Penafsiran/interpretasi penutupan lahan dilakukan secara manual-visual.
Hasil dari penafsiran/interpretasi manual-visual dilakukan untuk mengklasifikasikan penutupan lahan yang digunakan sebagai acuan dalam penafsiran/interpretasi tutupan lahan dengan ciri-ciri spesifik obyek pada citra yang dikenali dari bentuk, ukuran, pola, bayangan, tekstur, dan lokasi obyek.
Interpretasi citra landsat 7 tahun 2002 dilakukan pada skala 1 : 50.000. Adapun hasil dari interpretasi dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Hasil Interpretasi terhadap Citra Landsat 7 Tahun 2002 No Penutupan Lahan Luas (Ha)
Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2022
Berdasarkan hasil dari interpretasi terhadap citra landsat 7 tahun 2002 yang dilakukan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar diperoleh 2 (dua) kelas penutupan lahan berupa hutan lahan kering sekunder seluas 121,10 ha atau 29,07 % dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya dan kelas semak belukar seluas 295,42 ha atau 70,93 % dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya. Adapun persentase parameter penutupan lahan dapat dilihat pada Gambar 3 berikut :
26 Gambar 3. Persentase Parameter Penutupan Lahan Tahun 2002 4.2. Data Hasil Observasi Lapangan Menggunakan UAV/Mosaic Orthofoto
Pengambilan data hasil observasi lapangan menggunakan UAV yang menghasilkan data mosaic orthofoto dilakukan untuk mengetahui perubahan penutupan lahan yang terjadi. Hasil tersebut kemudian diinterpretasikan berdasarkan parameter penutupan lahan. Adapun hasil interpretasi data hasil observasi lapangan/mosaic orthofoto dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:
Tabel 2. Hasil Interpretasi Data Hasil Observasi Lapangan/Mosaic Orthofoto No Penutupan Lahan Luas (Ha)
2. Pertanian Lahan
Kering (Pt) 179,29 43,05
3. Pertanian Lahan
Kering Campuran (Pc) 8,71 2,09
4. Sawah (Sw) 0,4 0,09
5. Semak Belukar (B) 27,01 6,49
Jumlah 416,52 100
Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2022
29,07%
70,93%
Hutan Lahan Kering Sekunder Semak Belukar
27 Berdasarkan hasil penafsiran/interpretasi mosaic orthofoto tahun 2022 diatas, diperoleh 5 (lima) parameter kelas penutupan lahan berupa hutan lahan kering sekunder seluas 201,11 ha atau 48,28% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya, pertanian lahan kering seluas 179,29 ha atau 43,05% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya, pertanian lahan kering campuran seluas 8,71 ha atau 2,09% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya, sawah seluas 0,4 ha atau 0,09% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya dan semak belukar seluas 27,01 atau 6,49% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya.
Adapun persentase parameter penutupan lahan dapat dilihat pada Gambar 4 berikut:
Gambar 4. Persentase Parameter Penutupan Lahan Tahun 2002 4.3. Analisis Perubahan Penutupan Lahan Tahun 2002 dan tahun 2022
Hasil interpretasi citra landsat 7 tahun 2002 dan mosaic orthofoto tahun 2022 selanjutnya dilakukan overlay atau tumpang susun data penutupan lahan.
48,28%
43,05%
2,09%
0,09% 6,49%
Hutan Lahan Kering Sekunder Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Kering Campuran Sawah
Semak Belukar
28 Terhadap tumpang susun kedua data penutupan lahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:
Tabel 3. Matriks Perubahan Tutupan Lahan hasil Interpretasi Citra Landast 7 Tahun 2002 dan Mosaic Orthofoto Tahun 2022
Kelas
Kelas Tutupan Lahan Tahun 2022 (Ha)
Total
Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2022
Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa hasil interpretasi terhadap perubahan penutupan lahan tahun 2002 dan tahun 2022 untuk kelas penutupan lahan hutan lahan kering sekunder, pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campuran dan sawah terjadi peningkatan luas, sedangkan pada kelas penutupan lahan pada kelas semak belukar terjadi penurunan luas areal. Pada penutupan lahan tahun 2022 untuk kelas hutan lahan kering sekunder seluas ±201,11 ha, areal tidak mengalami perubahan penutupan lahan seluas ±116,22 ha dan mengalami perubahan menjadi semak belukar seluas ±84,89 ha. Untuk kelas semak belukar seluas ±27,01 ha, areal yang tidak mengalami perubahan penutupan lahan seluas ±22,13 dan yang mengalami perubahan penutupan
29 lahan menjadi hutan lahan kering sekunder seluas ±4,88 ha. Kelas pertanian lahan kering seluas ±179,29 ha, pertanian lahan kering campuran seluas ±8,71 ha dan sawah seluas ±0,4 ha merupakan perubahan penutupan lahan dari tahun 2002 yaitu semak belukar. Kelas penutupan lahan pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campuran dan sawah merupakan kelas penutupan lahan yang belum ada di tahun 2002. Adapun areal yang tidak mengalami perubahan penutupan lahan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya yaitu seluas ±138,35 ha atau 33,22% sedangkan yang mengalami perubahan penutupan lahan seluas ±278,17 ha atau 68,78%. Persentase areal yang mengalami dan tidak mengalami perubahan penutupan lahan dapat diliat pada Gambar 5 berikut:
Gambar 5. Persentase Areal yang mengalami dan tidak mengalami perubahan penutupan lahan
Tidak Mengalami Perubahan
33,22%
Mengalami Perubahan
68,78%
30 4.4. Indikasi Penguasaan Lahan
Dari hasil overlay atau tumpang susun citra tahun 2002 dan tahun 2022 terdapat indikasi penguasan lahan. Adapun indikasi penguasaan lahan berdasarkan parameter penutupan lahan yang telah ditentukan dapat dilihat pada Tabel 4 berikut:
Tabel 4. Matriks Indikasi Penguasaan Lahan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya
No.
Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2022
31 Berdasarkan Tabel 4 diatas, seluas ±228,12 ha atau 54,77% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya merupakan areal yang terindikasi tidak dikuasai oleh masyarakat sekitar kawasan hutan dan seluas
±188,4 ha atau 45,23% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya merupakan areal yang terindikasi adanya penguasaan oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan. Adapun persentase areal yang terindikasi tidak dikuasai dan areal yang terindikasi dikuasai oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan dapat dilihat pada Gambar 6 berikut:
Gambar 6. Indikasi Penguasaan Lahan dalam Kawasan Hutan 4.5. Analisis Terhadap Peta Indikatif PPTPKH Tahun 2021
Analisis data penguasaan lahan terhadap Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 dapat dilihat pada Tabel 5 berikut:
Terindikasi Tidak dikuasai
54,77%
luas 228,12 ha Terindikasi
dikuasai 45,23%
luas 188,4 ha
32 Tabel 5. Hasil Analisis data penguasaan lahan terhadap Peta Indikatif PPTPKH
tahun 2021 pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya No Variasi Luas
Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2022
Tabel 5 menunjukkan bahwa areal yang mengalami perubahan penutupan lahan yang terindikasi telah dikuasai oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan dengan luas 188,4 ha atau 45,23% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya. Dari luas tersebut, yang berada didalam Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 28,06 ha dan yang berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 160,34 ha. Areal yang terindikasi berupa hutan dengan luas 205,99 ha atau 49,46% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya. Dari luas tersebut, yang berada didalam Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 18,43 ha dan yang berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 187,56 ha. Selanjutnya areal yang terindikasi
33 berupa semak belukar dengan luas 22,13 ha atau 5,31% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya. Dari luas areal tersebut, yang berada didalam Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 15,82 ha dan yang berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 6,31 ha. Adapun persentase terhadap Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 dapat dilihat pada Gambar 7 berikut:
Gambar 7. Persentase Terhadap Peta Indikatif PPTPKH Tahun 2021 Berdasarkan Gambar 7, perubahan penutupan lahan yang terindikasi telah dikuasai oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan dan berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 dengan luas 160,34 ha dapat diusulkan atau direkomendasikan untuk dijadikan bahan pertimbangan dan dimasukkan dalam revisi Peta Indikatif PPTPKH kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
34 V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Hasil interpretasi terhadap perubahan penutupan lahan tahun 2002 dan tahun 2022 yaitu kelas hutan lahan kering sekunder seluas 201,11 ha, pertanian lahan kering seluas 179,29 ha, pertanian lahan kering campuran seluas 8,71 ha, sawah seluas 0,4 ha dan semak belukar seluas 27,01.
2. Perubahan penutupan lahan yang terindikasi telah dikuasai oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan dan berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 dengan luas 160,34 ha dapat diusulkan atau direkomendasikan untuk dijadikan bahan pertimbangan dan dimasukkan dalam revisi Peta Indikatif PPTPKH.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitan yang telah dilakukan, maka saran penulis adalah:
1. Perlu diadakan sosialisasi atau penyuluhan terhadap masyarakat sekitar kawasan hutan terhadap batas-batas kawasan hutan agar tidak menambah perambahan kawasan hutan.
2. Perlu dilakukan pemantauan secara berkala dan terus menerus terkait revisi Peta Indikatif Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam rangka Penataan Kawasan Hutan oleh pemerintah daerah atau instansi terkait.