• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Dampak Pelaksanaan Program CSR PT. Indocement Terhadap Masyarakat Desa Nambo

PT. INDOCEMENT TERHADAP MASYARAKAT DESA NAMBO

6.6. Analisis Dampak Pelaksanaan Program CSR PT. Indocement Terhadap Masyarakat Desa Nambo

Perubahan sosial yang terjadi di Desa Nambo sebagai dampak program CSR PT. Indocement adalah bertambahnya ilmu pengetahuan dan pola pikir/kemauan untuk berusaha masyarakat penerima program (11 orang). Hal ini dikarenakan program CSR tersebut telah “memancing” pemikiran dan keinginan masyarakat untuk dapat berusaha dan menghasilkan pendapatan, seperti program peternak ayam petelur yang telah mengurangi pengangguran sebanyak lima belas orang. Selain itu, perubahan sosial yang terjadi adalah adanya peningkatan pengetahuan dan gizi balita, motivasi LINMAS yang meningkat untuk menjaga keamanan desa, dan aktivitas ekonomi masyarakat ke luar desa yang meningkat,

17

Hasil wawancara dengan Pak ROH, tanggal 10 Desember 2009 pukul 10.00-11.00 WIB .

seperti distribusi hasil ternak ke pasar yang lebih mudah karena adanya betonisasi jalan.

Perubahan sosial yang terjadi di Desa Nambo jika dilihat dari teori perubahan sosial menurut Soekanto (1990), maka perubahan sosial yang terjadi di Desa Nambo sebagai dampak program CSR PT. Indocement adalah perubahan yang direncanakan (intended change). Hal ini terlihat dalam proses perencanaan program CSR yang direncanakan oleh PT. Indocement dan masyarakat dalam forum BILIKOM atau MUSRENBANGDES. Selanjutnya, jika dilihat dari sumber penyebabnya, perubahan sosial di Desa Nambo ini disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu hadirnya PT. Indocement yang melaksanakan program CSR di Desa Nambo. Program CSR dilaksanakan PT. Indocement karena perusahaan memanfaatkan potensi Desa Nambo sebagai sumber tambang. Salah satu program CSR yang menyebabkan perubahan sosial adalah program peternak ayam petelur yang menjadikan para peternak mempunyai pola pikir untuk berusaha dengan memanfaatkan modal bergulir. Perusahaan juga membangun jalan sebagai akses mengambil bahan tambang sekaligus juga membuka akses ekonomi bagi masyarakat.

Perubahan sosial di Desa Nambo ini disebabkan oleh program CSR PT. Indocement, baik program CSR yang bersifat charity, philantropy, maupun program CSR yang bersifat GCC. Menurut teori Zaim Saidi (2003) dalam Ambadar (2008), program CSR perusahaan dapat dikatakan bersifat:

a. Good Corporate Citizenship (GCC), jika program tersebut tidak hanya berupa kegiatan hibah pembangunan perusahaan (bantuan sosial), tetapi juga pemberdayaan dan peningkatan partisipasi masyarakat;

b. Philantropy, jika program tersebut hanya berupa peningkatan partisipasi masyarakat tanpa menciptakan pemberdayaan bagi masyarakat, seperti kegiatan swadaya masyarakat dalam pembangunan jalan; dan

c. Charity, jika program tersebut hanya memberikan sumbangan sosial. Dilihat dari bentuk pelaksanaannya, program ternak ayam petelur dapat dikatakan bersifat GCC karena bentuk kegiatannya yang menciptakan pemberdayaan (berupa pelatihan ternak) dan partisipasi aktif (masyarakat yang mengikuti pelatihan sebanyak 20 orang). Hal ini sejalan dengan Ibu LID, bahwa:

“Program ternak ayam petelur ini memang dilaksanakan untuk dapat meningkatkan pengetahuan warga sekaligus menanamkan sikap untuk berusaha ternak sebagai salah satu alternatif pekerjaan.”

Pendapat yang sama diutarakan oleh Pak ROH sebagai salah satu tokoh desa, bahwa:

“ program ternak ayam petelur ini selain menambah pengetahuan juga menjadi alternatif pekerjaan bagi warga yang menganggur.”

Program UMKM juga dapat dikatakan bersifat GCC karena bentuk kegiatannya yang menciptakan pemberdayaan (berupa bantuan modal bergulir) dan partisipasi aktif (masyarakat meminjam modal). Hal ini sejalan dengan Ibu LID, bahwa:

“program UMKM ini memang dilaksanakan untuk dapat membantu warga dalam memulai atau mengembangkan usahanya.”

Pendapat yang sama diutarakan oleh Pak ROH sebagai salah satu tokoh desa, bahwa:

program UMKM ini sangat membantu bagi warga yang mempunyai kemauan berusaha tinggi tetapi tidak memiliki modal.”

Program LINMAS juga dapat dikatakan bersifat GCC karena bentuk kegiatannya yang menciptakan pemberdayaan (berupa pelatihan LINMAS) dan partisipasi aktif (masyarakat yang mengikuti pelatihan sebanyak dua orang setiap RT). Hal ini sejalan dengan Ibu LID, bahwa:

program LINMAS ini memang dilaksanakan untuk dapat meningkatkan motivasi LINMAS dan menciptakan keamanan desa, termasuk infrastruktur perusahaan di desa.”

Pendapat yang sama diutarakan oleh Pak NAS sebagai Ketua SATGAS Desa Nambo, bahwa:

“Menjaga keamanan desa sekaligus keamanan peralatan Indocement Kami laksanakan dengan senang hati. Hal ini dikarenakan oleh toleransi yang selama ini ditunjukkan Indocement kepada warga Desa Nambo.”

