• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis dan evaluasi

Dalam dokumen LAPORAN KINERJA TAHUN 2021 (Halaman 16-80)

II. AKUNTABILITAS KINERJA

2. Analisis dan evaluasi

2. ANALISIS DAN EVALUASI

Elaborasi capain kinerja berdasarkan sasaran strategi secara lebih detail menurut indikator kinerjanya dijelaskan sebagai berikut .

Industrialisasi KP yang berdaya saing

Industrialisasi perikanan merupakan program pembangunan sektor perikanan pada saat ini merupakan lanjutan pelaksanaan program minapolitan.

Penelitian bertujuan mengkaji penerapan industrialisasi perikanan dan dukungannya terhadap program ketahanan pangan di wilayah PUD telah dilakukan

16 Nilai IKPA Lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

89 91.57 102.89

17 Nilai Kinerja Anggaran Lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

86 0 0

18 Persentase rekomendasi hasil pengawasan yang dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ( persentase )

65 100 100

Sasaran Strategis 1

kualitatif dengan menganalisis lebih mendalam terhadap beberapa hasil penelitian yang terkait dengan program industrialisasi perikanan pada kawasan minapolitan perairan umum daratan. Hasil kajian menujukkan bahwa industrialisasi perikanan PUD apabila dijalankan dengan memperhatikan konsep pengelolaan PUD secara berkelanjutan melalui pendekatan pengembangan perikanan tangkap berbasis budidaya ( Cultured Bases Fisheries ) dan pengendalian kegiatan budidaya, maka akan mendukung program ketahanan pangan nasional. Unsur keberlanjutan pada pelaksanaan program menjadi penting, karena jika sumber daya perikanan PUD dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, maka masyarakat tidak akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan, dilihat dari aspek ketersediaan, akses, dan stabilitas ketersediaannya serta peningkatan daya belinya. Implikasi kebijakan yang diperlukan apabila industrialisasi perikanan PUD dilaksanakan dengan memperhatikan keberlangsungan sumber daya perikanan PUD, maka Balai Besar KIPM Makassar kiranya perlu ditingkatkan kapasitasnya dalam kaitannya dengan sistem dan kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan PUD secara berkelanjutan.

Indikator Kinerja Target

98 % Industrialisasi Kelautan dan Perikanan berdaya saing

1. Persentase eksport ikan dan hasil perikanan memenuhi persyaratan mutu dan kesehatan ikan lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

IK1. Persentase eksport ikan dan hasil perikanan memenuhi persyaratan mutu dan kesehatan ikan lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

Implementasi jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan yang dipersyaratkan oleh negara importir, harus dipenuhi oleh seluruh negara yang mengekspor produk perikanannya, secara nyata tercermin pada sertifikat kesehatan yang menyertai setiap produk yang diekspor, sehingga sertifikat kesehatan merupakan dokumen negara sebagai jaminan yang otentik.

Sertifikat Kesehatan (Health Certificate) atau yang disingkat HC merupakan bukti pengendalian penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan yang diterbitkan apabila suatu produk/hasil perikanan telah memenuhi persyaratan atau standar yang berlaku sehingga aman untuk dikonsumsi manusia. Dengan sistem ini UPI dan Otoritas Kompeten dapat menelusuri ataupun mendapatkan informasi pergerakan produk sehingga apabila ada ancaman/bahaya terkait consignment dapat ditanggapi dengan cepat, tepat dan dengan cara yang terkoordinasi.

• Lalulintas ekspor ikan dan hasil perikanan yang memenuhi persyaratan pada triwulan II mencapai 99,96%. Hal ini proses terhadap pelaksanaan sistem penerapan biosecurity melalui monitoring dan surveilan CKIB serta sistem pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan telah berjalan dengan efektif, sehingga jaminan terhadap kesehatan dan mutu hasil perikanan produk perikanan ekspor dapat dipertahankan

• Sertifikat ekspor yang tidak memenuhi persyaratan ekspor sebesar 0,04%

(Thunnus albacore) sebanyak 15.000 kg dari United States yang disebabkan karena permasalahan Salmonella pada tanggal 12 Juni 2021.

