• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR 2022

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR 2022"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DAN PENGUASAAN LAHAN DI TAHUN 2002 DAN 2022

PADA KAWASAN HUTAN PRODUKSI TETAP DI DESA BARUGAYA

KECAMATAN POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR

PROVINSI SULAWESI SELATAN

FEBI FEBRIANY HASIBUANG 105951106318

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2022

(2)

i

ANALISIS PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DAN PENGUASAAN LAHAN DI TAHUN 2002 DAN 2022

PADA KAWASAN HUTAN PRODUKSI TETAP DI DESA BARUGAYA

KECAMATAN POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN TAKALAR

PROVINSI SULAWESI SELATAN

FEBI FEBRIANY HASIBUANG 105951106318

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan Strata Satu (S-1)

PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2022

(3)
(4)
(5)

iv PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Febi Febriany Hasibuang

NIM : 105951106318

Program Studi : Kehutanan

Judul : Analisis Perubahan Penutupan Lahan dan Penguasaan Lahan di Tahun 2002 dan 2022 pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar merupakan hasil karya sendiri dan bukan merupakan pengambilan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran sendiri.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Makassar, Agustus 2022 Yang Membuat Pernyataan,

Febi Febriany Hasibuang

(6)

v ABSTRAK

Abstrak, Febi Febriany Hasibuang, NIM. 105951006318, Analisis Perubahan Penutupan Lahan dan Penguasaan Lahan di Tahun 2002 dan 2022 pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar. Dibawah bimbingan Sultan dan Naufal.

Penguasaan tanah dalam kawasan hutan (PTKH) pada dasarnya merupakan suatu bentuk keterlanjuran yang bertambah luas dari waktu ke waktu. Salah satu penyebab sulitnya penyelesaian persoalan penguasaan tanah tersebut adalah tidak adanya jembatan pelaksanaan regulasi antara pertanahan dan kehutanan. Namun, upaya pemerintah melegalisasi lahan di dalam kawasan hutan terutama terkait dengan Tanah Objek Reformasi Agraria (TORA) akhirnya diangkat menjadi Peraturan Presiden No. 88 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan penutupan lahan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kabupaten Takalar Tahun 2002 dan 2022 dan untuk mengetahui arahan penyelesaian penguasaan tanah dalam kawasan hutan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kabupaten Takalar Tahun 2002 dan 2022. Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan yaitu dari bulan Mei sampai dengan bulan Juli 2022 dengan metode Remote Sensing untuk menganalisis perubahan penutupan lahan.

Berdasarkan hasil interpretasi terhadap perubahan penutupan lahan tahun 2002 dan tahun 2022, kelas hutan lahan kering sekunder seluas 201,11 ha, pertanian lahan kering seluas 179,29 ha, pertanian lahan kering campuran seluas 8,71 ha, sawah seluas 0,4 ha dan semak belukar seluas 27,01. Analisis terhadap Peta Indikatif PPTPKH Tahun 2021, Perubahan penutupan lahan yang terindikasi telah dikuasai oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan dan berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 dengan luas 160,34 ha dapat diusulkan atau direkomendasikan untuk dijadikan bahan pertimbangan dan dimasukkan dalam revisi Peta Indikatif PPTPKH.

(7)

vi KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Perubahan Penutupan Lahan dan Penguasaan Lahan di Tahun 2002 dan 2022 pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan”. Skripsi ini merupakan syarat dalam menyelesaikan Program Sarjana, Prodi Kehutanan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih kurang sempurna sehingga saran yang sifatnya membangun sangat diperlukan untuk penyempurnaannya. Penulis memohon maaf atas segala kekhilafan dan kealfaan yang telah dilakukan selama melakukan penelitian ini. Penulis juga menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini juga tidak lepas dari bimbingan, dukungan, motivasi, saran, serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan dukungan, baik secara moril maupun materiil. Penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ibu Dr. Ir. Andi Khaeriyah, M.Pd selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Ibu Dr. Ir. Hikmah, S.Hut., M.Si., IPM selaku Ketua Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar dan sekaligus selaku Penasehat Akademik yang selalu memberikan arahan dan motivasi kepada penulis dalam menjalankan dan menyelesaikan studi.

(8)

vii 3. Bapak Dr. Ir. Sultan, S.Hut., M.P., IPM selaku pembimbing I dan Bapak

Ir. Naufal, S.Hut, M.Hut., IPM selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan bimbingan serta perhatian yang sangat berarti bagi penulis.

4. Bapak selaku Dr. Ir. Hasanuddin Molo, S.Hut., MP., IPM, C.EIA Penguji I bersama Bapak Aziz Abdullah, S.Hut.,M.P. selaku Penguji II yang banyak memberikan masukan berupa saran dan kritik kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak/Ibu dosen yang telah memberikan ilmu selama penulis menjalankan studi dan kepada seluruh staf tata usaha Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membantu dalam kelancaran administrasi perkuliahan.

6. Ibu Hariani Samal, S.Hut., M.Si selaku Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah VII Makassar yang memberikan rekomendasi ijin belajar serta motivasi selama melaksanakan kuliah.

7. Ibu Ribka L.L.Linggi, S.Hut., MP selaku Kepala Seksi Pemolaan Kawasan Hutan beserta seluruh staf yang telah banyak membantu sampai penelitian ini terlaksana dengan lancar.

8. Saudara La Ode Rohiman, S.P yang telah membantu dalam pengambilan data di lapangan serta memberikan motivasi, semangat dan arahan bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Buat teman - teman Mahasiswa Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar angkatan 2018, khususnya saudari Nur Asia Bahri,

(9)

viii saudari Rizka Kusuma Dewi, saudari Megawaty, saudari Rhizha Amanita Gyasisma, saudara Muasril, saudari Sitti Fatimah, saudari Kristina Sara, saudara Adrian Hariadi dan saudara Ilham Hasim yang banyak memberikan

dukungan, kebersamaan, dan kekompakan sampai menyelesaikan studi di Universitas Muhammadiyah Makassar.

10. Buat kawan-kawan Ikatan Keluarga Alumni SKMA terima kasih atas do’a kalian semua yang telah memberikan motivasi untuk melanjutkan studi S1, walaupun motivasinya awalnya dalam bentuk ejekan karena hanya tamatan sederajat SLTA.

11. Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada keluarga tercinta, Ayahanda Hasibuang Halid, Suami Achmad Yusran, Anak Sematawayang Muhammad Albyandra Zulfikar, Kakanda Mulawarman, Adinda Haqqul Fajri, Adinda Nini Yunika Putri dan Adinda Muh. Asmar Nasrullah atas semua dorongan dan doa serta restunya bagi penulis sehingga bisa menyelesaikan studi.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna pada diri pribadi penulis, almamater, bangsa dan khususnya dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di masa yang akan datang. Amin.

