• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN EVALUASI

B. Analisis Dan Evaluasi MVA

3. Analisis Dan Evaluasi MVA Pada PT.Perusahaan Gas Negara Tbk

Berikut ini adalah tabel hasil perhitungan MVA pada PT.Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) setelah terlebih dahulu mengolah data yang ada untuk periode 2003-2006.

Tabel 4.15

Sahala Ian Patra Napitupulu : Analisis Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Metode Economic Value Added (EVA)..., 2006 Periode 2003-2006

(Juta Rp)

NO Komponen 2003 2004 2005 2006

1 Nilai pasar dari ekuitas

6.697.529,85 8.318.067,58 30.953.088,15 52.265.125,94 2 Nilai pasar dari utang 5.350.992 7.299.889 7.554.874 8.466.537

3 Bunga Minoritas 445.479 562.203 694.154 608.243

4 Total Nilai Pasar

(1 + 2 + 3) 12.494.000,85 16.180.159,58 39.202.116,15 61.339.905,94 5 Modal Yang Diinvestasikan 8.666.602 10.477.500 11.753.175 13.627.633 6 MVA (4 x 5) 3.827.398,85 5.702.659,58 27.448.941,15 47.712.272,94 (Sumber : Laporan Keuangan PGAS) (Diolah)

Keterangan : Nilai pasar dari ekuitas = (Harga saham akhir tahun buku perusahaan x Jumlah saham yang beredar pada periode tersebut)

PT.Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) masuk menjadi anggota Bursa Efek jakarta (BEJ) sejak tanggal 15 Desember 2003, namun pihak manajemen telah mampu untuk menciptakan nilai MVA PGAS untuk tahun 2003 sebesar Rp3.827.398.000.000 dan hal ini menunjukkan bahwa ekspetasi pasar terhadap saham PGAS cukup besar. Jumlah saham PGAS yang beredar di tahun 2003 memang cukup besar yakni 4.320.987.000 lembar saham dengan harga jual masih Rp1550 per lembar saham dan dengan harga saham yang masih rendah membuat nilai pasar dari ekuitas yang terbentuk tidak terlalu besar. Nilai utang dari PGAS memberikan andil sampai sebesar 40% dari nilai pasar sehingga masih menjadi salah satu pendorong utama dari pembentukan nilai MVA. Modal yang diinvestasikan PGAS sendiri yang jumlahnya mencapai Rp8.666.602.000.000 masih cukup besar untuk mengurangi nilai tambah pasar yang dibentuk.

Tahun 2004 menjadi tahun kedua PGAS dalam usaha menciptakan nilai tambah pasar (MVA) dimana manajemen telah mampu untuk meningkatkan nilai MVA menjadi sebesar Rp5.705.659.580.000. Kenaikan ini sendiri dipicu oleh naiknya harga saham menjadi Rp1900 atau naik Rp 350 dibandingkan tahun 2003 karena jumlah saham PGAS yang beredar tidak mengalami perubahan yang berarti, walaupun kenaikan nilai pasar tahun 2004 sangat

Sahala Ian Patra Napitupulu : Analisis Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Metode Economic Value Added (EVA)..., 2006 dipengaruhi oleh kenaikan nilai ekuitas tapi kenaikan nilai utang dan bunga minoritas juga membantu meningkatkan nilai MVA karena kenaikan modal yang diinvestasikan bahkan masih lebih rendah daripada kenaikan nilai utang.

Nilai MVA PGAS meningkat lagi ditahun 2005, bahkan kenaikannya mencapai Rp21.746.281.570.000 atau mencapai lima kali lipat dari tahun 2004. Harga saham PGAS yang meningkat tajam kembali menjadi pemicu kenaikan nilai MVA tersebut. Harga saham PGAS di tahun 2005 adalah senilai Rp6900 atau naik lebih dari tiga kali lipat sehingga kenaikan nilai MVA juga cukup besar, sedangkan nilai utang dan bunga minoritas sendiri tidak terlalu membantu dalam meningkatkan nilai pasar karena kedua komponen ini hanya mengalami peningkatan yang sangat kecil dan hal yang sama juga terjadi untuk modal yang diinvestasikan sehingga tidak terlalu mempengaruhi peningkatan nilai MVA.

Tahun 2006, sama seperti ASII dan ANTM, merupakan periode dimana PGAS mampu membukukan nilai MVA terbesar. Nilai MVA PGAS mencapai Rp47.712.272.940.000 atau naik dua kali lipat dibandingkan tahun 2005. Harga saham juga mencapai rekor tertingginya (selama periode penelitian) yakni mencapai Rp11.600 dan kembali hal ini menjadi pendorong utama dari peningkatan nilai MVA yang terjadi karena jumlah saham yang beredar tetap jumlahnya.

Analisis dan evaluasi nilai MVA dari Tiga Emiten Terbaik 2006 Versi Majalah Investor yakni ASII, ANTM dan PGAS memperlihatkan bahwa selama periode penelitian tahun 2003-2006 ketiga emiten terbaik tersebut selalu mampu untuk menciptakan dan meningkatkan nilai MVA perusahaannya hanya nilai MVA ASII yang pernah mengalami penurunan di tahun 2005. Hal yang cukup mengejutkan yang terjadi selama periode penelitian tahun 2003-2006 adalah bahwa nilai terbesar MVA yang dapat diciptakan kepada shareholder justru diciptakan oleh PGAS yang notabene merupakan perusahaan yang tidak sebesar ASII.