Rumus :

Perhitungan selanjutnya sebagai berikut : - Frekuensi Ekspor : 2.893

- Penolakan : 1

= 99,96 %

Kegiatan Ekspor Ikan dan Hasil Perikanan memenuhi persyaratan Mutu dan Kesehatan Ikan di TPFI

Sumberdaya Kelautan yang Berkelanjutan

Potensi sumberdaya laut baik hayati maupun non hayati belum sepenuhnya dipahami bangsa Indonesia. Untuk memahami potensi laut perlu dukungan penelitian/riset dasar dan terapan. Salah satu kekurangan kita adalah kurangnya upaya riset oleh anak bangsa sendiri, sehingga tidak mampu memahami dan mengeksploitasi potensi sumberdaya laut. Untuk itu pemerintah mendorong Indonesia untuk meningkatkan intensitas dan produktivitas riset serta meningkatkan relevansi riset dengan pengelolaan sumberdaya laut Indonesia.

Potensi dan kekayaan yang dimiliki begitu besar, namun bidang kelautan belum mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah dan masyarakat, dapat terlihat bidang perikanan dan kelautan belum dijadikan pengarusutamaan (mainstreaming) pembangunan Nasional. Sesungguhnya potensi yang ada di laut dapat diibaratkan sebagai “sleeping Giant”. Untuk itu perlu kita bangunkan bagi peningkatan dan kehidupan penghela ekonomi masyarakat Indonesia.

Potensi dan persoalan sumberdaya laut yang muncul akhir-akhir ini adalah illegal fishing, pencemaran laut dan perdagangan illegal di laut. Riset perlu diarahkan terkait biteknologi pemanfaatan biodiversitas laut, teknologi eksplorasi tambang nonhayati ( biogenic gases, energy ). Namun perlu menyeimbangkan antara pemanfaatan dan keberlanjutan lingkungan sesuai dengan konsep blue economy yang menjadi perhatian dunia.

Sasaran Strategis 2

Indikator Kinerja Target

Sumberdaya Kelautan yang Berkelanjutan.

1. Persentase ikan dan hasil perikanan impor memenuhi persyaratan mutu dan bebas penyakit lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

2. Persentase pencegahan impor , eksport,antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi, dan dibatasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

3. Sertifikasi Instalasi Karantina Ikan pada Unit Usaha Perikasnn ( UUP ) yang memenuhi standar dn menerapkan biosecutity lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

4. Lokasi wilayah RI yang dijamin mutu hasil

perikanannya lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar 5. Parameter pengujian ikan dan hasil perikanan ekspor

dan domestik tidak berasal dari destructive fishing 6. Unit Penanganan dan/atau pengolahan ikan yang

menerapkan sistem traceability (UPI ) lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

7. Ruang Lingkup produk yang dijamin melalui sertifikat ( PMMT/HACCP ) rekomendasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

8. Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan eksport 9. Penerapan Sistem Manajemen Mutu yang berstandar

International /ISO lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ( Unit Kerja )

10. Penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan lingkp UPT Balai Besar KIPM Makassar

1. 100 %

IK2. Persentase ikan dan hasil perikanan impor memenuhi persyaratan dan bebas penyakit lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

Hasil Perikanan yang masuk ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia wajib dilakukan tindakan pemeriksaan oleh Petugas Balai Besar KIPM Makassar. Pemeriksaan di kawasan pabean meliputi pemeriksaan dokumen untuk mengetahui kelengkapan, keabsahan, dan kebenaran dokumen dan pemeriksaan fisik.

Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut memenuhi syarat, maka diterbitkan Surat Persetujuan Pengeluaran Media Pembawa dari Tempat Pemasukan untuk di bawa ke Instalasi Karatina ikan yang telah ditetapkan. Di instalasi karantina ikan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendeteksi hama dan penyakit ikan karantina dan pengujian mutu.

Tindakan karantina ikan dan pengujian mutu dilakukan dengan pengambilan contoh oleh Petugas Balai Besar KIPM Makassar Pengambilan contoh bagi negara yang telah mempunyai perjanjian kerjasama berupa Mutual Recognition Arrangement (MRA) atau Memorandum of Understanding (MoU) atau sejenisnya, pengambilan contoh dilakukan secara acak 1 persen (satu persen) dari lot produk.

Pengujian penyakit ikan dan mutu dilakukan secara simultan dalam waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja. Selama pemeriksaan hasil perikanan dilarang untuk dipindah tempatkan, dipindahtangankan, atau ditukar dengan Hasil Perikanan dari jenis yang sama atau dari jenis yang lain. Apabila berdasarkan Hasil pemeriksaan dinyatakan bebas hama dan penyakit Ikan

karantina dan memenuhi persyaratan mutu dan keamanan Hasil perikanan maka diterbitkan surat pelepasan.

