KATA PENGANTAR
Laporan Kinerja (LAKIN) Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) Tahun 2016ini merupakan salah satu bentuk pertanggung jawaban kinerja Satker dalam mendukung pemerintahan yang berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggungjawab, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja, dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Laporan Kinerja Balitklimat ini disusun berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetapkan dalam Dokumen Penetapan Kinerja Balitklimat TA 2016 yang ditandatangani oleh Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi dan Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian. Dalam dokumen PK tersebut ditetapkan 2 (dua) sasaran strategis dengan 3 (tiga) indikator kinerja yang ingin dicapai oleh Balitklimat pada TA 2016.
Diharapkan Laporan Kinerja Balitklimat Tahun 2016 ini dapat bermanfaat sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan program dan umpan balik dalam memperbaiki dan meningkatkan kinerja Satker selanjutnya.
Penghargaan dan ucapan terima kasih saya sampaikan kepada segenap pelaksana kegiatan yang telah berpartisipasi aktif dalam penyusunan laporan ini. Saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Bogor, Januari 2017 Kepala Balai,
Dr. Ir. Harmanto, M.Eng. NIP. 196711231993031001
DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR GAMBAR iv
DAFTAR LAMPIRAN vi
IKHTISAR EKSEKUTIF vii
BAB I
PENDAHULUAN
BAB II PERENCANAAN KINERJA DAN PERJANJIAN KINERJA 3 2.1. Perencanaan Strategis 3 2.1.1. Visi 3 2.1.2. Misi Balitklimat 3
2.1.3. Tujuan dan Sasaran
2.1 4. Target Utama Balai Penelitian Agroklimat dan
4 Hidrologi
2.1.5. Program dan Kegiatan
5
2.1.6. Indikator Kinerja Utama
8
2.2. Perencanaan Kinerja Tahun 2016 10
2.3. Penetapan Kinerja Tahun 2016 12
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 15
3.1. Pengukuran Pencapaian Kinerja Tahun 2016 15
3.2. Analisis Capaian Kinerja 19
3.4. Kegiatan Kerjasama 93
PENUTUP 94
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Rencana Tindak dan Indikator Kinerja Utama (IKU) Tahun 2015-2019 ... 9
Tabel 2. Target IKU yang ingin dicapai Baliktlimat pada TA 2016 ... 10
Tabel 3. Rencana Kinerja Tahunan Balitklimat TA 2016 ... 11
Tabel 4. Penetapan Kinerja Kegiatan Balitklimat tahun 2016 ... 12
Tabel 5. Hasil Pengukuran Kinerja Balitklimat Tahun 2016 ... 16
Tabel 6. Target dan realisasi pencapaian indikator kinerja sasaran 1 ... 19
Tabel 7. Target dan Realisasi Pencapaian Indikator Kinerja sasaran 2 ... 65
Tabel 8. Jadwal Seminar harian ... 72
Tabel 9. Judul publikasi/karya tulis ilmiah ... 75
Tabel 10. Daftar Hak Cipta Sudah Sertifikat Desain Pengelolaan Air Kebun Percobaan sebanyak 21 Lokasi yaitu; ... 82
Tabel 11. Daftar Surat Keterangan 21 HKI Desain KP ... 83
Tabel 12. Target dan Capaian IKU Baliktlimat pada TA 2016 ... 87
Tabel 13. Capaian kinerja IKU BalitklimatTahun 2015 – 2019... 89
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Tampilan SI katam untuk MK 2016 dan MH 2016/2017 ... 21
Gambar 2. Monitoring online katam terpadu menggunakan CCTV ... 22
Gambar 3. Wilayah dan indeks iklim global paling signifikan positif pada DJF ... 26
Gambar 4. Indikator deteksi dini kekeringan dan banjir tanaman padi ... 26
Gambar 5. Analisis ketersediaan air spasial dan temporal pada wilayah administratif (kecamatan atau kabupaten) ... 27
Gambar 7. Ekplorasi sumberdaya air ... 29
Gambar 8. Optimalisasi sumberdaya air ... 30
Gambar 9. Percobaan implementasi irigasi pada tanaman cabe di Sukabumi ... 31
Gambar 10. Percobaan implementasi irigasi pada tanaman cabe di Sukabumi ... 31
Gambar 11. Percobaan implementasi irigasi pada tanaman bawang merah di Bantul ... 32
Gambar 13. Hasil prediksi perkembangan hujan 2016 ... 35
Gambar 14. Peta tingkat kerentanan usaha tani pangan dan risiko banjir kabupaten/kota di Pulau Jawa ... 39
Gambar 15. Peta tingkat kerentanan usaha tani pangan dan risiko banjir kabupaten/kota di Pulau Jawa ... 39
Gambar 16. Desain polder kecamatan Labuan amas utara ... 41
Gambar 17. Sumber air polder Labuan Amas Utara ... 42
Gambar 18. Lokasi demfarm IP Padi 100 di Kab. Lampung Tengah ... 44
Gambar 19. Potensi sumberdaya air permukaan Sungai Way Seputih ... 44
Gambar 20. Dam parit/bendung Tampala Parangloe, Maros, Sulawesi Selatan ... 46
Gambar 22. Pembukaan lahan tanpa bakar & dibakar ... 50
Gambar 23. FGD ekuatorial di Padang ... 55
Gambar 24. Temu lapang dan ekspose teknologi pengelolaan iklim ekstrim dan air Makassar, 18-21 oktober 2016 ... 56
Gambar 26. Sampul Prosiding Temu Lapang dan Ekspose Teknologi Pengelolaan Iklim Ekstrim dan Air ... 57
Gambar 27. Contoh buletin ... 67
Gambar 28. Cover Buletin Balitklimat 2016 ... 68
Gambar 30. Booklet Balitklimat tahun 2016 ... 70
Gambar 32. Seminar PKL Mahasiswa Program Keahlian Teknik Komputer Program
Diploma IPB. 31 Maret 2016 ... 71
Gambar 33. Beberapa kegiatan saat pameran di karawang Pengelolaan OPT Berteknologi Tinggi, Ramah Lingkungan Berkelanjutan ... 74
Gambar 34. Kunjungan Tamu ke Balitklimat setiap bulan ... 75
Gambar 35. Beberapa contoh Cover Desain Pengelolaan Air KP ... 81
Gambar 36. Contoh Sertifikat HKI Desain 21 KP tahun 2016 ... 85
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Tim Penyusun LAKIN Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi ... 90
Lampiran 2. Struktur Organisasi Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi ... 90
Lampiran 3. Penetapan Kinerja Tahunan Balitklimat TA 2016 ... 90
Lampiran 4. Pagu dan Realisasi Per Output Balitklimat TA 2016 ... 90
IKHTISAR EKSEKUTIF
Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) telah menetapkan tujuan utama yang ingin dicapai sebagaimana yang tertuang dalam IKU tahun 2015-2019 sebagai berikut: (1) Menghasilkan teknologi dan model pengelolaan sumber daya iklim dan air terpadu mendukung pertanian bioindustri berkelanjutan; (2) Menghasilkan Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu tanaman pangan lahan sawah di seluruh Indonesia; (3) Menghasilkan model numerik hidroklimatologis dan sistem informasi sumberdaya iklim dan air, (4) Menghasilkan teknologi inovatif dan adaptif untuk pengelolaan sumber daya iklim dan air, dan (5) Menghasilkan bahan rujukan kebijakan terkait dengan sumber daya iklim dan air. Sasaran akhir yang ingin dicapai selama tahun 2015-2019 adalah: (1) Meningkatnya kecepatan, ketepatan dan aksesibilitas serta efisiensi penyajian data dalam bentuk sistem informasi (yang terkini) serta pemanfaatan sistem informasi sumber daya iklim dan air, (2) Meningkatnya pendayagunaan sumber daya iklim dan air untuk produksi pertanian serta mitigasi bencana. Tujuan utama yang ingin dicapai tahun 2015-2019 tersebut, menjadi dasar dalam menentukan sasaran strategis yang ingin dicapai pada tahun anggaran 2016yang dituangkan dalam Penetapan Kinerja (PK) yakni: (1) Tersedianya data, informasi geospasial/peta, sistem informasi, teknologi, dan rekomendasi pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya air dan iklim pertanian mendukung sistem pertanian berkelanjutan dengan 2 (dua) indikator kinerja, dan (2) Terselenggaranya diseminasi hasil penelitian teknologi agroklimat dan hidrologi dengan 1 (satu) indikator kinerja. Berdasarkan hasil Pengukuran Pencapaian Kinerja (PPK) sampai akhir bulan Desember 2016, seluruh indikator kinerja sasaran yang ditetapkan telah berhasil diselesaikan dengan rata-rata persentase capaian 264,28% (sangat berhasil).
Faktor-faktor penghambat/kendala yang dihadapi oleh para peneliti dalam upaya pencapaian indikator kinerja antara lain: faktor alam, faktor fisik dan faktor SDM. Faktor alam berupa pengaruh cuaca ekstrim dan endemik penyakit, serta perubahan iklim; faktor fisik berupa keterbatasan data primer dan sekunder secara spasial dan temporal, keterbatasan jumlah stasiun pengamat iklim dan hidrologi; faktor SDM berupa keterbatasan SDM berkualitas dan berkeahlian khusus dan tingkat adopsi petani terhadap teknologi yang masih rendah.
