• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS CAPAIAN KINERJA

Dalam dokumen KATA PENGANTAR LINTONG SOPANDI HUTAHAEAN (Halaman 29-73)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

A. ANALISIS CAPAIAN KINERJA

Dalam mencapai visi dan misinya, BBK melaksanakan kegiatan yang mengacu pada Rencana Strategis (Renstra) BPKIMI tahun 2010-2014 dan Renstra BBK yang setiap awal Tahun Anggaran ditetapkan dalam dokumen Penetapan Kinerja (Tapkin) BBK tahun 2014. Pada TA. 2014 Tapkin BBK meliputi 11 (sebelas) Sasaran Strategis untuk melaksanakan kinerjanya yaitu :

Perspektif Pemangku Kepentingan / Stakeholder (S)

1) Sasaran Strategis I: Meningkatnya hasil-hasil litbang yang dimanfaatkan oleh industri;

Perspektif Proses Pelaksanaan Tugas Pokok (T)

1) Sasaran Strategis II: Meningkatnya kerja sama litbang;

2) Sasaran Strategis III: Meningkatnya publikasi ilmiah hasil litbang; 3) Sasaran Strategis IV: Meningkatnya usulan penerapan SNI;

4) Sasaran Strategis V: Meningkatnya jasa pelayanan teknis kepada dunia usaha; 5) Sasaran Strategis VI: Meningkatnya standardisassi Industri;

6) Sasaran Strategis VII: Meningkatnya budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf; 7) Sasaran Strategis VIII: Meningkatnya kualitas pelayanan publik;

Perspektif Peningkatan Kapasitas Lembaga

1) Sasaran Strategis IX: Membangun sistem informasi yang terintegrasi dan handal; 2) Sasaran Strategis X: Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporan;

3) Sasaran Strategis XI: Meningkatkan sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional;

Capaian kinerja BBK selama kurun waktu 2010-2014 berdasarkan Renstra Kementerian dan Renstra BPKIMI adalah tertuang pada Tabel 3.1. sebagai berikut :

Tabel 3.1. Capaian Kinerja BBK Berdasarkan Renstra Kemenperin dan Renstra BPKIMI Tahun 2010- 2014 PROGRAM/KEGIATAN PRIORITAS Indikator 2010 2011 2012 2013 2014 T R T R T R T R T R (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)

Kegiatan : Penelitian dan Pengembangan Teknologi dan Peningkatan JPT

Berdasarkan Renstra BPKIMI

a. Penelitian dan pengembangan teknologi industri

1 Jumlah hasil litbang yang siap diterapkan

9 9 11 11 11 11 3 3 1 1

2 Karya tulis ilmiah yang

dipublikasikan

- 25 12 30 30 43 35 39 35 38

3 Jumlah hasil litbang yang telah diimplementasikan

- - 1 3 1 2 2 1 1 1

b. Pelayanan jasa teknis industri 1 Jumlah Orang - 116 - 99 70 92 70 121 75 86 2 Jumlah Sampel 940 1237 1000 1173 1250 1235 1250 1805 1500 1864 3 Jumlah Desain/Prototip - - 8 3 2 3 2 3 1 4 4 Jumlah Perusahaan yang dilayani - - - - - 186 230 306 250 389 5 Nilai (Rp.) JPT 2.249.000.000 1.852.702.569 2.470.000.000 2.119.154.299 2.470.000.000 3.606.730.701 2.470.000.000 10.323.306.123 4.460.000.000 8.718.321.464 c. Peningkatan Standardisasi Industri Daerah 1 Jumlah SDM yang memperoleh sertifikat - 9 53 30 36 35 153 18 206 2 Jumlah pengadaan alat laboratorium 5 5 17 17 10 12 10 10 65 65 3 Jumlah lingkup pengakuan produk LPK yang diakui oleh KAN - - - - 3 3 2 1 2 2 Prioritas Kementerian/Lembaga a. Penelitian dan pengembangan 1 Jumlah hasil litbang teknologi - 9 - 10 - 11 - 11 - 6

teknologi industri baru 2 Jumlah kerjasama litbang dan rancang bangun 3 2 1 1 2 2 2 2 1 1 b. Pelayanan Teknis pengujian industri Jumlah JPT 940 1237 1000 1173 1250 1235 1250 1805 1500 1864 c. Peningkatan Standardisasi Industri Jumlah RSNI - 7 7 - 8 7 7