Sebaliknya apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dinyatakan tidak memenuhi persyaratan maka diterbitkan surat penolakan. Hasil Perikanan yang dikenakan tindakan penolakan wajib dikirim kembali ke negara asal dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari sejak dilakukan penolakan. Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) hari tidak dilakukan pengiriman kembali ke negara asal, maka dilakukan pemusnahan.

Pencapaian Kinerja pada triwulan II realisasinya 100 %, Persentase capaian komoditi impor (Induk Udang Vannamei) mencapai 100 % sesuai target yang ditetapkan. Analisa risiko telah dilakukan pada setiap permohonan impor termasuk kelengkapan dokumen aspek legal dari negara asal maupun dari dalam negeri sehingga meminimalisir risiko masuknya penyakit ikan maupun ketidaksesuaian mutu produk impor dari negara asal maupun dari negara transit. Pengujian terhadap parameter uji (WSSV, IMNV, IHHNV, YHV, TSV, CMNV, AHPND, EHP, NHP dan tambahan parameter corona virus sejak masa pandemi) selalu dilakukan terhadap media pembawa Induk Udang Vannamei dan menunjukkan hasil yang negatif. Adapun impor induk udang vannamei berasal dari negara USA. Perhitungan jumlah importasi ikan dan hasil perikanan di atas didasarkan pada jumlah sertifikat pelepasan karantina ikan (KI-D12) yang diterbitkan dengan rumus (jumlah importasi yang memenuhi syarat) / (jumlah total importasi ) x 100%. Kelengkapan dokumen persyaratan khususnya rekomendasi dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menjadi persyaratan

mutlak yang harus dipenuhi untuk memastikan komoditi perikanan impor (ikan hidup tujuan budidaya) aman dan legal.

Rumus :

A : Prosentase Penanganan Impor yang Masuk ke Wilayah RI Memenuhi Persyaratan Mutu

dan Keamanan Hasil Perikanan dihitung menggunakan rumus :

Perhitungan Realisasi Impor Mutu :

- Jumlah Importasi Yang Memenuhi Syarat : 4 - Jumlah Total Importasi : 4

= 100 %

B: Persentase Impor Yang Bebas Penyakit Ikan Karntina Dihitung Menggunakan rumus :

Perhitungan Realisasi Impor Karantina : - Jumlah KID12 : 2

- Jumlah PPK Impor : 2

= 100 %

Maka :

Penyemprotan desinfektan terhadap kemasan Induk Udang Vannamei yang baru tiba di gudang cargo Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar

Pemeriksaan |Kelengkapan Dokumen dan Volume Induk Udang Vannamei

Koordinasi dan penyampaian maksud dan tujuan pelaksanaan tugas dengan pihak PT. Esaputlii Prakarsa Utama serta penyampaian larangan pemberian sesuatu

kepada petugas |Karantina Ikan yang dapat menimbulkan KKN.

IK3. Persentase pencegahan impor, eksport, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

Pembangunan sektor perikanan dikembangkan dengan tujuan antara lain meningkatkan produksi, memperluas penganekaragaman hasil diharapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan industri domestik, meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup nelayan, mendorong perluasan dan pemerataan kesempatan berusaha dan lapangan kerja serta mendukung pembangunan daerah. Selain itu pembangunan tersebut dilakukan dengan selalu berorientasi pada

lingkungan. Dalam pelaksanaan pencapaian tujuan tersebut terdapat berbagai hambatan dan ancaman yang harus dihadapi. Salah satu ancaman yang berpotensi besar adalah adanya penyakit pada hewan dan ikan serta organisme pengganggu tumbuhan, baik yang belum maupun yang telah terdapat di dalam wilayah Indonesia.

