• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Belanja

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT (Halaman 140-155)

BAB IV ANALISIS FISKAL REGIONAL

B. Analisis Belanja

Anggaran Belanja yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mencerminkan potret pemerintah daerah dalam menentukan skala prioritas terkait program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam satu tahun anggaran. Anggaran Belanja Daerah akan mempunyai peran riil dalam peningkatan kualitas layanan publik dan sekaligus menjadi stimulus bagi perekonomian daerah apabila terealisasi dengan baik. Secara ideal seharusnya Belanja Daerah dapat menjadi komponen yang cukup berperan dalam peningkatan akses masyarakat terhadap sumber-sumber daya ekonomi yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Pada gilirannya, apabila

0 50.000 100.000 150.000 200.000 2012 2013

Rasio Pajak Perkapita 74.186 119.106

Rasio PNBP Perkapita 23.372 25.832

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

117

kesejahteraan masyarakat telah meningkat maka diharapkan akan berdampak kepada perekonomian daerah secara luas.

Untuk menggambarkan seberapa besar belanja pemerintah daerah yang digunakan dalam upaya untuk mensejahterakan penduduk di Provinsi Jawa Barat, digunakan berbagai macam pengukuran rasio belanja. Semakin besar rasio belanja yang dikeluarkan untuk mensejahterakan satu orang penduduk di suatu wilayah maka semakin besar kemungkinan tercapainya kesejahteraan masyarakat. Sebaliknya, semakin kecil angka rasionya, semakin kecil dana yang disediakan pemda untuk mensejahterakan penduduknya.

1. Perbandingan Dengan Belanja APBN a. Belanja Pegawai

Pemerintah daerah dalam mendanai belanja non pegawai tidak hanya bersumber dari Angaran Pendapatan dan Belanja Daerah saja, tetapi juga mendapatkan alokasi dana berupa Dana Dekonsentrasi yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi, tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat di daerah, Dana Tugas Pembantuan yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah dan desa yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan dan Dana Urusan Bersama yang berasal dari APBN dan APBD untuk urusan pemerintahan di luar urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan sepenuhnya Pemerintah, yang diselenggarakan bersama oleh Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.

Untuk mengetahui seberapa besar proporsi sumber dana (non belanja pegawai) yang dikelola oleh pemerintah daerah maka dilakukan analisis rasio dana kelolaan belanja non pegawai sebagaimana terlihat pada Tabel 4.4.

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

118

Tabel 4.4.

Rasio Dana Kelolaan Belanja Non Pegawai Provinsi/Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

dalam jutaan rupiah

Sumber Data : DJPK, Bid. PPA I dan Bid. PAPK Kanwil DJPB Prov. Jawa Barat (diolah)

Rasio dana kelolaan belanja non pegawai Provinsi Jawa Barat Tahun 2012 dan Tahun 2013 sebagaimana terlihat pada Grafik 4.4 mengalami penurunan dari 14,20% menjadi 5,90%. Hal ini menunjukan bahwa pemerintah Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2013 mengelola dana belanja non pegawai yang dialokasikan dari belanja APBN berupa dana DK, TP dan UB lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Selain itu, mengindikasikan juga bahwa pemerintah

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

119

pusat memandang Provinsi Jawa Barat mampu dan diberi kepercayaan untuk mengoptimalkan belanja non pegawai yang bersumber dari APBD.

Grafik 4.4.

Rasio Dana Kelolaan Belanja Non Pegawai Provinsi/Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

Sumber Data : DJPK, Bid. PPA I dan Bid. PAPK Kanwil DJPB Prov. Jawa Barat

Rasio dana kelolaan belanja non pegawai untuk Kabupaten/Kota di Jawa Barat Tahun 2013 yang tertinggi adalah Kabupaten Kuningan sebesar 11,90%, sedangkan yang terendah adalah Kota Bekasi sebesar 0,50%. Sementara untuk Kabupaten Pangandaran belum ada datanya, karena merupakan kabupaten baru.

b. Belanja Modal

Belanja modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya.

