• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendapatan Pemerintah Pusat Tingkat Provinsi

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT (Halaman 57-65)

BAB II PERKEMBANGAN PELAKSANAAN ANGGARAN PUSAT

B. Pendapatan Pemerintah Pusat Tingkat Provinsi

Pendapatan pemerintah pusat terdiri dari penerimaan perpajakan dan PNBP

1. Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat Tingkat Provinsi

Salah satu sumber penerimaan Negara terbesar adalah pajak. Penerimaan pajak terdiri pajak dan bea masuk. Berdasarkan data Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jawa Barat, sampai dengan semester II tahun 2013 tercatat penerimaan perpajakan yang terdiri dari pajak dan bea dan cukai ini adalah sebesar 35.610 milyar rupiah mengalami kenaikan sebesar 5% dibandingkan penerimaan negara TA 2012 sebesar 33.821 milyar rupiah. Penerimaan pajak yang dominan adalah PPN

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

36

dan PPh Badan dengan tingkat pertumbuhan 8% dan 14 %. Apabila dicermati kedua jenis pajak tersebut erat kaitannya dengan kegiatan ekonomi di Jawa Barat. Apabila dibandingkan dengan PPN dan PPh secara nasional memberikan kontribusi sebesar 3,5%. Untuk pajak cukai realtif konstan dikarenakan wilayah Jawa Barat tidak mempunyai pelabuhan angkut.

Rincian penerimaan perpajakan sampai semester II tahun 2013, dituangkan dalam tabel dan grafik dibawah ini:

Tabel 2.2

Penerimaan Perpajakan Pemerintah Pusat tingkat Propinsi Jawa Barat

dalam milyar rupiah Penerimaan Perpajakan Target Semester II 2012 Realisasi Semester II 2012 Target Semester II 2013 Realisasi Semester II 2013 PPh Perorangan 9,064 5,761 7,479 5,625 PPh Badan 14,304 11,212 13,209 12,820 PPN 14,446 14,491 15,049 15,651 PBB 1,076 1,349 351 355 Cukai 5,757 120 16,966 103 Pajak lainnya 629 490 493 542 Bea masuk 364 395 493 509 Bea Keluar 3 3 0 6 Jumlah 45,642 33,821 54,040 35,610

Sumber: Data LKPP UAPPAW, data diolah

Komposisi penerimaan negara TA 2012 dibandingkan TA 2013

Sumber: Data LKPP UAPPAW, data diolah

0 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000 PPh Orang PPh Badan PPN PBB Cukai Pajak lainnya Bea masuk Bea Keluar Realisasi 2012 5.761 11.212 14.491 1.349 120 490 395 3 Realisasi 2013 5.625 12.820 15.651 355 103 542 509 6 Grafik 2.1

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

37

2. Penerimaan Negara Bukan Pajak Pemerintah Pusat Tingkat Propinsi

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) merupakan salah satu sumber pendapatan Negara, diluar penerimaan perpajakan. PNBP merupakan alternatif pendapatan negara saat ini mulai diperhitungkan untuk dijadikan andalan dalam memaksimalkan penerimaan Negara

a. Perkembangan PNBP per Jenis PNBP

Penerimaan Negara bukan pajak dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu : penerimaan Sumber Daya Alam, Bagian Pemerintah atas Laba BUMN, Penerimaan Bukan Pajak Lainnya serta Pendapatan BLU.

Tabel 2.3

Penerimaan PNBP Pemerintah Pusat tingkat Propinsi di Propinsi Jawa Barat

Per Jenis PNBP

dalam juta rupiah Penerimaan PNBP Target Semester II 2012 Realisasi Semester II 2012 Target Semester II 2013 Realisasi Semester II 2013 SDA 0 11,336 36 6.682

Bag Pemerintah atas

Laba BUMN 0 0 0 85,974

PNBP lainnya 568,965 1,423,387 1,114,701 1,585,597

BLU 2,612,164 2,675,226 1,641,577 2,652,649

Jumlah 3,181,129 4,109,949 2,756,315 4,330,901

Sumber : Data LKPP UAPPAW

Dari tabel 2.3, dapat dilihat bahwa terdapat kenaikan penerimaan negara dari PNBP di Provinsi Jawa Barat dari Rp4.109 milyar pada TA 2012 menjadi Rp4.330 milyar pada TA 2013 atau naik sekitar 5,38%.

