TANJUNG BALA
ANALISIS DAN EVALUASI IV.1 Perolehan Aktiva Tetap
Harga perolehan merupakan dasar penting untuk menghitung penyusutan aktiva tetap. Menurut para ahli akuntansi dalam tulisan mereka menyatakan, pencatatan harga perolehan aktiva tetap dicatat sebesar seluruh pengeluaran yang dibayarkan untuk memperoleh akitva tetap tersebut sampai dengan aktiva tetap itu siap untuk digunakan.
Aktiva tetap yang digunakan pada PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi, Tanjung Balai diperoleh dengan cara pembelian tunai dan pembelian dengan kontrak jangka panjang. Pencatatan atas harga perolehan aktiva tetap yang dilakukan oleh PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi, Tanjung Balai dalam rangka pembelian aktiva tetapnya yang secara tunai adalah berdasarkan harga faktur ditambah dengan biaya-biaya yang dikeluarkan agar aktiva tetap tersebut siap untuk digunakan dalam melaksanakan operasi perusahaan.
Sedangkan pembelian aktiva dengan kontrak jangka panjang perusahaan memperoleh aktiva melalui SPK yang telah disetujui oleh kantor pusat ata direksi PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi dengan cara kontrak. Kebijakan ini diambil oleh perusahaan karena dianggap merupakan kebijakan yang baik dalam hal perolehan aktiva tetap. Bagi mesin kapal tersebut dicatat nomor kode dan tahun perolehan guna untuk mengetahui bila suatu waktu memerlukan perbaikan.
Dalam perusahaan ini berdasarkan analisa penulis, maka yang menjadi unsur-unsur perolehan aktiva tetap adalah :
1. Harge beli
2. Biaya-biaya yang dikeluarkan hingga aktiva tersebut dapat dipergunakan Dengan demikian pencatatan atas harga perolehan aktiva tetap yang dilakukan PT. Pelayaran Sinar Jaya, Tanjung Balai telah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
IV.2. Pengeluaran – Pengeluaran Selama Pemakaian
Pengeluaran yang digunakan untuk reperasi dan perbaikan terhadap aktiva yang rusak bertujuan untuk memperbaiki keadaan aktiva tetap tersebut. Pengeluaran tersebut sifatnya ada yang menambah umur sehingga masa manfaat yang diberikan lebih dari satu periode, tapi ada pula perbaikan yang dilakukan hanya digunakan dalam periode yang berjalan dimana pengeluaran itu dilakukan. Bila pengeluaran yang dilakukan bersifat menambah masa manfaat lebih dari satu tahun maka pengeluaran tersebut digolongkan sebagai pengeluaran modal (Capital Expenditure) dalam hal ini biaya yang keluar ditambahkan ke Cost aktiva yang bersangkutan dengan cara mendebet perkiraan aktiva yang diperbaiki tersebut sebesar biaya yang dikeluarkan atau dengan mengurangkan akumulasi penyusutan aktiva yang bersangkutan sebesar nilai pengeluaran yang dilakukan, sedangkan apabila pengeluaran itu dirasakan hanya untuk satu periode maka digolongkan sebagai pengeluaran pendapatan (Revenue Expenditure) dimana biaya tersebut menjadi biaya periode berjalan saat biaya itu dikeluarkan.
Bila dilihat prakteknya PT. Pelayaran Sinar Jaya, Tanjung Balai dalam menentukan capital expenditure dan revenue expenditure ini sulit dilakukan. Hal ini disebabkan karena dalam penentuan dan pengukuran masa manfaat pada saat
aktiva tetap tersebut telah selesai dilaksanakan tidaklah mudah. Maka dalam hal ini untuk mempermudah dalam penentuan pengeluaran tersebut bias ditinjau berdasarkan sering tidaknya pengeluaran dilakukan. Bila pengeluaran tersebut secara rutin maka digolongkan sebagai revenue expenditure sementara bila pengeluaran tersebut jarang dilakukan maka digolongkan sebagai capital
expenditure.
Bila ditinjatu dari PT. Pelayaran Sinar Jaya, Tanjung Balai menunjukkan belum menentukan kebijakan mengenai pemisahan antara revenue expenditure dan capital expenditure. Dalam hal ini perusahaan menganggap segala pengeluaran merupakan biaya berjalan kedalam perkiraan biaya perusahaan. Dalam penjurnalan terhadap pengeluaran yang dilakukan yaitu dengan cara mendebet pengeluaran dan mengkredit biaya reparasi dan pemeliharaan, hal ini mengakibatkan aktiva yang direperasi tidak mengalami perubahan baik masa manfaatnya maupun penyusutannya sehigga dalam hal ini PT. Pelayaran Sinar Jaya, Tanjung Balai dalam pencatatannya belum sesuai dengan Standar Akuntasi Keuangan (SAK). Hal ini dapat kita lihat dari salah contoh yang diperoleh :
Pada awal Nopember 1997 dibeli sebuah mesin Foto Copy dengan harga Rp. 50.000.000,- dengan taksiran masa manfaat 8 tahun. Pada tanggal 30 Oktober 1999 diadakan perbaikan / reperasi terhadap mesin foto copy tersebut dengan biaya sebesar Rp. 6.500.000,- dan perbaikan ini mampu menambah umur mesin selama 2 tahun lagi.
