99 Hal ini diungkapkan sebagai berikut: 74
D. Analisis Cerai Gugat di Pengadilan Agama Banten
Berbeda dengan khulu yang dilakukan di luar Pengadilan, maka gugat cerai (khulu) yang diajukan ke Pengadilan harus memenuhi syarat-syarat antara lain:
1. Suami berbuat zina, pemabuk, pemadat, penjudi dan sebagainya
2. Suami meninggalkan isteri selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ijin atau alasan yang jelas dan benar artinya suami dengan sadar dan sengaja meninggalkan isteri 3. Suami dihukum penjara 5 (lima) tahun atau lebih setelah
perkawinan dilangsungkan
4. Suami bertindak kejam dan suka menganiaya isteri.
5. Suami tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami karena cacat badan atau penyakit yang dideritanya 6. Terjadi perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus
tanpa kemungkinann untuk rukum kembali 7. Suami
75 Dr. Mardani, Hukum Keluarga Islam, Kencana 2016
101
melanggar taklik talak yang diucapkan suami saat ijab Kabul Suami beralih agama atau murtad yang mengakibatkan ketidak harmonisan dalam keluarga.
7. Poligami.
8. Kawin Paksa76
Dari ke 9 faktor penyebab perceraian yang sering kali dijadikan alasan di Pengadilan adalah poin ke 6 yaitu terjadinya perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus.
Sedangkan factor-faktor yang menyebabkan perceraian sang sering kali sebagian diantaranya diwarnai kekerasan menurut Mia Amalia dosen tetap di Universitas Surya Kancana Cianjur diantaranya:
1. Perkembangan Budaya yang semakin menghargai etika berpakaian yang menutup aurat, yang dapat merangsang pihak lain untuk berbuat tidak senonoh dan sering memicu rasa tidak suka dan cemburu pasangan suami.
2. Gaya hidup dan pergaulan diantara laki-laki dan perempuan yang semakin bebas, tidak atau kurang bisa membedakan antara yang boleh dilakukan atau dilarang dalam etika agama (kaidah akhlak) sehingga sering terjadi seduktif rape.
3. Rendahnya pengalaman dan penghayatan terhadap norma-norma keagamaan yang terjadi ditengah
76 Pasal 119 Kompilasi Hukum Islam (KHI) jo Pasal 19 PP No 9 Tahun 1975
102
masyarakat. Nilai-nilai keagamaan yang semakin terkikis (pola relasi horizontal) yang cenderung semakin pudar sangat berpotensi bagi seseorang meluakan emosinya / berbuat jahat dan merugikan orang lain.
4. Tingkat control masyarakat yang rendah, artinya berbagai perilaku diduga sebagai penyimpangan melanggar hokum dan norma keagamaan kurang mendapatkan respon dan pengawasan dari unsur- unsur masyarakat.
5. Putusan Hakim yang cenderung tidak adil, misalnya putusan yang cukup ringan dijatuhkan pada pelaku yang memungkinkan anggota masyarakat yang lain melakukan tindakan yang sama karena merasa tidak takut akan sanksi hokum yang diterimanya.
6. Ketidakmampuan pelaku untuk mengendalikan emosi dan nafsu seksualnya, sehingga pelaku mencari solusi dan kompensasinya.
7. Keinginan pelaku untuk melakukan balas dendam terhadap sikap, ucapan dan perilaku korban yang dianggap menyakiti dan merugikansehingga menimbulkan Anga Rape.77
77 Mia Amalia “Kekerasan Perempuan dalam Perspektif Hukum dan sosiokultural (Dosen Tetap Suryakancana, Cianjur) Tanpa tahun
103
Dari ke tujuh masalah diatas ada empat pola yang memicu perempuan mengajukan gugat cerai karena unsur kekerasan:
1. Ketimpangan ekonomi antara perempuan dan laki-laki 2. Penggunaan kekerasan sebagai jalan keluar suatu topic 3. Otoritas dan control laki-laki dalam pengambilan
