• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian menggunakan metode kualitatif, yaitu dengan mengkaji data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber data yang terkumpul, mempelajari data, menelaaah menyususn dalam suatu satuan yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya, dan memeriksa keabsahan serta mendefenisikannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya peneliti untuk membuat kesimpulan peneliti (Moleong, 2007:242).

Selain itu data-data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis secara kualitatif, artinya untuk analisis data tidak diperlukan model uji statistik dengan memakai rumus-rumus tertentu, melainkan lebih ditujukan sebagai tipe penelitian deskriptif. Kutipan hasil wawancara dan observasi sejauh mungkin akan ditampilkan untuk mendukung analisis yang disampaikan, sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian tersebut.

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.1. Gambaran Umum

4.1.1. Sejarah Kelurahan Bagan Deli

Kelurahan Bagan Deli terletak di tepi Muara Deli sampai ke tepian Kuala Deli. Dulunya, tempat ini dinamakan Pulau Putri yang merupakan tempat persinggahan Keluarga Sultan Deli.

Pada tahun 1910, ketika utusan Kesultanan Deli datang ke Kampung Bagan Deli untuk memberitahukan bahwa keluarga Sultan Deli akan berkunjung ke Persinggahan Pulau Putri maka satu orang Tokoh di Kampung Bagan Deli akan menyiapkan segala sesuatunya sehubungan dengan penyambutan kunjungan tersebut (persiapan tempat, makanan, dan keamanan) termasuk mamandu Perahu Kesultanan Deli dari Persinggahan Pasar Raja (posisi sekarang diantara Lorong Pertamina dengan Lorong I Veteran) menuju persinggahan Pulau Putri (posisi sekarang: Pantai Ocean Pasifik). Tokoh tersebut selanjutnya tercatat sebagai orang pertama yang diangkat/ditunjuk oleh Kesultanan Deli menjadi Penghulu Kampung Bagan Deli yaitu Bapak H.Awal, setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Kampung Bagan Deli secara administratif menjadi Desa Bagan Deli yang berada di bawah Pemerintahan Sumatera Timur. Dan pada perkembangannya, kini tahun 2011 Kampung Bagan Deli menjadi Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

4.1.2 Letak Geografis

Kelurahan Bagan Deli adalah salah satu dari 6 kelurahan yang ada di dalam wilayah administrasi Kecamatan Medan Belawan.Kelurahan ini merupakan

kelurahan yang terletak paling timur di Kecamatan Medan Belawan dan berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Kelurahan Bagan Deli memiliki luas wilayah 230 km2. Berdasarkan letak astronomis, Kelurahan Bagan Deli terletak pada 03° 47°LU − 03° 48°LU dan 98° 41’BT − 98° 42’BT. Sedangkan berdasarkan letak geografis, Kelurahan Bagan Deli berbatasan dengan:

1. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Belawan I, dan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang.

2. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Medan Labuhan dan Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

3. Sebelah timur berbatasan dengan Selat Malaka, dan

4. Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Belawan II dan Kelurahan Belawan Bahari.

4.2 Keadaan Penduduk

Di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan yang umumnya berasal dari urbanisasi tidak diimbangi oleh kemampuan pelayanan kota sehingga berakibat pada semakin meluasnya area permukiman kumuh di atas air sepanjang pesisir laut Bagan Deli. Karenakan mata pencaharian penduduk mayoritas berbasis buruh pabrik, supir, pedagang dan nelayan (sektor informal). Akumulasi dari kegiatan industri dan pergudangan, pelabuhan, pariwisata, dan perdagangan menyebabkan lahan permukiman terpinggirkan. Perkembangan jumlah penduduk makin bertambah dan terjadi migrasi penduduk menuju kawasan perdagangan. Kajian tata guna lahan di Kelurahan Bagan Deli yang menyebabkan berkurangnya lahan untuk pemukiman penduduk bisa menimbulkan masalah baru berakibat aktivitas kerawanan sosial. Dengan berkurangnya lahan pemukiman, penduduk akan

mencari lahan-lahan yang seharusnya tidak dibangun permukiman yang pada akhirnya menimbulkan kantong-kantong pemukiman kumuh. Di Kelurahan Bagan Deli penggunaan air tanah oleh penduduk perlu mendapat perhatian yang serius karena masih terbatasnya sarana Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), seiring dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, maka tingkat konsumsi air juga semakin tinggi.

