HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
II. Analisis Bivariat
Pada penelitian ini analisis bivariat menggunakan korelasi pearson’s product moment yaitu untuk mengetahui derajat keeratan hubungan dan juga untuk mengetahui arah hubungan dua variabel numerik. Apakah dua variabel tersebut memiliki derajat yang kuat atau lemah, dan apakah hubungan kedua variabel tersebut berpola negatif atau positif.
Hasil penelitian menunjukkan pada Adversity Quotient (AQ) memiliki rata-rata 141,04; standard deviasi 11,75; standard error 1,15; 95% CI 138,76-143,33; dengan p value 0,660 dengan sampel (n) 104. Sedangkan pada prestasi belajar, rata-rata adalah 3,37; standard deviasi 0,38; standard error 0,37; 95% CI 3,30-3,44. Dengan nilai r 0, 04. Dengan demikian dapat disimpulkan hubungan AQ dengan prestasi belajar menunjukkan hubungan yang lemah, artinya belum tentu semakin tinggi AQ akan meningkat pula prestasi dan begitu pula sebaliknya. Hasil uji statistik
menunjukkan tidak ada hubungan antara Adversity Quotient (AQ) dengan prestasi belajar. Hasil tersebut dapat dilihat dalam tabel 5.4. berikut ini:
Tabel 5.4.
Analisis Korelasi Adversity Quotient (AQ) Dengan Prestasi Belajar Mahasiswa S1 Keperawatan semester 1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Tahun 2014
Variabel Mean SD SE 95 % CI P value n r
- Adversity Quotient (AQ) - Prestasi Belajar 141,04 3,37 11,75 0,38 1,15 0,37 138,76-143,33 3,30-3,44 0,66 104 0,04 B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian bila dilihat dari karakteristik berdasarkan umur pada tabel 5.1. sebanyak 63 orang berumur 18 tahun. Bertambahnya umur mempengaruhi aspkek fisik dan psikologis seseorang dimana pola pikir semakin bertambahnya umur akan semakin matang (Mubarak, 2007). Namun, pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata AQ antara responden yang berumur 17-18 tahun dengan responden yang berumur 19-20 tahun yakni masing-masing 50%. Hal ini dikarenakan rentang umur yang terlalu kecil yakni 17-18, dan 19-20 tahun. Dari segi psikologi perkembangan, usia 17–18 tahun berada pada periode masa remaja akhir, masa remaja akhir adalah masa yang berada pada perubahan baik fisik maupun psikologis anak (Hurlock, 2002).
Masa remaja merupakan masa periode penting dari beberapa periode lainnya karena berpengaruh terhadap sikap dan prilaku pada masa yang akan datang. Masa remaja sebagai periode perubahan. Terdapat perubahan yang bersifat universal pada periode ini yaitu meningginya emosi karena tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi dan lebih menonjol pada masa awal periode akhir remaja. Kedua,
perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan dari kelompok sosial sehingga menimbulkan masalah baru. Ketiga, terjadi perubahan minat dan pola perilaku, sehingga nilai-nilai juga berubah, keempat, sebagian besar remaja bersifat ambivalen, artinya, remaja menginginkan dan menuntut kebebasan, tetapi mereka takut bertanggung jawab, akibatnya kemampuan mereka diragukan untuk mengatasi tanggung jawab tersebut (Hurlock, 2002).
Masa remaja dikaitkan dengan ciri sebagai usia yang bermasalah. Terdapat dua alasan mengapa hal demikian, Pertama, sepanjang masa kanak-kanak sebagian masalah diselesaikan oleh orang tua dan guru sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena remaja meyakini dirinya dapat bersikap mandiri, sehingga mereka menolak bantuan orang tua dan guru. Ciri berikutnya adalah remaja adalah masa mencari indentitas. Identitas yang dicari berupa usaha untuk menunjukkan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah mereka anak-anak atau dewasa,dan apakah ia akan berhasil atau gagal. Masa remaja menimbulkan ketakutan, artinya, terjadi steriotipe yakni anggapan bahwa remaja adalah anak yang tidak rapih, yang tidak percaya, cenderung merusak, takut bertanggung jawab, bersikap tidak simpatik sehingga menyebabkan orang dewasa harus mengawasi dan membimbing lebih ekstra. Masa remaja merupakan masa yang tidak realistik. Artinya, remaja cenderung melihat dunia melalui kaca merah jambu. Ia hanya melihat dirinya dan orang lain sebagaimana yang mereka inginkan bukan kepada kenyataan (Hurlock, 2002).
Perubahan psikologis anak tidak terlepas dari campur tangan orang tua dan guru. Terkadang pola pendidikan atau asuhan yang diberikan kepada anak dalam beberapa hal akan berbeda yakni antara anak laki-laki dan perempuan. Pada penelitian ini, jenis kelamin responden antara laki-laki dan perempuan tidak
memiliki nilai yang signifikan. Pada tabel 5.1. menunjukkan mayoritas responden adalah perempuan yakni sebanyak 90 orang. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Dweck (Stoltz, 2000) yang menyatakan bahwa wanita lebih menganggap sebuah kesulitan merupakan hal yang tetap, sedangkan pria menganggap bahwa suatu kesulitan itu adalah hal yang sederhana. Namun, jika ditinjau dari tugas perkembangan serta pola kepribadian remaja dalam psikologi menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki tugas kepribadian yang sama.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata AQ pada mahasiswa S1 keperawatan adalah 141,04, dengan median adalah 140,50. Nilai minimum yang diperoleh adalah 119 dengan maksimum adalah 166. AQ memiliki empat dimensi penyusunnya yakni Control, Origin and ownership, Reach, dan Endurance. Jika ditinjau dari aspek control yang didapa tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan terhadap control diri antara siswa SMA dan MA (Rosemary, 2008). Mereka yang AQ-nya lebih tinggi memiliki kendali yang lebih besar atas peristiwa hidup dibandingkan AQ yang lebih rendah (Stoltz, 2000). Mereka yang memiliki dimensi C yang lebih rendah ini cenderung berfikir: “ini diluar jangkauan saya!, tidak ada yang bisa saya lakukan sama sekali, dst…”.
