• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DATA DAN TEMUAN LAPANGAN

B. Gambaran Umum Penulisan

Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu kurang lebih 3 bulan. Pengamatan awal telah dilakukan peneliti pada tanggal 12 September 2020, peneliti melakukan observasi pada saat kegiatan bimbingan keagamaan sedang berlangsung, pelaksanaan bimbingan agama di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang ada beberapa kegiatan keagamaan seperti belajar baca tulis al-qur’an bersama dilanjut dengan ceramah keagamaan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu rutinitas yang harus dijalankan oleh narapidana selama di dalam lembaga.

Selanjutnya, peneliti melakukan konsultasi kepada pembimbing keagamaan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang dengan setting tempat dan pertemuan yang disesuaikan dengan waktu yang sudah diajukan.

Pembimbing keagamaan merupakan salah satu peran terpenting di dalam Lembaga Pemasyarakatan, karena beliau yang membimbing proses pembentukkan kesadaran para narapidana dalam berprilaku, beragama serta dalam spiritual ruhaniyah. Sebaliknya pula dibutuhkan kesadaran diri sendiri yang merupakan salah satu peran yang amat penting dalam kehidupan narapidanauntuk memotivasi diri sendiri agar membentuk pribadi yang lebih baik. Dan dibantu dengan adanya peran pendukung

yaitu staff Bimpas, yang selalu mendengarkan segala keluh kesah dan memberi masukan-masukan positif kepada pada narapidana baik mengenai keagamaan maupun konflik pribadinya.

C. Temuan Penelitian dengan Pembimbing Agama

Temuan Penelitian yang didapatkan Peneliti dalam proses bimbingan agama dalam meningkatkan kesadaran beragama narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, meliputi Metode yang digunakan dan pemberian materi dalam proses bimbingan Keagamaan bagi narapidana.

Bimbingan agama adalah salah satu kegiatan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang. Bimbingan agama biasanya dilaksanakan setiap hari senin hingga sabtu, kegiatan bimbingan agama diikuti oleh seluruh narapidana baik beragama islam ataupun agama lainnya kecuali yang beragama hindu dan budha hanya dalam seminggu satu kali, dikarenakan tidak adanya pembimbing dari agama tersebut.

Sedangkan untuk Kegiatan bimbingan agama islam meliputi pengajian iqra dan alquran mulai dari 09.00-10.00 kemudian dilanjutkan kembali dengan memberikan materi bimbingan agama islam sesuai dengan kebutuhan narapidana mulai 10.00-12.00, keseluruhan kegiatan bimbingan keagamaan ini di ajarkan langsung oleh ustadzah-ustadzah terpercaya dan berpengalaman dalam membina narapidana.

Dalam melakukan bimbingan agama pembimbing harus mampu menyampaikan materi dengan menarik dan berinovasi yang selalu

memberikan ide-ide baru sesuai dengan kebutuhan narapidana. Hal tersebut bertujuan untuk berjalananya komunikasi yang baik dengan narapidana.

Adapun metode yang digunakan oleh pembimbing agama dalam meningkatkan kesadaran beragama di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang adalah:

1. Metode Directiv (Bimbingan Mengarahkan).

Melalui pengajaran dan latihan yang diberikan pembimbing berupa baca tulis Al-Qur’an, praktek shalat yang berupa gerakan beserta bacaan dalam shalat seperti: Takbirotul ihrom, ruku, sujud dan duduk diantara dua sujud. Kemudian diadakan latihan-latihan membaca dan menulis Al-Qur’an terhadap narapidana. Pengajaran dan pelatihan ini membuat narapidana memahami ajaran Islam yang disampaikan. Dalam hal ini di perjelas dengan staff bimpas saat diwawancarai :

“belajar baca tulis al-qur’an merupakan salah satu fokus kita di lapas ini, karena masih banyak narapidana yang belum bisa baca al-qur’an, selain itu juga kita disini selalu mengarahkan mereka untuk mengerjakan sholat berjamaah di musollah.”7

Hal tersebut juga diperjelas oleh pembimbing agama mengatakan:

“mengarahkan mereka untuk membaca Al- Qur‟an setiap selesai melakukan sholat berjam’ah, maupun selesai melakukan sholat lima waktu baik di masjid maupun di kamar masing-masing”8

2. Metode Group Guidance (Bimbingan Kelompok)

7 Staff Bimpas Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang Pada 03 September 2020 pukul 10.00

8 Pembimbing Agama 2, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang pada 8 September 2020 Pukul 13.00

Metode bimbingan kelompok ini biasanya dilakukan pada kegiatan pembinaan yang dilakukan setiap hari senin sampai sabtu, yang meliputi pengajian dan ceramah islami, seperti yang dikatakan ibu Ani selaku pembimbing agama:

“Para narapidana harus mengikuti kegiatan pembinaan keagamaan islam yang telah dijadwalkan setiap hari senin hingga sabtu, mulai pukul 09.00-12.00 siang, mulai dari belajar baca iqra dan alquran hingga mengikuti tausyiah dari para ustadzah.”9

Metode ini banyak disukai narapidana, karena mereka bukan hanya mendenganr melainkan bisa melakukan tanya jawab, diskusi mengenai berbagai persoalan yang ada denganjelas dan tuntas. Metode ini diberikan kepada narapidana agar kajian materi yang dibahas lebih mendetail dan mudah dipahami.

3. Metode individu

Metode individu ini dilakukan dengan bertatap muka langsung antara pembimbing dengan narapidana. Membangun hubungan atau pendekatan dengan mereka merupakan salah satu cara untuk memudahkan penyampaian materi bimbingan agama, seperti yang dikatakan oleh Ibu Nuraini selaku pembimbing agama :

“Biasanya untuk menyampaikan materi kita selalu melihat keadaan dan situasi narapidana, dan melakukan pendekatan baik secara kelompok ataupun individu agar kita tahu keadaan dan permasalahan yang sedang dihadapi, agar narapidana merasakan bahwa kami memberikan rasa empati terhadap mereka, dengan

9 Pembimbing Agama 1, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, Pada 7 September 2020 Pukul 09.40

seperti itu mereka pun merasa nyaman ketika kami memberikan masukan atau pesan kepada mereka.”10

Dalam hal ini diperjelas oleh pembimbing agama 2 mengatakan :

“biasanya mereka suka datang secara individu setalah selesai menyampaikan kajian secara bersama, ada yang memang ingin bercerita tentang masalah pribadi atau ingin menanyakan yang belum mereka pahami, nah dari sini kan saya jadi tau keadaan mereka bagaimana jadi membantu saya untuk mengetahui keadaan mereka dan dapat menyesuaikan kembali materi yang cocok dengan keadaan mereka.”11

Metode ini sangat mendapatkan respon yang amat baik dan menggembirakan dari narapida yang memiliki masalah bersifat rahasia serta bagi mereka yang ingin mendapatkan nasihat-nasihat mengenai keagamaan secara individu serta membantu pembiming agama dalam menentukan materi yang tepat untuk keadaan narapidana.

Adapun materi yang diberikan oleh pembimbing agama dalam meningkatkan kesadaran beragama di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang meliputi beberapa aspek ilmu keagamaan, diantaranya:

1. Aqidah

Aqidah adalah keyakinan hidup atau bisa disebut keimanan. Sesuai dengan maknanya aspek aqidah meliputi semua hal yang harus diyakini oleh semua orang yang beragama. Terutama bagi seorang muslim harus mempercayai adanya rukun iman.

10 Pembimbing Agama 1, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, Pada 7 September 2020 Pukul 09.40

11 Pembimbing Agama 2, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang pada 8 September 2020 Pukul 13.00

Adapun materi keagamaan yang diberikan oleh pembimbing agama di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta kesadaran narapidana dalam beragama diantaranya; tentang kepercayaan akan adanya Allah dan rukun iman, rukun islam dan kisah-kisah nabi dan Rasullah SAW. Hal ini dapat menambah keimanan dan ketaqwaan narapidana dan mengerti akan hidup yang sesungguhnya.