23

Pada umumnya telah mencapai target yang ditetapkan, namun terdapat beberapa indikator

yang realisasinya tidak mencapai target, adapun kendala dalam pencapaian kinerja kegiatan prioritas tersebut adalah :

a. Beberapa kendala internal dalam hal perencanaan, pengadaan barang dan jasa dan pelaksanaan monitoring dan evaluasi kegiatan yang belum berjalan secara optimal;

b. Dalam pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan tahun 2014 ditemukan beberapa hambatan sebagai berikut :

Pengujian Mineralogi dan mikrostruktur tidak dapat dilaksanakan di internal BBK karena alat XRD dan SEM rusak berat sehingga harus dikirimkan ke laboratorium lain di luar BBK yang membutuhkan waktu proses pengujian yang cukup lama;

Beberapa bahan dan alat pendukung penelitian sulit diperoleh.

c. Tidak adanya fleksibilitas dalam penarikan anggaran dari KPPN sehingga menyebabkan pelaksanaan program-program dan kegiatan Balai Besar Keramik tidak dapat dilakukan percepatan untuk mempercepat pencapaian target-target kinerja yang telah ditetapkan; d. Respon industri terhadap jasa layanan (konsultansi, RBPI, litbang, JPT lainnya) masih kurang

karena belum menjadi prioritas.

Diharapkan pada tahun selanjutnya, capaian kinerja dapat mencapai target yang telah ditetapkan sebagai bahan untuk tindak lanjut, evaluasi dan perbaikan dalam pelaksanaan program/kegiatan periode 5 (lima tahun yang akan datang).

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, pada tahun 2014 BBK melaksanakan kegiatan yang terdiri dari 11 (sebelas) Sasaran Strategis dengan 24 (dua puluh empat) Indikator Kinerja. Dalam pelaksanaannya, setiap triwulan dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian tersebut melalui Laporan Triwulanan, e-monitoring, dan ALKI. Adapun realisasi keuangan dan fisik per triwulan dari target yang dimaksud tercantum pada Tabel 3 .2. sebagai berikut:

Tabel. 3.2. Capaian Penetapan Kinerja Per-Triwulan TA. 2014

No Sasaran

Strategis Indikator Kinerja Target Capaian

Pagu Indikator

Kinerja

Triwulan I (%) Triwulan II (%) Triwulan III (%) Triwulan IV (%)

K F K F K F K F

S R S R S R S R S R S R S R S R

Perspektif Pemangku Kepentingan / Stakeholder (S) 1 Meningkatnya hasil-hasil litbang yang dimanfaatkan oleh industri

Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan (penelitian)

1 1 25 0 25 0 25 0 25 100

Hasil penelitian dan pengembangan yang telah

diimplementasikan (penelitian)

1 1 25 0 25 0 25 0 25 100

Perspektif Proses Pelaksanaan Tugas Pokok (T)

2 Meningkatnya kerjasama litbang

Kerjasama litbang instansi dengan industri (kerja sama)

2 2 25 0 25 0 25 0 25 100

3 Meningkatnya publikasi ilmiah hasil litbang

Karya tulis imiah yang dipublikasikan (karya tulis) 35 38 25 0 25 54,28 25 0 25 54,29 4 Meningkatnya usulan penerapan SNI Peningkatan jumlah jenis produk yang sudah bisa di uji di laboratorium (persen) 16 25 25 0 25 66,67 25 0 25 89,58 5 Meningkatnya jasa pelayanan teknis kepada dunia usaha

Jumlah orang (orang) 75 86 25 0 25 104 25 0 25 10,67

Jumlah sampel (sampel) 1500 1864 25 18,2 25 7,26 25 46,94 25 51,87 Jumlah desain/ prototipe (desain) 1 4 25 100 25 0 25 100 25 200 Jumlah perusahaan yang dilayani 250 389 25 28,4 25 32,4 25 53,2 25 41,6 Nilai JPT (Rp) 4.460.000.000 8.718.312.464 25 36,03 25 50,45 25 61,53 25 47,47