keputusan
4. Hambatan-hambatan bagi perempuan untuk meninggalkan setting keluarga.
Kompilasi Hukum Islam (KHI) telah menjadi hukum materiil bagi peradilan Agama berdasarkan instruksi Presiden RI nomor 1 tahun 1991 disamping KHI juga merupakan ijtihat monumental ulama Indonesia yang mencerminkan sebuah otoritas. Hal ini dibuktikan, KHI mengenal 3 (tiga) bentuk perceraian atas inisiatif suami isteri, yaitu cerai talak, cerai gugat dan khulu'.
Dalam perkawinan, perempuan bisa menjadi kunci dalam memelihara keutuhan rumah tangga. Perkawinan yang telah terjalin idealnya berlangsung langgeng menuju rujuan perkawinan yang diharapkan yaitu perasaan nyaman dan bahagia, namun dilapangan banyak sekali perkawinan yang bubar akibat perceraian yang dilakukan oleh pasangan baik oleh suami maupun isteri.
104
Hasil penelitian di berbagai daerah menyajikann informasi saat ini perceraian yang tertinggi justru dipicu oleh gugatan perceraian yang diajukan oleh isteri. Penyebab perceraian diantaranya saat ini perempuan sudah sangat mudah mengakses tentang kesetaraan gender, pendampingan (advokasi) dari Lembaga Pemberdayaan perempuan, ketatnya persaingan hidup yang berimbas pada keuangan rumah tangga, gaya hidup, dan penyebab lainnya.
Tingginya angka gugatan perceraian yang berujung pada jatuhnya talak cerai gugat, serta rendahnya talak karena khuli' membuat peremouan memperoleh haknya berupa segera ke luar dari kekerasan dan kemelut rumah tangga yang berlarut-larut tanpa beban materi. Hasil analisis ini dapat dibenarkan jika alas an-alaasan perceraian yang digugat seorang isteri benar-benar sesuai dengan hokum dan perundang-undangan. Dengan demikian perempuan muslim Indonesia memperoleh hak dan perlindungan Negara.
Sebaliknya jika alasannya dibuat-buat, maka keputusan Hakim Pengadilan Agama dituntut tampil secara lebih professional agar tidak turut terjebak dalam kolusi dosa talak yang di skenariokan. Kompilasi Hukum Islam telah memperketat talak dimana keharusan adanya sidang khusus bagi suami untuk mengucapkan ikrar talak. Pasal 131 ayat (4) yang menyatakan bila suami tidak mengucapkan ikrar talak dalam tempo 6 (enam)
105
bulan terhitung sejak putusan. Pengadilan Agama tentang izin ikrar talak baginya mempunyai kekuatan tetap, maka hak suami untuk mengikrarkan talak gugur dan ikatan perkawinan tetap utuh.78
Peristiwa khulu' (talak tebus) yang dalam hokum Islam Normatif sebagai hak eksklusif bagi isteri tidak tertutup dari bias dikemudian hari seiring dengan semakin meningkatnya gugatan perceraian. Jika gugatan perceraian mencapai klimaknya di suatu saat, sangat boleh jadi suami akan menjatuhkan talak jika disertai dengan iwad (pembayaran). Gugatan perceraian yang tidak terkendali justru menjadikan suami sebagai korban kekerasan perempuan yang memicu talak dapat diberikan kepada isteri dengan syarat ganti rugi. Gugatan perceraian seperti ini dapat terjaadi pada perkawinan yang tidak berlangsung lama (belum bercampur misalnya), sementara mahar telah dibayar penuh beserta dengan uang belanja yang mahal sebagai bagian tradisi.
Hal yang terjadi seperti di atas adalah akibat bias pemahaman khulu yang dimungkinkan oleh fikih Indonesia dalam KHI dimana inisiatif khulu' dapat bersumber dari suami.