4.2.1 Jumlah Penduduk

Menurut data kelurahan Tahun 2015, penduduk Kelurahan Bagan Deli adalah 15.938 jiwa dengan 7.505 jiwa laki-laki dan 8.433 jiwa perempuan serta terdiri dari 3.851 kepala keluarga. Untuk lebih memahami aspek kependudukan. Kelurahan Bagan Deli, berikut ini disajikan gambaran kependudukan tersebut :

4.2.2 Komposisi Penduduk berdasarkan Kelompok Usia

Tabel 4.1 di bawah ini menunjukkan komposisi penduduk berdasarkan tingkatan usia:

Tabel 4.1

Komposisi Penduduk Berdasarkan Kelompok Usia NO Kelompok Usia Jumlah (Jiwa)

1. 0-4 Tahun 1.555

2. 5-14 Tahun 3.296

3. 15-34 Tahun 7.025

5. 60-69 Tahun 1.588

6. 70 Tahun keatas 1.150

Jumlah 15.938

Sumber : Kantor Kelurahan Bagan Deli 2015

Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk Kelurahan Bagan Deli masih berusia produktif yang diperkirakan berada pada umur 15 – 34 Tahun, yakni sebanyak 7.025 jiwa.

4.2.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.2 seperti di bawah ini:

Tabel 4.2

Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin NO Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa)

1. Laki – Laki 8.433

2. Perempuan 7.505

Jumlah 15.938

Sumber : Kantor Kelurahan Bagan Deli 2015

Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 4.2 dapat kita lihat komposisi perbandingan jenis kelamin penduduk di Kelurahan Bagan Deli yaitu laki-laki sebanyak 8.433 jiwa dan perempuan sebanyak 7.505 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa laki – laki lebih banyak daripada perempuan dengan selisih sebesar 928 jiwa.

4.2.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama

Penduduk Kelurahan Bagan Deli pada umumnya menganut agama Islam. Komposisi penduduk berdasarkan agama dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.3

Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama

NO Agama Jumlah (Jiwa)

1. Islam 12.069

2. Kristen Protestan 3.518

3. Katolik 305

4. Hindu -

5. Budha 40

6. Penganut aliran Kepercayaan 6

Jumlah 15.938

Sumber : Kantor Kelurahan Bagan Deli 2015

Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa penduduk Kelurahan Bagan Deli mayoritas beragama Islam yakni sebanyak 12.069 jiwa. Dan sebagian besar mata pencaharian mereka sebagai nelayan di Bagan Deli. 4.2.5 Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa

Penduduk Kelurahan Bagan Deli terdiri dari bermacam suku. Pada tabel 4.4 berikut akan disajikan komposisi penduduk berdasarkan suku bangsa:

Tabel 4.4

Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa

NO Suku Jumlah (Jiwa)

1. Melayu 6.543 2. Jawa 1.999 3. Karo 527 4. Mandailing 2.201 5. Batak 2.355 6. Sunda 227 7. Padang 930 8. Tionghoa 40 9. Lainnya 1.116 Jumlah 15.938

Sumber : Kantor Kelurahan Bagan Deli 2015

Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 4.4 dapat diketahui yang merupakan suku mayoritas dan bahkan cukup dominan dibandingkan suku lain ialah suku Melayu. Dan mereka mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan perikanan di kelurahan ini. Akan tetapi menurut keterangan petugas kelurahan, masih terdapat beberapa suku lainnya.

4.2.6 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Pokok

Secara umum mata pencaharian penduduk Kelurahan Bagan Deli bervariasi. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.5 di bawah ini:

Tabel 4.5

Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian NO Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa)

1. Tidak/Belum Bekerja 4.551

2. Mengurus Rumah Tangga 3.351

3. Pelajar/Mahasiswa 2.078

4. Pensiunan 21

5. Pegawai Negeri Sipil 57

6. Tentara Nasional Indonesia 5

7. Kepolisian RI 7 8. Perdagangan/Pedagang 341 9. Nelayan Perikanan 1.484 10. Industri 44 11. Transportasi 20 12. Karyawan Swasta 42