6 Meningkatnya standardisasi industri Jumlah SDM yang memperoleh sertifikat (orang) 18 206 25 22,22 25 300,44 25 0 25 821,78 Jumlah pengadaan alat laboratorium (unit alat) 65 65 25 0 25 0 25 23,81 25 76,19 Jumlah lingkup pengakuan produk LPK yang diakui oleh KAN (lingkup) 2 2 25 0 25 0 25 0 25 100 7 Meningkatnya budaya pengawasan pada unsur pimpinan dan staf Terbangunnya sistem pengendalian intern di unit kerja (sistem)

1 1 25 25 25 25 25 25 25 25 8 Meningkatnya kualitas pelayanan publik Tingkat kepuasan pelanggan (indeks) 4,5 4,18 25 87,77 25 1,34 25 1,55 25 2,23 Maksimal komplain dari total layanan (persen) 3 6,43 25 25 25 19,12 25 2,54 25 0 Ketepatan pelayanan sesuai Standar Pelayanan Minimal (persen) 95 80,37 25 25 25 25 25 20 25 14,6

Perspektif Peningkatan Kapasitas Lembaga 9 Membangun sistem informasi yang terintegrasi dan handal Meng-update sistem informasi layanan jasa teknis BBK (paket) 1 1 25 25 25 25 25 25 25 25 Meng-update website (kali/tahun) 12 12 25 25 25 25 25 25 25 25 10 Meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaporan Konsistensi perencanaan dan implementasi (persen) 90 90,17 25 25 25 17,1 25 27,9 25 21 Tingkat persetujuan rencana kegiatan (zero star) (persen)

Tingkat ketepatan waktu pelaksanaan kegiatan (persen) 85 100 25 25 25 25 25 25 25 25 11 Meningkatkan sistem tata kelola keuangan dan BMN yang profesional Tingkat penyerapan anggaran (persen) 95 97,16 25 12,71 25 21,92 25 33,36 25 29,17 Tingkat ketepatan penyampaian laporan (persen) 95 100 25 25 25 25 25 25 25 25

27

Dapat dilihat pada tabel diatas umumnya indikator kinerja yang menjadi sasaran strategis

BBK di tahun 2014 dapat tercapai, meski ada beberapa indikator kinerja yang belum tercapai. Adapun, hasil capaian kinerja yang telah dilaksanakan dari masing-masing sasaran strategis tersebut adalah sebagai berikut :

Sasaran Strategis I Indikator Kinerja

Meningkatnya hasil-hasil litbang yang dimanfaatkan oleh industri

1. Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan (penelitian)

2. Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diimplementasikan (penelitian)

1. Sasaran Strategis I :Meningkatnya hasil-hasil litbang yang dimanfaatkan oleh industri a. Indikator Kinerja I.1. : Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan

Indikator Kinerja I.1. Target Capaian % Capaian

Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan

1 penelitian 1 penelitian 100%

Berdasarkan tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa :

Tingkat capaian indikator kinerja hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan telah sesuai target.

Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan di tahun 2014 berjudul : ‘’Peningkatan Kualitas Koloidal Nanosilika dari Bahan Alam Pasir Silika sebagai Pemoles Ubin Proselen”.

Apabila dibandingkan, maka jumlah hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 adalah sebagai berikut :

Tabel 3.3 Perbandingan Capaian Jumlah Hasil Penelitian dan Pengembangan yang Siap Diterapkan dari Tahun 2010-2014

Indikator Kinerja I.1. Capaian TA. 2010 Capaian TA. 2011 Capaian TA. 2012 Capaian TA. 2013 Capaian TA. 2014

Hasil penelitian dan pengembangan yang siap diterapkan

28

b. Indikator Kinerja I.2. : Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diimplementasikan

Indikator Kinerja I.2. Target Capaian % Capaian

Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diimplementasikan

1 penelitian 1 penelitian 100%

Berdasarkan tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa :

Tingkat capaian indikator kinerja hasil penelitian dan pengembangan yang telah diimplementasikan telah sesuai target.

Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diimplementasikan berjudul “Komposisi Produk Ceiling Brick” yang telah diterapkan di PT. Abadi Genteng Jati Wangi.

Apabila dibandingkan, maka jumlah penelitian dan pengembangan yang telah diimplementasikan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 adalah sebagai berikut :

Tabel 3.4 Perbandingan Capaian Jumlah Hasil Penelitian dan Pengembangan yang Siap Diimplementasikan dari tahun 2010-2014

Indikator Kinerja I.2. Capaian TA. 2010 Capaian TA. 2011 Capaian TA. 2012 Capaian TA. 2013 Capaian TA. 2014

Hasil penelitian dan pengembangan yang telah diimplementasikan

- 3 2 1 1

Untuk meningkatkan penguasaan teknologi yang sejalan dengan kompetensi inti (core competency) dan tuntutan kebutuhan industri, beberapa kegiatan telah ditetapkan untuk mencapai sasaran ”Meningkatnya hasil-hasil litbang yang dimanfaatkan oleh industri”, yaitu kegiatan riset dan rancang bangun perekayasaan industri (alat laboratorium dan alat produksi).

Kegiatan Riset dan RBPI

Kegiatan Riset dan RBPI tahun 2013 telah dilaksanakan 7 (tujuh) kegiatan, yang dibagi menjadi litbang keramik konvensional 2 (dua) judul kegiatan, litbang keramik maju 3 (tiga) judul kegiatan, litbang nano material 1 (satu) judul kegiatan, dan rancang bangun rekayasa alat 1 (satu) kegiatan. Adapun kegiatan dan hasi yang dihasilkan berupa:

29

i. Pembuatan Email Gelas dari Limbah Kaca untuk Dekorasi Manik Gelas

Telah dilakukan penelitian pembuatan email gelas dari limbah kaca untuk dekorasi manik gelas. Penggunaan email gelas ini oleh pengrajin manik-manik Jombang pada khususnya merupakan penambah nilai estetika dan seni serta penambah nilai jual terhadap manik-manik yang dihasilkan. Bahan baku yang digunakan yaitu limbah kaca dan ditambahkan oksida Keramik (Ca3(PO4)2 , ZnO, CoO, Cr2O3, Fe2O3, SeO, TiO2, MnO2, NiO2, CuO, ZrSiO3, pewarna merah, pewarna kuning, pewarna hijau, pewarna coklat, pewarna hitam). Metode penelitian dengan cara mencampurkan kulet, bahan pelebur dan oksida pewarna dalam berbagai variasi komposisi dan temperatur pembakaran. Bahan pewarna yang ditambahkan pada campuran sebanyak 2 % dan 3 %. Variasi temperatur berkisar antara (600-1000) ◦C. Penelitian ini telah didapatkan komposisi terbaik yang terdiri dari 75 % kulet, 25 % asam borat dengan temperatur pembakaran 1000 ◦C dan bahan CuO, NiO, CoO, TiO2, pewarna hijau, pewarna hitam dan pewarna coklat. Email ini telah diaplikasikan pada industri manik-manik Jombang.

Gambar. 3.1. Dokumentasi hasil kegiatan litbang pembuatan email gelas dari limbah kaca untuk dekorasi manik gelas

A. Aplikasi email gelas berwarna hasil penelitian BBK pada manik-manik polos Jombang

B. Bongkahan leburan email gelas

ii. Percobaan Pembuatan Bahan Bangunan dari Bahan Geoplymer.

Telah dilakukan penelitian pembuatan bahan bangunan dari bahan geopolimer atau bahan bangunan beton tanpa menggunakan semen Portland. Dalam pembuatan bahan bangunan beton ini digunakan bahan baku seperti kaolin, trass, breksi pumice dan zeolite. Khusus untuk kaolin, sebelum digunakan

30

dilakukan kalsinasi pada suhu 650 – 800 °C terlebih dahulu agar menjadi bahan

metakaolin. Dalam proses pembuatannya, bahan baku tersebut masih harus dicampur dengan larutan NaOH dari waterglass (Na2SiO3) sebagai aktivator, serta ditambahkan bahan agregat (pasir kuarsa atau jenis lainnya) pada perbandingan komposisi campuran tertentu. Selain itu juga dapat digunakan bahan fly ash sebagai bahan pengikat (binder) dan limbah produk keramik seperti kloset, ubin keramik, bata, genteng yang dapat digunakan sebagai bahan pengikat maupun agregat.

