4. Penelitian oleh Mohamad Ikhsan (2005)
4.2. Analisis Dampak
4.2.1. Analisis Dampak Kenaikan Harga BBM
Analisis dampak dalam penelitian ini menggunakan simulasi kenaikan harga BBM sebesar 10 persen, 20 persen dan 30 persen. Besar kenaikan harga dalam rentang 10 - 30 persen ini dipilih dengan alasan kenaikan harga BBM yang mulai kelihatan dampaknya adalah diatas 10 persen. Kenaikan harga lebih dari 30 persen kemungkinan kecil sekali diterapkan di Indonesia, karena BBM merupakan kebutuhan masyarakat yang sangat penting sehingga pemerintah akan menghindari kenaikan harga BBM yang sangat tajam.
Kenaikan harga BBM sebesar 10 persen ini diasumsikan akan menaikkan koefisien output antara sektor pengilangan BBM yang digunakan sektor lain sebagai permintaan antaranya sebesar 10 persen juga, sedangkan output sektor lain dianggap tidak berubah. Kenaikan harga BBM akan berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi sektor lain. Penggunaan BBM pada sektor tertentu memberi dampak langsung terhadap sektor tersebut, sedangkan sektor lain yang di gunakan sektor tersebut berdampak tidak langsung pada kenaikan biaya produksinya.
Sektor listrik, gas dan air minum (LGA) merupakan sektor yang memiliki dampak terbesar dari adanya kebijakan pemerintah jika ada kenaikan harga BBM.
Kenaikan harga BBM sebesar 10 persen berdampak langsung sektor LGA sebesar 19,21 persen yang artinya dengan adanya kenaikan harga BBM sebesar 10 persen maka akan terjadi peningkatan biaya produksi pada sektor LGA sebesar 19,21 persen. Selain itu juga berdampak tidak langsung terhadap LGA sebesar 18,13
persen. Dampak tidak langsung tersebut disebabkan oleh penggunaan sektor selain BBM yang harganya meningkat juga akibat terkena dampak kenaikan BBM, sehingga menambah besar biaya produksi sektor LGA. Secara total dampak kenaikan harga BBM 10 persen terhadap sektor LGA sangat besar hingga 37,33 persen.
Tabel. 7. Lima sektor terbesar menurut dampak kenaikan harga BBM 10 persen di Indonesia tahun 2005
NO KODE SEKTOR Dampak Dampak Tidak Total Lanngsung Lanngsung Dampak
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 53 Listrik, gas dan air minum 19,21 18,13 37,33
2 58 Angkutan darat 13,76 14,69 28,46
3 59 Angkutan air 13,90 5,02 18,92
4 57 Angkutan kereta api 12,52 0,33 12,85
5 54 Bangunan 3,57 4,14 7,71
Inflasi Nasional 1,89 1,85 3,73 Kenaikan BBM 10%
Sumber : diolah dari tabel I-O tahun 2005
Kenaikan harga BBM yang semakin tinggi akan memberikan dampak yang lebih tinggi terhadap kenaikan biaya produksi sektor-sektor ekonomi. Seperti terlihat di tabel 8 dan tabel 9. Kenaikan harga BBM sebesar 10 persen memberi dampak total pada sektor LGA sebesar 37,33 persen, sedangkan kenaikan harga BBM sebesar 20 sedangkan kenaikan harga BBM sebesar 20 persen akan mendapatkan dampak total sebesar 40,73 persen, jika terjadi kenaikan harga
BBM sebesar 30 persen dampak kenaikan terhadap biaya produksinya akan mencapai 44,12 persen.
Tingginya dampak kenaikan harga BBM pada sektor LGA, disebabkan BBM merupakan struktur input utama dalam membangkitkan listrik. PT. PLN ditahun 2007 memproduksi listrik sebesar 111.241 Gwh dimana yang dihasilkan dari pembangkit listrik berbahan bakar minyak (BBM) sebesar 37,231 Gwh atau 33,47 persen. Kenaikan harga BBM baik secara langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan meningkatnya biaya produksi yang berefek pada kenaikan harga listrik. Tarif dasar listrik (TDL) kenyataanya untuk kurun waktu tahun 2004 sampai dengan tahun 2009 telah diputuskan pemerintah tidak naik, hal itu karena perekonomian nasional dan daya beli masyarakat tidak mendukung jika ada kenaikan TDL.
Pemerintah berdasarkan UU nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN, harus memberikan subsidinya untuk menutupi melonjaknya biaya produksi listrik sehingga tidak merugikan PT. PLN. Pemerintah juga harus memantau PT. PLN agar efisiensi dalam produksi baik dengan mengurangi pemakaian BBM atau mencari bahan bakar alternatif misalnya dengan batubara atau tenaga surya.
