LAPORAN KINERJA TAHUN 2021
BALAI BESAR KIPM MAKASSAR
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Karunia dan Rahmat-Nya kegiatan Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar yang dituangkan dalam Laporan Kinerja (LKj) Triwulan II Tahun 2021 dapat terlaksana dan tersusun dengan baik. Laporan Kinerja ini sebagai pertanggungjawaban instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi dalam menjalankan misi organisasi yang dituangkan dalam program dan kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
LKj ini disusun dengan maksud untuk memberikan informasi tentang
pencapaian kinerja operasional perkarantinaan ikan, pengendalian mutu dan
keamanan hasil perikanan yang ditetapkan untuk periode triwulan II tahun 2021
yang disusun dengan pendekatan Balance Scorecard ( BSC ). LKj menyajikan
realisasi IKU yang dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan termasuk
hambatan dan permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan tugas dan
fungsi organisasi.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
I. PERENCANAAN KINERJA ... 1
1. Visi dan Misi ... 1
2. Tujuan Strategis ... 2
3. Sasaran , Indikator dan Kinerja ... 3
II. AKUNTABILITAS KINERJA ... 7
1. Capaian Kinerja ... 7
2. Analisis dan evaluasi ... 10
IK1. Persentase ekspor ikan dan hasil perikanan memenuhi persyaratan Mutu dan kesehatan ikan lingkup UPT Balai Besar KIPM ... 12
IK2. Persentase ikan dan hasil perikanan impor memenuhi persyaratan mutu dan bebas penyakit lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ... 17
IK3. Presentase Pencegahan import, eksport, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindung dan dibatasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar 22 IK4. Sertifikasi Instalasi Karantina Ikan pada Unit Usaha Perikanan ( UUP ) yang memenuhi standar dan menerapkan Biosecurity UPT Balai Besar KIPM Makassar ... 26
IK5. Lokasi wilayah RI yang dijamin mutu hasil perikanan lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ( lokasi ) ... 30
IK6. Parameter pengujian ikan dan hasil perikanan eksport dan domestik tidak berasal dari destruktif Fishing ... 34
IK7. Unit Penanganan dan/atau pengolahan ikan yang menerapkan sistem traceability ( UPI ) lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar... 37
IK8. Ruang Lingkup produk yang dijamin melalui sertifikasi ( PMMT/HACCP ) rekomendasi ) lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ... 40
IK9. Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan eksport ... 46
IK10. Penerapan Sistem Manajemen Mutu yang berstandar international / ISO lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ... 52
IK11. Penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ... 53 IK12. Indeks profesional ASN BKIPM Lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar 57
IK13. Nilai Penilaian Mandiri SAKIP UPT Balai Besar KIPM Makassar ( Nilai ) . 59 IK14. Nilai Rekonsiliasi Kinerja, UPT Balai Besar KIPM Makassar ... 60 IK15. Unit yang menerapkan inovasi pelayanan publik Balai Besar KIPM
Makassar ... 62 IK16. Nilai IKPA Lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ... 63 IK17. Nilai Kinerja Anggaran Lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar.... 64 IK18. Persentase rekomendasi hasil pengawasan yang dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ( persentase )65 III. LAMPIRAN
I. PERENCANAAN KINERJA
1. Visi dan Misi
Kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan diarahkan untuk mendorong peningkatan kontribusi sektor kelautan dan perikanan dalam pertumbuhan ekonomi, serta mendorong peningkatan ketersediaan, akses dan kualitas pangan produk perikanan yang berkelanjutan, pengelolaan, kemaritiman kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.
Aspek yang berkaitan dengan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sesuai dengan mandat yang diberikan kepada Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) adalah :
1. Meningkatnya kontribusi ekonomi sektor kelautan dan perikanan dengan pendukung pengolahan kelautan dan perikanan yang optimal melalui penjaminan kesehatan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan, serta keamanan hayati ikan sebagai upaya tindakan perlindungan terhadap kesehatan manusia, ikan dan lingkungan.
2. Meningkatkan pengawasan sumberdaya kelautan dan
perikanan yang berkelanjutan, serta
3. Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik untuk BKIPM Oleh karena itu, BKIPM menetapkan visi pembangunan karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan Tahun 2020 - 2024, yaitu
:VISI
MISI
2. Tujuan Strategis
Dengan mengacu visi, misi dan tujuan pembangunan
Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan melaluipeningkatan kelestarian sumberdaya kelautan dan perikanan
Pengelolaan pemerintahan yang bersih,efektif dan terpercaya melalui peningkatan Tata kelola pemerintahan di KKP
Struktur Ekonomi Yang Produktif, Mandiri, dan Berdaya Saing melalui Pningkatan Kontribusi Ekonomi Sektor Kelautan dan Perikanan terhadap Perekonomian Nasional
1
Terwujudnya Masyarakat Kelautan dan Perikanan yang Sejahtera dan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan yang Berkelanjutan
2
3
dan kondisi output/impact yang diinginan dapat dicapai BKIPM dari program yang dilaksanakan , maka BKIPM telah menetapkan sasaran yang mencerminkan sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan oleh organisasi dalam jangka waktu tertentu yang lebih pendek. Sasaran tersebut diusahakan dalam bentuk kuantitatif sehingga dapat diukur dan memiliki kriteria, mengandung arti, rasional, menantang, konsisten satu terhadap yang lainnya, spesifik dan dapat diukur.
1. Sasaran Strategis 1. Industrialisasi KP yang berdaya saing ;
2. Sasaran Strategis 2. Sumberdaya Kelautan yang berkelanjutan;
3. Sasaran Strategis 3. Tatakelola Pemerintahan yang baik lingkup BKIPM;
3. Sasaran, Indikator dan Target Kinerja
Sasaran strategis Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian
Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar merupakan
penjabaran operasional dari visi, misi dan tujuan yang telah
ditetapkan. Sasaran strategis ini menggambarkan hasil yang hendak
dicapai secara nyata oleh instansi pemerintah dalam
rumusan yang lebih spesifik, terukur, dalam kurun waktu
yang lebih pendek dari tujuan. Dalam sasaran telah ditetapkan indikator sasaran sebagai ukuran tingkat keberhasilan pencapaian sasaran untuk diwujudkan pada tahun bersangkutan. Setiap indikator sasaran disertai rencana tingkat capaian (target) masing-masing. Sasaran diupayakan untuk dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu secara berkesinambungan sejalan dengan tujuan yang ditetapkan dalam rencana strategis. Dengan demikian, setiap tujuan yang ditetapkan memiliki indikator yang terukur.
Kegiatan Pengembangan Sistem Manajemen Kinerja Organisasi dan Penyusunan IKU pada KKP mampu membangun sistem mendorong tercapainya kinerja organisasi yang terukur.
BKIPM telah menyusun Rencana Strategis Tahun 2020 - 2024
yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala BKIPM Nomor 85/KEP-
BKIPM/2015. Peta Strategis adalah suatu dashboard yang memetakan
sasaran organisasi dalam suatu kerangka hubungan sebab akibat yang
menggambarkan keseluruhan perjalanan strategi nasional. Dari Peta
Strategi tersebut, dijabarkan indikator dan terget kinerja yang akan
dicapai BKIPM pada 2021, sebagaimana tertuang dalam Perjanjian
Kinerja BKIPM.
Penyusunan Perjanjian Kinerja ditujukan sebagai bentuk transparansi atas akuntabilitas dan kinerja, serta sebagai dasar penilaian keberhasilan atau kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Perjanjian kinerja ini merupakan pelaksanan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntablitas Kinerja Instansi Pemerintah dan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
PETA STRATEGI
BALAI BESAR KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN MAKASSAR
TAHUN 2021
SS1. Industrialisasi KP yang berdaya saing
SS2. SumberKelautan yang berkelanjutan
SS3. Tatakelola pemerintah yang baik lingkup BKIPM
Gambar 1. Peta Strategi Balai Besar KIPM Makassar Tahun 2021
Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian
Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Review Atas Laporan Kinerja
Instansi Pemerintah serta Keputusan Kepala Badan Karantina Ikan,
Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil perikanan.