Setelah komposisi beton geopolimer dicampur sempurna, kemudian dicetak benda uji (specimen) dan selanjutnya specimen dipanaskan pada suhu 60 - 80oC hingga mengeras (selama ± 3 jam) sampai umur perawatan (curing) 28 hari. Sesudah itu specimen diuji sifat penyerapan air, density dan kuat tekan. Dari hasil pengujian specimen ini, dipilih hasil uji yang terbaik untuk dilakukan analisis mikrostruktur (XRD dan SEM), dan juga dibentuk prototipe produk ubin dinding, conblock dan paving block.

Dari hasil percobaan penelitian, bahan bangunan beton yang terbuat dari bahan baku metakaolin, trass, breksi pumice, diatome dan zeolite serta bahan dari fly ash dan bahan limbah produk keramik telah memenuhi syarat untuk dibuat bahan bangunan beton geopolimer jenis ubin dinding, conblock dan paving block. Kemudian menurut analisis tekno ekonomi secara sederhana, khusus untuk produk paving block diperoleh harga jual Rp. 2.450,00 per buah dengan nilai total investasi sebesar Rp. 455.000.000,00 (tidak termasuk harga lahan dan bangunan pabrik).

Gambar. 3.2. Dokumentasi hasil kegiatan litbang percobaan pembuatan bahan bangunan dari bahan geoplymer

31

A. Prototipe Bata Beton Geopolimer dari Bahan Fly Ash, Abu Sekam Padi dan

Zeolit

B. Prototipe Produk Bata Beton Geopolimer dari Bahan Fly Ash

B. Litbang keramik maju

i. Sintetis Praktikel Nano BaFe12019 untuk Bahan Keramik Magnetik Menggunakan Emulsi Mikro Balik;

Telah dilakukan penelitian sintesis partikel nano Barium Ferrite (BaFe12O19) untuk bahan baku keramik magnet. Metode yang digunakan dalam sintesis partikel nano Barium Ferrite ini adalah emulsi mikro balik yang dinilai lebih mudah dalam proses sintesisnya. Metode sintesis dengan mikro emulsi balik dalam penelitian ini secara umum bisa dilakukan melalui beberapa tahapan proses, diantaranya proses pembuatan mikro emulsi 1 (bahan utama), proses pembuatan mikro emulsi 2 (bahan penunjang), proses mixing (kolisi antar mikro emulsi), proses aging (reaksi pengendapan), proses sentrifus (sedimentasi), proses pengeringan, proses grinding dan proses kalsinasi. Pembuatan emulsi mikro 1 dilaksanakan dengan cara mentitrasikan bahan Fe(NO3)3 dan Ba(NO3)2

secara urut ke dalam Cyclohexane dan air yang dicampur surfaktan dan ko-surfaktan. Sedangkan untuk pembuatan emulsi mikro 2 pada perbandingan campuran surfaktan, kosurfaktan, Cyclohexane dan air yang sama dititrasikan bahan pengendap NH3.H2O-(NH4)2CO3. Selanjutnya, proses mixing dilakukan dengan men-stirring campuran emulsi mikro 2 ke dalam emulsi mikro 1. Pada proses ini terjadi kolisi dan reaksi antar emulsi mikro, membukanya micelle emulsi mikro saat kolisi ini seolah-olah terjadi emulsi mikro balik yang dijadikan nama metode yang dipakai. Proses berikutnya adalah proses aging untuk mengendapkan campuran barium dan feric nitrat yang dibentuk. Sedimentasi partikel Barium Ferit dilaksanakan oleh proses sentrifus dengan memanfaatkan gaya sentrifugal dari putaran sentrifus. Kemudian bahan padatan barium ferit dipisahkan dari cairan yang lain lalu dikeringkan. Setelah bebas dari air bahan padatan yang kering di gerinding. Bahan dari hasil proses grinding ini kemudian di kalsinasi untuk menghilangkan sisa karbon dari proses-proses sebelumnya. Untuk mengetahui kualitas bahan partikel nano (BaFe12O19) yang disintesis, selanjutnya dilakukan karakterisasi bahan diantaranya dengan pengujian XRD, SEM dan permagraf. Hasil karakterisasi bahan hasil sintesis menunjukkan bahwa

