• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Pembahasan

4.2.1. Analisis dan Interpretasi

Berdasarkan hasil deskripsi lingkungan internal dan eksternal pada industri pembuatan gula Aren tersebut diatas, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis dan intepretasi. Tabel dibawah ini menunjukkan proses dan intepretasi hasil yang sudah dilakukan,

Tabel 4. 1. Analisis Lingkungan Internal – Kekuatan

No Faktor Strategis –

Kekuatan Keterangan

1. Produk yang unggul

“kalau di Kecamatan Limbangan sendiri gula Aren sudah termasuk menjadi produk unggulan dan terkenal dari Kabupaten Kendal, selain merupakan produk yang alami dan berkualitas tinggi, Dan kebetulan jika ada Kendal Expo atau pameran lainnya di Kendal pasti selalu diikutkan dan pasti laris terjual. Baik produk gula Aren murni maupun gula semut” (Ibu Nafisah-Kantor Kecamatan Limbangan).

2.

Keahlian dan keterampilan yang sangat matang

“saya menjalankan industri ini sudah dari kecil, dari tamat sekolah, ya kurang lebih sekitar 15 tahun” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“saya mengolah Aren jadi gula jawa sudah Berapa tahun ya? Sekitar 30tahunan lebih lah pokoknya” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“industri ini saya jalankan sudah dari dulu mas, lebih dari 20 tahun yang lalu” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“saya menjalankan industri pembuatan gula Aren ini kira-kira ya, seingat saya sekitar tahun 1995 – 1997, tahun 1997 sudah berjalan rutin” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

“sudah 25 tahun mas saya menjalankan industri ini, wong saya itu pas masih SMA, pagi sekali saya sudah nderes (nyadap nira Aren), dulunya untuk membantu pekerjaan orang tua” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong). “saya membuat dan menjual gula Aren ini sudah sejak lama, kurang lebih 10 tahun” (Ibu Sutarni-Pengrajin Gula Aren, Dsn. Nglimut, Desa Gonoharjo).

3.

Keahlian yang diperoleh secara turun-temurun

“sudah dari dulu orang tua saya mengajari membuat gula Aren” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“keahlian saya dalam industri ini saya peroleh secara turun-temurun dari ibu saya dulu” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“keahlian saya diperoleh dari orang tua saya sendiri dan dari tetangga-tetangga saya, dulu saya mengikuti saja” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong). “keahlian ini sudah sejak lama, turun-temurun mas” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong). “ini keahlian saya sendiri yang saya dapatkan secara turun-temurun dari ibu saya dulu yang banyak mengajari saya” (Ibu Sutarni-Pengrajin Gula Aren, Dsn. Nglimut, Desa Gonoharjo).

4. SDM Anggota keluarga sendiri

“prosesnya dikerjakan sendiri dengan bapaknya, 2 orang, saya dan suami saya” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“semuanya dikerjakan sendiri dengan anak-anak, totalnya ada 3 orang, yang ngerjain 2 orang dan yang nderes (nyadap air nira) 1 orang bapaknya” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

73

“tidak ada karyawan dikerjakan, semuanya dikerjakan sendiri, hanya saya dan bapak, sama simbah bantu pas mengolah saja” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong). “semua saya kerjakan sendiri, tidak punya karyawan, hanya 2 orang saja” (Ibu Sutarni-Pengrajin Gula Aren, Dsn. Nglimut, Desa Gonoharjo).

5. Bahan baku milik sendiri

“asal bahan baku ya dari pohon Aren di hutan, pohon Aren saya sendiri. Untuk proses pembuatannya ya cairan dari pohon diturunkan, dibawa pulang, terus dituangkan ditempat masak, pakai kayu bakar, prosesnya 4-5 jam atau setengah hari” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron). “asal bahan baku dari pohon sendiri dan dari pohon tetangga, bergiliran, 2 hari sekali, 2 hari sekali ke yang punya dan 2 hari sekali ke saya. Untuk prosesnya sama dengan pengrajin gula Aren lainnya, niranya diambil dan diolah pakai perapian kayu bakar” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“yang gula Aren asli itu benar-benar dari air nira pohon Aren asli, untuk pohon Arennya kami punya sendiri dan ada yang beli dari petani lain. Untuk pengolahannya tinggal dimasak saja selama seharian, dari bentuknya cair sampai mengental dan siap dituangkan ke cetakan” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

“bahan bakunya dari pohon Aren mas, punya saya sendiri. Kalau proses pembuatannya itu dari air yang disadap itu langsung diolah atau dimasak, untuk waktunya tergantung sedikit/banyaknya nira yang didapatkan” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

“pohon Aren punya saya sendiri, prosesnya setelah nira diambil dari pohonnya, kemudian direbus 1 hari tergantung banyak sedikitnya nira Aren” (Ibu Sutarni-Pengrajin Gula Aren, Dsn. Nglimut, Desa Gonoharjo).

