• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Capaian Kinerja

AKUNTABILITAS KINERJA

3.2. Analisis Capaian Kinerja

Analisis akuntabilitas kinerja tahun 2016 Balitklimat dapat dijelaskan sebagai berikut :

Sasaran 1 : Tersedianya data, informasi geospasial/peta, sistem informasi, teknologi, dan rekomendasi pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya air dan iklim pertanian mendukung sistem pertanian berkelanjutan

Untuk mengukur capaian sasaran tersebut, diukur dengan 2 (dua) indikator kinerja sasaran. Adapun pencapaian target indikator kinerja sasaran dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 6. Target dan realisasi pencapaian indikator kinerja sasaran 1

Indikator Kinerja Target Realisasi %

1. Jumlah Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Air dan Iklim Pertanian Mendukung Sistem Pertanian Modern 2. Jumlah Rekomendasi

Kebijakan Pemanfaatan dan pengelolaan Sumber Daya Lahan, Air, dan Lingkungan serta Perubahan IklimJumlah 5 Teknologi 6 Rekomendasi 5 Teknologi 6 Rekomendasi 100 100

Indikator Kinerja Target Realisasi % informasi geospasial

sumber daya lahan pertanian

Berdasarkan data realisasi indikator kinerja sasaran pada Tabel 6 di atas, pada tahun 2016 berhasil menyelesaikan output 5 Teknologi atau 100% dari target, serta 6 rekomendasi kebijakan atau 100% dari target. Dengan demikian kategori keberhasilan pencapaian indikator kinerja sasaran 1 adalah berhasil, karena capaiannya 100%.

Keberhasilan pencapaian indikator kinerja pertama, tidak terlepas dari perencanaan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh setiap Tim dalam melaksanakan kegiatan penelitian.

Adapun pencapaian indikator kinerja 5 teknologi diuraikan sebagai berikut: Penelitian Kalender Tanam Terpadu untuk Mendukung UPSUS PAJALE pada Lahan Sawah Irigasi dan Lahan Rawa untuk Adaptasi Perubahan Iklim

Teknologi informasi kalender tanam terpadu tanaman padi pada lahan sawah seluruh Indonesia dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:

Penyusunan sistem informasi Katam Terpadu dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, diseminasi informasi katam terpadu. Diseminasi Katam Terpadu dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung melalui internet menggunakan telepon pintar berbasis android dan website, selain itu melalui komunikasi nirkabel menggunakan sms. Secara tidak langsung diseminasi dilakukan melalui Tim Gugus Tugas Katam Provinsi. Bahan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan ini, diantaranya adalah: (1) peta digital hasil prakiraan hujan musiman level kecamatan dari BMKG, (2) informasi kalender tanam yang telah diperbaruhi sesuai dengan jumlah kecamatan dari BPS 2010, (3) informasi wilayah rawan bencana (kekeringan/banjir dan OPT) pada level kabupaten/ kecamatan yang telah diperbaruhi, (4)rekomendasi varietas dan kebutuhan benih pada level kecamatan yang telah diperbaruhi, (5) rekomendasi dan kebutuhan pupuk padi sawah, jagung, dan kedelai pada level kecamatan yang telah diperbaharui. Selain bahan tersebut di atas diperlukan juga perangkat lunak sebagai berikut: ArcGIS Desktop 10 untuk penyiapan data vektor seperti peta rupa bumi, dan peta sawah digital, ArcPy untuk pembuatan otomatisasi pembuatan peta per

tingkat administrasi, Visual Basic Studio .NET 2010 sebagai alat untuk pengembangan aplikasi perangkat lunak berbasis ASP.NET, ArcGIS Server 10, merupakan komponen server pendukung untuk keperluan publikasi peta digital melalui media internet atau berbasis web.