Dalam keadaan demikian, khulu yang sejatinya berkenaan dengan beban psikis isteri beralih orientasi materi (ganti rugi) bagi suami.
Akibatnya, hak perempuan dalam perceraian khulu' tidak terwujud dengan murni. Secara lahiriyah isteri membayar iwad
78 Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Cetakan ke 1, Jakarta, Akademika Pressindo 1992
106
dengan ikhlas, tetapi dengan tekanan oleh suami. Bagaimanapun ikrar talak ada pada suami sehingga suami memungkinkan dapat mengulur-ulur waktu perceraiannya.
Fuqaha menjelaskan artinya: menuurut hokum Fiqh, khulu adalah akad yang terwujud melalui sebuah ijab dan qabul Hokum khulu berbeda maknanya akibat adanya hkulu' itu dapat muncul dari inisiatif suami atau isteri. Jika khulu' itu atas prakasa suami maka ia disebut talak yang berta'liq pada meteri (iwad) dan jika khulu itu daari isteri maka ia dihukum tabarru baginya.
Menurut KHI, ikrar talak yang diucapkan oleh suami di depan siding Pengadilan Agama memiliki posisi yang sangat signifikan. Khulu' sebagai bentuk talak spesifik dengan hak inisiatif isteri, pada akhirnya harus dinyatakan telah direstui oleh suami di depan siding Hakim Pengadilan agama. Dengan demikian khulu telah sah dan memiliki kekuatan hokum sejak saat dibacakan ikrar talak tersebut.
Demikian juga khulu yang terjadi akibat inisiatif suami menjadikannya sebagai faktor pembenar gugatan rekonversi.
Gugat rekonvensi adalah tuntutan terhadap kekayaan rumah tangga baik oleh suami maupun isteri yang berdiri sendiri.
Dengan khulu atas inisiatif suami membuka peluang menyingkat prosedur gugatan rekonversi menjadi inklusif dengan khulu.
Akibatnya isteri semakin terpojok dalam perceraian akibat biasnya khulu' tersebut dari sejatinya menurut ketentuan syara'.
107
Cerai talak yang dilakukan di Indonesia adalah tanpa tebusan merupakan fikih khas Indonesia. Secara filosofi Indonesia memiliki kultur yang menempatkan posisi perempuan setara dengan laki-laki. Dengan demikian, perempuan (isteri) diberikan hak yang sama dengan laki-laki (suami) untuk mengajukan perceraian. Hanya ketika seorang isteri yang mengajukan gugatan cerai maka biaya sidang dibebankan kepada isterinya untuk membayar biaya Perkara gugat cerainya.
Faktor penyebab perkara pada Pengadilan Agama Cilegon tahun 2016, 2017, 2018, 2019
Meninggalkan salah satu pihak
Perselisihan dan
pertengkaran terus
menerus
Murtad Ekonomi Lain-lain
Jumlah
15,95% 70,5% 0,25% 12,72% 0,58% 100%
16,51% 72,8% 0,30% 10,00% 0,40% 100%
17,7% 70,4% 1,14% 10,01% 0,75% 100%
16,01 71,5% 0,43 11,23 0,83 100%
108
Faktor Penyebab perkara pada Pengadilan Agama Pandeglang tahun 2016, 2017, 2018, 2019
Meninggalkan salah satu pihak
Perselisihan dan
pertengkaran terus
menerus
Murtad Ekonomi Lain-lain
Jumlah
15,95% 71,25% 0,25% 11,72% 0,83% 100%
16,71% 70,85% 0,29% 11,04% 1,31% 100%
16,17% 71,42% 0,15% 10,91% 1,35% 100%
16,31% 71,25% 0,38% 11,23% 0,83% 100%
Faktor penyebab Perkara pada Pengadilan Agama Tigaraksa tahun 2016, 2017, 2018, 2019
Meninggalkan salah satu pihak
Perselisihan dan
pertengkaran terus
menerus
Murtad Ekonomi Lain-lain
Jumlah
17,54% 69,31% 0,15% 11,12% 1,88% 100%
16,81% 70,25% 0,17% 11,34% 1,43% 100%
16,36% 70,87% 0,12% 11,01% 1,64% 100%
16,37% 70,94% 0,20% 11,31% 1,18% 100%
Data-data yang peneliti rangkum dari kasus-kasus di Pengadilan dari tahun 2016, 2017, 2018 dan 2019 sampai bulan Juli di atas, ada 9 (kesembilan) kriteria yang dipaparkan di atas, factor penyebab perceraian terbanyak sebagai alasan gugat cerai
109
yang diajukan ke Pengadi terbanyak adalah kasus Perselisihan dan pertengkaran ter menerus yang mencapai kurang lebih 70%
setiap tahunn rata di ketiga Pengadilan baik itu di Pengadilan Cilego Pandeglang maupun Pengadilan Tigaraksa.
