• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

A. Hasil Penelitian 1. Analisa univariat

2. Analisis Bivariat

a. Hubungan Usia dengan Gastritis

Dari hasil analisis hubungan usia dengan gastritis adalah 40 responden pada usia < 16 tahun, terdapat 21 responden (52,5%) terjadi gastritis dan 19 responden (47,5%) yang tidak terjadi gastritis sedangkan dari 20 responden pada usia < 16 tahun terdapat 12 responden (60%) terjadi gastritis dan 8 responden (40%) tidak terjadi gastritis. Hasil uji statistik didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara usia dengan gastritis, didapatkan P value = 0,003. Untuk uji odd ratio menunjukkan bahwa usia responden < 16 tahun berpeluang 0,737 kali terjadi gastritis dari pada usia responden > 16 tahun.

Pada penelitian Amran (2003) didapatkan bahwa usia memiliki hubungan yang bermakna dengan gastritis, Menurut Baliwati (2004) Masa remaja adalah masa mencari identitas diri, adanya keinginan untuk dapat diterima oleh teman sebaya dan mulai tertarik oleh lawan jenis menyebabkan remaja sangat menjaga penampilan. Semua itu sangat mempengaruhi pola makan remaja, termasuk pemilihan bahan makanan dan frekuensi makan. Remaja takut merasa gemuk sehingga remaja menghindari sarapan dan makan siang atau hanya makan sehari sekali, Hal itu menyebabkan terjadinya gastritis.

Menurut Soedjiningsih (2009) Angka kejadian anoreksia dan bulimia mengalami peningkatan selama dekade terakhir. Sekitar 1 dari 100 remaja perempuan umur antara 16 sampai 18 tahun menderita anoreksia. Puncak angka kejadian anoreksia pada remaja terjadi pada usia 17 tahun, dan remaja perempuan lebih banyak mengalami gangguan pola makan dibandingkan dengan remaja laki-laki dengan perbandingan 10:1. Gangguan tersebut dihasilkan oleh ketakutan bahwa tubuh akan menjadi gemuk setelah makan dan ketakutan mental ini akan terpancar

melalui penyiksaan fisik. Penelitian maupun teori diatas dapat disimpulkan bahwa usia dapat mempengaruhi terjadinya gastritis terutama terhadap pola makan. Usia remaja memiliki dampak yang lebih besar terhadap terjadinya gastritis.

Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian ini, bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan gastritis, dapat dikarenakan para santri Pondok Pesantren Daar El-Qolam mayoritas masuk ke dalam usia remaja yaitu masa mencari identitas diri dan para santri mulai tertarik dengan lawan jenis menyebabkan santri sangat menjaga penampilan dan terjebak terhadap pola makan yang salah, hal ini sesuai dengan teori Soetjiningsih (2005), yang menyatakan permasalahan gizi yang timbul pada masa remaja dipicu oleh pemahaman gizi yang salah, yang mana remaja sering memiliki pemahaman bahwa tubuh menjadi idaman adalah tubuh yang langsing, sehingga untuk mempertahankan kelangsingannya remaja melakukan pengaturan makan yang salah dan usia remaja merupakan usia yang mudah tertarik dengan hal-hal baru, termasuk produk makanan yang diiklankan, padahal makanan tersebut belum tentu memiliki kandungan gizi yang baik.

b. Hubungan Jenis Kelamin dengan Gastritis

Dari hasil analisis hubungan jenis kelamin dengan gastritis adalah 18 responden pada jenis kelamin laki-laki terdapat 15 responden (83,3%) terjadi gastritis dan 3 responden (16,7%) yang tidak terjadi gastritis. Sedangkan 42 responden pada jenis kelamin perempuan terdapat 18 responden (42,8%) terjadi gastritis dan 24 responden (57,1%) terjadi gastritis. Hasil uji statistik didapatkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan gastritis, didapatkan P value = 0,004. Untuk uji odd ratio menunnjukkan bahwa perempuan berpeluang 6,667 kali terjadi gastritis dari pada laki-laki.