0,000 0,050 0,100 0,150 0,200 0,250 Prov. Jawa Barat

Kab. Bekasi Kab. Ciamis Kab. Cirebon Kab. Indramayu Kab. Kuningan Kab. Purwakarta Kab. Sukabumi Kab. Tasikmalaya Kota Bekasi Kota Cirebon Kota Sukabumi Kota Cimahi Kab. Bandung Barat

2013

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

120

Untuk membandingka berapa besar porsi belanja modal yang bersumber dari APBN dan APBD yang merupakan motor pertumbuhan regional di wilayah Jawa Barat maka dilakukan analisa rasio belanja modal APBN-APBD sebagaimana terlihat dari tabel 4.5.

Tabel 4.5.

Rasio Belanja Modal APBN-APBD

Provinsi/Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

(dalam jutaan rupiah)

NO. PROV/KAB/KOTA TAHUN 2012 TAHUN 2013 PAGU BELANJA MODAL APBN PAGU BELANJA MODAL APBD RASIO BELANJA MODAL PAGU BELANJA MODAL APBN PAGU BELANJA MODAL APBD RASIO BELANJA MODAL (A) (B) (A / B) (A) (B) (A / B)

1 Prov. Jawa Barat 779.110 1.284.574 0,607 1.443.995 1.192.458 1,211 2 Kab. Bandung 34.976 541.288 0,065 43.227 443.585 0,097 3 Kab. Bekasi 22.200 713.743 0,031 42.609 981.481 0,043 4 Kab. Bogor 250.299 913.864 0,274 289.836 1.615.338 0,179 5 Kab. Ciamis 25.626 206.830 0,124 31.028 430.350 0,072 6 Kab. Cianjur 40.862 286.524 0,143 44.268 294.617 0,150 7 Kab. Cirebon 26.501 343.716 0,077 248.651 375.523 0,662 8 Kab. Garut 19.673 455.068 0,043 46.863 648.221 0,072 9 Kab. Indramayu 37.914 246.367 0,154 22.167 271.915 0,082 10 Kab. Karawang 27.003 692.602 0,039 25.942 660.248 0,039 11 Kab. Kuningan 17.818 130.186 0,137 21.745 286.132 0,076 12 Kab. Majalengka 17.957 302.349 0,059 17.484 401.547 0,044 13 Kab. Purwakarta 6.340 157.762 0,040 34.702 276.662 0,125 14 Kab. Subang 26.397 242.352 0,109 54.195 264.737 0,205 15 Kab. Sukabumi 39.941 149.338 0,267 52.536 416.392 0,126 16 Kab. Sumedang 1.182.596 181.346 6,521 548.379 218.062 2,515 17 Kab. Tasikmalaya 22.851 215.747 0,106 24.805 223.873 0,111 18 Kota Bandung 2.620.125 1.036.657 2,527 3.122.944 1.444.629 2,162 19 Kota Bekasi 33.018 681.434 0,048 54.823 1.097.025 0,050 20 Kota Bogor 84.134 259.423 0,324 258.402 301.370 0,857 21 Kota Cirebon 1.489.829 92.392 16,125 1.096.822 194.833 5,630 22 Kota Depok 13.963 548.327 0,025 17.848 664.720 0,027 23 Kota Sukabumi 25.226 70.287 0,359 14.735 149.068 0,099 24 Kota Tasikmalaya 28.831 65.698 0,439 38.810 215.626 0,180 25 Kota Cimahi 8.609 152.023 0,057 29.470 157.291 0,187 26 Kota Banjar 226.455 83.296 2,719 385.198 190.912 2,018 27 Kab. Bandung Barat 21.042 298.388 0,071 26.379 244.185 0,108 28 Kab. Pangandaran - - - - - -

