• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS CAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA Sasaran:

Termanfaatkannya hasil dan inovasi Iptek kelautan dan perikanan Indikator:

Jumlah pengguna hasil litbang kelautan dan perikanan (orang dan/atau kelompok)

Indikator Kinerja Utama untuk mengukur keberhasilan sasaran termanfaatkannya hasil dan inovasi IPTEK kelautan dan perikanan adalah jumlah pengguna hasil litbang kelautan dan perikanan dengan capaian kinerja sesuai dengan tabel 3.2 di bawah

Tabel 3.2. Pencapaian Kinerja dengan Indikator Jumlah pengguna hasil litbang kelautan dan perikanan

Indikator Kinerja Target Capaian % Capaian Jumlah pengguna

hasil litbang kelautan

dan perikanan 90 90 100%

Pada tabel 3.2 diatas terlihat bahwa pada tahun 2012 target kinerja yang ditetapkan telah dapat dicapai. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan selama tahun 2012, maka dapat diketahui bahwa jumlah pengguna hasil litbang kelautan dan perikanan tercapai sesuai target (100%) atau mencapai 90 pengguna.

Dari hasil pengukuran yang dilakukan pada tahun 2012 dapat diketahui bahwa hasil terapan baru sejumlah 6 paket iptek yang menghasilkan 10 pengguna di 4 lokasi, sedangkan sebanyak 9 teknologi hasil terapan lanjutan menghasilkan 80 pengguna di 10 lokasi. Adapun teknologi yang digunakan oleh masyarakat pada Tahun 2012 diantaranya: Aplikasi Paket Teknologi Tepat Guna Budidaya Ikan Gurame di Banyumas (Penggunaan benih hybridisasi antara Blue Saphire dengan Bastar dalam budidaya ikan gurame); Pemasyarakatan IPTEK Polikultur Rumput Laut Gracilaria Verucosa dengan Bandeng di Tambak (Brebes); Teknologi penyediaan fasilitas air bersih di Tempat Pelelangan Ikan/ TPI; Teknologi penyediaan air minum melalui media filter; Teknologi penggunaan tenaga surya pada kontainer pendingin; Inovasi Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan di Waduk Malahayu, Brebes; Pemasyarakatan IPTEK Budidaya Kerapu dan Bandeng di Lamongan (Kerapu hasil hybridisasi antara kerapu macan dan kerapu kertang. Benih bandeng yang

digunakan berukuran seragam 4 cm); Teknologi pembuatan air tua melalui proses thermal konstan untuk mendukung kontinyuitas produksi garam.

Dari tabel 3.3. di bawah terlihat bahwa capaian pengguna hasil litbang kelautan dan perikanan tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011 yang tercapai sebanyak 137 pengguna. Jika dilihat dari tahun 2010 sampai akhir tahun 2012, jumlah pengguna hasil litbang kelautan dan perikanan sudah mencapai 326 pengguna (53.10 %) dari target sebanyak 597 pengguna pada tahun 2014 sehingga target yang harus dicapai hingga tahun 2014 tersisa sebanyak 46.90% atau 280 pengguna.

Tabel 3.3.Target Pencapain Kenerja Indikator Jumlah Pengguna Hasil Litbang Kelautan dan Perikanan 2010-2014

INDIKATOR

TARGET CAPAIAN (%)

2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012

1

Jumlah pengguna hasil litbang kelautan dan perikanan (orang dan/atau kelompok)

90 90 90 156 171 90 137 90

Penurunan jumlah pengguna pada tahun 2012 karena beberapa hasil litbang yang digunakan oleh kelompok sasaran yang menerima paket IPTEK belum di adopsi oleh kelompok lain yang tidak menerima paket teknologi secara langsung sehingga harapannya pada penerapan paket teknologi yang akan datang perlu memperbanyak kegiatan penyebarluasan hasil litbang melalui kegiatan diseminasi, sosialisasi dan lainnya.

Sasaran:

Termanfaatkannya hasil dan inovasi Iptek kelautan dan perikanan Indikator:

Jumlah hasil litbang kelautan dan perikanan yang diadopsi oleh masyarakat kelautan dan perikanan.

Indikator kinerja utama untuk mengukur keberhasilan sasaran Termanfaatkannya hasil dan inovasi Iptek kelautan dan perikanan adalah Jumlah hasil litbang kelautan dan perikanan yang diadopsi oleh masyarakat kelautan dan perikanan dengan capaian sesuai tabel 3.4.