Sumber Daya Alam di Jawa Barat antara lain memiliki lahan sawah beririgasi yang menghasilkan padi, palawija, sayuran, buah-buahan, tanaman obat. Hutan di Jawa Barat mencapai 764,387.59 hektar atau 20,62% dari ukuran total provinsi. Ini terdiri dari hutan produksi 362,980.40 hektar (9,79%), hutan lindung 228,727.11 hektar (6,17%), dan hutan konservasi 172.680 ha (4,63%). Hutan mangrove mencapai 40,129.89 ha, dan tersebar di 10 kabupaten di mana pantai yang tersedia. Selain itu, ada juga hutan lindung sekitar 32,313.59 ha diselenggarakan oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Di sektor perikanan, komoditas unggulan adalah ikan mas, nila ikan, bandeng, lele

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

38

air tawar, udang windu, kerang hijau, ikan gurami, patin, rumput laut dan udang vaname. Di bidang peternakan unggas, sapi perah, ayam buras, dan itik adalah komoditas baik di Jawa Barat. Provinsi ini memiliki banyak tanaman perkebunan, seperti teh, cengkeh, kelapa, karet, kakao, tembakau, kopi, gula, kelapa dan akar wangi. Dari semua komoditas, cengkeh, kelapa, karet, kakao, tembakau, dan kopi merupakan komoditi yang sangat baik pertumbuhannya di Jawa Barat. Dari sisi wilayah, produktivitas terbaik, yaitu panjang rencana daerah sama dengan lebar tanaman yang menghasilkan tembakau dan komoditas gula aren. Jawa Barat juga menghasilkan produksi tambang seperti zeolit, bentonit, pasir besi, semen Mining, feldspar, dan permata gudang/batu permata. Potensi pertambangan batu berharga umumnya ditemukan di Garut, Tasikmalaya, Kuningan, dan Kabupaten Sukabumi. Sebagai konsekuensi dari memiliki banyak gunung berapi, Jawa Barat adalah potensi energi panas bumi. Ada 11 poin energi panas bumi dan 3 poin diantaranya telah dilakukan eksplorasi, yaitu Papandayan, cermai dan Gede Pangrango. Sumber daya alam mentah termasuk kapur, ladang minyak lepas pantai beberapa di Laut Jawa, dan kayu. Sebagian besar lahan yang ada di provinsi ini sangat subur, dengan campuran pertanian kecil dan perkebunan besar. Didukung bendungan tenaga air, termasuk Jatiluhur, Saguling, dan Cirata. Tahun 2013 penerimaan SDA mengalami penurunan dari tahun 2012 sebesar 41% dari Rp11 milyar pada TA 2012 menjadi Rp6 milyar pada TA 2013.

Penyebab penurunan SDA di Jawa Barat disebabkan antara lain:

 Degradasi sumberdaya alam khususnya air dan lahan, yang ditandai dengan deplesi sumber air (permukaan dan air bawah tanah, baik kuantitas maupun kualitasnya), semakin meluasnya tanah kritis dan DAS kritis, penurunan produktifitas lahan, semakin meluasnya kerusakan hutan (terutama karena perambahan) baik hutan pegunungan maupun hutan pantai (mangrove).

 Permasalahan pencemaran, baik pencemaran air, udara maupun tanah yang penyebarannya sudah cukup meluas dan terkait dengan industri, rumah tangga dengan segala jenis limbahnya, terutama sampah.

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

39  Permasalahan kebencanaan alam, yaitu Jawa Barat terutama bagian

tengah dan selatan termasuk wilayah rawan gempa dan volkanisme. Wilayah ini termasuk daerah yang paling sering tertimpa musibah tanah longsor dibanding wilayah lainnya di Indonesia, yang terkait dengan "irrational land use".

 Inkonsistensi antara Rencana Tata Ruang Wilayah dengan eksisting penggunaan lahan/pemanfaatan ruang yang tidak berwawasan lingkungan.

 Permasalahan kawasan pesisir dan pantai, yaitu kerusakan hutan mangrove, abrasi dan akresi pantai, perubahan tataguna lahan di wilayah pesisir, intrusi air laut, dan pencemaran air laut.

