UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM DIPLOMA III MEDAN
SISTEM AKUNTANSI AKTIVA TETAP PADA PT. SINAR JAYA ABADI
SKRIPSI MINOR
DIAJUKAN OLEH :
NAMA : SURYA DARMA
NIM : 042102045
JURUSAN : AKUNTANSI
GUNA MEMENUHI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENYELESAIKAN PENDIDIKAN PADA FAKULTAS EKONOMI PROGRAM DIPLOMA III
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
DAFTAR ISI
HALAMAN KATA
PENGANTAR……… ….i
DAFTAR
ISI………...iii BAB I : PENDAHULUAN
A. Alasan Pemilihan
Judul………1
B. Perumusan Masalah………..2
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian………2
D. Metode Penelitian……….3
E. Metode Analisis……….4
F. Sistematika Pembahasan………4
BAB II : AKUNTANSI AKTIVA TETAP PADA PT.SINAR JAYA ABADI
A. Sejarah Singkat Perusahaan………..7
B. Stuktur Organisasi Perusahaan………..7
C. Penggolongan Aktiva Tetap………14
D. Penentuan Harga Perolehan Aktiva Tetap………..15
F. Metode Penyusutan Aktiva Tetap………...18
BAB III : ANALISA DAN EVALUASI
A. Pengertian Aktiva Tetap……….22
1. Penggolongan Aktiva Tetap……….23
2. Penentuan Harga Perolehan Aktiva Tetap………26
B. Pengeluaran-Pengeluaran Selama Pemakaian………35
C. Penyusutan Aktiva Tetap Dan Pembenannya……….41
1. Metode Penyusutan Aktiva Tetap PT.SINAR JAYA
ABADI……….51
2. Penyajian Aktiva Tetap Dalam Neraca……….52
BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan……….5 5
B.
Saran………5 6
DAFTAR
BAB I PENDAHULUAN
A. Alasan Pemilihan Judul
Umumnya perusahaan mempunyai tujuan untuk memperoleh laba
semaksimal mungkin untuk kelanjutan perkembangan perusahaan. Untuk
mencapai tujuan tersebut perusahaan membutuhkan akuntansi untuk menyediakan
informasi yang dapat dipakai untuk mengambil keputusan.
Akuntansi adalah merupakan suatu sistim informasi bagi pihak-pihak yang
berkepentingan dalam perusahaan untuk mengambil keputusan.
Perusahaan pasti memilih aktiva tetap yang akan dipergunakan di dalam
menjalankan operasinya. Aktiva tersebut merupakan aktiva yang langsung
dipergunakan dalam kegiatan operasi perusahaan. Oleh karena itu aktiva tetap
merupakan pos aktiva yang relatif cukup besar jika dibandingkan dengan jumlah
aktiva lainnya.
Dengan adanya jumlah aktiva tetap yang cukup besar maka pengolahannya
baik yang menyangkut aktivanya secara fisik maupun penyusutannya harus
dilakukan berdasarkan perencanaan yang tepat. Perhitungan-perhitungan secara
analisa-analisa yang baik harus dilakukan sehingga tidak terjadi hal-hal yang
dapat merupakan perusahaan. Penyajiannya didalam daftar neraca dan daftar laba
rugi suatu perusahaan harus sesuai dengan ketentuan akuntansi dan harus
disajikan sewajar mungkin, sehingga para pihak yang berkepentingan akan dapat
Sehubungan dengan itu dengan mengetahui bahwa PT. Pelayaran Sinar Jaya
Abadi, Tanjungbalai :
1. Merupakan salah satu perusahaan yang memiliki aktiva tetap dalam
jumlah yang cukup besar terhadap total aktivanya dan penilaian
terhadap penyusutan aktiva tetap tidak boleh diabaikan.
2. Menyediakan data-data yang penulis butuhkan dalam penelitian ini.
3. Biaya yang dikeluarkan harus dipisahkan antara biaya yang menambah
umur aktiva dengan yang tidak menambah umur aktiva.
B. Perumusan Masalah
Dari uraian diatas penulis mencoba merumuskan permasalahan yang
dihadapi PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi yaitu : “Apakah pencatatan aktiva tetap
pada PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi Tanjungbalai sudah dicatat dan disajikan
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan.
C.Tujuan dan Manfaat Penelitian
Luas penelitian yang dilakukan oleh penulis meliputi bagaimana perkiraan
akuntansi aktiva tetap yang dilakukan oleh PT. Pelayanan Sinar Jaya Abadi.
Mengingat terbatasnya waktu, biaya dan pengetahuan yang dimiliki penulis dan
agar tidak mengaburkan permasalahan yang dibahas, maka ruang lingkup atau
scope dari penelitian ini dibatasi. Disamping itu juga hanya menitikberatkan pada
perlakuan akuntansi aktiva tetap yang terwujud yang tentunya dihubungkan
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana perusahaan melakukan pencatatan
akuntansi aktiva tetap.
2. Untuk menambah pengetahuan dan membandingkan teori dengan
praktek dalam perusahaan.
3. Memberikan saran-saran yang berguna untuk mengatasi
masalah-masalah yang dihadapi perusahaan.
Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui bagaimana penerapan Standar Akuntansi Keuangan dalam
penyelenggaraan aktiva tetap pada perusahaan PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi
Tanjungbalai.
D. Metode Penelitian
Penelitian merupakan suatu usaha yang bersifat sistematis dan objektif
dalam mengumpulkan atau memperoleh keterangan yang teliti dan efisien.
Dalam mengumpulkan keterangan-keterangan yang diperlukan untuk menyusun
skripsi ini, penyusun menggunakan dua macam metode penelitian yaitu :
1. Penelitian Lapangan (Field Research) yaitu : suatu cara memperoleh
data dengan langsung ke objek penelitian. Penelitian dilakukan dengan
observasi dan interview dengan pimpinan dan pegawai perusahaan
tersebut yang dapat memberikan data yang diperlukan dalam
menyusun skripsi ini, dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran
pencarian data dari dokumen dan catatan-catatan yang diperlukan
kepada perusahaan yang bersangkutan.
2. Penelitian Perpustakaan (Library Research) yaitu pengumpulan data
yang diperoleh dengan jalan membaca buku-buku, majalah-majalah
dan sumber lainnya yang berhubungan dengan penelitian yang penulis
lakukan. Hal ini dimaksudkan sebagai pendukung bagi data-data yang
telah diperoleh melalui penelitian lapangan agar pemecahan atas
penelitian ini lebih baik dan jelas.
E. Metode Analisis
Metode analisis yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini terdiri dari dua
metode yaitu :
1. Metode deskriptif yaitu suatu metode analisa yang mencoba
mengumpulkan, mengklasifikasikan dan menganalisa data sehingga
dapat memberikan keterangan mengenai masalah yang dihadapi.
2. Metode deduktif yaitu metode yang dilaksanakan dengan
membandingkan teori-teori akuntansi yang berhubungan dengan
kegiatan perusahaan terutama aktiva tetap, akan dapat dibuat
kesimpulan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
F. Sistematika Pembahasan
Untuk membahas permas berkaitan dengan judul skripsi ini, penulis
membuat suatu sistematika yang terdiri dari 5 bab dengan urutan-urutan sebagai
Bab I : Pendahuluan
Dalam bab ini akan membahas alasan pemilihan judul,
perumusan masalah, luas dan tujuan penelitian, metode
penelitian dan metode analisis.
Bab II : Akuntansi Aktiva Tetap Pada PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi
Dalam bab ini diuraikan mengenai tinjauan umum
perusahaan yakni sejarah singkat perusahaan, struktur
organisasi, penggolongan aktiva tetap, nilai perolehan
aktiva tetap, pengeluaran-pengeluaran selama pemakaian
aktiva tetap, penyusutan aktiva tetap.
Bab III : Analisa dan Evaluasi
Dalam bab ini penulis membahas uraian teoritis mengenai
pengertian dan penggolongan aktiva tetap, penentuan harga
perolehan aktiva tetap, Pengeluaran selama pemakaian
aktiva tetap, pengeluaran modal dan pengeluaran
pendapatan, penyusutan aktiva tetap dan metode
Bab IV : Kesimpulan Dan Saran
Dalam bab ini penulis menarik kesimpulan dari
BAB II
AKUNTANSI AKTIVA TETAP PADA
PT. PELAYARAN SINAR JAYA ABADI
TANJUNG BALAI
A. Sejarah Singkat Perusahaan
Perusahaan dibidang jasa pelayaran ini pertama-tama adalah milik
perorangan dengan nama Haihock Co yang berlayar masih antar pulau sekitar
sumatera utara saja. Setelah mengalami perkembangan perusahaan memperluas
usahanya dan mengganti namanya menjadi CV. PELPE atau pelayaran pantai
andalas. CV ini didirikan pada tahun 1978. perkembangan yang terus berlanjut
membuat perusahaan-perusahaan dan orang pribadi ingin menanamkan sahamnya,
yang akhirnya pada tahun 1982 menjadi PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi. Saat
itu masih berlayar sekitar dalam negeri yang kemudian pada tahun 1985 mulai
berlayar keluar negeri yaitu dari Tanjung Balai ke Portklang yaitu salah satu pulau
dinegara Malaysia. PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi ini merupakan perusahaan
bergerak dibidang jasa angkutan cargo dan kapal penumpang yang memiliki 14
armada setiap armada mempunyai karyawan 7-14 orang, sedangkan Ferry 11-13
orang.