Kegiatan terdiri dari beberapa sub kegiatan diantaranya: (1) pengembangan sistem katam terpadu, (2) pemutakhiran prediksi iklim global dan model integrasi prediksi iklim dan awal tanam untuk mendukung sistem informasi kalender tanam terpadu (MK 2016 dan MH 2016/2017), (3) informasi prediksi spasial ketersediaan air dan luas panen tingkat kecamatan untuk setiap musim tanam berdasarkan skenario awal tanam, (4) pemutakhiran wilayah rawan bencana kekeringan, banjir dan serangan OPT pada tanaman padi, jagung dan kedelai (MK 2016 dan MH 2016/2017), (5) pemutakhiran rekomendasi varietas dan kebutuhan benih yang terbarukan untuk mendukung sistem informasi kalender tanam terpadu (MK 2016 dan MH 2016/2017), (6) informasi pemupukan mendukung percepatan peningkatan produksi padi, jagung, kedelai (MK 2016 dan MH 2016/2017), (7) advokasi sistem informasi kelender tanam terpadu melalui FGD, dan koordinasi/pendampingan GT katam dan PI, dan (8) buletin untuk mendukung sistem informasi kalender tanam terpadu.

Gambar 2. Monitoring online katam terpadu menggunakan CCTV

Keluaran yang dicapai adalah : (1) 2 versi sistem informasi kalender tanam terpadu MK 2016 dan MH 2016/2017 (sistem katam MK 2016 dan MH 2016/2017 yang terbarukan, verifikasi dan validasi informasi katam terpadu dan standing crop, 1 model updating integrasi katam rawa, model integrasi dat dan bioremediasi), (2) Pemutakhiran prediksi iklim global dan model integrasi prediksi iklim dan awal tanam untuk mendukung SI Katam terpadu MK 2016 dan MH 2016/2017 (2 paket informasi prediksi awal MK 2016 dan MH 2016/2017, 2 paket informasi prediksi awal tanam dan potensi luas tanam MK 2016 dan MH 2016/2017 pada SI Katam Terpadu, dan informasi perkembangan iklim Indonesia 2016, (3) informasi prediksi spasial ketersediaan air dan luas panen tingkat kecamatan untuk setiap musim tanam berdasarkan skenario awal tanam, (4) pemutakhiran wilayah rawan bencana kekeringan, banjir dan rawan OPT pada tanaman padi, jagung dan kedelai (MK 2016 dan MH 2016/2017), (5) informasi rekomendasi varietas dan kebutuhan benih yang terbarukan untuk mengurangi risiko kehilangan hasil padi, jagung dan kedelai akibat kerawanan banjir, kekeringan, dan OPT serta mendukung SI Katam Terpadu (MK 2016 dan MH 2016/2017), (6) informasi pemupukan mendukung percepatan peningkatan produksi padi, jagung, kedelai (MK 2016 dan MH 2016/2017), (7) 1 model updating model rekomendasi dan kebutuhan alsintan, (8) 1 model integrasi data dan peta bioremediasi untuk mendukung Katam Terpadu, dan (9) advokasi sistem informasi Katam terpadu

Hasil yang telah dicapai dari kegiatan pengembangan SI Katam Terpadu diantaranya: pemutakhiran MK 2016, MH 2016/2017 dan updating web, katam SMS, dan Katam Android. Fitur yang terbaruyaitu: penambahan halaman prediksi curah hujan dan musim dari situs web IRI Columbia, updating data alsintan, dan

