BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
3.2 Analisis Capaian Kinerja
3.2 ANALISIS CAPAIAN KINERJA
Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, Perjanjian Kinerja Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Banjar Tahun 2020 terdiri atas 5 (lima) sasaran dengan 7 (tujuh) Indikator. Pengukuran tingkat capaian Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 dilakukan dengan cara membandingkan antara target dengan realisasi masing-masing indicator kinerja sasaran.
Rincian tingkat capaian kinerja masing-masing indicator tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
3.2.1. Sasaran Meningkatnya Penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja Dinsosp3a Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menetapkan indikator Nilai AKIP untuk sasaran Meningkatnya Penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja Dinsosp3a. Hasil pencapaian terhadap indikator tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 3.4
Capaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja Dinsosp3a
No Sasaran Strategis Indikator Capaian Tahun Sebelumnya (Tahun 2019) Tahun 2020 Target Akhir Renstra Capaian Tahun 2020 terhadap Target Akhir Renstra (%) Target Realisasi Capaian
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Meningkatnya Penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja Dinsosp3a Nilai AKIP 64,68 67 Belum bisa diukur Belum bisa diukur 79 Belum bisa diukur
Pencapaian kinerja untuk sasaran Meningkatnya Penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja Dinsosp3a, dengan indicator Nilai AKIP belum bisa diukur.
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 32 Nilai AKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Banjar diperoleh melalui rumus/perhitungan komponen Perencanaan , pengukuran , evaluasi internal, pelaporan dan capaian hasil. Target Nilai AKIP pada tahun 2020 sebesar 67. Pada tahun 2019, nilai AKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebesar 64,68. Adapun program yang mendukung pencapaian indikator nilai AKIP diantaranya Program peningkatan pengembangan sistem pelaporan capaian kinerja dan keuangan, Program Pelayanan Administrasi Perkantoran, Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur, Program peningkatan disiplin aparatur, Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur.
3.2.2. Sasaran Menurunnya angka Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menetapkan indikator Persentase Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang mendapatkan pelayanan kesejahteraan social untuk sasaran Menurunnya angka Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Hasil pencapaian terhadap indikator tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 3.5
Capaian Kinerja Sasaran Menurunnya angka Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
No Sasaran Strategis Indikator
Capaian Tahun Sebelumnya (Tahun 2019) Tahun 2020 Target Akhir Renstra Capaian Tahun 2020 terhadap Target Akhir Renstra (%) Target Realisasi Capaian
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Menurunnya angka Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Prosentase Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang mendapatkan pelayanan kesejahteraan sosial 31,42% 33,11 % 68,51 % 206,92 % 33,19% %
Pencapaian kinerja untuk sasaran Menurunnya angka Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), dengan indikator Prosentase Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang mendapatkan pelayanan kesejahteraan sosial realisasinya sebesar 68,51% melebihi dari target yang telah ditetapkan sebesar 33,110%, dengan capaian target sebesar 206,91%. Jumlah PMKS yang dilayani pada tahun 2020 sebanyak 25.320 orang PMKS, sedangkan populasi PMKS sebesar 36.957orang. Jika dibandingkan dengan tahun 2019 Jumlah PMKS yang dilayani pada tahun 2020 sebanyak 6.784 orang PMKS, dan populasi PMKS sebesar
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 33 21.593 orang. Hal ini ada peningkatan jumlah pelayanan PMKS, dikarenakan pandemic Covid-19, jadi jumlah PMKS meningkat.
Dengan rumus perhitungan sebagai berikut :
= π½π’πππβ πππΎπ π¦πππ ππππππππ‘ πππππ¦ππππ π ππ πππ
π½π’πππβ πππΎπ π¦πππ πππ π 100%
= 25.320
36.957 π 100% = 68,51%
Untuk mencapai target sasaran Menurunnya angka Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dilakukan melalui beberapa program diantaranya Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah, Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial, dan Program Perlindungan dan Jaminan Sosial.
Untuk mencapai target dari masing masing program dilakukan berbagai jenis kegiatan yang pada dasarnya dari masing-masing kegiataan tersebut memberikan kontribusi terhadap capaian program.
1. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya
Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya terdiri dari 6 (enam) kegiatan, yaitu kegiatan Pemberdayaan Perempuan Rawan Sosial Ekonomi (PRSE), Pemberdayaan Keluarga Miskin melalui UEP KUBE, Pendampingan Rastra, Pemberdayaan E WARONG KUBE, Peningkatan Kualitas Layanan Sarana dan Prasarana Kesejahteraan Sosial, dan Bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) Bagi Masyarakat yang Terdampak Pandemi Covid-19 [DID].
a. Kegiatan Pembedayaan Perempuan Rawan Sosial Ekonomi (PRSE) berupa bimbingan sosial kepada kelompok Perempuan Rawan Sosial Ekonomi (PRSE) sebanyak 75 orang. b. Kegiatan Pemberdayaan Keluarga Miskin Melalui UEP KUBE berupa bimbingan sosial
dan monitoring KUBE yang telah mendapatkan bantuan sebanyak 100 orang.
c. Kegiatan Pendampingan Rastra merupakan pemberian bantuan pangan berupa beras sebanyak 5 kg/KPM/bln kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah yang tidak mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Pada tahun 2020 jumlah KPM penerima Rastra sebanyak 6.225 KPM.
d. Kegiatan Pemberdayaan E WARONG KUBE berupa pembinaan terhadap 19 E Warong KUBE
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 34 e. Kegiatan Peningkatan Kualitas Layanan Sarana dan Prasarana Kesejahteraan Sosial berupa pengadaan 1 aplikasi Perangkat Lunak Pengelolaan Informasi Kesejahteraan Sosial
f. Bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) Bagi Masyarakat yang Terdampak Pandemi Covid-19 [DID] kepada 18.599 KK terdampak pandemic Covid Covid-19.
2. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial terdiri dari 8 (delapan) kegiatan diantaranya :
a. Kegiatan Rehabilitasi Sosial bagi Tuna Sosial berupa identifikasi, seleksi, verifikasi dan pemberian bimbingan sosial kepada 5 orang penerima bantuan social Usaha Ekonomi Produktif (UEP).
b. Kegiatan Penjangkauan dan Pemulangan PMKS Jalanan berupaPembinaan sosial dan pendampingan sosial yaitu melaksanakan usaha untuk mengarahkan kepribadian serta kemampuan dalam pendidikan non formal, Melaksanakan pemulangan PMKS Jalanan ke tempat asal sesuai dengan identitas dari masing-masing klien. Pada tahun 2020 terdapat 59 orang PMKS Jalanan yang dilayani.
c. Kegiatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak Dalam dan Luar LKSA pelaksanaannya melalui bimbingan sosial dan penyerahan bantuan sosial berupa bantuan pemenuhan kebutuhan dasar sandang dan permakanan kepada 210 anak terlantar yang tersebar di Kota Banjar.
d. kegiatan Pendayagunaan para penyandang disabilitas dan eks trauma dilaksanakan untuk meberikan pelayanan dan perlindungan sosial bagi penyandang disabilitas sesuai dengan kapasitas kemampuan fisik dan psikologisnya. Adapun kegiatan yang telah dilaksanakan diantaranya :
- Pengiriman calon peserta pelatihan ke Panti Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas (PRSPD) MENSENETRUWITU Cimahi sebanyak 6 orang
- Pelaksanaan bimbingan sosial kepada 26 orang penyandang disabilitas
- Penerimaan bantuan pemenuhan kebutuhan dasar dalam rangka penanganan Covid-19 sebanyak 84 paket (Bantuan dari Kementerian Sosial, Balai Literasi Braile Indonesia, BRSPD Wiyata Guna Bandung, dan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat) - Pemberian bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) sebanyak 10 orang
- Kegiatan perlombaan dalam rangka peringatan Hari Disabilitas International. e. Kegiatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Penyandang Disabilitas Terlantar berupa
pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar kepada 20 orang.
f. Kegiatan Pemenuhan Alat Bantu Penyandang Disabilitas berupa pemberian alat bantu bagi 11 orang penyandang disabilitas
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 35 g. Kegiatan Penanganan dan rehabilitas bagi anak terlantar dan kasus lainnya berupa layanan pemenuhan kebutuhan dasar, layanan dukungan dan layanan pendampingan sosial, dengan bekerjasama dengan instansi terkait diantaranya : dengan Polres Kota Banjar, Kejaksaan Kota Banjar, RSUD Kota Banjar, LPKS Iβanatush Shibyan, Pengadilan Negeri Kab. Ciamis, Pengadilan Negeri Kota Banjar, RPSA Dinas Sosial Prov. Jawa Barat, Sub Unit Rumah Persinggahan Caringin, sedangkan identifikasi anak terlantar dan kasus lainnya tersebar di wilayah Kota Banjar. Pada tahun 2019 telah dilakukan penanganan sebagai berikut :
- Penanganan/pendampingan ABH sebanyak 26 anak
- Pelayanan penanganan pengasuhan anak/adopsi anak sebanyak 5 (lima) pengajuan.