Makassar, Agustus 2022

Penulis

(10)

ix DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN KOMISI PENGUJI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kawasan Hutan ... 4

2.2. Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan ... 4

2.3. Penutupan Lahan ... 7

2.4. Sistem Informasi Geografis ... 8

2.5. Penginderaan Jauh ... 10

2.6. Kerangka Pikir ... 14

2.7. Definisi Operasional ... 16

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat ... 20

3.2. Alat dan Bahan ... 20

3.3. Metode Penelitian ... 21

(11)

x BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisis Citra Landsat 7 Tahun 2002... 25 4.2. Data Hasil Observasi Lapangan Menggunakan UAV ... 26 4.3. Analisis Perubahan Penutupan Lahan Tahun 2002 dan tahun 2022 .. 27 4.4. Indikasi Penguasaan Lahan ... 30 4.5. Analisis Terhadap Peta Indikatif PPTPKH Tahun 2021... 31 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... 34 5.2. Saran ... 34 DAFTAR PUSTAKA ... 35

(12)

xi DAFTAR TABEL

Nomor Teks Halaman 1. Hasil Interpretasi terhadap Citra Landsat 7 Tahun 2002 …………. 25 2. Hasil interpretasi data hasil observasi lapangan/mosaic orthofoto .. 26 3. Matriks Perubahan Penutupan Lahan hasil Interpretasi Citra

Landast 7 Tahun 2002 dan Mosaic Orthofoto Tahun 2022 ……… 28 4. Matriks Indikasi Penguasaan Lahan pada Kawasan Hutan Produksi

Tetap di Desa Barugaya ……..………...……... 30 5. Hasil Analisis data penguasaan lahan terhadap Peta Indikatif

PPTPKH tahun 2021pada Kawasan Hutan Produksi Tetap

di Desa Barugaya ……….… 32

(13)

xii DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Halaman

1. Kerangka Pikir Penelitian ... 15

2. Tahapan Pelaksanaan ... 24

3. Persentase Parameter Penutupan Lahan Tahun 2002 ... 26

4. Persentase Parameter Penutupan Lahan Tahun 2002 ... 27

5. Persentase Areal yang mengalami dan tidak mengalami perubahan penutupan lahan ... 29

6. Indikasi Penguasaan Lahan dalam Kawasan Hutan ... 31

7. Persentase Terhadap Peta Indikatif PPTPKH Tahun 2021 ... 33

(14)

xiii DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Teks 1. Kelas Penutupan Lahan

2. Peta lokasi penelitian 3. Peta Citra Tahun 2002 4. Peta Citra Tahun 2022

5. Peta Penutupan Lahan Tahun 2002 6. Peta Penutupan Lahan Tahun 2022 7. Dokumentasi

(15)

1 I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Konflik tenurial adalah berbagai bentuk perselisihan atau pertentangan klaim penguasaan, pengelolaan, pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan dan lahan serta sumberdaya alam lainnya (Permen LHK No. 84 Tahun 2015).

Banyak pihak yang berkepentingan dan menggantungkan hidupnya pada hutan. Tidak sedikit kepentingan yang muncul tidak sejalan dan bertentangan satu dengan yang lain yang menimbulkan konflik. Konflik yang dibiarkan, bisa membesar dan mengancam kelestarian hutan. Jika kelestarian hutan terancam, maka akan mengancam fungsi ekonomi, fungsi ekologi dan fungsi sosial hutan.

Penguasaan tanah dalam kawasan hutan (PTKH) pada dasarnya merupakan suatu bentuk keterlanjuran yang bertambah luas dari waktu ke waktu. Salah satu penyebab sulitnya penyelesaian persoalan penguasaan tanah tersebut adalah tidak adanya jembatan pelaksanaan regulasi antara pertanahan dan kehutanan. Namun, upaya pemerintah melegalisasi lahan di dalam kawasan hutan terutama terkait dengan Tanah Objek Reformasi Agraria (TORA) akhirnya diangkat menjadi Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan.

Penutupan lahan merupakan salah satu data strategis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang memberikan informasi kondisi penutupan lahan (hutan dan bukan hutan) secara periodik dalam skala nasional.

Seiring dengan kebutuhan terhadap lahan yang terus meningkat dari waktu ke

(16)

2 waktu, perubahan penutupan lahan juga akan terjadi. Perubahan penutupan lahan dapat terjadi secara terencana maupun tidak terencana.

Kabupaten Takalar merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan dengan luas kawasan hutan berdasarkan

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.362/Menlhk/Setjen/Pla.0/5/2019 tanggal 28 Mei 2019 seluas ±7.098,16 hektar terdiri dari: Kawasan Suaka Alam seluas ±4.226,47 hektar, Kawasan Hutan Lindung seluas ±84,53 hektar, dan Kawasan Hutan Produksi Tetap seluas ±2.787,16 hektar.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti bermaksud melakukan Analisis Perubahan Penutupan Lahan dan Penguasaan Lahan di Tahun 2002 dan 2022 pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka rumusan masalah yang akan menjadi obyek penelitian ini adalah :

1. Bagaimana perubahan penutupan lahan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kabupaten Takalar Tahun 2002 dan 2022 ? 2. Bagaimana arahan penyelesaian penguasaan tanah dalam kawasan hutan

pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kabupaten Takalar Tahun 2002 dan 2022 ?

(17)

3 1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui perubahan penutupan lahan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kabupaten Takalar Tahun 2002 dan 2022.

2. Untuk mengetahui arahan penyelesaian penguasaan tanah dalam kawasan hutan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kabupaten Takalar Tahun 2002 dan 2022.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah memperoleh data dan informasi tentang penutupan lahan disekitar Kawasan Hutan Produksi Tetap khususnya di Desa Barugaya Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk revisi Peta Indikatif Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam rangka Penataan Kawasan Hutan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

(18)

4 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kawasan Hutan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Kawasan hutan mempunyai 3 fungsi yaitu hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi.

Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi memproduksi hasil hutan. Hutan Produksi Tetap adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi Hasil Hutan yang dipertahankan keberadaannya sebagai Hutan tetap (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 7 Tahun 2021).

2.2 Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan

Dalam rangka menyelesaikan dan memberikan perlindungan hukum atas hak-hak masyarakat dalam kawasan hutan yang menguasai tanah di kawasan hutan, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2017 Tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah Dalam Kawasan Hutan. Penguasaan tanah dalam kawasan hutan terdiri atas: bidang tanah yang telah dikuasai dan dimanfaatkan dan/atau telah diberikan hak di atasnya sebelum bidang tanah tersebut ditunjuk sebagai kawasan hutan; atau bidang tanah yang dikuasai dan dimanfaatkan setelah bidang tanah tersebut ditunjuk sebagai kawasan hutan. Penguasaan tanah dalam kawasan hutan tersebut dikuasai dan dimanfaatkan untuk permukiman, fasilitas umum

(19)

5 dan/atau fasilitas sosial, lahan garapan dan/atau hutan yang dikelola masyarakat hukum adat.

Penyelesaian penguasaan tanah dalam Kawasan Hutan dilakukan dengan Penataan Kawasan Hutan dalam rangka Pengukuhan Kawasan Hutan melalui kegiatan:

a. Pengadaan TORA;

b. Pengelolaan Perhutanan Sosial;

c. Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan dan d. Perubahan Fungsi Kawasan Hutan; dan/atau e. Penggunaan Kawasan Hutan.

Penyelesaian untuk bidang tanah yang dikuasai dan dimanfaatkan setelah bidang tanah tersebut ditunjuk sebagai kawasan hutan berupa: a) mengeluarkan bidang tanah dalam kawasan hutan melalui perubahan batas kawasan hutan; b) Tukar menukar kawasan hutan; c) memberikan akses pengelolaan hutan melalui program perhutanan sosial; atau d) melakukan resettlement. Pola penyelesaian ini memperhitungkan:

a. Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan minimal 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai, pulau, dan/atau provinsi;

b. Fungsi pokok kawasan hutan.

Pada kawasan hutan dengan fungsi konservasi, pola penyelesaian untuk bidang tanah yang dikuasai dan dimanfaatkan setelah bidang tanah tersebut ditunjuk sebagai kawasan hutan dilakukan melalui resettlement. Pola

(20)

6 penyelesaian dilakukan tanpa memperhitungkan luas kawasan hutan dari luas daerah aliran sungai, pulau, dan/atau provinsi.

Pada kawasan hutan dengan fungsi lindung, pola penyelesaian bidang tanah yang dikuasai dan dimanfaatkan setelah ditunjuk sebagai kawasan hutan yang digunakan untuk permukiman, fasilitas umum dan/atau fasilitas sosial dan memenuhi kriteria sebagai hutan lindung dilakukan melalui resettlement.