Keterbatasan data primer dan sekunder secara spasial dan temporal diatasi melalui kerjasama dengan institusi terkait untuk melakukan sharing data, jumlah
stasiun pengamat iklim dan hidrologi terbatas dapat diatasi dengan membangkitkan data dari stasiun iklim terdekat (interpolasi dan ekstrapolasi) dan menggunakan aplikasi model hidrologi berbasis spasial dan temporal. Untuk mengatasi pengaruh cuaca ekstrim dan endemik penyakit dapat diatasi dengan melakukan percobaan di rumah kaca yang terkontrol kondisi iklim dan lingkungannya, perubahan iklim dapat diatasi dengan penyesuaian pola dan waktu tanam, pemanfaatan air yang efisien dan penjadwalan irigasi. Adapun keterbatasan SDM berkualitas dan berkeahlian khusus dapat diatasi dengan menggunakan tenaga outsourcing dan melibatkan tenaga luar yang memenuhi kualifikasi sesuai kebutuhan, dan tingkat adopsi teknologi rendah dapat diatasi dengan sekolah lapang dan demplot gelar teknologi melalui implementasi di lapangan.
Untuk membiayai pencapaian sasaran strategis di Balitklimat, pada tahun anggaran 2016, berdasarkan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) revisi terakhir (revisi DIPA 4), Baliktlimat mendapat anggaran sebesar Rp 15.175.999.000,-. Anggaran tersebut digunakan untuk membiayai seluruh kegiatan dengan target capaian output sebagaimana yang tercantum dalam dokumen Penetapan Kinerja (PK) yang ditandatangani oleh Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian dengan Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan hidrologi. Target capaian output tersebut diantaranya: (1) menghasilkan 5 Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Air dan Iklim Pertanian Mendukung Sistem Pertanian Modern, (2) menghasilkan 6 Rekomendasi Kebijakan Pemanfaatan dan pengelolaan Sumber Daya Lahan, Air, dan Lingkungan serta Perubahan Iklim, dan (3) menghasilkan produk inovasi yang terdistribusikan berupa 4 Publikasi, 2 KTI, 1 HKI.
Hingga 31 Desember 2016, total realisasi anggaran yang berhasil diserap oleh Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi sebesar Rp. 14.391.772.029,- atau 94,83% dari pagu hasil revisi terakhir sebesar Rp 15.175.999.000,-. Dengan demikian sisa anggaran yang tidak terserap sebesar Rp 784.226.971,- atau 5,17%. Untuk capaian fisik kegiatan rata-rata mencapai 100%. Pencapaian target sasaran yang berhasil direalisasikan oleh Baliktlimat sampai 31 Desember 2016 adalah sebagai berikut: (1) menghasilkan 5 teknologi pengelolaan sumber daya air dan iklim pertanian mendukung sistem pertanian berkelanjutan dari target 5 teknologi, (2) menghasilkan 6 rekomendasi kebijakan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya lahan, air, dan lingkungan serta perubahan iklim, dan (3) menghasilkan 4 produk inovasi yang dari 1 target produk inovasi yang dideminasikan. Inovasi yang didiseminasikan didukung dengan 4 Publikasi, 2 KTI, 1 HKI.
Dengan capaian tersebut, Balitklimat telah dapat melaksanakan kegiatan dengan tingkat pencapaian sasaran strategis sebesar 264,28% (sangat berhasil).
BAB I PENDAHULUAN
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor:
69/Kpts/OT.210/1/2002 tanggal 29 Januari 2002, Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi merupakan salah satu Balai Nasional yang secara struktural berada di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Dengan adanya perubahan organisasi lingkup Departemen Pertanian, yang tertuang dalam SK Menteri Pertanian No. 300/Kpts/OT.140/7/2005 tanggal 25 Juli 2005, Puslitbangtanak berubah nama menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian, fungsi koordinasi Balitklimat secara otomatis melekat pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP).
Berdasarkan Permentan Nomor: 22/Permentan/OT.140/3/2013, tugas Pokok dan Fungsi Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi adalah: (1). Pelaksanaan penyusunan program, rencana kerja, anggaran, evaluasi, dan laporan penelitian agroklimat dan hidrologi; (2). Pelaksanaan inventarisasi data dan informasi sumber daya agroklimat dan hidrologi; (3). Pelaksanaan penelitian sumber daya iklim dan air; (4). Pelaksanaan penelitian komponen teknologi pengelolaan sumber daya iklim dan air; (5). Pemberian pelayanan teknis penelitian agroklimat dan hidrologi; (6). Penyiapan kerja sama, informasi, dokumentasi, serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil penelitian agroklimat dan hidrologi; dan (7). Pelaksanaan urusan kepegawaian, keuangan, rumah tangga, dan perlengkapan Balitklimat.
Dalam menjalankan perannya ke depan, permasalahan yang dihadapi semakin kompleks, seperti:(1) terjadinya degradasi sumber daya lahan dan pencemaran, (2) alih fungsi lahan, (3) land rent dan fragmentasi lahan,(4) pemanasan global dan perubahan iklim, (5) meluasnya lahan terlantar, dan (6) masih rendahnya diseminasi inovasi teknologi.
Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan langkah-langkah visioner melalui optimalisasi pemanfaatan dan peningkatan sumber daya penelitian yang dimiliki.
Balitklimat dalam era pembangunan yang makin kompetitif dituntut untuk menghasilkan penciptaan teknologi pertanian yang memiliki nilai tambah ekonomi yang tinggi untuk mendukung peran Balitbangtan dalam pembangunan pertanian(impact recognition) dan nilai ilmiah tinggi (scientific mission/recognition)
untuk pencapaian status sebagai lembaga penelitian berkelas dunia (a world class research institution). Perubahan lingkungan strategis baik internal maupun eksternal harus dijawab dengan meningkatkan prioritas dan kualitas hasil Balitbangtan yang berorientasi pasar baik domestik maupun internasional dan berdaya saing tinggi. Guna menjawab kesemuanya itu, ke depan Balitklimat akan meningkatkan kerja sama/networking baik dengan pemerintah daerah, lembaga penelitian, dan pelaku usaha nasional maupun internasional.
Peran Balitklimat harus didukung oleh sumber daya yang memadai (SDM, pendanaan, dan sarana-prasarana). Berdasarkan data per 31 Desember 2016, jumlah SDM Baliktlimat sebanyak 86 orang terdiri dari 61 orang PNS kelompok fungsional (Tenaga Peneliti sebanyak 23 orang, Peneliti Non Klasifikasi sebanyak 9 orang, Teknisi Litkayasa sebanyak 9 orang, Pustakawan sebanyak 1 orang, Arsiparis sebanyak 2 orang, dan Fungsional Umum/Fungsional lainnya sebanyak 17 orang). Selain itu juga dibantu oleh tenaga PPNPN (Pegawai Pemerintan Non PNS) terdiri dari 12 orang tenaga teknis dan administrasi, satpam 6 orang serta petugas kebersihan sebanyak 5 orang.
Salah satu sarana pendukung untuk pelaksanaan kegiatan penelitian di Balitklimat adalah Laboratorium Agrohidromet. Laboratorium Agrohidromet digunakan untuk membantu institusi dalam memecahkan permasalahan instrumentasi dan data terkait kegiatan penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Lab Agrohidromet juga melayani dari luar institusi. Aset penting laboratorium adalah database dan instrumentasi untuk mendukung pengukuran terkait pelaksanaan kegiatan Agroklimat dan Hidrologi, seperti; AWS, AWLR, serta intrumentasi lainnya.
BAB II
PERENCANAAN KINERJA DAN PERJANJIAN KINERJA
2.1. Perencanaan Strategis
Indikator Kinerja Utama (IKU) Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi 2015-2019 merupakan lanjutan dari Renstra 2010-2014, yang disesuaikan dengan dinamika lingkungan strategis global maupun nasional, terutama dalam aspek sumber daya lahan pertanian. IKU ini disusun dalam rangka memenuhi Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang kewajiban bagi setiap Kementerian/Lembaga (K/L) untuk menyusun Renstra dan Laporan Kinerja (LAKIN).
Penyusunan IKU Balitklimat 2015-2019 mengacu dan berpedoman pada Renstra Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Renstra Kementerian Pertanian2015-2019, dan Renstra Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2015-2019 serta Renstra Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian 2015-2019. Secara operasional, Renstra-Renstra tersebut menjadi acuan dalam penyusunan Renstra unit pelaksana teknis (UPT) yang dalam penjabarannya disesuaikan dengan dinamika lingkungan strategis pembangunan nasional dan respon stakeholders.
2.1.1. Visi
“Menjadi balai penelitian bertaraf internasional yang menghasilkan teknologi tepat guna dan informasi sumber daya iklim dan air yang akurat, real time dan profesional untuk mendukung pembangunan pertanian”.