Urutan kedua karena alasan meninggalkan salah san pihak mencapai kurang lebih 16 % pertahun menyusul factor ekonomi yang mencapai kurang lebih 11 % sedangkan factor mabuk, madat judi, dihukum penjara, KDRT, kawin paksa kami masukkan dalam table di atas masuk dalam unsur lain-lain karena penyebab perkaranya yang masuk sedikit. Ketiga Pengadilan yang dilakukan penulis penyebab perceraian karena alasan Zina dan cacat badan baik di Pengadilan Pandeglang, Cilegon dan Tiga Raksa tidak ditemukan. Perkara yang masuk ke Pengadilan Agama Tiga Raksa, Cilegon dan Pandeglang adalah Tiga lokasi yang kami teliti.
Hasil wawancara dengan Imas dan Sopian staf di Pengadilan Agama Pandeglang, diperkuat dengan pendapat dari Bapak Hakim Djajuli SH. dan Mukhrom, SH ditemukan alasan lain dari ke 9 (Sembilan) alasan kriteria perceraian di Pandeglang ditemukan banyaknya kasus pasangan yang sebenarnya pasangan suami isteri tersebut sadah bercerai secara adat, mereka mengurus perkara perceraiannya dengan mengajukan cerai gugat ke Pengadilan Agama cuma formalitas saja untuk mendapatkan surat cerai, bahkan banyak diantara mereka yang sudah mempunyai
110
pasangan baru perceraian diporoses agar keluar surat cerai untuk melegalkan pernikahannya dengan pasangan barunya.
Laporan Perkara pada Pengadilan Agama Pandeglang tahun 2016, 2017, 2018, 2019
Tahun Cerai Gugat
Cerai Talak
Itsbat Nikah
Harta Bersama
Lain-lain
Jumlah
2016 61,23% 6,17% 4,49% 0,38% 27,73% 100%
2017 67,14% 14,89% 15,79% 0,14% 3,04% 100%
2018 65,58% 11,47% 14,60% 0,11% 8,00%% 100%
2019 44,51% 16,88% 0,18% 34,30% 4,13% 100%
Sedangkan dalam laporan Perkara yang diterima dan diputus menurut jenis Perkara dari 30 jenis perkara perceraian yang diajukan, kami hanya memaparkan 4 kolom yang terbesar.
kolom kelima adalah perkara lain-lain in meliputi alasan tentang ijin poligami, pencegahan perkawinan, penolakan perkawinan oleh PPN, pembatalan perkawinan, kelainan atas kewajiban suami isteri, pengangkatan anak, pencabutan kekuasaan penunjukkan orang lain sebagai wali, ganti rugi terhadap wali, asal usul anak/ adopsi, penolakan kawin campuran, ijin kawin, dispensasi nikah, wali adhol, ekonomi, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infak/ shodaqoh, P3HP/ Penetapan ahli waris dalam penelitian ini masuk dalam wali, perkara lain-lain
Laporan Perkara pada Pengadilan Agama Cilegon tahun 2016, 2017, 2018,2019