- Pelaksanaan fasilitasi penanganan anak terlantar (tanpa identitas) sebanyak 4 anak
- Fasilitasi pemulangan anak jalanan sebanyak 42 anak.
3. Program perlindungan dan jaminan sosial terdiri dari 6 (enam) kegiatan, diantaranya : a. Kegiatan Perlindungan Sosial Bagi Korban Bencana. Pelaksanaan kegiatan perlindungan
sosial bagi korban bencana dibagi menjadi 3 langkah yaitu sebelum terjadi bencana, pada saat terjadinya bencana dan setelah terjadinya bencana. Kegiatan sebelum terjadinya bencana merupakan kegiatan pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan, serta peringatan, diantaranya ketersediaan logistik/bufferstock, koordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi, BPBD Kota Banjar, PMI BASARNAS untuk secara bersama-sama melakukan mitigasi bencana, serta fasilitasi pelatihan bagi anggota TAGANA meliputi pelatihan dapur umum dan lapangan, manajemen pengungsian, advokasi sosial, vertical rescue, dan pemantapan TAGANA. Perlindungan saat terjadinya bencana diantaranya assesment/identifikasi dan investigasi/verifikasi ke lokasi bencana alam, pengerahan anggota TAGAN ke lokasi bencana alam. Sedangkan perlindungan sosial setelah terjadinya bencana berupa pemulihan sosial, identifikasi kebutuhan pemulihan serta koordinasi, konsultasi dan konsolidasi antara usulan pemerintahan Desa dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
b. Kegiatan Perlindungan Sosial Bagi Orang Terlantar. Penanganan orang terlantar diperjalanan adalah dalam rangka memfasilitasi kepulangan kelayan yang mengalami keterlantaran yang disebabkan oleh faktor ekonomi, penipuan, kehabisan ongkos dan faktor lainnya dalam perjalanannya sehingga mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan untuk kembali ke tempat asalnya
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 36 c. Kegiatan Pembinaan dan Monitoring Penerima BANSOS Lanjut Usia dan Disabilitas merupakan kegiatan pemberian bantuan sosial bagi lanjut usia terlantar dan penyandang disabilias agar dapat terpenuhi kebutuhan hidup dasarnya. Bantuan tersebut bersumber dari APBD Kota Banjar pada pos belanja tidak langsung. Nomina bantuan sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) untuk lanjut usia terlantar, dan Rp. 1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah) untuk penyandang disabilitas, masing-masing untuk satu kali pencairan. Mekanisme penyalurannya melalui penetapan SK Wali Kota Banjar dan pengajuan proposal. Berdasrkan SK Wali Kota Banjar, terdapat 2.918 orang calon penerima bantuan sosial lanjut usia dan 158 orang calon penerima bantuan sosial penyandang disabilitas. Tetapi setelah dilakukan verifikasi hanya sebanyak 2.869 yang dapat direalisasi, karena sisanya meninggal
d. Kegiatan Pemantapan TAGANA merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan peran dan fungsi TAGANA dalam penanggulangan bencana. Kegiatan ini diikuti oleh 35 orang peserta yang merupakan anggota TAGANA aktif.
e. Kegiatan Pendampingan Program Keluarga Harapan bertujuan untuk mensosialisasikan PKH kepada masyarakat (KPM PKH) sehingga terdapat pemahaman tentang program PKH dan dapat menjalani komitmen dalam kepesertaan PKH serta tersalurkannya bantuan PKH sesuai dengan kalender kerja PKH serta untuk meningkatkan kualitas SDM para Pendamping PKH. Sedangkan bantuannya sendiri berasal dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial.
a. Kegiatan penanganan PMKS di RPS adalah melaksanakan kegiatan teknis tertentu dalam rangka penanganan PMKS yang mengalami keterlantaran yang tidak bisa ditangani langsung, artinya yang memerlukan penampungan sementara sampai dapat diperoleh solusi untuk tindak lanjut sesuai assesment dan kebutuhan PMKS tersebut, agar para PMKS jalanan dapat menjalankan fungsi sosialnya terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya agar sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Pada tahun 2020 telah dilaksananak penanganan PMKS di RPS sebanyak 15 orang.