B. Struktur Organisasi
Kegiatan dari suatu perusahaan akan dapat berjalan lancar apabila ada
pembagian tugas dari pimpinan. Hal ini dapat dicapai dengan cara memberikan
tugas dan tanggung jawab kepada orang-orang yang akan melaksanakan tugas
Setiap tanggung jawab atau kegiatan yang diberikan pada karyawan harus
diawasi secara efektif, manajemen perlu membentuk suatu badan organisasi dan
membentuk struktur organisasi yang sehat, dimana manajemen dapat memperoleh
informasi dari setiap bagian dan tingkata.
Dengan adanya hubugan yang baik antara atasan dengan bawahan maka
dapat diciptakan kerja sama yang baik dan teratur didalam organisasi tersebut.
Pada struktur organisasi perusahaan dapat dilihat kedudukan dan tanggung jawab
dari karyawan dalam melaksanakan tugas yang diberikan.
Untuk melihat lebih jelasnya tanggung jawab dari orang-orang yang
terlibat dalam kegiatan suatu organisasi dan untuk mengetahui dari mana mereka
menerima tuags dan kepada siapa pula mereka mempertanggungjawabkan semua
kegiatannya, maka hal ini ditetapkan suatu struktur organisasi. Dari struktur inilah
dasar utama para karyawan juga pimpinan didalam menjalankan tugas dan
tanggung jawabnya setiap hari.
Adapun struktur organisasi yang dipergunakan perusahaan adalah struktur
organisasi bentuk garis, dimana terdapat garis tanggung jawab dan wewenang
secara langsung dari pucuk pimpinan hingga bawahan. Berdasarkan bagan
struktur organisasi tersebut, maka terlihat bahwa secara garis besarnya pimpinan
tertinggi adalah dewan komisaris yang membawahi pimpinan, dan pimpinan
membawahi empat orang menejer (kepala bagian). Setiap menejer
bertanggungjawab penuh atas pekerjaannya masing-masing sehingga lapisan
manejemen PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi adalah sebagai berikut :
1. Dewan Komisaris
3. Pimpinan
4. Staff Keuangan
- Bagian Pembukuan
- Khusus Kasir
- Bagian Pembuat Rekening
5. Staff Koperasi
- Bagian Barang
- Bagian Pelayanan
6. Staff Gudang
- Bagian Pengawasan
7. Staff Tata Usaha (Administrasi)
- Bagian Komputer
- Bagian Arsip
- Bagian Karyawan
- Operator
- Office Boy
Masing-masing staff mengelola pekerjaan masing-masing dan mengawasi
pekerjaan dari bahawannya. Setiap bulan masing-masing staff ini akan
memberikan laporan pada pimpinan atas aktivitas perusahaan dari hasil kerja
mereka. Secara rinci tanggung jawab dan wewenang masing-masing bagian
adalah sebagai berikut :
1. Dewan Komisaris
Merupakan pemegang saham PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi yang
triwulan dewan komisaris menerima laporan dari direktur utama mengenai
kegiatan perusahaan yaitu berupa laporan keuangan.
2. Direktur Utama
Merupakan pucuk pimpinan dari perusahaan, dan menerima laporan setiap
periode dari pimpinan sebagai bawahannya secara langsung. Adapun tugas
dari direktur utama ini adalah merencanakan, mengorganisir, serta mengawasi
kegiatan-kegiatan yang berlansung diperusahaan untuk dipertanggung
jawabkan kegiatannya kpada dewan komisaris.
3. Pimpinan
Merupakan bawahan dari direktur utama dan pimpinan ini merupakan yang
tertinggi dalam kegiatan perusahaan dan mempunyai wewenang untuk
mengawasi kegiatan yang berlangsung dimana hasil dari kegiatan perusahaan
tersebut di pertanggungjawabkan pada direktur utama dalam bentuk laporan
periode.
Tugas sehari-hari pimpinan adalah sebagai berikut :
1. Bertanggungjawab didalam maupun diluar perusahaan atas kegiatan yang
dilaksanakan.
2. Merencanakan cara kerja sesuai dengan kebijaksanaan yang telah
digariskan oleh dewan komisaris.
3. Mengangkat dan memberhentikan pegawai.
4. Mengambil keputusan terhadap masalah yang dihadapi perusahaan.
5. Menandatangani perjanjian saat kapal hendak berlayar dan juga pada saat
mendarat kembali dan mensahkan setiap pengeluaran ataupun penerimaan
4. Staff Keuangan
Mempunyai tugas yang berhubungan dengan kegiatan keuangan, dimana ia
membawahi bagian pembuat rekening yang bertugas membuat rekening
pengeluaran yang terjadi selama kegiatan perusahaan, dimana rekening
tersebut diserahkan kepada bagian kasir. Bagian kasir bertugas menerima,
menyimpan dan melaksanakan pembayaran dengan peraturan-peraturan yang
ditentukan. Segala transaksi yang terjadi dicatat bagian pembukuan (bagian
akuntansi), transaksi tersebut dikelola menjadi bentuk laporan keuangan yang
berguna bagi perusahaan sebagai informasi bagi perusahaan, membuat rencana
anggaran perusahaan, bertanggung jawab atas kegiatan penerimaan piutang,
pembayaran utang penyimpanan kas dan bertanggung jawab atas segala
sesuatu yagn berhubungan dengan bank.
5. Staff Koperasi
Membawahi bagian barang yang bertugas mencatat barang yagn masuk dan
keluar untuk kegiatan kapal, dan juga melayani permintaan karyawan
perusahaan yang tentunya berdasarkan aturan tertentu sedangkan bagian
pelayaran bertugas melayani penumpang mulai keberangkatan hingga sampai
ketujuan.
6. Staff Gudang
Bertugas mencatat barang yang keluar dan masuk kegudang sebelum diangkat
atau diambil oleh pemiliknya sedangkan pengawas gudang bertugas untuk
7. Staff Tata Usaha (Administrasi)
Bagian ini bertugas mencatat informasi yang dibutuhkan perusahaan misalnya
telekomunikasi dan mengatur hal-hal lainnya yang menyangkut dengan
kegiatan perusahaan sehari-hari.
Untuk lebih memperjelas mengenai struktur organisasi PT. Pelayaran
PT. PELAYARAN SINAR JAYA ABADI TANJUNG BALAI
STRUKTUR ORGANISASI
Sumber : PT. “Pelayaran Sinar Jaya Abadi” Tanjungbalai
Direktur Komisaris
Direktur Utama
Pimpinan
Staff Keuangan Staff Koperasi Staff Guang Staff Tata Usaha
C. Penggolongan Aktiva Tetap
PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi, Tanjung Balai hanya memiliki 2 aktiva
tetap yang utama yaitu kapal dan inventaris kantor. Sedangkan aktiva lainnya
merupakan sewa. Sewa ini terjadi pada pihak pemerintah dan perusahaan swasta
lainnya. Adapun aktiva yang disewa adalah sebagai berikut :
1. Bangunan sekaligus tanah yang dipergunakan sebagai kantor.
2. Alat angkut yaitu berupa pengangkutan truk yang disewa pada perusahaan
pengangkutan.
3. Pelabuhan dan gudang disewa pada pihak pemerintah dan non pemerintah.
Sedangkan aktiva-aktiva yang menjadi milik PT. Pelayaran Sinar Jaya
Abadi, Tanjung Balai adalah sebagai berikut :
1. Kapal
Terdiri dari 14 unit
2. Inventaris Kantor
- Kipas angin 1 unit
- AC 5 unit
- Meja / Kursi Karyawan
- Komputer Merek Jie (4 unit)
- Kursi Tamu 4 unit
- Telepon 4 unit
- Printer 4 unit
- Fotocopy 1 unit
- Fax
- Video Monitor
D. Penentuan Harga Perolehan Aktiva Tetap
Cara perolehan aktiva tetap pada PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi, Tanjung
Balai dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Pembelian Tunai
Perusahaan ini membeli aktiva tetap dengan pembelian tunai, aktiva tetap
yang relative kecil seperti inventaris kantor yang berupa : Kipas Angin, AC,
Komputer, Printer dan sebagainya. Selain itu ada juga pembelian aktiva tetap
secara tunai relative besar, hal ini tergantung kepada kebijaksanaan perusahaan.
Perusahaan juga mencatat pengeluaran-pengeluaran seperti biaya angkut, biaya
pengiriman, biaya pemasangan dan lain-lain. Nilai perolehan aktiva tetap yang
dibeli tunai dicatat sebagai uang tunai yang dikeluarkan ditambah dengan
biaya-biaya, sehingga aktiva tersebut berada pada keadaan siap digunakan untuk
kegiatan operasi perusahaan.
Contoh :
1. Pada bulan Maret 1999 perusahaan membeli secara tunai satu unit
computer dengan harga faktur Rp. 10.750.000,- pembebanan ongkos
angkut ditambah biaya pemasang sebesar Rp. 325.000,- maka perusahaan
mencatat.