Hasil penelitian Nasution (2001) yang menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan gastritis. hasil ini dapat diartikan bahwa adanya perbedaan pola makan dengan jenis kelamin antara perempuan dengan laki-laki yang dapat menimbulkan terjadinya gastritis. pada penelitian ini juga didapatkan bahwa perempuan lebih banyak mengalami gastritis dari pada laki-laki.

Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian ini, bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan gastritis, dapat dikarenakan mayoritas santri memiliki pola makan kurang baik dan santri memiliki kecenderungan yang berbeda pada masing-masing jenis kelamin terhadap pola makan. Selain itu dapat diasumsikan bahwa santri perempuan lebih memperhatikan postur tubuhnya dibandingkan dengan santri laki-laki, hal ini sesuai dengan teori Apriadji (1986) yang menyatakan bahwa anak perempuan lebih mementingkan penampilannya dibanding laki-laki, jadi perempuan lebih beresiko terjadinya gastritis. Sedangkan menurut Depkes (2005) bahwa kebutuhan zat gizi antara laki-laki dan perempuan berbeda terutama pada usia remaja.

c. Hubungan Frekuensi Makan dengan Gastritis

Dari hasil analisis hubungan frekuensi makan dengan gastritis adalah dari 21 responden pada frekuensi makannya baik terdapat 9 responden (42,8%) terjadi gastritis dan 12 responden (57,1%) tidak terjadi gastritis. Sedangkan 39 respoden Frekuensi makannya kurang terdapat 24 responden (61,5%) terjadi gastritis dan 15 responden (38,5%) tidak terjadi gastritis. Hasil uji statistik didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara frekuensi makan dengan gastritis, didapatkan P value = 0,165. Sehingga dapat disimpulkan Untuk uji odd ratio menunjukkan bahwa responden frekuensi makannya kurang berpeluang 0,469 kali terjadi gastritis daripada responden frekuensi makannya baik.

Berdasarkan hasil analisa mengenai hubungan frekuensi makan dengan gastritis pada santri Pondok Pesantren Daar El-Qolam. Dapat disimpulkan sesuai dengan teori Hudha (2006), yang menyatakan bahwa responden yang memiliki frekuensi makan < 2 kali sehari dapat menyebabkan terjadinya gastritis dibandingkan dengan responden yang memiliki frekuensi makan > 2 kali sehari. Sedangkan frekuensi makan yang dimaksud adalah frekuensi makan utama atau frekuensi makan yang setiap harinya 3 kali makan utama, yaitu makan pagi, makan siang dan makan malam atau sore. Secara alamiah makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai usus halus (Brunner dan Suddarth,2001). Lama makanan dalam lambung tergantung sifat dan jenis makanan. Jika rata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam (Urip, 2002). Frekuensi makan yang < 2 kali sehari dapat menyebabkan gastritis, seseorang akan terserang gastritis apabila mereka terlambat makan.

Hasil penelitian Nasution (2001) yang menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara frekuensi makan dengan gastritis. Hasil dapat diartikan bahwa tidak ada perbedaan frekuensi makan antara > 2 kali sehari dengan < 2 kali sehari. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian ini, bahwa tidak ada hubungan antara frekuensi makan dengan gastritis. Sesuai dengan teori Bruner dan Suddarth (2001) secara alami lambung akan terus memproduksi asam lambung setiap waktu dalam jumlah yang kecil setelah 4-6 jam sesudah makan biasanya kadar glukosa dalam darah telah banyak terserap dan terpakai sehingga tubuh akan merasakan lapar dan pada saat itu jumlah asam lambung terstimulasi. bila seseorang telat makan 2 sampai 3 jam, maka asam lambung yang diproduksi semakin banyak dan berlebih. Akan tetapi walaupun frekuensi makan utama > 2 kali sehari, apabila diselangi dengan mengkonsumsi makanan ringan (cemilan) asam lambung akan tetap terkontrol.

d. Hubungan Jenis Makan dengan Gastritis

Dari hasil analisis hubungan jenis atau ragam makanan dengan gastritis adalah 22 responden tidak menyukai jenis atau ragam makanan yang mengiritasi, 13 responden (59,1%) tidak terjadi gastritis dan 9 responden (40,9%) terjadi gastritis. Sedangkan 146 responden menyukai jenis atau ragam makanan yang mengiritasi, 24 responden (16,4%) tidak terjadi gastritis dan 122 responden (83,6%) terjadi gastritis. Hasil uji statistik didapatkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara jenis makan dengan gastritis. didapatkan P value = 0,023. Dari nilai odd ratio dapat disimpukan bahwa responden yang menyukai jenis makan mengiritasi berpeluang 7,343 kali terjadi gastritis dari pada responden yang menyukai jenis makanan tidak mengiritasi.