II. AKUNTABILITAS KINERJA
1. CAPAIAN KINERJA
Pengukuran capaian indikator kinerja Balai Besar KIPM Makassar dilakukan dengan cara membandingkan antara realisasi dengan target setiap indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja tahun 2021. Selanjutnya dilakukan pembahasan dan analisis lebih mendalam terutama terhadap indikator kinerja yang realisasinya tidak mencapai target.
Hal ini perlu dilakukan untuk mengenali faktor penyebabnya selanjutnya akan digunakan sebagai bahan pertimbangan penetapan strategi untuk peningkatan kinerja (performance improvement) di tahun-tahun selanjutnya.
Hasil capaian indicator kinerja Balai Besar KIPM Makassar u n t u k t r i w u l an I I tahun 2021 yang menunjukkan capaian sasaran strategis secara ringkas disajikan pada tabel berikut ini.
Tabel : 2.1
Capaian Kinerja Balai Besar KI PM Makassar Triwulan II Tahun 2021 SASARAN
STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA (IK)
TARGET REALISASI % Industrialisasi KP
yang berdaya saing
1 Persentase ekspor ikan dan hasil perikanan memenuhi persyaratan mutu dan kesehatan ikan lingkup UPT Balai Besar KIPM
98 99,96 102
Sumberdaya
Kelautan dan Berkelanjutan
2 Persentase ikan dan hasil perikanan impor memenuhi persyaratan mutu dan bebas penyakit lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
100 100 100
3 Presentase Pencegahan import, eksport, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindung dan dibatasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
90 100 111
4 Sertifikasi Instalasi Karantina Ikan pada Unit Usaha Perikanan ( UUP ) yang memenuhi standar dan
menerapkan Biosecurity UPT Balai Besar KIPM Makassar
27 17 62.96
5 Lokasi wilayah RI yang dijamin mutu hasil perikanan lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ( lokasi )
5 5 100
6 Parameter pengujian ikan dan hasil perikanan eksport dan domestik tidak berasal dari destruktif Fishing
1 1 100
7 Unit Penanganan dan/atau pengolahan ikan yang menerapkan sistem traceability ( UPI ) lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
15 9 60
8 Ruang Lingkup produk
yang dijamin melalui sertifikasi (
PMMT/HACCP ) rekomendasi ) lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
330 149 45.15
9 Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan eksport
100 54 54
10 Penerapan Sistem Manajemen Mutu yang berstandar
international / ISO lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
1 1 100
11 Penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
95 100 105
Tata kelola pemerintahan yang baik lingkup BKIPM
12 Indeks profesional ASN BKIPM Lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
73 71.36 97.75
13 Nilai Penilaian Mandiri SAKIP UPT Balai Besar KIPM Makassar ( Nilai )
87 0 0
14 Nilai Rekonsiliasi Kinerja, UPT Balai Besar KIPM Makassar
85 0 0
15 Unit yang menerapkan inovasi pelayanan publik Balai Besar KIPM Makassar
1 1 100
2. ANALISIS DAN EVALUASI
Elaborasi capain kinerja berdasarkan sasaran strategi secara lebih detail menurut indikator kinerjanya dijelaskan sebagai berikut .
Industrialisasi KP yang berdaya saing
Industrialisasi perikanan merupakan program pembangunan sektor perikanan pada saat ini merupakan lanjutan pelaksanaan program minapolitan.
Penelitian bertujuan mengkaji penerapan industrialisasi perikanan dan dukungannya terhadap program ketahanan pangan di wilayah PUD telah dilakukan
16 Nilai IKPA Lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
89 91.57 102.89
17 Nilai Kinerja Anggaran Lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
86 0 0
18 Persentase rekomendasi hasil pengawasan yang dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ( persentase )
65 100 100
Sasaran Strategis 1
kualitatif dengan menganalisis lebih mendalam terhadap beberapa hasil penelitian yang terkait dengan program industrialisasi perikanan pada kawasan minapolitan perairan umum daratan. Hasil kajian menujukkan bahwa industrialisasi perikanan PUD apabila dijalankan dengan memperhatikan konsep pengelolaan PUD secara berkelanjutan melalui pendekatan pengembangan perikanan tangkap berbasis budidaya ( Cultured Bases Fisheries ) dan pengendalian kegiatan budidaya, maka akan mendukung program ketahanan pangan nasional. Unsur keberlanjutan pada pelaksanaan program menjadi penting, karena jika sumber daya perikanan PUD dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, maka masyarakat tidak akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan, dilihat dari aspek ketersediaan, akses, dan stabilitas ketersediaannya serta peningkatan daya belinya. Implikasi kebijakan yang diperlukan apabila industrialisasi perikanan PUD dilaksanakan dengan memperhatikan keberlangsungan sumber daya perikanan PUD, maka Balai Besar KIPM Makassar kiranya perlu ditingkatkan kapasitasnya dalam kaitannya dengan sistem dan kelembagaan pengelolaan sumberdaya perikanan PUD secara berkelanjutan.
Indikator Kinerja Target
98 % Industrialisasi Kelautan dan Perikanan berdaya saing
1. Persentase eksport ikan dan hasil perikanan memenuhi persyaratan mutu dan kesehatan ikan lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
IK1. Persentase eksport ikan dan hasil perikanan memenuhi persyaratan mutu dan kesehatan ikan lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
Implementasi jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan yang dipersyaratkan oleh negara importir, harus dipenuhi oleh seluruh negara yang mengekspor produk perikanannya, secara nyata tercermin pada sertifikat kesehatan yang menyertai setiap produk yang diekspor, sehingga sertifikat kesehatan merupakan dokumen negara sebagai jaminan yang otentik.
Sertifikat Kesehatan (Health Certificate) atau yang disingkat HC merupakan bukti pengendalian penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan yang diterbitkan apabila suatu produk/hasil perikanan telah memenuhi persyaratan atau standar yang berlaku sehingga aman untuk dikonsumsi manusia. Dengan sistem ini UPI dan Otoritas Kompeten dapat menelusuri ataupun mendapatkan informasi pergerakan produk sehingga apabila ada ancaman/bahaya terkait consignment dapat ditanggapi dengan cepat, tepat dan dengan cara yang terkoordinasi.
• Lalulintas ekspor ikan dan hasil perikanan yang memenuhi persyaratan pada triwulan II mencapai 99,96%. Hal ini proses terhadap pelaksanaan sistem penerapan biosecurity melalui monitoring dan surveilan CKIB serta sistem pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan telah berjalan dengan efektif, sehingga jaminan terhadap kesehatan dan mutu hasil perikanan produk perikanan ekspor dapat dipertahankan
• Sertifikat ekspor yang tidak memenuhi persyaratan ekspor sebesar 0,04%
(Thunnus albacore) sebanyak 15.000 kg dari United States yang disebabkan karena permasalahan Salmonella pada tanggal 12 Juni 2021.
Rumus :
Perhitungan selanjutnya sebagai berikut : - Frekuensi Ekspor : 2.893
- Penolakan : 1
= 99,96 %
Kegiatan Ekspor Ikan dan Hasil Perikanan memenuhi persyaratan Mutu dan Kesehatan Ikan di TPFI
Sumberdaya Kelautan yang Berkelanjutan
Potensi sumberdaya laut baik hayati maupun non hayati belum sepenuhnya dipahami bangsa Indonesia. Untuk memahami potensi laut perlu dukungan penelitian/riset dasar dan terapan. Salah satu kekurangan kita adalah kurangnya upaya riset oleh anak bangsa sendiri, sehingga tidak mampu memahami dan mengeksploitasi potensi sumberdaya laut. Untuk itu pemerintah mendorong Indonesia untuk meningkatkan intensitas dan produktivitas riset serta meningkatkan relevansi riset dengan pengelolaan sumberdaya laut Indonesia.