Komputer………..Rp. 11.075.000,-
2. Pada bulan Januari 2000 perusahaan membeli sepasang kursi tamu dengan
harga perolehan Rp. 2.830.000,- biaya angkat sebesar Rp. 150.000,- maka
perusahaan mencatat :
Kursi Tamu………..Rp. 2.980.000,-
Kas………...Rp. 2.980.000,-
3. Pada bulan Februari 2000 perusahaan membeli AC dengan harga
perolehan Rp. 2.000.000,- biaya ongkos dan pemasangan sebesar Rp.
150.0000,- maka perusahaan mencatat :
AC ………Rp. 2.150.000,-
Kas………...Rp. 2.150.000,-
4. Pada bulan Mei 2000 perusahaan membeli 1 unit Kipas Angin dengan
harga.
Kipas Angin………..Rp. 140.000,-
Kas………...Rp. 140.000,-
2. Pembelian dengan kontrak jangka panjang
Perusahaan mengadakan kontrak sebagai cara dalam perolehan aktiva
tetapnya. Pembelian tersebut dilakukan berdasarkan suatu perjanjian kontrak
melalui SPK (Surat Perintah Kerja) yang telah disetujui PT. Pelayaran Sinar Jaya
Abadi Tanjung Balai. Sebelum melakukan kontrak PT. Pelayaran Sinar Jaya
Abadi Tanungbalai membuat anggaran yang dirinci berdasarkan skala prioritas
yang diajukan kepada kantor pusat atau direksi PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi
Tanjung Balai setelah memperoleh persejuan dari kantor pusat melalui SPK (Surat
Setelah diperbandingkan kemudian diseleksi oleh perusahaan mana yang paling
murah dan sesuai yang kemudian dihunjuk melalui surat perintah kerja
(Perjanjian) untuk mengadakan kontrak.
Harga kontrak atas pembelian aktiva mesin kapal sudah disetujui dalam
surat perjanjian kontrak termasuk perjanjian kontrak sampai aktiva tersebut siap
untuk digunakan. Nilai kontrak atas pembelian berdasarkan kontrak dicatat
sebesar harga kontrak disetujui ditambah dengan PPN (Pajak Pertambahan Nilai).
Hal ini telah diatur dalam SPK ( Surat Perintah Kerja ).
E. Pengeluaran-Pengeluaran Selama Pembelian Aktiva Tetap
Untuk mempertahankan kemampuan aktiva, dalam penggunaan aktiva
tersebut pada kegiatan operasi perusahaan memerlukan pengeluaran-pengeluaran
berupa pengeluaran pendaptan ( revenue expenditure ) yaitu pengeluaran yang
bersifat rutin dan berulang-ulang, misalnya biaya reparasi mesin dan inventaris
kantor, dan pengeluaran modal ( capital expenditure ) yaitu pengeluaran yang
tidak bersifat rutin dimana pengeluaran itu dapat menambah umur dari aktiva
tersebut dan jumlah pengeluaran ini relative besar dimana memberikan manfaat
lebih dari satu tahun misalnya biaya reperasi mesin kapal (naik dok) yang
menambah umur aktiva.
Demikian pula halnya PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi Tanjung Balai yang
menggunakan aktiva tetap dalam kegiatan operasinya, pengeluaran untuk aktiva
tetap merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Dalam hal ini Perusahaan belum
mempunyai suatu kebijakan yang dapat menetapkan apakah pengeluaran yang
Perusahaan memperlakukan seluruh pengeluaran biaya selama penggunaan aktiva
tetap baik dalam bentuk biaya pemeliharaan, perawatan, perbaikan dan sebagainya
dibebankan sebagai biaya tahun berjalan.
Perusahaan tidak pernah mengkapitalisasi biaya-biaya yang dikeluarkan
walaupun dengan adanya pengeluaran-pengeluaran itu akan menambah umur
aktiva tersebut.
Contoh :
1. Pada tanggal 18 Januari 1999 perusahaan melakukan perbaikan terhadap
mesin kapal (naik dok) dengan mengeluarkan biaya Rp. 10.000.000,-
perbaikan ini dicatat sebagai biaya operasi pada perkiraan biaya operasi.
Jurnal yang dibuat perusahaan adalah :
Biaya reperasi mesin kapal ……….Rp. 10.000.000,-
Kas ... …….Rp. 825.000,-
2. Pada tanggal 30 Mei 2001 perusahaan melakukan perbaikan terhadap AC
national dengan biaya Rp. 825.000,- dan menambah masa manfaat hasil
perbaikan tersebut satu tahun lagi akan tetapi perusahaan membebankan biaya
tersebut sebagai biaya operasi pada perkiraan reperasi dengan melakukan
pencatatan sebagai berikut :
Biaya reperasi perbaikan AC national ...…Rp. 825.000,-
Kas ... ……..Rp. 825.000,-
F. Metode Penyusutan Aktiva Tetap
Aktiva tetap yang digunakan secara terus menerus dalam kegiatan operasi
tersebut mengalami kemerosotan kemampuan dan kegunaan aktiva tetap tersebut
akan berkurang.
Yang digunakan oleh PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi, Tanjung Balai
untuk menghitung besar penyusutan aktiva tetapnya dihitung berdasarkan Standar
Akuntasi Keuangan dengan metode garis lurus dan taksiran ekonomis jenis aktiva
yang dimiliki. Metode ini digunakan perusahaan karena metode ini sederhana dan
perhitungannya tidak sulit. Penyusutan setiap aktiva tetap dilaksanakan setiap
tahun secara konsisten.
Berdasarkan penelitian penulis dari pihak perusahaan kapal ferry (terbuat
dari besi) penyusutannya 18 tahun, sedangkan Km terbuat dari besi dan kayu
penyusutannya juga 18 tahun.
Dalam hal ini untuk mengetahui berapa besar beban penyusutan setiap
periode akuntansi dapat dihitung dengan cara mengalikan tarif penyusutan pada
harga perolehan aktiva tetap yang dihitung dengan menggunakan metode garis
lurus.
Tabel. 3.1
PT. PELAYARAN SINAR JAYA ABADI TANJUNGBALAI DAFTAR AKTIVA TETAP DAN PENYUSUTANNYA
Per 31 Desember 1999 No Jenis Aktiva Tetap
Thn
Ferry Asean Speed Ferry Oero Speed Ferry Ocean Star Ferry Aero Speed Km. Sumber Jaya Km. Sumber Jaya I Km. Sinar Bengkails Km. Anugerah Km. Kurnia Km. Kurniawi Km. Anugerah 168 Km. Irian Jaya
Tabel. 3.2
PT. PELAYARAN SINAR JAYA ABADI TANJUNGBALAI DAFTAR AKTIVA TETAP DAN AKUMULASI PENYUSUTANNYA
Per 31 Desember 1999 No Jenis Aktiva Tetap Thn
Kursi Tamu 3 Pasang Kursi Tamu Utama Kipas Angin 1 Unit AC. National 1 PK Video Monitor Komputer 3 Unit Printer 3 Unit Fax 3 Unit
Meja Komputer 4 Unit
Mar-97
Total Aktiva Tetap 121.545.000 16.336.030 105.208.970 15.193.125 31.529.155 90.015.845 Sumber : “PT. Pelayaran Sinar Jaya Abadi” Tanjung Balai
BAB III
ANALISA DAN EVALUASI A.1. Pengertian Aktiva Tetap
Aktiva tetap adalah salah satu unsur yang dimiliki perusahaan dalam
kegiatan operasi perusahaan atau kegiatan normal perusahaan dalam jangka waktu
lebih dari satu periode akuntansi yang dimaksud bukan untuk diperjualbelikan
melainkan digunakan secara permanen.
Aktiva pada dasarnya terbagi dua yaitu aktiva tetap tidak terwujud. Untuk
pembahasan selanjutnya penulis hanya menitik beratkan anya pada aktiva tetap
berwujud saja.
Pada umumnya aktiva tetap yang digunakan perusahaan bersifat tahan
lama dan digunakan dalam operasi perusahaan, tidak diperjualbelikan serta
nilainya relatif besar sebagai contoh kapal yang digunakan perusahaan sebagai
aktiva tetap.
Untuk lebih jelasnya maka akan dilihat beberapa pengertian aktiva tetap
yang dikemukakan beberapa ahli yaitu :
“Aktiva tetap berwujud adalah aktiva-aktiva berwujud yang sifatnya relative permanent yang digunakan dalam kegiatan perusahaan yang normal. Istilah relatif permanent mewujudkan sifat dimana aktiva yang bersangkutan dapat dipergunakan dalam jangka waktu yang relatif cukup lama dan merupakan pengeluaran yang material ”.
( Firdaus A.Dunia. ikhtisar lengkap pengantar akuntansi. Thn.2000).
“Aktiva tetap adalah aktiva tetap berwujud diperoleh dalam bentuk
siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksud untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun”
Aktiva tetap berwujud (Plant Asset) mempunyai wujud dan dengan
demikian dapat diamati dengan satu atau lebih panca indra. Aktiva ini mungkin
dapat dilihat dan diraba dalam lingkungan tertentu, masa mendatang bagi
perusahaan.