Tabel 3.4. Pencapaian Kinerja Indikator Jumlah hasil litbang kelautan dan perikanan yang diadopsi oleh masyarakat kelautan dan perikanan.

Indikator Kinerja Target Capaian % Capaian Jumlah hasil litbang telah dapat dicapai. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan selama tahun 2012, maka dapat diketahui bahwa jumlah hasil litbang kelautan dan perikanan yang diadopsi oleh masyarakat kelautan dan perikanan tercapai melebihi target (133.33%) atau mencapai 8 buah adopsi dari 6 adopsi yang ditargetkan

Tingkat adopsi yang dicapai oleh masyarakat kelautan dan perikanan diperoleh melalui proses pengukuran sebagaimana tertera pada Tabel 3.4 bawah ini:

Tabel 3.4. Prosentase Tingkat Adopsi

NO IPTEK TINGKAT ADOPSI %

1

Aplikasi Paket Teknologi Tepat Guna Budidaya Ikan Gurame di Banyumas (Penggunaan benih hybridasasi antara Blue Saphire dengan Bastar dalam budidaya ikan gurame)

Terdapat modifikasi tahapan teknologi yang diterima masyarakat. Masyarakat tidak sepenuhnya mengikuti anjuran pendederan yang diperbolehkan dan menjual larva dalam umur yang baru menetas

86,55

2

Pemasyarakatan IPTEK Polikultur Rumput Laut Gracilaria Verucosa dengan Bandeng di Tambak (Brebes)

Hasil penggelondongan bandeng ditebar kembali di pembudidaya sekitar sehingga juga merasakan manfaat benih yang berkualitas. Dari 9 orang penggelondong kemudian dimanfaatkan oleh 23 pembudidaya baik dari dalam desa maupun

73,00

NO IPTEK TINGKAT ADOPSI % luar desa. Bahkan sekarang pembudidaya mulai memakai benih dari Unit Pembenihan Ikan Akademi Perikanan Sidoarjo yang ada di Lamongan yang bekerjasama langsung dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol, Bali

3

Pemasyarakatan IPTEK Budidaya Kerapu dan Bandeng di Lamongan (Kerapu hasil hybridisasi antara kerapu macan dan kerapu kertang.

Benih bandeng yang digunakan berukuran seragam 4 cm)

Teknologi budidaya Kerapu Cantrang telah dipahami oleh sebagian besar masyarakat pembudidaya, begitu pun dengan

pendederan bandeng di tambak. 88,30

4

Inovasi Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan di Waduk Malahayu, Brebes

Peningkatan kapasitas kelembagaan pengelolaan SDI di Waduk Malahayu sudah dipahami oleh sebagian besar mayarakat nelayan

97,22

5

Pemasyarakatan IPTEK Paket Teknologi Kontainer Pendingin di Pacitan (Teknologi penggunaan tenaga surya pada 19ocal19ner pendingin)

Lokasi kontainer pendingin tidak sesuai dengan peruntukannya karena kapasitas isi kontainer tidak sesuai dengan jumlah hasil produksi pada lokasi tersebut diperlukan dapat bermanfaat akan tetapi dalam pelaksanaannyabelum memperhatikan sumberdaya 19ocal terutama SDM sebagai penyedia air bersih

• Inisiatif koperasi berjalan dengan memasang pompa baru atas dana sendiri

96,90

7

Pemasyarakatan IPTEK Paket Pengadaan Unit Reverse Osmosis (RO) di Indramayu (Teknologi penyediaan air minum melalui media filter)

• Teknologi RO sudah banyak diketahui dapat bermanfaat

• Potensi pasar untuk RO sangat besar dan direncanakan untuk diperbesar kapasitasnya untuk memenuhi kebutuhan warga di sekitarnya

92,21

NO IPTEK TINGKAT ADOPSI %

• Memperbesar alat dengan skala diprediksikan sampai 300%

8

Model Penerapan IPTEK Untuk Pengembangan Model Kawasan Industri Garam Rakyat di Lamongan (Teknologi pembuatan air tua melalui proses thermal konstan untuk mendukung kontinyuitas produksi garam)

• Pondok pesantren Sunan Drajat Lamongan sebagai lokasi penerima Iptekmas telah melakukan pembuatan bibit air tua (18 – 26 oBe) menggunakan proses termal terkondisi (Sistem Generator Evaporasi Air Laut),