Potensi dan kekayaan yang dimiliki begitu besar, namun bidang kelautan belum mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah dan masyarakat, dapat terlihat bidang perikanan dan kelautan belum dijadikan pengarusutamaan (mainstreaming) pembangunan Nasional. Sesungguhnya potensi yang ada di laut dapat diibaratkan sebagai “sleeping Giant”. Untuk itu perlu kita bangunkan bagi peningkatan dan kehidupan penghela ekonomi masyarakat Indonesia.
Potensi dan persoalan sumberdaya laut yang muncul akhir-akhir ini adalah illegal fishing, pencemaran laut dan perdagangan illegal di laut. Riset perlu diarahkan terkait biteknologi pemanfaatan biodiversitas laut, teknologi eksplorasi tambang nonhayati ( biogenic gases, energy ). Namun perlu menyeimbangkan antara pemanfaatan dan keberlanjutan lingkungan sesuai dengan konsep blue economy yang menjadi perhatian dunia.
Sasaran Strategis 2
Indikator Kinerja Target
Sumberdaya Kelautan yang Berkelanjutan.
1. Persentase ikan dan hasil perikanan impor memenuhi persyaratan mutu dan bebas penyakit lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
2. Persentase pencegahan impor , eksport,antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi, dan dibatasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
3. Sertifikasi Instalasi Karantina Ikan pada Unit Usaha Perikasnn ( UUP ) yang memenuhi standar dn menerapkan biosecutity lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
4. Lokasi wilayah RI yang dijamin mutu hasil
perikanannya lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar 5. Parameter pengujian ikan dan hasil perikanan ekspor
dan domestik tidak berasal dari destructive fishing 6. Unit Penanganan dan/atau pengolahan ikan yang
menerapkan sistem traceability (UPI ) lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
7. Ruang Lingkup produk yang dijamin melalui sertifikat ( PMMT/HACCP ) rekomendasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
8. Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan eksport 9. Penerapan Sistem Manajemen Mutu yang berstandar
International /ISO lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar ( Unit Kerja )
10. Penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan lingkp UPT Balai Besar KIPM Makassar
1. 100 %
2. 90 %
3. 27 Sertifikat
4. 5
5. 1 Parameter 6. 15 UPI
7. 330 Sertifikat 8. 100 UPI 9. 1 Ruang Lingkup
10. 95 %
IK2. Persentase ikan dan hasil perikanan impor memenuhi persyaratan dan bebas penyakit lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
Hasil Perikanan yang masuk ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia wajib dilakukan tindakan pemeriksaan oleh Petugas Balai Besar KIPM Makassar. Pemeriksaan di kawasan pabean meliputi pemeriksaan dokumen untuk mengetahui kelengkapan, keabsahan, dan kebenaran dokumen dan pemeriksaan fisik.
Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut memenuhi syarat, maka diterbitkan Surat Persetujuan Pengeluaran Media Pembawa dari Tempat Pemasukan untuk di bawa ke Instalasi Karatina ikan yang telah ditetapkan. Di instalasi karantina ikan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendeteksi hama dan penyakit ikan karantina dan pengujian mutu.
Tindakan karantina ikan dan pengujian mutu dilakukan dengan pengambilan contoh oleh Petugas Balai Besar KIPM Makassar Pengambilan contoh bagi negara yang telah mempunyai perjanjian kerjasama berupa Mutual Recognition Arrangement (MRA) atau Memorandum of Understanding (MoU) atau sejenisnya, pengambilan contoh dilakukan secara acak 1 persen (satu persen) dari lot produk.
Pengujian penyakit ikan dan mutu dilakukan secara simultan dalam waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja. Selama pemeriksaan hasil perikanan dilarang untuk dipindah tempatkan, dipindahtangankan, atau ditukar dengan Hasil Perikanan dari jenis yang sama atau dari jenis yang lain. Apabila berdasarkan Hasil pemeriksaan dinyatakan bebas hama dan penyakit Ikan
karantina dan memenuhi persyaratan mutu dan keamanan Hasil perikanan maka diterbitkan surat pelepasan.
Sebaliknya apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dinyatakan tidak memenuhi persyaratan maka diterbitkan surat penolakan. Hasil Perikanan yang dikenakan tindakan penolakan wajib dikirim kembali ke negara asal dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari sejak dilakukan penolakan. Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) hari tidak dilakukan pengiriman kembali ke negara asal, maka dilakukan pemusnahan.
Pencapaian Kinerja pada triwulan II realisasinya 100 %, Persentase capaian komoditi impor (Induk Udang Vannamei) mencapai 100 % sesuai target yang ditetapkan. Analisa risiko telah dilakukan pada setiap permohonan impor termasuk kelengkapan dokumen aspek legal dari negara asal maupun dari dalam negeri sehingga meminimalisir risiko masuknya penyakit ikan maupun ketidaksesuaian mutu produk impor dari negara asal maupun dari negara transit. Pengujian terhadap parameter uji (WSSV, IMNV, IHHNV, YHV, TSV, CMNV, AHPND, EHP, NHP dan tambahan parameter corona virus sejak masa pandemi) selalu dilakukan terhadap media pembawa Induk Udang Vannamei dan menunjukkan hasil yang negatif. Adapun impor induk udang vannamei berasal dari negara USA. Perhitungan jumlah importasi ikan dan hasil perikanan di atas didasarkan pada jumlah sertifikat pelepasan karantina ikan (KI-D12) yang diterbitkan dengan rumus (jumlah importasi yang memenuhi syarat) / (jumlah total importasi ) x 100%. Kelengkapan dokumen persyaratan khususnya rekomendasi dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menjadi persyaratan
mutlak yang harus dipenuhi untuk memastikan komoditi perikanan impor (ikan hidup tujuan budidaya) aman dan legal.
Rumus :
A : Prosentase Penanganan Impor yang Masuk ke Wilayah RI Memenuhi Persyaratan Mutu
dan Keamanan Hasil Perikanan dihitung menggunakan rumus :
Perhitungan Realisasi Impor Mutu :
- Jumlah Importasi Yang Memenuhi Syarat : 4 - Jumlah Total Importasi : 4
= 100 %
B: Persentase Impor Yang Bebas Penyakit Ikan Karntina Dihitung Menggunakan rumus :
Perhitungan Realisasi Impor Karantina : - Jumlah KID12 : 2
- Jumlah PPK Impor : 2
= 100 %
Maka :
Penyemprotan desinfektan terhadap kemasan Induk Udang Vannamei yang baru tiba di gudang cargo Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar
Pemeriksaan |Kelengkapan Dokumen dan Volume Induk Udang Vannamei
Koordinasi dan penyampaian maksud dan tujuan pelaksanaan tugas dengan pihak PT. Esaputlii Prakarsa Utama serta penyampaian larangan pemberian sesuatu
kepada petugas |Karantina Ikan yang dapat menimbulkan KKN.
IK3. Persentase pencegahan impor, eksport, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
Pembangunan sektor perikanan dikembangkan dengan tujuan antara lain meningkatkan produksi, memperluas penganekaragaman hasil diharapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan industri domestik, meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup nelayan, mendorong perluasan dan pemerataan kesempatan berusaha dan lapangan kerja serta mendukung pembangunan daerah. Selain itu pembangunan tersebut dilakukan dengan selalu berorientasi pada
lingkungan. Dalam pelaksanaan pencapaian tujuan tersebut terdapat berbagai hambatan dan ancaman yang harus dihadapi. Salah satu ancaman yang berpotensi besar adalah adanya penyakit pada hewan dan ikan serta organisme pengganggu tumbuhan, baik yang belum maupun yang telah terdapat di dalam wilayah Indonesia.
