• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

A. Analisis Bimbingan Agama dalam Meningkatkan

Tangerang

Dalam Penulisan ini penulis menfokuskan pada Bimbingan Agama Dalam Meningkatkan Kesadaran Beragama Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang .

Adapun bimbingan agama merupakan proses pemberian bantuan yang terarah, terus menerus dan sistematis kepada setiap individu agar dapat mengembangkan potensi atau fitrah beragama yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginteralisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan Hadits Rasulullah ke dalam dirinya sehingga dapat hidup selaras dan sesuai dengan al-Qur’an dan Hadist.1

Kegiatan Bimbingan agama di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, bertujuan untuk membentuk narapidana agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat hidup secara wajar sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Seperti penjelasan dari Pembimbing agama dalam wawancara:

1 Syamsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), h.23.

“Dengan adanya bimbingan agama tentu tujuannya untuk menjadikan mereka lebih baik ya, dari segala hal mulai dari akhlaknya, baca tulis al-qurannya, dalam mengatur emosinya. Sebelum mereka berada disini, mereka memiliki kehidupan yang bebas, banyak dari mereka jarang melakukan kegiatan keagamaan seperti ibadah”2

Dengan pernyataan pembimbing agama bahwa pelaksanaan bimbingan agama dirasa sangatlah penting untuk meningkatkan kesadaran beragama bagi narapidana, karena Narapidana pada umumnya kurang memiliki kesadaran beragama hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mereka melakukan pelanggaran hukum. Dengan kurangnya kesadaran beragama makan tingkat keimanan dan ketakwaan yang berbeda-beda, narapidana memerlukan pembinaan keagamaan yang intensif dan terarah. Bimbingan keagamaan mempunyai fungsi ganda, disamping menunaikan kewajiban sebagai pembimbing agama, juga merupakan suatu terapi untuk membentuk kepribadian yang sesuai dengan norma-norma kehidupan agama dan masyarakat.3

Sehingga setelah menjalankan nilai-nilai yang terkandung dalam al-quran dan hadist telah tercapai dan fitrah beragama telah berkembang secara optimal maka dapat tercipta hubungan yang baik dengan Allah, dengan manusia dan alam semesta sebagai perwujudan dari peranannya sebagai khalifah di muka bumi.4

2 Wawancara pembimbing agama 1 ani muliani, di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang pada 7 september 2020 puul 12.05

3Direktorat Jenderal pemasyarakatan kementrian hukum dan hak asasi manusia RI, Petunjuk pelaksanaan bimbingan agama modul A bagi Narapidana di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan Negara (Jakarta: 2001), h.5-6

4 Samsul Munir Amin, Bimbingan Konseling Islam (Jakarta, Amzah 2010),23.

Kegiatan bimbingan agama ini, diharapkan seorang narapidana bisa sadar akan perbuatan yang salah dan tidak mengulangi kejahatannya lagi, sehingga narapidana bisa menambah wawasan agamanya, dan mengaplikasikan dalam kehidupan dalam bermasyarakat kelak.

Kesadaran beragama narapidana dapat tercapai dengan adanya proses pembimbingan dari bimbingan agama yang disampaikan melalui kegiatan atau program-program yang telah di tetapkan oleh Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang selama masa tahanan berlangsung.

Adapun kegiatan bimbingan agama terhadapa narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang sebagai berikut: shalat berjamaah, ceramah agama, baca tulis al-quran, dan kegita-kegiatan lainnya. Dalam proses pelaksanaan bimbingan agama di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang, pembimbing agama menyampaikan pesan serta membantu narapidana dalam meningkatkan kesadaran beragama dengan cara memberikan materi-materi mengenai nilai-nilai ajaran islam, diantaranya:

1. Aqidah

Aqidah menurut istilah adalah keyakinan hidup atau tentang keimanan dalam islam dengan meliputi semua hal yang harus diyakini oleh seseorang muslim. Terutama rukun iman yang enam, yaitu iman

kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-nya, kepada kitab-nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir dan kepada qada dan qadar.5