Kegiatan ini merupakan upaya dalam perlindungan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang partisipatif bertanggung jawab dan berkelanjutan. Kegiatan ini mengacu pada Permen KP No. 19 Tahun 2020 tentang Larangan Pemasukan , Pembudidayaan, Peredaran, dan Pengeluaran Jenis Ikan yang membahayakan dan / atau merugikan dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara RI. Dalam regulasi ini terdapat 81 jenis yang dilarang , dilindungi dan dibatasi ( JID3) yang harus dicegah lalulintasnya. Berdasarkan hasil evaluasi kinerja pada triwulan II 2021, diketahui tidak ada lalulintas jenis yang dilarang, dilindungi dan dibatasi ( JID3 ) yang tidak disertai dengan surat rekomendasi dari instansi terkait. Adapun komoditi yang dilalulintaskan pada triwulan II 2021 yang masuk dalam ranah JID3 adapun teripang kering , dan pelaku usaha dalam hal ini unit pengolahan ikan telah memenuhi persyaratan berupa surat keterangan dari BPSPL yang menyatakan bahwa jenis teripang yang dikirm bukan termasuk jenis yang dilarang, dilindungi maupun dibatasi. Selain itu selama triwulan II 2021 juga tidak ditemukan adanya laporan dari daerah/negara tujuan yang menunjukkan adanya jenis JID3 yang lolos atau tanpa rekomendasi dari

instansi terkait. Dengan demikian capaian indikator kinerja utama ( IKU) ini adalah

X(1,2,3,4) = A – B x 100 % A

= 81 – 0 x 100 % 81

= 100 %

Keterangan :

A : Jumlah ikan yang JID3 ( Permen KP 19 Tahun 2020 tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran, dan Pengeluaran jenis ikan yang membahayakan dan/atau merugikan dari wilayah pengelolaan Perikanan negara RI )

B : Jumlah ikan yang JID3 yang tidak dilengkapi dekumen persyaratan ( lolos di pintu pengeluaran )

Persentase capaian pengeluaran Impor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi, dan dibatasi ( JILD3) lingkup UPT Balai Besar KIPM untuk

menjadi salah satu indicator efektifnya proses verifikasi dokumen permohonan pemeriksaan karantina ( PPK ). Selain itu, sistem pengawasan dan sinergitas dengan isntansi terkait seperti BKSDA dan BPSPL menjadi falktor penting dalam upaya pencegahan lalulintas JID3

Kegiatan pencegahan impor, eksport, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

IK4. Sertifikat Instalasi Karantina Ikan pada Unit Usaha Perikanan ( UUP ) yang memenuhi Standar dan menerapkan Biosecurity lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

Instalasi karantina ikan adalah tempat beserta segala sarana dan fasilitas pendukungnya yang digunakan untuk melaksanakan tindakan karantina sebagai upaya mencegah masuk dan tersebarnya HPIK dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam wilayah negara Republik Indonesia.

Instalasi karantina ikan milik pihak ketiga adalah instalasi karantina yang dibangun oleh perorangan atau badan hukum dan telah ditetapkan dengan surat penetapan sebagai instalasi karantina

ikan, dengan pengelolaannya di bawah pengawasan UPT KIPM sesuai cakupan wilayah kerja masing-masing.

Indikator kinerja instalasi karantina ikan milik pihak ketiga yang layak untuk ditetapkan diukur dengan cara menghitung jumlah instalasi karantina ikan milik pihak ketiga yang telah ditetapkan sebagai Instalasi Karantina Ikan (IKI) dengan keputusan Kepala BKIPM. Pada tahun 2021 telah ditetapkan 27 unit IKI dan pada triwulan II terealisasi 17. Pada Triwulan II target penerbitan Sertifikat IKI sebanyak 5 (lima)

Sehingga total keseluruhan dari triwulan I dan Triwulan II ada 17 (tujuh belas ), Realisasi kegiatan Sertifikasi Instalasi Karantina Ikan pada Triwulan I sesuai dengan target yaitu 9 (Sembilan) sedang realisasi untuk triwulan II melebihi target karena adanya penambahan IKI baru. Ini dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pemahaman Biosafety dan Biosecurity kepada pelaku usaha berjalan dengan baik.

Opening meeting

Observasi Lapangan

IK5. Lokasi wilayah RI yang dijamin mutu hasil perikanannya lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) No. 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat berkewajiban untuk meningkatkan dan memperluas pelaksanaan gerakan memasyarakatkan makan ikan pada masyarakat dan mengawasi mutu dan keamanan hasil perikanan. Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan domestik adalah terjaminnya mutu dan keamanan hasil perikanan di sentra penyedia pangan sehat serta meningkatnya volume hasil perikanan bagi konsumsi masyarakat yang dijamin mutu dan keamanannya. Langkah-langkah strategis yang dilakukan untuk mencapai tujuan dimaksud antara lain melalui optimalisasi ketersediaan ikan sehat dan aman konsumsi sebagai pangan sehat; penguatan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, pengendalian mutu di pasar/sentra produksi ikan sehat, penyediaan sentra kuliner berbasis ikan sehat dan pengendalian ikan sehat dan aman untuk dikonsumsi.