Kegiatan ini merupakan upaya dalam perlindungan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang partisipatif bertanggung jawab dan berkelanjutan. Kegiatan ini mengacu pada Permen KP No. 19 Tahun 2020 tentang Larangan Pemasukan , Pembudidayaan, Peredaran, dan Pengeluaran Jenis Ikan yang membahayakan dan / atau merugikan dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara RI. Dalam regulasi ini terdapat 81 jenis yang dilarang , dilindungi dan dibatasi ( JID3) yang harus dicegah lalulintasnya. Berdasarkan hasil evaluasi kinerja pada triwulan II 2021, diketahui tidak ada lalulintas jenis yang dilarang, dilindungi dan dibatasi ( JID3 ) yang tidak disertai dengan surat rekomendasi dari instansi terkait. Adapun komoditi yang dilalulintaskan pada triwulan II 2021 yang masuk dalam ranah JID3 adapun teripang kering , dan pelaku usaha dalam hal ini unit pengolahan ikan telah memenuhi persyaratan berupa surat keterangan dari BPSPL yang menyatakan bahwa jenis teripang yang dikirm bukan termasuk jenis yang dilarang, dilindungi maupun dibatasi. Selain itu selama triwulan II 2021 juga tidak ditemukan adanya laporan dari daerah/negara tujuan yang menunjukkan adanya jenis JID3 yang lolos atau tanpa rekomendasi dari
instansi terkait. Dengan demikian capaian indikator kinerja utama ( IKU) ini adalah
X(1,2,3,4) = A – B x 100 % A
= 81 – 0 x 100 % 81
= 100 %
Keterangan :
A : Jumlah ikan yang JID3 ( Permen KP 19 Tahun 2020 tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran, dan Pengeluaran jenis ikan yang membahayakan dan/atau merugikan dari wilayah pengelolaan Perikanan negara RI )
B : Jumlah ikan yang JID3 yang tidak dilengkapi dekumen persyaratan ( lolos di pintu pengeluaran )
Persentase capaian pengeluaran Impor, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi, dan dibatasi ( JILD3) lingkup UPT Balai Besar KIPM untuk
menjadi salah satu indicator efektifnya proses verifikasi dokumen permohonan pemeriksaan karantina ( PPK ). Selain itu, sistem pengawasan dan sinergitas dengan isntansi terkait seperti BKSDA dan BPSPL menjadi falktor penting dalam upaya pencegahan lalulintas JID3
Kegiatan pencegahan impor, eksport, antar area jenis ikan yang dilarang, dilindungi dan dibatasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
IK4. Sertifikat Instalasi Karantina Ikan pada Unit Usaha Perikanan ( UUP ) yang memenuhi Standar dan menerapkan Biosecurity lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
Instalasi karantina ikan adalah tempat beserta segala sarana dan fasilitas pendukungnya yang digunakan untuk melaksanakan tindakan karantina sebagai upaya mencegah masuk dan tersebarnya HPIK dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri, atau keluarnya dari dalam wilayah negara Republik Indonesia.
Instalasi karantina ikan milik pihak ketiga adalah instalasi karantina yang dibangun oleh perorangan atau badan hukum dan telah ditetapkan dengan surat penetapan sebagai instalasi karantina
ikan, dengan pengelolaannya di bawah pengawasan UPT KIPM sesuai cakupan wilayah kerja masing-masing.
Indikator kinerja instalasi karantina ikan milik pihak ketiga yang layak untuk ditetapkan diukur dengan cara menghitung jumlah instalasi karantina ikan milik pihak ketiga yang telah ditetapkan sebagai Instalasi Karantina Ikan (IKI) dengan keputusan Kepala BKIPM. Pada tahun 2021 telah ditetapkan 27 unit IKI dan pada triwulan II terealisasi 17. Pada Triwulan II target penerbitan Sertifikat IKI sebanyak 5 (lima) dengan rincian bulan April 2 (dua), Mei 2 (dua) dan Juni 1 (satu) maka realisasi pada Triwulan Kedua melebihi target yakni ada 8 (delapan) Sertifikat IKI.
No. Nama Perusahaan
Tanggal Terbit
No. Sertifikat IKI Grad e
Ruang Lingkup
1. Rina Aquarium 18 Februari 2021
0000011/IKI- BKIPM.2/II/2021
C Udang Caridina 2. CV. Miranti 18 Februari
2021
000030/IKI- BKIPM.2/II/2021
B Kepiting Bakau
3. CV. Hajja Sumirah
22 Februari 2021
000029/IKI- BKIPM.2/II/2021
C - Lobster - Udang Kipas 4. CV. Sembilan
Putra Jaya
23 Februari 2021
000005/IKI- BKIPM.2/II/2021
B Kepiting bakau
5. UD. Samudra Bahari
23 Februari 2021
000041/IKI- BKIPM.2/II/2021
B - Lobster - Udang Kipas -
6. Usaha Ahmad 26 Februari 2021
000072/IKI- BKIPM.2/II/2021
C - Udang Caridina - Keong
Terompet - Kepiting Hias
Jamboni
7. Mitha Ghasly
Shrimp
01 Maret 2021
000069/IKI- BKIPM.2/II/2021
C - Udang Caridina - Keong
Terompet - Kepiting Hias
Jamboni 8. CV. Anugrah
Bahari Sejahtera
01 Maret 2021
000066/IKI- BKIPM.2/II/2021
B - Kepiting Bakau - Lobster 9. CV. Sinar Bulan 24 Maret
2021
000082/IKI- BKIPM.2/II/2021
B - Kepiting Bakau 10. PT. Esaputlli
Prakarsa Utama
27 April 2021 000132/IKI- BKIPM.2/IV/2021
A Udang
Vannamei 11. CV.
Multisejahtera
26 April 2021 000097/IKI- BKIPM.2/IV/2021
B Kepiting bakau
12. CV. Karya Sejahtera
06 Mei 2021 000163/IKI- BKIPM.2/V/2021
B Ikan Kerapu
13. CV. Safwa Bahari
02 Juni 2021 000299/IKI- BKIPM.2/VI/2021
B Ikan kerapu, Lobster 14. Arindra Jaya
Lobster
04 Juni 2021 000260/IKI- BKIPM.2/VI/2021
C Lobster
15. CV.Mitra Bahari Jaya
22 Juni 2021 000264/IKI- BKIPM.2/VI/2021
B Ikan kerapu
16. CV.
Aquamarindo
24 Juni 2021 000264/IKI- BKIPM.2/VI/2021
B Ikan kerapu , Lobster 17. PT. Inti Mulia
Cahaya
30 Juni 2021 000332/IKI- BKIPM.2/VI/2021
B Ikan kerapu, lobster, kepiting Bakau
Sehingga total keseluruhan dari triwulan I dan Triwulan II ada 17 (tujuh belas ), Realisasi kegiatan Sertifikasi Instalasi Karantina Ikan pada Triwulan I sesuai dengan target yaitu 9 (Sembilan) sedang realisasi untuk triwulan II melebihi target karena adanya penambahan IKI baru. Ini dapat disimpulkan bahwa sosialisasi pemahaman Biosafety dan Biosecurity kepada pelaku usaha berjalan dengan baik.
Opening meeting
Observasi Lapangan
IK5. Lokasi wilayah RI yang dijamin mutu hasil perikanannya lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) No. 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat berkewajiban untuk meningkatkan dan memperluas pelaksanaan gerakan memasyarakatkan makan ikan pada masyarakat dan mengawasi mutu dan keamanan hasil perikanan. Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan domestik adalah terjaminnya mutu dan keamanan hasil perikanan di sentra penyedia pangan sehat serta meningkatnya volume hasil perikanan bagi konsumsi masyarakat yang dijamin mutu dan keamanannya. Langkah-langkah strategis yang dilakukan untuk mencapai tujuan dimaksud antara lain melalui optimalisasi ketersediaan ikan sehat dan aman konsumsi sebagai pangan sehat; penguatan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, pengendalian mutu di pasar/sentra produksi ikan sehat, penyediaan sentra kuliner berbasis ikan sehat dan pengendalian ikan sehat dan aman untuk dikonsumsi.
