TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori dan Konsep Terkait 1.Pola Makan
3. GASTRITIS a.Definisi
Gastritis merupakan suatu peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronik difus atau lokal, dengan karakteristik anoreksia, perasaan penuh di perut (begah), tidak nyaman pada epigastrium, mual, dan muntah (Suratun SKM, 2010). Gastritis adalah inflamasi mukosa lambung sering akibat diet yang sembarangan. Biasanya individu ini makan terlalu banyak, terlalu cepat, makan-makanan yang berbumbu atau mengandung mikroorganisme penyebab penyakit (Smelzer, 2005).
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gastritis adalah suatu peradangan atau perdarahan pada mukosa lambung yang disebabkan oleh faktor iritasi, infeksi dan ketidakteraturan dalam pola makan misalnya makan terlalu
banyak, cepat, telat makan. Makan-makanan yang terlalu banyak bumbu dan pedas. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya gastritis.
b. Etiologi
Menurut Brunner & Suddarth (2002) Penyebab timbulnya gastritis diantaranya : 1) Komunikasi obat-obatan kimia digitalis (Asetamenofen/Aspirin, steroid
kortikosteroid). Asetamenofen dan kortikosteroid dapat mengakibatkan iritasi pada mukosa lambung. NSAIDS (Non Steroid Anti Inflamasi Drugs) dan kortikosteroid menghambat sintesisprostaglandin, sehingga sekresi HCL meningkat dan menyebabkan suasana lambung menjadi sangat asam dan menimbulkan iritasi mukosa lambung.
2) Konsumsi alkohol dapat menyebabkan kerusakan mukosa lambung.
3) Terapi radiasi, refluk empedu, zat-zat korosif (cuka dan lada) dapat menyebabkan kerusakan mukosa gaster dan menimbulkan edema serta pendarahan.
4) Kondisi stres atau tertekan (trauma, luka bakar, kemoterapi, dan kerusakan susunan saraf pusat) merangsang peningkatan produksi HCL lambung.
5) Infeksi oleh bakteri, seperti Helicobakter pylori, Esobericia Coli, Salmonella, dan lain-lain.
6) Penggunaan antibiotik, terutama untuk infeksi paru, perlu dicurigai turut mempengaruhi penularan kuman di komunitas, karena antibiotik tersebut mampu mengeradikasi infeksi Helicobacter pylori, walaupun persentase keberhasilannya sangat rendah.
7) Jamur dari spesies Candida, seperti Histoplasma capsulaptum dapat menginfeksi mukosa gaster hanya pada pasien immunocompromezad. Pada
pasien yang sistem imunnya baik, biasanya tidak dapat terinfeksi oleh jamur. Sama dengan jamur, mukosa lambung bukan tempat yang mudah terkenan infeksi parasit.
c. Klasifikasi Gastritis
Menurut Brunner & Suddarth (2002) Klasifikasi gastritis Berdasarkan Tingkat Keparahannya :
1) Gastritis Akut
Gastritis akut merupakan peradangan pada mukosa lambung yang menyebabkan erosif dan pendarahan pada mukosa lambung setelah terpapar oleh zat iritan. Gastritis disebut erosif apabila kerusakan yang terjadi tidak lebih dalam dari pada mukosa muskularis. Erosinya juga tidak mengenai lapisan otot lambung.
2) Gastritis Kronis
Gastritis kronis merupakan suatu peradangan bagian permukaan mukosa lambung yang sifatnya menahun dan berulang. Peradangan tersebut terjadi di bagian permukaan mukosa lambung dan berkepanjangan, yang bisa disebabkan karena ulkus lambung jinak maupun ulkus lambung ganas, bisa juga karena bakteri Helicobacter pylori. Gastritis ini dapat pula terkait dengan atropi mukosa gastrik, sehingga menimbulkan HCL menurun dan menimbulkan kondisi acblorbidria dan ulserasi peptic (tukak pada saluran pencernaan).
d. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis dari gangguan ini cukup bervariasi, mulai dari keluhan ringan hingga muncul pendarahan pada saluran cerna bagian atas. Pada beberapa pasien, gangguan ini tidak menimbulkan gejala yang khas (brunner &suddarth 2002) . Manifestasi gastritis akut dan kronis hampir sama. Berikut penjelasannya :
1) Manifestasi Gastritis Akut
Manifestasi gasrtitis akut dan gejala-gejalanya adalah : a) Anoreksia
b) Nyeri pada epigastrium c) Mual dan muntah
d) Perdarahan saluran cerna (Hematemesis Melena) e) Anemia (tanda lebih lanjut)
2) Manifestasi Gastritis Kronis
Manifestasi gastritis kronis dan gejala-gejalanya adalah : a) Mengeluh nyeri ulu hati
b) Anoreksia c) Naucea
e. Komplikasi 1) Gastritis Akut
Komplikasi yang timbul pada gastritis akut adalah pendarahan saluran cerna bagian atas (SCBA), berupa hematemesis dan melena, yang berakhir dengan shock hemoragik. Apabila prosesnya hebat, sering juga terjadi ulkus, namun jarang terjadi perforasi.
2) Gastritis Kronis
Komplikasi yang timbul pada kasus gastritis kronis adalah gangguan penyerapan vitamin B12. Akibat kurangnya penyerapan vitamin B12 ini, menyebabkah timbulnya anemia pernesiosa, gangguan penyerapan zat besi, dan penyempitan daerah pilorus (pelepasan dari lambung ke usus dua belas jari).
f. Faktor – faktor resiko gastritis ( Smeltzer, suzanne. C, 2002)
Menurut Brunner & Suddarth (2002) Faktor - faktor resiko yang sering menyebabkan gastritis diantaranya :
1) Pola makan
Orang yang memiliki pola makan tidak teratur mudah terserang penyakit ini. Pada saat perut harus diisi, tapi dibiarkan kosong, atau ditunda pengisiannya, asam lambung akan mencerna lapisan mukosa lambung, sehingga timbul rasa nyeri.
2) Rokok
Akibat negatif dari rokok, sesungguhnya sudah mulai terasa pada waktu orang baru mulai menghisap rokok. Dalam asap rokok diisap, terdapat kurang lebih 300 macam bahan kimia, diantaranya acrolein, nikotin, asap rokok, gas CO. Nikotin itulah yang menghalangi terjadinya rasa lapar. Itu sebabnya seseorang menjadi tidak lapar karena merokok, sehingga akan meningkatkan asam lambung dan dapat menyebabkan gastritis.
3) Kopi
Zat yang terkandung dalam kopi adalah kafein, kafein ternyata dapat menimbulkan perangsangan terhadap susunan saraf pusat (otak), sistem
pernafasan, sistem pembuluh darah dan jantung. Oleh sebab itu tidak heran setiap minum kopi dalam jumlah wajar (1-3 cangkir), tubuh kita terasa segar, bergairah, daya pikir lebih cepet, tidak mudah lelah atau mengantuk. Kafein dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat sehingga dapat meningkatkan aktivitas lambung dan sekresi hormon gastrin pada lambung dan pepsin. Sekresi asam yang meningkat dapat menyebabkan iritasi dan inflamasi pada mukosa lambung sehingga menjadi gastritis.
4) Helicobacter pylori
Helicobacter pylori adalah kuman gram negatif, basil yang berbentuk kurva dan batang Helicobacter pylori adalah suatu bakteri yang menyebabkan peradangan lapisan lambung yang kronis (gastritis) pada manusia. Infeksi H.pylori ini sering diketahui sebagai penyebab utama terjadi ulkus peptikum dan penyebab tersering terjadinya gastritis.