2.1.2. Misi Balitklimat
(1) Membangun dan mengembangkan sistem informasi sumber daya iklim dan air dengan memanfaatkan teknologi mutakhir untuk pengambil kebijakan, perencana, dan pelaksana;
(2) Melaksanakan penelitian pengembangan teknologi agroklimat dan hidrologi untuk pendayagunaan sumber daya iklim dan air dan mengantisipasi terjadinya kerugian karena bencana anomali dan perubahan iklim untuk mendukung ketahanan pangan;
(4) Mendiseminasikan hasil penelitian agroklimat dan hidrologi dengan membangun kerja sama yang sinergis dengan Institusi dalam dan luar negeri. 2.1.3. Tujuan dan Sasaran
Tujuan Utama
Tujuan utama Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut:
(1) Menghasilkan teknologi dan model pengelolaan iklim dan air terpadu mendukung pertanian berkelanjutan
(2) Menghasilkan sistem informasi kalender tanam terpadu serta pengelolaan sumberdaya iklim dan air untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
(3) Menghasilkan sistem informasi dan data base, serta analisis iklim dan hidrologi
(4) Menghasilkan teknologi inovatif dan analisis sistem pengelolaan sumberdaya Iklim dan Air
(5) Menghasilkan bahan rujukan kebijakan terkait dengan sumber daya iklim dan air.
Sasaran Strategis
Sasaran strategis yang ingin dicapai Balitklimat pada periode 2015-2019 adalah:
(1) Tersedianya data, informasi, dan peningkatan inovasi teknologi pengelolaan sumberdaya iklim dan air
(2) Meningkatnya kecepatan, ketepatan, dan aksesibilitas serta efisiensi penyajian data, dalam bentuk sistem informasi (yang terkini) serta pemanfaatan sistem informasi sumber daya iklim dan air;
(3) Terselenggaranya diseminasi inovasi teknologi sumber daya iklim dan air dan meningkatnya pendayagunaan sumber daya iklim dan air untuk produksi pertanian serta mitigasi bencana.
2.1.4. Target Utama Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi
Dalam lima tahun (2015-2019), Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi mempunyai beberapa target utama diberbagai bidang penelitian dan diseminasi, yaitu:
(1) Pengembangan dan advokasi sistem informasi kalender tanam terpadu dalam upaya adaptasi perubahan iklim;
(2) Penelitian key area keragaman iklim indonesia dalam menghadapi dampak perubahan iklim;
(3) Sistem informasi sumber daya air mendukung pemanfaatan sumber daya air berkelanjutan;
(4) Penelitian dan pengembangan model food smart village pada lahan kering untuk adaptasi perubahan iklim;
(5) Penelitian teknologi inovatif dan adaptif untuk efisiensi pengelolaan sumber daya iklim dan air;
(6) Monitoring online dinamika ketersediaan air daerah irigasi mendukung upaya peningkatan produktivitas lahan sawah irigasi;
(7) Pengembangan pompa air tenaga surya untuk irigasi dalam upaya mendukung peningkatan produksi di lahan kering;
(8) Penelitian kalender tanam terpadu untuk mendukung UPSUS PAJALE pada lahan sawah irigasi dan lahan rawa untuk adaptasi perubahan iklim;
(9) Penelitian dan pengembangan analisis key area iklim dan neraca air PAJALE mendukung UPSUS;
(10) Penelitian teknologi pengelolaan sumberdaya iklim dan air terpadu pada berbagai agroekosistem mendukung UPSUS PAJALE, cabe merah dan kakao; (11) Penelitian dan pengembangan pompa radiasi surya untuk kedelai, cabe merah
dan bawang merah;
(12) Penelitian penentuan Kc tanaman kakao untuk pengembangan neraca air tanaman dalam menghadapi perubahan iklim;
(13) Analisis sumber daya iklim dan air untuk rekomendasi waktu tanam dan produksi pajale spesifik lokasi menghadapi perubahan iklim;
(14) Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Resiko Keragaman Iklim dan Iklim Ekstrim Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
(15) Model pengelolaan air terpadu untuk peningkatan produksi dan indeks pertanaman menghadapi perubahan iklim;
(16) Penelitian teknologi inovatif dan adaptif pengelolaan sumber daya iklim dan air untuk mendukung pertanian;
2.1.5. Program dan Kegiatan
Pada periode 2015-2019, Balitbangtan menetapkan kebijakan alokasi sumber daya Litbang menurut komoditas prioritas ditetapkan oleh Kementerian Pertanian terdiri dari: padi, jagung, kedelai, sapi, dan tebu. Sementara yang termasuk dalam 35
fokus komoditas yaitu: Pangan (padi, kedele, jagung, ubi kayu, dan kacang tanah), Hortikultura (kentang, cabe merah, bawang merah, mangga, manggis, pisang, anggrek, durian, rimpang, dan jeruk), Perkebunan (kelapa sawit, karet, kelapa, kakao, kopi, lada, jambu mete, tanaman serat, tebu, tembakau, dan cengkeh), serta Peternakan (sapi potong, kambing, domba, babi, ayam buras, dan itik).
Berdasarkan orientasi outputnya, program penelitian dan pengembangan di masing-masing unit kerja penelitian diarahkan pada 2 kategori, sebagai berikut:
a. Program Bertujuan Nilai Tambah Ilmiah (Scientific Recognation) adalah kegiatan untuk menghasilkan inovasi teknologi, diseminasi, dan kelembagaan pendukung untuk peningkatan produksi 5 komoditas prioritas dan 30 fokus komoditas pertanian.
b. Program Bertujuan Nilai Tambah Komersial (Impact Recognation) adalah kegiatan Balitbangtan untuk mendukung program strategis Kementerian Pertanian.
Berdasarkan sasarannya, maka dalam pelaksanaannya, program litbang sumber daya lahan pertanian dipilah atas tiga koridor atau klaster utama, yaitu:
a. Program penelitian “in house” yang lebih hulu dan berorientasi untuk menghasilkan invensi, paten, dan produk-produk ilmiah termasuk Karya Tulis Ilmiah (KTI).
b. Program Penelitian dan Pengembangan untuk mendukung Program Empat Sukses Pembangunan Pertanian.
a. Program Penelitian dan Pengembangan untuk memecahkan masalah-masalah strategis dan global, seperti fenomena perubahan iklim, krisis energi, dan lain-lain.
Prioritas penelitian yang dilaksanakan oleh Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi adalah identifikasi, karakterisasi, evaluasi, dan pengelolaan sumber daya iklim dan air serta teknologi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk mendukung pembangunan pertanian.
Dalam lima tahun (2015-2019), Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, berinisiatif untuk juga mengambil peran di depan dalam merespons berbagai isu yang berkaitan dengan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Seluruh kegiatan penelitian tersebut dilaksanakan dan telah ditetapkan dalam IKU Balitklimat
2015-2019 sebagai Rencana Tindak (Program SATKER) untuk mendukung Program Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
1. Program Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim untuk Pengembangan Pertanian
a. Pengembangan dan Advokasi Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu dalam Upaya Adaptasi Perubahan Iklim.
b. Penelitian Key Area Keragaman Iklim Indonesia dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim.
c. Sistem Informasi Sumber daya Air mendukung Pemanfaatan Sumber daya Air Berkelanjutan.
d. Penelitian dan Pengembangan Model Food Smart Village pada Lahan Kering untuk Adaptasi Perubahan Iklim.
e. Penelitian dan Pengembangan Teknologi Inovatif dan Adaptif untuk Pengelolaan Sumberdaya Iklim dan Air.
f. Monitoring Online Dinamika Ketersediaan Air Daerah Irigasi.
g. Pengembangan Pompa Air Tenaga Surya untuk Irigasi dalam Upaya Mendukung Peningkatan Produksi di Lahan Kering.
h. Analisis dan pengelolaan informasi sumberdaya iklim dan air untuk antisipasi dan adaptasi perubahan iklim global dan iklim ekstrim (6 Rekomendasi)
2. Pengkajian dan Percepatan Diseminasi Inovasi Pertanian
Program pengkajian dan percepatan diseminasi inovasi pertaian diharapkan dapat menjembatani apa yang dilaksanakan Puslit/BB/LRPI dengan apa yang dibutuhkan pengguna di berbagai tingkatan di daerah. Upaya memadukan apa yang dihasilkan berbagai UK/UPT Balitbangtandengan lokal genius yang dikembangkan masyarakat merupakan inti dari program pengkajian dan percepatan diseminasi inovasi pertanian, sehingga dapat meningkatkan diseminasi hasil-hasil penelitian sumber daya iklim dan air.
3. Pengembangan Kelembagaan dan Komunikasi Hasil Litbang
Kegiatan pengembangan kelembagaan mencakup pengembangan budaya kerja inovatif, reformasi birokrasi, pengembangan sumber daya Litbang (SDM, sarana, dan prasarana) diikuti pengembangan standarisasi dan akreditasi lembaga
dan pranata Litbang. Guna memicu output optimal, maka diperlukan pengembangan manajemen teknologi informasi dan sistem informasi serta koordinasi jaringan kerjasama penelitian dan pengkajian. Reformasi perencanaan dan penganggaran, penyempurnaan sistem monitoring dan evaluasi, antara lain:
1. Pengembangan sumber daya manusia bidang agroklimat dan hidrologi; 2. Pengembangan sarana dan prasarana penelitian dan pengembangan
sumber daya agroklimat dan hidrologi;
3. Pengembangan sistem informasi, komunikasi dan umpan balik inovasi penelitian sumber daya iklim dan Air;
4. Peningkatan kapasitas penerbitan publikasi dan dokumentasi hasil-hasil penelitian sumber daya agroklimat dan hidrologi;
5. Kegiatan pengembangan perpustakaan dan penyebaran teknologi pertanian;
6. Peningkatan kerjasama penelitian dan pengembangan dengan lembaga Nasional dan atau Internasional.
2.1.6. Indikator Kinerja Utama
Indikator kinerja utama merupakan ukuran keberhasilan dari pencapaian suatu tujuan dan sasaran strategis organisasi yang digunakan untuk perbaikan kinerja dan peringkat akuntabilitas kinerja ke depan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran Balitklimat periode lima tahun, maka disusun Program Utama 2015-2019 dengan rencana tindak dan indikator kinerja utama (IKU) seperti disajikan pada Tabel 1.