penambahan fitur baru perhitungan biaya sewa alsin dan analisis Benefit Cost Ratio (BCR) untuk alsin traktor roda 2 dan combine harvester baik dalam bentuk web interaktif maupunmicrosoft excel.Hail analisis standing cropdapat diterima dengan baik oleh stakeholder baik melalui email, web direktori agrogis,info dan situs web Katam. Integrasi ternak telah dikembangkan, data informasi yang didapatkan dari Katam pdf dan katam web dalam bentuk peta, data tabular, grafik yang interaktif. Untuk kegiatan prediksi iklim dihasilkan informasiawal waktu tanam dominan pada MK 2016 diprediksi terjadi pada April II-III seluas 2.643.648 Ha (42,4%), Mei I-II seluas 1.414.799 Ha (22,7%) dan Mei III-Juni I 2016 seluas 1.819.098 Ha (29,2%). Potensi luas tanam di lahan sawah secara nasional pada MK 2016 untuk padi sawah seluas 5.710.620 Ha, padi rawa seluas 528.011 Ha, jagung/kedelai 1.420.408 Ha dan kedelai saja seluas 124.002 Ha. Awal waktu tanam dominan pada MH 2016/2017 diprediksi terjadi pada November II 2016 seluas 4.785.257 Ha, Maret I-II 2017 seluas 3.383.550 Ha, Januari I-I-II seluas 807.618 Ha. Potensi luas tanam di lahan sawah secara nasional pada MH 2016/2017 untuk padi sawah seluas 10.388.743 Ha, padi rawa seluas 593.073 Ha, jagung/kedelai 2.419.503 Ha dan kedelai saja seluas 154.959 Ha. Kegiatan informasi ketersediaan air didapatkan dariDaerah Irigasi (DI) Jatiluhur yang memiliki luas sawah 231,169.7 ha, saluran induk 372.18 km, saluran sekunder 1,575.39 km serta bangunan bagi sadap 1,561.0 unit yang menyalurkan irigasi melalui saluran tersier menuju petak-petak tersier. Hasil analisis awal tanam di Kec. Klari, Kab. Karawang pada periode 2013 - 2016, awal tanam tetap, kejadian El Nino 2015 tidak menyebabkan pergeseran awal tanam. Hasil analisis di Kec. Tirta Mulya dan Jatisari, terlihat variasi awal tanam antara 15 hari hingga 1 bulan selama periode pengamatan 2013-2016. Kegiatan rawan bencana menghasilkan Peta Endemik Bencana, Peta Rawan Bencana, dan Peta Kerusakan Tanaman akibat bencana. Peta-peta tersebu digunakan sebagai salah satu rujukan untukpemilihan atau rekomendasi varietas yang sesuai dan prioritas wilayah penanggulangan bencana serta digunakan untuk memperkirakan potensi kehilangan hasil yang dialami apabila tidak dilakukan antisipasi atau penanggulangan. Informasi varietas dan kebutuhan benih yang dihasilkan dari SI Katam yaitu perbaikan informasi dari Tim Gugus Tugas dan juga dari instansi terkait varietas padi eksisting yang paling dominan ditanam di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Tengah dan Maluku adalah varietas Ciherang. Varietas Inpari 12 banyak ditanam di Sumatera Barat, sedangkan varietas lokal yang banyak ditanam adalah varietas Anak Daro, Tukad Unda dan Logawa.