32

telah terbentuk partikel nano (BaFe12O19) yang akan berpotensi sebagai bahan

magnet keramik yang baik (magnet permanen).

ii. Pembuatan Perkakas Keramik dengan Mengunakan Bodi Nano PSZ

Perkakas berupa alat potong seperti pisau yang banyak dipakai sekarang biasanya menggunakan bahan logam. Alat potong dari logam memiliki kelemahan yaitu mengalami abrasi atau tumpul saat dipakai untuk memotong bahan yang tangguh seperti Kevlar atau memotong kertas dalam jumlah banyak secara langsung [1]. Alat potong dari logam juga dapat mengalami korosi dan kurang tahan secara kimia. Kelemahan-kelemahan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan bahan keramik yaitu Partially Stabilized Zirconia (PSZ) yang dikenal dengan nama “ceramic steel”

Bahan Mg-PSZ yang disintesis dari pasir zirkon termasuk nanomaterial dengan ukuran partikel rata-rata 20 nm, memiliki fasa tetragonal ZrO2 jika dikalsinasi pada suhu 800 dan 900 oC serta campuran dari fasa tetragonal dan monoklin ZrO2 jika dikalsinasi pada suhu yang lebih tinggi (1100 dan 1200 oC).

Prototip Mg-PSZ yang dihasilkan memiliki bentuk partikel yang tidak beraturan dan sudah terjadi proses awal densifikasi. Nilai kekerasan vicker’s hardness (Hv) > 1100 atau 1289,2 dan 1296,7 untuk hasil pembakaran 1450 dan 1470 oC dengan waktu penahanan 16 jam

33

iii. Pengembangan Proses Perolehan Zirkonia dan Silika dengan Teknologi

Destruksi Sintering dari Bahan Teknis dan Pasir Zirkon Kalimantan.

Pengembangan perolehan ZrO2 dan SiO2 dari pasir zirkon Pulau Kalimantan telah dilakukan dengan teknologi destruksi sintering melalui pelarutan dan pengendapan asam-basa. Campuran serbuk ZrSiO4 dan Na2CO3 pada perbandingan berat 1:1,5 dari pendekatan stokiometri, digiling kering sampai homogen; kemudian dibentuk bongkahan atau massa padat secara cetak padat dengan bantuan larutan CMC 0,2% b/v. Pembakaran sintering dilakukan pada suhu 1000°C dengan penahanan yang cukup. Proses pelarutan air (hidrolisis) digunakan ball mill untuk mendapatkan residu senyawa zirkonat dan larutan senyawa silikat dengan bantuan saringan tekan (filter press). Produk ZrO2 dan SiO2 dapat diperoleh melalui pengendapan dan pelarutan dengan larutan sodium hidroksida dan asam sulfat pada variasi harga pH yang sesuai.

Karakterisasi dari hasil isolasi ZrO2 dan SiO2 meliputi analisa kimia dengan XRF dan analisa mineral dengan XRD yang menunjukkan sebagai berikut : tingkat kemurnian ZrO2 yang diperoleh sekitar 92%, dan untuk SiO2=82%. Tahap kepercayaan proses (rendemen) mencapai 89%. Karakteristik di atas dapat ditingkatkan dengan melakukan proses pencucian dan pengolahan secara terkontrol dengan baik.

Aspek ekonomi yang dihitung secara teoritis dan praktis secara kasar memberikan harga 1 kg ZrO2 dan 1 kg SiO2 (amorf) sekitar Rp 200.000-300.000. Tindak lanjut dari pengembangan isolasi ZrO2 dan SiO2 ini diharapkan dapat dikomersilkan dengan baik terutama menjadi produk dengan ukuran butir mencapai skala nanometer dan memberi nilai tambah yang sangat tinggi.