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

121

Dari Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa rasio belanja modal APBN-APBD Provinsi Jawa Barat untuk Tahun 2013 sebesar 121,10% jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Tahun 2012 yang hanya sebesar 60,70%. Hal ini menunjukan bahwa untuk meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Provininsi Jawa Barat, pemerintah pusat mengalokasikan belanja modal APBN lebih besar dari tahun sebelumnya. Kondisi rasio belanja modal APBN-APBD di Provinsi Jawa Barat sangat berbeda jika dibandingkan dengan rata-rata untuk Kabupaten/Kota, tahun 2012 rata sebesar 118,78% dana pada Tahun 2013 turun dengan rata-rata sebesar 61,22%.

Grafik 4.5

Rasio Belanja Modal APBN-APBD

Provinsi/Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

Sumber Data : DJPK, Bid. PPA I dan Bid. Aklap Kanwil DJPB Prov. Jabar

Dari Grafik 4.5 dapat dilihat, pada Tahun 2013 Kabupatan/Kota di Provinsi Jawa Barat dengan rasio belanja modal APBN-APBD tertinggi adalah Kabupaten Cirebon sebesar 562,95% dan yang terendah Kota Depok sebesar 2,68%. Sementara untuk Kabupaten Pangandaran belum ada datanya, karena merupakan kabupaten baru.

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

122

2. Perbandingan Dengan Populasi

Inidikator ini cenderung berfungsi sebagai perbandingan spasial antar wilayah, untuk mendapatkan proporsi antara kebijakan fiskal yang tercermin dari anggaran dengan indikator demografis (populasi), sehingga dapat diperoleh gambaran besaran anggaran pada suatu wilayah. Analisa dilakukan dengan mambandingkan total belanja APBN dan APBD terhadap jumlah populasi.

Tabel 4.6

Rasio Belanja Terhadap Populasi

Provinsi/Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

dalam jutaan rupiah

Sumber Data : DJPK, Bid. PPA I dan Bid. Aklap Kanwil DJPB Prov. Jabar (diolah)

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

123

Analisa dilakukan dengan mambandingkan pagu total belanja APBN dan APBD terhadap jumlah penduduk, sehingga memberikan gambaran seberapa besar porsi belanja tiap penduduk di Provinsi/Kabupaten/Kota. Rasio total belanja terhadap populasi Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2012 sebesar Rp. 424.365 dan berdasarkan asumsi pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 1,8% per tahun, rasio total belanja terhadap populasi pada Tahun 2013 meningkat menjadi sebesar Rp. 447.388.

Grafik 4.6

Rasio Belanja Terhadap Populasi

Provinsi/Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

Sumber Data : DJPK, Bid. PPA I dan Bid. Aklap Kanwil DJPB Prov.Jabar

Berdasarkan asumsi pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 1,8% per tahun, pada Tahun 2013 untuk Kabupaten/Kota yang memiliki rasio total belanja terhadap populasi tertinggi adalah Kota Bandung sebesar Rp. 7.256.968, dan yang terendah adalah Kabupaten Bandung sebesar Rp. 1.031.014. Sementara untuk Kabupaten Pangandaran belum ada datanya, karena merupakan kabupaten baru.

3. Perbandingan Total Belanja Dengan Belanja Tertentu a. Belanja Pegawai APBD

Rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah digunakan untuk mengetahui seberapa besar proporsi APBD terhadap total Belanja Daerah. Data belanja pegawai yang digunakan adalah Belanja Pegawai

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

124

Langsung dan Belanja Pegawai Tidak Langsung. Semakin tinggi angka rasionya maka semakin besar proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Pegawai. Sebaliknya, semakin kecil angka rasio Belanja Pegawai maka semakin kecil proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Pegawai.