13. Karyawan BUMN 242

14. Karyawan BUMD 10

15. Karyawan Honorer 79

16. Buruh Harian Lepas 1.386

17. Buruh Nelayan Perikanan 758

18. Pembantu Rumah Tangga 79

19. Tukang Cukur 7

20. Tukang Listrik 5

21. Tukang Batu 39

22. Tukang Kayu 71

23. Tukang Las Besi 8

24. Tukang Jahit 31

25. Penata Rias Rambut/Pengantin 6

26. Mekanik 15

27. Tabib 8

28. Imam Mesjid 11

30. Wartawan 2

31. Usgtadz/Muballiqh 5

Jumlah 15.938

Sumber : Kantor Kelurahan Bagan Deli 2015

Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa mayoritas penduduk Kelurahan Bagan Deli mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan perikanan berjumlah 1.484 jiwa setelah mengurus rumah tangga yang berjumlah 3.351 jiwa dan pelajar/mahsiswa berjumlah 2.078 jiwa.

4.3 Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana merupakan hal yang sangat mendukung pencapaian tujuan suatu program serta kegiatan pembangunan. Dengan adanya sarana dan prasarana yang baik tentunya akan membantu segala perencanaan dalam program maupun kegiatan pembangunan untuk dapat berjalan dengan baik sehingga memudahkan serta mendukung tercapainya tujuan yang diinginkan. Untuk mendukung tugas pelayanan terhadap masyarakat dalam usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka di Kelurahan Bagan Deli tersedia berbagai sarana dan prasarana, seperti sarana pendidikan, sarana kesehatan dan lain sebagainya. 4.3.1 Sarana Pendidikan

Dalam hal sarana pendidikan terbagi atas SD, SMP, dan SMA, hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4.6 Sarana Pendidikan

NO Sarana Pendidikan Milik Pemerintah (unit) Milik Swasta (unit) 1. SD / MI 2 2 2. SLTP / MTS - - 3. SLTA / SMK / MA 1 - 4. PERGURUAN TINGGI - - Jumlah 3 2

Sumber : Kantor Kelurahan Bagan Deli 2015

Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 4.6 dapat diketahui jumlah SD/MI negeri sebanyak 2 dan SD/MI swasta sebanyak 2 (perincian jenis SD tidak diketahui), kemudian SLTA/SMK/MA negeri sebanyak 1 unit.

4.3.2 Sarana Ibadah

Dalam hal keagamaan dan sarana peribadatan di Kelurahan Bagan Deli dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel 4.7

Sarana Tempat Ibadah

NO Sarana Tempat Ibadah Jumlah (Jiwa)

2. Musholla 12

3. Gereja 2

4. Klenteng 1

Jumlah 19

Sumber : Kantor Kelurahan Bagan Deli 2015

Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa

jumlah mayoritas tempat ibadah yang ada di Kelurahan Bagan Deli ialah Mushola dan Mesjid.

4.3.3 Prasarana Kesehatan

Prasarana kesehatan yang terdapat di Kelurahan Bagan Deli yaitu klinik sebanyak 8 unit, Puskesmas pembantu sebanyak 1 unit, dan balai pengobatan sebanyak 1 unit.

4.3.3 Prasarana Olahraga

Prasarana Olahraga yang terdapat di Kelurahan Bagan Deli yaitu lapangan futsal sebanyak 1 unit dan lapangan terbuka hijau sebanyak 1 unit.

BAB V ANALISIS DATA 5.1 Pengantar

Pada bab ini data-data yang telah didapatkan akan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deksriptif-kualitatif yang lebih mementingkan ketetapan dan kecukupan data, dimana data yang disajikan berupa deskripsi tentang peristiwa dan pengalaman penting dari kehidupan atau beberapa bagian pokok dari kehidupan seseorang dengan kata-katanya sendiri. Data-data yang didapatkan diperoleh peneliti dengan menggunakan teknik wawancara mendalam dengan informan.

Analisis data adalah upaya mengolah data menjadi informasi, sehingga karakteristik data tersebut dapat dengan mudah dipahami dan bermanfaat untuk menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan kegiatan penelitian. Untuk melihat gambaran yang lebih jelas dan rinci, maka peneliti mencoba menguraikan hasil wawancara dengan informan tentang data-data tersebut.