Dari uraian-uraian diatas mengenai pengertian aktiva tetap, maka dapat
diuraiakan bahwa aktiva tetap itu mempunyai sifat dan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Aktiva tetap tersebut bersifat relatif permanen
2. Aktiva tetap perusahaan digunakan dalam kegiatan perusahaan yang
normal
3. Aktiva tetap digunakan dalam bentuk siap pakai atau dengan
dibangun lebih dahulu.
4. Aktiva tetap yang dimaksud tidak dimaksud untuk dijual
5. Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun
6. Aktiva tetap mempunyai wujud
7. Dapat dinikmati dengan satu atau lebih panca indera
A.2. Penggolongan Aktiva Tetap
Aktiva tetap berwujud, meliputi aktiva-aktiva yang dimiliki bentuk fisik
dan dipakai atau digunakan didalam operasi normal perusahaan serta mempunyai
kegunaan yang relatif permanent.
Aktiva tetap berwujud adalah Aktiva tetap berwujud merupakan aktiva
seperti tanah, bangunan, kendaraan dan sebagainya yang mempunyai wujud fisik
dan dapat diraba dan dipegang.
Berdasarkan jenisnya, aktiva tetap digolongkan menjadi :
Tempat didirikannya suatu bangunan yang berguna dalam kegiatan
operasi perusahan. Tanah dapat dibagi lagi antara lain : tanah
pertanian, tanah perkebunan dan sebagainya.
2. Bangunan
Bangunan adalah gedung yang digunakan sebagai kantor, tempat
tinggal tenaga kerja, penyimpanan terhadap barang-barang
perusahaan dan banyak lagi kegunaannya yang berhubungan dengan
kegiatan operasi perusahaan.
3. Peralatan
Peralatan merupakan alat Bantu yang digunakan perusahaan dalam
memperlancar kegiatan operasi perusahaan misalnya komputer untuk
menyimpan data dan sebagainya.
4. Mesin-Mesin
Mesin-mesin adalah peralatan yang digunakan untuk menjalankan
suatu proses produksi misalnya mesin kapal untuk menjalankan kapal
agar dapat berlayar.
5. Kendaraan
Kendaraan adalah alat angkut yang digunakan untuk memperlancar
kegiatan operasi perusahaan misalnya truk untuk mengangkut
barang-barang dari kapal.
Aktiva tetap dapat diklasifikasikan berdasarkan :
1. Umur
Bila ditinjau dari umurnya maka aktiva tetap dapat digolongkan
a. Aktiva tetap yang umurnya terbatas :
Aktiva tetap ini mempunyai umur yang terbatas jika umurnya
ekonomisnya sudah habis maka aktiva tetap ini tidak dipergunakan
lagi dalam operasi perusahaan. Berhubungan dengan hal ini maka
setiap akhir periode dihitung besar penyusutannya.
b. Aktiva tetap yang umurnya tidak terbatas :
Aktiva tetap ini mempunyai umur yang tidak terbatas dan tidak
mengalami penyusutan bahkan dapat bernilai lebih tinggi pada masa
mendatang misalnya tanah yang digunakan untuk mendirikan
bangunan.
2. Jenis
Berdasarkan jenisnya aktiva tetap terbagi dalam :
a. Bangunan-bangunan, baik bangunan yang dapat digunakan untuk
bangunan kantor, gudang, pabrik dan lain sebagainya.
b. Mesin-mesin baik itu mesin las, mesin pabrik dan lain sebagainya.
c. Peralatan-peralatan, seperti computer, peralatan untuk gudang dan
pabrik
d.Kendaraan misalnya kendaraan roda dua, roda empat dan kendaraan
alat berat
e. Tanah
3. Menurut sifatnya aktiva tetap dibagi dalam dua jenis :
a. Aktiva tetap mempunyai tenaga pengerak seperti mobil, mesin-mesin
b. Aktiva tetap yang tidak memiliki tenaga penggerak yaitu :
A.3. Penentuan Harga Perolehan Aktiva Tetap
Penentuan harga perolehan aktiva tetap dengan cara perolehan aktiva
tersebut adalah mulai aktiva itu dibeli sampai aktiva itu siap untuk dipakai dalam
proses produksi atau kegiatan perusahaan.
Dalam praktek bisnis, ada beberapa cara perolehan aktiva tetap yakni :
1. Pembelian tunai
2. Pembelian dengan kontrak jangka panjang
3. Pembelian dengan penukaran
4. Penerbitan surat-surat berharga
5. Membuat sendiri
6. Hadiah atau sumbangan
Ad. 1. Pembelian Tunai
Apabila perusahaan memperoleh aktiva tetap dengan cara pembelian tunai
maka harga perolehannya dicatat sebesar harga yang telah diserahkan kepada
pihak penjual ditambah dengan semua biaya yang telah dikeluarkan sehingga
aktiva tetap itu sampai ditempat dan siap untuk dipergunakan oleh perusahaan.
Termasuk dalam biaya antara lain biaya pengangkutan, biaya pemasangan, biaya
asuransi, biaya percobaaan dan sebagainya.
Dalam pembelian tunai aktiva tetap kadang-kadang terdapat diskonto, yang berarti
potongan harga akan mengurangi harga perolehan aktiva tetap tersebut. Jika
dilakukan pembelian beberapa aktiva tetap yang dinyatakan dalam harga
gabungan, maka harga tersebut harus dialokasikan pada masing-masign aktiva
tetap. Dasar alokasi yang digunakan sedapat mungkin dilakukan dengan harga
Bila aktiva tetap diperoleh dengan pembelian secara tunai, maka cost dari
aktiva tetap tersebut dicatat sesuai dengan jumlah uang yang dikeluarkan,
termasuk harga faktur dan semua biaya yang dikeluarkan agar aktiva tetap
tersebut siap digunakan dalam operasi perusahaan.
Biaya perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari harga belinya, termasuk bea
impor dan PPN ( Pajak Pertambahan Nilai ) masukkan tak boleh restitusi
(non-refundable) dan setiap biaya yang dapat diaatribusikan secara langsung dalam
membawa aktiva tersebut ke kondisi yang membuat aktiva tersebut dapat bekerja
untuk penggunaan yang dimaksud :
Setiap potongan dagang dan rabat dikurangkan dari harga pembelian. Contoh dari
biaya yang dapat didistribusikan secara langsung adalah :
a. Biaya persiapan tempat
b. Biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan
bongkar muat (handling costs)
c. Biaya pemasangan (installation costs)
d. Biaya professional, seperti arsitek dan insinyur.
Bila pembelian tersebut terdapat potongan tunai, maka potongan tersebut
diperlukan sebagai pengurangan harga perolehan dari harga tetap yang
bersangkutan dan bukan keuntungan. Jika potongan harga tersebut tidak
dimanfaatkan oleh perusahaan maka harus dilaporkan sebagai discount loss atau
interest expense.
Misalnya perusahaan membeli sebuah peralatan dengan harga Rp.
8.000.000,- jika dibeli dengan tunai, maka akan diperoleh discount sebesar Rp.
1. Jika discount dimanfaatkan maka jurnalnya :
Peralatan ... Rp. 7.200.000,-
Kas ... Rp. 7.200.000,-
2. Jika discount tidak dimanfaatkan maka jurnalnya :
Peralatan ... .Rp.7.200.000,-
Discount Loss ... .Rp. 800.000,-
Kas ... Rp. 8.000.000,-
Ad. 2. Pembelian berdasarkan kontrak jangka panjang
Pada umumnya aktiva tetap yang dibeli secara angsuran, harganya lebih
tinggi dibandingkan pembelian tunai karena pembelian dengan cara ini dikenakan
biaya-biaya bunga yang terhutang atas pembelian aktiva tetap tidak boleh
menambah harga perolehan aktiva tetap tersebut, tetapi dicatat sebagai biaya
dimana hal ini sesuai dengan pernyataan.
Apabila aktiva tetapi diperoleh dari pembelian angsuran, maka harga
perolehan aktiva tetap tidak boleh termasuk bunga. Bunga selama masa angsuran
baik yang jelas-jelas dinyatakan maupun yang tidak dinyatakan tersendiri, harus
dikeluarkan dari harga perolehan dan dibebankan sebagai biaya bunga.
Pembebanan bunga atas kredit ada dua yaitu :
a. Secara Flat
b. Secara Sisa Hutang
Misalnya dibeli bangunan seharga Rp. 50.000.000,- pembayaran pertama
adalah Rp. 32.000.000,- sisanya dibayar dalam sepuluh kali angsuran persemester.
Jurnal pada saat pembelian :
Gedung ... …..Rp.50.000.000,-
Kas ... …..Rp.32.000.000,-
Hutang Kontrak ... …..Rp.18.000.000,-
Jurnal Pembayaran Angsuran
a. Secara Flat
jurnalnya sama untuk 10 kali angsuran persemester adalah
Hutang Kontrak ... …..Rp.1.800.000,-
Bunga (9% x 18.000.000) …..Rp.1.620.000,-
Kas ... …...Rp. 3.420.000,-
b. Jika bunga dibebankan berdasarkan sisa hutang maka
jurnanya adalah :
Angsuran Semester I (sama dengan jurnal dengan flat)
Angsuran semester II jurnalnya :
Hutang kontrak ... …..Rp.1.800.000,-
Bunga 9% x (18.000.000
– 1.800.000)………Rp.1.458.000,-
Kas ... …...Rp. 3.258.000,-
Ad. 3. Pertukaran
Pada dasarnya pertukaran yang terjadi dalam pembelian aktiva tetap ada
dua yaitu :
a. Perolehan melalui cara pertukaran kasus umum
Ad.a. Perolehan melalui cara pertukaran kasus umum
Apabila terjadi pertukaran terhadap aktiva perusahaan dengan aktiva yang tidak
sejenis, maka aktiva yang baru biasanya harus dicatat sebesar nilai pasar yang
wajar. Jika harga pasar diketahui maka pencatatan costnya adalah sebagai berikut:
1. Aktiva tetap yang diterima, dicatat sebesar harga pasar yang dari
aktiva yang diberikan.
2. Tetapi jika harga pasar yang diterima lebih wajar, dalam arti
lebih kuat nilai objektivitas dan buktinya maka dicatatlah
sebesar nilai aktiva yang diterima itu.
3. Jika aktiva tetap yang diterima adalah aktiva tetap yang baru
maka harga pasar lebih akurat dibandingkan harga pasar aktiva
bekas pakai. Dalam hal ini yang dipakai secara costnya adalah
harga pasar aktiva tetap yang baru itu. Namun perlu diingat
bahwa harga yang dimaksud disini adalah harga kontan (kas)
bukan harga faktur atau harga lainnya.
4. Jika ternyata ada perbedaan antara harga pasar yang dicatat tadi
dengan nilai buku aktiva tetap yang diserahkan maka catatlah
laba atau rugi.
Contoh :
PT. DOAN menukar mesin produksi degnan truk baru. Harga perolehan
mesin produksi sebesar Rp. 2.000.000,- akumulasi penyusutan mesin sampai
tanggal pertukaran sebesar Rp. 1.500.000,- sehingga nilai bukunya sebesar Rp.
DOAN harus membayar uang sebesar Rp. 1.700.000,- harga perolehan truk adalah
Rp. 2.500.000,-.
Transaksi ini dijurnal sebagai berikut :
Truk ...………..Rp.2.500.000,-
Akumulasi penyusutan mesin ..………..Rp.1.500.000,-
Kas ... …Rp. 1.700.000,-
Mesin... …Rp. 2.000.000,-
Laba pertukaran mesin ... …Rp. 300.000,-
Ad.b. Perolehan melalui pertukaran kasus khusus
Apabila terjadi pertukaran yang bersifat khusus maka transaksi ini ditandai
dengan :
a. Harga pasar aktiva tetap yang ditukarkan tidak diketahui
b. Aktiva tetap yang saling ditukarkan adalah sejenis
c. Dalam hal aktiva tetap yang ditransfer kepada pemiliknya disebabkan adanya
reorganisasi digolongkan juga sebagai kasus pertukaran khusus.
Dalam hal harga tidak diketahui sedangkan jenis barang yang dikeluarkan
sejenis maka aktiva tetap yang diterima dicatat sebesar nilai buku aktiva tetap
yang diserahkan. Nilai aktiva tetap yang diserahkan bersama jumlah akumulasi
penyusutannya dapat dihapuskan melalui jurnal.
Contoh :
PT. LOAN menukar truk merek A dengan truk lain merek B, harga
perolehan truk A sebesar Rp. 10.000.000,- dan akumulasi penyusutan sebesar Rp.
dihargai sebesar Rp. 5.000.000,- harga pasar truk A Rp. 5.000.000,- dan PT.
LOAN membayar Rp. 20.000.000,0- tunai.
Jurnalnya
Truk B (baru) ... ………Rp.25.000.000,-
Akumulasi penyusutan truk A………..Rp. 4.000.000,-
Rugi pertukaran truk... ………Rp. 1.000.000,-
Truk A ... …..Rp.10.000.000,-
Kas ... …..Rp.20.000.000,-
Ad.4. Pengeluaran Surat-Surat Berharga
Perusahaan dapat memperoleh aktiva tetapnya melalui pertukaran dengan
surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan yang bersangkutan, baik
dengan penerbitan obligasi atau saham sendiri.
Adapun ketentuan mengenai harga perolehan aktiva tetap adalah :
a. Harga perolehan aktiva tetap yang diperoleh dengan menggunakan surat-surat
berharga dicatat sebesar harga pasar dari surat-surat berharga.
b. Jika harga pasar surat-surat berharga tidak diketahui maka harga perolehan
aktiva tetap ditentukan sebesar harga pasar aktiva tersebut.
c. Apabila harga pasar baik dari surat berharga maupun aktiva tidak diketahui,
maka nilai pertukaran ditentukan oleh keputusan pimpinan perusahaan. Nilai
pertukaran ini dipakai sebagai dasar pencatatan harga perolehan aktiva tetap
dan surat-surat berharga yang dikeluarkan.
Jika harga pasar aktiva tetap lebih besar dari nilai nominal surat-surat
jika harga pasar aktiva tetap lebih kecil dari nilai nominal surat-surat berharga,
maka selisih tersebut dicatat sebagai disagio (diskonto).
Contoh :
PT. Lampita memperoleh sebuah peralatan melalui pertukaran dengan
100/buah saham biasa, nilai nominal @ Rp. 50.000,- pada saat pertukaran harga
pasar saham sebesar RP. 55.000,-
Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut :
Peralatan ………..Rp.5.500.000,-
Modal Saham Biasa ... ……Rp.5.000.000,-
Aigo Saham ... …….Rp. 500.000,-
Jika harga pasar saham sebesar Rp. 45.000,- maka jurnalnya :
Peralatan ... ………Rp.4.500.000,-
Disagio Saham ... ………Rp. 500.000,-
Modal Saham Biasa ... …...Rp. 5.000.000,-
Ad.5. Membuat Sendiri
Ada beberapa alasan yang mendorogn perusahaan membuat sendiri
aktiva tetap antara lain :
1. Untuk mendapat kwalitas aktiva yang lebih baik dibandingkan harus membeli.
2. Untuk menghemat biaya
3. Memanfaatkan fasilitas perusahaan yang menganggur
Bila harga pokok dari aktiva tetap diperoleh dengan membuat sendiri
lebih rendah dari harga pokoknya maka harga perolehan dicatat menurut
Apabila sebaliknya harga perolehan dari aktiva tetap diperoleh dengan
membuat sendiri lebih tinggi dari harga pasar, maka harga perolehan dicatat
menurut harga pasar dan selisihnya diakui atau ditetapkan sebagai kerugian.
Biaya perolehan suatu aktiva yang konstruksi sendiri ditentukan menggunakan
prinsip yang sama seperti suatu aktiva yagng diperoleh.
Maksudnya jika suatu perusahaan membuat aktiva serupa untuk dijual
dalam keadaan usaha normal biaya perolehan akiva biasanya sama dengan biaya
memproduksi aktiva untuk dijual, karenanya setiap laba internal dieliminasikan
dalam menetapkan biaya tersebut. Demikian pula biaya dari jumlah yang
abnormal dari bahan baku yang tidak terpakai, tenaga kerja atau sumber daya lain
yang terjadi dalam memproduksi suatu aktiva yang dikonstruksi sendiri tidak
dimasukkan dalam biaya perolehan aktiva.
Ad.6. Perolehan karena hibah atau sumbangan
Pada suatu waktu tertentu perusahaan dapat memperoleh aktiva tetap
berupa hibah atau hadiah dari pemerintah atau badan-badan lainnya. Untuk
menerima hibah atau hadiah tersebut mungkin dikeluarkan biaya tapi biaya yang
dikeluarkan umumnya jauh lebih kecil dariharga perolehan aktiva tersebut.
Dengan demikian apabila aktiva dicatat sebesar biaya yang dikeluarkan maka hal
ini akan menyebabkan jumlah aktiva dan modal yang terlalu kecil. Proses
penetapan harga perolehan dan pencatatan aktiva tetap yang diterima dari
sumbangan dinyatakan dalam standar akuntansi keuangan sebagai berikut :
“Aktiva tetap yang diperoleh dari sumbangan harus dicatat sebesar harga taksiran
B.1. Pengeluaran – Pengeluaran Selama Pemakaian
Pengeluaran yang digunakan untuk reperasi dan perbaikan terhadap aktiva
yang rusak bertujuan untuk memperbaiki keadaan aktiva tetap tersebut.
Pengeluaran tersebut sifatnya ada yang menambah umur sehingga masa manfaat
yang diberikan lebih dari satu periode, tapi ada pula perbaikan yang dilakukan
hanya digunakan dalam periode yang berjalan dimana pengeluaran itu dilakukan.
Bila pengeluaran yang dilakukan bersifat menambah masa manfaat lebih dari satu
tahun maka pengeluaran tersebut digolongkan sebagai pengeluaran modal
(Capital Expenditure) dalam hal ini biaya yang keluar ditambahkan ke Cost aktiva
yang bersangkutan dengan cara mendebet perkiraan aktiva yang diperbaiki
tersebut sebesar biaya yang dikeluarkan atau dengan mengurangkan akumulasi
penyusutan aktiva yang bersangkutan sebesar nilai pengeluaran yang dilakukan,
sedangkan apabila pengeluaran itu dirasakan hanya untuk satu periode maka
digolongkan sebagai pengeluaran pendapatan (Revenue Expenditure) dimana
biaya tersebut menjadi biaya periode berjalan saat biaya itu dikeluarkan.
Bila dilihat prakteknya PT. Pelayaran Sinar Jaya, Tanjung Balai dalam
menentukan capital expenditure dan revenue expenditure ini sulit dilakukan. Hal
ini disebabkan karena dalam penentuan dan pengukuran masa manfaat pada saat
aktiva tetap tersebut telah selesai dilaksanakan tidaklah mudah. Maka dalam hal
ini untuk mempermudah dalam penentuan pengeluaran tersebut bias ditinjau
berdasarkan sering tidaknya pengeluaran dilakukan. Bila pengeluaran tersebut
secara rutin maka digolongkan sebagai revenue expenditure sementara bila
pengeluaran tersebut jarang dilakukan maka digolongkan sebagai capital
Bila ditinjatu dari PT. Pelayaran Sinar Jaya, Tanjung Balai menunjukkan
belum menentukan kebijakan mengenai pemisahan antara revenue expenditure
dan capital expenditure. Dalam hal ini perusahaan menganggap segala
pengeluaran merupakan biaya berjalan kedalam perkiraan biaya perusahaan.
Dalam penjurnalan terhadap pengeluaran yang dilakukan yaitu dengan cara
mendebet pengeluaran dan mengkredit biaya reparasi dan pemeliharaan, hal ini
mengakibatkan aktiva yang direperasi tidak mengalami perubahan baik masa
manfaatnya maupun penyusutannya sehigga dalam hal ini PT. Pelayaran Sinar
Jaya, Tanjung Balai dalam pencatatannya belum sesuai dengan Standar Akuntasi
Keuangan (SAK). Hal ini dapat kita lihat dari salah contoh yang diperoleh :
Pada awal Nopember 1999 dibeli sebuah mesin Foto Copy dengan harga
Rp. 50.000.000,- dengan taksiran masa manfaat 8 tahun. Pada tanggal 30 Oktober
2001 diadakan perbaikan / reperasi terhadap mesin foto copy tersebut dengan
biaya sebesar Rp. 6.500.000,- dan perbaikan ini mampu menambah umur mesin
selama 2 tahun lagi.
Maka :
Jurnal yang dilakukan perusahaan pada saat pembelian :
Mesin Foto Copy ... ….Rp.50.000.000,-
Kas………Rp.50.000.000,-
Jurnal perusahaan pada saat perbaikan adalah :
Biaya perbaikan mesin foto copy ... ….Rp. 6.500.000,-
Kas……….Rp.6.500.000,-
Berdasarkan cara pencatatan tersebut diatas maka dapat dilihat nilai buku Mesin
Jurnal penyusutan pada tanggal 31 Desember 2001 adalah :
Biaya penyusutan mesin foto copy ... ……Rp.6.500.000,-
Akuntansi penyusutan mesin foto copy……….Rp.6.500.000,-
( 12,5% x Rp. 50.000.000,- = Rp. 6.250.000,- )
Pencatatan yang dengan demikian tidak benar karena pengeluaran ini
mengakibatkan masa manfaat mesin foco copy bertambah sehingga harus dicatat
sebagai pengurangan perkiraan akumulasi penyusutan.
Mesin Foto Copy ... …..Rp. 6.50.000,-
Revenue/Expenditure………Rp. 6.500.000,-
Perhitungan nilai buku mesin foto copy sampai 30 Oktober 2001 adalah :
Harga perolehan mesin foto copy………...Rp.50.000.000,-
Akm. Penyusutan mesin foto copy sampai dengan 30 Okt 2001…
Nilai buku Mesin Foto Copy 30 Okt 2001 (sebelum diperbaiki)Rp.37.500.000- Rp.12.500.000,-
Pengeluaran untuk perbaikan mesin foto copy………
Nilai buku mesin foto copy 30 Okt 2001 (sesudah diperbaiki)…...Rp.44.000.000,- Rp .6.500.000,-
Maka penyusutan pertahun :
−
Jumlah penyusutan tanggal 31 Desember 2001 adalah :
−
B.2. Revenue Expenditure and Capital Expenditure
Setiap perusahaan didalam pelaksanaan kegiatannya pasti mengeluarkan
tersebut dikeluarkan bertujuan untuk memelihara aktiva tersebut agar aktiva dapat
bekerja seefisien mungkin dalam kegiatan operasinya dan memperpanjang masa
manfaat aktiva tetap serta memperbaiki aktiva tetap yang rusak.
Pengeluaran terhadap aktiva tersebut haruslah ada pemisahannnya yang
jelas antara pengeluaran modal (capital expenditure) dan pengeluaran pendapatan
(capital revenue). Pengeluaran-pengeluaran tersebut adalah :
1. Pengeluaran modal (capital expenditure)
Pengeluaran modal adalah pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan
dengan kepemilikan suatu aktiva tetap yang mempunyai masa manfaat lebih
dari satu periode akuntansi oleh karena itu harus dikapitalisasikan sebagian
dari harga perolehan aktiva tetap yang bersangkutan.
Perlakuan akuntan terhadap pengeluaran modal yang berhubungan dengan
aktiva tetap tersebut akan tergantung pada sifat manfaatnya yaitu :
1. a. Pengeluaran modal yang sifatnya menambah kapasitas aktiva tetap,
akan dikapitalisasi sebagai penambah harga pokok aktiva tetap yang
bersangkutan.
1.b Pengeluaran modal yang bersangkutan menambah umur ekonomis akan
dikapitalisasikan sebagai pengurang terhadap akumulasi penyusutan
aktiva tetap yang bersangkutan, yang secara akuntansi mendebet
rekening akumulasi penyusutan.
2. Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure)
Pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran untuk perbaikan dan perawatan
yang dapat diharapkan perusahaan untuk mempertahankan standar kinerja
semula atas suatu aktiva tetap diakui sebagai beban pada saat terjadi.
“Jika pengeluaran itu tidak menambah harga pokok dalam arti bahwa biaya itu
harus dibebankan kepekiraan laba rugi maka pengeluaran itu dianggap sebagai
pengeluaran pendapatan, sebaliknya jika pengeluaran itu menambah harga
pokok aktiva tetap yang bersangkutan, dalam arti pengeluaran itu
dikapitalisasi maka pengeluaran tersebut dianggap sebagai pengeluaran
modal”.
Bila ditinjau dari Standar Akuntansi Keuangan dijelaskan mengenai
pengeluaran yang ditetapkan.
1. Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aktiva tetap yang
memperpanjang masa manfaat atau kemungkinan besar memberikan masa
manfaat keekonomian dimasa yang akan datang dalam bentuk peningkatan
standar kinerja harus ditambahkan pada jumlah tercatat aktiva yang
bersangkutan.
2. Pengeluaran setelah perolehan pada properti, pabrik dan perakitan hanya
diakui sebagai suatu aktiva jika pengeluaran meningkatkan kondisi aktiva
melebihi standar kinerja semula. Contoh yang menghasilkan peningkatan
manfaat keekonomisan dimasa yang akan datang mencakup :
a. Modifikasi suatu prasarana pabrik untuk memperpanjang usia manfaat
termasuk suatu peningkatan kapasitas.
b. Peningkatan kemampuan mesin untuk mencapai peningkatan besar
dalam kualitas output.
c. Penerapan proses produksi baru yang memungkinkan suatu
3. Pengeluaran untuk perbaikan atau perawatan aktiva tetap untuk menjaga
manfaat keekonomian masa yang akan datang yang dapat diharapkan
perusahaan, untuk mempertahankan standar kinerja semula atas suatu
aktiva biasanya diakui sebagai beban saat terjadi. Contoh hanya biaya
pemeliharaan dan reparasi (servicing) atau turun mesin (over hauling)
pabrik dan peralatan biasanya merupakan beban, karena pemeliharaan,
dari pada meningkatan standar kinerja semula.
Dari uraian dan pengertian-pengertian diatas maka dapat diuraikan bahwa
pengeluaran modal dan pengeluaran pendapatan mempunyai ciri-ciri yang
berbeda yaitu :
1. Pengeluaran pendapatan (revenue expediture)
b. Memberikan masa manfaat hanya periode berjalan
c. Tidak meningkatkan kapasitas dan mutu produksi
d. Jumlahnya relatif kecil atau dibawah kapasitas
e. Bersifat rutin
2. Pengeluaran modal (capital expenditure)
a. Memberikan masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi
b. Dapat meningkatkan kapasitas dan mutu produksi
c. Jumlahnya relatif besar atau diatas batas kapasitas
d. Bukan pengeluaran rutin
Pengeluaran-pengeluaran yang berhubungan dengan penggunaan aktiva
tetap adalah :
Biaya yang dikeluarkan untuk memelihara aktiva tetap agar kondisi baik
disebut pemeliharaan. Sifat biaya ini biasanya berulang-ulang dan tak
menambah nilai aktiva. Pengeluaran ini dianggap sebagai pengeluaran
pendapatan (revenue expenditure).
2. Reparasi
Pengeluaran untuk memperbaiki aktiva dari kerusakan atau mengganti
alat-alat yang rusak sehingga dapat dipergunakan kembali disebut reparasi. Jika
pengeluaran ini sifatnya biasa dengan dimanfaatkan untuk periode berjalan
maka dianggap sebagai pengeluaran modal (capital expenditure).