Balai Besar KIPM Makassar telah melaksanakan kegiatan pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik pada triwulan II tahun 2021 di 5 kabupaten/kota yang berada di Sulawesi Selatan. Adapun 5 kabupaten/kota yang menjadi lokasi pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik adalah Kota makassar, Kabupaten Maros, kabupaten Takalar, kabupaten Gowa dan kabupaten Pangkep. Kegiatan pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik dilakukan di sentra penyedia pangan sehat yaitu pasar tradisional, pasar
tim dari Balai Besar KIPM Makassar didukung oleh dinas kabupaten/kota serta Balai Besar POM Makassar. Adapun lokasi dan titik pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
No. Kabupaten/
Kota
Titik Pengawasan Pasar
Tradisional
Pasar Modern Pelabuhan Perikanan 1. Kota
Makassar
1. Pasar Daya 2. Pasar
Pabaeng- baeng 3. Pasar Terong 4. Pasar Sentral
1. Hypermart Panakkukang 2. Carrefour
2. Transmart Daya
1. PPI Paotere 2. TPI
Rajawali
2. Kabupaten Maros
1. Pasar Bulu- Bulu
2. Pasar Batangase 3. Pasar Tramo
- PPI Labuang
3. Kabupaten Gowa
Pasar
Minasamaupa
- -
4. Kabupaten Takalar
- - PPI Beba
5. Kabupaten Pangkep
Pasar Sentral Palampang
- -
Berdasarkan hasil pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik triwulan II tahun 2021 diperoleh hasil sebagai berikut : 1. Lokasi pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik untuk
triwulan II tahun 2021 sebanyak 5 kabupaten/kota dengan 15 titik pengawasan yaitu :
- Kota Makassar dengan 8 titik yaitu 4 titik pasar tradisional, 2 titik pasar modern dan 2 titik pelabuhan perikanan/TPI/PPI,
- Kabupaten Maros dengan 3 titik pasar tradisional dan 1 titik pelabuhan perikanan/TPI/PPI,
- Kabupaten Gowa dengan 1 titik pasar tradisional, - Kabupaten Pangkep dengan 1 titik pasar tradisional,
- Kabupaten Takalar dengan 1 titik pelabuhan perikanan/TPI/PPI.
2. Hasil uji sensori dan mikrobiologi menunjukkan penyimpangan pada Pasar Tradisional Daya untuk parameter uji organoleptik dengan nilai 6 pada sampel cumi-cumi segar. Adapun nilai standar untuk pengujian organoleptik adalah 7.
3. Hasil pengamatan sarana dan prasarana, sanitasi dan higiene lingkungan pada titik pengawasan diperoleh hasil yaitu 9 titik pengawasan berstatus cukup, 4 titik berstatus baik dan 2 titik berstatus sangat baik.
Rekomendasi
1. Adanya peningkatan dan perbaikan sarana dan prasarana pada pasar tradisional dan TPI terkait sanitasi dan higiene di titik pengawasan yang berstatus cukup.
2. Penyimpangan hasil uji dikomunikasikan dengan pengelola titik pengawasan untuk dilakukan langkah-langkah teknis dengan instansi/dinas terkait.
3. Perlu disinergikan lokasi pengawasan mutu dan keamanan hasil perikanan domestik dengan kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang menjadi lokasi program prioritas KKP.
Kegiatan Pengawasan Mutu dan Keamanan hasil perikanan domestik di TPI Rajawali
Kegiatan Pengawasan Mutu dan Keamanan hasil perikanan domestik di Pasar Tradisional Bulu-bulu Kab.
Maros
IK6. Parameter pengujian ikan dan hasil perikanan eksport dan domestik tidak berasal dari destructif fishing
Destructive fishing merupakan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan, alat atau cara yang merusak sumber daya ikan maupun lingkungannya, seperti menggunakan bahan peledak, bahan beracun, strum, dan alat tangkap lainnya yang tidak ramah lingkungan.
Beberapa contoh dari kegiatan destructive fishing yaitu penggunaan bom ikan, racun ikan, muroami, dan trawl di perairan dangkal. Selain itu, terjadi pula destructive fishing di perairan umum berupa penggunaan setrum ikan.
Pembahasan destructive fishing dalam Rencana Aksi Nasional ini dibatasi hanya terhadap penggunaan bahan peledak, racun ikan, dan setrum ikan.
Dasar pembatasan adalah ketiga jenis destructive fishing tersebut yang Kegiatan Pengawasan Mutu dan Keamanan hasil
perikanan domestik di Pasar Terong
Nelayan tradisional sudah sering menggunakan bom ikan untuk menangkap ikan-ikan karang, terutama di daerah Indonesia Timur. Saat ini bom ikan yang ada merupakan rakitan yang terdiri dari sumbu, pupuk, dan botol bir atau soda. Bom ikan dibuat secara tradisional dengan bahan yang sederhana. Jenis pupuk yang digunakan yaitu ammonium dan potassium nitrat (NH4NO3 dan KNO3). Oleh karena penggunaan pupuk berbahan dasar ammonium dan potassium nitrat dapat disalah gunakan, maka dibutuhkan pengawasan pada pemasaran dan konsumen pupuk dimaksud.
Sinergi Balai Besar KIPM Makassar dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan dalam Pengawasan Destructive Fishing di Kabupaten Pangkajene Kepulauan Pangkep (25/6) - Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan (Destructive Fishing) telah lama menjadi perhatian dunia karena dapat merusak ekosistem laut tempat hidup berbagai jenis ikan dan hewan laut lainnya. Untuk itu Balai Besar KIPM Makassar secara rutin melaksanakan pengawasan Destructive Fishing di beberapa kabupaten yang menjadi sentra produksi perikanan tangkap di Sulawesi Selatan. Pada hari Jumat tanggal 25 Juni 2021, Balai Besar KIPM Makassar menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan pengawasan Destructive Fishing di Kabupaten Pangkep.
Kabupaten Pangkep yang 92% luasnya berupa lautan, memiliki 117 pulau dan 80 diantaranya berpenghuni menggambarkan potensi perikanan tangkap yang sangat besar. Hasil perikanan tangkap dari nelayan di Kab. Pangkep pada umumnya didaratkan di Pelabuhan Paotere Makassar
dan Pelabuhan Maccini Baji Kab. Pangkep. Pengawasan Destructive Fishing dilakukan dengan mengambil sampel ikan yang didaratkan di Pelabuhan Maccini Baji dan dilakukan uji forensik untuk mengetahui apakah ikan ditangkap menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan atau tidak.
Pengujian dilakukan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat nelayan dan pengumpul ikan, dan juga dihadiri oleh penyuluh perikanan dan staf Cabang Dinas Kelautan Pangkep. Dari hasil pengujian forensik ditemukan bahwa ikan yang didaratkan di Pelabuhan Maccini Baji ditangkap dengan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. seluruh nelayan di Kab. Pangkep lebih peduli terhadap lingkungan laut tempat para nelayan mencari penghasilan.
Bapak Aron A Pananrang sebagai perwakilan Cabang Dinas Kelautan Pangkep mengharapkan agar sinergi ini dapat lebih diintensifkan dengan kegiatan pengawasan hingga ke pulau-pulau di Kabupaten Pangkep. Dengan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan diharapkan sumberdaya perikanan di laut tetap terjaga dan dapat memenuhi kebutuhan protein hewani asal ikan yang sehat, bermutu dan aman dikonsumsi masyarakat.
Rekomendasi :
Terkait dengan sifat sianida yang mudah menguap, perlu berkolaborasi dengan instansi terkait seperti PSDKP untuk melakukan patroli dan pemantauan destructive fishing on the spot, khususnya cyanide fishing untuk melihat efektivitas
IK7. Unit Penanganan dan/atau pengolahan ikan yang menerapkan sistem traceability ( UPI ) lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
Sistem traceability merupakan bagian penting dalam sistem jaminan kesehatan ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan sesuai persyaratan international . Setiap produk hasil perikanan yang akan didistribusikan dari hulu ke hilir harus dapat ditelusuri melalui pemenuhan
Identifikasi kandungan penggunaan bahan kimia ( Sianida ) dan pemeriksaaan secara anatomi/ morfologi ikan sampel yang diidentifikasikan hasil tangkap menggunakan bahan peledak ( bom )
alur informasi dan basis data. Sistem traceability ditujukan untuk mengendalikan produk apabila terjadi insiden keamanan pangan atau produk yang bermasalah akan ditelusuri.