• Hasil pembuatan air tua tersebut saat ini dimanfaatkan untuk membantu proses pencucian garam krosok dalam sistem pemurnian garam (NaCl) terutama saat musim hujan berlangsung,

• Kandungan NaCl hasil pencucian menggunakan air tua sistem generator evaporasi ini diharapkan lebih tinggi dibandingkan menggunakan air tua dari proses yang lain (>95%), untuk itu masih harus dilakukan pengukuran kadar NaCl,

• Hambatan yang masih terjadi adalah penentuan sumber energi thermal yang paling hemat untuk dipergunakan, bahan bakar yang telah dicoba adalah kayu, sekam, batu api atau bahan bakar lokal,

75,00

Nilai prosentase tingkat adopsi diperoleh dari perhitungan nilai hasil adopsi yang dicapai dibandingkan dengan nilai adopsi maksimal dari masing-masing teknologi. Tingkat adopsi Paket Teknologi Tepat Guna Budidaya Ikan Gurame di Banyumas tercapai 86,55%, Pemasyarakatan IPTEK Polikultur Rumput Laut Gracilaria Verucosa dengan Bandeng di Tambak (Brebes) tercapai 73,00%, Pemasyarakatan IPTEK Budidaya Kerapu dan Bandeng di Lamongan (Kerapu hasil hybridisasi antara kerapu macan dan kerapu kertang. Benih bandeng yang digunakan berukuran seragam 4 cm) tercapai 88,30%, Inovasi Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan di Waduk Malahayu, Brebes tercapai 97,22%, Pemasyarakatan IPTEK Paket Teknologi Kontainer Pendingin di Pacitan (Teknologi

penggunaan tenaga surya pada 21ocal21ner pendingin) tercapai 66,50%, Pemasyarakatan IPTEK Paket Pengadaan Fasilitas Air Bersih di Indramayu (Teknologi penyediaan fasilitas air bersih di Tempat Pelelangan Ikan/ TPI) tercapai 96,90%, Pemasyarakatan IPTEK Paket Pengadaan Unit Reverse Osmosis (RO) di Indramayu (Teknologi penyediaan air minum melalui media filter) tercapai 92,21%, Model Penerapan IPTEK Untuk Pengembangan Model Kawasan Industri Garam Rakyat di Lamongan (Teknologi pembuatan air tua melalui proses thermal konstan untuk mendukung kontinyuitas produksi garam) tercapai 75,00%

Dari tabel 3.3. diatas terlihat bahwa capaian hasil litbang kelautan dan perikanan yang diadopsi oleh masyarakat kelautan dan perikanan tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011 yang tercapai sebanyak 10 adopsi. Jika dilihat dari tahun 2010 sampai akhir tahun 2012, jumlah hasil litbang kelautan dan perikanan yang diadopsi oleh masyarakat kelautan dan perikanansudah mencapai 25 adopsi (64.10 %) dari target sebanyak 39 adopsi pada tahun 2014 sehingga target yang harus dicapai hingga tahun 2014 tersisa sebanyak 35.90 % atau 14 paket IPTEK.

Tabel 3.3.Target Pencapaian Kenerja Indikator Jumlah Pengguna Hasil Litbang Kelautan dan Perikanan hasil litbang kelautan dan perikanan 2010-2014

INDIKATOR

TARGET CAPAIAN (%)

2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012

1

Jumlah hasil litbang kelautan dan perikanan yang diadopsi oleh masyarakat kelautan dan perikanan (paket)

6 6 6 10 11 7 10 8

Penurunan jumlah paket IPTEK yang diadopsi oleh masyarakat pada tahun 2012 karena beberapa kegiatan penerapan paket IPTEK pada tahun tersebut dari anggaran penghematan/pemanfaatan yang baru terealisir pada awal triwulan 3 karena memerlukan revisi DIPA, sehingga memerlukan tingkat perencanaan yang tepat sehingga tidak terdapat revisi anggaran dan melakukan kegiatan penerapan teknologi dimulai pada awal tahun,

sehingga bisa memberikan ruang dan waktu bagi masyarakat untuk terintroduksi oleh IPTEK yang sudah diterapkan ke masyarakat

Sasaran :

Termanfaatkannya hasil dan inovasi Iptek kelautan dan perikanan.