Rencana Tindak Indikator Kinerja Utama Penelitian dan Pengembangan
Sumber Daya Iklim dan Air Pertanian Mendukung Pertanian Berkelanjutan
Jumlah sistem informasi kalender tanam terpadu pada setiap musim tanam, sistem informasi sumber daya air nasional;
Jumlah teknologi pengelolaan sumber dayaiklim dan air untuk pengembangan food smart village, prediksi iklim danindikator perubahan iklim berdasarkan key area, pemanfatan sumber energi alamiah untuk optimalisasi pengelolaan sumberdaya air (pompa air tenaga surya), sensor curah hujan untuk pertanian presisi, penentuan penciri iklim mikro untuk peningkatan produktivitas tanaman,identifikasi dan desain infrastruktur panen air untuk peningkatan indeks pertanaman, monitoring online dinamika ketersediaan air petak tersier;
Jumlah peta key area keragaman iklim Indonesia, potensi sumber daya air Indonesia, peta kerentanan usaha tani pangan dan risiko iklim pada kondisi iklim ekstrim berbasis sumberdaya lahan, iklim, dan air
Pengkajian dan percepatan diseminasi hasil penelitian agroklimat dan hidrologi
Jumlah buletin agroklimat dan hidrologi, laporan tahunan agroklimat dan hidrologi, buku/juknis desain pengelolaan air kebun percobaan lingkup Balitbangtan dan pengelolaan stasiun iklim otomatis (AWS) lingkup Balitbangtan, info agroklimat dan hidrologi, booklet/monograf agroklimat dan hidrologi
Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Litbang Pertanian
Tersusunnya standar baku SDM di Balitklimat;
Terselenggaranya reformasi birokrasi;
Diperoleh dan dipertahankannya sertifikasi ISO 9001:2008;
Meningkatnya penggunaan dan
terakreditasinya Laboratorium Agrohidromet;. Analisis dan Kebijakan
Pemanfaatan Sumber Daya Lahan Iklim dan Air
Jumlah makalah dan kebijakan tentang mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,
Jumlah makalah dan kebijakan tentang model pengelolaan sumberdaya iklim dan air di lahan kering beriklim kering dan lahan tadah hujan Tabel 1. Rencana Tindak dan Indikator Kinerja Utama (IKU) Tahun 2015-2019
Sedangkan target capaian IKU Baliktlimat pada tahun 2016 adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Target IKU yang ingin dicapai Baliktlimat pada TA 2016
No Indikator Kinerja Utama (IKU) Target 1 Jumlah Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Air
dan Iklim Pertanian Mendukung Sistem Pertanian Berkelanjutan
5
2. Jumlah Rekomendasi Kebijakan Pemanfaatan dan pengelolaan Sumber Daya Lahan, Air, dan Lingkungan serta Perubahan Iklim
6
3a Jumlah publikasi 4
3b Jumlah KTI 2
3c Jumlah HKI 1
2.2. Perencanaan Kinerja Tahun 2016
Dalam dokumen Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tahun Anggaran 2016, telah ditetapkan program, kegiatan utama beserta target output dalam upaya pencapaian sasaran pada TA 2016.
Seluruh kegiatan utama yang dilaksanakan merupakan dukungan terhadap Program Penciptaan Teknologi dan Inovasi Pertanian Bio-Industri Berkelanjutan. Kegiatan utama mendukung sasaran strategis Penelitian dan Pengembangan Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian. Dari kegiatan tersebut, target yang ingin dicapai seperti disajikan pada Tabel 3 berikut:
Tabel 3. Rencana Kinerja Tahunan Balitklimat TA 2016
SASARAN PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET Penelitian dan Pengembangan
Sumber Daya Lahan Pertanian
Tersedianya data, informasi geospasial/peta, sistem informasi, teknologi, dan rekomendasi pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya air dan iklim pertanian mendukung sistem pertanian berkelanjutan
1. Jumlah teknologi
pengelolaan sumber daya air dan iklim pertanian mendukung sistem pertanian modern
5 Teknologi
2. Jumlah rekomendasi kebijakan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya lahan, air, dan lingkungan serta perubahan iklim
6 Rekomendasi
Terselenggaranya diseminasi hasil penelitian agroklimat dan hidrologi
3. Jumlah produk inovasi yang terdistribusikan:
Buletin agroklimat dan hidrologi, Laporan tahunan agroklimat dan hidrologi, Info agroklimat dan hidrologi,
Booklet/monograf/juknis agroklimat dan hidrologi
4 edisi
Prosiding 9 judul
Jurnal nasional dan
internasional 9 judul
Atlas desain irigasi 21 KP
lingkup Balitbangtan 1 HKI
Berdasarkan tabel di atas, pada tahun 2016, Balitklimat mempunyai target: (1) menghasilkan 5 Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Air dan Iklim Pertanian Mendukung Sistem Pertanian berkelanjutan, (2) menghasilkan 6 Rekomendasi Kebijakan Pemanfaatan dan pengelolaan Sumber Daya Lahan, Air, dan Lingkungan serta Perubahan Iklim, serta (3) menghasilkan 4 jenis publikasi (buletin, info,
laporan tahunan, juknis sejumlah 4 publikasi), prosiding (9 judul), jurnal nasional dan internasional (9 judul), atlas desain irigasi (1 HKI).
2.3. Penetapan Kinerja Tahun 2016
Dari dokumen Rencana Kinerja Tahunan, selanjutnya disampaikan kepada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian untuk ditetapkan menjadi Penetapan Kinerja. Berdasarkan Penetapan Kinerja yang ditandatangani oleh Kepala Balai BBSDLP dengan Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi versi perubahan anggaran terakhir pada bulan Agustus 2016, maka Penetapan Kinerja Balitklimat untuk Tahun Anggaran 2016 adalah sebagai berikut:
SASARAN PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET Penelitian dan Pengembangan
Sumber Daya Lahan Pertanian
Tersedianya data, informasi geospasial/peta, sistem informasi, teknologi, dan rekomendasi pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya air dan iklim pertanian mendukung sistem pertanian berkelanjutan1. Jumlah Teknologi
Pengelolaan Sumber Daya Air dan Iklim Pertanian Mendukung Sistem Pertanian Modern, terdiri atas:
a. Teknologi informasi kalender tanam terpadu tanaman padi pada lahan sawah seluruh Indonesia
b. Teknologi informasi Key Area keragaman iklim seluruh Indonesia Mendukung UPSUS PJK c. Teknologi pengelolaan
sumberdaya iklim dan air di lahan tadah hujan Berbasis Model Food Smart Village
d. Teknologi pemanfatan sumber energi alamiah untuk optimalisasi pengelolaan
sumberdaya air (Pompa Air Tenaga Surya)
5 Teknologi
1 Teknologi
1 Teknologi
1 Teknologi
1 Teknologi Tabel 4. Penetapan Kinerja Kegiatan Balitklimat tahun 2016
SASARAN PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET e. Teknologi penentuan
penciri iklim mikro untuk peningkatan
produktivitas tanaman 2. Jumlah Rekomendasi
Kebijakan Pemanfaatan dan pengelolaan Sumber Daya Lahan, Air, dan Lingkungan serta Perubahan Iklim, terdiri atas:
a. Rekomendasi strategi serta rencana aksi adaptasi dan penanggulangan risiko untuk penyelamatan dan pengamanan produksi pangan b. Rekomendasi kebijakan adaptasi perubahan iklim berdasarkan tingkat kerentanan terhadap anomali iklim di Jawa dan Sulawesi
c. Rekomendasi desain pengelolaan air untuk meningkatkan IP Padi di Lampung d. Rekomendasi kebijakan pemanfaatan lahan berbasis potensi sumber daya iklim, air dan tanah pada kawasan
pengembangan PJKU yang potensial dan berpeluang untuk penerapan IP 300 e. Rekomendasi kebijakan antisipasi dan pencegahan 1 Teknologi 6 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi
SASARAN PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET kebakaran hutan pada
kawasan/wilayah khususnya pada lahan gambut, terutama terkait dengan iklim ekstrim dan
perubahan iklim f. Rekomendasi
pengelolaan air di lahan rawa lebak di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel
1 Rekomendasi
Terselenggaranya diseminasi hasil penelitian agroklimat dan hidrologi
Jumlah produk inovasi yang terdistribusikan:
a. Publikasi, terdiri atas:
Buletin agroklimat dan hidrologi
Laporan tahunan
agroklimat dan
hidrologi
Info agroklimat dan hidrologi
Booklet/monograf
agroklimat dan
hidrologi b. 2 KTI, terdiri atas:
Prosiding
Jurnal nasional dan internasional
c. 1 HKI, terdiri atas:
Atlas desain irigasi 21 KP lingkup Balitbangtan 2 edisi 1 edisi 6 edisi 2 edisi 9 buah 9 buah 1 HKI Pagu AnggaranTerakhir (DIPA 4) Rp. 15.175.999.000,-
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
Pada Bab ini diuraikan kriteria keberhasilan (realisasi terhadap target), sasaran kegiatan yang dilaksanakan serta permasalahan dan upaya yang telah dilakukan. Untuk mengukur keberhasilan kinerja, ditetapkan 4 (empat) kategori keberhasilan, yaitu (1) sangat berhasil : > 100 persen; (2) berhasil : 80 – 100 persen; (3) cukup berhasil : 60 – 79 persen; dan (4) tidak berhasil : 0 – 59 persen.