Tabel 4.7

Rasio Belanja Pegawai

Provinsi/Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

dalam jutaan rupiah

No. PROV/KAB/KOTA TAHUN 2012 TAHUN 2013 PAGU BELANJA PEGAWAI PEMDA PAGU TOTAL BELANJA PEMDA RASIO BELANJA PEGAWAI PAGU BELANJA PEGAWAI PEMDA PAGU TOTAL BELANJA PEMDA RASIO BELANJA PEGAWAI (A) (B) (A / B) (A) (B) (A / B)

1 Prov. Jawa Barat 2.008.105 15.804.297 0,127 2.102.401 17.516.652 0,120 2 Kab. Bandung 1.413.499 2.645.285 0,534 1.561.079 2.803.353 0,557 3 Kab. Bekasi 1.015.276 2.420.015 0,420 1.167.639 3.083.568 0,379 4 Kab. Bogor 1.422.999 3.363.414 0,423 1.946.685 4.914.827 0,396 5 Kab. Ciamis 1.016.169 1.463.064 0,695 1.451.661 1.738.361 0,835 6 Kab. Cianjur 922.405 1.680.915 0,549 1.301.524 2.160.999 0,602 7 Kab. Cirebon 1.125.407 1.995.469 0,564 1.366.397 2.289.935 0,597 8 Kab. Garut 1.428.963 2.299.151 0,622 1.570.791 2.737.448 0,574 9 Kab. Indramayu 1.100.298 1.708.063 0,644 1.179.178 2.090.849 0,564 10 Kab. Karawang 1.162.569 2.363.602 0,492 1.285.058 2.778.187 0,463 11 Kab. Kuningan 936.873 1.266.198 0,740 1.133.012 1.624.482 0,697 12 Kab. Majalengka 989.186 1.542.838 0,641 1.137.638 1.766.187 0,644 13 Kab. Purwakarta 698.154 1.089.027 0,641 792.674 1.408.665 0,563 14 Kab. Subang 866.485 1.416.947 0,612 882.674 1.547.392 0,570 15 Kab. Sukabumi 1.046.826 1.874.616 0,558 1.326.024 1.983.748 0,668 16 Kab. Sumedang 946.864 1.405.403 0,674 1.085.313 1.643.664 0,660 17 Kab. Tasikmalaya 958.341 1.440.301 0,665 1.016.766 1.589.897 0,640 18 Kota Bandung 1.562.104 3.634.708 0,430 1.910.628 4.555.422 0,419 19 Kota Bekasi 1.031.372 2.390.864 0,431 1.513.952 3.026.036 0,500 20 Kota Bogor 703.110 1.279.226 0,550 790.802 1.542.058 0,513 21 Kota Cirebon 545.561 874.047 0,624 571.110 938.786 0,608 22 Kota Depok 640.810 1.551.869 0,413 714.778 1.817.101 0,393 23 Kota Sukabumi 379.658 675.619 0,562 451.725 842.204 0,536 24 Kota Tasikmalaya 562.191 839.906 0,669 615.659 1.094.070 0,563 25 Kota Cimahi 519.788 905.512 0,574 626.405 1.027.591 0,610 26 Kota Banjar 239.363 420.282 0,570 247.066 570.635 0,433 27 Kab. Bandung Barat 662.048 1.332.483 0,497 703.665 1.436.968 0,490 28 Kab. Pangandaran - - - - - - Sumber Data : DJPK

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

125

Rasio Belanja Pegawai Provinsi Jawa Barat cenderung menurun, pada tahun 2013 sebesar 12,71% sedangkan pada Tahun 2013 sebesar 12,00%. Sedangkan untuk tingkat Kaupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2012 rata-rata sebesar 56,89% dan menurun pada Tahun 2013 rata-rata sebesar 55,67%.

Grafik 4.7

Rasio Belanja Pegawai

Provinsi dan Rata-Rata Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

Sumber Data : DJPK

Sebagaimana terlihat pada Grafik 4.8, rasio belanja pegawai tertinggi adalah Kabupaten Ciamis sebesar 83,51% dan terendah Kabupaten Bekasi sebesar 37,87%. Sedangkan untuk Kabupaten Pangandaran belum ada datanya, karena merupakan kabupaten baru.