Balai Besar KIPM Makassar telah melaksanakan kegiatan pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik pada triwulan II tahun 2021 di 5 kabupaten/kota yang berada di Sulawesi Selatan. Adapun 5 kabupaten/kota yang menjadi lokasi pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik adalah Kota makassar, Kabupaten Maros, kabupaten Takalar, kabupaten Gowa dan kabupaten Pangkep. Kegiatan pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik dilakukan di sentra penyedia pangan sehat yaitu pasar tradisional, pasar

tim dari Balai Besar KIPM Makassar didukung oleh dinas kabupaten/kota serta Balai Besar POM Makassar. Adapun lokasi dan titik pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

No. Kabupaten/

Berdasarkan hasil pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik triwulan II tahun 2021 diperoleh hasil sebagai berikut : 1. Lokasi pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik untuk

triwulan II tahun 2021 sebanyak 5 kabupaten/kota dengan 15 titik pengawasan yaitu :

- Kota Makassar dengan 8 titik yaitu 4 titik pasar tradisional, 2 titik pasar modern dan 2 titik pelabuhan perikanan/TPI/PPI,

- Kabupaten Maros dengan 3 titik pasar tradisional dan 1 titik pelabuhan perikanan/TPI/PPI,

- Kabupaten Gowa dengan 1 titik pasar tradisional, - Kabupaten Pangkep dengan 1 titik pasar tradisional,

- Kabupaten Takalar dengan 1 titik pelabuhan perikanan/TPI/PPI.

2. Hasil uji sensori dan mikrobiologi menunjukkan penyimpangan pada Pasar Tradisional Daya untuk parameter uji organoleptik dengan nilai 6 pada sampel cumi-cumi segar. Adapun nilai standar untuk pengujian organoleptik adalah 7.

3. Hasil pengamatan sarana dan prasarana, sanitasi dan higiene lingkungan pada titik pengawasan diperoleh hasil yaitu 9 titik pengawasan berstatus cukup, 4 titik berstatus baik dan 2 titik berstatus sangat baik.

Rekomendasi

1. Adanya peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana pada pasar tradisional dan TPI terkait sanitasi dan higiene di titik pengawasan yang berstatus cukup.

2. Penyimpangan hasil uji dikomunikasikan dengan pengelola titik pengawasan untuk dilakukan langkah-langkah teknis dengan instansi/dinas terkait.

3. Perlu disinergikan lokasi pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik dengan kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang menjadi lokasi program prioritas KKP.

Kegiatan Pengawasan Mutu dan Keamanan hasil perikanan domestik di TPI Rajawali

Kegiatan Pengawasan Mutu dan Keamanan hasil perikanan domestik di Pasar Tradisional Bulu-bulu Kab.

Maros

IK6. Parameter pengujian ikan dan hasil perikanan eksport dan domestik tidak berasal dari destructif fishing

Destructive fishing merupakan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan, alat atau cara yang merusak sumber daya ikan maupun lingkungannya, seperti menggunakan bahan peledak, bahan beracun, strum, dan alat tangkap lainnya yang tidak ramah lingkungan.

Beberapa contoh dari kegiatan destructive fishing yaitu penggunaan bom ikan, racun ikan, muroami, dan trawl di perairan dangkal. Selain itu, terjadi pula destructive fishing di perairan umum berupa penggunaan setrum ikan.

Pembahasan destructive fishing dalam Rencana Aksi Nasional ini dibatasi hanya terhadap penggunaan bahan peledak, racun ikan, dan setrum ikan.