Indikator :

Jumlah rekomendasi litbang yang dijadikan bahan kebijakan pembangunan di pusat atau daerah.

Indikator kinerja utama utama untuk mengukur keberhasilan sasaran termanfaatkannya hasil dan inovasi Iptek kelautan dan perikanan adalah Jumlah rekomendasi litbang yang dijadikan bahan kebijakan pembangunan di pusat atau daerah dengan capaian sebagai berikut :

Tabel 3.4. Pencapaian Kinerja Indikator Jumlah Jumlah rekomendasi litbang yang dijadikan bahan kebijakan pembangunan di pusat atau daerah.

Indikator Kinerja Target Capaian % Capaian

Jumlah rekomendasi litbang yang dijadikan bahan kebijakan pembangunan di pusat atau daerah

4 5 125,00 %

Pada tabel 3.2 diatas terlihat bahwa pada tahun 2012 target kinerja yang ditetapkan telah dapat dicapai. Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan selama tahun 2012, maka dapat diketahui bahwa jumlah rekomendasi litbang yang dijadikan bahan kebijakan pembangunan di pusat atau daerah tercapai melebihi target (125%) atau mencapai 5 buah rekomendasi dari 4 rekomendasi yang sudah ditargetkan

Berdasarkan hasil pengukuran TA 2012 telah diperoleh 5 buah rekomendasi yang menjadi bahan kebijakan di pusat atau daerah, antara lain :

1. Naskah Akademis Tentang Pengelolaan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Patin Secara Bersama di Waduk Gajah Mungkur, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah

Naskah akademis ini menghasilkan rumusan pokok-pokok pikiran sebagai bahan dan dasar bagi penyusunan rancangan Peraturan Daerah (Perda) tentang pengelolaan dan konservasi sumberdaya ikan patin secara bersama (ko-manajemen). Maksud penyusunan Perda terkait pengelolaan dan konservasi sumberdaya ikan patin melalui Culture Based Fisheries (CBF) yaitu :

1) Mengatur pemanfaatan sumberdaya ikan patin sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal dan lestari.

2) Memberikan payung hukum terhadap tindakan-tindakan eksploitasi sumberdaya ikan patin dalam rangka tertib pengelolaan dan konservasi sumberdaya untuk optimasi pemanfaatan dan pelestarian.

3) Mengatur zonasi Waduk Gajah Mungkur bagi pemanfaatan perikanan agar tidak terjadi conflict of interest (konflik kepentingan) sehingga fungsi utama waduk dapat terjaga.

Sedangkan yang menjadi tujuan rencana penyusunan Perda tentang pengelolaan dan konservasi sumberdaya ikan patin antara lain:

1) Tersedianya produk hukum untuk memberikan perlindungan bagi masyarakat dalam memanfaatkan potensi sumberdaya ikan secara bertanggungjawab dan lestari.

2) Pengaturan area atau zonasi melalui proses perencanaan yang partisipasif dan terarah sehingga dapat meminimalisir eksploitasi yang berlebihan.

3) Adanya pengendalian dan pengawasan terhadap eksploitasi sumberdaya ikan yang melibatkan banyak pihak.

4) Menciptakan ketertiban, ketentraman, dan memberikan kepastian hukum bagi masyarakat terkait pemanfaatan potensi waduk Gajah Mungkur.

Pelaksanaan Model Penerapan iptek Ikan Patin (CBF) di Waduk Gajahmungkur, Wonogiri telah menghasilkan beberapa capaian, antara lain:

1) Meningkatnya pemahaman masyarakat dalam mengelola sumberdaya ikan patin. Hal ini dapat dilihat dari aktifitas mereka sehari-hari: Masyarakat secara swadaya melakukan penebaran ikan patin, Kesadaran masyarakat semakin baik hal ini tercermin secara rutin masyarakat melakukan pengawasan secara swadaya dan penggunaan jaring insang >

2,5 inci, Masyarakat telah mematuhi dan mengikuti penangkapan berdasarkan zonasi yang telah dibuat untuk pengelolaan perikanan di Waduk Gajahmungkur.

2) Tersusunnya Naskah akademik “Pengelolaan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Patin Secara Bersama Di Waduk Gajahmungkur, Kabupaten Wonogiri”. Naskah akademik ini telah diserahkan dari Kepala Balitbang KP kepada Bupati Wonogiri tanggal 11 Juli 2012 di Kantor Bupati. Naskah akademik ini akan dijadikan dasar dalam penyusunan Ranperda Pengelolaan Ikan Patin di Waduk Gajahmungkur.