Pelayanan yang diberikan di RPS berupa :
- Penerimaan klien yang dirujuk oleh Dinas Sosial P3A Kota Banjar, hasil penertiban gelandangan, pengemis, tuna sosial dan PMKS jalanan lainnya dari Satpol PP atau kepolisian, serta hasil penjangkauan yang dilaksanakan oleh petugas shelter RPS di Dinas sosial itu sendiri dan klien yang dirujuk dari daerah lain di sekitar Kota Banjar.
- Tahap selanjutnya identifikasi dan proses assesment terhadap PMKS tersebut. - Penampungan sementara
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 37 - Koordinasi dengan instansi sosial provinsi Jawa Barat atau rumah sakit untuk
tindak lanjut penanganan kasus
- Koordinasi dengan instansi sosial kabupaten/kota asal PMKS tersebut - Home visit dan penguatan keluarga dari PMKS asal Kota Banjar - Resosialisasi dengan keluarga
- Monitoring dan evaluasi
3.2.3. Meningkatnya peran serta Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS)
Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menetapkan indikator Persentase PSKS yang berperan aktif dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) untuk sasaran Meningkatnya peran serta Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). Hasil pencapaian terhadap indikator tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 3.6
Capaian Kinerja Sasaran Meningkatnya peran serta Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS)
No Sasaran Strategis Indikator
Capaian Tahun Sebelumnya (Tahun 2019) Tahun 2020 Target Akhir Renstra Capaian Tahun 2020 terhadap Target Akhir Renstra (%) Target Realisasi Capaian
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Meningkatnya peran serta Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) Persentase PSKS yang berperan aktif dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) 90,41% 99,09% 88,76% 89,575 99,09%
Pencapaian kinerja untuk sasaran Meningkatnya peran serta Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS), dengan indikator Persentase PSKS yang berperan aktif dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) realisasinya sebesar 88,76% kurang dari target yang ditetapkan sbesar 99,09%, yaitu 221 orang PSKS yang berperan aktif dalam penanganan PMKS dan 249 orang PSKS yang ada.
Dengan rumus perhitungan sebagai berikut :
= π½π’πππβ πππΎπ π¦πππ ππππππππ πππ‘ππ πππππ ππππππππππ πππΎπ
π½π’πππβ πππΎπ π¦πππ πππ π 100%
= 221
249 π 100%
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 38 Pencapaian indikator diatas melalui Program Pemantapan Kelembagaan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial dan beberapa kegiatan diantaranya kegiatan Peningkatan kapasitas (capacity building) potensi dan sumber kesejahteraan sosial sebanyak 61 orang PSKS, Penanaman Nilai - Nilai Kepahlawanan dan Kesetiakawanan Sosial sebanyak 60 orang, Pemilihan dan penghargaan bagi PSKS Berprestasi sebanyak 6 PSKS, Peningkatan UKS melalui Lembaga Koordinasi Kesejaheraan Sosial (LKKS) sebanyak 4 lembaga, Penyuluhan Sosial tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial sebanyak 50 orang.
3.2.4. Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan
Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menetapkan indikator Level Anugrah Prahita Ekapraya (APE), dan Indeks Pembangunan Gender untuk sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan. Hasil pencapaian terhadap indikator tersebut adalah sebagai berikut :
Tabel 3.7
Capaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan
No Sasaran Strategis Indikator
Capaian Tahun Sebelumnya (Tahun 2019) Tahun 2020 Target Akhir Renstra Capaian Tahun 2019 terhadap Target Akhir Renstra (%) Target Realisasi Capaian
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan Level Anugrah Prahita Ekapraya (APE) Utama Utama Tidak ada penilaian APE - Utama - Indeks Pembangunan Gender 87,12 87,12 87,17 100,06 87,16 -
Pencapaian kinerja untuk sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan, formulasi perhitungannya sebagai berikut :
a. Indikator Level Anugrah Parahita Ekapraya
Pembangunan di Kota Banjar telah meraih penghargaan Anugerah Parahita Eka Praya sejak Tahun 2016 Kategori MADYA. Dan pada Tahun 2018 meningkat menjadi Kategori UTAMA. Anugerah Parahita Ekapraya (APE) adalah sebagai bentuk pengakuan atas komitmen dan peran para pimpinan Kementrian/Lembaga dan Pemerintah Daerah dalam upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melalui Strategi Pengarusutamaan Gender (PUG), maka Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 39 menyampaikan penghargaan sejak tahun 2004 yang disebut βAnugerah Parahita Ekaprayaβ (APE).