Kegiatan bimbingan agama di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang. termasuk dalam materi aqidah adalah kegiatan ceramah agama yang disampaikan oleh pembimbing agama dengan materi yang berkaitan dengan aqidah yaitu secara terus menerus untuk dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan narapiadana bertujuan dengan meningkatkan keimanan para narapidana dan kesadaran beragama akan mempengaruhi perilaku mereka. Hal tersebut seperti dikatakan oleh pembimbing agama dalam wawancara :

“Biasanya kalo ngisi ceramah disesuaikan sama keadaan mereka, untuk materi aqidah tentu penting ya mba, karena dengan mereka memahami mengetahui seperti rukun iman dan islam dapat membantu mereka menjadi pribadi yang lebih taat lagi kepada Allah SWT”6

Oleh karena itu, materi aqidah dalam proses bimbingan agama merupakan suatu aspek yang penting dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta kesadaran beragama narapidana di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang untuk dapat mempengaruhi prilaku yang baik sesuai ajaran Allah SWT.

2. Bimbingan syariah

Syari’ah menurut bahasa adalah jalan, Sedangkan menurut istilah adalah sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan

5Sarina pendidikan agama islam (yogyakarta: CV Budi Utama 2017) h.18-19

6 Pembimbing Agama 1, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, Pada 7 September 2020 Pukul 09.40

Allah SWT, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam lingkungan hidupnya.7

Materi bimbingan syariah tersebut disampaikan melalui kegiatan bimbingan agama rutin di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang. Kegiatan yang termasuk dalam bimbingan syari’ah seperti:

a. Kegiatan baca tulis Al-qur-an merupakan kegiatan syariah yang mengajarkan tentang Hablu minanas atau hubungan antara manusia dengan manusia lain.

b. Kegiatan shalat berjamaah merupakan kegiatan yang memberikan pelajaran mengenai Hablu min Allah atau hubungan antara manusia dengan Allah SWT, seperti yang dikatakan oleh pembimbing agama:

“Biasanya sebelum mengisi dengan materi-materi keagamaan, mereka belajar baca tulis Al-qur’an, biasanya saya dibantu sama narapidana yang sudah bisa baca tulis al-qur’an untuk membantu mereka yang belum bisa, dan dari lembaganya sendiri memang diwajibkan untuk shalat berjamaah dimusollah.”8

Dengan penjelasaan tersebut bahwa bimbingan syari’ah dalam pelaksanaan bimbingan agama di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang mendorong narapidana untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dalam segala kondisi sehingga tercipta perkembangan emosi dan kesadaran dalam beragama

7 Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h.134

8Pembimbing Agama 2, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang pada 8 September 2020 Pukul 13.00

3. Akhlak

Menurut Abdul Rasyid mendefinisikan akhlak merupakan tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah. Akhlak dilahirkan berdasarkan sifat-sifat yang terpuji.9 Akhlak yang baik akan lahir oleh sifat-sifat yang baik. Setiap kali menggunakan sifat baiknya, misalnya tidak mudah untuk marah, maka orang tersebut mempunyai akhlak terpuji, karena dalam dirinya mempunyai sifat sabar.

Materi akhlak yaitu pembinaan agama dalam membentuk pengembangan kepribadian guna meningkatkan kesadaran beragama narapidana dengan menumbuh kembangkan perkembangan emosi yang baik dan menghilangkan perkembangan emosi yang buruk, diharapakan narapidana memiliki kepribadian yang selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam hal ini materi akhlak terbagi menjadi 3 bagian yaitu:

a. Akhlak Kepada Allah Yang dimaksud akhlak kepada Allah adalah sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan manusia sebagai makhluk kepada tuhan sebagai Khaliq.10 Akhlak kepada Allah adalah beribadah kepada Allah SWT, cinta kepada-Nya, cinta karena-Nya, tidak menyekutukan-Nya. Bersyukur hanya kepada-Nya dan lain sebagainya inti dari akhlak manusia terhadap Allah adalah beribadah kepada Dzat yang telah menciptakannya.

9 M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Prespektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h. 2.

10 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta : Rajawali pers. 2009), h. 4.