Dasar pembatasan adalah ketiga jenis destructive fishing tersebut yang Kegiatan Pengawasan Mutu dan Keamanan hasil

perikanan domestik di Pasar Terong

Nelayan tradisional sudah sering menggunakan bom ikan untuk menangkap ikan-ikan karang, terutama di daerah Indonesia Timur. Saat ini bom ikan yang ada merupakan rakitan yang terdiri dari sumbu, pupuk, dan botol bir atau soda. Bom ikan dibuat secara tradisional dengan bahan yang sederhana. Jenis pupuk yang digunakan yaitu ammonium dan potassium nitrat (NH4NO3 dan KNO3). Oleh karena penggunaan pupuk berbahan dasar ammonium dan potassium nitrat dapat disalah gunakan, maka dibutuhkan pengawasan pada pemasaran dan konsumen pupuk dimaksud.

Sinergi Balai Besar KIPM Makassar dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan dalam Pengawasan Destructive Fishing di Kabupaten Pangkajene Kepulauan Pangkep (25/6) - Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan (Destructive Fishing) telah lama menjadi perhatian dunia karena dapat merusak ekosistem laut tempat hidup berbagai jenis ikan dan hewan laut lainnya. Untuk itu Balai Besar KIPM Makassar secara rutin melaksanakan pengawasan Destructive Fishing di beberapa kabupaten yang menjadi sentra produksi perikanan tangkap di Sulawesi Selatan. Pada hari Jumat tanggal 25 Juni 2021, Balai Besar KIPM Makassar menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan pengawasan Destructive Fishing di Kabupaten Pangkep.

Kabupaten Pangkep yang 92% luasnya berupa lautan, memiliki 117 pulau dan 80 diantaranya berpenghuni menggambarkan potensi perikanan tangkap yang sangat besar. Hasil perikanan tangkap dari nelayan di Kab. Pangkep pada umumnya didaratkan di Pelabuhan Paotere Makassar

dan Pelabuhan Maccini Baji Kab. Pangkep. Pengawasan Destructive Fishing dilakukan dengan mengambil sampel ikan yang didaratkan di Pelabuhan Maccini Baji dan dilakukan uji forensik untuk mengetahui apakah ikan ditangkap menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan atau tidak.

Pengujian dilakukan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat nelayan dan pengumpul ikan, dan juga dihadiri oleh penyuluh perikanan dan staf Cabang Dinas Kelautan Pangkep. Dari hasil pengujian forensik ditemukan bahwa ikan yang didaratkan di Pelabuhan Maccini Baji ditangkap dengan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. seluruh nelayan di Kab. Pangkep lebih peduli terhadap lingkungan laut tempat para nelayan mencari penghasilan.

Bapak Aron A Pananrang sebagai perwakilan Cabang Dinas Kelautan Pangkep mengharapkan agar sinergi ini dapat lebih diintensifkan dengan kegiatan pengawasan hingga ke pulau-pulau di Kabupaten Pangkep. Dengan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan diharapkan sumberdaya perikanan di laut tetap terjaga dan dapat memenuhi kebutuhan protein hewani asal ikan yang sehat, bermutu dan aman dikonsumsi masyarakat.

Rekomendasi :

Terkait dengan sifat sianida yang mudah menguap, perlu berkolaborasi dengan instansi terkait seperti PSDKP untuk melakukan patroli dan pemantauan destructive fishing on the spot, khususnya cyanide fishing untuk melihat efektivitas

IK7. Unit Penanganan dan/atau pengolahan ikan yang menerapkan sistem traceability ( UPI ) lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar

Sistem traceability merupakan bagian penting dalam sistem jaminan kesehatan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan sesuai persyaratan international . Setiap produk hasil perikanan yang akan didistribusikan dari hulu ke hilir harus dapat ditelusuri melalui pemenuhan

Identifikasi kandungan penggunaan bahan kimia ( Sianida ) dan pemeriksaaan secara anatomi/ morfologi ikan sampel yang diidentifikasikan hasil tangkap menggunakan bahan peledak ( bom )

alur informasi dan basis data. Sistem traceability ditujukan untuk mengendalikan produk apabila terjadi insiden keamanan pangan atau produk yang bermasalah akan ditelusuri.

Indikator pelaku usaha ( UPI ) yang menerapkan sistem treacibility diukur dengan menghitung jumlah UPI yang ditelah menerapkan sistem traceability melalui verifikasi penerapan sistem ketertelusuran hasil perikanan.

Program Traceability pada triwulan II realisasi UPI ada 9 yaitu :

Program Traceability pada triwulan II realisasi UPI ada 9 yaitu :

Dalam dokumen LAPORAN KINERJA TAHUN 2021 (Halaman 16-80)

Dokumen terkait