Sedangkan bidang tanah yang digunakan untuk permukiman, fasilitas umum dan/atau fasilitas sosial dan tidak memenuhi kriteria sebagai hutan lindung dilakukan dengan mengeluarkan bidang tanah dari dalam kawasan hutan melalui perubahan batas kawasan hutan. Untuk bidang tanah yang digunakan untuk lahan garapan dan telah dikuasai lebih dari 20 (dua puluh) tahun secara berturut-turut dilakukan dengan mengeluarkan bidang tanah dari dalam kawasan hutan melalui perubahan batas kawasan hutan, sedangkan bidang tanah yang digunakan untuk lahan garapan dan telah dikuasai kurang dari 20 (dua puluh) tahun secara berturut-turut dilakukan dengan memberikan akses pengelolaan hutan melalui program perhutanan sosial.

Pada kawasan hutan dengan fungsi produksi, pola penyelesaian untuk bidang tanah yang dikuasai dan dimanfaatkan setelah bidang tanah tersebut ditunjuk sebagai kawasan hutan untuk bidang tanah yang digunakan untuk permukiman, fasilitas umum dan/ atau fasilitas sosial dilakukan dengan mengeluarkan bidang tanah dari dalam kawasan hutan melalui perubahan batas kawasan hutan. Untuk bidang tanah yang digunakan untuk lahan garapan dan telah dikuasai lebih dari 20 (dua puluh) tahun secara berturut-turut dilakukan

(21)

7 dengan mengeluarkan bidang tanah dari dalam kawasan hutan melalui perubahan batas kawasan hutan, sedangkan bidang tanah yang digunalan untuk lahan garapan dan telah dikuasai kurang dari 20 (dua puluh) tahun secara berturut-turut dilakukan dengan memberikan akses pengelolaan hutan melalui program perhutanan sosial.

Penyelesaian penguasaan tanah penguasaan tanah dalam rangka Penataan Kawasan Hutan dilakukan dengan inventarisasi dan verifikasi awal, antara lain: data dan informasi penutupan lahan secara periodik dan terkini, hasil inventarisasi dan verifikasi lapangan, masukan dari para pihak dan penguasaan bidang tanah dalam Kawasan Hutan Negara oleh mayarakat dilakukan sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang selanjutnya dijadikan pertimbangan penetapan Peta indikatif penyelesaian penguasaan tanah dalam rangka Penataan Kawasan Hutan (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 7 Tahun 2021).

2.3 Penutupan Lahan

Penutupan lahan (land Cover) merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung sistem kehidupan pada suatu kawasan, semakin baik jenis penutupan lahan atau vegetasi hutannya maka dapat diasumsikan bahwa kawasan tersebut memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi.

Perubahan penutupan lahan, baik yang diakibatkan oleh aktifitas manusia maupun berubah secara alami dinilai sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas lingkungan, keanekaragaman hayati dalam mendukung kehidupan pada suatu kawasan.

(22)

8 Informasi tutupan lahan sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak.

Penutupan lahan didefinisikan sebagai penyebutan kenampakan biofisik di permukaan bumi yang terdiri dari areal vegetasi, lahan terbuka, lahan terbangun, tubuh air dan lahan basah (Lillesand et al. 1990). Melalui peta tutupan lahan dapat diketahui informasi jenis-jenis tutupan lahan, luas dari setiap jenis tutupan lahan serta pola atau sebaran pemanfaatan ruang pada suatu wilayah. Informasi yang disajikan dalam peta tutupan lahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti penelitian maupun berbagai kegiatan lainnya. Penelitian yang dapat dilakukan diantaranya melihat perubahan tutupan lahan yang menyajikan informasi perbandingan luas tutupan lahan pada dua periode waktu yang berbeda, dampak tutupan lahan terhadap kondisi lingkungan, kesesuaian pemanfaatan ruang terhadap kondisi lingkungan maupun rencana tata ruang maupun beberapa kegiatan penelitian lainnya. Hasil dari berbagai penelitian tersebut dapat dijadikan referensi bagi pihak pemerintah maupun pihak terkait lainnya untuk dapat memantau atau mengontrol perkembangan suatu wilayah.

2.4 Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem komputer yang memiliki 4 (empat) kemampuan dalam menangani data yang bereferensi geografis yaitu masukan, keluaran, manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data), analisis dan manipulasi data. Dengan keempat kemampuan tersebut maka Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk mengidentifikasi daerah yang rawan terhadap bencana (Prahasta, 2002).

(23)

9 Sistem Informasi Georafis atau Georaphic Information Sistem (GIS) merupakan suatu sistem informasi yang berbasis komputer, dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Sistem ini merekam, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data yang secara spasial mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi SIG mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang dimiliki oleh pemetaan.

Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan Sistem Informasi lainya yang membuatnya menjadi berguna berbagai kalangan untuk menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang terjadi.

Aplikasi SIG dapat digunakan untuk berbagai kepentingan selama data yang diola memiliki referensi geografi, maksudnya data tersebut terdiri dari fenomena atau objek yang dapat disajikan dalam bentuk fisik serta memiliki lokasi keruangan.

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu prosedur manual atau beberapa set berbasi komputer dari prosedur-prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan atau memanipulasi data geografis. SIG dapat juga diartikan sebagai himpunan atau kumpulan yang terpadu dari hardware, software, data dan liveware (orang-orang yang bertanggung jawab dalam merancang, mengimplementasikan dan menggunakan SIG). SIG juga merupakan hasil dari perpaduan disiplin ilmu di dalam beberapa proses data spasial seperti pemetaan, remote sensing technology (teknologi penginderaan jauh), komputer

(24)

10 design dan komputer graphics (Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan

Sumber Daya Hutan, 2015).

Prahasta (2002), Sistem Informasi Geografis dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem sebagai berikut :

1. Data Input, subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan dan mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber. Subsistem ini pula yang bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentranformasikan format data aslinya ke dalam format yang digunakan oleh SIG.

2. Data Output, subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basis data baik dalam bentuk softcopy maupun bentuk hardcopy seperti tabel, grafik dan peta.

3. Data Management, subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, di-update dan di-edit.

4. Data Analisis, Subsistem ini menentukan informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG, juga melakukan pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.

2.5 Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh merupakan sutau teknik untuk mengumpulkan informasi mengenai obyek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa sentuhan fisik. Tujuan utama penginderaan jauh adalah untuk mengumpulkan data sumberdaya alam dan lingkungan. Biasanya teknik ini menghasilkan beberapa bentuk citra yang selanjutnya diproses dan diinterpretasi guna membuahkan

(25)

11 data yang bermanfaat untuk aplikasi di bidang pertanian, arkeologi, kehutanan, geografi, geologi, perencanaan, dan bidang-bidang lainnya (Lo, 1995).

Karakter utama dari suatu image (citra) dalam penginderaan jauh adalah adanya rentang panjang gelombang (wavelengthband) yang dimilikinya.

Beberapa radiasi yang bisa dideteksi dengan sistem penginderaan jarak jauh seperti : radiasi cahaya matahari atau panjang gelombang dari visible dan near sampai middleinfrared, panas atau dari distribusi spasial energi panas yang dipantulkan permukaan bumi (thermal), serta refleksi gelombang mikro. Setiap material pada permukaan bumi juga mempunyai reflektansi yang berbeda terhadap cahaya matahari. Sehingga material-material tersebut akan mempunyai resolusi yang berbeda pada setiap band panjang gelombang (Thoha, 2008).

Berdasarkan resolusi yang digunakan, citra hasil penginderaan jarak jauh bisa dibedakan atas (Jaya, 2002) :

1. Resolusi Spasial merupakan ukuran terkecil dari suatu bentuk (feature) permukaan bumi yang bisa dibedakan dengan bentuk permukaan di sekitarnya, atau sesuatu yang ukurannya bisa ditentukan. Kemampuan ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi (recognize) dan menganalisis suatu objek di bumi selain mendeteksi (detectable) keberadaannya.