Hal ini diperjelas oleh pembimbing agama yaitu Ibu NurAini mengatakan:

“Akhlak merupakan suatu yang penting bagi mereka, karena dengan akhlak mereka bisa memulai kehidupan yang lebih baik dengan tuntun ajaran agama islam ya mba, tentu kita semua tau bagaiaman akhlak seorang narapidana yang jauh dari agama yang hidupnya bebas tanpa ada aturan-aturan dalam menjalani kehidupan”11

Akhlak kepada Allah dapat dilihat dari perilaku mereka yang taat kepada Allah hal ini diperjelas oleh pembimbing saat wawancara :

“dengan perubahan mereka yang mau memulai sholat, menerima keadaan mereka dan selalu bersyukur atas apa yang sudah menjadi takdirnya sudah mulai ada perubahan sedikit demi sedikit iya mba”

b. Akhlak terhadap sesama manusia Menurut M. Yatimin Abdullah, terdapat nilai akhlak terhadap saudara, atau dapat dikatakan nilai terhadap sesama manusia. Diantaranya yaitu adil, khuznudzon, musyawarah, tolong menolong, kasih sayang terhadap saudara, tasamuh (toleransi).12 Dalam hal ini diperjelas oleh pembimbing agama dan staff bimpas saat di wawancara:

“akhlak itu kan bisa kita lihat dari perbuatan mereka sehari-hari selama disini, saya bertemu mereka dari sebelum memahami tentang keagamaan, jadi saya berusaha membantu mereka dalam membentuk perubahan terhadap tingkah lakunya menjadi lebih baik. Contohnya mereka lebih bisa mengantur emosinya ketika mereka merasa marah, atau sedang kesal mungkin dengan

11 Pembimbing Agama 1, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, Pada 7 September 2020 Pukul 09.40

12 Abdullah, Studi Akhlak, h.266

teman sekamarnya atau sedang ada masalah dengan keluarganya.”13

Hal tersebut juga di perjelas oleh staff bimpas di lembaga pemasyarakatan perempuan Kela IIA Tangerang saat wawancara:

“akhlak tentunya menjadi penilaian penting untuk kami disini ya mba, karena dengan mereka menjadi lebih baik maka akan terlihat dari perbuatan mereka dan mau mengikuti aturan, terbukti dengan mereka dapat berubahan menjadi lebih baik ada dari mereka yang terpilih menjadi tamping untuk membantu kami dan dapat dipercaya untuk membantu menggerakan teman-teman mereka”14

Penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa akhlak merupakan suatu hal penting dalam membantu narapidana dalam perubahan terhadap diri mereka sendiri dengan adanya akhlak sesama manusia dengan baik maka dapat meningkatkan kesadaran beragama narapidana.

c. Akhlak dalam Beragama Akhlak adalah fungsionalisasi agama, artinya, keberagamaan menjadi tidak berarti bila tidak dibuktikan dengan aplikasi akhlak. Orang mungkin banyak salat, puasa, membaca al-Quran dan berdoa tetapi bila perilakunya tidak berakhlak, seperti merugikan orang, tidak jujur, korupsi dan lain-lain, maka keberagamaannya menjadi tidak benar atau sia-sia.15 Dalam hal ini Ibadah dalam Islam sangat erat hubungannya dengan

13 Pembimbing Agama 2, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang pada 8 September 2020 Pukul 13.00

14 Staff Bimpas Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang Pada 03 September 2020 pukul 10.00

15 Lihat Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia (Cet. I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), h.39

akhlak. Akhlak menjadi takaran penting dalam menilai seorang narapidana dijelaskan pembimbing saat wawancara:

“tentunnya ibadah menjadi suatu hal yang penting bagi kami sebagai pembimbing kita tau bagaimana mereka diluar sana untuk mengerjakanya saja tidak ada kemauan yang muncul dalam dirinya padahal mereka tau bahwa sholat merupakan suatu kewajiban sebagai umat islam maka sudah menjadi kewajiban untuk kami disini membantu mereka dalam memperbaiki sholatnya, akhlaknya”16

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan materi-materi bimbingan agama tersebut dapat membantu narapidana dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta kesadaran beragama sehingga mampu menjadi seorang narapidana dengan perilaku yang lebih baik serta sesuai dengan ajaran-ajaran islam.