Gambar. 3.4. Dokumentasi kegiatan litbang pengembangan proses perolehan zirkonia dan silika dengan teknologi destruksi sintering dari bahan teknis dan pasir zirkon kalimantan.

34

C. Litbang nano material

i. Peningkatan Kualitas Koloidal Nanosilika dari Bahan Alam Pasir Silika sebagai Pemoles Ubin Proselen

Pembuatan koloidal nano silika amorf telah dilakukan di BBK dan dihasilkan dari bahan alam pasir silika. Metode pelarutan hasil fusi dengan sintering tersebut, berdasarkan variasi harga pH atau konsentrasi asam. Proses nanosiasi dilakukan dengan berdasarkan rujukan paten BBK. Karakterisasi dilakukan pada produk hasil kalsinasi untuk suhu 800°C dengan XRD, SEM, TEM, dan PSA. Jenis mineral dominan yang terbentuk dari produk adalah silika kristalin dan silika amorf. Ukuran partikel nano silika yang dihasilkan berdasarkan hasil TEM dan PSA pada suhu kalsinasi 800°C adalah berukuran 10-100 nm. Fasa kristal secara mineralogi dengan XRD, menunjukkan silika kristalin yang cukup tinggi. Dari Gloss meter koloidal nano silika BBK memberikan hasil High Gloss dengan nilai 75, sedangkan untuk kategori Brightness, koloidal nano silika BBk berada di sekitar criteria Moderate dengan nilai rata-rata 39,85 dan untuk sifat hidrofobik dengan uji Sudut Kontak, koloidal nano silika BBK berada di kategori Partially wet, dengan nilai rata-rata 88,4. Produk koloidal silika amorf telah diperkenalkan kepada industri pengguna yaitu PT. Kim Liong Indonesia di Surabaya dan PT. Jui Shin Indonesia di Medan. Selain itu, produk kolidal silika amorf yang dihasilkan dapat dikembangkan menuju skala yang lebih besar serta disarankan dapat diterapkan pada bahan baku lokal yang ada di Indonesia, dengan teknologi yang telah dikuasai

D. Hasil Rekayasa Mesin/ Peralatan Teknologi Industri

i. Rancang Bangun dan Rekayasa Unit Pembangkit Listrik Jenis Oxide Fuel Cell

Telah dilakukan perancangan dan pembuatan unit pembangkit listrik jenis solid oxide fuel cell. Jenis bahan keramik yang digunakan dalam percobaan ini adalah CSZ (calcia stabilized zirconia), dengan teknik pembentukan pres kering.

Dari hasil pengujian yang dilakukan, didapatkan hasil keramik pelet CSZ-NiO yang memiliki fase kubik dengan densitas yang diperoleh adalah 8,887 gr/cm3. Dari hasil uji SEM yang dilakukan menunjukan keramik yang dibuat cukup porus (mengandung banyak pori) sehingga diprediksi akan cukup bagus digunakan sebagai elektroda SOFC.

35

Gambar. 3.5 Dokumentasi kegiatan rekayasa rancang bangun dan rekayasa unit

pembangkit listrik jenis oxide fuel cell.

Dalam mencapai indikator kinerja meningkatnya hasil-hasil litbang yang dimanfaatkan oleh industri, ditemukan beberapa hambatan sebagai berikut:

 Pengujian Mineralogi dan mikrostruktur tidak dapat dilaksanakan di internal BBK karena alat XRD dan SEM rusak berat sehingga harus dikirimkan ke laboratorium lain di luar BBK yang membutuhkan waktu proses pengujian yang cukup lama;

Beberapa bahan dan alat pendukung penelitian sulit diperoleh.

Langkah antisipatif yang diambil yaitu:

 Penjadwalan kegiatan pengujian yang dilakukan di luar BBK dikirimkan jauh hari sebelum penyelesaian laporan teknis;

Mengusulkan pengadaan peralatan SEM dan XRD ke BPKIMI;

 Perencanaan pengadaan bahan dengan mengantisipasi pengadaan bahan yang sukar diperoleh sejak proposal penelitian diajukan.