Adapun jenis makanan yang yang mengiritasi seperti makanan pedas, zat-zat korosif (cuka dan lada) dapat menyebabkan kerusakan mukosa gaster dan menimbulkan edema serta pendarahan, tidak jarang kondisi seperti ini menimbukan luka pada dinding lambung (Sediaotama, 2004). Hasil penelitian Nasution (2001) yang mengatakan terdapat hubungan antara jenis makanan dengan gastritis. Penelitian tersebut sejalan dengan hasil penelitian ini, yang mendapatkan bahwa terdapat hubungan jenis makanan dengan gastritis. Selain itu dapat diasumsikan bahwa mengkonsumsi makanan pedas atau asam akan merangsang sistem pencernaan, terutama lambung dan usus. Asumsi tersebut sesuai dengan teori Notoatmodjo (2007), bahwa mengkonsumsi makanan pedas dan asam secara berlebihan dapat mengakibatkan rasa panas dan nyeri di ulu hati yang disertai mual dan muntah. Gejala tersebut membuat penderita makin berkurang nafsu makannya. Bila kebiasaan mengkonsumsi makanan pedas dan asam ≥ 1 x dalam 1 minggu

selama 6 bulan dibiarkan terus menerus dapat menyebabkan iritasi pada lambung yang disebut gastritis.

e. Hubungan Porsi Makan dengan Gastritis

Dari hasil analisis hubungan porsi makan dengan gastritis adalah dari 30 responden pada porsi makannya baik terdapat 18 responden (60%) terjadi gastritis dan 12 responden (40%) yang tidak terjadi gastritis. Sedangkan dari 30 responden pada porsi makannya kurang terdapat 15 responden (50%) terjadi gastritis dan 15 responden (50%) tidak terjadi gastritis. hasil uji statistik didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara porsi makan dengan gastritis, didapatkan P value = 0,436. Untuk uji odd ratio menunjukkan bahwa responden jumlah makannya kurang berpeluang 1,500 kali terjadi gastritis dari pada responden jumlah makannya baik.

Berdasarkan hasil analisa mengenai hubungan porsi makan dengan gastritis pada santri Pondok Pesantren Daar El-Qolam. Dapat disimpulkan sesuai dengan teori Soediotama (2004), bahwa responden yang memiliki porsi makan kurang dari 300-500gr ( < 3-5 piring nasi/hari) maupun sebanyak 300-300-500gr ( > 3-5 piring nasi/hari) tidak ada hubungannya dengan kejadian gastritis.

Hasil penelitian Nasution (2001) yang menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara porsi makan dengan gastritis. Hasil ini dapat diartikan bahwa ada perbedaan antara porsi makan seseorang dengan terjadinya gastritis. Penelitian tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian ini, yang didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara porsi makan dengan gastritis. Sesuai dengan teori Bruner dan Suddarth (2001) secara alami lambung akan terus memproduksi asam lambung setiap waktu dalam jumlah yang kecil setelah 4-6 jam sesudah makan biasanya kadar glukosa dalam darah telah banyak terserap dan terpakai sehingga tubuh akan

merasakan lapar dan pada saat itu jumlah asam lambung terstimulasi. bila seseorang telat makan 2 sampai 3 jam, maka asam lambung yang diproduksi semakin banyak dan berlebih. Akan tetapi walaupun porsi makan < 300-500 gram, apabila diselangi dengan mengkonsumsi makanan ringan (cemilan) asam lambung akan tetap terkontrol.

Dokumen terkait