Maka :
Jurnal yang dilakukan perusahaan pada saat pembelian :
Kas ... Rp. 50.000.000,- Jurnal perusahaan pada saat perbaikan adalah :
Biaya perbaikan mesin foto copy ... Rp. 6.500.000,-
Kas ... Rp. 6.500.000,- Berdasarkan cara pencatatan tersebut diatas maka dapat dilihat nilai buku Mesin Foto Copy tidak mengalami perubahan.
Jurnal penyusutan pada tanggal 31 Desember 1999 adalah : Biaya penyusutan mesin foto copy ... Rp. 6.500.000,-
Akuntansi penyusutan mesin foto copy ... Rp. 6.500.000,- ( 12,5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 6.250.000,- )
Pencatatan yang dengan demikian tidak benar karena pengeluaran ini mengakibatkan masa manfaat mesin foco copy bertambah sehingga harus dicatat sebagai pengurangan perkiraan akumulasi penyusutan.
Mesin Foto Copy ... Rp. 6.50.000,-
R/E ... Rp. 6.500.000,- Perhitungan nilai buku mesin foto copy sampai 30 Oktober 1999 adalah :
Harga perolehan mesin foto copy ... Rp. 50.000.000,- Akm. Penyusutan mesin foto copy sampai dengan 30 Okt 1999 ...
Nilai buku Mesin Foto Copy 30 Okt 1999 (sebelum diperbaiki) .... Rp. 37.500.000- Rp. 12.500.000,-
Pengeluaran untuk perbaikan mesin foto copy ...
Nilai buku mesin foto copy 30 Okt 1999 (sesudah diperbaiki) ... Rp. 44.000.000,- Rp. 6.500.000,-
Maka penyusutan pertahun :
− = − .5.500.000, 8 , 000 . 000 . 44 . Rp Rp
− = − 2 .916.666, 12 , 000 . 500 . 5 . Rp Bulan x Rp
VI.3. Metode Penyusutan Aktiva Tetap
Diakhir tahun periode akuntansi pengalokasian harga perolehan aktiva tetap sangat diperlukan untuk taksiran umur ekonomis aktiva tetap. Untuk menghitung besarnya penyusutan pada tiap periode akuntasi diperlukan adanya suatu pertimbangan yang sebaik-baiknya dalam menentukan metode penilaian penyusutan dan taksiran masa manfaat dari pada aktiva dapat tersebut.
Untuk penentuan jumlah penyusutan setiap aktiva tetap harus memenuhi kriteria berikut :
a. Masa manfaat (Umur Ekonomis) b. Harga perolehan
c. Nilai sisa (Nilai Residu)
Bila ditinjau pada PT. Pelayaran Sinar Jaya, Tanjung Balai maka metode penyusutan yang digunakan adalah garus lurus yang ditetapkan secara konsisten pada tiap tahunnya. Penyusutan aktiva tetap pada perusahaan tersebut didasarkan pada harga perolehan tanpa memperhitungkan nilai sisa atau nilai sisanya nol. Berdasarkan analisa penulis ini sudah baik karena telah sesuai dengan Standar Akuntasi Keuangan.
IV.4. Penyajian Aktiva Tetap Dalam Neraca
Penyajian yang baik dan sistimatis serta pengungkapan yang lengkap mengenai aktiva tetap dalam laporan keuangan akan memudahkan manajemen
dan pihak yang memerlukan untuk mendapatkan informasi tentan gaktiva tetap perusahaan.
Dalam penyajian Aktiva tetap dalam neraca perusahaan pada dasarnya sudah benar. Hanya saja nilai aktiva tetap yang disajikan dalam neraca tersebut belum menunjukkan nilai yang wajar. Hal ini disebabkan oleh belum jelasnya perusahaan dalam menentukan antara pengeluaran modal dengan pengeluaran pendapatan. Dalam hal ini aktiva yang disajikan itu lebih rendah dari yang seharusnya.
Seperti contoh mesin foto copy diatas dimana perusahaan menyusutkan mesin foto copy peraturan adalah :
tahun Rp Rp / , 000 . 250 . 6 . 8 , 000 . 000 . 50 . − = −
Hal ini perusahaan tidak memperhitungkan pengeluaran yang terjadi untuk perbaikan mesin foto copy walapun perbaikan tersebut menambah umur aktiva lebih dari satu proiode akuntansi yaitu selama 2 tahun. Sementera jumlah penyusutannya menjadi : tahun Rp Rp / , 000 . 500 . 5 . 8 , 000 . 000 . 44 . − = −
Disini terdapat selisih Rp. 6.250.000,- - Rp. 5.500.000,- = Rp. 750.000,-/tahun. Bila dilihat dalam penyajiannya dineraca aktiva tersebut menjadi rendah akibat dari jumlah yang disusutkan terlalu besar.
BAB V