Origin and Ownership merupakan suatu keadaan dimana seseorang dapat mengendalikan dirinya sendiri dalam menghadapi situasi tanpa memandang penyebabnya. Dimensi ini memiliki tiga indikator, pertama, mampu mengakui kesalahan dirinya dalam belajar. Kedua, mampu belajar dari kesalahan, dan terakhir, mampu mengakui akibat dari kesalahn dalam kegiatan belajar.
Orang yang AQ-nya rendah cenderung menempatkan rasa bersalah ketempat yang tidak semestinya atas perista-peristiwa yang terjadi. Banyak hal yang menyebabkan seseorang menyalahkan dirinya sendiri. Namun, rasa bersalah memiliki dua fungsi, yakni rasa bersalah dapat membantu seseorang dalam belajar, artinya dengan menyalahkan diri, seseorang akan cenderung introspeksi diri, belajar, dan menyesuaikan tingkah laku. Kedua, rasa bersalah menjurus kepada penyesalan, artinya, penyesalan akan menyiksa batin dan mempertimbangkan hal-hal yang dapat melukai orang lain dan berhati-hati untuk menghindari hal itu (Stoltz, 2000). Dengan kata lain origin and ownership dapat meningkatkan prestasi seseorang bila ia memahami betul kesalahan serta memperbaiki/introspeksi agar kehidupannya lebih baik lagi.
Reach adalah kemampuan seseorang berada di dua lingkungan kerja dan kehidupannya yang lain. Hal ini terjadi demikian karena semakin rendah skor R maka semakin tinggi anggapan seseorang bahwa peristiwa-peristiwa buruk adalah bencana, dan kebahagiaan semakin sempit dalam pikirannya. Sebaliknya jika dimensi R semakin besar, kemungkinan membatasi masalah yang dihadapi semakin baik (Stoltz, 2000). Endurance adalah kemampuan seseorang dalam melewati kesulitan yang telah lama hingga mencari solusi lain untuk mempersingkat kesulitan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini secara keseluruhan terdapat kesamaan kesimpulan dari dimensi lainnya dimana hasil yang diperoleh responden tidak mendapat jawaban yang maksimal yakni skor 5 baik sikap positif (favorable) dan sikap negatif (unfavorable). Dimana nilai maksimal tiap sikap tidak dicapai oleh responden secara keseluruhan meskipun ada beberapa responden menjawab dengan sikap maksimal. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa mahasiswa meyakini setiap masalah memiliki jalan keluar,
dengan nilai yang semakin positif dengan prestasinya sebesar 57,98% (Setyaningtyas, 2011). Hal ini didukung juga dari penelitian Lorraine Johnson dan Stuart Biddle menunjukkan bahwa ada perbedaan dramatis antara orang yang menghubungkan kesulitan yang sementara versus sesuatu yang bersifat permanen/abadi (Stoltz, 2000). Hal ini dikarenakan dimensi ini mengharapkan seseorang untuk terus melakukan penyesuaian atas kekurangan yang dimiliki yang akan memperbaiki peluang kesuksesan yang akan datang.
Hasil belajar adalah perubahan perilaku setelah terlaksananya proses kegiatan pembelajaran (Jihad & Haris, 2013). Pengukuran hasil belajar dilihat dari tingkat pencapaiannya dengan melihat seberapa jauh siswa manguasai pembelajaran selain dilihat dari segi prosesnya (Sudjana & Ibrahim, 2002) Hasil penelitian menunjukkan rata-rata Indeks Prestasi (IP) semester 1 mahasiswa yakni 3,37 dengan standard deviasi yakni 0,38. Nilai maksimum yang diperoleh mahasiswa adalah 4,00, minimum 2,25 dan Confidence Interval (CI) adalah 3,30-3,44. Jika IP digolongkan, maka hasil yang didapat mayoritas termasuk golongan IP tinggi bahkan ada beberapa mahasiswa yang memiliki IP sempurna yakni 4,00. Secara teoritis, prestasi belajar akan menimbulkan sikap yang baik pula. Sesuai dengan tujuan belajar yakni untuk mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan untuk pembentukan sikap. Untuk mendapatkan pengetahuan yaitu adanya keseimbangan antara pemilikan pengetahuan dengan kempuan berpikir (Sardiman, 2011).
Analisis korelasi antara AQ dan prestasi belajar menunjukkan variabel Adversity Quotient (AQ) dengan p value 0,660 dengan sampel (n) 104. Dengan nilai r 0,04. Ditinjau dari kekuatan korelasinya, AQ dan prestasi belajar memiliki tingkat kekuatan yang lemah.. hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara AQ dan pretasi belajar. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang
telah dilakukan sebelumnya bahwa antara AQ dengan prestasi belajar tidak memiliki nilai yang signifikan (Nataryna, 2011). Hal ini bertolak belakang dengan pendapat Stolz (2000) sang penemu AQ yang menyatakan bahwa AQ merupakan salah satu faktor penting selain EQ, dan IQ dalam meraih kesuksesan. Hal ini terjadi dimungkinkan karena pendekatan aspek instrument yang kurang sempurna dalam hal menilai AQ dan prestasi, sebaiknya adanya tindakan pre test dan postet dalam menilai AQ dan prestasi belajar mahasiswa.
BAB VI KESIMPULAN