DAFTAR LAMPIRAN
3.4 Analisis Data
3.4.1 Metode Pengambilan Responden
Pengambilan responden petani dilakukan secara snow ball sampling yaitu
suatu metode dimana responden dipilih secara sengaja untuk dilakukan wawancara atas rekomendasi yang ditunjuk oleh responden sebelumnya yang telah diwawancarai tentang siapa saja responden lainnya yang dapat dimintai
informasi terkait penelitian yang dilakukan. Konsep metode snow ball sampling
adalah informasi yang diperoleh akan semakin banyak seiring berjalannya waktu (proses pengambilan informasi) seperti bola salju yang menggelinding, semakin menggelinding maka bentuk bola akan semakin besar. Teknik pengambilan
responden petani menggunakan metode snow ball sampling dilakukan dengan
kriteria responden petani pernah menebang pohon sengon dengan batas penebangan 5 tahun terakhir.
Pengambilan responden dilakukan pada beberapa kelompok tani desa. Terdapat empat kelompok tani di Desa Sadeng, yaitu kelompok tani Cikadu dan kelompok tani Tunas Harapan yang berada di Dusun Cikadu dan Gunung Sereh, kelompok tani Dukuh Manggu yang berada di Dusun Paku, dan kelompok tani Sugih Tani yang berada di Dusun Sadeng. Jumlah total anggota tani dari empat kelompok tani berjumlah 123 orang dengan masing-masing anggota untuk setiap kelompok tani, yaitu kelompok tani Tunas Harapan berjumlah 38 orang, kelompok tani Cikadu berjumlah 20 orang, kelompok tani Dukuh Manggu berjumlah 40 orang, dan kelompok tani Sugih Tani berjumlah 25 orang.
Langkah awal pengambilan responden yang dilakukan pada masing-masing kelompok tani adalah menemui ketua tani untuk mengetahui nama-nama petani yang menjadi anggota dalam kelompok tani dan menggali informasi mengenai petani yang pernah menebang pohon sengon dengan batas penebangan 5 tahun terakhir untuk dilakukan wawancara, termasuk ketua tani itu sendiri apabila pernah melakukan penebangan pohon sengon.
Berdasarkan informasi yang diketahui ketua tani mengenai anggota tani yang pernah melakukan penebangan pohon sengon, maka ketua tani menunjuk nama anggota yang dijadikan rekomendasi untuk dilakukan wawancara pada
nama anggota yang ditunjuk tersebut. Selanjutnya anggota tersebut menunjuk anggota (responden) lainnya yang juga pernah menebang pohon sengon dan seterusnya, sehingga penunjukan responden lainnya didasarkan pada informasi yang diketahui oleh responden yang sebelumnya telah diwawancarai mengenai petani yang pernah menebang pohon sengon dengan batas penebangan 5 tahun terakhir.
Pengambilan responden dilakukan selama responden yang diwawancarai masih merekomendasikan nama responden yang berbeda untuk dilakukan wawancara selanjutnya, sedangkan apabila responden yang diwawancarai menyebutkan atau menunjuk nama responden yang sama artinya nama responden yang ditunjuk tersebut merupakan responden yang sudah dilakukan wawancara sebelumnya, maka pengambilan responden tidak bisa dilanjutkan. Diperoleh 25 orang responden petani dari 123 orang anggota yang tergabung dalam empat kelompok tani. Banyaknya responden yang diambil untuk masing-masing kelompok tani, yaitu untuk kelompok tani Tunas Harapan sebanyak 7 orang, kelompok tani Cikadu sebanyak 7 orang, kelompok tani Dukuh Manggu sebanyak 8 orang, dan kelompok tani Sugih Tani sebanyak 3 orang.
