• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 2.7. Kerangka konsep

METODE PENELITIAN

H. Alur Penelitian

3. Analisis Bivariat

Analisis statistik bivariat berupa independent sample t-test dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara kadar magnesium serum antara pemberian Sevofluran dan Isofluran pada masing-masing kelompok yaitu menit ke 0, menit ke 30, menit ke 60 dan menit ke 90.

Tabel 4.3. Perbedaan antara kadar magnesium serum sevofluran dan isofluran menit ke 0, menit ke 30, menit ke 60 dan menit ke 90.

Kelompok N Mean SD P-value Magnesium Serum Menit ke 0 Sevofluran 16 2.469 0.164 0,755

Isofluran 16 2.450 0.171

Magnesium Serum Menit ke 30

Sevo fluran 16 2.365 0.094 0.031 Isofluran 16 2.294 0.082

Magnesium Serum Menit ke 60

Sevofluran 16 2.294 0.071 0.001 Isofluran 16 2.188 0.092

Magnesium Serum Menit ke 90

Sevofluran 16 2.163 0.143 0.003 16 1.981 0.172

Berdasar tabel 4.3 diketahui bahwa nilai rata-rata kadar magnesium isofluran menit ke 0 sebesar 2,450±0,176 dan sevofluran sebesar 2,469±0,164 perolehan nilai p = 0,755 > 0,05, nilai rata-rata kadar magnesium sevofluran menit ke 30 sebesar 2,365±0,094 kadar

magnesium isofluran sebesar 2,294±0,082 dengan nilai p=0,031 <0,05, yang berarti ada perbedaan yang bermakna antara isofloran dengan sevofluran pada menit ke 0 dan menit ke 30. Sedangkan nilai rata-rata kadar magnesium sevofluran pada menit ke 60 sebesar 2,294±0,071 dan isofluran menit ke 60 sebesar 2,188±0,092 dengan perolehan p=0.001<0.05, pada kadar magnesium sevofluran menit 90 mempunyai nilai rerata sebesar 2,163±0,143 dan isofluran sebesar 1,980±0,172 dengan p=0,003 <0.05 ada perbedaan yang bermakna pada kadar magnesium isofluran dan sevofluran pada menit ke 60 dan menit ke 90.

Gambar 4.1. Data Perbedaan Kadar Magnesium Menit ke 0, menit ke 30 dan menit ke 90 antara Isofluran dengan Sevofluran.

Dari gambar 4.1. terlihat bahwa kadar magnesium pada isofluran dan sevofluran pada menit ke 0 masih sama, setelah menit ke 30 kadar terjadi penurunan yang bermakna nilai rata-rata kadar magnesium

isofluran lebih rendah dari pada sevofluran hingga pada menit ke 60 dan pada menit ke 90.

Untuk mengetahui keefektifan penggunaan agen inhalasi sevofluran maka digunakan pengujian dengan membandingkan menit ke 30, 60 dan 90 pada kadar magnesium dengan menggunakan uji multivariate.

Tabel 4.4. Uji Multivariat Kadar Magnesium dengan Sevofluran.

N Mean Std.

Deviation

Std. Error 95% Confidence Interval for Mean P-value

Lower Bound Upper Bound

Menit 0 16 2.4500 .17127 .04282 2.3587 2.5413 0.000

Menit 30 16 2.3644 .09388 .02347 2.3144 2.4144

Menit 60 16 2.2938 .07070 .01767 2.2561 2.3314

Menit 90 16 2.1625 .14299 .03575 2.0863 2.2387

Total 64 2.3177 .16249 .02031 2.2771 2.3582

Dari tabel 4.4 terlihat bahwa kadar magnesium dengan sevofluran terdapat perbedaan yang bermakna dari menit 30 hingga menit 90 (p=0.000<0.05) .

Gambar 4.2. Nilai rata rata kadar magnesium pada Sevofluran

Untuk mengetahui keefektifan kadar magnesium dengan sevofluran dilakukan dengan uji Post Hoc.

Tabel 4.5. Uji Post Hoc Kadar Magnesium Menit 0, Menit 30, Menit 60 dan Menit 90 dengan Sevofluran.

(I) Menit (J) Menit Mean

Difference (I-J)

Std. Error Sig. 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound

Menit 0 Menit 30 .08562 .04458 .060 -.0035 .1748 Menit 60 .15625* .04458 .001 .0671 .2454 Menit 90 .28750* .04458 .000 .1983 .3767 Menit 30 Menit 0 -.08562 .04458 .060 -.1748 .0035 Menit 60 .07062 .04458 .118 -.0185 .1598 Menit 90 .20187* .04458 .000 .1127 .2910 Menit 60 Menit 0 -.15625* .04458 .001 -.2454 -.0671