Untuk Provinsi Papua, varietas padi yang paling dominan di tanam adalah varietas Inpari 7, Kebaruan informasi varietas unggul baru terutama untuk varietas toleran banjir, kekeringan, OPT utama, Pajale, kebutuhan benih padi dan jagung/kedelai untuk seluruh wilayah Indonesia pada musim kemarau 2016 berturut-turut adalah 126.946 ton dan 27.837 ton, sedangkan pada musim hujan 2016/2017 adalah 169.281 ton dan 14.630 ton.Untuk rekomendasi pupuk yang telah dilakukan yaitu Rekomendasi pupuk N, P, dan K untuk MK 2016 dan MH 2016/17 telah diperbaiki berdasarkan data peta status hara P dan K yang diupdate tahun 2014. Rekomendasi pupuk majemuk NPK Pelangi 20-10-10 dan NPK Kujang 30-6-8 akan ditiadakan setelah MK. 2016, Rekomendasi pemupukan N, P, dan K untuk tanaman jagung dan kedelai telah dikembangkan di seluruh kecamatan di setiap provinsi dengan menggunakan pilihan pupuk an-organik bentuk tunggal dan majemuk NPK 15-15-15 dikombinasikan dengan pupuk organik berbahan baku sisa jerami atau kotoran hewan. Pada tahun 2016, Diseminasi SI Katam Terpadu dilaksanakan pada Pekan Peramalan Tahun di BBPOPT Jatisari Karawang, Fokus Grup Diskusi (FGD) diselenggarakan di Padang Sumatera Barat, dan FGD Kalender Tanam Terpadu MH 2016/2017 di Makassar.Beberapa hasil analisis iklim yang ditampilkan dalam bulletin Informasi Agroklimat secara berkala, diantaranya; analisis prediksi, analisis neraca air, standing crop, serta informasi banjir dan kekeringan di Indonesia. Terdapat 20 buah tulisan mengenai ‘current issue’.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu di dalam menetapkan strategi penyediaan dan distribusi sarana produksi serta perencanaan pola tanam, teknik budidaya pengelolaan tanaman untuk menghindari/mengurangi risiko iklim pada tanaman pangan lahan sawah. Oleh karena itu, diharapkan para pengambil kebijakan dapat dengan mudah dan cepat melakukan perencanaan pertanian tanaman pangan di lahan sawah yang mempertimbangkan prediksi iklim near real time yang meliputi waktu tanam, luas tanam, rekomendasi dan kebutuhan pupuk, rekomendasi varitas dan kebutuhan benih, serta informasi wilayah rawan banjir, kekeringan dan rawan OPT.

Penelitian dan Pengembangan Analisis Key Area Iklim dan Neraca Air PAJALE Mendukung UPSUS PAJALE

Teknologi informasi Key Area keragaman iklim seluruh Indonesia Mendukung UPSUS PJK, dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:

Area Keragaman Iklim Indonesia Dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim, (2) Pengembangan Sistem Informasi dan Prediksi Bencana di Sektor Pertanian, Penyusunan Basis Data Sumberdaya Air Pertanian serta, (3) Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan Air Kawasan Jagung.

Upaya adaptasi terhadap perubahan iklim dapat dilakukan dengan mengidentifikasi keragaman dan kejadian iklim ekstrim yang menyebabkan adanya bencana terkait iklim (banjir, kekeringan) di beberapa wilayah di Indonesia. Keragaman, kejadian iklim ekstrim, dan bencana terkait iklim, akan berdampak terhadap menurunnya luas tanam dan produksi padi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara indikator global, curah hujan, dan produksi padi. Oleh karena itu wilayah kunci (Key Area) menjadi penting sebagai indikator untuk mengetahui pengaruh perubahan iklim dan kejadian iklim ekstrim terhadap curah hujan, bencana terkait iklim dan produksi padi baik saat ini maupun yang akan datang, terutama di sentra produksi padi. Penelitian dan kajian mendalam perlu dilakukan pada wilayah kunci (Key Area) keragaman iklim dengan mengembangkan prediksi iklim, bencana terkait iklim dan produksi padi yang semuanya dikemas dalam suatu sistem informasi terpadu untuk prediksi, bencana dan produksi berbasis key area. Perilaku iklim saat ini semakin sulit diprediksi sebagai akibat dampak perubahan iklim. Untuk menyiasati kondisi tersebut, diperlukan pendekatan baru dalam upaya mempelajari perilaku iklim melalui aplikasi analisis numerik. Analisis numerik adalah teknik yang digunakan untuk memformulasikan masalah matematis agar dapat diselesaikan dengan operasi perhitungan. Penggunaan metode numerik dapat mengatasi berbagai kelemahan-kelemahan metode yang ada sebelumnya. Persamaan matematika yang sulit diselesaikan dengan model analitik, memungkinkan dapat diselesaikan melalui pendekatan numerik. Di bidang pertanian air merupakan faktor utama penentu kelangsungan produksi pertanian namun pengelolaannya untuk kelangsungan sumber daya air tersebut masih menghadapi banyak kendala baik pada skala daerah irigasi maupun Daerah Aliran Sungai (DAS). Kendala tersebut dapat diatasi dengan menyediakan data dan informasi neraca air, sumberdaya iklim dan air yang akurat, terekam dalam format sistem informasi yang handal. Selanjutnya permasalahan yang dihadapi saat ini terkait data sumber daya air adalah bahwa keberadaan data tersebut terfragmentasi di berbagai institusi dengan bentuk, format, jenis, waktu penyajian dan metode yang berbeda. Untuk mengatasi kendala tersebut diperlukan kuantifikasi dan integrasi data semberdaya iklim dan air sehingga dapat memberikan