Pelaksanaan bimbingan agama di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA tangerang, menggunakan beberapa metode atau pendekatan dengan narapidana agar penyampaian pesan yang lakukan pembimbing dapat di pahami oleh narapidana. Berikut merupakan metode yang digunakan dalam pelaksanaan bimbingan agama:

1. Metode Directiv (Bimbingan Mengarahkan).

Metode Directive merupakan metode yang bersifat mengarahkan kepada terbimbing untuk berusaha mengatasi kesulitan yang dihadapi. Pengarahan yang diberikan kepada terbimbing yaitu dengan memberikan secara langsung

jawaban-16 Pembimbing Agama 2, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang pada 8 September 2020 Pukul 13.00

jawaban terhadap permasalahan yang menjadi sebab kesulitan yang dialami terbimbing.

Metode ini digunakan dalam pelaksanaan bimbingan agama di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang.

Melalui pengajaran dan latihan yang diberikan pembimbing berupa baca tulis Al-Qur’an, praktek shalat yang berupa gerakan beserta bacaan dalam shalat seperti: Takbirotul ihrom, ruku, sujud dan duduk diantara dua sujud. Kemudian diadakan latihan-latihan membaca dan menulis Al-Qur’an terhadap narapidana. Pengajaran dan pelatihan ini membuat narapidana memahami ajaran Islam yang disampaikan. Hal ini diperjelas oleh pembimbing agama saat wawancara:

“Masih banyak dari mereka kesulitan dalam baca tulis al-qur’an dan melakukan ibadah, maka tugas kami disini sebagai pembimbing agama ya membantu dan mengarahkan mereka agar mereka mau belajar sehingga dengan mereka mau belajar akan tertanama didalam diri mereka tentang ajaran-ajaran agama islam sesuai dengan al-qur’an dan hadist.”17

Metode mengarahkan untuk membaca Al- quran dan sholat berjam’ah dapat mendisiplinkan narapidana dalam menjalankan peraturan yang ada, menjadikan narapidana dapat mengatur diri dan membentuk pribadi yang bertakwa kepada Allah SWT.

Dilakukannya bimbingan membaca Al-quran dan sholat berjam’ahuntuk menanamkan nilai kedisiplinan agar para

17Pembimbing Agama 1, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, Pada 7 September 2020 Pukul 09.40

narapidana terbiasa melaksanakan ibadahnya, sehingga dengan sendirinya kesadaran beragama akan tertanam pada jiwa mereka, hal tersebut disampaikan oleh ibu Nuraini pada saat wawancara;

“Metode mengarahkan digunakan dalam membaca Al- Qur‟an setiap selesai melakukan sholat berjam’ah, maupun selesai melakukan sholat lima waktu baik di masjid maupun di kamar masing-masing narapidana.”18

Dengan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa metode directiv atau metode dengan cara mengarahkan merupakan metode yang sering digunakan dalam pelaksanaan bimbingan agama untuk dapat meningkatkan kesadaran beragama narapidana.

2. Metode Group Guidance (Bimbingan Kelompok)

Metode kelompok adalah suatu metode pengungkapan jiwa atau batin serta pembinaanya melalui kegiatan kelompok, seperti ceramah, diskusi, seminar, symposium atau dinamika kelompok.

Metode ini merupakan salah satu yang sangat disukai oleh narapidana, karena mereka bukan hanya mendengar melainkan bisa melakukan tanya jawab, diskusi mengenai berbagai persoalan yang ada dengan jelas dan tuntas. Metode ini diberikan kepada narapidana agar kajian materi yang dibahas lebih mendetail dan mudah dipahami.