Pengambilan responden tengkulak dan industri dilakukan secara sengaja mengikuti alur kayu dalam penyalurannya. Pengambilan responden tengkulak berdasarkan alur kayu dari petani, dengan kriteria tengkulak yang diambil merupakan tengkulak desa dan tengkulak tersebut menjual kayunya pada industri yang juga berada dalam satu desa. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan suatu produk yang berasal dari Desa Sadeng, mulai dari menyediakan bahan baku hingga pengolahan bahan baku tersebut dengan keterlibatan aktor yang berada dalam lingkup desa. Diperoleh 2 orang tengkulak secara sengaja berdasarkan alur penyaluran kayu dari petani yang menjual hasil hutannya melalui tengkulak. Selanjutnya diperoleh 2 industri hasil alur penyaluran kayu dari tengkulak, sedangkan untuk lembaga pemerintah yang terlibat dalam perdagangan kayu sengon rakyat ditelusuri berdasarkan alur perdagangan kayu sengon dalam penyalurannya dari bahan mentah hingga menjadi suatu produk.
3.4.2 Analisis Rantai Nilai Perdagangan Kayu Sengon Rakyat 3.4.2.1Identifikasi Para Aktor
Identifikasi aktor sepanjang rantai nilai kayu sengon dilakukan melalui penelusuran dan keterkaitan antar aktor. Dimulai dari petani, tengkulak, industri penggergajian yang dilakukan secara sengaja dengan mengikuti alur perdagangan kayu sengon dalam penyalurannya dari produsen sampai konsumen akhir (dari bahan mentah hingga menjadi suatu produk jadi) hingga lembaga pemerintah (kantor desa dan kantor unit pelaksana teknis) yang ikut berperan dan mempunyai wewenang dalam perdagangan kayu rakyat.
3.4.2.2Identifikasi Karakteristik Masing-masing Aktor
Petani, tengkulak, maupun industri penggergajian mempunyai
karakteristiknya masing-masing dalam melakukan perdagangan kayu sengon baik dalam komponen biaya input yang dikeluarkan, harga jual yang ditetapkan, dan proses kegiatan usaha yang dilakukan, serta lembaga pemerintah yang mempunyai wewenangnya masing-masing terkait perdagangan kayu rakyat.
3.4.2.3Analisis Nilai Tambah
Untuk mengetahui besarnya nilai tambah yang diterima masing-masing aktor (petani, tengkulak, industri penggergajian) sepanjang rantai nilai kayu sengon rakyat, maka dilakukan perhitungan nilai tambah pada masing-masing aktor berdasarkan harga jual dan besarnya biaya input yang dikeluarkan menurut
Gittinger (1986) diacu dalam Tarigan (1998) yang dirumuskan sebagai berikut:
Nilai Tambah = Nilai Penjualan (Output) – Nilai Pembelian (Input) 3.4.2.4Identifikasi Saluran Pemasaran
Identifikasi saluran pemasaran yang terjadi di sepanjang rantai nilai perdagangan kayu sengon rakyat dengan keterlibatan para aktor yang saling terkait dalam penyalurannya. Saluran pemasaran ditelusuri dari titik produsen sampai konsumen akhir yaitu mulai dari menyediakan bahan baku (hutan rakyat) hingga menjadi suatu produk yang siap pakai. Rantai pemasaran tersebut dijadikan dasar dalam menggambarkan pola saluran pemasaran yang terjadi sepanjang rantai nilai perdagangan kayu sengon rakyat di desa tersebut.
3.4.2.5Volume Pohon Sengon yang Ditebang
Perhitungan yang dilakukan untuk memperoleh besarnya volume pohon sengon yang ditebang dari petani yang menjual hasil hutannya yaitu dengan melakukan perhitungan berdasarkan penyusunan tabel volume pohon jenis sengon di KPH Bogor Jawa Barat, dengan persamaan regresi yang digunakan menurut
Sofwan et al. (1995) diacu dalam Fajarwati (2005) yang dirumuskan sebagai
berikut:
LogVpkt = -3,8590+2,4798log d
Keterangan:
Vpkt = Volume di bawah pangkal tajuk (m³)
d = Diameter setinggi dada (cm)
Besarnya volume pohon sengon yang ditebang dari petani yang menggunakan sendiri hasil hutannya yaitu dengan menghitung kubikasi dari produk yang dihasilkan berdasarkan jenis produk, ukuran produk, dan banyaknya produk yang dihasilkan.
BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
Berdasarkan data laporan tahunan Desa Sadeng tahun 2011, bahwa kondisi umum Desa Sadeng adalah sebagai berikut: