• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Constant Market Share Indonesia Dan Cina

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Analisis Constant Market Share Indonesia Dan Cina

Analisis dengan menggunakan Constant Market Share merupakan suatu metode analisis yang digunakan untuk mengetahui determinan yang

mempengaruhi pertumbuhan ekspor dari alas kaki Indonesia dan Cina khususnya untuk komoditi HS 640319 atau sepatu olah raga yang menggunakan bahan kulit dan HS 640219 atau sepatu olah raga yang menggunakan bahan kulit atau plastik. Untuk memudahkan melihat perkembangan determinan yang mempengaruhi pertumbuhan ekspor maka pada penelitian ini analisis CMS dibagi berdasarkan dua periode yaitu periode 2000- 2005 dan juga periode 2005 sampai 2009 (Tabel 5.3).

Tabel 5.3. Constant Market Share Alas kaki komoditi HS 640219 Indonesia Dan Cina ke pasar Amerika Serikat(Juta US$)

efek pertumbuhan impor efek komposisi komoditi efek daya Saing pertumbuhan ekspor Indonesia efek pertumbuhan impor efek komposisi komoditi efek daya Saing pertumbuhan ekspor Cina 2000-2005 49.27 -34.24 -88.45 -73.42 82.35 -57.23 89.28 114.39 2005-2009 -6.51 -12.41 -3.96 -22.88 -35.25 -67.22 54.48 -47.99 Indonesia Periode Cina

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan analisis CMS, dapat diketahui pertumbuhan ekspor alas kaki Indonesia dan Cina HS 640219 pada periode 2000-2005 lebih dipengaruhi oleh efek daya saing sedangkan untuk periode 2005-2009 lebih dipengaruhi oleh besarnya permintaan alas kaki dari pasar Amerika Serikat atau lebih dipengaruhi oleh efek komposisi komoditi. Untuk lebih jelasnya, analisis spesifik berdasarkan masing-masing periode dapat dijelaskan sebagai berikut :

a) Periode 2000-2005 :

Selama periode 2000 sampai 2005 perkembangan ekspor negara Indonesia untuk komoditi HS 640219 mengalami penurunan sampai dengan 53,69 persen. besarnya penurunan nilai ekspor tersebut lebih dipengaruhi oleh adanya pengaruh

dari efek daya saing yang turun senilai US$ 88,45 juta dan juga adanya penurunan dari efek pangsa mikro atau efek komposisi komoditi senilai US$ 34,24 juta walaupun terjadi peningkatan dari efek pertumbuhan impor sebesar US$ 49,27 juta namun besarnya peningkatan ini masih lebih kecil nilainya jika dibandingkan dengan besarnya penurunan dari efek daya saing dan juga efek komoposisi komoditi.

Jika dilihat berdasarkan data pada gambaran umum, besarnya penurunan pada nilai ekspor Indonesia pada periode 2000 sampai 2005 ternyata disebabkan oleh adanya penurunan dari jumlah tenaga kerja dan juga jumlah perusahaan yang beroperasi untuk memproduksi alas kaki pada Tahun 2000 sampai 2005, dimana pada periode tersebut jumlah perusahaan yang memproduksi alas kaki mengalami penurunan yang terus menerus ( Gambar 4.3). Adanya dampak dari penurunan jumlah perusahaan yang berdampak pada penurunan nilai ekspor ternyata secara tidak langsung juga memberikan dampak pada besarnya daya saing dari komoditi alas kaki Indonesia di pasar Amerika Serikat.

Pebandingan antara Indonesia dan Cina jika dilihat berdasarkan perkembangan nilai ekspor sangatlah berbeda jauh, pada periode ini pertumbuhan ekspor Cina sangat positif dimana terjadi peningkatan nilai ekspor sebesar 51,68 persen. adanya peningkatan dari nilai ekspor Cina ternyata lebih dipengaruhi oleh sisi penawaran atau efek daya saing yang meningkat senilai US$ 89,28 juta, selain itu juga adanya peningkatan dari efek pangsa makro atau efek pertumbuhan impor sebesar US$ 82,35 juta yang juga berpengaruh terhadap pertumbuhan nilai ekspor Cina. Walaupun pada periode tersebut efek pangsa mikro atau efek komposisi

komoditi mengalami penurunan senilai US$ 57,23 juta namun penurunan tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan positif dari nilai ekspor Cina.

b) Periode 2005-2009 :

Selama periode 2005 sampai 2009 pertumbuhan nilai ekspor Indonesia juga menunjukkan penurunan, besarnya penurunan nilai ekspor pada periode tersebut mencapai 36, 13 persen atau turun senilai US$ 22,88 juta. Adanya penurunan nilai ekspor jika dilihat berdasarkan analisis CMS Indonesia lebih dipengaruhi oleh adanya penurunan dari efek komposisi komoditi atau penurunan permintaan untuk komoditi alas kaki dari pasar Amerika Serikat senilai US$ 12,41 juta. Selain itu juga adanya penurunan dari efek pertumbuhan impor sebesar US$ 6,51 juta. selain kedua efek tersebut adanya penurunan dari nilai ekspor Indonesia juga dipengaruhi efek daya saing yang menekan senilai US$ 3,96 juta. Secara garis besar pada periode tersebut hasil CMS baik dari efek pertumbuhan impor, efek komposisi komoditi dan efek daya saing menghasilkan nilai yang negatif.