Menit 30 -.07062 .04458 .118 -.1598 .0185

Menit 90 .13125* .04458 .005 .0421 .2204

Menit 90 Menit 0 -.28750* .04458 .000 -.3767 -.1983

Menit 30 -.20187* .04458 .000 -.2910 -.1127

Menit 60 -.13125* .04458 .005 -.2204 -.0421

Tabel 4.5. menjelaskan bahwa perbedaan rata-rata kadar magnesium pada menit 0 dibandingkan dengan menit 30 tidak berbeda secara bermakna (p=0.060>0.05), akan tetapi pada menit 60 (p=0.001<0.05) dan menit 90 (0.000) terjadi perbedaan yang bermakna. Pada menit ke 30 dengan menit ke 60 tidak ada perbedaan yang bermakna (P=0,118>0.05), akan tetapi pada menit 90 terjadi perbedaan yang bermakna (p=0.000). Menit ke 60 dengan menit 90 terjadi perbedaan yang bermakna (p=0.000).

Dilihat dari nilai mean defference antara menit 0 dengan ke 60 ( 0,15625) lebih kecil dari nilai menit 0 dengan menit ke 90 (0,28750), sehingga penggunaan sevofluran yang efektif pada perubahan kadar magnesium adalah menit ke 60.

Tabel 4.6. Uji Multivariat Kadar Magnesium dengan Isofluran.

Waktu N Mean Std.

Deviation

Std. Error

95% Confidence Interval for Mean

p-value

Lower Bound

Upper Bound

Menit 0 16 2.4694 .17643 .04411 2.3754 2.5634 0.000

Menit 30 16 2.2937 .08188 .02047 2.2501 2.3374

Menit 60 16 2.1881 .09159 .02290 2.1393 2.2369

Menit 90 16 1.9806 .17199 .04300 1.8890 2.0723

Total 64 2.2330 .22330 .02791 2.1772 2.2887

Dari tabel 4.6 terlihat bahwa kadar magnesium dengan sevofluran terdapat perbedaan yang bermakna dari menit 30 hingga menit 90 (p=0.000<0.05) .

Untuk mengetahui keefektifan kadar magnesium dengan isofluran dilakukan dengan uji Post Hoc.

Tabel 4.7. Uji Post Hoc Kadar Magnesium Menit 0, Menit 30, Menit 60 dan Menit 90 dengan Isofluran.

Difference (I-J) Lower Bound Upper Bound Menit 0 Menit 30 .17563* .04867 0.001 0.0783 0.2730 Menit 60 .28125* .04867 0.000 0.1839 0.3786 Menit 90 .48875* .04867 0.000 0.3914 0.5861 Menit 30 Menit 0 -.17563* .04867 0.001 -0.2730 -0.0783 Menit 60 .10563* .04867 0.034 0.0083 0.2030 Menit 90 .31313* .04867 0.000 0.2158 0.4105 Menit 60 Menit 0 -.28125* .04867 0.000 -0.3786 -0.1839 Menit 30 -.10563* .04867 0.034 -0.2030 -0.0083 Menit 90 .20750* .04867 0.000 0.1101 0.3049 Menit 90 Menit 0 -.48875* .04867 0.000 -0.5861 -0.3914 Menit 30 -.31313* .04867 0.000 -0.4105 -0.2158 Menit 60 -.20750* .04867 0.000 -0.3049 -0.1101

Tabel 4.7. menjelaskan bahwa pada menit ke 0 dengan menit ke 30, menit 60 dan menit ke 90 terdapat perbedaan yang bermakna p-value < 0.05. Dilihat dari nilai mean defference antara menit 0 dengan menit ke 30 menunjukkan adanya perbedaan yang paling kecil (0.17563), sehingga penggunaan isofluran yang efektif pada perubahan kadar magnesium adalah menit ke 30.

B. PEMBAHASAN

Pada uji bivariat kadar magnesium serum pada menit ke 30, menit ke 60 dan menit ke 90 secara statistik membuktikan bahwa antara kadar isofluran dan kadar magnesium serum sevofluran diperoleh hasil yang bermakna,

karena pengaruh isofluran dan sevofluran tersebut tidak lepas dari mekanisme aksi dari anestesi umum inhalasi yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi beberapa parameter laboratorium, salah satunya adalah efek terhadap penurunan kadar ion magnesium dalam serum. Deckardt et al. (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pemberian isofluran dapat menyebabkan penurunan kadar magnesium serum melalui beberapa mekanisme. Dalam tinjauannya, Wakabayashi (2010) juga menerangkan bahwa isofluran dapat menurunkan kadar magnesium serum. Pemberian sevofluran juga dapat menurunkan kadar magnesium serum total yang disebabkan karena perpindahan magnesium ke intraseluler akibat efek langsung agen anestesi terhadap membran sel itu sendiri (Kweon et al. 2009).

