• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Program CSR pada Bidang Sosial, Budaya, Agama: Betonisasi Jalan Dusun II

PT. INDOCEMENT TERHADAP MASYARAKAT DESA NAMBO

6.3. Dampak Program CSR pada Bidang Sosial, Budaya, Agama: Betonisasi Jalan Dusun II

Oleh karena itu, masyarakat Desa Nambo sangat mengharapkan program PMT ini dapat terus dilakukan agar kesehatan para balita di desa ini dapat terjamin.

Selain memiliki dampak positif, program pemberian makanan tambahan bagi para balita ini berpeluang menimbulkan dampak negatif, jika pada masa yang akan datang pelaksanaan program PMT ini tidak dilaksanakan kembali atau tidak disertai dengan penyuluhan tentang pentingnya kesehatan gizi balita. Peluang ketergantungan masyarakat kepada perusahaan terkait pemberian makanan bergizi secara gratis akan muncul jika perusahaan tidak memikirkan konsep keberlanjutan dari program ini (hanya dilaksanakan untuk jangka pendek).

6.3. Dampak Program CSR pada Bidang Sosial, Budaya, Agama: Betonisasi Jalan Dusun II

6.3.1. Latar Belakang Program

Pada dua sub-bab sebelumnya, penulis telah membahas beberapa program CSR oleh PT. Indocement yang termasuk dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, ketiga bidang ini

termasuk dalam ranah kerja Community Development Program Section Departemen CSR PT. Indocement. Dalam sub-bab berikut ini, penulis membahas salah satu program CSR PT. Indocement yang termasuk dalam bidang sosial, budaya, dan agama (selanjutnya disebut sosbudag), yang juga merupakan salah satu ranah kerja Community Development Program Section.

Pelaksanaan program CSR di bidang sosial, budaya, dan agama (sosbudag) oleh PT Indocement memiliki fungsi sebagai wadah bagi perusahaan untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas sosbudag masyarakat desa binaan perusahaan. Program-program CSR dalam bidang sosbudag antara lain bertujuan untuk16:

1. Melakukan pembangunan infrastruktur di dua belas desa binaan; 2. Menunjang kesejateraan hidup masyarakat;

3. Menggali potensi sumberdaya manusia dan mengarahkannya kearah yang positif; dan

4. Berpartisipasi dalam bidang kerohanian masyarakat dua belas desa binaan untuk dapat berperan serta dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Realisasi program CSR PT Indoecement di Desa Nambo sebagian besar merupakan kegiatan pembangunan infrastruktur sarana desa, seperti pengaspalan dan betonisasi jalan, rehabilitasi musholla, dan pembangunan masjid. Ketua LPM Desa Nambo, Bapak ROH, mengatakan bahwa program pembangunan infrastruktur yang paling besar yang dilaksanakan di Desa Nambo adalah betonisasi jalan Dusun II Desa Nambo yang telah selesai dilaksanakan pada tahun 2006. Menurut beliau, kegiatan betonisasi jalan Dusun II ini dilaksanakan karena masyarakat merasa bahwa kegiatan ini memang memberikan manfaat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, yaitu akses menuju jalan besar keluar desa. Karena sebelum adanya program ini, akses masyarakat berupa jalan menuju keluar desa masih tidak layak, berupa jalan yang masih rusak dan tergenang air. Realisasi program CSR PT. Indocement di Desa Nambo dapat dilihat pada Tabel 8.

16

Tabel 8. Realisasi program CSR PT. Indocement di Desa Nambo

No. Kegiatan Program Tahun

1. Betonisasi Jalan Dusun II & Dusun III Kp Walahir Rt.07/04

dan RT.09/05 (220 X 2 X 0.1 ) Sosbudag 2008

2. Betonisasi Jalan Dusun II & Dusun III Kp Walahir Rt.07/04

dan RT.09/05 (220 X 2 X 0.1 m) Sosbudag 2008

3. Pengaspalan Jalan Dusun II - III Desa Nambo (400 X 2,5 m) Sosbudag 2008

4. Fasilitas MCK Kp Lengkong Desa Nambo Kesehatan 2007

5. Pengkerasan & Pengaspalan Jalan Nambo Induk (RT 17)

Desa Nambo Sosbudag 2007

6. Rehab Musholla Nurul Hidayah Kp Walahir Rt.10/05 Desa

Nambo Sosbudag 2007

7. Betonisasi jalan Dusun II Sosbudag 2006

8. Rehab Masjid Al-Hikmah Sosbudag 2006

9. Rehab Masjid Al-Istiqomah Sosbudag 2006

10. Turap makam Nambo dusun IV ( longsor ) Sosbudag 2009

11. Masjid H. Sulaiman 10 X 10 m Sosbudag 2009

Sumber : CSR Department File 2009

6.3.2. Pelaksanaan Program

Pelaksanaan program betonisasi jalan Dusun II diawali dengan adanya kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (MUSRENBANGDES) antara pihak pemerintah desa dan pihak PT. Indocement. Seperti halnya yang diutarakan oleh Pak JAJ (35 tahun) yang merupakan Kepala Urusan Ekonomi dan Pembangunan Desa Nambo sekaligus pelaksana program.