Kebijakan dalam menaikkan harga BBM harus dicermati karena berdampak terhadap sektor LGA terutama listrik, jangan sampai masyarakat yang sudah terbebani jika ada kenaikan harga BBM ini akan dibebani juga dengan kenaikan TDL. Listrik merupakan komoditi strategis yang hampir semua sektor menggunakan untuk berproduksi sehingga kebijakan yang kurang pas akan
menyebabkan meningkatnya harga berbagai hasil produksi, yang akan menurunkan daya beli masyarakat sehingga roda perekonomian akan terhambat.
Tabel. 8. Lima sektor terbesar menurut dampak kenaikan harga BBM 20 persen di Indonesia tahun 2005
NO KODE SEKTOR Dampak Dampak Tidak Total Lanngsung Lanngsung Dampak
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 53 Listrik, gas dan air minum 20,95 19,77 40,73
2 58 Angkutan darat 15,02 16,03 31,04
3 59 Angkutan air 15,16 5,48 20,64
4 57 Angkutan kereta api 13,66 0,36 14,01
5 54 Bangunan 3,90 4,51 8,41
Inflasi Nasional 2,06 2,01 4,07 Kenaikan BBM 20%
Sumber : diolah dari tabel I-O tahun 2005
Setelah sektor LGA, dampak kenaikan harga BBM yang cukup besar terjadi pada sektor angkutan darat. Kenaikan harga BBM 10 persen akan memberikan dampak langsung sebesar 13,76 persen sedangkan dampak tak langsungnya lebih besar yaitu 14,69 persen dan secara total dampaknya mencapai 28,46 persen. Begitu juga dengan kenaikan harga BBM sebesar 20 persen akan berdampak pada meningkatnya biaya produksinya secara total 31,04 dan kenaikan harga BBM yang lebih tinggi lagi yaitu sebesar 30 persen akan berdampak langsung sebesar 16,27 persen dan berdampak tidak langsung sebesar 17,37 persen sehingga secara total dampak yang diterima adalah sebesar 33,63 persen.
Sektor angkutan air yang memiliki dampak terbesar selanjutnya karena alat tranportasi air pada umumnya berbahan bakar solar. Kenaikan harga BBM sebesar 10 persen pada sektor angkutan air dampak langsungnya mencapai 13,90 persen dan dampak tidak lansungnya 5,02 persen sehingga secara total sektor ini memiliki dampak 18,92 persen. Sedangkan kenaikan harga BBM sebesar 20 persen dan 30 persen memberikan dampak total terhadap kenaikan biaya produksi sektor angkutan air sebesar 20,64 persen dan 22,36 persen.
Sektor angkutan kereta api menduduki urutan ke empat, dimana total dampak kenaikan harga BBM sebesar 10 persen terhadap kenaikan biaya produksinya yaitu sebesar 12,85 persen. Pada sektor ini kenaikan harga BBM sebesar 20 persen akan memberikan dampak lansung terhadap kenaikan biaya produksi sebesar 13,66 persen sedangkan dampak tak langsungnya sangat kecil yaitu hanya 0,36 persen. Begitu juga kenaikan harga BBM sebesar 30 persen akan menambah besar dampaknya terhadap kenaikan biaya produksi yang didorong oleh dampak langsungnya sebesar 14,79 persen. Dampak tidak langsungnya sektor angkutan kereta api sangat kecil karena suku cadang yang diperlukan merupakan barang impor yang tidak terkena dampak kenaikan harga BBM domestik.
Sektor angkutan darat seperti angkutan kota, bus, taxi dan ojek selain tergantung dengan BBM juga tergantung dengan komponen suku cadang domestik, dimana harga komponen suku cadang maupun service juga melonjak akibat kenaikan BBM. Sektor angkutan darat merupakan komoditi strategis
sehingga kenaikan tarif angkutannya sebagian besar masih diatur pemerintah sehingga masyarakat masih tetap bisa menikmati transportasi yang terjangkau.
Namun tidak dipungkiri kenaikan tarif transportasi ini akan memicu kenaikan harga di semua sektor yang menginputnya. Kenaikan tarif transportasi ini akan memicu tingginya harga pangan (sembako) akibat dari meningkatnya biaya distribusi hasil produksinya ke konsumen. Melonjaknya harga sembako yang tidak terkendali, terutama beras dan minyak goreng, akan menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk miskin. Pemerintah sebagai pelindung masyarakat harus melakukan operasi pasar di awal kenaikan harga BBM agar tidak terjadi kasus kelangkaan barang dan menindak tegas bagi spekulan-spekulan yang menimbun barang.