2. Ibadah

Aspek ibadah atau sering disebut dengan syari’ah merupakan ketaatan atau ketundukan serta perasaan takut akan kesempurnaan Allah SWT. Adapun materi keagamaan yang diberikan oleh pembimbing berupa, tata cara sholat, mengaji Iqro’ dan Al qur-an, dan thoharoh mengenai tata cara bersuci.

Dengan demikian, materi-materi yang diberikan langsung dalam bentuk kegiatan mereka sehari-hari seperti, sholat 5 waktu berjamaah, belajar membaca dan menulis Al-qur’an dan ceramah ruhaniah.

Dengan upaya untuk menumbuhkan kebiasaan berprilaku religius.

3. Akhlak

Akhlak merupakan bagian ajaran islam yang mengatur tingkah laku manusia. Adapun materi yang diberikan kepada narapidana berupa, tata cara dan etika ketika berbicara di depan umum, serta cara merespon yang baik dalam mendengarkan dan memperhatikan orang yang lebih tua, teman atau narapidana yang lain sedang berbicara atau

mengemukakan pendapat dengan begitu untuk selalu beribadah kepada Allah dan berbuat baik sesama manusia dengan saling menghormati dan tolong menolong merupakan akhlak yang baik. Dengan tujuan narapidana dapat mengetahui mana akhlak yang baik dan mana yang merupakan akhlak buruk dengan begitu hubungan dengan masyarakat nantinya dapat diterapkan dengan baik.

Oleh karena itu, bimbingan agama bagi narapidana sangat penting, maka diperlukan intensitas yang lebih dari segi penyampaiannya. Materi yang diberikan baiknya harus meliputi aspek aspek keagamaan tersebut yang dapat berguna bagi kehidupan narapidana, dan dapat memperbaiki moral, mental dan menambah keimanan mereka baik selama mengikuti massa tahanan maupun setelahnya.

D. Temuan Kesadaran Beragama

Berdasarkan yang Penelitian dalam wawancara pada beberapa narapidana terkait kesadaran beragama, Peneliti menemukan adanya kurang pemahanan tentang agama yang dialami oleh para narapidana selama mereka menjalani kehidupan bebas di luar sebelum masuk di Lembaga dan mengikuti bimbingan keagamaan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang. Dari segi ibadah, pengetahuan tentang agama dan tingkah laku.

Menurut narapidana berinisial LN, ia merasa bersyukur karena dengan dirinya masuk Lembaga Pemasayarakatan secara jelas ia menjalaskan bahwa sebelumnya tidak pernah melakukan ibadah, seperti yang ia katakan :

“Sebelum saya masuk sini ya mba, saya tidak pernah belajar mengaji atau tentang ilmu agama lainnya, saya aja sholat cuma satu tahun sekali itu juga saat Idul Fitri aja. Iya karena lingkungan saya juga seperti itu.”12

Begitupun menurut narapidana yang akrab dipanggil Monix’s menjelaskan, bahwa dia tidak bisa membaca al-quran dan juga jarang melakukan sholat. Namun setelah masuk Lembaga Pemasyarakatan, ia mengikuti kegiatan bimbingan keagamaan, lalu mulai lah ada keinginan untuk belajar membaca al-quran dan menjalankan sholat, seperti yang ia tuturkan:

“Waktu masih diluar mana inget mba sama belajar agama, saya kan kerjanya keluar negeri kadang udah capek terus juga males, kadang kalo mau sholat tuh kalo lagi di luar gitukan ribet ya, yaudah jadi saya nga sholat aja. Tapi pas masuk sini mba, saya ngikuti kegiatan bimbingan agama dengerin ceramahnya jadi saya ada keinginan untuk berubah men jadi lebih baik, enak juga gitu mba kaya tenang aja kalo abis sholat.”13

Dan yang terakhir, menurut pengalaman yang dirasakan narapidana yang berinisial DV, ia juga mengungkapkan bahwa ia mengetahui tata cara sholat dan bisa membaca al-qur’an, akan tetapi karena kesibukannya bekerja, ia jarang melaksanakan ibadah sholat dan membaca al-quran. Namun semenjak berada di Lapas ia menjadi rajin untuk melakukan kewajibannya ssebagai seorang muslim, berikut perkataannya:

“saya sebenernya waktu kecil memang sudah diajari mengaji, tapi memang pas sudah bekerja saya jarang ngaji lagi, sholat juga jarang bangetlah tapi tidak sampe saya tinggalin banget si mba, masih suka kadang-kadang.”14

12 Informan LN, Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, pada tanggal 11 September 2020 Pukul 10.49

13 Informan Monix’s, Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, pada 11 September 2020 Pukul 09.00

14Informan DV, Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, pada 12 September 2020 Pukul 11:30.