5) AINS (Anti Inflamasi Non Steroid)
Obat AINS adalah salah satu golongan obat besar yang secara kimia heterogen menghambat aktifitas siklooksigenasi, menyebabkan penurunan sintesis prostaglandin dan prekursor tromboksan dari asam arakhidonat. Misalnya aspirinibuprofen dan naproxen yang dapat menyebabkan peradangan pada lambung.jika pemakaian obat-obatan tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah lambung.
6) Alkohol
Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung walupun pada kondisi normal. Berdasarkan penelitian, orang minum alkohol 75 gr (4 gelas/minggu) selama 6 bulan dapat menyebabkan gastritis.
7) Terlambat makan
Secara alami lambung akan terus memproduksi asam lambung setiap waktu dalam jumlah yang kecil, setelah 4-6 jam sesudah makan biasanya kadar glokosa dalam darah telah banyak terserap dan terpakai sehingga tubuh akan merasakan lapar dan pada saat itu jumlah asam lambung terstimulasi. Bila seseorang telat makan sampai 2-3 jam, maka asam lambung yang diproduksi semakin banyak dan berlebih sehingga dapat mengiritasi mukosa lambung serta menimbulkan rasa nyeri diskitar epigastrium (Sediaoetama, 2004).
8) Makanan pedas
Mengkonsumsi makanan pedas secara berlebihan akan merangsang sistem pencernaan, terutama lambung dan usus kontraksi. Hal ini akan mengakibatkan rasa panas dan nyeri di ulu hati yang disertai dengan mual dan muntah. Gejala tersebut membuat penderita semakin berkurang nafsu makannnya. Bila kebiasaan mengkonsumsi makanan pedas ≥ 1x dalam 1 minggu selama minimal 6 bulan dibiarkan terus menerus dapat menyebabkan iritasi pada lambung yang disebut dengan gastritis (Sediaoetama, 2004).
9) Usia
Usia tua memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita gastritis dibanding dengan usia muda. Hal ini menunjukan dengan seiring bertambah usia mukosa gaster cenderung menjadi tipis sehingga lebih cenderung memiliki infeksi H. Pylori atau gangguan autoimun dari pada orang yang lebih muda. Sebaliknya, jika mengenai usia muda biasanya lebih berhubungan dengan pola hidup yang tidak sehat (Soetjiningsih, 2005).
10)Stress psikis
Produksi asam lambung akan meningkat pada keadaan stres, misalnya pada beban kerja berat, panik dan tergesa-gesa. Kadar asam lambung yang meningkat dapat mengiritasi mukosa lambung dan jika hal itu dibiarkan, lama-kelamaan akan menyebabkan terjadinya gastritis.
11)Stress fisik
Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar, refluk empedu atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis dan juga ulkus dan pendarahan pada lambung.
g. Diet pada Gastritis
Penyembuhan gastritis membutuhkan pengaturan makanan selain upaya untuk memperbaiki kondisi pencernaan. Perlu diketahui bahwa kedua unsur ini mempunyai hubungan yang erat. Pemberian diet untuk penderita gastritis antara lain bertujuan untuk (Sediaoetama, 2004) :
1) Memberikan makanan yang adekuat dan tidak mengiritasi lambung. 2) Menghilangkan gejala penyakit.
3) Menetralisir asam lambung dan mengurangi produksi asam lambung. 4) Mempertahankan keseimbangan cairan.
5) Mengurangi gerakan peristaltik lambung. 6) Memperbaiki kebiasaan makan pagi.
Adapun petunjuk umum untuk diet pada penderita gastritis antara lain : 1) Syarat diet penyakit gastritis
Makanan yang disajikan harus mudah dicerna dan tidak merangsang, tetapi dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi. Jumlah energi pun harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Sebaliknya, asupan protein harus cukup tinggi (20-25% dari total jumlah energi yang biasa diberikan), sedangkan lemak perlu dibatasi. Protein ini berperan dalam menetralisir asam lambung, bila dipaksa menggunakan lemak, pilih jenis lemak yang mengandung asam lemak tidak jenuh. Pemberian lemak dan minyak perlu dipertimbangkan secara teliti. Lemak berlebihan dapat menimbulkan rasa mual, rasa tidak enak di ulu hati dan muntah karena tekanan dalam lambung meningkat.