2. Resolusi Spektral merupakan dimensi dan jumlah daerah panjang gelombang yang sensitif terhadap sensor.

(26)

12 3. Resolusi Radiometrik merupakan ukuran sensitifitas sensor untuk membedakan aliran radiasi (radiationflux) yang dipantulkan atau diemisikan suatu objek oleh permukaan bumi.

4. Resolusi Temporal merupakan frekuensi suatu sistem sensor merekam suatu areal yang sama (revisit). Seperti Landsat TM yang mempunyai ulangan setiap 16 hari, SPOT 26 hari dan lain sebagainya.

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dengan menggunakan citra satelit seperti Landsat TM mampu mendeteksi pola penggunaan lahan di muka bumi. Informasi yang diperoleh dari citra satelit tersebut dapat digabungkan dengan data-data lain yang mendukung ke dalam suatu sistem informasi geografis (SIG). hambatan dalam pemantauan penutupan lahan dapat dikurangi dengan adanya teknologi penginderaan jauh (remote sensing) (Sulistiyono, 2008).

2.5.1. Citra Satelit

Citra satelit merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi tutupan lahan. Pemanfaatan citra landsat telah banyak digunakan untuk beberapa kegiatan survey maupun penelitian (Wahyunto et al., 1993). Melalui citra satelit dapat dilakukan proses klasifikasi untuk mendapatkan informasi jenis-jenis tutupan lahan pada suatu wilayah berikut sebarannya secara spasial atau keruangan. Citra satelit merupakan data permukaan bumi yang diperoleh melalui perekaman oleh satelit. Data satelit kemudian ditangkap dan diproses oleh stasiun bumi yang kemudian dapat

(27)

13 digunakan untuk pengolahan data maupun analisa yang terkait dengan permasalahan kebumian termasuk juga permasalahan perkotaan.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi identifikasi suatu wilayah bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Salah satunya ialah dengan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis.

Citra satelit Landsat merupakan citra satelit sumber daya yang diluncurkan oleh Amerika Serikat pada tahun 1972 nama ERTS (Earth Resources Technology Satellite-1). Karena kesuksesan program ini, kemudian diluncurkan satelit kedua dan namanya berubah menjadi menjadi Landsat. Landsat tersebut bila ditinjau dari sensornya, dari seri pertama hingga paling terakhir, dapat dibedakan menjadi 3 generasi, yaitu generasi pertama (Landsat 1, 2, dan 3), generasi kedua (landsat 4 dan 5), dan generasi ketiga (Landsat 6 dan 7). Landsat 5 TM membawa sensor MSS dan sensor TM. Resolusi spasial dari Landsat 5 TM diantaranya yaitu 30 meter saluran 1-5, dan 7 serta 60 meter saluran 6), cakupan penyiaman 185 dan pengulangan rekaman berupa 16 hari sekali. Landsat 7 ETM+ memliki karakteristik yang hampir sama dengan Landsat 5 TM, hanya berbeda pada sensornya yang berupa sensor TM dan ETM+. Satelit tersebut sebenarnya dirancang bertahan hingga 5 tahun, namun terjadi kerusakan akibat kegagalan pengoreksi baris pemindai. Sehingga pada 31 Mei 2003 satelit ini tidak dapat berfungsi dengan baik.

(28)

14 2.5.2. Drone/Unmanned Aerial Vehicle (UAV)

Unmanned Aerial Vehicle (UAV) adalah sebuah pesawat tanpa

awak. Karena tidak memiliki awak, UAV harus dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote control dari luar kendaraan atau biasa disebut Remotely Piloted Vehicle (RPV). Selain itu, UAV juga dapat bergerak secara otomatis berdasarkan program yang sudah ditanamkan pada sistem komputernya.

2.6 Kerangka Pikir

Penelitian ini didasari oleh adanya upaya pemerintah dalam merumuskan pola penyelesaian keterlanjuran penguasaan tanah dalam kawasan hutan sebagai sumber Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA). Penyelesaian yang dilakukan bukanlah sekedar sertifikasi lahan, namun reforma agraria ini dibangun atas keinginan luhur untuk pemerataan kesejahteraan masyarakat dan juga usaha-usaha untuk menghadirkan negara ditengah-tengah masyarakat.

Dalam penyelesaian permasalahan ini dibutuhkan adanya rekomendasi terhadap lahan masyarakat yang belum terdapat pada peta indikatif untuk dijadikan bahan untuk diusulkan sebagai bahan pertimbangan yang diharapkan akan mewujudkan kawasan hutan yang legal dan legitimate. Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini disajikan pada Gambar 1.

(29)

15 Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian

Desa Barugaya

Pemanfaatan dan Penggunaan Lahan

Konflik tenurial

Data Tutupan Lahan 2002

Perubahan Penutupan Lahan

Matriks Perubahan Penutupan Lahan untuk Revisi Peta

Indikatif PPTPKH

Rekomendasi Revisi Peta Indikatif Kawasan Hutan

Data Tutupan Lahan 2022

Peta Indikatif PPTPKH (SK.698/Menlhk/Setjen/Pla.2/9/2021

)

(30)

16 2.7 Definisi Operasional

Menurut Sultan (2017), untuk memperkuat pengambilan data sesuai dengan kebutuhan masing-masing variabel dalam penelitian, maka terlebih dahulu dapat didefinisikan variabel tersebut sebelum melakukan operasionalisasi di lapangan dan memberikan batasan dalam operasional penelitian, yaitu :

a. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.

b. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.

c. Hutan Produksi Tetap adalah kawasan hutan Kawasan Hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi Hasil Hutan yang dipertahankan keberadaannya sebagai Hutan tetap.

d. Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) adalah tanah yang dikuasai oleh negara dan/atau tanah yang telah dimiliki oleh masyarakat untuk diredistribusi atau dilegalisasi.

e. Konflik tenurial adalah berbagai bentuk perselisihan atau pertentangan klaim penguasaan, pengelolaan, pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan dan lahan serta sumberdaya alam lainnya.

f. Penutupan lahan (land cover) adalah gambaran obyek (kenampakan biofisik) di permukaan bumi yang diperoleh dari sumber data terpilih

(31)

17 (umumnya data penginderaan jauh) dan dikelompokkan ke dalam kelas- kelas tutupan yang sesuai dengan kebutuhannya.

g. Sistem Informasi Georafis atau Georaphic Information Sistem (GIS) merupakan suatu sistem informasi yang berbasis komputer, dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan).

h. Penginderaan jauh merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan informasi mengenai obyek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa sentuhan fisik.

i. Unmaned Aerial Vehicle (UAV) atau Pesawat Udara Tanpa Awak adalah jenis pesawat udara yang dikategorikan sebagai mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh penerbang (pilot) atau mampu mengendalikan dirinya sendiri dengan menggunakan hukum aerodinamika.

j. Flight plan adalah rencana terbang drone.

k. Gap filling merupakan metode yang sederhana untuk menggabungkan data satelit multitemporal sehingga menghasilkan data bebas awan.

l. Koreksi Radiometrik merupakan pemprosesan gambar digital supaya nilai kecerahan menjadi meningkat.

m. Komposit citra adalah proses menggabungkan band pada citra Landsat untuk membentuk suatu tampilan yang di inginkan.

n. Orthofoto adalah satu kesatuan foto udara yang dibuat dari mosaik foto-foto udara yang telah terkoreksi geomterinya.

o. Interpretasi citra adalah kegiatan menafsir, mengkaji, mengidentifikasi, dan mengenali obyek pada citra.