Metode bimbingan kelompok ini biasanya dilakukan pada kegiatan pembinaan yang dilakukan setiap hari senin sampai sabtu,

18 Pembimbing Agama 2, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang pada 8 September 2020 Pukul 13.00

yang meliputi pengajian dan ceramah islami, seperti yang dikatakan ibu Ani selaku pembimbing agama:

“Para narapidana harus mengikuti kegiatan pembinaan keagamaan islam yang telah dijadwalkan setiap hari senin hingga sabtu, mulai pukul 09.00-12.00 siang, mulai dari belajar baca iqra dan alquran hingga mengikuti tausyiah dari para ustadzah.”19

Metode ini merupakan pemberian dan penyampaian informasi pada narapidanauntuk menjelaskan atau menguraikan kepada narapidana mengenai suatu masalah, seperti menjelaskan tentang hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam atau lingkungan sekitar.

Metode kelompok atau cerama ini digunakan untuk menyampaikan kajian materi yang sulit disampaikan dengan cara lain seperti menjelaskan ayat al- Qur‟an, hadits, keimanan dan sejarah islam. Metode ini baik untuk mengembangkan pengetahuan tentang keagamaan narapidana sehingga membuat narapidana dalam menjalani hidup sesuai dengan tuntunan agama.Hal tersebut juga dibenarkan oleh narapidana LN dan Monix’s mengatakan bahwa:

“Ceramah agama dapat membantu mereka dalam menyadari hal-hal yang salah yang pernah mereka buat melalui mendengar ceramah agama yang diberkan

19 Pembimbing Agama 1, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, Pada 7 September 2020 Pukul 09.40

pembimbing dan merasa lebih tenang dalam menjalani kehidupan.”20

Dari paparan diatas menunujukkan bahwa metode ini adalah suatu metode yang di gunakan dalam kegiatan bimbingan agama narapidana agar mereka dapat mengetahui dan memahami ilmu pengetahuan agama Islam sehingga dapat meningkatkan kesadaran beragama dan mengamalkan syari’at Islam dengan baik dan benar, serta mendekatkan diri kepada Allah, serta menyesali kesalahan yang telah diperbuat dan tidak mengulangi lagi.

3. Metode individu

Metode individu ini dilakukan dengan bertatap muka langsung antara pembimbing agama dengan narapidana. Untuk membangun hubungan atau pendekatan dengan mereka merupakan salah satu cara untuk memudahkan penyampaian materi bimbingan agama, seperti yang dikatakan oleh Ibu Nuraini selaku pembimbing agama :

“Biasanya untuk menyampaikan materi kita selalu melihat keadaan dan situasi narapidana, dan melakukan pendekatan baik secara kelompok ataupun individu agar kita tahu keadaan dan permasalahan yang sedang dihadapi, agar narapidana merasakan bahwa kami memberikan rasa empati terhadap mereka, dengan seperti itu mereka pun merasa nyaman ketika kami memberikan masukan atau pesan kepada mereka.”21

20 Informan LN dan Monix’s, di Lemabaga Pemasyarakatan perempuan Kelas IIA Tangerang pada 11 September 2020

21 Pembimbing Agama 1, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, Pada 7 September 2020 Pukul 09.40

Metode ini sangat mendapatkan respon yang amat baik dan menggembirakan dari narapidana yang memiliki masalah bersifat rahasia serta bagi mereka yang ingin mendapatkannasihat-nasihat mengenai keagamaan.

Berdasarkan Penulisan mengenai proses pelaksanaan bimbingan agama dalam meningkatkan kesadaran beragama narapidana di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang yaitu narapidana diberikan kajian materi yang berkenaan dengan ajaran islam atau nilai-nilai yang dikemas dalam berbagai bentuk kegiatan bimbingan agama, diantaranya:

belajar baca tulis al-qur’an, ceramah agama, shalat berjamaah.

Materi yang disampaikan dalam setiap kegiatan tersebut mengandung aspek-aspek materi bimbingan agama islam, seperti : aqidah, bimmbingan syari’ah dan akhlak yang dapat meningkatkan kesadaran beragama dan berguna bagi kelangsungan kehidupan narapidana baik selama menjalani masa tahanan ataupun setelahnya. Dan metode yang digunakan bimbingan agama di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang yang diterapkan adalah metode mengarahkan, metode kelompok dan metode individu.