3. Penambahan
Penambahan adalah memperbesar atau memperluas fasilitas yang dimiliki
suatu aktiva. Misalnya menambah bangunan baru, pengeluaran ini dianggap
sebagai capital expenditure.
4. Perbaikan
Penggantian komponen suatu aktiva dengan komponen lain dengan maksud
untuk memperoleh kegunaan yang lebih besar atau dapat meningkatkan
kapasitas dan jasa yang diberikan tersebut dengan perbaikan. Jika pengeluaran
ini sifatnya jarang dan jumlahnya relatif besar maka dianggap sebagai capital
expenditure apabila sifatnya sering maka digolongkan sebagai revenue expenditure.
C.1. Penyusutan Aktiva Tetap dan Pembebanannya
Aktiva tetap yang digunakan perusahaan dalam kegiatan operasinya
dengan masa manfaatnya. Untuk itu perlu diambil kebijakan yaitu pengalokasian
biaya aktiva tetap selama masa manfaat yang diberikannya. Pengalokasian biaya
ini disebut dengan penyusutan atau depresiasi.
Defenisi yang lazim diterima mengenai penyusutan (deprication) adalah :
“Bahwa penyusutan merupakan metode sistematis dan rasional untuk pengalokasian biaya keperiode-periode yang memberikan manfaat”. “Depresiasi adalah sebagian dari harga perolehan aktiva tetap yang sistematis dialokasikan menjadi biaya setiap periode akuntansi”.
“Depreciation ialah penggantian nilai prestasi yang hilang karena
penggunaan plant dan equipment, yang mengakibatkan berkurangnya nilai fixed assets yang bersangkutan adalah karena sebab-sebab teknis (kerusakan, keusangan, kehausan), dan karena sebab-sebab ekonomis (semakin tak seimbang antara revenue dan expenses).”
( Yogyakarta,Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bagian Penerbit Gajah
Mada,2001 )
Defenisi diatas menetapkan pada suatu alokasi biaya dari harga perolehan
terhadap hasil sebagai akibat penggunaan aktiva tetap itu sendiri. Biaya
penyusutan adalah biaya yang bukan keluar dari kas.
Penyusutan dilakukan sebab masa manfaat dari potensi aktiva tetap yang
dimiliki semakin berkurang. Pengurangan aktiva tersebut dibebankan sebagai
biaya yang berangsur-angsur atau proposional.
Aktiva tetap yang dapat disusutkan adalah aktiva yang :
a. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi
b. Memiliki suatu masa manfaat yang terbatas
c. Ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau
memasukkan barang atau jasa, untuk disewakan atau untuk tujuan
administrasi.
Untuk menentukan besarnya beban penyusutan pada setiap periode ada
1. Harga perolehan aktiva tetap
Harga perolehan aktiva tetap meliputi seluruh pengeluaran-pengeluaran untuk
mendapatkan aktiva tersebut sampai aktiva itu siap untuk digunakan dalam
kegiatan perusahaan.
2. Nilai Sisa (Nilai Residu)
Nilai sisa adalah jumlah yang diperkirakan dapat diterima kelak apabila aktiva
sudah tidak dipergunakan lagi. Nilai sisa ini dapat diperkirakan jumlahnya bila
aktiva itu dijual.
3. Masa manfaat nilai aktiva tetap
Masa manfaat dari suatu aktiva tetap dipergunakan dengan cara pemeliharaan
dan kebijakan-kebijakan yang dianut dalam reperasi.
Ada beberapa metode penyusutan yang lazim dipergunakan oleh perusahaan
yaitu:
1. Berdasarkan waktu
a. Metode garis lurus (straight-line method)
b. Metode pembebanan yang menurun
b.1 Metode jumlah angka tahun (sun of the years digit method)
b.2 Metode saldo menurun/saldo menurun ganda (declining/double
declining balance method)
2. Berdasarkan penggunaan
a. Metode jam jasa (service hours method)
b. Metod jumlah unit produksi (productive output method)
3. Berdasarkan kriteria lainnya
b. Metode anuitas (annuity method)
c. Sistem persediaan (inventory system)
Dibawah ini akan disajikan simbol-simbol yang digunakan untuk
memperjelas rumus-rumus yang digunakan dalam penyusutan aktiva tetap.
C = Harga perolehan aktiva tetap
S = Taksiran nilai sisa
D = Biaya penyusutan perperiode
N = Taksiran umum, dalam tahun, jam kerja dan unit produksi
T = Tarif penyusutan
I = Tingkat bunga
Ad.1 Berdasarkan waktu
a. Metode garis lurus (Straight-line method)
Dalam metode ini jumlah penyusutan setiap tahun jumlahnya sama dan
metode ini digunakan merupakan metode yang paling sederhana dan
banyak digunakan. Beban penyusutan untuk setiap periode adalah
sama (kecuali jika ada penyusutan). Beban penyusutan diperoleh
dengan cara mencari selisih antara harga perolehan dengan nilai sisa
dan dibagi dengan taksiran umur manfaat dari aktiva tersebut. Dengan
ilustrasi diatas maka penyusutan setiap tahun adalah :
D =
N S
C−
Contoh :
PT. Ana membeli mesin tanggal 1 Januari 2000 dengan harga Rp.
12.000.000,- umur ditaksir 4 tahun dengan nilai sisa Rp. 2.000.000,-.
D =
Maka beban penyusutan pertahun adalah Rp. 2.500.000,- jika disusun dalam
bentuk tabel maka perhitungan adalah sebagai berikut :
TABEL 2.1 PT. ANA PERIODE 4 TAHUN
PENYUSUTAN METODE GARIS LURUS Akhir
Tahun Penyusutan
Total Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
12.000.000
1 2.500.000 2.500.000 9.500.000
2 2.500.000 5.000.000 7.000.000
3 2.500.000 7.500.000 4.500.000
4 2.500.000 10.000.000 2.000.000
b. Metode pembebanan yang menurun
b.1 Metode jumlah angka tahun (sun of the years digit method)
Metode ini menetapkan beban penyusutan dengan mengalikan bagian
pengurangan yang setiap tahunnya selalu menurun dengan perolehan
dikurangi nilai residu.
Bagian pengurangan ini dihitung sebagai berikut :
Pembilang : Angka bobot tahun yang bersangkutan
Penyebut : Jumlah angka tahun selama umur ekonomis aktiva tetap
Sesuai dengan contoh 1 diatas penyusutan dapat dihitung sebagai berikut:
Pembilang : 4, 3, 2,1
TABEL 2.2 PT. ANA PERIODE 6 TAHUN
PENYUSUTAN METODE JUMLAH ANGKA TAHUN Akhir
Tahun ke
Biaya Penyusutan
Total Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
12.000.000
b.2 * Metode Saldo Menurun (declining balance method)
Metode ini juga mempunyai beban penyusutan yang semakin menurun.
Dalam metode ini beban penyusutan periode dihitung dengan mengalihkan suatu
persentase tertentu dengan nilai beban aktiva tetap. Rumus untuk menghitung
besar biaya persentase adalah sebagai berikut :
r = 1 - n C S /
Dari contoh diatas, maka
TABEL 2.3 PT. ANA PERIODE 4 TAHUN
PENYUSUTAN SALDO MENURUN Akhir
Tahun Penyusutan
Total Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
12.000.000
1 4.333.200 4.333.200 7.666.800
2 2.768.481,48 7.101.681,48 4.898.318,52
3 1.768.782,818 8.870.464,298 3.129.636,702
4 1.130.075,342 10.000.539,64 1.999.460,36
* Metode Saldo Menurun Ganda
Metode ini menetapkan bahwa tariff penyusutan untuk aktiva tetap adalah dua
kali persentase metode garis lurus.
Dari contoh diatas, maka persentase penyusutan tersebut adalah :
2 x PERIODE 4 TAHUN
METODE PENYUSUTAN SALDO MENURUN GANDA Akhir
Tahun Penyusutan
Total Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
Ad.2 Berdasarkan Penggunaan
a. Metode Jam Jasa (Service Hours Method)
Berdasarkan metode ini jumlah penyusutan dihitung berdasarkan jam
kerja aktiva yang dipergunakan selama operasi perusahaan.
Sedangkan beban penyusutan dihitung sesuai dengan penggunaan jam
kerja aktiva tersebut yang dipakai dalam berproduksi. Jadi beban
penyusutan tiap periode kemungkinan tidak sama besarnya. Hal ini
terjadi karena jam penggunaan aktiva tetap tersebut tidak sama setiap
tahunnya.
Pada bulan Januari PT. ANA membeli sebuah sebuah mesin dengan
harga perolehan Rp. 1.000.000,- nilai residu ditaksir Rp. 100.000,- dan jam kerja
aktiva tetap itu dimisalkan 300.000 jam. Maka penyusutan perjam adalah :
T =
Jika seandainya pada tahun pertama aktiva itu bekerja selama 60.000 jam
maka beban penyusutannya adalah :
D = T x 60.000
= 3 x 60.000
TABEL 2.5 PT. ANA PERIODE 4 TAHUN
PENYUSUTAN METODE JAM JASA Akhir
Tahun Jasa Jam Penyusutan
Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
1.000.000
1 60.000 180.000 180.000 820.000
2 80.000 240.000 420.000 580.000
3 90.000 270.000 690.000 310.000
4 70.000 210.000 900.000 100.000
b. Metode Jumlah Unit Produksi
Metode ini pada dasarnya hampir sama dengan metode jam jasa. Dalam
metode ini juga ditentukan dahulu tariff penyusutan perunit produksi.