Program betonisasi jalan ini, diawali dengan MUSRENBANGDES antara masyarakat dengan PT. Indocement. Masyarakat mengajukan program berdasarkan hak sosial dan kebutuhan. Perusahaan menganalisa apakah kebutuhan ini pantas dijadikan skala prioritas. Setelah terjadi sinkronisasi program dan perusahaan telah menetapkan skala prioritas untuk program ini, maka program baru dapat dilaksanakan.”

Program ini dilaksanakan sesuai dengan instruksi dan koordinasi antar pemerintah desa, serta transparan kepada masyarakat, agar ketika terjadi pengaduan dari masyarakat terdapat bukti. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Pak JAJ.

“Setiap program/bantuan dari perusahaan ke desa, pasti melalui kantor desa. Secara struktural, LPM yang akan mengkordinasikannya dengan saya, BPD, dan tokoh masyarakat, agar terdapat legalitas.”

Pelaksanaan program betonisasi jalan Dusun II ini sepanjang 220 x 2 x 0.1 m). Sikap dari pihak pemerintah desa memperlihatkan dukungan mereka terhadap pelaksanaan program dari PT Indocement. Menurut Pak JAJ, sikap ini pantas karena telah didasarkan pada kepentingan bersama masyarakat desa, seperti yang diungkapkan beliau pada pernyataan berikut ini.

“Pemerintah desa akan mendukung setiap program/bantuan perusahaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karena memang hal tersebut merupakan hak-hak sosial kami. Berbeda, ketika ada hak pribadi yang harus kami perjuangkan kepada perusahaan, maka kami akan memperjuangkannya. Tapi tidak selamanya kami bergantung pada perusahaan. Jika perusahaan memiliki itikad baik untuk membantu, maka kami terima. Jika tidak, kami tidak akan memaksa. Secara komunikasi memang kami saling bergantung, tetapi secara materi belum tentu kami saling bergantung.”

Keterangan dari Pak JAJ tersebut memperlihatkan ketegasan pemerintah desa dalam menyikapi berbagai macam pelaksanaan kegiatan CSR oleh perusahaan. Pemerintah Desa Nambo tidak menginginkan masyarakatnya selalu bergantung pada bantuan-bantuan dari pihak perusahaan, sehingga bisa dikendalikan begitu saja oleh perusahaan. Namun pemerintah desa juga tidak akan menampik pelaksanaan program-program CSR di desa, selama kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat desa.

6.3.3. Dampak Pelaksanaan Program

Pelaksanaan program betonisasi jalan Dusun II di Desa Nambo ini memberikan dampak yang positif bagi masyarakat desa. Dampak positif yang dirasakan masyarakat dengan pelaksanaan program ini adalah masyarakat dapat memiliki akses menuju jalan umum yang lebih mudah dan cepat, sehingga mudah untuk melakukan distribusi ekonomi, seperti yang dirasakan oleh peternak ayam petelur dalam menjual telurnya ke agen jamu di pasar. Dampak positif pelaksanaan program ini juga terkait dengan persepsi positif warga terhadap program CSR PT. Indocement. Seperti yang diutarakan oleh Pak Rohim berikut ini.

“PT. Indocement telah banyak memberikan bantuan kepada Desa Nambo, sehingga ketika ada program seperti pelatihan dari PT. Indocement, tingkat partisipasi warga untuk mengikuti program tinggi. Ketika mereka mempunyai waktu untuk mengikuti program, maka

mereka akan ikut. Saya rasa, ini merupakan timbal balik juga dari masyarakat kepada PT. Indocement. Tidak pernah terjadinya konflik antara masyarakat dengan perusahaan, menjadikan masyarakat menilai objektif terhadap program CSR perusahaan.”

Pelaksanaan program ini selain menimbulkan dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat Desa Nambo, juga menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif ini dirasakan oleh masyarakat desa yang tanahnya digunakan untuk kepentingan kegiatan betonisasi jalan ini. Pada awalnya, tanah yang digunakan untuk kegiatan betonisasi jalan ini menembus areal pemakaman milik warga RT 06 sehingga terdapat beberapa warga yang merasa keberatan jika tanahnya digunakan untuk umum. Untuk menyelesaikan masalah ini, pihak pemerintah desa berupaya memberikan pengertian pada masyarakat yang berkeberatan bahwa apabila mereka mau mengizinkan lahan milik pribadinya untuk kepentingan umum, maka manfaat sosial yang diperoleh masyarakat Desa Nambo akan lebih besar. Atas dukungan yang diberikan oleh pemerintah desa tersebut, maka warga pemilik tanah pribadi (pemakaman) akhirnya mau menyepakati pelaksanaan program ini bersama pihak-pihak lainnya yang terkait.

6.4. Dampak Program CSR pada Bidang Keamanan: Pelatihan LINMAS

Dokumen terkait