3) Pendapatan masyarakat nelayan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya hasil tangkapan ikan patin.

4) Penebaran ikan patin dan Penandatanganan naskah kerjasama antara Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi SDI dengan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kab. Wonogiri, tanggal 5 Oktober 2012. Acara ini dihadiri oleh Kepala Badan Litbang KP dan Bupati Wonogiri. Jumlah ikan patin yang ditebar sebanyak 150.000 ekor.

Gambar.3.1 Kegiatan Model Penerapan IPTEK Ikan Patin di Waduk Gajahmungkur

2. Naskah Akademis tentang Model Pengelolaan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Bilih Secara Bersama (Ko-Manajemen) Berbasis Ekosistem di Danau Toba, Sumatera Utara

Capaian kegiatan Iptekmas Optimasi Pengelolaan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Bilih di Danau Toba Sumatera Utara untuk Tahun 2012 yaitu:

1) Penetapan daerah konservasi (suaka) ikan bilih di beberapa daerah diantaranya di sekitar daerah Kabupaten Dairi (di Wilayah Silalahi), Kabupaten Karo (di wilayah Tongging) dan beberapa kabupaten lainnya yang sesuai dengan hasil kajian. Untuk kedua wilayah tersebut sudah direncanakan untuk ditetapkan lokasi suaka ikan bilih dan untuk luasannya sedang dikaji, dan akan diusulkan dengan pembuatan peraturan daerah (Perda). Hal ini telah disampaikan dalam sosialisasi pengelolaan dan konservasi sumberdaya ikan bilih serta kelembagaannya serta sistem penanganan hasil dan pemasarannya di kedua kabupaten tersebut.

2) Telah dilakukan kegiatan Workshop pengelolaan dan konservasi ikan bilih di Danau Toba di tingkat Provinsi dengan melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dan 7 (tujuh) Kabupaten lingkar Danau Toba yang terkait dengan pengelolaan ikan bilih.

Pertemuan ini ditujukan untuk mendapatkan solusi dalam rangka untuk menetapkan penyatuan suara dan langkah secara bersama dalam rangka pengelolaan Ikan bilih di Danau Toba dan otoritas pembuatan peraturan daerahnya harus dilakukan di Provinsi dan bukan Kabupaten. Direncanakan pembuatan naskah akademiknya sebagai acuan dalam rangka pembuatan perda tentang suaka oleh provinsi yang akan di-plot di setiap kabupaten. Program ini akan direalisasikan pembuatannya pada tahun 2013.

3) Pembuatan naskah akademik tentang pengelolaan dan konservasi sumberdaya ikan bilih mencakup pembatasan penggunaan alat tangkap yang tidak selektif dan tidak ramah lingkungan (pembatasan ukuran mata jaring harus > 1,5 cm khusus ikan bilih; pelarangan penggunaan alat tangkap yang merusak antara lain bom, racun dan listrik) dan penetapan kawasan proteksi habitat pemijahan dan asuhan (suaka perikanan).

Gambar.3.2 Kegiatan Model Pengelolaan dan Konservasi Sumberdaya Ikan Bilih Secara Bersama (Ko-Manajemen) Berbasis Ekosistem di Danau Toba

3. Rekomendasi tentang Program Industrialisasi Kelautan dan Perikanan

Berdasarkan analisis kebijakan tentang industrialisasi kelautan dan perikanan maka didapatkan bahwa program industrialisasi kelautan dan perikanan cukup baik pada tataran konsep dan kebijakan (input), kurang baik pada tataran implementasi (proses) dan rendah pada kinerja akhirnya (output). Untuk itu direkomendasikan agar program/ kegiatan industrialisasi kelautan dan perikanan perlu kebijakan sebagai berikut :

1) Mendorong standar produksi terbaik untuk semua sentra produksi.

2) Kebijakan terobosan dalam hal penanganan masalah perbenihan, misalnya memfungsikan Balai-Balai Benih Ikan (BBI) untuk perbenihan atau menjadi bapak angkat bagi Unit-Unit Perbenihan Rakyat (UPR) yang ditargetkan untuk memproduksi sejumlah tertentu benih ikan untuk memasok kebutuhan ikan di wilayah tertentu.