(32)

18 p. Penafsiran citra adalah kegiatan menganalisis citra hasil teknologi penginderaan jauh untuk mengidentifikasi objek di permukaan bumi dengan mengelompokkan objek tersebut berdasarkan karakteristik kenampakannya pada citra satelit;

q. Software adalah data yang diprogram, disimpan, dan diformat secara digital dengan fungsi tertentu.

r. Overlay merupakan proses penyatuan data dari lapisan layer yang berbeda.

s. Shapefile adalah format data geospasial yang umum untuk perangkat lunak sistem informasi geografis.

t. Kelompok hutan adalah pembagian kawasan hutan berdasarkan kode nama tertentu yang khas pada suatu daerah.

u. Lahan garapan adalah bidang tanat di dalam kawasan hutan yang dikerjakan dan dimanfaatkan oleh seseorang atau sekelompok orang yang dapat benrpa sawah, ladang, kebun campuran dan/atau tambak.

v. Hutan Lahan Kering Sekunder adalah Hutan lahan kering primer yang mengalami gangguan manusia (bekas penebangan, bekas kebakaran, jaringan jalan, dll.), termasuk yang tumbuh kembali dari bekas tanah terdegradasi.

w. Pertanian lahan kering adalah seluruh kenampakan hasil budidaya tanaman semusim di lahan kering seperti tegalan dan ladang.

x. Pertanian lahan kering campur adalah seluruh kenampakan yang merupakan campuran areal pertanian, perkebunan, semak dan belukar.

(33)

19 y. Sawah adalah seluruh kenampakan hasil budidaya tanaman semusim di

lahan basah yang dicirikan oleh pola pematang.

z. Semak belukar adalah seluruh kenampakan areal/kawasan yang didominasi oleh vegetasi rendah yang berada pada lahan kering.

(34)

20 III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan yaitu dari bulan Mei sampai dengan Juli 2022. Penelitian dilaksanakan melalui 2 (dua) tahapan yaitu analisis data dan observasi lapangan.

Kegiatan analisis data dilakukan di Laboratorium SIG Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah VII Makassar dan observasi lapangan dilaksanakan pada sekitar Kawasan Hutan Produksi Tetap Kelompok Hutan Ko’mara Desa Barugaya Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan yang secara geografis terletak pada 119° 34' 33,039" BT dan 5° 22' 35,612" LS s/d 119° 36' 50,524" BT dan 5° 23' 6,706"

LS dengan luas ±416,52 Ha.

3.2 Alat dan Bahan a. Alat

- Seperangkat computer/laptop - Drone DJI Phantom 4

- GPS - HP

- Kamera digital - Alat tulis

- Perangkat lunak berupa Arcgis 10 dan Agisoft Photoscan b. Bahan

- Peta Rupa Bumi Indonesia

(35)

21 - Data digital atau data spasial Kawasan Hutan Produksi Tetap Kelompok

Hutan Ko’mara

- Data Citra Landsat 7 tahun 2002 (Februari 2022)

- Data hasil lapangan menggunakan drone/UAV (Juni 2022) 3.3 Metode Penelitian

a. Pengumpulan Data

1) Pengumpulan Data Kawasan Hutan dan Peta RBI

Pengumpulan data kawasan hutan terbaru berdasarkan SK.362/MENLHK/SETJEN/PLA.0/5/2091 tanggal 28 Mei 2019 dan Peta Rupa Bumi Indonesia yang dijadikan base dalam penyusunan kawasan hutan yang diperoleh dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah VII Makassar.

2) Pengunduhan Citra

Pengunduhan citra dilakukan dengan mengunduh citra landsat 7 tahun 2002 dari situs terkini dilapangan dari situs earthexplorer.usgs.gov.

3) Pengambilan foto udara menggunakan UAV

Pengambilan foto udara kondisi terkini dilakukan pada areal yang lokus penelitian dengan terlebih dahulu membuat flight plan/jalur terbang.

(36)

22 b. Pengolahan Data

1) Pengolahan Citra Landsat 7 tahun 2002

Pengolahan data citra diawali dengan menginput data citra landsat 7 yang telah di download dari situs earthexplorer.usgs.gov. Dalam melakukan analisa pada citra landsat 7 digunakan composit band 5 4 3 atau 5 4 2. Selanjutnya data citra yang terdiri dari beberapa band digabung melalui proses composit band agar dapat melakukan koreksi radiometrik. Sebelum penggabungan semua band, dilakukan proses gap filling yang merupakan metode untuk mengisi garis-garis yang kosong

pada citra yang diunduh yang mengalami SLC-off, sehingga tidak ada kekosongan data. Proses composit band dilakukan dengan fasilitas arctoolbox dengan cara menggunakan tool data management tools kemudian masuk ke raster selanjutnya ke menu raster processing dan composit bands.

Koreksi Radiometrik diperlukan untuk memperbaiki kualitas visual citra dan sekaligus memperbaiki nilai piksel yang tidak sesuai dengan nilai pantulan atau pancaran spektral obyek yang sebenarnya.

Koreksi radiometrik citra yang ditunjukkan untuk memperbaiki visual citra berupa pengisian kembali baris yang kosong karena drop out baris maupun masalah kesalahan awal pelarikan (scanning start) serta koreksi ini digunakan dalam perbaikan nilai pantulan obyek yang tidak sesuai akibat efek atmosfer.

(37)

23 Tahap selanjutnya adalah melakukan pemotongan citra landsat.

Pemotongan citra dilakukan dengan menggunakan software ArcGis.

Pemotongan citra landsat dilakukan dengan menggunakan tools yang sama pada saat melakukan composit band yaitu dengan menggunakan tool data management tools, raster dan raster processing selanjutnya masuk ke menu clip raster untuk melakukan pemotongan citra yang telah digabung. Sebelum melakukan proses clip atau pemotongan raster dilakukan pembuatan batas area pemotongan. Penentuan batas area pemotongan ditentukan berdasarkan objek yang akan diamati.

2) Pengolahan data hasil penerbangan UAV (foto)

Data hasil penerbangan UAV berupa foto diunduh ke laptop kemudian diolah menggunakan software Agisoft Photoscan. Agisoft Photoscan adalah sebuah software 3D modeling menggunakan citra/foto yang direkam secara stereo/multi sudut, sehingga dari paralaks antar foto yang dihasilkan dapat disusun sebuah model tiga dimensi dari foto. Agisoft dapat digunakan untuk mengolah foto udara yang direkam menggunakan UAV/Drone, sehingga dari hasil perekamannya dapat dihasilkan mosaic orthofoto, titik tinggi (elevation point clouds), dan DEM resolusi tinggi serta dapat ditampilkan secara 3D (tiga dimensi).

Setelah selesai melakukan pengolahan data, tahapan selanjutnya adalah mengexport data tersebut sehingga bisa diolah di software data analysis seperti ArcGIS.

(38)

24 c. Analisis Data

Analisis data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis spasial dengan mengoverlay hasil intrepretasi citra landsat 7 tahun 2002 dengan mosaic orthofoto yang hasil penerbangan UAV. Analisis data citra landsat 7 tahun 2002 dilakukan dengan parameter penutupan lahan hutan dan bukan hutan. Sedangkan dengan mosaic orthofoto yang hasil penerbangan UAV dilakukan dengan parameter penutupan lahan: hutan (hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, hutan tanaman), semak belukar, lahan terbuka, lahan garapan (pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campur, sawah, tambak), dan permukiman (permukiman, fasum, fasos). Adapun tahapan pelaksanaan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Tahapan Pelaksanaan

(39)

25 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisis Citra Landsat 7 Tahun 2002

Penafsiran/interpretasi penutupan lahan dilakukan secara manual-visual.

Hasil dari penafsiran/interpretasi manual-visual dilakukan untuk mengklasifikasikan penutupan lahan yang digunakan sebagai acuan dalam penafsiran/interpretasi tutupan lahan dengan ciri-ciri spesifik obyek pada citra yang dikenali dari bentuk, ukuran, pola, bayangan, tekstur, dan lokasi obyek.