Program betonisasi jalan Dusun II dapat dikatakan bersifat philantropy karena perusahaan hanya meningkatkan swadaya masyarakat tanpa adanya

pemberdayaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Pak JAJ bahwa:

“PT. Indocement hanya memberikan bantuan bahan baku, bukan berupa dana. Sedangkan tenaga kerjanya berasal dari swadaya masyarakat.”

Ibu LID selaku CD Section Head berpendapat bahwa:

“Program betonisasi jalan ini memang program untuk meningkatkan swadaya masyarakat, sedangkan Indocement hanya memberikan bantuan bahan baku saja, seperi semen, pasir, dan kami tidak memberi bantuan dalam bentuk uang.”

Program biogas dapat dikatakan bersifat charity karena program ini hanya berupa sumbangan sosial (perlengkapan biogas) dan hanya dapat diterima oleh warga yang memiliki minimal tiga ekor sapi, sehingga tidak dapat menciptakan pemberdayaan masyarakat dan tidak meningkatkan partisipasi masyarakat. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan oleh Pak YAD bahwa:

“Biogas ini memang dibagikan secara gratis, tetapi tidak kepada semua warga, melainkan hanya kepada warga yang mempunyai minimal tiga ekor sapi. Karena biogas ini merupakan percontohan, maka warga lain yang ingin memiliki kompor biogas harus dapat membeli sendiri. Harganya sekitar lima juta rupiah.”

Pendapat yang sama diutarakan oleh Ibu NAM sebagai penerima program, bahwa:

“Biogas ini memang saya dapatkan secara gratis, tetapi untuk pelaksanaannya saya harus mengeluarkan biaya sendiri sebesar Rp500.000,00. Padahal tetangga saya juga mau menggunakan biogas ini, tetapi karena harga yang mahal, mereka tidak sanggup menggunakannya.”

Program PMT ini dapat digolongkan sebagai program CSR yang bersifat

charity karena hanya berupa pemberian bantuan dana perusahaan sebagai hibah

sosial kepada masyarakat. Pelaksanaan program CSR yang bersifat charity ini merupakan suatu bentuk pelaksanaan kewajiban perusahaan kepada masyarakat desa binaan untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan di daerah setempat. Hal ini diutarakan oleh Ibu ACH bahwa:

“Program PMT ini diberikan secara gratis kepada balita di Desa Nambo setiap satu bulan sekali. Harapan saya program ini dapat terus berjalan, karena banyak ibu-ibu yang selalu berharap kepada PMT gratis ini untuk gizi balitanya.”

Pendapat yang sama diutarakan oleh Ibu LID bahwa:

“Program PMT ini merupakan komitmen perusahaan untuk meningkatkan kesehatan balita di Desa Nambo. Pada pelaksanaannya perusahaan memberikan hanya bantuan makanan bergizi setiap satu bulan sekali.”

Secara umum, pelaksanaan program CSR yang dilaksanakan oleh PT. Indocement di Desa Nambo tergolong pada isu lingkungan dan isu pengembangan masyarakat. Isu lingkungan terlihat dari upaya PT. Indocement memberikan “kompensasi” kepada masyarakat, karena perusahaan melakukan pemanfaatan terhadap sumber daya alam di Desa Nambo, yaitu pendirian infrastruktur dan

Quary C (areal tambang). Pelaksanaan CSR di Desa Nambo ini diharapkan oleh

perusahaan dapat menciptakan hubungan yang harmonis dan timbal balik antara perusahaan dan masyarakat.

Isu pengembangan masyarakat terlihat dari upaya PT. Indocement dalam pelaksanaan CSR-nya tidak hanya sekedar berupa bantuan sosial saja (program PMT), melainkan juga merancang suatu program pemberdayaan dan peningkatan partisipasi aktif masyarakat Desa Nambo melalui program ternak ayam petelur. Hasil dari program ini, masyarakat menerima pengetahuan tentang usaha ternak ayam dan diberikan pinjaman modal serta dihubungkan dengan Bank Mandiri untuk mengembangkan usaha ternaknya, sehingga masyarakat menjadi mandiri. Hasil analisis peneliti berdasarkan pendapat pihak masyarakat dan pihak perusahaan terkait dampak program CSR dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Analisis Dampak Pelaksanaan Program CSR PT. Indocement Terhadap Masyarakat Desa Nambo

No Nama Program CSR PT.

Indocement

Kegiatan Motif CSR Dampak Pelaksanaan Program CSR

terhadap Desa Nambo

1. Pelatihan Peternak Ayam Petelur

Pelatihan yang diikuti partisipasi masyarakat (20 orang)

GCC Peningkatan pengetahuan warga

peserta pelatihan (25 orang) tentang ayam petelur meningkat dan

munculnya keinginan warga untuk beternak ayam

2. UMKM Pemberian modal

bergulir yang diikuti partisipasi para peternak (6 orang)

GCC Masyarakat mulai beternak dengan bantuan modal awal dan dapat mengembangkan usaha ternaknya

3. PMT Pemberian makanan

tambahan bergizi secara gratis

Charity Pendidikan gizi dan kesehatan balita meningkat

4. Betonisasi Jalan Dusun II

Pembangunan jalan Philantropy Akses ekonomi masyarakat

meningkat, seperti lancarnya distribusi produk telur ayam

5. Pelatihan LINMAS

Pemberian

perlengkapan LINMAS dan pelatihan yang diikuti partisipasi masyarakat (2 orang/RT)

GCC Motivasi LINMAS meningkat,

sehingga keamanan desa terjamin

6. Biogas Pemberian peralatan

biogas (kompor dan instalasinya)

Charity Penerima program dapat mengurangi

pengeluaran akibat pembelian minyak tanah atau kayu bakar untuk memasak

Sumber: Hasil Analisis Peneliti di Lokasi Penelitian

Dokumen terkait