0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 2012 2013 56,89% 55,67% Provinsi Kabupaten/Kota

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

126

Grafik 4.8

Rasio Belanja Pegawai

Provinsi/Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2013

Sumber Data : DJPK

b. Belanja Modal Infrastruktur

Rasio Belanja Modal Infrastruktur terhadap total belanja modal APBD digunakan untuk mengetahui tingkat fokus pemerintah daerah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui alokasi belanja modal infrastruktur. Hal ini akan tercermin dari proporsi alokasi belanja modal dari belanja pada APBD. Semakin besar angka rasio belanja modal infrastruktur maka semakin besar perhatian pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur di daerahnya.

Rasio belanja modal infrastruktur Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2012 sebesar 67,07% dan berdasarkan data APBD Tahun 2013 naik sebesar 82,22%. Sedangkan rasio belanja modal infrastruktur untuk Kabupaaten/Kota di Jawa Barat pada Tahun 2012 rata-rata sebesar 64,41% dan berdasarkan data APBD Tahun 2013 turun rata-rata sebesar 64,26%.

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

127

Grafik 4.9

Rasio Belanja Modal Infrastruktur

Provinsi dan Rata-Rata Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

Sumber Data : DJPK

Sebagaimana terlihat pada Tabel 4.8, pada Tahun 2013 rasio belanja modal infrastruktur untuk Kabupaten/Kota, yang tertinggi adalah Kabupaten Karawang sebesar 87,00% dan terendah adalah Kabupaten Ciamis sebesar 38,46%. Sedangkan untuk Kabupaten Pangandaran belum ada datanya, karena merupakan kabupaten baru.

0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00% 90,00% 2012 2013 Provinsi 67,07% 82,22% Kabupaten/Kota 64,41% 64,26%

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

128

Tabel 4.8

Rasio Belanja Modal Infrastruktur

Provinsi/Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

dalam jutaan rupiah

NO PROV/KAB/KOTA TAHUN 2012 TAHUN 2013 PAGU BELANJA INFRAST RUKTUR PAGU BELANJA MODAL PEMDA RASIO BELANJA MODAL INFRAST RUKTUR PAGU BELANJA INFRAST RUKTUR PAGU BELANJA MODAL PEMDA RASIO BELANJA MODAL INFRAST RUKTUR (A) (B) (A / B) (A) (B) (A / B)

1 Prov. Jawa Barat 861,523 1,284,574 0.671 980,454 1,192,458 0.822 2 Kab. Bandung 248,064 541,288 0.458 274,359 443,585 0.619 3 Kab. Bekasi 463,017 713,743 0.649 520,954 981,481 0.531 4 Kab. Bogor 560,705 913,864 0.614 798,851 1,615,338 0.495 5 Kab. Ciamis 85,428 206,830 0.413 165,522 430,350 0.385 6 Kab. Cianjur 62,387 286,524 0.218 133,194 294,617 0.452 7 Kab. Cirebon 216,216 343,716 0.629 258,861 375,523 0.689 8 Kab. Garut 166,524 455,068 0.366 307,047 648,221 0.474 9 Kab. Indramayu 227,298 246,367 0.923 459,099 754,713 0.608 10 Kab. Karawang 465,566 692,602 0.672 574,397 660,248 0.870 11 Kab. Kuningan 66,948 130,186 0.514 203,003 286,132 0.709 12 Kab. Majalengka 178,568 302,349 0.591 274,542 401,547 0.684 13 Kab. Purwakarta 90,904 157,762 0.576 184,059 276,662 0.665 14 Kab. Subang 183,412 242,352 0.757 178,566 264,737 0.675 15 Kab. Sukabumi 189,660 149,338 1.270 278,930 416,392 0.670 16 Kab. Sumedang 111,696 181,346 0.616 165,011 218,062 0.757 17 Kab. Tasikmalaya 76,483 215,747 0.355 145,144 223,873 0.648 18 Kota Bandung 582,924 1,036,657 0.562 919,938 1,444,629 0.637 19 Kota Bekasi 492,877 681,434 0.723 508,941 1,097,025 0.464 20 Kota Bogor 231,622 259,423 0.893 257,252 301,370 0.854 21 Kota Cirebon 63,782 92,392 0.690 88,564 194,833 0.455 22 Kota Depok 433,495 548,327 0.791 500,377 664,720 0.753 23 Kota Sukabumi 23,342 70,287 0.332 61,761 149,068 0.414 24 Kota Tasikmalaya 49,931 65,698 0.760 161,394 215,626 0.748 25 Kota Cimahi 82,396 152,023 0.542 115,474 157,291 0.734 26 Kota Banjar 60,332 83,296 0.724 75,036 190,912 0.393 27 Kab. Bandung Barat 130,544 298,388 0.437 122,934 244,185 0.503