 Permasalahan sosial kependudukan, ditandai dengan tingginya urbanisasi, munculnya permukiman kumuh pada hampir seluruh kota di Jabar, pedagang kaki lima - PKL dan kesemrawutan lalu lintas

 Tumpang-tindih peraturan perundang-undangan terhadap lingkungan, baik dari interpretasi materi maupun implementasinya di lapangan

Penerimaan bagian pemerintah atas laba BUMN atau dividen, merupakan imbalan kepada Pemerintah Pusat selaku pemegang saham BUMN yang dihitung berdasarkan persentase tertentu terhadap laba bersih BUMN. Parameter dalam penerimaan dividen ini adalah laba bersih, dividen payout ratio (rasio/persentase laba bersih yang dibagian untuk dividen), dan kepemilikan saham pemerintah dalam BUMN tersebut. Dari peningkatan PNBP tersebut nampak bahwa peningkatan terjadi pada PNBP jenis Bagian Pemerintah atas laba BUMN

PNBP lainnya didominasi dari penerimaan Kementerian Negara/Lembaga, yaitu penerimaan atas pemberian jasa layanan kepada masyarakat sesuai tugas dan fungsinya. Secara garis besar, PNBP lainnya terbagi dalam beberapa jenis penerimaan, antara lain : (i) pendapatan dari pengelolaan BMN, serta pendapatan penjualan, (ii) pendapatan jasa, (iii) pendapatan bunga, (iv) pendapatan kejaksaan dan peradilan, (v) pendapatan pendidikan, (vi) pendapatan gratifikasi dan uang sitaan hasil korupsi, (vii) pendapatan iuran dan denda, serta (viii) pendapatan lain-laindan. Dilihat dari tabel diatas PNBP lainnya naik sangat bagus, erat kaitannya dengan kemandirian satker PNBP untuk membiayai kegiatannya sendiri serta menunjukkan effektifitas kerja.

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

40

Pendapatan BLU merupakan pendapatan dari Satuan Kerja (satker) instansi pemerintah yang menerapkan pola pengelolaan keuangan badan layanan umum (PPK-BLU), yaitu pendapatan atas penjualan barang dan/atau jasa produk instansi pemerintah bersangkutan kepada masyarakat pengguna, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan PNBP yang dikelola satker BLU mengalami penurunan menjadi 8% pada TA 2013, yaitu dari Rp2.675 milyar pada TA 2012 menjadi Rp2.652 milyar pada TA 2013. Namun penurunan tersebut tidak akan berdampak serius apabila diikuti dengan penurunan biaya operasional dan perluasan pelayanan kepada masyarakat. Komposisi Penerimaan PNBP berdasarkan jenis dapat dilihat pada Grafik 2.2.

Apabila dilihat dari Grafik 2.3, komposisi penerimaan PNBP berdasarkan jenis, pendapatan BLU mendatangkan penerimaan terbesar sebesar 61% kemudian diikuti oleh pendapatan PNBP Lainnya sebesar 37 %.

b. Perkembangan PNBP Fungsional Kementerian/Lembaga

Penerimaan Negara bukan pajak juga dapat dibedakan sesuai dengan fungsi kementerian/lembaga.Beberapa lembaga memiliki PNBP sesuai dengan layanan yang dilakukan seperti biaya pembuatan SIM dan denda tilang di Polri, ijin HPH di Kementerian Kehutan, Biaya Persidangan/Perkara di Mahkamah Agung, Biaya Nikah di Kementerian Agama.

Perkembangan PNBP Fungsional yang dikelola oleh satuan kerja instansi vertikal di Provinsi Jawa Barat dapat dilhat pada Tabel 2.4.