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa narapidana menjalani kehidupan sebelumnya dengan kurangnya kesadaran dalam beragama terlihat dari segi pengetahuan tentang agama, psikomotorik dan hilagnya perasaan tentang agama. Dengan demikian maka narapidana sangat memutuhkan peran pembimbinga agama untuk membantu narapidana agar menjalani hidup kebenaran dan keimanan kepada Allah SWT serta membuat mereka merasa lebih nyaman dan jauh dari perasaan bersalah dan menyesal.

Mereka pun menyatakan bahwa sangat berusaha menjalani hukumannya dengan perasaan yang ikhlas.

BAB V PEMBAHASAN

A. Analisis Bimbingan Agama dalam Meningkatkan Kesadaran Beragama Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang

Dalam Penulisan ini penulis menfokuskan pada Bimbingan Agama Dalam Meningkatkan Kesadaran Beragama Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang .

Adapun bimbingan agama merupakan proses pemberian bantuan yang terarah, terus menerus dan sistematis kepada setiap individu agar dapat mengembangkan potensi atau fitrah beragama yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginteralisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan Hadits Rasulullah ke dalam dirinya sehingga dapat hidup selaras dan sesuai dengan al-Qur’an dan Hadist.1

Kegiatan Bimbingan agama di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, bertujuan untuk membentuk narapidana agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat hidup secara wajar sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Seperti penjelasan dari Pembimbing agama dalam wawancara:

1 Syamsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), h.23.

“Dengan adanya bimbingan agama tentu tujuannya untuk menjadikan mereka lebih baik ya, dari segala hal mulai dari akhlaknya, baca tulis al-qurannya, dalam mengatur emosinya. Sebelum mereka berada disini, mereka memiliki kehidupan yang bebas, banyak dari mereka jarang melakukan kegiatan keagamaan seperti ibadah”2

Dengan pernyataan pembimbing agama bahwa pelaksanaan bimbingan agama dirasa sangatlah penting untuk meningkatkan kesadaran beragama bagi narapidana, karena Narapidana pada umumnya kurang memiliki kesadaran beragama hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mereka melakukan pelanggaran hukum. Dengan kurangnya kesadaran beragama makan tingkat keimanan dan ketakwaan yang berbeda-beda, narapidana memerlukan pembinaan keagamaan yang intensif dan terarah. Bimbingan keagamaan mempunyai fungsi ganda, disamping menunaikan kewajiban sebagai pembimbing agama, juga merupakan suatu terapi untuk membentuk kepribadian yang sesuai dengan norma-norma kehidupan agama dan masyarakat.3

Sehingga setelah menjalankan nilai-nilai yang terkandung dalam al-quran dan hadist telah tercapai dan fitrah beragama telah berkembang secara optimal maka dapat tercipta hubungan yang baik dengan Allah, dengan manusia dan alam semesta sebagai perwujudan dari peranannya sebagai khalifah di muka bumi.4

2 Wawancara pembimbing agama 1 ani muliani, di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang pada 7 september 2020 puul 12.05

3Direktorat Jenderal pemasyarakatan kementrian hukum dan hak asasi manusia RI, Petunjuk pelaksanaan bimbingan agama modul A bagi Narapidana di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan Negara (Jakarta: 2001), h.5-6

4 Samsul Munir Amin, Bimbingan Konseling Islam (Jakarta, Amzah 2010),23.

Kegiatan bimbingan agama ini, diharapkan seorang narapidana bisa sadar akan perbuatan yang salah dan tidak mengulangi kejahatannya lagi, sehingga narapidana bisa menambah wawasan agamanya, dan mengaplikasikan dalam kehidupan dalam bermasyarakat kelak.

Kesadaran beragama narapidana dapat tercapai dengan adanya proses pembimbingan dari bimbingan agama yang disampaikan melalui kegiatan atau program-program yang telah di tetapkan oleh Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang selama masa tahanan berlangsung.

Adapun kegiatan bimbingan agama terhadapa narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang sebagai berikut: shalat berjamaah, ceramah agama, baca tulis al-quran, dan kegita-kegiatan lainnya. Dalam proses pelaksanaan bimbingan agama di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang, pembimbing agama menyampaikan pesan serta membantu narapidana dalam meningkatkan kesadaran beragama dengan cara memberikan materi-materi mengenai nilai-nilai ajaran islam, diantaranya:

1. Aqidah

Aqidah menurut istilah adalah keyakinan hidup atau tentang keimanan dalam islam dengan meliputi semua hal yang harus diyakini oleh seseorang muslim. Terutama rukun iman yang enam, yaitu iman

kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-nya, kepada kitab-nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir dan kepada qada dan qadar.5

Kegiatan bimbingan agama di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang. termasuk dalam materi aqidah adalah kegiatan ceramah agama yang disampaikan oleh pembimbing agama dengan materi yang berkaitan dengan aqidah yaitu secara terus menerus untuk dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan narapiadana bertujuan dengan meningkatkan keimanan para narapidana dan kesadaran beragama akan mempengaruhi perilaku mereka. Hal tersebut seperti dikatakan oleh pembimbing agama dalam wawancara :

“Biasanya kalo ngisi ceramah disesuaikan sama keadaan mereka, untuk materi aqidah tentu penting ya mba, karena dengan mereka memahami mengetahui seperti rukun iman dan islam dapat membantu mereka menjadi pribadi yang lebih taat lagi kepada Allah SWT”6

Oleh karena itu, materi aqidah dalam proses bimbingan agama merupakan suatu aspek yang penting dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta kesadaran beragama narapidana di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang untuk dapat mempengaruhi prilaku yang baik sesuai ajaran Allah SWT.

2. Bimbingan syariah

Syari’ah menurut bahasa adalah jalan, Sedangkan menurut istilah adalah sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan

5Sarina pendidikan agama islam (yogyakarta: CV Budi Utama 2017) h.18-19

6 Pembimbing Agama 1, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, Pada 7 September 2020 Pukul 09.40

Allah SWT, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam lingkungan hidupnya.7

Materi bimbingan syariah tersebut disampaikan melalui kegiatan bimbingan agama rutin di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang. Kegiatan yang termasuk dalam bimbingan syari’ah seperti:

a. Kegiatan baca tulis Al-qur-an merupakan kegiatan syariah yang mengajarkan tentang Hablu minanas atau hubungan antara manusia dengan manusia lain.

b. Kegiatan shalat berjamaah merupakan kegiatan yang memberikan pelajaran mengenai Hablu min Allah atau hubungan antara manusia dengan Allah SWT, seperti yang dikatakan oleh pembimbing agama:

“Biasanya sebelum mengisi dengan materi-materi keagamaan, mereka belajar baca tulis Al-qur’an, biasanya saya dibantu sama narapidana yang sudah bisa baca tulis al-qur’an untuk membantu mereka yang belum bisa, dan dari lembaganya sendiri memang diwajibkan untuk shalat berjamaah dimusollah.”8

Dengan penjelasaan tersebut bahwa bimbingan syari’ah dalam pelaksanaan bimbingan agama di lembaga pemasyarakatan perempuan kelas IIA Tangerang mendorong narapidana untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dalam segala kondisi sehingga tercipta perkembangan emosi dan kesadaran dalam beragama

7 Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h.134

8Pembimbing Agama 2, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang pada 8 September 2020 Pukul 13.00

3. Akhlak

Menurut Abdul Rasyid mendefinisikan akhlak merupakan tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah. Akhlak dilahirkan berdasarkan sifat-sifat yang terpuji.9 Akhlak yang baik akan lahir oleh sifat-sifat yang baik. Setiap kali menggunakan sifat baiknya, misalnya tidak mudah untuk marah, maka orang tersebut mempunyai akhlak terpuji, karena dalam dirinya mempunyai sifat sabar.