Interpretasi citra landsat 7 tahun 2002 dilakukan pada skala 1 : 50.000. Adapun hasil dari interpretasi dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Hasil Interpretasi terhadap Citra Landsat 7 Tahun 2002 No Penutupan Lahan Luas (Ha)

Persentase terhadap luas Kawasan Hutan Produksi

Tetap (%) 1. Hutan Lahan Kering

Sekunder (Hs) 121,10 29,07

2. Semak Belukar (B) 295,42 70,93

Jumlah 416,52 100

Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2022

Berdasarkan hasil dari interpretasi terhadap citra landsat 7 tahun 2002 yang dilakukan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya Kecamatan Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar diperoleh 2 (dua) kelas penutupan lahan berupa hutan lahan kering sekunder seluas 121,10 ha atau 29,07 % dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya dan kelas semak belukar seluas 295,42 ha atau 70,93 % dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya. Adapun persentase parameter penutupan lahan dapat dilihat pada Gambar 3 berikut :

(40)

26 Gambar 3. Persentase Parameter Penutupan Lahan Tahun 2002 4.2. Data Hasil Observasi Lapangan Menggunakan UAV/Mosaic Orthofoto

Pengambilan data hasil observasi lapangan menggunakan UAV yang menghasilkan data mosaic orthofoto dilakukan untuk mengetahui perubahan penutupan lahan yang terjadi. Hasil tersebut kemudian diinterpretasikan berdasarkan parameter penutupan lahan. Adapun hasil interpretasi data hasil observasi lapangan/mosaic orthofoto dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Hasil Interpretasi Data Hasil Observasi Lapangan/Mosaic Orthofoto No Penutupan Lahan Luas (Ha)

Persentase terhadap luas Kawasan Hutan Produksi Tetap (%) 1. Hutan Lahan Kering

Sekunder (Hs) 201,11 48,28

2. Pertanian Lahan

Kering (Pt) 179,29 43,05

3. Pertanian Lahan

Kering Campuran (Pc) 8,71 2,09

4. Sawah (Sw) 0,4 0,09

5. Semak Belukar (B) 27,01 6,49

Jumlah 416,52 100

Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2022

29,07%

70,93%

Hutan Lahan Kering Sekunder Semak Belukar

(41)

27 Berdasarkan hasil penafsiran/interpretasi mosaic orthofoto tahun 2022 diatas, diperoleh 5 (lima) parameter kelas penutupan lahan berupa hutan lahan kering sekunder seluas 201,11 ha atau 48,28% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya, pertanian lahan kering seluas 179,29 ha atau 43,05% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya, pertanian lahan kering campuran seluas 8,71 ha atau 2,09% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya, sawah seluas 0,4 ha atau 0,09% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya dan semak belukar seluas 27,01 atau 6,49% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya.

Adapun persentase parameter penutupan lahan dapat dilihat pada Gambar 4 berikut:

Gambar 4. Persentase Parameter Penutupan Lahan Tahun 2002 4.3. Analisis Perubahan Penutupan Lahan Tahun 2002 dan tahun 2022

Hasil interpretasi citra landsat 7 tahun 2002 dan mosaic orthofoto tahun 2022 selanjutnya dilakukan overlay atau tumpang susun data penutupan lahan.

48,28%

43,05%

2,09%

0,09% 6,49%

Hutan Lahan Kering Sekunder Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Kering Campuran Sawah

Semak Belukar

(42)

28 Terhadap tumpang susun kedua data penutupan lahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3. Matriks Perubahan Tutupan Lahan hasil Interpretasi Citra Landast 7 Tahun 2002 dan Mosaic Orthofoto Tahun 2022

Kelas Tutupan

Lahan Tahun 2002

Tahun 2002 (±Ha)

Kelas Tutupan Lahan Tahun 2022 (Ha)

Total Tahun

2022 (±Ha)

Peruba han (±Ha) Hutan

Lahan Kering Sekunder

Semak Belukar

Pertanian Lahan Kering

Pertanian Lahan Kering Campuran

Sa wa h

Hutan Lahan Kering Sekunder

121,1 116,22 4,88 201,11 80,01

Semak

Belukar 295,42 84,89 22,13 179,29 8,71 0,4 27,01 -268,41

Pertanian Lahan Kering

179,29 179,29 Pertanian

Lahan Kering Campuran

8,71 8,71

Sawah 0,40 0,40

Total 416,52 201,11 27,01 179,29 8,71 0,40 416,52

Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2022

Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa hasil interpretasi terhadap perubahan penutupan lahan tahun 2002 dan tahun 2022 untuk kelas penutupan lahan hutan lahan kering sekunder, pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campuran dan sawah terjadi peningkatan luas, sedangkan pada kelas penutupan lahan pada kelas semak belukar terjadi penurunan luas areal. Pada penutupan lahan tahun 2022 untuk kelas hutan lahan kering sekunder seluas ±201,11 ha, areal tidak mengalami perubahan penutupan lahan seluas ±116,22 ha dan mengalami perubahan menjadi semak belukar seluas ±84,89 ha. Untuk kelas semak belukar seluas ±27,01 ha, areal yang tidak mengalami perubahan penutupan lahan seluas ±22,13 dan yang mengalami perubahan penutupan

(43)

29 lahan menjadi hutan lahan kering sekunder seluas ±4,88 ha. Kelas pertanian lahan kering seluas ±179,29 ha, pertanian lahan kering campuran seluas ±8,71 ha dan sawah seluas ±0,4 ha merupakan perubahan penutupan lahan dari tahun 2002 yaitu semak belukar. Kelas penutupan lahan pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campuran dan sawah merupakan kelas penutupan lahan yang belum ada di tahun 2002. Adapun areal yang tidak mengalami perubahan penutupan lahan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya yaitu seluas ±138,35 ha atau 33,22% sedangkan yang mengalami perubahan penutupan lahan seluas ±278,17 ha atau 68,78%. Persentase areal yang mengalami dan tidak mengalami perubahan penutupan lahan dapat diliat pada Gambar 5 berikut:

Gambar 5. Persentase Areal yang mengalami dan tidak mengalami perubahan penutupan lahan

Tidak Mengalami Perubahan

33,22%

Mengalami Perubahan

68,78%

(44)

30 4.4. Indikasi Penguasaan Lahan

Dari hasil overlay atau tumpang susun citra tahun 2002 dan tahun 2022 terdapat indikasi penguasan lahan. Adapun indikasi penguasaan lahan berdasarkan parameter penutupan lahan yang telah ditentukan dapat dilihat pada Tabel 4 berikut:

Tabel 4. Matriks Indikasi Penguasaan Lahan pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya

No.

Citra Landsat 7

Tahun 2002

Mosaic Orthofoto

Tahun 2022

Variasi Penutupan

Lahan

Kesan Awal Luas (Ha)

Persentase terhadap luas Kawasan Hutan

Produksi Tetap (%)

1. Hutan Lahan Kering Sekunder

(Hs)

Hutan Lahan Kering Sekunder

(Hs)

Hs – Hs

Terindikasi tidak dikuasai

116,22 27,9

2. Semak

Belukar (B) Hs – B

Terindikasi tidak dikuasai

4,88 1,17

3.

Semak Belukar

(B)

Hutan Lahan Kering Sekunder

(Hs)

B – Hs

Terindikasi tidak dikuasai

84,89 20,38

4. Pertanian

Lahan Kering (Pt)

B - Pt Terindikasi

dikuasai 179,29 43,05

5.