Oleh karena itu proses pelaksanaan bimbingan agama di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang

bertujuan untuk memperbaiki moral, mental dan meningkatkan keimanan atau kesadaran beragama untuk narapidana.

B. Kesadaran Beragama Narapidana

Kesadaran beragama adalah bagian yang hadir dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi, atau dapat dikatakan aspek mental dan aktifitas agama. Setelah adanya kesadaran beragama akan dilanjutkan dengan adanya pengalaman agama yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh perbuatan (amaliyah).22

Adapun kesadaran beragama yang terlihat dalam proses pelaksanaan bimbingan agama di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang menurut pembimbing agama, staff bimpas dan narapidana itu sendiri. Peneliti mengkasifikasikannya dalam 2 aspek sesuai tingkatan kesadaran beragama yang dialami oleh informan pada saat diwawancarai, sebagai berikut:

1. Aspek Kognitif

Aspek kognitif merupakan aspek yang menjadi sumber jiwa agama pada diri seseorang (melalui berfikir). Manusia memiliki kepercayaan akan Allah karena menggunakan kemampuan berfikirnya. Sedangkan kehidupan beragama merupakan refleksi dari kemampuan berfikir manusia itu sendiri.

22 Zakiyah Darajat, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), Cet. Ke-12, h.3-4

Manusia juga menggunakan fikirannya untuk merenungkan kebenaran atau kesalahan menuju keyakinan terhadap ajaran agama. Para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan tersebut merupakan manusia yang menyimpang dari tuntunan agama dengan melakukan berbagai tindak pidana yang mengakibatkan ketidakstabilan dan kerusakan tatanan dalam lingkungan masyarakat.

Narapidana tersebut melakukan pelanggaran atau tindakan pidana karena cenderung kurangnya memiliki latar belakang keagamaan, namun setelah mendapatkan bimbingan kegamaan terutama dalam pengetahuan beragama banyak efek positif yang mereka rasakan, seperti yang dipaparkan oleh Ibu Ani Muliani selaku Pembimbing agama :

“Mereka waktu awal-awal disini banyak yang tidak mau mengikuti kegiatan bimbingan agama, karena mereka berfikir kalo mereka sudah berbuat salah terus tidak ada keinginan untuk berubah, dan para narapidana yang baru masuk juga, mereka rasanya seperti orang yang tidak mengenal agama.”23

Begitupun menurut pengalaman yang dialami oleh infroman monix’s, ia berkata:“Pertama kali masuk sini kan saya emang ngga paham-paham bgt tentang agama, saya suka dengerin ceramah yang dikasih sama ustadzahnya, jadi saya bisa tahu rukum iman, bahwa kita harus yakin kepada Allah SWT, terus dikasih tahu bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah milik Allah.”24

Bukan hanya informan Monix’s yang merasakan perubahan tersebut, melainkan informan LN juga berkata:“Saya sebelum masuk sini shalat itu satu tahun sekali mba, saya punya mukena saja itu satu mba, itu aja saya ngga pernah pakai mba, baru masuk sini saya menyadari mba kalo saya tidakmengerti apa-apa soal agama, saya belajar ngikutin bimbingan agama, dengerin ceramah, shalat lima waktu ngga pernah saya tinggal,

23 Pembimbing Agama 1, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, Pada 7 September 2020 Pukul 09.40

24 Informan Monix’s, Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, pada 11 September 2020 Pukul 09.00

jadi saya bersyukur mba hidup disini banyak hikmah yang positif untuk saya.”25

Dari ketiga pernyataan tersebut terlihat bahwa narapidana yang berada di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang cenderung kurangnya memiliki pengetahuan dan kesadaran dalam beragama. Namun terlihat juga adanya perubahan yang dirasakan setelah berada di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang pada

Dari ketiga pernyataan tersebut terlihat bahwa narapidana yang berada di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang cenderung kurangnya memiliki pengetahuan dan kesadaran dalam beragama. Namun terlihat juga adanya perubahan yang dirasakan setelah berada di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang pada

Dokumen terkait