Adapun informan yang peneliti wawancarai adalah informan kunci, informan utama. Informan kunci yaitu Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan, informan utama terdiri dari 4 orang nelayan tradisional yaitu 2 orang yang menerapkan kebijakan dan 2 orang yang tidak menerapkan kebijakan di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan.

5.2 Hasil Temuan 5.2.1 Informan Utama 1

Nama : Ilham

Umur : 28 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Riwayat pendidikan : SMP

Agama : Islam

Suku : Melayu

Ilham merupakan seorang nelayan tradisional, ia sudah menikah selama 5 tahun dan ia mempunyai seorang istri dan seorang anak yang masih balita. Saat peneliti mendatangi lokasi penelitian untuk wawancara beliau sedang duduk di perahu miliknya. Ilham sudah 18 tahun menjadi nelayan, ia bertahan menjadi nelayan dikarenakan tidak ada lagi pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Untuk sekali pergi melaut ia membutuhkan waktu 10 jam, yaitu berangkat pukul 12 malam dan baru pulang pukul 10 pagi. Ilham melaut tidak sendirian tetapi bersama satu orang temannya. Sebagai nelayan, ilham selalu mendapat kendala-kendala di laut seperti kencangnya angin dan air pasang yang menyebabkan gelombang tinggi. Ilham mendapatkan pendapatan Rp. 200.000 per minggu nya. Itupun dalam sebulan hanya dua minggu saja ia melaut. Hal ini sesuai yang dikatakan informan

“saya bertahan menjadi nelayan dikarenakan tidak ada lagi pekerjaan lain, sedangkan mau bekerja cari duit malah ngeluarin duit kalau sekarang ini dek. Jadi, mau tidak mau saya harus menjadi nelayan untuk biaya hidup keluarga. Saat melaut, saya selalu mendapat kendala-kendala seperti kencangnya angin dan air pasang yang menyebabkan gelombang tinggi.”

Saat menangkap ikan-ikan di laut, ilham menggunakan alat tangkap ambai apung. Berdasarkan kebijakan menteri No. 02 Tahun 2015 tentang larangan alat tangkap cantrang, ilham mengetahui tentang kebijakan tersebut. Tetapi dari pihak Dinas Pertanian dan Kelautan tidak pernah mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada mereka para nelayan dan tidak adanya sanksi yang diberikan kepada nelayan yang melanggar kebijakan tersebut. Dalam mencari mata pencaharian, ia menerapkan kebijakan ini walaupun tidak adanya sosialisasi dari Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan maupun dari instansi lainnya. Karena ia memang tidak pernah memakai alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti cantrang/pukat layang. Hal ini seperti yang dikatakan informan

“Sehari-hari untuk mendapatkan ikan saya memakai alat tangkap ambai apung dek. Kalau tentang peraturan menteri kelautan itu saya tau dek, tapi dari pihak Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan tidak pernah ada mensosialisasikan kebijakan tentang larangan alat tangkap cantrang/pukat layang itu disini dek dan tidak adanya sanksi yang diterapkan. Tapi walaupun tidak adanya sosialisasi tentang larangan alat tangkap cantrang/pukat layang itu, saya menerapkan kebijakan tersebut dalam mencari mata pencaharian saya sehari-sehari, karena saya dari dulu tidak pernah menggunakan alat tangkap yang merusak ekosistem laut itu.”

Ilham menyetujui dengan adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, karena dengan kebijakan ini bisa menghentikan pengoperasian alat tangkap yang merusak biota dalam laut. Kebijakan ini berpengaruh terhadap pendapatan Ilham, karena kebijakan ini tidak diterapkan di

wilayah tersebut. Sehingga alat tangkap cantrang/pukat layang masih tetap beroperasi, maka pendapat Ilham menurun. Berikut penuturannya

“saya menyetujui dengan adanya kebijakan ini dek, karena kebijakan ini bisa menghentikan pengoperasian alat tangkap yang merusak ekosistem laut. Karena masih adanya nelayan modern yang menggunakan pukat layang/cantrang, jadi kebijakan ini berpengaruh terhadap pendapatan saya dek. Apalagi mereka mendapatkan lebih banyak ikan dengan menggunakan alat tangkap itu, sedangkan kami ikan nya tidak tentu dapatnya dek.”