Materi akhlak yaitu pembinaan agama dalam membentuk pengembangan kepribadian guna meningkatkan kesadaran beragama narapidana dengan menumbuh kembangkan perkembangan emosi yang baik dan menghilangkan perkembangan emosi yang buruk, diharapakan narapidana memiliki kepribadian yang selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam hal ini materi akhlak terbagi menjadi 3 bagian yaitu:

a. Akhlak Kepada Allah Yang dimaksud akhlak kepada Allah adalah sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan manusia sebagai makhluk kepada tuhan sebagai Khaliq.10 Akhlak kepada Allah adalah beribadah kepada Allah SWT, cinta kepada-Nya, cinta karena-Nya, tidak menyekutukan-Nya. Bersyukur hanya kepada-Nya dan lain sebagainya inti dari akhlak manusia terhadap Allah adalah beribadah kepada Dzat yang telah menciptakannya.

9 M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Prespektif Al-Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), h. 2.

10 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta : Rajawali pers. 2009), h. 4.

Hal ini diperjelas oleh pembimbing agama yaitu Ibu NurAini mengatakan:

“Akhlak merupakan suatu yang penting bagi mereka, karena dengan akhlak mereka bisa memulai kehidupan yang lebih baik dengan tuntun ajaran agama islam ya mba, tentu kita semua tau bagaiaman akhlak seorang narapidana yang jauh dari agama yang hidupnya bebas tanpa ada aturan-aturan dalam menjalani kehidupan”11

Akhlak kepada Allah dapat dilihat dari perilaku mereka yang taat kepada Allah hal ini diperjelas oleh pembimbing saat wawancara :

“dengan perubahan mereka yang mau memulai sholat, menerima keadaan mereka dan selalu bersyukur atas apa yang sudah menjadi takdirnya sudah mulai ada perubahan sedikit demi sedikit iya mba”

b. Akhlak terhadap sesama manusia Menurut M. Yatimin Abdullah, terdapat nilai akhlak terhadap saudara, atau dapat dikatakan nilai terhadap sesama manusia. Diantaranya yaitu adil, khuznudzon, musyawarah, tolong menolong, kasih sayang terhadap saudara, tasamuh (toleransi).12 Dalam hal ini diperjelas oleh pembimbing agama dan staff bimpas saat di wawancara:

“akhlak itu kan bisa kita lihat dari perbuatan mereka sehari-hari selama disini, saya bertemu mereka dari sebelum memahami tentang keagamaan, jadi saya berusaha membantu mereka dalam membentuk perubahan terhadap tingkah lakunya menjadi lebih baik. Contohnya mereka lebih bisa mengantur emosinya ketika mereka merasa marah, atau sedang kesal mungkin dengan

11 Pembimbing Agama 1, Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Tangerang, Pada 7 September 2020 Pukul 09.40

12 Abdullah, Studi Akhlak, h.266

teman sekamarnya atau sedang ada masalah dengan keluarganya.”13

Hal tersebut juga di perjelas oleh staff bimpas di lembaga pemasyarakatan perempuan Kela IIA Tangerang saat wawancara:

“akhlak tentunya menjadi penilaian penting untuk kami disini ya mba, karena dengan mereka menjadi lebih baik maka akan terlihat dari perbuatan mereka dan mau mengikuti aturan, terbukti dengan mereka dapat berubahan menjadi lebih baik ada dari mereka yang terpilih menjadi tamping untuk membantu kami dan dapat dipercaya untuk membantu menggerakan

“akhlak tentunya menjadi penilaian penting untuk kami disini ya mba, karena dengan mereka menjadi lebih baik maka akan terlihat dari perbuatan mereka dan mau mengikuti aturan, terbukti dengan mereka dapat berubahan menjadi lebih baik ada dari mereka yang terpilih menjadi tamping untuk membantu kami dan dapat dipercaya untuk membantu menggerakan

Dokumen terkait