 10.

Tabel 10. Proporsi Bagi Hasil Antara Petani dan PG Kremboong

Rendemen (%) Petani (%) PG Kremboong (%)

≤6,99 66 34

7-7,99 68 32 >8 70 30 Sumber: Data Primer PG Kremboong (2010)

Selain tebu, input lain dalam kegiatan usaha pabrik gula antara lain belerang, kapur, pupuk, pestisida, dan bibit tebu. Belerang dan kapur didapatkan langsung dari rekanan PTPN X dan dikirim ke PG Kremboong. Penyediaan kapur dilakukan oleh CV Sedar di Malang dan belerang oleh PT Inja Perkasa Tama dan PT Candi Ngrimbi. Di samping bahan baku untuk proses produksi gula, PG Kremboong juga membutuhkan pupuk, pestisida, dan bibit tebu untuk penanaman tebu sendiri (TS). PG Kremboong memperoleh pupuk dan pestisida dari rekanan yang ditunjuk oleh Direksi, sedangkan bibit tebu dari Kebun Bibit Datar (KBD) dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula (P3GI).

Kapasitas giling PG Kremboong sampai tahun 2014 direncanakan menjadi 2.750 TCD dengan 160 hari giling maka BBT (Bahan Baku Tebu) yang dibutuhkan 440.000 ton tebu. Saat ini (giling tahun 2010), dengan kapasitas giling 1.600 TCD jumlah tebu TAD (Tebu Asli Daerah) hanya 203.000 Ton. Pemasukan

PC (Plant Cane) terutama TR harus sebanyak mungkin sehingga pada tahun 2014

bila terjadi kekurangan areal TAD tidak terlalu besar. Penyelenggaraan PC oleh petani saat ini banyak terkendala biaya sewa tanah yang terlalu tinggi, petani mengharapkan adanya pinjaman dana untuk membantu biaya sewa. PG Kremboong menanggulangi kendala tersebut dengan melaksanakan program

TRKS (Tebu Rakyat Kerjasama Operasional). Adapun syarat calon petani dan calon lahan TRKS sebagai berikut :

1. Selektif petani (petani tidak punya tunggakan MT yang lalu).

2. Tebang angkut oleh panitia TA apabila belum terbentuk atau ada sesuatu hal maka diserahkan ke PG.

3. Areal PC ex padi, palawija masa tanam maksimal 07B.

4. Bibit berasal dari KBD varietas bina masak awal dan tengah (varietas direkomendasi oleh PG Kremboong).

5. Biaya kebun terdiri :

a. Sewa lahan : Rp. 8.000.000,00 b. Biaya garap : Rp. 10.965.000,00

c. Bibit : Rp. 3.500.000,00

d. Pupuk + Kompos : Rp. 2.535.000,00

Jumlah : Rp. 25.000.000,00 (Dua Puluh lima Juta Rupiah)

6. Lahan berada dalam wilayah kerja PG Kremboong.

7. Agunan diharapkan lebih dari 100% dari pinjaman biaya garap + sewa dan dinotariskan.

8. Lahan direkomendasi SKW setempat. 9. Luas minimal per kebun 2 Ha.

10.Lahan yang diajukan digambar melalui GPS.

11.Petani sanggup menerima paket teknologi dan taat melaksanakan.

12.Dibuatkan AUT (Analisis Usaha Tani atau Potensi Bisnis, RDKK serta pengajuan yang lain).

13.Pembayaran dilakukan di pabrik gula, bertahap sesuai dengan pembayaran sewa lahan dan pekerjaan kebun.

14.Wajib aplikasi paket teknologi yang terdiri dari: a. Kompos dengan dosis 3 Ton per Ha.

b. Pupuk NPK lengkap dan ZA. 15.Maksud dan tujuan TRKS adalah:

a. Rehabilitasi tanaman tebu. b. Penguatan modal petani.

d. Perguliran areal tanaman. e. Peningkatan pendapatan petani.

6.1.2.3. Kapasitas Produksi

Saat ini PG Kremboong memiliki kapasitas giling inclusive 1.600 ton per hari, memiliki wilayah kerja meliputi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Mojokerto dengan luas wilayah binaan ± 2.700 Ha terbagi di Kabupaten Sidoarjo seluas 1.200 Ha dan Kabupaten Mojokerto seluas 1.500 Ha. Tabel 11 menyajikan data produksi empat tahun terakhir.

Tabel 11. Data Produksi PG Kremboong Empat Tahun Terakhir

Parameter atau Tahun

2007 2008 2009 2010

Tebu digiling (Ton) 299.229,9 263.892,6 237.501,3 255.910,8

Kapasitas Giling (Ton atau hari)

1.434 1.397 1.531 1.481

Rendemen (%) 7,1 8,27 7,87 6,37

Sumber: Company Profile PG Kremboong (2011)

Restrukturisasi mesin yang dilakukan pada PG Kremboong dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pabrik dan kapasitas giling. Sebagian mesin-mesin yang sekarang digunakan merupakan mesin lama peninggalan Belanda sehingga umur ekonomis dan teknisnya telah habis. Mesin lama yang sudah tua tidak mampu bekerja secara optimal dan dapat meningkatkan kemungkinan kehilangan gula dalam proses produksi. Efisiensi teknis, kapasitas giling, dan otomatisasi yang rendah serta kurangnya pengembangan produk samping, menyebabkan tingginya biaya produksi. Restrukturisasi mesin merupakan bagian dari program pemerintah dalam merevitalisasi pabrik gula dengan tujuan untuk meningkatkan produksi gula nasional dalam rangka menuju swasembada gula. Oleh karena itu, dilakukan penggantian mesin-mesin lama sehingga efisiensi dan kapasitas giling meningkat. Mesin-mesin baru yang akan dipasang antara lain Boiler 60 T/H

handling, Low grade fugal, Clarifier, Evaporator LP 1200 M2, Rotari vacum

filter, Juice heater+juice mouthing automatication, Modifikasi penggerak

gilingan I, dan Modifikasi penggerak gilingan II. Restrukturisasi mesin dapat meningkatkan kapasitas hingga lebih dari 1.000 TCD sehingga pada tahun 2014 kapasitas mesin menjadi 2.750 TCD. Ini berarti mesin dapat menggiling 27.500 ku tebu per hari selama masa giling. Walaupun kapasitas giling meningkat hingga 2.750 TCD, namun bahan baku yang tersedia untuk tahun 2014 sebesar 4.195.725 ku dengan perkiraan rendemen sebesar 8,75 persen. Hal tersebut bukan menjadi masalah, karena selisih jumlah tebu yang dibutuhkan akan dicari dari tebu luar yang berasal dari Lumajang, Malang, Pasuruan, dan Madura. Restrukturisasi mesin yang disertai oleh peningkatan supply bahan baku tebu akan meningkatkan kapasitas giling menjadi 27.500 sehingga dapat menghasilkan total produksi gula baik milik petani maupun pabrik sebanyak 385.770 ku. Kapasitas giling yang lebih rendah daripada kapasitas mesin akan menurunkan efisiensi dan memperpendek hari giling sehingga akan merugikan perusahaan. Target kinerja setelah restrukturisasi mesin selesai dilakukan dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Target Kinerja Setelah Restrukturisasi Mesin

NO Parameter Satuan Rata-Rata 2006-

2008

Target 2014

1 Kapasitas Giling TCD 1600 2750

2 Lama Giling Hari 188 175

3 Tebu digiling atau hari Ton 1452 2612

4 Total tebu digiling Ton 273.893 457.190

5 Rendemen % 7,53 8,75

Sumber: Roadmap Modernisasi dan Optimasi Kapasitas (2010)

6.1.2.4. Proses Produksi

Penggantian beberapa mesin pada dasarnya tidak akan merubah proses produksi gula namun cara pengoperasian beberapa mesin akan berubah. Selain itu, beberapa mesin yang pada awalnya digerakkan secara manual oleh manusia akan diganti dengan mesin yang lebih otomatis. Penggantian mesin turbin juga akan

mengurangi konsumsi listrik sehingga pada masa giling pabrik tidak menggunakan listrik dari PLN. Masa giling pabrik gula berlangsung selama 160 hari dalam setahun dan dimulai pada bulan Mei atau Juni.

Setiap mesin memiliki karakteristik masing-masing walaupun prinsip kerjanya sama. Oleh karena itu, dibutuhkan jasa konsultan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) agar menguasai cara mengoperasikan mesin dengan baik. Suksesnya operasional dari sebuah pabrik gula dipengaruhi personel pabrik dan strategi pemeliharaan peralatan dan mesin. Tujuan pelatihan SDM antara lain:

a. Kontribusi laba keseluruhan. b. Mengurangi biaya produksi.

c. Penjadwalan sumber daya secara efektif. d. Kualitas produk yang lebih tinggi.

e. Penjadwalan produksi yang baik dengan lebih sedikit gangguan. f. Mengidentifikasi masalah peralatan dan proses.

g. Memaksimalkan dan mengurangi kerusakan peralatan. h. Keamanan dan kebersihan pabrik.

Limbah cair pabrik masuk Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), dibuang ke sungai untuk pengairan sawah. Sarana pengolahan limbah cair di PG Kremboong menggunakan aerobic system dengan bantuan empat buah aerator

dengan luas kolam IPAL 4200 m2. Upaya preventif yang lain adalah

meningkatkan program in house keeping dalam pabrik. Limbah padat berupa blotong dan abu boiler yang diolah menjadi pupuk kompos dengan kapasitas ± 300 ku per hari. Penyimpanan limbah B-3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) sudah sesuai standar dan mendapatkan izin dari Kementrian Lingkungan Hidup RI. Pedoman pengelolaan lingkungan berdasarkan UKL-UPL yang telah disusun bersama instansi terkait (Bapedal dan Disperindag) sehingga semua kegiatan PG Kremboong mengarah pada pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pengolahan limbah pabrik gula dipantau secara berkala oleh Kementrian Lingkungan Hidup. Limbah gas ditinjau 2 kali pada musim giling dan 1 kali di luar musim giling, sedangkan limbah cair dan padat diawasi setiap bulan pada musim giling.

Gambar 7. Instalasi Pengelolaan Air Limbah Sumber: Data Primer PG Kremboong (2011)

6.1.2.5. Layout Pabrik

Pabrik, rumah dinas, dan kantor PG Kremboong berdiri di atas seluas 71,63 Ha. Pabrik terletak di tengah-tengah dan dikelilingi oleh rumah, emplasemen, dan kantor. Seharusnya tata letak pabrik dan penempatan peralatan diatur sedemikian rupa sehingga memiliki fleksibikitas untuk mengakomodasi penambahan peralatan yang besar. Selain itu, layout pabrik juga harus

Dokumen terkait