Istri Ilham bernama Santi membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan bekerja membuka warung di depan rumah mereka, dari warung itulah mereka mendapatkan tambahan penghasilan dimana ia menjual jajanan. Pendapatan yang ia dapat dari warungnya berkisar dari 20 ribu hingga 40 ribu per harinya dan menurutnya dirasa masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia melakukan segala upaya untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari hari. Berikut penuturan Santi saat peneliti mewawancarai :

“Karena pekerjaan sebagai nelayan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, saya membuka warung kecil-kecilan didepan rumah dek, dari warung inilah saya memperoleh pendapatan yang sebenarnya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tapi saya akan melakukan segala upaya untuk memenuhi kehidupan kami sebagai keluarga nelayan dek.”

Ilham dan Santi memiliki keinginan kuat untuk pendidikan anaknya kelak, walaupun anak mereka sekarang masih usia 4 tahun. Karena menurut mereka pendidikan sangat penting untuk anaknya kelak. Meskipun dari keluarga nelayan,

tetapi Santi punya keinginan untuk menyekolahkan anaknya sampai Perguruan Tinggi. Berikut penuturan Santi :

”Pendidikan buat anak kami itu penting, walaupun sekarang anak kami masih kecil. Meskipun kami dari keluarga nelayan, tapi kami punya keinginan menyekolahkan anak kami sampai perguruan tinggi dek. Dan dia harus bisa jadi lebih dari mamak dan bapaknya lah pokoknya dek.”

Rumah yang di tempati Santi merupakan rumah semi permanen hal ini peneliti lihat pada saat wawancara dirumah beliau dimana lantainya dari terbuat dari semen dan belum di keramik, kemudian dindingnya sebagian sudah di semen dan sebagian lagi masih terbuat dari kayu dan beratapkan genteng. Rumah yang mereka tempati merupakan rumah orang tua Ilham. Saat adanya pasang air laut rumah mereka terendam air dan harus menguras rumahnya yang terkena air pasang. Pengeluaran yang dikeluarkan keluarga ini diantaranya ialah untuk membayar uang listrik tiap bulannya juga untuk belanja kebutuhan mereka sehari hari. Disini tidak tersedianya koperasi untuk para nelayan, jadi jika sewaktu-waktu perlu uang ia meminjam kepada tetangganya ataupun kerabatnya.

Pendapatan yang diterima menjadi nelayan dan dari warung , dirasa masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Keluarga ini tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui program beras untuk rakyat miskin (RASKIN). Saat peneliti bertanya apakah penghasilan dari keluarga ini bisa mencukupi jaminan kesehatan keluarga nya bila nanti ada yang sakit. Keluarga tidak memiliki tabungan khusus untuk kesehatan namun untungnya keluarganya mengikuti program jaminan kesehatan (BPJS) dari pemerintah ia mengikuti program ini karena ia ingin kelak jika sakit nanti ia dan keluarga sudah memiliki jaminan kesehatan. Namun bila hanya

sakit biasa seperti demam dan flu mereka hanya mengonsumsi obat obat biasa yang bisa di beli di warung warung tanpa harus ke klinik/puskesmas.

Ilham dan keluarga nya juga jarang membeli pakaian, mereka membeli pakaian biasanya pada saat hari besar seperti hari raya Idul Fitri, mereka berpendapat bila pakaian mereka masih layak pakai maka tidak perlu beli yang baru karena hal tersebut merupakan pemborosan mengingat kondisi ekonomi yang mereka hadapi.

Menurut Ilham, dampak dari kebijakan ini sebenarnya mengarah positif terhadap sosial ekonomi nelayan-nelayan tradisional jika kebijakan ini dilaksanakan dengan baik. Tetapi karena tidak dijalankan dengan baik maka kebijakan ini menjadi negatif terhadap para nelayan tradisional. Kemudian nelayan tradisional juga meminta kepada aparat agar benar-benar melaksanakan kebijakan tersebut. Karena selama ini, nelayan tradisional di kelurahan ini dari tahun ke tahun terus menjadi korban pembiaran bagi kapal-kapal dengan alat tangkap trawl dan cantrang.