3) Mengefektifkan koordinasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Kementerian terkait.

Gambar.3.3 Kegiatan Industrialisasi Kelautan dan Perikanan

4. Rekomendasi tentang Dampak Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) dan Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR)

Berdasarkan analisa hasil kajian tentang dampak PUMP dan PUGAR, maka teridentifikasi bahwa PUMP dan PUGAR hanya berdampak positif hanya pada penerimanya serta mengingat program PUMP dan PUGAR tidak bisa terlepas dari aspek penyuluhan dan introduksi teknologi, maka direkomendasikan hal-hal sebagai berikut :

1) Agar program PUMP maupun PUGAR menyertakan kegiatan pembinaan kepada nelayan, pembudidaya, dan petambak garam non penerima.

2) Program PUMP dan PUGAR perlu diintegrasikan dengan program-program BPSDMKP dan Balitbang KP.

Gambar.3.4 Kegiatan Pengembangan PUMP dan PUGAR

5. Rekomendasi tentang Langkah Strategis Pengembangan Budidaya Laut di Daerah Terdepan/ Perbatasan (Kepulauan Natuna)

Rekomendasi Balitbang KP terkait langkah strategis pengembangan laut di daerah terdepan/ perbatasan di Kepulauan Natuna adalah :

1) Memberdayakan BBIP untuk produksi benih dan pemanfaatan Teluk Sungai Besar untuk Enclosure Aquaculture atau Culture Based Fisheries.

2) Pengangkutan hasil budidaya di perairan Nusantara seharusnya dilakukan oleh kapal angkut ikan hidup nasional.

3) Pengembangan Central Point pelabuhan ikan hidup yang juga berfungsi sebagai loading point yang dilengkapi dengan semua perangkat perijinan (manajemen satu atap).

Gambar.3.5. Peta wilayah pengembangan budidaya laut di daerah terdepan/ perbatasan (Kepulauan Natuna)

Dari tabel 3.5. di bawah terlihat bahwa Jumlah rekomendasi litbang yang dijadikan bahan kebijakan pembangunan di pusat atau daerah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2011 yang tercapai sebanyak 4 rekomendasi. Jika dilihat dari tahun 2010 sampai akhir tahun 2012, jumlah rekomendasi litbang yang dijadikan bahan kebijakan pembangunan di pusat atau daerah sudah mencapai 24 buah (88,89%) dari target sebanyak 27 rekomendasi sampai dengan tahun 2014, sehingga target yang harus dicapai hingga tahun 2014 tersisa sebanyak 11,11 % atau 3 rekomendasi.

Tabel 3.5.Target Pencapaian Kenerja Indikator jumlah rekomendasi

litbang yang dijadikan bahan kebijakan pembangunan di pusat atau daerah 2010-2014

INDIKATOR

TARGET CAPAIAN (%)

2010 2011 2012 2013 2014 2010 2011 2012

1

Jumlah rekomendasi litbang yang dijadikan bahan kebijakan

pembangunan di pusat atau daerah

4 4 4 7 8 15 4 5

Peningkatan jumlah rekomendasi yang menjadi bahan kebijakan di pusat dan di daerah karena adanya 2 daerah yang sudah menjadikan penerapan IPTEK kelautan dan perikanan menjadi bahan untuk pembuatan 2 peraturan daerah (PERDA) di toba samosir dan wonogiri, sehingga diperlukan pemantauan dan pendampingan teknologi lebih intens agar benar-benar daerah tersebut bisa menerbitkan PERDA sesuai dengan target yang telah direncanakan.

Dalam rangka mendukung pencapaian sasaran Termanfaatkannya hasil dan inovasi Iptek kelautan dan perikanan, Balitbang KP telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp.

529.992.058.000, dan sampai dengan akhir tahun 2012, sasaran Balitbang telah tercapai dengan merealisasikan anggaran sebesar Rp. 395.313.610.316,-. Dari realisasi anggaran sejumlah Rp. 395.313.610.316,-, Balitbang KP telah mencapai indikator kinerja utama diantaranya 90 kelompok/orang yang menggunakan hasil litbang KP, 8 jumlah hasil litbang KP yang telah diadopsi, dan 5 jumlah rekomendasi litbang yang dijadikan sebagai bahan untuk kebijakan di pusat dan daerah.

Dokumen terkait