3.1. Pengukuran Pencapaian Kinerja Tahun 2016
Pengukuran capaian kinerja Balitklimat Tahun 2016 dilakukan dengan cara membandingkan antara target indikator kinerja sasaran dengan realisasinya.
Dalam dokumen Penetapan Kinerja Tahunan (PKT) Tahun Anggaran 2016, Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi mempunyai 2 (dua) Sasaran Strategis dengan 4 indikator kinerja sasaran yang ingin dicapai.
Berdasarkan data hasil pengukuran kinerja Balitklimat hingga akhir tahun 2016, Pencapaian Indikator Kinerja sasaran kegiatan adalah sebagai berikut:
SASARAN PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI % Penelitian dan
Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian Tersedianya data, informasi geospasial/peta, sistem informasi, teknologi, dan rekomendasi pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya air dan iklim pertanian mendukung sistem pertanian berkelanjutan 1. Jumlah Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Air dan Iklim Pertanian Mendukung Sistem Pertanian Modern, terdiri atas:
a. Teknologi informasi kalender tanam terpadu tanaman padi pada lahan sawah seluruh Indonesia
b. Teknologi informasi Key Area keragaman iklim seluruh Indonesia Mendukung UPSUS PJK c. Teknologi pengelolaan sumberdaya iklim dan air di lahan tadah hujan Berbasis Model Food Smart Village
d. Teknologi
pemanfatan sumber energi alamiah untuk optimalisasi
pengelolaan sumberdaya air (Pompa Air Tenaga Surya)
e. Teknologi penentuan penciri iklim mikro untuk peningkatan 1 Teknologi 1 Teknologi 1 Teknologi 1 Teknologi 1 Teknologi 1 Teknologi 1 Teknologi 1 Teknologi 1 Teknologi 1 Teknologi 100 100 100 100 100 Tabel 5. Hasil Pengukuran Kinerja Balitklimat Tahun 2016
SASARAN PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI % produktivitas tanaman 2. Jumlah Rekomendasi Kebijakan Pemanfaatan dan pengelolaan Sumber Daya Lahan, Air, dan Lingkungan serta Perubahan Iklim, terdiri atas: a. Rekomendasi strategi serta rencana aksi adaptasi dan penanggulangan risiko untuk penyelamatan dan pengamanan produksi pangan b. Rekomendasi kebijakan adaptasi perubahan iklim berdasarkan tingkat kerentanan terhadap anomali iklim di Jawa dan Sulawesi c. Rekomendasi desain pengelolaan air untuk meningkatkan IP Padi di Lampung d. Rekomendasi kebijakan pemanfaatan lahan berbasis potensi sumber daya iklim, air dan tanah pada kawasan
pengembangan PJKU yang potensial dan berpeluang untuk penerapan IP 300 e. Rekomendasi kebijakan antisipasi dan pencegahan 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 100 100 100 100 100
SASARAN PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI % kebakaran hutan pada kawasan/wilayah khususnya pada lahan gambut, terutama terkait dengan iklim ekstrim dan perubahan iklim f. Rekomendasi
pengelolaan air di lahan rawa lebak di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel 1 Rekomendasi 1 Rekomendasi 100 Terselenggaranya diseminasi teknologi hasil penelitian agroklimat dan hidrologi
Jumlah produk inovasi yang terdistribusikan
a.
Jumlah Publikasi Buletin agroklimat dan hidrologi, Laporan tahunan agroklimat dan hidrologi, Info agroklimat dan hidrologi, Booklet/monograf/ agroklimat dan hidrologi b. Jumlah KTI Prosiding Jurnal nasional dan internasional c. Jumlah HKI
Atlas desain irigasi 21 KP lingkup Balitbangtan 2 edisi 1 edisi 6 edisi 2edisi 9 buah 9 buah 1 HKI 1 edisi 1 edisi 6 edisi 2 edisi 27 buah 23 buah 21 HKI 50 100 100 100 300 250 2100 Pagu Anggaran Rp. 15.175.999.000,-Realisasi Anggaran Rp. 14.391.772.029,- (94,83%)
Berdasarkan tabel di atas, capaian indikator kinerja tahun 2016 untuk sasaran pertama mencapai 100% menunjukkan tingkat keberhasilan berhasil, sedangkan
untuk sasaran kedua mencapai 428,57% dikarenakan capaian Karya tulis ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual melampaui target yang direncanakan dengan katagori tingkat capaian sangat berhasil. Dengan demikian capaian kinerja keseluruhan Baliktlimat TA 2016 adalah 264,28% dengan katagori tingkat capaian Sangat Berhasil.
Beberapa kendala umum yang dihadapi dalam upaya pencapaian sasaran tersebut antara lain: faktor alam berupa pengaruh cuaca ekstrim dan endemik penyakit, serta perubahan iklim; faktor fisik berupa keterbatasan data primer dan sekunder secara spasial dan temporal, keterbatasanjumlah stasiun pengamat iklim dan hidrologi; faktor SDM berupa keterbatasan SDM berkualitas dan berkeahlian khusus dan tingkat adopsi petani terhadap teknologi yang masih rendah.
3.2. Analisis Capaian Kinerja
Analisis akuntabilitas kinerja tahun 2016 Balitklimat dapat dijelaskan sebagai berikut :
Sasaran 1 : Tersedianya data, informasi geospasial/peta, sistem informasi, teknologi, dan rekomendasi pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya air dan iklim pertanian mendukung sistem pertanian berkelanjutan
Untuk mengukur capaian sasaran tersebut, diukur dengan 2 (dua) indikator kinerja sasaran. Adapun pencapaian target indikator kinerja sasaran dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 6. Target dan realisasi pencapaian indikator kinerja sasaran 1
Indikator Kinerja Target Realisasi %
1. Jumlah Teknologi Pengelolaan Sumber Daya Air dan Iklim Pertanian Mendukung Sistem Pertanian Modern 2. Jumlah Rekomendasi
Kebijakan Pemanfaatan dan pengelolaan Sumber Daya Lahan, Air, dan Lingkungan serta Perubahan IklimJumlah 5 Teknologi 6 Rekomendasi 5 Teknologi 6 Rekomendasi 100 100
Indikator Kinerja Target Realisasi % informasi geospasial
sumber daya lahan pertanian
Berdasarkan data realisasi indikator kinerja sasaran pada Tabel 6 di atas, pada tahun 2016 berhasil menyelesaikan output 5 Teknologi atau 100% dari target, serta 6 rekomendasi kebijakan atau 100% dari target. Dengan demikian kategori keberhasilan pencapaian indikator kinerja sasaran 1 adalah berhasil, karena capaiannya 100%.
Keberhasilan pencapaian indikator kinerja pertama, tidak terlepas dari perencanaan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh setiap Tim dalam melaksanakan kegiatan penelitian.
Adapun pencapaian indikator kinerja 5 teknologi diuraikan sebagai berikut: Penelitian Kalender Tanam Terpadu untuk Mendukung UPSUS PAJALE pada Lahan Sawah Irigasi dan Lahan Rawa untuk Adaptasi Perubahan Iklim
Teknologi informasi kalender tanam terpadu tanaman padi pada lahan sawah seluruh Indonesia dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:
Penyusunan sistem informasi Katam Terpadu dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, diseminasi informasi katam terpadu. Diseminasi Katam Terpadu dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung melalui internet menggunakan telepon pintar berbasis android dan website, selain itu melalui komunikasi nirkabel menggunakan sms. Secara tidak langsung diseminasi dilakukan melalui Tim Gugus Tugas Katam Provinsi. Bahan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan ini, diantaranya adalah: (1) peta digital hasil prakiraan hujan musiman level kecamatan dari BMKG, (2) informasi kalender tanam yang telah diperbaruhi sesuai dengan jumlah kecamatan dari BPS 2010, (3) informasi wilayah rawan bencana (kekeringan/banjir dan OPT) pada level kabupaten/ kecamatan yang telah diperbaruhi, (4)rekomendasi varietas dan kebutuhan benih pada level kecamatan yang telah diperbaruhi, (5) rekomendasi dan kebutuhan pupuk padi sawah, jagung, dan kedelai pada level kecamatan yang telah diperbaharui. Selain bahan tersebut di atas diperlukan juga perangkat lunak sebagai berikut: ArcGIS Desktop 10 untuk penyiapan data vektor seperti peta rupa bumi, dan peta sawah digital, ArcPy untuk pembuatan otomatisasi pembuatan peta per
tingkat administrasi, Visual Basic Studio .NET 2010 sebagai alat untuk pengembangan aplikasi perangkat lunak berbasis ASP.NET, ArcGIS Server 10, merupakan komponen server pendukung untuk keperluan publikasi peta digital melalui media internet atau berbasis web.