Indikator pelaku usaha ( UPI ) yang menerapkan sistem treacibility diukur dengan menghitung jumlah UPI yang ditelah menerapkan sistem traceability melalui verifikasi penerapan sistem ketertelusuran hasil perikanan.
Program Traceability pada triwulan II realisasi UPI ada 9 yaitu : 1. PT. Usaha Centraljaya Sakti
2. PT. Kemilau Bintang Timur 3. PT. Yin Jing International 4. UD. Anugrah Bintang Cemerlang 5. PT. Chen Woo Fishery
6. PT. Mitra Kartika Sejati 7. PT. Ocean Champ Seafood 8. PT. Dunia Marine Products 9. PT. Phillips Seafoods Indonesia
Analisa dan Evaluasi
1. Formula IKU Unit Penanganan dan/atau Pengolahan Ikan yang Menerapkan Sistem Traceability (UPI) lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar adalah :
∑ surat keterangan penerapan sistem traceability yang diterbitkan
2. Realisasi Pelaksanaan Traceability triwulan II tahun 2021 sebanyak 3 UPI dari target sebanyak 3 UPI sehingga persentase pencapaian kegiatan sebesar 100 %
3. Bila dibandingkan dengan TW I dengan realisasi sebanyak 6 UPI, maka realisasi di TW II menurun menjadi 3 UPI. Namun realisasi ini telah sesuai dengan program Traceability yang ditetapkan dari Pusat Pengendalian Mutu sebanyak 3 UPI sehingga dapat dikatakan bahwa program telah berjalan sesuai dengan yang direncanakan.
4. Belum terdapat permasalahan yang berarti
5. Sejak tahun 2017, total UPI yang telah dilakukan sertifikasi Traceability sebanyak 35 UPI dengan jumlah sertifikat sebanyak 65 sertifikat. UPI yang memiliki Approval Number ke Uni Eropa sebanyak 15 UPI dan secara berkala telah dilakukan perpanjangan sertifikasi Traceability sesuai masa berlaku sertifikat Traceability.
6. Sertifikasi Traceability merupakan salah satu persyaratan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Fokus utama sertifikasi Traceability adalah negara-negara dengan tujuan ekspor ke Uni Eropa.
Namun UPI yang tidak ekspor ke Uni Eropa juga perlu dilakukan sertifikasi Traceability secara bertahap karena sertifikasi Traceability merupakan salah satu ruang lingkup HACCP.
IK8. Ruang lingkup produk yang dijamin melalui sertifikat (PMMT/HACCP) rekomendasi lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
Sertifikasi PMMT/HACCP merupakan suatu sistem manajemen keamanan makanan yang sudah terbukti dan didasarkan pada tindakan pencegahan terhadap bahaya keamanan hasil perikanan yang untuk dikonsumsi manusia dari bahaya yang bersifat biologi, kimia dan fisik.
Dengan penerapan sistem HACCP, identifikasi suatu yang mungkin akan muncul di dalam proses, tindakan pengendalian yang dibutuhkan akan dapat ditempatkan sebagaimana mestinya sehingga pemantauan terhadap bahaya keamanan makanan akan mudah dilaksanakan. Hal ini untuk memastikan bahwa keamanan makanan memang dikelola dengan efektif dan untuk menurunkan ketergantungan pada metode tradisional seperti pengujian pada produk akhir (end product testing).
Kegiatan traceability
Sertifikat penerapan PMMT/HACCP merupakan salah satu persyaratan mutlak dan wajib harus dimiliki oleh unit Pengolahan ikan, bila akan melakukan ekspor hasil produksi perikanannya. Sertifikasi PMT/HACCP mengacu kepada tata cara penerbitan HACCP sesuai Peraturan Kepala BKIPM Nomor PER.03/BKIPM/2011. Indikator Ruang Lingkup Produk yang dijamin melalui sertifikasi PMMT/HACCP di Unit Pengolahan Ikan diukur dengan menghitung jumlah realisasi ruang lingkup sertifikat HACCP yang diterbitkan pada tahun berjalan. Adanya ruang lingkup produk yang tersertifikasi HACCP di TW II tahun 2021 menunjukkan tingginya tingkat kepatuhan pelaku usaha untuk melakukan perpanjangan sertifikasi PMMT/HACCP sehingga telah terealisasi sebanyak 149 sertifikat atau 45.15 % , adapun ruang lingkup sertifikat yang diterbitkan sebagaiberikut :
No. Produk Status Produk Grade
1. Fresh Tuna Naik Grade B
2. Frozen Milkfish Naik Grade B
3 Frozen Tuna Naik Grade B
4. Dried Sea Cucumber Penambahan Ruang
Lingkup B
5. Dried Seaw eed Perpanjangan B
6. Alkali Trated Cottonii Perpanjangan B
7. Dried Seaw eed Perpanjangan B
8. Semi Refined Carragenan Perpanjangan B
9. Fresh Crab Penambahan Ruang
Lingkup B
10. Fresh Slipper Lobster Penambahan Ruang
Lingkup B
11. Frozen Crab Penambahan Ruang
Lingkup B
12. Frozen Slipper Lobster Penambahan Ruang
Lingkup B
13. Fresh Slipper Lobster Perpanjangan A 14. Frozen Boiled Cephalopod Perpanjangan B
15. Frozen Cephalopods Perpanjangan A
16. Frozen Milkfish Perpanjangan A
17. Frozen Slipper Lobster Perpanjangan A
18. Dried Seaw eed Perpanjangan B
19. Fresh Tuna Baru C
20. Fresh Demersial Fish Perpanjangan B 21. Fresh Pelagis Fish Perpanjangan B
22. Fresh Tuna Perpanjangan B
23. Frozen Demersial Fish Perpanjangan B 24. Frozen Pelagis Fish Perpanjangan B
25. Frozen Tuna Perpanjangan B
26. Dried Seaw eed Perpanjangan B
27. Dried Abalone Perpanjangan B
28. Dried Fish Maw Perpanjangan B
29. Dried Sea Cucumber Perpanjangan B 30. Dried Shark ( Fin, Skin,
Bone ) Perpanjangan B
31. Frozen Sea Cucumber Perpanjangan B
32. Dried Seaw eed Perpanjangan B
33. Fresh Demersial Fish Perpanjangan B 34. Fresh Pelagis Fish Perpanjangan B 35. Fresh Cephalopods Perpanjangan A ( UE ) 36. Fresh Demersial Fish Perpanjangan A ( UE ) 37. Fresh Pelagis Fish Perpanjangan A
38. Fresh Shrimp Perpanjangan A
39. Fresh Tuna Perpanjangan A
40. Frozen Cephalopods Perpanjangan A
42. Frozen Pelagis Fish Perpanjangan A
43. Frozen Shrimp Perpanjangan A
44. Frozen Tuna Perpanjangan A
45. Frozen Cephalopods Perpanjangan A
46. Frozen Demersial Fish Perpanjangan A
47. Frozen Shrimp Perpanjangan A
48. Frozen Lobster Naik Grade A
49. Fresh Slipper Lobster Perpanjangan A ( UE ) 50. Frozen Cooked Shrimp Perpanjangan A ( UE ) 51. Frozen Raw Shrimp Perpanjangan A ( UE ) 52. Frozen Slipper Lobster Perpanjangan A ( UE )
53. Fresh Demersal Fish Baru C
54. Fresh Pelagic Fish Baru C
55. Fresh Tuna Loin Baru C
56. Frozen Crab Baru C
57. Frozen Lobster Baru C
58. Dried Seaweed Baru C
59. Frozen Cephalopods Perpanjangan B
60. Frozen Milkfish Perpanjangan B
61. Dried Fish Maw Perpanjangan B
62. Dried Fish Skin Perpanjangan B
63. Dried Seweed Perpanjangan B
64. Frozen Cephalopods Baru C
65. Frozen Demersial Fish Baru C