Magnesium sangat kuat mempengaruhi fungsi transportasi ion membran sel jantung dan penting untuk mengaktivasi sekitar 300 sistem enzim, termasuk sebagian besar enzim yang dilibatkan dalam metabolisme energi. Adenosin trifosfat (ATP) menjadi fungsional apabila dikelasi menjadi magnesium. Ion ini merupakan pengatur sel yang penting untuk akses kalsium kedalam dan aksi kalsium didalam sel. Magnesium mengatur tingkat kalsium intraseluler dengan mengaktivasi pompa membran didalam sel yang mengekstrusi kalsium dan bersaing dengan kalsium memperebutkan saluran transmembran yang dengan begitu kalsium ekstraseluler memperoleh akses ke bagian dalam sel. Magnesium merupakan antagonis fisiologis alami dari kalsium. Pelepasan presinaptik asetilkolin tergantung kepada aksi magnesium. Magnesium dapat memberikan efek analgesik dengan beraksi sebagai reseptor antagonist N-methyl-D-aspartate (NMDA). Meskipun demikian, pemberian magnesium IV perioperatif (50 mg/kg IV yang dikuti oleh 15 mg/kg/jam) tidak

memiliki efek terhadap nyeri pasca operasi. Magnesium menghasilkan vasodilasi sistemik dan koroner, menghambat fungsi platelet dan mengurangi cedera reperfusi (Morgan et al. 2013).

Pengaruh isofluran dan sevofluran tersebut tidak lepas dari mekanisme aksi dari anestesi umum inhalasi yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi beberapa parameter laboratorium. Telah diketahui sebelumnya bahwa prinsip utama mekanisme aksi anestesi inhalasi adalah menginduksi transmisi inhibisi dan menghambat transmisi ekstasi pada neuron (Morgan et al. 2013). Terdapat banyak jalur bagi anestesi inhalasi untuk menjalankan mekanisme tersebut. Anestesi inhalasi bekerja dengan mengaktivasi reseptor neurotransmiter inhibisi seperti GABAA dan glisin, serta mengaktivasi kanal ion kalium sehingga menyebabkan influk kalium dan terjadi hiperpolarisasi pada level presinapsis dan postsinapsis. Selain itu, anestesi inhalasi juga bekerja dengan menghambat transmisi eksitasi melalui inhibisi terhadap asetilkolin nikotinik neuronal, reseptor glutamat (NMDA dan AMPA), kanal ion natrium, dan kalsium sehingga mencegah timbulnya depolarisasi neuron (Perouansky et al. 2009).

Magnesium direkomendasikan untuk takikardi ventrikel tanpa pulsasi atau fibrilasi yang menyerupai Torsade de points. Mekanisme aksi magnesium pada Torsade de points masih belum jelas tapi diduga untuk memperpendek potensial aksi melalui kanal potasium miokard. Direkomendasikan dosis sebesar 1 hingga 2 gram dilarutkan dalam 10 ml dekstrose 5% dan diberikan

selama 5 hingga 20 menit. Pemberian yang cepat akan menimbulkan hipotensi, yang reversibel dengan pemberian kalsium (Nidhi et al. 2011).

Efek pada sistem organ menurut Morgan et al. (2013) sevofluran mendepresi ringan kontraktilitas miokardium. Resistensi vaskular sistemik dan penurunan tekanan darah arterial berkurang lebih sedikit dibandingkan isofluran atau desfluran. Oleh karena sevofluran menyebabkan sedikit, jika ada, peningkatan denyut jantung sedangkan isofluran menyebabkan depresi jantung minimal invivo.

Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa isofluran telah lama diketahui dapat menginduksi hiperglikemia akut (Wakabayashi 2010). Kondisi hiperglikemia ini kemudian menyebabkan penurunan kadar magnesium serum pada pasien dengan pemberian isofluran. Penelitian yang dilakukan oleh Zuurbier et al. (2008) mencoba membandingkan pengaruh berbagai agen anestesi seperti ketamin, isofluran, dan sevofluran terhadap peningkatan glukosa dalam plasma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketamin dan isofluran memberikan pengaruh yang signifikan terhadap timbulnya hiperglikemia, sedangkan sevofluran juga menimbulkan hiperglikemia tetapi tidak cukup signifikan.

Penyebab utama dari hiperglikemia ini adalah penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Insulin merupakan modulator penting bagi magnesium intraseluler. Dalam penelitian in vitro dan in vivo, insulin memodulasi pergeseran magnesium dan mengatur konsentrasi magnesium dengan stimulasi pompa ATPase membran plasma serta uptake magnesium eritrosit

(Takaya et al. 2004). Penurunan sekresi insulin akibat pemberian agen inhalasi dapat menyebabkan gangguan pada regulasi tersebut dan menimbulkan penurunan kadar magnesium serum.

Penelitian ini memiliki keterbatasan pada variabel bebas yang tidak bisa dikendalikan yaitu stres operatif. Stres operatif yang dihadapi oleh pasien yang menjadi subjek penelitian ini dapat mempengaruhi kadar glukosa darah selama periode operasi. Peningkatan glukosa secara signifikan dapat menyebabkan penurunan kadar magnesium serum secara tidak langsung pada pasien yang menjalani anestesi umum (Wakabayashi 2010).

BAB V

Dokumen terkait