Mengkonsumsi jenis makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh secara cukup merupakan pilihan yang tepat, sebab lemak jenis ini lebih mudah dicerna. Porsi makanan yang diberikan dalam porsi kecil tapi sering, hindari makan secara berlebihan. Demikian pula jumlah vitamin dan mineral yang diberikan pun harus dalam jumlah cukup. Akan tetapi, karena keterbatasan bahan makanan sumber vitamin dan mineral, biasanya pasien diberikan vitamin dan mineral dan bentuk obat.
2) Kebutuhan zat gizi
Jumlah energi yang dikonsumsi harus disesuaikan dengan berat badan, umur, jenis kelamin, aktivitas dan jenis penyakit. Kebutuhan energi bagi pasien gangguan saluran pencernaan berdasarkan kelompok umur.
3) Jenis dan bentuk makanan
Pada penderita gastritis sebaiknya menghindari makanan yang bersifat merangsang, diantaranya makanan berserat dan penghasil gas, maupun
banyak mengandung bumbu dan rempah. Selain itu, penderita juga harus menghindari alkohol, kopi, dan minuman ringan. Dan perlu juga memperhatikan tehnik memasaknya, direbus, dikukus dan dipanggang adalah tehnik memasak yang dianjurkan, sebaliknya menggoreng bahan makanan tidak dianjurkan.
h. Penelitian Terkait
1) Penelitian yang dilakukan oleh Harun Rianto dengan judul “gambaran pengetahuan klien tentang gastritis di RSU. Dr. FI. Tobing Sibolga” tahun 2008. Dari hasil penelitian para pakar, didapatkan jumlah gastritis antara pria dan wanita, ternyata gastritis lebih banyak pada wanita dan dapet menyerang sejak usia dewasa muda hingga lanjut usia. Di Indonesia 6-20% menderita gastrits sejak usia 55 tahun. Untuk segala umur, 16 kasus/1000 pada kelompok umur 45-64 tahun. Insiden sepanjang usia untuk gastritis adalah 10%. Berdasarkan hasil survey awal di lokasi penelitian yaitu di RSU. Dr. FI. Tobing Sibolga tahun 2008 masih cukup banyak yaitu setiap bulannya kurang lebih 40.
2) Penelitian yang dilakukan oleh Wati Oktaviani dengan judul “Hubungan pola makan dengan gastritis pada mahasiswa S.1 Keperawatan program A FIKES UPN Veteran Jakarta” tahun 2008. Dari hasil penelitian yang menggunakan metode penelitian desain analisis kuantitatif dimana penelitian diarahkan secara objektif melalui pendekatan kuantitatif dengan metode cross sectional, yang dapat ditarik kesimpulan tidak ada hubungan bermakna antara umur, jenis kelamin dan porsi makan dengan gastritis, dan adanya hubungan bermakna antara frekuensi makan, jenis makan dan pola makan.
3) Penelitian yang dilakukan oleh Yuni Retnowati dengan judul “ gambaran gastritis dan hubungannya dengan pola makan, gaya hidup, dan status gizi pada pralansia dan lansia di posbindu kelurahan bantar jati Bogor tahun 2010” penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel penelitian ini adalah para pralansia dan lansia di posbindu kelurahan Bantar Jati Bogor sebanyak 107 responden yang berumur
45-75 tahun. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat. Hasil analisis bivariat bahwa tidak ada variabel yang bermakna pada penelitian ini. Sekalipun aktifitas fisik, dan status gizi tidak beresiko dengan gastritis, namun kedua variabel tersebut memiliki kecenderungan lebih besar.
i. Kerangka Teori
Kerangka Teori menurut Brunner &Suddarth (2002), Huha (2006), dan Soetjiningsih (2005).