Pertanian Lahan Kering Campuran

(Pc)

B - Pc Terindikasi

dikuasai 8,71 2,09

6. Sawah

(Sw) B – Sw Terindikasi

dikuasai 0,4 0,09

7. Semak

Belukar (B) B - B

Terindikasi tidak dikuasai

22,13 5,32

Jumlah 416,52 100

Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2022

(45)

31 Berdasarkan Tabel 4 diatas, seluas ±228,12 ha atau 54,77% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya merupakan areal yang terindikasi tidak dikuasai oleh masyarakat sekitar kawasan hutan dan seluas

±188,4 ha atau 45,23% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya merupakan areal yang terindikasi adanya penguasaan oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan. Adapun persentase areal yang terindikasi tidak dikuasai dan areal yang terindikasi dikuasai oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan dapat dilihat pada Gambar 6 berikut:

Gambar 6. Indikasi Penguasaan Lahan dalam Kawasan Hutan 4.5. Analisis Terhadap Peta Indikatif PPTPKH Tahun 2021

Analisis data penguasaan lahan terhadap Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 dapat dilihat pada Tabel 5 berikut:

Terindikasi Tidak dikuasai

54,77%

luas 228,12 ha Terindikasi

dikuasai 45,23%

luas 188,4 ha

(46)

32 Tabel 5. Hasil Analisis data penguasaan lahan terhadap Peta Indikatif PPTPKH

tahun 2021 pada Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya No Variasi Luas

(Ha)

Dalam Peta Indikatif

(Ha)

Luar Peta Indikatif

(Ha)

Ket

1 Hs – Hs 116,22 1,91 114,31 Berhutan

2 Hs – B 4,88 4,31 0,58 Berhutan

3 B – Hs 84,89 12,21 72,67 Berhutan

4 B - Pt 179,29 25,23 154,06 Terindikasi

dikuasai

5 B - Pc 8,71 2,67 6,03 Terindikasi

dikuasai

6 B – Sw 0,4 0,16 0,25 Terindikasi

dikuasai

7 B - B 22,13 15,82 6,31 Semak

Belukar

Total 416,52 62,31 354,21

Sumber : Hasil Olah Data Primer, 2022

Tabel 5 menunjukkan bahwa areal yang mengalami perubahan penutupan lahan yang terindikasi telah dikuasai oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan dengan luas 188,4 ha atau 45,23% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya. Dari luas tersebut, yang berada didalam Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 28,06 ha dan yang berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 160,34 ha. Areal yang terindikasi berupa hutan dengan luas 205,99 ha atau 49,46% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya. Dari luas tersebut, yang berada didalam Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 18,43 ha dan yang berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 187,56 ha. Selanjutnya areal yang terindikasi

(47)

33 berupa semak belukar dengan luas 22,13 ha atau 5,31% dari luas Kawasan Hutan Produksi Tetap di Desa Barugaya. Dari luas areal tersebut, yang berada didalam Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 15,82 ha dan yang berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 seluas 6,31 ha. Adapun persentase terhadap Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 dapat dilihat pada Gambar 7 berikut:

Gambar 7. Persentase Terhadap Peta Indikatif PPTPKH Tahun 2021 Berdasarkan Gambar 7, perubahan penutupan lahan yang terindikasi telah dikuasai oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan dan berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 dengan luas 160,34 ha dapat diusulkan atau direkomendasikan untuk dijadikan bahan pertimbangan dan dimasukkan dalam revisi Peta Indikatif PPTPKH kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

28,06 ha

160,34 ha

18,43 ha 187,56 ha

15,82 ha 6,31 ha

Terindikasi dikuasai berada dalam Peta Indikatif Terindikasi dikuasai berada diluar Peta Indikatif Berhutan berada dalam Peta Indikatif

Berhutan berada diluar Peta Indikatif

Semak Belukar berada dalam Peta Indikatif

Semak Belukar berada diluar Peta Indikatif

(48)

34 V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Hasil interpretasi terhadap perubahan penutupan lahan tahun 2002 dan tahun 2022 yaitu kelas hutan lahan kering sekunder seluas 201,11 ha, pertanian lahan kering seluas 179,29 ha, pertanian lahan kering campuran seluas 8,71 ha, sawah seluas 0,4 ha dan semak belukar seluas 27,01.

2. Perubahan penutupan lahan yang terindikasi telah dikuasai oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan dan berada diluar Peta Indikatif PPTPKH tahun 2021 dengan luas 160,34 ha dapat diusulkan atau direkomendasikan untuk dijadikan bahan pertimbangan dan dimasukkan dalam revisi Peta Indikatif PPTPKH.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitan yang telah dilakukan, maka saran penulis adalah:

1. Perlu diadakan sosialisasi atau penyuluhan terhadap masyarakat sekitar kawasan hutan terhadap batas-batas kawasan hutan agar tidak menambah perambahan kawasan hutan.

2. Perlu dilakukan pemantauan secara berkala dan terus menerus terkait revisi Peta Indikatif Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam rangka Penataan Kawasan Hutan oleh pemerintah daerah atau instansi terkait.

(49)

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan. 2015. Pemantauan Sumber Daya Hutan Indonesia. Jakarta.

Jaya. I.N.S. 2002. Penginderaan Jauh Satelit untuk Kehutanan. Laboratorium Inventarsisasi Hutan, Jurusan Manjemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB.

Bogor.

Lillesand, T.M., dan R.W. Kiefer.1997.Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra.

Gadjah Mada University press. Yogyakarta.

Lo, C.p. 1995. Penginderaan jauh Terapan. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2015. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.84/Menlhk-Setjen/2015 tentang Penanganan Konflik Tenurial Kawasan Hutan. Jakarta.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2019. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.362/Menlhk/Setjen/Pla.0/5/2019 tentang Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan Seluas ± 91.337 Ha, Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Seluas ± 84.032 Ha dan Penunjukan Bukan Kawasan Hutan Menjadi Kawasan Hutan Seluas ± 1.838 Ha di Provinsi Sulawesi Selatan. Jakarta.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2021. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.698/Menlhk/Setjen/Pla.2/2021 tentang Peta Indikatif Penyelesaian Penguasaan Tanah Dalam Rangka Penataan Kawasan Hutan. Jakarta.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 2021. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 7 Tahun 2021 tentang Perencanaan Kehutanan, Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan dan Perubahan Fungsi Kawasan Hutan, serta Penggunaan Kawasan Hutan. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. 2017. Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2017 tentang Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan. Jakarta Prahasta, E., 2002. Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Informatika.

Bandung.

Republik Indonesia 1999. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. 1999.

(50)

Sulistiyono, S. 2008. Aplikasi Teknologi Penginderaan Jarak Jauh Mendeteksi Pola Penggunaan Lahan di DAS Cikaso kabupaten Sukabumi, Jawa Barat http://www.google.co.id/Frepository.usu.ac.id/kpr-jun2008.pdf diakses tanggal 10 Februari 2022

Sultan. 2017. Strategi Perencanaan Pembangunan Lahan Kritis Rendah Emisi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bila Provinsi Sulawesi Selatan. Universitas Hasanuddin: Disertasi.

Thoha, A.S. 2008. Karakteristik Citra Landsat. Universitas Sumatera Utara.

Medan.

Wahyunto, Sunyoto, Supanni, Dan Marsoedi Ds. 1993. Penggunaan Citra Landsat Berwarna Untuk Menunjang Identifikasi Dan Inventarisasi Lahan Kritis Di Daerah Propinsi Sumatera Utara. Hlm. 23-31. Dalam Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Tanah Dan Agrok1imat, Bogor, 18-21 Februari, 1993.

PusatPenelitian Tanah Dan Agroklimat, Bogor.

(51)

LAMPIRAN

(52)

Lampiran 1. Kelas Penutupan Lahan

Kelas penutupan lahan

No Kelas Kode Simbol Definisi Spesifikasi

1 Hutan Lahan Primer 2001 Hp Hutan alam atau hutan yang

tumbuh dan berkembang secara alami, stabil dan belum pernah mengalami gangguan eksploitasi oleh manusia, yang lantai hutannya tidak pernah terendam air baik secara periodik atau sepanjang tahun.

Kenampakkan hutan primer ditandai dengan adanya obyek yang berwarna hijau tua (pada band 543) cenderung gelap dan bertekstur kasar dengan tajuk-tajuk pohon yang kelihatan bergerombol. Tidak terdapat bekas tebangan. Pada citra, warna yang cenderung gelap karena posisi obyek yang berada pada tebing pegunungan tinggi sehingga cahaya matahari kurang 2 Hutan lahan kering

sekunder / bekas tebangan

2002 Hs Hutan yang tumbuh secara

alami sesudah terjadinya kerusakan/perubahan pada tumbuhan hutan yang pertama. Hutan yang telah mengalami gangguan eksplotasi oleh manusia, biasanya ditandai dengan adanya jaringan jalan ataupun jaringan sistem eksploitasi lainnya.

Kenampakan berhutan bekas tebas bakar yang ditinggalkan, bekas kebakaran atau yang tumbuh

kembali dari bekas tanah terdegradasi juga

Kenampakkan hutan sekunder ditandai dengan adanya obyek yang berwarna hijau tua (pada band 543) cenderung gelap dan bertekstur kasar dengan tajuk-tajuk pohon yang kelihatan bergerombol. Terdapat bekas tebangan. Pada citra, warna yang cenderung gelap karena posisi

obyek yang berada pada tebing pegunungan tinggi sehingga cahaya matahari kurang

(53)

dimasukkan dalam kelas ini

3 Hutan rawa primer 2005 Hrp Hutan yang lantai hutannya

secara periodik atau sepanjang tahun terendam air (di daerah berawa, termasuk rawa payau dan rawa gambut) yang belum menampakkan bekas penebangan

Kenampakkan obyek ditandai dengan adanya hutan rawa yang bertekstur halus, rapat dan berwarna hijau sampai dengan hijau tua (band 543). Tidak ada tanda bekas tebangan. Terdapat Sungai dan rawa di tengah areal

4 Hutan rawa sekunder / bekas tebangan

20051 Hrs Hutan yang lantai hutannya

secara periodik atau sepanjang tahun terendam air (di daerah berawa, termasuk rawa payau dan rawa gambut) yang telah menampakkan bekas

penebangan, termasuk hutan sagu dan hutan rawa bekas terbakar dan sudah

mengalami suksesi

Pada citra Landsat kombinasi band 543, berwarna hijau segar cenderung agak tua bertekstur halus meliputi areal yang luas diselingi dengan garis-garis berwarna hijau sangat muda yang mengindikasikan

jalur/jalan tebang.

5 Hutan mangrove primer 2004 Hmp Hutan yang tumbuh di

daerah pantai atau sekitar muara yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut (bakau, nipah dan nibung yang berada di sekitar pantai, yang belum menampakkan bekas penebangan). Pada beberapa lokasi, hutan mangrove berada lebih ke pedalaman

Kenampakkan obyek ditandai dengan adanya hutan mangrove yang bertekstur halus dan berwarna hijau muda (band 543) tidak terdapat bekas tebangan. Pada citra tampak adanya Sungai besar dan Sungai kecil yang membelah areal hutan mangrove

(54)

6 Hutan mangrove sekunder / bekas tebangan

20041 Hms Hutan yang tumbuh di

daerah pantai atau sekitar muara yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut (bakau, nipah dan nibung yang berada di sekitar pantai), yang telah memperlihatkan bekas penebangan dengan pola alur, bercak, dan genangan atau bekas

terbakar.

Kenampakkan obyek ditandai dengan adanya hutan mangrove yang bertekstur halus dan berwarna hijau muda (band 543) terdapat bekas tebangan. Pada citra tampak adanya sungai besar dan sungai kecil yang membelah areal hutan mangrove

7 Hutan tanaman 2006 Ht Hutan tanaman yang

dibangun dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi (sudah ditanami), termasuk hutan tanaman untuk

reboisasi dan hutan tanaman industri.

Mempunyai umur seragam, tertata rapi dan mempunyai pola tertentu yang

menunjukkan adanya manajemen dalam penanaman maupun pengelolaannya

8 Semak belukar 2007 B Hutan lahan kering yang

telah tumbuh kembali (mengalami suksesi) namun belum / tidak optimal, atau lahan kering dengan liputan pohon jarang (alami) atau lahan kering dengan dominasi vegetasi rendah (alami). Kenampakan ini biasanya tidak menunjukkan lagi

Kenampakan obyek ditandai dengan adanya vegetasi rendah dan bertekstur halus sampai dengan agak kasar, berwarna hijau muda pada band 543 yang

mengindikasikan adanya semak belukar dan terdapat bekas tebangan. Karena pada lahan kering, terdapat areal berwarna merah yang menandakan tanah terbuka atau pemukiman

(55)

adanya bekas / bercak tebangan

9 Perkebunan/Kebun 2010 Pk Kebun (perkebunan) adalah

lahan bertumbuhan pohonpohonan

yang dibebani hak milik atau hak lainnya

dengan penutupan tajuk didominasi pohon buah atau industri

Kenampakkan perkebunan coklat ditandai dengan adanya obyek yang berwarna hijau sangat muda dengan bercak coklat muda kekuningan (pada band 543) cenderung terang dengan tekstur halus.

Batas-batas yang jelas dan teratur menunjukkanbahwa obyek adalah perkebunan.

10 Semak belukar rawa 20071 Br Hutan rawa / mangrove

yang telah tumbuh kembali (mengalami suksesi) namun belum / tidak optimal, atau bekas hutan rawa /

mangrove dengan liputan pohonjarang (alami), atau bekas hutan rawa /

mangrove dengan dominasi vegetasi rendah (alami).

Kenampakan ini biasanya tidak menunjukkan lagi adanya bekas / bercak tebangan

Kenampakan obyek ditandai dengan adanya vegetasi rendah dan bertekstur halus sampai dengan agak kasar yang mengindikasikan adanyasemak belukar dan terlihat adanya genangan air musiman atau permanen

11 Rumput 3000 S Hamparan non hutan alami

berupa padang rumput, kadang-kadang dengan sedikit semak atau pohon.

Kenampakan ini merupakan kenampakan alami di sebagian Sulawesi

Tenggara, Nusa Tenggara

Kenampakkan obyek ditandai dengan barisan tipis vegetasi yang bertekstur sangat halus berwarna hijau lumut (pada band 543). Lapisan berwarna merah merupakan tanah terbuka yang merupakan kondisi alami dari wilayah pegunungan yang sangat tinggi di papua.

Referensi

Dokumen terkait

PUTRA ADITYA. Analisis Kinerja Pemasaran Komoditas Ayam Broiler Di Kelurahan Bintarore Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba Dibimbing oleh AMRUDDIN dan

Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat atas limpahan rahmat dan Hidayah-Nya, penulis diberikan kekuatan dan kesabaran untuk

Ekstrakurikuler Pada SMP Perguruan Islam Kota Makassar. Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Muhammad

Hasil Penelitian ini menunjukkan Keanekaragaman jenis mangrove di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea dimana nilai H’< 1, maka indeks keanekaragaman jenis

iNilai ikerapatan irelatif i i(KR) ivegetasi imangrove idi iKelurahan iNangamese itertinggi idari iseluruh ispesies iterdapat ipada itingkat isemai idengan ijenis

(1) Bidang-bidang tanah, kawasan hutan dan perairan yang dikuasai oleh sekelompok masyarakat yang tidak memenuhi kriteria sebagai masyarakat hukum adat

Analisis Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Sebagai Tanaman Pangan Di Taman Hutan Raya Abdul Latief Kabupaten Sinjai, dibimbing oleh Husnah Latifah dan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai model komunikasi penyuluhan pertainan dalam adopsi penggunaan alat siram sprinkler pada tanaman cabai di Desa Arabika