Anugerah Parahita Ekapraya (APE) berarti suatu penghargaan terhadap prakarsa dan prestasi yang dicapai dan menunjukan kondisi dan kesejahteraan orang lain dalam kaitannya dengan pencapaian kesejahteraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di daerah.
Indikator Pemantauan dan Evaluasi Pengarusutamaan Gender Terdiri atas : A. Indikator Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG); dan
1) Komitmen 2) Kebijakan 3) Kelembagaan
4) Sumber Daya Manusia dan Anggaran 5) Data, Sistem Informasi dan KIE 6) Pedoman dan Metode
7) Partisipasi Masyarakat
B. Indikator Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG) 1) Kebijakan yang responsif gender
2) Pelaksanaan PUG 3) Pelayanan
4) Anggaran
5) Peran Serta Masyarakat dan Jejaring
Empat Kategori Penerima Anugerah Parahita Ekapraya (APE) : 1. Tingkat Pratama (Pemula)
2. Tingkat Madya (Pengembang)
3. Tingkat Utama (Peletakan dasar dan Keberlanjutan) 4. Tingkat Mentor
Pada tahun 2020 tahapan penilaian/evaluasi PUG oleh Kementerian PPPA baru sampai pada verifikasi dokumen. Hasil akhir penilaian akan disampaikan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tahun 2021. Sehingga capaian kinerja untuk indicator Level Anugerah Parahita Ekapraya belum bisa biukur.
Program dan kegiatan yang mendukung penilaian APE pada tahun 2020, diantaranya program Program pengukuran pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak pada kegiatan Bimtek PPRG bagi SDM Perangkat Daerah dan Desa, Sinergitas pelaksanaan PUG, dan Penyusunan Profil Gender.
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 40 b. Indikator Indeks Pembangunan Gender
Hasil analisis pencapaian indikator Indeks Pembangunan Gender Kota Banjar pada tahun 2020 sebesar 87,17, dari yang ditargetkan sebesar 87,12 dengan capaian sesesar 100,06%. Apabila dibandingkan dengan Tahun 2019 ada kenaikan sebesar 0,05 dengan IPG pada Tahun 2019 sebesar 87,12. IPG Kota Banjar masih dibawah IPG Provinsi Jawa Barat sebesar 89,20, tetapi sudah diatas Kabupaten Bandung Barat, Garut, Cirebon, Cianjur, Majalengka, Tasikmalaya, Ciamis, Purwakarta dan Kuningan.
Perhitungan Indeks Pembagunan Gender dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks Pembangunan Gender (IPG) merupakan indeks pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia yang sama seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan memperhatikan ketimpangan gender.
IPG digunakan untuk mengukur pencapaian dalam dimensi yang sama dan menggunakan indikator yang sama dengan IPM, namun lebih diarahkan untuk mengungkapkan ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. IPG dapat digunakan untuk mengetahui kesenjangan pembangunan manusia antara laki-laki dan perempuan. IPG memiliki komponen pembentuk yang menentukan nilai dari IPG. Komponen pembentuk tersebut sama dengan yang digunakan dalam pengukuran IPM, yakni angka harapan hidup (mewakili dimensi kesehatan), angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah (mewakili dimensi pengetahuan), serta sumbangan pendapatan (mewakili dimensi ekonomi) yang disajikan menurut jenis kelamin. Dengan kata lain, dinamika IPG dari waktu ke waktu sangat dipengaruhi oleh perubahan dari tiga komponen tersebut.
Untuk mencapai target Indikator Indeks Pembanguna Gender dilakukan melalui program Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender.