Kegiatan terdiri dari beberapa sub kegiatan diantaranya: (1) pengembangan sistem katam terpadu, (2) pemutakhiran prediksi iklim global dan model integrasi prediksi iklim dan awal tanam untuk mendukung sistem informasi kalender tanam terpadu (MK 2016 dan MH 2016/2017), (3) informasi prediksi spasial ketersediaan air dan luas panen tingkat kecamatan untuk setiap musim tanam berdasarkan skenario awal tanam, (4) pemutakhiran wilayah rawan bencana kekeringan, banjir dan serangan OPT pada tanaman padi, jagung dan kedelai (MK 2016 dan MH 2016/2017), (5) pemutakhiran rekomendasi varietas dan kebutuhan benih yang terbarukan untuk mendukung sistem informasi kalender tanam terpadu (MK 2016 dan MH 2016/2017), (6) informasi pemupukan mendukung percepatan peningkatan produksi padi, jagung, kedelai (MK 2016 dan MH 2016/2017), (7) advokasi sistem informasi kelender tanam terpadu melalui FGD, dan koordinasi/pendampingan GT katam dan PI, dan (8) buletin untuk mendukung sistem informasi kalender tanam terpadu.
Gambar 2. Monitoring online katam terpadu menggunakan CCTV
Keluaran yang dicapai adalah : (1) 2 versi sistem informasi kalender tanam terpadu MK 2016 dan MH 2016/2017 (sistem katam MK 2016 dan MH 2016/2017 yang terbarukan, verifikasi dan validasi informasi katam terpadu dan standing crop, 1 model updating integrasi katam rawa, model integrasi dat dan bioremediasi), (2) Pemutakhiran prediksi iklim global dan model integrasi prediksi iklim dan awal tanam untuk mendukung SI Katam terpadu MK 2016 dan MH 2016/2017 (2 paket informasi prediksi awal MK 2016 dan MH 2016/2017, 2 paket informasi prediksi awal tanam dan potensi luas tanam MK 2016 dan MH 2016/2017 pada SI Katam Terpadu, dan informasi perkembangan iklim Indonesia 2016, (3) informasi prediksi spasial ketersediaan air dan luas panen tingkat kecamatan untuk setiap musim tanam berdasarkan skenario awal tanam, (4) pemutakhiran wilayah rawan bencana kekeringan, banjir dan rawan OPT pada tanaman padi, jagung dan kedelai (MK 2016 dan MH 2016/2017), (5) informasi rekomendasi varietas dan kebutuhan benih yang terbarukan untuk mengurangi risiko kehilangan hasil padi, jagung dan kedelai akibat kerawanan banjir, kekeringan, dan OPT serta mendukung SI Katam Terpadu (MK 2016 dan MH 2016/2017), (6) informasi pemupukan mendukung percepatan peningkatan produksi padi, jagung, kedelai (MK 2016 dan MH 2016/2017), (7) 1 model updating model rekomendasi dan kebutuhan alsintan, (8) 1 model integrasi data dan peta bioremediasi untuk mendukung Katam Terpadu, dan (9) advokasi sistem informasi Katam terpadu
Hasil yang telah dicapai dari kegiatan pengembangan SI Katam Terpadu diantaranya: pemutakhiran MK 2016, MH 2016/2017 dan updating web, katam SMS, dan Katam Android. Fitur yang terbaruyaitu: penambahan halaman prediksi curah hujan dan musim dari situs web IRI Columbia, updating data alsintan, dan
penambahan fitur baru perhitungan biaya sewa alsin dan analisis Benefit Cost Ratio (BCR) untuk alsin traktor roda 2 dan combine harvester baik dalam bentuk web interaktif maupunmicrosoft excel.Hail analisis standing cropdapat diterima dengan baik oleh stakeholder baik melalui email, web direktori agrogis,info dan situs web Katam. Integrasi ternak telah dikembangkan, data informasi yang didapatkan dari Katam pdf dan katam web dalam bentuk peta, data tabular, grafik yang interaktif. Untuk kegiatan prediksi iklim dihasilkan informasiawal waktu tanam dominan pada MK 2016 diprediksi terjadi pada April II-III seluas 2.643.648 Ha (42,4%), Mei I-II seluas 1.414.799 Ha (22,7%) dan Mei III-Juni I 2016 seluas 1.819.098 Ha (29,2%). Potensi luas tanam di lahan sawah secara nasional pada MK 2016 untuk padi sawah seluas 5.710.620 Ha, padi rawa seluas 528.011 Ha, jagung/kedelai 1.420.408 Ha dan kedelai saja seluas 124.002 Ha. Awal waktu tanam dominan pada MH 2016/2017 diprediksi terjadi pada November II 2016 seluas 4.785.257 Ha, Maret I-II 2017 seluas 3.383.550 Ha, Januari I-I-II seluas 807.618 Ha. Potensi luas tanam di lahan sawah secara nasional pada MH 2016/2017 untuk padi sawah seluas 10.388.743 Ha, padi rawa seluas 593.073 Ha, jagung/kedelai 2.419.503 Ha dan kedelai saja seluas 154.959 Ha. Kegiatan informasi ketersediaan air didapatkan dariDaerah Irigasi (DI) Jatiluhur yang memiliki luas sawah 231,169.7 ha, saluran induk 372.18 km, saluran sekunder 1,575.39 km serta bangunan bagi sadap 1,561.0 unit yang menyalurkan irigasi melalui saluran tersier menuju petak-petak tersier. Hasil analisis awal tanam di Kec. Klari, Kab. Karawang pada periode 2013 - 2016, awal tanam tetap, kejadian El Nino 2015 tidak menyebabkan pergeseran awal tanam. Hasil analisis di Kec. Tirta Mulya dan Jatisari, terlihat variasi awal tanam antara 15 hari hingga 1 bulan selama periode pengamatan 2013-2016. Kegiatan rawan bencana menghasilkan Peta Endemik Bencana, Peta Rawan Bencana, dan Peta Kerusakan Tanaman akibat bencana. Peta-peta tersebu digunakan sebagai salah satu rujukan untukpemilihan atau rekomendasi varietas yang sesuai dan prioritas wilayah penanggulangan bencana serta digunakan untuk memperkirakan potensi kehilangan hasil yang dialami apabila tidak dilakukan antisipasi atau penanggulangan. Informasi varietas dan kebutuhan benih yang dihasilkan dari SI Katam yaitu perbaikan informasi dari Tim Gugus Tugas dan juga dari instansi terkait varietas padi eksisting yang paling dominan ditanam di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Tengah dan Maluku adalah varietas Ciherang. Varietas Inpari 12 banyak ditanam di Sumatera Barat, sedangkan varietas lokal yang banyak ditanam adalah varietas Anak Daro, Tukad Unda dan Logawa.
Untuk Provinsi Papua, varietas padi yang paling dominan di tanam adalah varietas Inpari 7, Kebaruan informasi varietas unggul baru terutama untuk varietas toleran banjir, kekeringan, OPT utama, Pajale, kebutuhan benih padi dan jagung/kedelai untuk seluruh wilayah Indonesia pada musim kemarau 2016 berturut-turut adalah 126.946 ton dan 27.837 ton, sedangkan pada musim hujan 2016/2017 adalah 169.281 ton dan 14.630 ton.Untuk rekomendasi pupuk yang telah dilakukan yaitu Rekomendasi pupuk N, P, dan K untuk MK 2016 dan MH 2016/17 telah diperbaiki berdasarkan data peta status hara P dan K yang diupdate tahun 2014. Rekomendasi pupuk majemuk NPK Pelangi 20-10-10 dan NPK Kujang 30-6-8 akan ditiadakan setelah MK. 2016, Rekomendasi pemupukan N, P, dan K untuk tanaman jagung dan kedelai telah dikembangkan di seluruh kecamatan di setiap provinsi dengan menggunakan pilihan pupuk an-organik bentuk tunggal dan majemuk NPK 15-15-15 dikombinasikan dengan pupuk organik berbahan baku sisa jerami atau kotoran hewan. Pada tahun 2016, Diseminasi SI Katam Terpadu dilaksanakan pada Pekan Peramalan Tahun di BBPOPT Jatisari Karawang, Fokus Grup Diskusi (FGD) diselenggarakan di Padang Sumatera Barat, dan FGD Kalender Tanam Terpadu MH 2016/2017 di Makassar.Beberapa hasil analisis iklim yang ditampilkan dalam bulletin Informasi Agroklimat secara berkala, diantaranya; analisis prediksi, analisis neraca air, standing crop, serta informasi banjir dan kekeringan di Indonesia. Terdapat 20 buah tulisan mengenai ‘current issue’.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu di dalam menetapkan strategi penyediaan dan distribusi sarana produksi serta perencanaan pola tanam, teknik budidaya pengelolaan tanaman untuk menghindari/mengurangi risiko iklim pada tanaman pangan lahan sawah. Oleh karena itu, diharapkan para pengambil kebijakan dapat dengan mudah dan cepat melakukan perencanaan pertanian tanaman pangan di lahan sawah yang mempertimbangkan prediksi iklim near real time yang meliputi waktu tanam, luas tanam, rekomendasi dan kebutuhan pupuk, rekomendasi varitas dan kebutuhan benih, serta informasi wilayah rawan banjir, kekeringan dan rawan OPT.