66. Frozen Milkfish Baru C
67. Frozen Pelagis Fish Baru C
68. Dried Seaweed Perpanjangan B
69. Fresh Demersal Fish Perpanjangan B
70. Fresh Pelagic Fish Perpanjangan B
71. Dried Seaweed Perpanjangan B
72. Seaweed Powder Perpanjangan B
73. Frozen Breaded Shrimp Perpanjangan A
74. Frozen Cooked Shrimp Perpanjangan A
75. Frozen Raw Shrimp Perpanjangan A
76. Frozen Cephalopods Baru B
77. Frozen Demersal Fish Baru B
78. Frozen Tuna Baru B
79. Carrageenan Chips Perpanjangan B
80. Carrageenan Powder Perpanjangan B
81. Fresh Tuna Loin Baru B
82. Fresh Demersal Fish Perpanjangan A
83. Fresh Pelagic Fish Perpanjangan A
84. Fresh Tuna Perpanjangan A
85. Frozen Demersal Fish Perpanjangan A
86. Frozen Pelagic Fish Perpanjangan A
87. Frozen Tuna Perpanjangan A
88. Fresh Tuna Perpanjangan A
89. Frozen Tuna Perpanjangan A
90. Alkali Treated Chips Perpanjangan B
91. Semi Refined Carrageenan Perpanjangan B 92. Fresh Demersal Fish Penambahan Ruang
Lingkup C
93. Frozen Cephalopods Penambahan Ruang
Lingkup C
94. Frozen Demersal Fish Penambahan Ruang
Lingkup C
95. Frozen Lobster Penambahan Ruang
Lingkup C
96. Frozen Pelagic Fish Penambahan
RuangLingkup C
97. Frozen Tuna Penambahan Ruang
Lingkup C
98. Dried Flying Fish Roe Perpanjangan A
99. Frozen Flying Fish Roe Perpanjangan A
100. Fresh Demersal Fish Perpanjangan C 101. Fresh Pelagic Fish Perpanjangan C
102. Dried Seaweed Perpanjangan B
104. Frozen Cephalopods Perpanjangan B 105. Frozen Demersal Fish Perpanjangan B 106. Frozen Pelagic Fish Perpanjangan B 107. Frozen Slipper Lobster Perpanjangan B
108. Frozen Tuna Perpanjangan B
109. Frozen Tuna Perpanjangan B
110. Pasteurized Crabmeat Perpanjangan A 111. Fresh Demersal Fish Perpanjangan A 112. Fresh Pelagic Fish Perpanjangan A
113. Fresh Tuna Perpanjangan A
114. Frozen Cephalopods Perpanjangan A 115. Frozen Demersal Fish Perpanjangan A 116. Frozen Pelagic Fish Perpanjangan A
117. Frozen Tuna Perpanjangan A
118. Dried Seaweed Perpanjangan B
119. Chilled Pasteurized Crabmeat Perpanjangan A 120. Frozen Demersal Fish Perpanjangan A 121. Frozen Pasteurized
Crabmeat Perpanjangan A
122. Frozen Pelagic Fish Perpanjangan A
123. Frozen Tuna Perpanjangan A
124. Fresh Tuna Perpanjangan B
125. Frozen Cephalopods Perpanjangan B
126. Frozen Tuna Perpanjangan B
127. Fresh Tuna Perpanjangan A
128. Frozen Cephalopods Perpanjangan A
129. Frozen Tuna Perpanjangan A
130. Dried Seaweed Perpanjangan B
131. Dried Seaweed Perpanjangan B
132. Dried Seaweed Perpanjangan B
133. Frozen Cephalopods Perpanjangan B 134. Frozen Demersal Fish Perpanjangan B
135. Frozen Milkfish Perpanjangan B
136. Frozen Pelagic Fish Perpanjangan B
137. Dried Seaweed Perpanjangan B
138. Dried Seaweed Perpanjangan B
139. Fresh Demersal Fish Perpanjangan A 140. Fresh Pelagic Fish Perpanjangan A 141. Frozen Cephalopods Perpanjangan A 142. Frozen Demersal Fish Perpanjangan A 143. Frozen Pelagic Fish Perpanjangan A 144. Dried Flying Fish Roe Perpanjangan B 145. Frozen Flying Fish Roe Perpanjangan B
146. Fresh Demersal Fish Baru C
147. Fresh Pelagic Fish Baru C
148. Fresh Shrimp Baru C
149. Frozen Farm Raised Fish Perpanjangan A
IK9. Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan eksport
Unit Usaha Perikanan yang memenuhi persyaratan eksport merupakan unit usaha yang telah menerapkan prinsip-prinsip HACCP. Pada unit usaha yang menerapkan prinsip HACCP dilakukan verifikasi terhadap pelaksanaan SSOP/GMP dan menerapkan HACCP minimal satu kali dalam setahun. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa UPI tersebut secara konsisten menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, sebagaimana diamanatkan pada Permen KP No. 19/2010.
Sedangkan unit usaha yang menerapkan prinsip CKIB adalah unit usaha pembudidayaan ikan ( UUPI ) yang telah dilaksanakan manajemen kesehatan ikan berdasarkan standar biosecurity untuk menjamin ikan bebas dari HPIK/HPI.
- Jumlah UPI yang memenuhi persyaratan ekspor di TW I tahun 2021 sebanyak 37 unit sehingga total jumlah UPI yang memenuhi persyaratan eksport sampai triwulan II tahun 2021 sebanyak 54 unit.
- Adapun target jumlah UPI yang memenuhi persyaratan eksport selama triwulan II tahun 2021 sebanyak 25 Unit dengan capaian realisasi sampai triwulan II sebanyak 54 unit atau sebesar 107 %.
- Adanya peningkatan jumlah UPI yang memenuhi persyaratan eksport di triwulan II menunjukkan adanya iklan investasi yang kondusif dikalangan pelaku usaha pada masa pandemi.
No Nama UPI
1. CV. Anugrah Bintang Cemerlang 2. CV. Anugrah Lestari
3. PT. Asia Sejahtera Mina 4. PT. Bantimurung Indah 5. PT. Biru Laut Nusantara 6. CV. Buana Laut Nusantara 7. CV. Dalton
8. CV. Faris Indo Seafood 9. PT. Global Maju Pratama 10. CV. Guna Bahari Indonesia 11. CV. Karya Murni
12. Kosperindo
13. CV. Makassar Lestari
14. PT. Multisari Makassar 15. PT. Prima Bahari Inti Lestari 16. PT. Wahyu Pradana Binamulia 17. PT. Wahyu Pradana Binamulia 18. CV. Berkat Murni Bara 19. Cv. Alga Marina Sukses 20. CV. Anugrah Bahari Mandiri 21. CV. Anugrah Lin Perkasa 22. PT. Arti Buana Lautan Indonesia 23. PT. Asnur Anton Jaya
24. PT. Bintang Megah Jaya perkasa 25. PT. Biota Laut Ganggang 26. PT. Bogatama Marinusa 27. PT. Bumi Menara Internusa 28. PT. Cahaya Cemerlang 29. PT. Celebes Berkah Niaga 30. PT. Chen Woo Fishery 31. PT. Dwira Masagena 32. PT. Giwang Citra Laut
33. PT. Keumkang Industri Indonesia 34. PT. Lintas Antar Nusa
36. PT. Mega Citra Karya
37. CV. Mitra Sejahtera 38. PT. Mitra Timur Nusantara 39. PT. Nirvana Niaga Sejahtera 40. PT. Ocean Champ Seafood 41. PT. Parlevliet Paraba Seafood 42. CV. Persada Semesta
43. PT. Phillips Seafoods Indonesia 44. PT. Prima Global Sukses 45. CV. Prima Indo Tuna 46. PT. Rika rayhan Mandiri 47. UD. Seaweed Sukses Sejahtera 48. CV. Simpul Agro Globalindo 49. PT. Sumber Lautan Nusantara 50. PT. Sumberguna Makassarnusa 51. PT. Sutraco Nusantara Megah 52. PT. Trans Anugrah Mulia 53. PT. Tujuh Samudera Jaya
54. PT. Utamakan Kemakmuran Rakyat
Penambahan Unit Pengolahan Ikan yang memenuhi persyaratan eksport karena adanya penambahan ruang lingkup dan kenaikan grade yang dilakukan inspektur dari pusat didampingi inspektur UPT .