Perhitungan yang telah dilakukan untuk memperoleh nilai EVA dan MVA pada ke tiga emiten terbaik 2006 selama periode 2003-2006 akan diringkaskan pada tabel 4.16 berikut :

Sahala Ian Patra Napitupulu : Analisis Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Metode Economic Value Added (EVA)..., 2006 Tabel 4.16

Nilai EVA dan MVA pada Tiga Emiten Terbaik 2006 versi Majalah Investor untuk periode 2003-2006.

( Ribu Rp)

Tahun ASII ANTM PGAS EVA MVA EVA MVA EVA MVA 2003 6.703.114.059 10.254.583.000 192.441.090 1.889.389.000 836.540.164 3.827.398.850

2004 5.902.813.710 25.610.161.000 1.318.459.967 813.161.000 936.336.737,4 5.702.659.580

2005 4.387.128.767 24.672.063.000 1.072.056.558 3.791.460.000 1.734.127.730 27.448.941.150

2006 1.664.758.788 45.232.914.000 1.585.864.988 10.982.401.000 2.636.310.682 47.712.272.940 Tabel 4.16 menunjukkan bahwa nilai EVA dan nilai MVA untuk ASII mengalami volatilitas yang berbeda dari tahun ke tahun selama periode penelitian, terlihat bahwa nilai EVA ASII selalu mengalami penurunan dari tahun ke tahun (selama periode penelitian ), berbanding terbalik dengan nilai MVA yang selalu meningkat kecuali ditahun 2005. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja internal ASII yang tidak terlalu baik (tergambar dari nilai EVA) ternyata tidak terlalu berdampak terhadap keinginan besar investor untuk menanamkan modalnya pada ASII terlihat dari nilai MVA yang selalu meningkat. Harga saham ASII sendiri tetap meningkat dan terjaga karena besarnya daya tarik saham ASII pada pemodal publik dan kemungkinan hal ini disebabkan oleh nama besar ASII. Nilai EVA sendiri mengalami penurunan disebabkan karena penurunan penjualan ASII akibat dari naiknya BBM yang menyebabkan terjadinya inflasi sehingga suku bunga juga meningkat sehingga penjualan kredit menurun tajam, padahal 70% pendapatan dari ASII adalah berasal dari penjualan melalui kredit.

ANTM sendiri juga memiliki nilai EVA dan MVA yang mengalami volatilitas yang berbeda, terlihat dari nilai EVA dan MVA di tahun 2004 dan 2005. Tahun 2004 nilai EVA ANTM mengalami peningkatan namun sebaliknya dengan nilai MVA yang malah mengalami penurunan, demikian juga ditahun 2005 pada saat nilai MVA yang mengalami peningkatan, nilai EVA malah menurun. Hal ini menunjukkan kinerja internal ANTM (selama periode penelitian) tidak terlalu mempengaruhi pada tindakan pemodal publik untuk membeli atau menjual saham

Sahala Ian Patra Napitupulu : Analisis Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Metode Economic Value Added (EVA)..., 2006 ANTM yang beredar. Volatilitas nilai EVA ANTM disebabkan karena harga produk ANTM yang memiliki volatile yang sangat tinggi seperti nikel dan emas.

PGAS menjadi satu-satunya emiten, dari ketiga emiten terbaik 2006, yang memiliki nilai EVA dan MVA yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kenaikan nilai EVA PGAS selalu diikuti juga dengan peningkatan nilai MVA dan hal ini terjadi setiap tahun (selama periode penelitian). Hal ini menunjukkan bahwa pemodal publik masih sangat terpengaruh terhadap kinerja internal PGAS dalam mentransaksikan saham PGAS. Kinerja internal yang terus membaik membuat nilai MVA semakin meningkat dan hal ini mencerminkan bahwa harga saham terus meningkat. Harga saham yang mengalami peningkatan yang sangat cepat membuat PGAS menjadi pencipta nilai MVA tertinggi selama periode penelitian.

Investor memang wajar sangat bergantung kepada kinerja internal PGAS dalam mentransaksikan saham PGAS karena PGAS sendiri merupakan perusahaan yang masih tergolong baru dalam bursa efek. Keadaan ini membuat Investor hanya sangat sedikit memiliki gambaran mengenai saham PGAS, berbeda dengan ASII dan ANTM, dimana investor telah memiliki banyak informasi mengenai ASII dan ANTM yang telah lama menjadi anggota bursa. Investor sendiri harus dapat menganalisa kecemerlangan kinerja internal PGAS yang sangat terbantu oleh menguatnya nilai tukar rupiah.

Sahala Ian Patra Napitupulu : Analisis Kinerja Keuangan Dengan Menggunakan Metode Economic Value Added (EVA)..., 2006 BAB V

Dokumen terkait