Sasaran Strategis II Indikator Kinerja

Meningkatnya kerjasama litbang Kerjasama litbang instansi dengan industri (kerjasama)

2. Sasaran Strategis II :Meningkatnya hasil-hasil litbang yang dimanfaatkan oleh industri Indikator Kinerja II.1. : Kerjasama litbang instansi dengan industri

Indikator Kinerja II.1. Target Capaian % Capaian

Kerjasama litbang instansi dengan industri 2 kerjasama 2 kerjasama 100%

36

 Tingkat capaian indikator kinerja kerjasama litbang instansi dengan industri telah sesuai

target.

Pada tahun 2014 ini BBK telah menjalin kerjasama R&D instansi dengan beberapa industri, yaitu:

1. Kerjasama dengan PT. Keramindo Indah, tentang “Penelitian Cacat Crazing Glasir pada Genteng Keramik”

2. Kerjasama dengan PT. Sigma Mitra Sejati tentang Perbaikan Slading Gate

Apabila dibandingkan, maka jumlah kerjasama litbang instansi dengan industri dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 adalah sebagai berikut :

Tabel 3.5. Perbandingan Capaian Jumlah Kerjasama Litbang Instansi dengan Industri dari Tahun 2010-2014

Indikator Kinerja II.1. Capaian TA. 2010 Capaian TA. 2011 Capaian TA. 2012 Capaian TA. 2013 Capaian TA. 2014

Kerjasama litbang instansi dengan industri

- - 2 2 2

Sasaran Strategis III Indikator Kinerja

Meningkatnya publikasi ilmiah hasil litbang

Karya tulis imiah yang dipublikasikan (karya tulis)

3. Sasaran Strategis III :Meningkatnya publikasi ilmiah hasil litbang

Indikator Kinerja III.1 : Karya tulis imiah yang dipublikasikan

Indikator Kinerja III.1. Target Capaian % Capaian

Karya tulis imiah yang dipublikasikan 35 Karya tulis 38 Karya tulis 108,57%

Berdasarkan tabel tersebut di atas menunjukkan bahwa :

 Tingkat capaian indikator kinerja karya tulis ilmiah yang dipublikasikan telah melampaui target yang ditargetkan.

37

Pencapaian target indikator kinerja jumlah publikasi ilmiah mencapai 38 makalah, yang

tercantum dalam Tabel 3.6 :

Tabel 3. 6. Jumlah publikasi ilmiah di tahun 2014

No Nama Jurnal Jenis Jurnal Jumlah

Makalah

1. Informasi Teknologi Keramik & Gelas (ITKG) Vol. 35 No. 1, Juni 2014

Nasional 5

2. Informasi Teknologi Keramik & Gelas (ITKG) Vol. 35 No. 2, Desember 2014

Nasional 5

3. Jurnal Keramik dan Gelas Indonesia (JKGI) Vol. 23 No. 1 Juni 2014

Nasional 5

4. Jurnal Keramik dan Gelas Indonesia (JKGI) Vol. 23 No. 2 Desember 2014

Nasional 3

6. Prosiding Seminar Nasional Keramik XIII Nasional 15

7. Journal of Ceramic Processing Research, Vol. 15, No. 6, pp. 1-5 (2014)

Internasional 1

8. Material Science Forum, Vol. 737 (2013) Internasional 1

9. Indonesian Mining Journal, Vol. 17 No. 2, June 2014 Nasional 1 10. Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara,

Vol. 10 No. 3, September 2014

Nasional 1

11. Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara, Vol. 18 No. 1, Juni 2014

Nasional 1

Total 38

Untuk mendukung indikator kinerja karya tulis imiah yang dipublikasikan, BBK melaksanakan 2 (dua) kegiatan, yaitu penerbitan majalah dan jurnal serta kegiatan diseminasi hasil litbang.

1. Penerbitan Majalah dan Jurnal

Dalam dokumen KATA PENGANTAR LINTONG SOPANDI HUTAHAEAN (Halaman 29-73)

Dokumen terkait