Tabel. 9. Lima sektor terbesar menurut dampak kenaikan harga BBM 30 persen di Indonesia tahun 2005
NO KODE SEKTOR Dampak Dampak Tidak Total Lanngsung Lanngsung Dampak
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 53 Listrik, gas dan air minum 22,70 21,42 44,12
2 58 Angkutan darat 16,27 17,37 33,63
3 59 Angkutan air 16,43 5,93 22,36
4 57 Angkutan kereta api 14,79 0,39 15,18
5 54 Bangunan 4,22 4,89 9,11
Inflasi Nasional 2,23 2,18 4,41 Kenaikan BBM 30%
Sumber : diolah dari tabel I-O tahun 2005
Kenaikan harga BBM sebesar 10 persen berdampak cukup besar pada sektor bangunan dimana dampak langsungnya sebesar 3,57 persen dan dampak tidak langsungnya sebesar 5,02 persen sehingga total dampaknya mencapai 7,71 persen. Apalagi jika kenaikan harga BBM mencapai 20 persen atau 30 persen, maka dampak kenaikan biaya produksi pada sektor ini juga bertambah besar.
Sektor BBM merupakan komponen dalam biaya proyek pada sektor bangunan ditambah dengan melonjaknya harga bahan bangunan seperti, besi dan semen membuat biaya produksi sektor ini membengkak. Kenaikan harga BBM berdampak terhadap tingginya harga bangunan sehingga daya beli masyarakat turun. Menurut Yulfitni Djasiran sekretaris gabungan pengusaha konstruksi Indonesia (Gapensi) Sumbar, kenaikan harga BBM sekitar 28 persen menyebabkan anggaran proyek pembangunan yang dibiayai APBD membengkak 10 hingga 15 persen dari nilai ditetapkan pada tahun anggaran, pembengkakan ini tidak bisa dihindari karena pembelian BBM salah satu komponen dalam dana proyek.
Sektor industri dalam tabel I-O tahun 2005 memiliki klasifikasi yang paling banyak dan terinci sehingga NTB maupun output masing-masing sektornya cenderung kecil sehingga dalam penelitian ini tidak masuk ke lima besar.
Klasifikasi sektor industri jika digabung seluruh sektornya maka output maupun NTB akan menjadi besar artinya kontribusi seluruh sektor industri sesungguhnya besar, namun karena dipenelitian ini menggunakan klaifikasi tabel I-O 2005 maka kontribusi seluruh sektor industri tidak terlihat. Kenaikan harga BBM pada tahun 2005 yang terjadi dua kali yaitu pada bulan maret sebesar 19,96 persen dan bulan
Oktober sebesar 125,99 persen sehingga terjadi lonjakan inflasi pada tahun 2005 hingga 17,11 persen. Bulan Oktober tahun 2008 terjadi lagi kenaikan harga BBM sebesar 28,75 yang menyebabkan inflasi sebesar 11,06 persen, dari sini terlihat jelas kenaikan harga BBM berkaitan erat dengan inflasi.
Analisis tabel I-O dapat menghitung dampak inflasi total dengan mengalikan persentase dampak kenaikan harga setiap sektor dengan sebuah penimbang (output sektor i). Hasil penelitian Saragih, 2008 kenaikan minyak tanah sebesar 25 persen dan BBM sebesar 28,7 persen akan menyebabkan inflasi nasional masing-masing sebesar 0,49 persen dan 2,24 persen. Sejalan dengan penelitian Saragih, penelitian ini juga menghitung inflasi nasional yang diakibatkan kenaikan harga BBM.
Dari tabel tabel diatas terlihat dampak kenaikan harga BBM sebesar 10 persen terhadap sektor-sektor ekonomi di Indonesia tercara bersama-sama mendorong inflasi nasional sebesar 3,73 persen. Kenaikan harga BBM sebesar 20 persen menyebabkan tingkat inflasi nasional lebih tinggi lagi yaitu 4,07 persen.
Inflasi nasional akan lebih tinggi lagi jika harga BBM meningkat sebesar 30 persen yaitu mencapai 4,41 persen. Disini terlihat jelas kenaikan harga BBM sangat mempengaruhi tingginya inflasi nasional, jadi pemerintah dalam menentukan kebijakan menaikkan harga BBM sebaiknya dilakukan secara bertahap sehingga inflasi yang dihasilkan tidak meningkat tajam walaupun terus menerus sampai harga yang sesuai. Inflasi yang sedikit demi sedikit ini dan bertahap ini secara psikologis akan berdampak lebih baik di masyarakat.