Jika dibandingkan dengan Cina pertumbuhan nilai ekspor Cina juga memperlihatkan nilai yang negatif, dimana pertumbuhan ekspor Cina pada periode 2005 sampai 2009 mengalami penurunan sampai 13,99 persen. Besarnya penurunan nilai ekspor Cina yang terjadi pada periode ini lebih disebabkan oleh adanya pengaruh dari efek pangsa mikro atau efek dari komposisi komoditi yang menurun senilai US$ 67,22 juta dan juga efek pertumbuhan impor sebesar US$ 35,25 juta. Walaupun adanya peningkatan dari efek daya saing senilai US$ 54,48 juta namun peningkatan tersebut tidak membawa pengaruh pertumbuhan negatif dari nilai ekspor Cina.

Secara garis besar penurunan nilai ekspor kedua negara baik Cina maupun Indonesia pada periode 2005 sampai 2009 lebih disebabkan oleh adanya penurunan yang cukup besar dari efek komposisi komoditi atau permintaan akan komoditi alas kaki itu sendiri di pasar Amerika Serikat. Seperti yang kita ketahui pada Tahun 2009 Amerika Serikat sedang mengalami krisis keuangan global dimana terjadinya krisis tersebut ternyata telah membawa dampak yang cukup besar terhadap daya beli masyarakatnya akan produk-produk impor, hal ini secara tidak langsung membawa dampak yang cukup besar terhadap perkembangan ekspor negara –negara yang menjadikan Amerika sebagai pasar tujuan utama, dimana penurunan permintaan tentu berdampak pada besarnya nilai ekspor.

Selanjutnya Analisis Constant Market Share untuk komoditi HS 640319 atau sepatu olah raga yang menggunakan bahan kulit. Dari hasil analisis pertumbuhan nilai ekspor Indonesia pada periode 2000 sampai 2005 lebih dipengaruhi oleh efek daya saing, sedangkan Cina pertumbuhan nilai ekspornya lebih dipengaruhi oleh efek pertumbuhan impor dan juga efek daya saing. Selanjutnya pada periode 2005 sampai 2009 pertumbuhan nilai ekspor Indonesia dan Cina lebih dipengaruhi oleh efek komposisi komoditi ( Tabel 5.4).

Tabel 5.4. Constant Market Share Alas kaki komoditi HS 640319 Indonesia Dan Cina ke pasar Amerika Serikat(Juta US$)

efek pertumbuhan impor efek komposisi komoditi efek daya Saing pertumbuhan ekspor Indonesia efek pertumbuhan impor efek komposisi komoditi efek daya Saing pertumbuhan ekspor Cina 2000-2005 141.31 -55.85 -140.46 -55.00 252.89 -99.95 209.84 362.79 2005-2009 -34.66 -110.19 61.23 -83.63 -109.45 -347.94 16.43 -440.96 Indonesia Periode Cina

Untuk lebih jelasnya, analisis spesifik berdasarkan masing-masing periode dapat dijelaskan sebagai berikut :

a) Periode 2000-2005:

Selama Periode 2000 sampai 2005 pertumbuhan nilai ekspor alas kaki HS 640319 mengalami penurunan senilai 14,02 persen. Adapun penurunan nilai ekspor tersebut lebih disebabkan oleh adanya penurunan dari efek daya saing senilai US$ 140,46 juta dan juga penurunan dari efek komposisi komoditi senilai US$ 55,85 juta, walaupun terjadi peningkatan pertumbuhan impor senilai US$ 141, 31 juta namun peningkatan nilai tersebut tidak dapat menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan ekspor alas kaki HS 640319 ke pasar Amerika Serikat.

Jika dibandingkan dengan Cina pertumbuhan nilai ekspor Cina pada Tahun 2000 sampai 2005 justru mengalami peningkatan. Peningkatan nilai ekspor Cina pada periode ini mencapai 51.68 persen. Adapun peningkatan dari pertumbuhan nilai ekspor Cina tersebut lebih disebabkan oleh adanya peningkatan dari efek pertumbuhan impor senilai US$ 252,89 juta dan juga pertumbuhan dari efek daya saing senilai US$ 209,84 juta. Walaupun terjadi penurunan dari efek komposisi komoditi atau permintaan pasar Amerika Serikat senilai US$ 99,95 juta namun hal tersebut tidak membawa dampak yang cukup besar terhadap besarnya pertumbuhan nilai ekspor Cina yang tetap bernilai positf walaupun terjadi penurunan permintaan tersebut.

b) Periode 2005 – 2009 :

Selama periode 2005 sampai 2009 perkembangan nilai ekspor Indonesia untuk komoditi HS 640319 tetap menunjukkan nilai yang negatif, dimana penurunan nilai ekspor Indonesia pada periode ini mencapai 24,79 persen.

Besarnya penurunan nilai ekspor lebih disebabkan oleh adanya penurunan dari efek komposisi komoditi sebesar US$ 110,19 juta dan juga penurunan dari efek pertumbuhan impor senilai US$ 34,66 juta. Walaupun terjadi peningkatan daya saing senilai US$ 61,23 juta namun besarnya peningkatan nilai tersebut tetap tidak dapat menyelamatkan nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dari keterpurukan.

Sama seperti Indonesia besarnya pertumbuhan nilai ekspor Cina juga memperlihatkan nilai yang negatif, penurunan nilai ekspor Cina pada periode 2005 sampai 2009 mencapai 41,41 persen. Penurunan tersebut lebih disebabkan oleh adanya penurunan dari permintaan pasar Amerika serikat yang nilainya mencapai US$ 347,94 juta, selain itu besarnya penurunan nilai ekspor Cina juga dipengaruhi oleh efek pertumbuhan impor yang menurun sebesar US$ 109,45 juta, walaupun pada periode tersebut efek daya saing memberikan kontribusi peningkatan senilai US$ 16,43 juta namun peningkatan nilai efek daya saing tersebut masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan penurunan dari efek pertumbuhan impor dan efek komposisi komoditi.

Dokumen terkait