6. Bahan baku mudah

didapatkan SAMA DENGAN POINT NO. 5

7. Produk yang unik dan khas

“hasil produksi perhari, kalau diambil rata-rata sebanyak 10kilo. Kadang juga bisa lebih dan bisa kurang juga. Untuk keunikannya ungkin rasanya ya, beda dengan gula kelapa. Gula kelapa kan cenderung ke rasa asin, kalu gula Aren kan benar-benar manis” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“kalau sekarang baru sedikit mas, paling 4 kilonan. Kalau pas banyak bisa 10 kilo, ini pas kebetulan sedikit, kadang-kadang tidak mesti. Kalau Unik dan khasnya gula Aren itu rasanya yang manis, banya manfaatnyam misalnya buat bumbu masak dan sebagai pelengkap rempah” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“saya ada produk murni gula Aren dan produk campuran, kalau yang produk murni Gula Aren hasilnya saya sedikit gak sampai 10 kilo. Khasnya, kalau yang saya rasakan, gula Aren yang asli itu manisnya manis lerr, lewat tenggorokan juga lerr gitu, halus karena alam” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa

Ngesrepbalong).

8. Produk banyak manfaat

“pokoknya tergantung banyak / sedikitnya nira Aren yang diperoleh. Kalau seperti ini sekitar 13 – 15 kilo, tapi kalau rata-rata ya dihitung 10kg saja. Kalau keunikan dan khasnya ya itu katanya mempunyai rasa manis yang berbeda dengan gula merah dan gula campuran. Bisa untuk pengobatan, bisa menurunkan dan menstabilkan kadar gula buat penderita diabetes. Orang Semarang yang punya kebun jati sering ambil kesini, untuk mengambil air niranya yang katanya bisa menurunkan kadar gula ditubuh” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

“manfaatnya juga banyak, pertama untuk mengembalikan stamina atau pemulihan tenaga, misalnya anda terlalu capek terus anda konsumsi gula Aren inshaAllah staminanya akan kembali. Bisa juga sebagai pengganti atau substitusi gula pasir, intinya pengganti gula pasir, apabila ada konsumen yang mempunyai penyakit diabetes dan otomatis takut minum dengan gula pasir bisa digantikan dengan alternatif produk gula Aren, misalnya pada saat mereka minum kopi & teh. Dan itu akan mendapatkan rasa yang khas dan unik” (Ibu Sawinah-PKU UKM Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“gula Aren yang asli itu benar-benar manis, cocok kalau buat bumbu masakan dan olahan masakan tradisional, berbeda dengan gula kelapa yang rasanya cenderung lebih asin” (Ibu Harini-Tengkulak Gula Aren).

9. Penjualan produk mudah

Mayoritas pengrajin gula Aren disini menjual produk gula Arennya melalui pengepul atau biasa disebut tengkulak. Pengrajin sendiri tidak pernah menjual dan terjun langsung ke pasar-pasar atau menjual langsung kepada konsumen yang membutuhkan.

10.

Adanya inovasi dan pengembangan produk

“ada pengembangan produknya mas, bukan cuman gula Aren, kadang ada pembuatan gula semut, bandrek, ya macam-macam itu” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

75

“pengembangan gula Aren itu ya saat ini dirubah menjadi gula semut, dan minuman bandrek” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“beberapa waktu terakhir memang ada pelatihan secara khusus dari Gula Aren menjadi Gula Aren untuk pengembangan produknya” (Ibu Nafisah-Kantor Kecamatan Limbangan). “saat ini lebih dikembangkan menjadi gula semut mas” (Bp. Wiwid Bekti & Bp. Heri Kusnandar – Disperindagkop & UMKM) 11. Hubungan dan kekeluargaan sesama pengrajin dan tengkulak

“kerjasama ya yang tadi, saya kerjasama dengan tetangga saya bergiliran pohon Aren 2hari sekali” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

“disini ada kelompok taninya mas, walaupun untuk pengerjaan di rumah masing-masing, tapi saya koordinasikan setiap bulan untuk sering mengadakan pertemuan/arisan” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

“saya mendatangi sendiri ke rumah-rumah yang menjalankan industri gula Aren. Tidak pernah ada pengrajin yang datang langsung ke rumah saya. Jumlanya sekitar 10 orang lebih. Saya sudah percaya dan kerjasama kepada mereka, jadi saya tidak ada kekhawatiran yang besar” (Ibu Harini-Tengkulak Gula Aren).

“kerjasama ya yang tadi, saya kerjasama dengan tetangga saya bergiliran pohon Aren 2hari sekali” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

“yang pertama memang kita mengelola dengan hasil produksi kita sendiri, kalau memang hasilnya kurang untuk targetnya kita kan tetap harus ngepul ke sesama teman kelompok pengrajin. Ada hubungan kekeluargaan, saya koordinasikan disini ada 25 orang, saya bagi menjadi 5 kelompok, berarti 1 kelompoknya ada 5 orang. Makanya kalau kadang-kadang kita kekurangan bahan, sedangkan untuk permintaan barang tinggi, otomatis kita sudah ada yang tim yang bisa saling mendukung satu sama lain” (Ibu Sawinah-PKU UKM Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