Penelitian dan Pengembangan Analisis Key Area Iklim dan Neraca Air PAJALE Mendukung UPSUS PAJALE
Teknologi informasi Key Area keragaman iklim seluruh Indonesia Mendukung UPSUS PJK, dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:
Area Keragaman Iklim Indonesia Dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim, (2) Pengembangan Sistem Informasi dan Prediksi Bencana di Sektor Pertanian, Penyusunan Basis Data Sumberdaya Air Pertanian serta, (3) Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan Air Kawasan Jagung.
Upaya adaptasi terhadap perubahan iklim dapat dilakukan dengan mengidentifikasi keragaman dan kejadian iklim ekstrim yang menyebabkan adanya bencana terkait iklim (banjir, kekeringan) di beberapa wilayah di Indonesia. Keragaman, kejadian iklim ekstrim, dan bencana terkait iklim, akan berdampak terhadap menurunnya luas tanam dan produksi padi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara indikator global, curah hujan, dan produksi padi. Oleh karena itu wilayah kunci (Key Area) menjadi penting sebagai indikator untuk mengetahui pengaruh perubahan iklim dan kejadian iklim ekstrim terhadap curah hujan, bencana terkait iklim dan produksi padi baik saat ini maupun yang akan datang, terutama di sentra produksi padi. Penelitian dan kajian mendalam perlu dilakukan pada wilayah kunci (Key Area) keragaman iklim dengan mengembangkan prediksi iklim, bencana terkait iklim dan produksi padi yang semuanya dikemas dalam suatu sistem informasi terpadu untuk prediksi, bencana dan produksi berbasis key area. Perilaku iklim saat ini semakin sulit diprediksi sebagai akibat dampak perubahan iklim. Untuk menyiasati kondisi tersebut, diperlukan pendekatan baru dalam upaya mempelajari perilaku iklim melalui aplikasi analisis numerik. Analisis numerik adalah teknik yang digunakan untuk memformulasikan masalah matematis agar dapat diselesaikan dengan operasi perhitungan. Penggunaan metode numerik dapat mengatasi berbagai kelemahan-kelemahan metode yang ada sebelumnya. Persamaan matematika yang sulit diselesaikan dengan model analitik, memungkinkan dapat diselesaikan melalui pendekatan numerik. Di bidang pertanian air merupakan faktor utama penentu kelangsungan produksi pertanian namun pengelolaannya untuk kelangsungan sumber daya air tersebut masih menghadapi banyak kendala baik pada skala daerah irigasi maupun Daerah Aliran Sungai (DAS). Kendala tersebut dapat diatasi dengan menyediakan data dan informasi neraca air, sumberdaya iklim dan air yang akurat, terekam dalam format sistem informasi yang handal. Selanjutnya permasalahan yang dihadapi saat ini terkait data sumber daya air adalah bahwa keberadaan data tersebut terfragmentasi di berbagai institusi dengan bentuk, format, jenis, waktu penyajian dan metode yang berbeda. Untuk mengatasi kendala tersebut diperlukan kuantifikasi dan integrasi data semberdaya iklim dan air sehingga dapat memberikan
Kejadian Kekeringan
Onset Durasi 3 bulan Trend Linear Kab. Aceh Utara
Luas Terkena Kekeringan: 13.192 Ha
(a)
Kejadian Banjir
Onset Durasi 3 bulan
Trend Linear
Kab. Langkat
Luas Terkena Banjir: 6.420 Ha
(b)
informasi secara menyeluruh baik spasial, tabular dan temporal tentang kondisi sumberdaya air di suatu wilayah.
Keluaran yang akan dicapai adalah: model key area keragaman iklim Indonesia mendukung UPSUS Pajale, Atlas Potensi Sumberdaya Air Pulau Sumatera dan Kalimantan Skala 1:250.000 dan neraca air berbasis key area mendukung UPSUS Pajale, sistem Informasi Sumberdaya Air Pertanian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan, desain desain pengelolaan air, irigasi dan neraca air kawasan PJKU, dan model prediksi banjir, kekeringan, OPT dan dampaknya pada tanaman padi
Gambar 3. Wilayah dan indeks iklim global paling signifikan positif pada DJF
Gambar 5. Analisis ketersediaan air spasial dan temporal pada wilayah administratif (kecamatan atau kabupaten)
Gambar 6. Hasil Pengukuran debit Sungai Way Seputih (base flow)
Hasil yang telah dicapai dari seluruh kegiatan ini sebagai berikut: (1) Indeks iklim global yang berpengaruh signifikan positif terhadap curah hujan di musim DJF adalah OLR lag 2 (Sulawesi bagian Barat dan Selatan), sedangkan MEI dan ONI lag 2 berpengaruh signifikan negatif (Sulawesi bagian Barat), serta SML Nino 1.2 lag 2 juga berpengaruh signifikan negatif (Kalimantan bagian Selatan), (2) tanaman padi terkena kekeringan terjadi jika SPI lebih kecil dari -1 yang berlangsung dalam waktu 2-3 bulan dan 4-5 bulan, sedangkan Banjir terjadi jika SPI lebih besar dari 1 yang berlangsung dalam periode yang sama, (3) Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan memiliki 4 indeks ketersediaan irigasi yaitu: ketersediaan irigasi 0,3-0,5; 0,5-0,7; 0,7-0,9; >0,9 l/detik/ha, (4) Perlakuan irigasi hemat air berpengaruh baik terhadap hasil, bahan hijau dan klobot Jagung. Penambahan air irigasi 85% dari kebutuhan air tanaman menurut FAO, menghasilkan Jagung paling tinggi dibandingkan dengan
penambahan air irigasi 100% dan 70% dan berbeda nyata dibandingkan dengan penambahan air irigasi 100% tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan penambahan air irigasi 70%.
Penelitian Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Iklim dan Air Terpadu pada Berbagai Agroekosistem Mendukung UPSUS PAJALE, Cabe Merah dan Kakao
Teknologi pengelolaan sumberdaya iklim dan air di lahan tadah hujan Berbasis Model Food Smart Village dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:
Pengelolaan sumberdaya air dan iklim terpadu yang dikemas dalam kerangka desa mandiri pangan (Food Smart Village/FSV) merupakan kawasan budidaya pertanian skala rumah tangga berbasis inovasi kemandirian pangan pada lahan sub optimal. FSV bertumpu pada lima pilar untuk adaptasi perubahan iklim yaitu: (1). optimasi sumberdaya iklim dan air melalui pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya iklim, air permukaan, air tanah, dan modifikasi iklim mikro; (2). Keaneka ragaman budidaya tanaman pangan dan hortikultura sesuai dengan zona agroklimat; (3).sistem integrasi tanaman dan ternak untuk meningkatkan nilai tambah produksi pertanian dan peternakan serta meningkatkan produktivitas lahan; (4). Sistem pertanian konservasi yaitu mengurangi praktek pengolahan tanah, penggunaan mulsa dan tanaman penutup tanah, rotasi tanam, tumpang sari dengan memanfaatkan tanaman penambat nitrogen; (5). Pemanfaatan kembali limbah pertanian dan ternak dalam sistem produksi pertanian dengan memanfaatkan seoptimal mungkin hasil limbah pertanian dan ternak melalui pendekatan 3 R yaitu : mengurangi sebanyak mungkin kehilangan limbah di luar sistem produksi pertanian (reduce), dengan cara menggunakan kembali sebanyak mungkin limbah pertanian dan ternak (reuse), dengan demikian seluruh limbah pertanian dan ternak yang dihasilkan selalu dalam proses daur ulang (recycle) di dalam sistem produksi pertanian. Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan penelitian pengelolaan sumberdaya air dan iklim yang terpadu dan dikemas dalam FSV untuk mengurangi risiko pertanian dan peningkatan produksi komoditas padi, jagung, kedelai, cabe danatau kakao pada beberapa agroekosistem melalui penyusunan rancang bangun pemanfaatan SDA dan iklim untuk mendukung swasembada padi, jagung, kedalai, cabe danatau kakao berbasis desa mandiri pangan untuk adaptasi perubahan iklim.