0% 2%

37% 61%

Grafik 2.2

Perbandingan PNBP berdasarkan jenis TA 2013

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

41

Tabel 2.4

Penerimaan PNBP Pemerintah Pusat tingkat Propinsi di Propinsi Jawa Barat menurut Fungsional Kementerian/Lembaga

dalam jutaan rupiah

No Penerimaan PNBP Target Semester II 2012 Realisasi Semester II 2012 Target Semester II 2013 Realisasi Semester II 2013 % Kenaikan/ Penurunan 1 2 3 4 5 6 7 1 Penjualan Hasil Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan 776 3,332 483 4,391 31.78% 2 Penjualan Hasil Peternakan dan Perikanan 3,368 9,386 7,595 10,810 15.17% 3 Penjualan Hasil Sitaan/Rampasan dan Harta Peninggalan 3,039 5,409 642 2,829 -47.70% 4 Penjualan Informasi, Penerbitan, Film, Survey, Pemetaan dan Hasil Cetakan Lainnya

4,209 3,636 1,018 1,534 -57.81%

5 Tempat

Hiburan/Taman/Mus eum dan Pungutan Usaha Pariwisata Alam (PUPA) 10,437 12,758 13,343 18,707 46.63% 6 Surat Keterangan, Visa, Paspor 75,136 105,292 449,797 124,635 18.37% 7 Sensor/Karantina, Pengawasan/Pemeri ksaan 603 4,275 3,160 12,179 184.89%

8 Jasa Kantor Urusan Agama

8,705 14,979 5,380 14,590 -2.59%

9 Jasa Bandar Udara, Kepelabuhan, dan Kenavigasian 4,552 4,834 4,695 5,624 16.34% 10 Pelayanan Pertanahan 224,213 226,099 142,155 276,182 22.15% 11 Biaya Penagihan Pajak Negara Dengan Surat Paksa

370 50 389 129 159.64%

12 Surat Izin Mengemudi (SIM)

0 136,511 0 143,030 4.78%

13 Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK)

0 101,771 0 113,110 11.14%

14 Surat Tanda Coba Kendaraan (STCK) 0 3,041 0 619 -79.65% 15 Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) 0 108,045 0 116,896 8.19% 16 Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) 0 66,096 0 69,493 5.14% 17 Ujian Ketrampilan Mengemudi Melalui Simulator 0 3,621 0 3,451 -4.70%

18 Penerbitan Surat Ijin Senjata Api dan Bahan Peledak 0 104 0 111 6.37% 19 Penerbitan Surat Mutasi Kendaraan Ke Luar Daerah 0 8,023 0 6,674 -16.82%

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

42 20 Penerbitan Surat Keterangan Catatan Kepolisian 0 9,123 0 14,837 62.64% 21 Penerbitan Surat Keterangan Lapor Diri 0 591 0 60 -89.82% 22 Legalisasi Tanda Tangan 297 806 142 855 6.12% 23 Pengesahan Surat Dibawah Tangan 12 15 1 10 -34.54%

24 Uang Meja (Leges) dan Upah Pada Panitera Badan Pengadilan (Peradilan)

242 448 69 259 -42.20%

25 Hasil Denda dan sebagainya 9,796 13,723 2,010 17,300 26.06% 26 Ongkos Perkara 1,476 3,390 746 3,380 -0.30% 27 Penjualan Hasil Lelang Tindak Pidana Korupsi 0 47 0 1 -97.75% 28 Kejaksanaan dan Peradilan Lainnya 1,259 2,737 564 3,998 46.06%

Sumber : Data LKPP UAPPAW, data diolah

Dilihat dari Tabel 2.4, nampak bahwa terjadi peningkatan PNBP Fungsional instansi vertikal di Provinsi Jawa Barat. Peningkatan penerimaan PNBP paling tinggi berasal dari penerimaan yang bersumber dari Pendapatan Pelayanan Pertanahan sebesar Rp276 milyar, Pendapatan SIM sebesar Rp143 milyar, Pendapatan Surat Keterangan, Visa dan Paspor sebesar Rp124,635 juta rupiah pada TA 2013.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat 6 (enam) pendapatan PNBP terbesar dapat dilihat pada Grafik 2.3.

Sumber : Data LKPP UAPPAW, data diolah

14% 13% 12% 16% 31% 14% Grafik 2.3 Pendapatan PNBP terbesar Surat

Keterangan, Visa, Paspor BPKB

STNK SIM

Pelayanan Pertanahan Surat

Kajian Fiskal Regional Jawa Barat Semester II 2013

43

Dalam dokumen KAJIAN FISKAL REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT (Halaman 57-65)

Dokumen terkait