28 Kab. Pangandaran - - - - - -

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

129

4. Perbandingan Dengan Sektor Ekonomi Unggulan

Indikator ini dihitung dengan rasio belanja sektoral terhadap kontribusi sektor kepada PDRB, yang berfungsi sebagai perbandingan secara indikatif antara fokus anggaran pemerintah dengan kontribusi sektor-sektor ekonomi unggulan kepada pertumbuhan ekonomi di daerah. Ada 6 (enam) sektor unggulan yang dianalaisa meliputi layanan publik, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dan pertanian.

Grafik 4.10 Rasio Belanja Sektoral

Provinsi dan Rata-Rata Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

Sumber Data : DJPK dan BPS Provinsi Jawa Barat

Pada Tahun 2012 dan Tahun 2013 untuk Provinsi Jawa Barat sektor unggulan yang memberikan kontribusi terbesar kepada PDRB adalah sektor pelayanan publik, pada Tahun 2012 sebesar 3,53% dan meningkat pada Tahun 2013 menjadi sebesar 3,71%, sedangkan kontribusi terendah adalah berasal dari sektor kesejahteraan dan penanggulangan kemiskinan. Rasio belanja sektoral terhadap kontribusi sektor kepada PDRB untuk rata-rata Kabupaten/Kota di Jawa Barat pada Tahun 2012 dan Tahun 2013 sektor unggulan yang memberikan kontribusi terbesar adalah sektor pendidikan, masing-masing sebesar 11,13% dan 12,41%, sedangkan kontribusi terendah adalah sektor pertanian dengan rata-rata sebesar 0,37% pada Tahun 2012 dan 0,39% pada Tahun 2013.

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

130

Tabel 4.9.

Rasio Belanja Sektoral Terhadap Kontribusi Sektor Kepada PBRD Provinsi/Kabupaten/Kota Jawa Barat Tahun 2012-2013

Sumber Data : DJPK dan BPS Provinsi Jawa Barat (diolah)

*) PDRB Harga Konstan Tahun 2012 dan PDRB Tahun 2013 berdasarkan asumsi kenaikan 6,5% per tahun

Berdasarkan Tabel 4.9, Pada Tahun 2013 untuk Kabupaten/Kota di Jawa Barat, sektor pendidikan yang memberikan kontribusi tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi di daerahnya adalah Kabupaten Purwakarta sebesar 58,30%, sedangkan kontribusi sektor pertanian yang terendah berada di Kota Bekasi sebesar 0,01%. Untuk Kabupaten Pangandaran belum ada datanya, karena merupakan kabupaten baru.

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

131

C. ANALISIS RUANG FISKAL DAN KEMANDIRIAN DAERAH

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT (Halaman 140-155)

Dokumen terkait