Keluaran yang ingin dicapai yaitu informasi potensi sumber daya lahan, air, iklim dan sosial ekonomi pada lokasi pengembangan pajale, cabe dan atau kakao di
Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, rancang bangun teknik pemanfaatan potensi sumberdaya air di lokasi pilot pengembangan pajale, cabe dan atau kakao di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan serta rekomendasi pengembangan model pengelolaan sumberaya air dan iklim terpadu di desa/kawasan mandiri pangan mendukung swasembada pajale, cabe dan atau kakao di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Hasil yang telah dicapai dari kegiatan inidiantaranya sistem pipanisasi merupakan alternatif sistem irigasi yang efisien untuk penanaman palawija (kacang tanah dan jagung) pada lahan tadah hujan yang mempunyai potensi sumberdaya air kurang dari 10 l/dt, pemberian irigasi 60% dengan pemupukan NPK dan mulsa merupakan perlakuan terbaik dalam menghasilkan polong basah, pemberian dosis irigasi 100% memberikan hasil berat polong kering tertinggi, demplot percobaan irigasi hemat air (0,42 l/dt/ha) pada tanaman kacang tanah relatif memberikan hasil polong kering yang cukup tinggi yaitu rata-rata ubinan sebesar 3,59 t/ha, demplot irigasi hemat air (0,52 l/dt/ha) pada tanaman jagung menghasilkan brangkasan basah panen ubinan mencapai 8,75 t/ha dan berat tongklol mencapai 6,63 t/ha.
Gambar 8. Optimalisasi sumberdaya air
Penelitian dan Pengembangan Sistem Irigasi Pompa Radiasi Surya untuk Meningkatkan Produksi Pertanian di Lahan Kering
Teknologi pemanfatan sumber energi alamiah untuk optimalisasi pengelolaan sumberdaya air (Pompa Air Tenaga Surya) dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:
Kendala pengairan di sebagian besar lahan kering salah satunya dapat diatasi dengan menggunakan penyediaan irigasi pompa. Dikarenakan tidak semua lahan memiliki infrastruktur energi listrik sehubungan kendala lokasi yang terpencil maupun keterbatasan pasokan listrik dan semakin tingginya harga BBM maka tenaga surya dapat menjadi prasarana untuk membangun sarana pengairan. Potensi radiasi matahari di indonesia cukup besar, sehingga dapat dioptimalkan untuk menyediakan listrik bagi pengairan sehingga untuk itu telah dikembangkan solar water pump (pompa tenaga surya/PTS).
Keluaran yang ingin dicapai diantaranya prototipe pompa air tenaga surya untuk irigasi pertanian, informasi sistem irigasi yang efisiensi pada tananam bawang merah dan cabe merah, informasi efisiensi irigasi dari PTS.
Gambar 9. Percobaan implementasi irigasi pada tanaman cabe di Sukabumi
Gambar 11. Percobaan implementasi irigasi pada tanaman bawang merah di Bantul Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi kinerja alat perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi air yang dapat dihasilkan secara optimal, perlu informasi perhitungan yang lebih detil kapasitas pompa tenaga surya dalam penyediaan air dan potensi luas layanan pompa dikembangkan untuk pertanian, penentuan desain simtem irigasi pompa tenaga surya/SIPTS berdasarkan: (1) kurva kinerja pompa, (2) kurva kinerja sistem irigasi, (3) kurva hubungan debit dan tekanan operasional pompa, adapun analisis dan desain irigasi ditentukan berdasarkan : (1). Analisis penentuan potensi luas layanan, (2) analisis kebutuhan air tanaman, dan (3). Desain SIPTS berbagai tipe, selanjutnya sistem pola pemanfaatan air perlu dipantau sejak awal untuk menentukan optimalisasi distribusi air untuk luas lahan eksisting. Selain itu berdasarkan penelitian di lapangan menunjukkan bahwa teknik irigasi yang sesuai untuk tanaman bawang merah dan kedelai adalah impact sprinkler, sedangkan untuk cabe adalah streamline, pengamatan debit emitter pada teknik irigasi impact sprinkler dan streamline diperlukan untuk memvalidasi total debit yang tersedia untuk irigasi tanaman, pengamatan pertumbuhan tanaman bawang merah yang direpresentasikan melalui tinggi tanaman pada perlakuan irigasi dan mulsa lebih tinggi dibandingkan irigasi dengan pola petani. Perlakuan kombinasi irigasi 85% dan mulsa berpengaruh signifikan pada partumbuhan dan hasil bawang merah maupun cabe.
Perlu pemanfaatan SIPTS untuk lokasi Muneng ke depan untuk pengembangan kedelai melalui optimalisasi kinerja pompa sehingga dapat
beroperasi secara optimal dan menghasilkan produksi kedelai secara optimal, selain itu perlu menyusun petunjuk teknis SIPTS agar bisa menjadi pedoman bagi pengguna.
Penelitian Neraca Air Tanaman untuk Pengembangan Sistem Irigasi Tanaman Kakao dalam Mengantisipasi Dampak Perubahan Iklim
Teknologi penentuan penciri iklim mikro untuk peningkatan produktivitas tanaman dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:
Indonesia merupakan produsen ke tiga dunia dan Kakao merupakan salah satu komoditas perdagangan antar negara yang mempunyai prospek kedepan yang baik bila dikembangkan secara intensif dalam skala agribisnis. Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan Kementan. Anomali iklim yang akhir-akhir ini meningkat baik durasi maupun frekuensinya menjadi faktor pemicu penurunan produksi kakao. Untuk mengetahui faktor penyebabnya diperlukan karakterisasi dan identifikasi kondisi biofisik baik variabilitas iklim, iklim mikro, ketersediaan air, sifat tanah diperoleh hubungan antara variabilitas musim, ketersediaan air dengan produksi kakao. Nantinya informasi tersebut merupakan dasar penetapan dalam model pengelolaan air pada budidaya kakao di sentra produksi.
Penyusunan dan Pengembangan Sistem Informasi dan Komunikasi Iklim Serta Kebijakan untuk Program Aksi Pertanian Menghadapi Perubahan Klim dan Iklim Ekstrim
Rekomendasi strategi serta rencana aksi adaptasi dan penanggulangan risiko untuk penyelamatan dan pengamanan produksi pangan dicapai melalui kegiatan sebagai berikut:
Variabilitas iklim di Indonesia sangat tinggi dikarenakan terdapat berbagai osilasi yang mempengaruhinya (ENSO, MJO, IOD, QBQ, monsun, cold surge). Pada saat terjadi anomali akibat dua atau lebih osilasi terjadi saat bersamaan menyebabkan kejadian iklim ekstrim seperti kekeringan, banjir, angin kencang, dll. Sebagai contoh kondisi El Nino terus menguat selama tahun 2015 dan diprediksi akan berlangsung sampai triwukan pertama tahun 2016. Namun beberapa fenomena lain terjadi pada awal tahun 2015 seperti mulai menguatnya monsun dan terjadinya fase basah MJO dan seruak dingin menyebabkan curah hujan diatas normal di beberapa wilayah. Oleh karena itu Informasi prediksi tersebut perlu dikomunikasikan secara lebih intensif dan diinterpretasikan sesuai kebutuhan pengguna di sektor pertanian.
Keluaran yang ingin dicapai yaitu (1) kompilasi data dan informasi prakiraan/prediksi iklim 3-9 bulan ke depan berdasarkan hasil NCOF (National Climate Outlook Forum) dan dari berbagai lembaga prediksi lainnya, menganalisis (downscalling), (2) pemutakhiran dan interpretasi prediksi curah hujan 3-6 bulan ke depan secara periodik dalam 2-3 bulan untuk wilayah Indonesia terutama daerah sentra produksi pangan, (3) informasi prediksi iklim dan iklim ekstrim mutakhir dan implikasinya terhadap sektor pertanian, terutama sistem produksi pangan dalam pertemuan/diskusi untuk membahas implikasinya dan rencana aksi adaptasi pertanian pangan, dan (4) rumusan arah dan strategi serta menyusun rencana aksi adaptasi dan penanggulangan risiko untuk penyelamatan dan pengamanan produksi pangan.
Gambar 13. Hasil prediksi perkembangan hujan 2016
Awal semester pertama tahun 2016 mengindikasi kondisi El Nino yang masih berlangsung yang ditandainya dengan curah hujan di bawah normal dan kejadian hari kering yang cukup panjang. Pada pertengahan tahun curah hujan atas normal diprediksi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia dan La Nina semakin menguat dan mencapai puncaknya pada September 2016. Untuk melengkapan memenuhi informasi prediksi yang diperlukan sektor pertanian dan dalam skala yang lebih besar, dilakukan dowscaling prediksi musim. Informasi prediksi tersebut disampaikan dalam pertemuan NCOF, disampaikan dalam rakor UPSUS seperti Sumsel dan Aceh. Untuk periode Januari sampai Maret 2007 prediksi curah hujan berpeluang normal. Prediksi untuk peluang curah hujan <150 mm/bulan terkonsentrasi di wilayah Aceh bagian utara, sebagian Sumatera Utara, sebagian kecil Kalimantan Barat, sebagian Nusa Tenggara, Sulawesi Utara, dan Maluku bagian utara. Kondisi curah hujan diprediksi normal dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan luas tanam pada sawah tadah hujan.
Selanjutnya rekomendasi yang dihasilkan sebagai berikut:
(1) Sampai bulan Mei 2016 masih berlangsung fenomena El-Nino yang semakin meluruh. Namun, mulai bulan Juli sampai September terjadi kondisi La Nina lemah yang bertahan sampai awal tahun 2017. Dipole Mode negatif berlangsung sejak Mei 2016 hingga November 2016 dan kondisi suhu muka laut yang hangat di sekitar perairan Indonesia yang berkontribusi tinggi menambah tingginya curah hujan di Sumatera dan Jawa bagian Barat