Kejadian Kekeringan

Onset Durasi 3 bulan Trend Linear Kab. Aceh Utara

Luas Terkena Kekeringan: 13.192 Ha

(a)

Kejadian Banjir

Onset Durasi 3 bulan

Trend Linear

Kab. Langkat

Luas Terkena Banjir: 6.420 Ha

(b)

informasi secara menyeluruh baik spasial, tabular dan temporal tentang kondisi sumberdaya air di suatu wilayah.

Keluaran yang akan dicapai adalah: model key area keragaman iklim Indonesia mendukung UPSUS Pajale, Atlas Potensi Sumberdaya Air Pulau Sumatera dan Kalimantan Skala 1:250.000 dan neraca air berbasis key area mendukung UPSUS Pajale, sistem Informasi Sumberdaya Air Pertanian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan, desain desain pengelolaan air, irigasi dan neraca air kawasan PJKU, dan model prediksi banjir, kekeringan, OPT dan dampaknya pada tanaman padi

Gambar 3. Wilayah dan indeks iklim global paling signifikan positif pada DJF

Gambar 5. Analisis ketersediaan air spasial dan temporal pada wilayah administratif (kecamatan atau kabupaten)

Gambar 6. Hasil Pengukuran debit Sungai Way Seputih (base flow)

Hasil yang telah dicapai dari seluruh kegiatan ini sebagai berikut: (1) Indeks iklim global yang berpengaruh signifikan positif terhadap curah hujan di musim DJF adalah OLR lag 2 (Sulawesi bagian Barat dan Selatan), sedangkan MEI dan ONI lag 2 berpengaruh signifikan negatif (Sulawesi bagian Barat), serta SML Nino 1.2 lag 2 juga berpengaruh signifikan negatif (Kalimantan bagian Selatan), (2) tanaman padi terkena kekeringan terjadi jika SPI lebih kecil dari -1 yang berlangsung dalam waktu 2-3 bulan dan 4-5 bulan, sedangkan Banjir terjadi jika SPI lebih besar dari 1 yang berlangsung dalam periode yang sama, (3) Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan memiliki 4 indeks ketersediaan irigasi yaitu: ketersediaan irigasi 0,3-0,5; 0,5-0,7; 0,7-0,9; >0,9 l/detik/ha, (4) Perlakuan irigasi hemat air berpengaruh baik terhadap hasil, bahan hijau dan klobot Jagung. Penambahan air irigasi 85% dari kebutuhan air tanaman menurut FAO, menghasilkan Jagung paling tinggi dibandingkan dengan

penambahan air irigasi 100% dan 70% dan berbeda nyata dibandingkan dengan penambahan air irigasi 100% tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan penambahan air irigasi 70%.

Penelitian Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Iklim dan Air Terpadu pada Berbagai Agroekosistem Mendukung UPSUS PAJALE, Cabe Merah dan Kakao

Teknologi pengelolaan sumberdaya iklim dan air di lahan tadah hujan Berbasis Model Food Smart Village dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:

Pengelolaan sumberdaya air dan iklim terpadu yang dikemas dalam kerangka desa mandiri pangan (Food Smart Village/FSV) merupakan kawasan budidaya pertanian skala rumah tangga berbasis inovasi kemandirian pangan pada lahan sub optimal. FSV bertumpu pada lima pilar untuk adaptasi perubahan iklim yaitu: (1). optimasi sumberdaya iklim dan air melalui pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya iklim, air permukaan, air tanah, dan modifikasi iklim mikro; (2). Keaneka ragaman budidaya tanaman pangan dan hortikultura sesuai dengan zona agroklimat; (3).sistem integrasi tanaman dan ternak untuk meningkatkan nilai tambah produksi pertanian dan peternakan serta meningkatkan produktivitas lahan; (4). Sistem pertanian konservasi yaitu mengurangi praktek pengolahan tanah, penggunaan mulsa dan tanaman penutup tanah, rotasi tanam, tumpang sari dengan memanfaatkan tanaman penambat nitrogen; (5). Pemanfaatan kembali limbah pertanian dan ternak dalam sistem produksi pertanian dengan memanfaatkan seoptimal mungkin hasil limbah pertanian dan ternak melalui pendekatan 3 R yaitu : mengurangi sebanyak mungkin kehilangan limbah di luar sistem produksi pertanian (reduce), dengan cara menggunakan kembali sebanyak mungkin limbah pertanian dan ternak (reuse), dengan demikian seluruh limbah pertanian dan ternak yang dihasilkan selalu dalam proses daur ulang (recycle) di dalam sistem produksi pertanian. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan penelitian pengelolaan sumberdaya air dan iklim yang terpadu dan dikemas dalam FSV untuk mengurangi risiko pertanian dan peningkatan produksi komoditas padi, jagung, kedelai, cabe danatau kakao pada beberapa agroekosistem melalui penyusunan rancang bangun pemanfaatan SDA dan iklim untuk mendukung swasembada padi, jagung, kedalai, cabe danatau kakao berbasis desa mandiri pangan untuk adaptasi perubahan iklim.

Keluaran yang ingin dicapai yaitu informasi potensi sumber daya lahan, air, iklim dan sosial ekonomi pada lokasi pengembangan pajale, cabe dan atau kakao di

Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, rancang bangun teknik pemanfaatan potensi sumberdaya air di lokasi pilot pengembangan pajale, cabe dan atau kakao di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan serta rekomendasi pengembangan model pengelolaan sumberaya air dan iklim terpadu di desa/kawasan mandiri pangan mendukung swasembada pajale, cabe dan atau kakao di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Hasil yang telah dicapai dari kegiatan inidiantaranya sistem pipanisasi merupakan alternatif sistem irigasi yang efisien untuk penanaman palawija (kacang tanah dan jagung) pada lahan tadah hujan yang mempunyai potensi sumberdaya air kurang dari 10 l/dt, pemberian irigasi 60% dengan pemupukan NPK dan mulsa merupakan perlakuan terbaik dalam menghasilkan polong basah, pemberian dosis irigasi 100% memberikan hasil berat polong kering tertinggi, demplot percobaan irigasi hemat air (0,42 l/dt/ha) pada tanaman kacang tanah relatif memberikan hasil polong kering yang cukup tinggi yaitu rata-rata ubinan sebesar 3,59 t/ha, demplot irigasi hemat air (0,52 l/dt/ha) pada tanaman jagung menghasilkan brangkasan basah panen ubinan mencapai 8,75 t/ha dan berat tongklol mencapai 6,63 t/ha.

Gambar 8. Optimalisasi sumberdaya air

Penelitian dan Pengembangan Sistem Irigasi Pompa Radiasi Surya untuk Meningkatkan Produksi Pertanian di Lahan Kering

Teknologi pemanfatan sumber energi alamiah untuk optimalisasi pengelolaan sumberdaya air (Pompa Air Tenaga Surya) dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:

Kendala pengairan di sebagian besar lahan kering salah satunya dapat diatasi dengan menggunakan penyediaan irigasi pompa. Dikarenakan tidak semua lahan memiliki infrastruktur energi listrik sehubungan kendala lokasi yang terpencil maupun keterbatasan pasokan listrik dan semakin tingginya harga BBM maka tenaga surya dapat menjadi prasarana untuk membangun sarana pengairan. Potensi radiasi matahari di indonesia cukup besar, sehingga dapat dioptimalkan untuk menyediakan listrik bagi pengairan sehingga untuk itu telah dikembangkan solar water pump (pompa tenaga surya/PTS).

Keluaran yang ingin dicapai diantaranya prototipe pompa air tenaga surya untuk irigasi pertanian, informasi sistem irigasi yang efisiensi pada tananam bawang merah dan cabe merah, informasi efisiensi irigasi dari PTS.

Gambar 9. Percobaan implementasi irigasi pada tanaman cabe di Sukabumi

Gambar 11. Percobaan implementasi irigasi pada tanaman bawang merah di Bantul Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi kinerja alat perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi air yang dapat dihasilkan secara optimal, perlu informasi perhitungan yang lebih detil kapasitas pompa tenaga surya dalam penyediaan air dan potensi luas layanan pompa dikembangkan untuk pertanian, penentuan desain simtem irigasi pompa tenaga surya/SIPTS berdasarkan: (1) kurva kinerja pompa, (2) kurva kinerja sistem irigasi, (3) kurva hubungan debit dan tekanan operasional pompa, adapun analisis dan desain irigasi ditentukan berdasarkan : (1). Analisis penentuan potensi luas layanan, (2) analisis kebutuhan air tanaman, dan (3). Desain SIPTS berbagai tipe, selanjutnya sistem pola pemanfaatan air perlu dipantau sejak awal untuk menentukan optimalisasi distribusi air untuk luas lahan eksisting. Selain itu berdasarkan penelitian di lapangan menunjukkan bahwa teknik irigasi yang sesuai untuk tanaman bawang merah dan kedelai adalah impact sprinkler, sedangkan untuk cabe adalah streamline, pengamatan debit emitter pada teknik irigasi impact sprinkler dan streamline diperlukan untuk memvalidasi total debit yang tersedia untuk irigasi tanaman, pengamatan pertumbuhan tanaman bawang merah yang direpresentasikan melalui tinggi tanaman pada perlakuan irigasi dan mulsa lebih tinggi dibandingkan irigasi dengan pola petani. Perlakuan kombinasi irigasi 85% dan mulsa berpengaruh signifikan pada partumbuhan dan hasil bawang merah maupun cabe.

Perlu pemanfaatan SIPTS untuk lokasi Muneng ke depan untuk pengembangan kedelai melalui optimalisasi kinerja pompa sehingga dapat

beroperasi secara optimal dan menghasilkan produksi kedelai secara optimal, selain itu perlu menyusun petunjuk teknis SIPTS agar bisa menjadi pedoman bagi pengguna.

Penelitian Neraca Air Tanaman untuk Pengembangan Sistem Irigasi Tanaman Kakao dalam Mengantisipasi Dampak Perubahan Iklim

Teknologi penentuan penciri iklim mikro untuk peningkatan produktivitas tanaman dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:

Indonesia merupakan produsen ke tiga dunia dan Kakao merupakan salah satu komoditas perdagangan antar negara yang mempunyai prospek kedepan yang baik bila dikembangkan secara intensif dalam skala agribisnis. Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan Kementan. Anomali iklim yang akhir-akhir ini meningkat baik durasi maupun frekuensinya menjadi faktor pemicu penurunan produksi kakao. Untuk mengetahui faktor penyebabnya diperlukan karakterisasi dan identifikasi kondisi biofisik baik variabilitas iklim, iklim mikro, ketersediaan air, sifat tanah diperoleh hubungan antara variabilitas musim, ketersediaan air dengan produksi kakao. Nantinya informasi tersebut merupakan dasar penetapan dalam model pengelolaan air pada budidaya kakao di sentra produksi.

Penyusunan dan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Iklim Serta Kebijakan untuk Program Aksi Pertanian Menghadapi Perubahan

Dokumen terkait