Rumus untuk mencari tarif sama dengan rumus untuk metode jam jasa
hanya dalam metode ini adalah banyaknya buku jumlah out put yang dapat
dihasilkan aktiva tetap tersebut.
Contoh :
Berdasarkan contoh jam jasa diatas, dimisalkan mesin tersebut mampu
berproduksi sebanyak 400.000 out put, maka besarnya penyusutan perunit dapat
dihitung sebagai berikut :
Jika pada tahun pertama diproduksi sebanyak 100.000 unit, maka besarnya
penyusunan adalah sebagai berikut :
D = T x 100.000
= 2,25 / Jam x 100.000
= Rp. 225.000,- / unit
TABEL 2.3 PT. ANA PERIODE 4 TAHUN
METODE PENYUSUTAN JUMLAH PRODUKSI Akhir
Tahun Out Put Penyusutan
Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
1.000.000
1 10.000 225.000 225.000 775.000
2 120.000 270.000 495.000 505.000
3 90.000 202.500 697.500 302.000
4 90.000 202.500 900.000 100.000
Ad. 3. Metode Penyusutan Berdasarkan Kriteria Lainnya.
a. Dengan cara ini semua aktiva tetap dikelompokkan atas kesamaan jenis
sifat dan manfaatnya. Dalam menentukan besarnya penyusutan setiap
priode maka terlebih dahulu dicari umur rata-rata aktiva tetap tersebut.
Metode ini merupakan metode garis lurus yang diperhitungkan terhadap
sekelompok aktiva tetap.
Contoh :
4 unit aktiva dibeli yang umur ekonomisnya 4 tahun. Aktiva dibeli dengan
pengeluaran sebesar Rp. 1.000.000,- atau astu unit aktiva sebesar Rp. 250.000,-
% 25 4
% 100
=
b. Metode Anuitan (Annuity Method)
Untuk menghitung besarnya beban penyusutan dengan metode anuitas
yang diperhitungkan bukan saja harga perolehan dari aktiva tetap tersebut
tetapi juga termasuk besarnya suku bunga yang berlaku atas modal yang
terikat pada aktiva tersebut. Jumlah kembalinya investasi setiap tahun
dalam aktiva tetap diasumsikan sebagai biaya penyusutan, sedangkan
biaya penyusutan dikreditkan sebesar pengambilan dari investasi,
selisihnya dikreditkan sebagai pendapatan bunga.
C.2. Metode Penyusutan Aktiva Tetap PT.SINAR JAYA ABADI
Diakhir tahun periode akuntansi pengalokasian harga perolehan aktiva
tetap sangat diperlukan untuk taksiran umur ekonomis aktiva tetap. Untuk
menghitung besarnya penyusutan pada tiap periode akuntasi diperlukan adanya
suatu pertimbangan yang sebaik-baiknya dalam menentukan metode penilaian
penyusutan dan taksiran masa manfaat dari pada aktiva dapat tersebut.
Untuk penentuan jumlah penyusutan setiap aktiva tetap harus memenuhi
kriteria berikut :
a. Masa manfaat (Umur Ekonomis)
b. Harga perolehan
c. Nilai sisa (Nilai Residu)
Bila ditinjau pada PT. Pelayaran Sinar Jaya, Tanjung Balai maka metode
penyusutan yang digunakan adalah garus lurus yang ditetapkan secara konsisten
pada harga perolehan tanpa memperhitungkan nilai sisa atau nilai sisanya nol.
Berdasarkan analisa penulis ini sudah baik karena telah sesuai dengan Standar
Akuntasi Keuangan.
C.3. Penyajian Aktiva Tetap Dalam Neraca
Penyajian yang baik dan sistimatis serta pengungkapan yang lengkap
mengenai aktiva tetap dalam laporan keuangan akan memudahkan manajemen
dan pihak yang memerlukan untuk mendapatkan informasi tentan gaktiva tetap
perusahaan.
Dalam penyajian Aktiva tetap dalam neraca perusahaan pada dasarnya
sudah benar. Hanya saja nilai aktiva tetap yang disajikan dalam neraca tersebut
belum menunjukkan nilai yang wajar. Hal ini disebabkan oleh belum jelasnya
perusahaan dalam menentukan antara pengeluaran modal dengan pengeluaran
pendapatan. Dalam hal ini aktiva yang disajikan itu lebih rendah dari yang
seharusnya.
Seperti contoh mesin foto copy diatas dimana perusahaan menyusutkan
mesin foto copy peraturan adalah :
tahun
Hal ini perusahaan tidak memperhitungkan pengeluaran yang terjadi untuk
perbaikan mesin foto copy walapun perbaikan tersebut menambah umur aktiva
lebih dari satu proiode akuntansi yaitu selama 2 tahun. Sementera jumlah
penyusutannya menjadi :
Disini terdapat selisih Rp. 6.250.000,- - Rp. 5.500.000,- = Rp. 750.000,-/tahun.
Bila dilihat dalam penyajiannya dineraca aktiva tersebut menjadi rendah
akibat dari jumlah yang disusutkan terlalu besar. Pada dasarnya untuk menyusun
neraca yang baik harus memenuhi syarat-syarat : bentuk yang dipergunakan,
pengelompokan perkiraan-perkiraan dengan susunan yang sistimatis, dan masalah
istilah yang digunakan.
Akumulasi penyusutan dalam neraca harus berfungsi sebagai perkiraan
dari aktiva tetap sehingga nilai bukunya terletak disebelah debet neraca. Apabila
akumulasi penyusutan ditempatkan disebelah kredit neraca, maka total aktiva,
hutang, modal tidak menunjukkan hal yang sebenarnya, sehingga dapat dikatakan
bahwa neraca tersebut tidak memberikan informasi yang baik, kalau hal ini
dilakukan maka nilai buku aktiva tetap tidak nampak dalam neraca sebelah aktiva
sehingga mengakibatkan sisi aktiva debet terlalu tinggi. Berikut ini disajikan
sebuah contoh penyajian aktiva tetap pada neraca perusahaan.
kriteria berikut :
d. Masa manfaat (Umur Ekonomis)
e. Harga perolehan
f. Nilai sisa (Nilai Residu)
Bila ditinjau pada PT. Pelayaran Sinar Jaya, Tanjung Balai maka metode
penyusutan yang digunakan adalah garus lurus yang ditetapkan secara konsisten
pada harga perolehan tanpa memperhitungkan nilai sisa atau nilai sisanya nol.
Berdasarkan analisa penulis ini sudah baik karena telah sesuai dengan Standar
Akuntasi Keuangan.
IV.4. Penyajian Aktiva Tetap Dalam Neraca
Penyajian yang baik dan sistimatis serta pengungkapan yang lengkap
mengenai aktiva tetap dalam laporan keuangan akan memudahkan manajemen
dan pihak yang memerlukan untuk mendapatkan informasi tentan gaktiva tetap
perusahaan.
Dalam penyajian Aktiva tetap dalam neraca perusahaan pada dasarnya
sudah benar. Hanya saja nilai aktiva tetap yang disajikan dalam neraca tersebut
belum menunjukkan nilai yang wajar. Hal ini disebabkan oleh belum jelasnya
perusahaan dalam menentukan antara pengeluaran modal dengan pengeluaran
pendapatan. Dalam hal ini aktiva yang disajikan itu lebih rendah dari yang
seharusnya.
Seperti contoh mesin foto copy diatas dimana perusahaan menyusutkan
mesin foto copy peraturan adalah :
tahun
Hal ini perusahaan tidak memperhitungkan pengeluaran yang terjadi
untuk perbaikan mesin foto copy walapun perbaikan tersebut menambah umur
aktiva lebih dari satu periode akuntansi yaitu selama 2 tahun. Sementera jumlah
penyusutannya menjadi :
Disini terdapat selisih Rp. 6.250.000,- - Rp. 5.500.000,- = Rp. 750.000,-/tahun.
Bila dilihat dalam penyajiannya dineraca aktiva tersebut menjadi rendah
akibat dari jumlah yang disusutkan terlalu besar. Pada dasarnya untuk menyusun
neraca yang baik harus memenuhi syarat-syarat : bentuk yang dipergunakan,
pengelompokan perkiraan-perkiraan dengan susunan yang sistimatis, dan masalah
istilah yang digunakan.
Akumulasi penyusutan dalam neraca harus berfungsi sebagai perkiraan
dari aktiva tetap sehingga nilai bukunya terletak disebelah debet neraca. Apabila
akumulasi penyusutan ditempatkan disebelah kredit neraca, maka total aktiva,
hutang, modal tidak menunjukkan hal yang sebenarnya, sehingga dapat dikatakan
bahwa neraca tersebut tidak memberikan informasi yang baik, kalau hal ini
dilakukan maka nilai buku aktiva tetap tidak nampak dalam neraca sebelah aktiva
sehingga mengakibatkan sisi aktiva debet terlalu tinggi. Berikut ini disajikan