5.2.2 Informan Utama 2

Nama : Yus

Umur : 50 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Riwayat pendidikan : SD

Agama : Islam

Suku : Melayu

Bapak Yus merupakan seorang nelayan tradisional, ia memiliki istri dan 3 orang anak. Anak pertama sudah tidak bersekolah lagi karena sudah bekerja, anak kedua masih SMA kelas 2 dan anak ketiga SMP kelas 2. Saat peneliti mendatangi lokasi penelitian untuk wawancara beliau sedang duduk di perahu miliknya sembari

menunggu uang hasil ikannya dari toke. Pak Yus sudah 40 tahun menjadi nelayan, ia bertahan menjadi nelayan dikarenakan tidak ada lagi pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya yang hanya tamatan SD. Untuk sekali pergi melaut ia membutuhkan waktu 4 jam, karena tempat ia menangkap ikan tidak terlalu jauh dari darat. Bapak Yus melaut dengan kapal miliknya yang sudah tua dan tidak pernah ada bantuan perahu dari pemerintah, bapak Yus juga melaut sendirian. Pendapatan yang diterima bapak Yus tidak tentu, kira-kira ia bisa mendapat 150 ribu sampai 250 ribu perminggu dari hasil ikan kakap yang pak Yus tangkap. Sebagai nelayan, Pak Yus selalu mendapat kendala-kendala di laut seperti kencangnya angin dan bahkan jaringnya di curi dengan orang. Hal ini sesuai yang dikatakan informan

“Saya sudah lama menjadi nelayan, kira-kira udah 40 tahunan. Saya tetap menjadi nelayan karena tidak ada lagi pekerjaan yang lain didaerah pesisir gini dek. Walaupun dilaut saya sering mendapatkan kendala-kendala seperti jaring saya dicuri orang tapi saya tetap bertahan menjadi nelayan disini.”

Saat menangkap ikan-ikan di laut, Pak Yus menggunakan alat tangkap jaring atung. Berdasarkan kebijakan menteri No. 02 Tahun 2015 tentang larangan alat tangkap cantrang, Pak Yus mengetahui tentang kebijakan tersebut. Tetapi dari pihak Dinas Pertanian dan Kelautan tidak pernah mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada mereka para nelayan dan tidak adanya sanksi yang diberikan kepada nelayan yang melanggar kebijakan tersebut. Pak Yus pun menyayangkan tidak adanya pergerakan dari instansi yang terkait. Dalam mencari mata pencaharian, ia menerapkan kebijakan ini walaupun tidak adanya sosialisasi dari Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan maupun dari instansi lainnya. Karena ia masih menggunakan

jaring untuk menangkap ikan dan ia memang tidak pernah memakai alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti cantrang/pukat layang. Hal ini seperti yang dikatakan informan

” Sehari-hari untuk mendapatkan ikan saya memakai alat tangkap jaring atung. Kalau tentang peraturan menteri kelautan itu saya tau dek, tapi dari pihak Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Medan tidak pernah ada mensosialisasikan kebijakan tentang larangan alat tangkap cantrang/pukat layang itu disini dek dan tidak adanya sanksi yang diterapkan. Mereka cuma omongan aja dek tapi tidak pernah diterapkan disini. Meskipun tidak adanya sosialisasi tentang larangan alat tangkap cantrang/pukat layang itu, saya menerapkan kebijakan tersebut dalam mencari mata pencaharian saya sehari-sehari, karena saya cuma menggunakan jaring tradisional dan dari dulu saya tidak pernah menggunakan alat tangkap yang merusak ekosistem laut itu.”

Bapak Yus menyetujui dengan adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, karena dengan kebijakan ini bisa menghentikan pengoperasian alat tangkap yang merusak biota dalam laut. Dengan adanya kebijakan ini bukan makin sedikit pengoperasian alat tangkap cantrang/ pukat layang tetapi semakin banyaknya alat tangkap ini. Sehingga pendapatan bapak Yus pun berpengaruh karena alat tangkap cantrang/pukat layang masih tetap beroperasi. Berikut penuturannya

“Saya sebagai nelayan disini menyetujui dengan adanya kebijakan ini dek, karena kebijakan ini bisa menghentikan pengoperasian alat tangkap yang merusak ekosistem laut. Dan kebijakan ini berpengaruh terhadap

Dokumen terkait