Unit pengolahan Ikan ( UPI ) melakukan penambahan ruang lingkup disebabkan adanya permasalahan yang saat ini mulai dari bahan baku yang sulit, persaingannya harga antar negara yang semakin ketat, sehingga UPI melakukan penambahan produk untuk memperluas pasar maupun survival di bidang perikanan Adapun jumlah UPI yang menambhan ruang lingkup sebagai berikut :
1. PT. Kheumkhang Industri Indonesia dengan jenis produk yang ajukan Frozen Demersal Fish, Frozen Cephalopods, Frozen Slipper Lobster, Frozen Lobster, Frozen Pelagic Fish, Frozen Tuna, Fresh Demersal Fish, setelah dilakukan inspeksi terhadap penerapan GMP/SSOP dan HACCP terhadap ruang lingkup tersebut mendapatkan nilai grade C dimana dengan grade tersebut UPI dapat melakukan ekspor ke Negara non mitra.
Sedangkan untuk UPI yang baru sebagai berikut :
1. Berkat Bara Murni dengan jumlah sertifikat HACCP 5 Sertifikat dimana UPI tersebut mendapatkan nilai grade C dan akan melakukan eksportasi ke Negara Jepang.
2. CV. Alga Marina Sukses dan PT. Bumi Menara Internusa dengan jumlah sertifikat HACCP 4 Sertifikat, dimana UPI tersebut mendapat nilai garde B dengan grade tersebut bisa melakukan eksport ke negara selain UNI Eropa dan Rusia.
3. PT. Celebes Berkah Niaga mendapatkan nilai grade B dengan grade tersebut bisa melakukan eksport ke negara mitra dan non mitra lainnya selain Eropa dan Rusia, sedangkan PT. Utamakan Kemakmuran Rakyat dan PT. Arti Buana Lautan Indonesia mendapatkan nilai grade C dengan grade
tersebut bisa melakukan eksportasi ke negara selain negara yang MOU /MRA
Kegiatan Pelaksanaan dan Pengecekan Suhu produk sesuai prosedur penerapan protocol Covid-19 di PT. Parlevliet
Paraba Seafood
IK10. Penerapan Sistem Manajemen Mutu yang berstandar International /ISO lingkup Balai Besar KIPM Makassar
Sebagai bentuk komitmen terhadap kegiatan sistem manajemen mutu , pengujian Laboratorium Media pembawa, inspeksi HACCP, penambahan ruang lingkup, dan pengendalian gratifikasi dalam mendukung Reformasi Birokrasi, Balai Besar KIPM Makassar telah melakukan penerapan beberapa Standar International /ISO sebagai berikut :
1. ISO 9001 : 2015
Terpenuhinya pelayananan Sertifikat Eksport, Domestik Keluar, Import dan Domestik Masuk sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dan kepuasan serta tidak ada komplain dari pelanggan
.
2. SNI ISO/IEC 17025 : 2017
Pengujian laboratorium yang dilaksanakan sesuai dengan Metode standar yang digunakan di laboratorium sehingga tidak ada penolakan dari negara tujuan terkait hasil pengujian. Dalam rangka perpanjangan akreditasi penerapan SNI ISO/IEC 17025 : 2017 yang berakhir pada 1 Februari 2022 maka telah dilakukan pendaftaran Reakreditasi melalui KANMIS pada bulan Juni 2021.
3. SNI ISO/IEC 17020 : 2012
sebagai Lembaga inspeksi telah dilaksanakan untuk kegiatan Inspeksi dan Survailen. Kegiatan Inspeksi yaitu Inspeksi Instalasi Karantina Ikan (IKI), Inspeksi Cara Karantina Ikan Yang Baik (CKIB),
HACCP,GMP dan SSOP. Sedang untuk Survailen adalah survailen penerapan HACCP, GMP dan SSOP, penambahan ruang lingkup adalah Monitoring dan Survailen Cara Karantina Ikan Yang Baik (CKIB).
4. SNI ISO 37001 :2016
SNI ISO 37001:2016 telah diterapkan di Balai Besar KIPM Makassar melalui kegiatan peningkatan integritas SDM secara internal dan eksternal.
IK11. Penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan lingkup UPT Balai Besar KIPM Makassar
Indikator kinerja penanganan kasus pelanggaran perkarantinaan, keamanan hayati ikan dan sistem mutu yang diselesaikan merupakan upaya yang dilakukan Balai Besar KIPM Makassar untuk menyelesaikan setiap pelanggaran perkaratinaan dan keamanan hayati ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan yang terjadi. Dalam penganan kasus tersebut, dilakukan langkah-Iangkah pengawasan, pengamatan, pencatatan, pengumpulan bahan dan keterangan (wasmatcapulbaket). Setelah dilakukan wasmatcapulbaket, maka dilanjutkan dengan kegiatan : (1) diterbitkan Surat Perintah Penyidikan, jika kasus memenuhi unsur pidana Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019;
(2) serah perkara, jika kasus memenuhi unsur pidana di luar Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2019; (3) pemusnahan atau penolakan, jika kasus tidak memenuhi unsur pidana Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019;
serta (4) pelepasliaran atau diserahkan kepada instansi yang menangani konservasi sumberdaya alam. Dan target tercapai 100 % .
1. Dari segi jumlah pelanggaran, pada triwulan II tahun 2021 diperoleh data bahwa pelanggaran pada bulan April 2021 sebanyak 2 kali, pelanggaran pada bulan Mei sebanyak 1 kali dan pelanggaran pada bulan Juni 2021 nihil.
2. Dari segi nilai komoditi sumberdaya ikan ( SDI ) yang diselamatkan, pada bulan April 2021 diperoleh nilai komoditi sebesar RP. 1.400.000, pada bulan Mei 2021 sebesar Rp 3.000.000 dan pada bulan Juni 2021 nihil/
3. Dari segi jenis komoditi, pelangaran pada bulan April 2021 komoditibnya adalah lobster beku dan lobster hidup, pada bulan Mei 2021 komoditi adanya kuda laut kering dan pada bulan Juni 2021 nihil.
4. Realsiasi penangganan pelanggaran karantina ikan, keamanan h asil ikan dan sistem mutu yang diselesaikan sebesar 100 % dari target yang telah ditetapkan yaitu 95 % . Indokatornya adalah jumlah penanganan pelanggaran yang telah dislesaikan dan telah diinput ke dalam aplikasi e-pelanggaran ( e-pelanggaran.bbkipm.go.id ) beserta data dukungnya.
Rekomendasi :
Perlu adanya upaya sekstra dalam mensosialisasikan
kepiting dan Rajungan di Wilayah Negara Republik Indonesia kepada masyarakat sehingga potensi pelanggaran lalu lintas komoditi parikanan lobster, kepiting dan rajungan dapat diminimalisir.
Penyerahan barang Bukti Kuda Laut Kering ke PPNS BKIPM Makassar
Tata kelola pemerintah yang baik
Dewasa ini paradigma pengelolaan pemerintah dalam rangka membentuk kenegaraan yang baik dan benar sudah masuk pada tahap pemerintahan yang baik atau akrab kita disebut dengan istilah good governance. Penyelenggaraan pemerintah yang baik memiliki beberapa asas yang dimaktubkan dalam UU nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi , kolusi dan nepotisme pada pasal (3) antara lain : asas kepastian hukum, asas tertib penyelenggaraan negara, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas proporsionalitas, asas keterbukaan, asas proporsionalitas, asas profesionalitas, asas akuntabilitas. Tata kelola pemerintah yang baik dari pencapaian indikator kinerja :
Sasaran Strategis 3