3.2.5. Meningkatnya Perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan
Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menetapkan indikator Persentase layanan perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan, dan Level Banjar Kota Layak Anak untuk sasaran Meningkatnya Perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan. Hasil pencapaian terhadap indikator tersebut adalah sebagai berikut :
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 41 Tabel 3.8
Capaian Kinerja Sasaran Meningkatnya Perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan
No Sasaran Strategis Indikator
Capaian Tahun Sebelumnya (Tahun 2019) Tahun 2020 Target Akhir Renstra Capaian Tahun 2020 terhadap Target Akhir Renstra (%) Target Realisasi Capaian
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 Meningkatnya Perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan Persentase layanan perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan 100% 100% 100% 100% 100% 100% Level Banjar Kota Layak Anak Madya Madya Tidak ada penilaian KLA - Nindya -
Pencapaian kinerja untuk sasaran Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan, formulasi perhitungannya sebagai berikut :
a. Indikator Persentase layanan perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan
Tingkat capaian indikator sasaran Persentase layanan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan adalah 100% dengan realisasi sebesar 100% dari target 100% di tahun 2020 dengan jumlah kasus yang terjadi sebanyak 20 kasus dan kasus yang ditangani sebanyak 20 kasus. Bila dibandingkan dengan tahun 2019 dengan capaian kinerja 100% dari yang ditargetkan sebesar 100%, dengan jumlah kasus yang tejadi sebanyak 16 kasus dan kasus yang ditangani sebanyak 16 kasus.
Realisasi indikator Persentase layanan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan diperoleh melalui rumus :
= π½π’πππβ πππ π’π πππππππ ππ π‘ππβππππ πππππππ’ππ πππ ππππ π¦πππ πππ‘ππππππ
π½π’πππβ πππ π’π πππππππ ππ π‘ππβππππ πππππππ’ππ πππ ππππ π¦πππ π‘ππππππ π 100% = 20
20 π 100% = 100%
Untuk mencapai target indikator Persentase layanan perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan didukung oleh Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan dan Anak dan Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak.
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 42 b. Indikator Level Banjar Kota Layak Anak
Dalam rangka mewujudkan Banjar Menuju Kota Layak anak, dilaksanakan pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan. Tahun 2020 Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melaksanakan program dan kegiatan Pengembangan Kota Layak Anak dengan menitikberatkan pada Kecamatan Layak anak dan Desa Layak Anak. Untuk Penilaian Kota Layak Anak pada Tahun 2020 tidak dilaksanakan dikarenakan Pandemi Covid 19, sehingga untuk pencapaian target dengan perolehan madya tidak dapat tercapai.
Pada Tahun 2017 Kota Banjar mendapatkan predikat Pratama, tahun 2018 naik peringkat menjadi Madya, 2019 juga mendapat predikat Madya. Penilaian Level Banjar Kota Layak Anak dilakukan secara mandiri dengan mengacu kepada 24 indikator KLA, yang tertuang dalam dokumen Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak. Tindak Lanjut dari Penilaian Mandiri Kla yaitu Verifikasi Lapangan yang dilaksanakan oleh Lembaga Independen yang ditunjuk langsung oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.
Untuk mencapai target indikator Level Banjar Kota Layak Anak didukung oleh Program Pemenuhan Hak dan Peningkatan Kualitas Hidup Anak.
Berdasarkan hasil analisis di atas, pencapaian kinerja Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Banjar Tahun 2019 untuk pencapaian Indikator Kinerja Utama Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Banjar terdapat 1 indikator yang melebihi target, 2 indikator sesuai target, 2 indikator tidak mencapai target, 1 indikator yang tidak bisa diukur karena tidak ada penilaian APE, dan 1 indikator yang belum bisa diukur, seperti tabel di bawah ini :
Tabel 3.9
Hasil Analisis Pencapaian Target Kinerja Tahun 2019
SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA UTAMA
TINGKAT PENCAPAIAN SASARAN MELEBIHI
TARGET SESUAI TARGET
TIDAK MENCAPAI
TARGET
Meningkatnya Penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja Dinsosp3a
Nilai AKIP Belum bisa diukur
Menurunnya angka Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
Prosentase Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang mendapatkan pelayanan kesejahteraan sosial
LKIP Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun 2020 43
Meningkatnya peran serta Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS)
Persentase PSKS yang berperan aktif dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
β
Meningkatnya Pemberdayaan Perempuan
Level Anugrah Prahita Ekapraya (APE)
Tidak ada penilaian APE
Indeks Pembangunan Gender
β
Meningkatnya Perlindungan perempuan dan anak dari tindak kekerasan
Persentase layanan perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan
β
Level Banjar Kota Layak Anak Tidak dilaksanakan penilaian
Efisiensi merupakan suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi besarnya sumber daya/biaya untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dijalankan. Adapun tingkat efisiensi pencapaian setiap sasaran yang telah dilaksanakan oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Banjar Tahun 2019, dapat dilihat pada tabel di bawah