Berdasarkan tabel 4.1, maka faktor-faktor strategi internal (kekuatan) pada industri kecil pengrajin gula Aren di wilayah Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

Tabel 4. 2. Daftar Faktor Strategis Internal – Kekuatan No. Faktor Strategis Internal – Kekuatan

1 Produk yang unggul

2 Keahlian dan keterampilan yang sangat matang 3 Keahlian yang diperoleh secara turun-temurun 4 SDM anggota keluarga sendiri

5 Bahan baku milik sendiri 6 Bahan baku mudah didapatkan 7 Produk yang unik dan khas 8 Produk banyak manfaat 9 Penjualan produk mudah

10 Adanya inovasi dan pengembangan produk

11 Hubungan dan kekeluargaan sesama pengrajin dan tengkulak

Faktor Strategis Internal kekuatan tersebut diatas dapat dijadikan sebagai Faktor Kunci Keberhasilan (FKK) dalam membuat perumusan strategi pengembangan pada industri gula Aren di Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Dikarenakan faktor kekuatan tersebut diperoleh dari lingkungan internal perusahaan/organisasi itu sendiri, meliputi sumber daya dan kompetensi paling penting. Faktor kunci keberhasilan diharapkan mampu untuk menangkap dan memanfaatkan peluang yang ada, serta mampu meminimalisir kelemahan dan ancaman.

Pembahasan selanjutnya terkait faktor strategi internal (kelemahan) pada industri kecil pengrajin gula Aren di wilayah Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

77

Tabel 4. 3. Analisis Lingkungan Internal – Kelemahan

No Faktor Strategis –

Kelemahan Keterangan

1. Tidak ada modal

“tidak ada modal yang saya gunakan dalam membuka usaha ini, berjalan seperti biasa lah. Kalai keuangan saya mengikuti kebutuhan sehari-hari, kebanyakan buat nyumbang kalo seperti ini (kondangan)” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“ndak ada modal dalam betuk uang, hanya modal tenaga saja dan usaha sendiri. Untuk keuangan Dikelola buat kebutuhan sehari-hari, mengalir saja” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“modal pertama, mengalir saja sesuai nira Aren yang diperoleh setiap harinya, kalau hasilnya banyak ya banyak, kalau hasilnya sedikit kan juga sedikit, kadang-kadang mas pokoknya. Untuk keuangannya hanya digunakan kebutuhan sehari-hari, susah buat nabung, banyak buat setoran dan banyak tanggungan yang lain” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“modal yang digunakan untuk membeli pohon Arennya, tidak terhitung untuk nominalnya, dan tidak ada pengelolaan keuangan, bergulir untuk kebutuhan sehari-hari” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong). “kalau dari PEMDA memang tidak ada bantuan modal berupa uang maupun peralatan penunjang. Yang kami berikan lebih banyak ke pelatihan pengembangan” (Bp. Wiwid Bekti-Dinas Koperasi & UMKM).

“kalau dari kita tidak ada bantuan modal mas, karena dari PEMDA sendiri untuk tahun-tahun tidak boleh memberikan modal secara langsung baik modal berupa uang ataupun peralatan” (Bp. Heri Kusnandar-Dinas Perindustrian).

2.

Peralatan masih sederhana dan tradisional

“alat yang digunakan ya peralatan tradisional seperti biasa, kenceng, pengaduk, dll. Dikerjakan tanpa teknologi, semuanya manual. Tidak ada peralatan khusus untuk membuat gula Aren ini” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“peralatannya ya kenceng, ada lagi penyaringan, gayung, alat buat ngaduk. Alat buat ambil nira sekarang pakainya jerigen, kalau dulu pake bumbung / bambu. Tidak ada peralatan khusus yang dipakai” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“kenceng yang besar, alat pencetakannya pakai mangkok plastik. Tidak ada peralatan khusus, hanya peralatan seperti biasa” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“peralatan seperti biasa, kenceng bahan tembaga saja. Tidak ada peralatan khusus, karena memang bahan tembaga lebih awet ketimbang yang bahan alumunium” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

“peralatan normal seperti biasa, kenceng, deres, dll. Tidak ada peralatan khusus” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

3. Proses produksi secara manual

Melanjutkan poin nomor 3, sampai saat ini proses produksi dilakukan masih dilakukan secara manual. Proses pembuatan gula Aren membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa sampai 1 hari tergantung jumlah nira Aren yang didapatkan. Berdasarkan pengamatan, proses pembuatan gula Aren sendiri seluruhnya dikerjakan secara manual dan masih menggunakan peralatan yang sederhana. Pengambilan nira Aren saat ini sudah memakai jerigen plastik, tidak lagi memakai bumbung yang terbuat dari bambu seperti dulu. Pengolahan nira Aren juga masih memakai wajan besar/kenceng yang terbuat dari

tembaga/alumunium. Proses pengolahan gula Aren sendiri harus dilakukan di dapur terpisah, karena selain prosesnya yang cukup lama, perapian yang digunakan masih menggunakan tungku yang besar dan memakai kayu bakar yang cukup banyak.

4.

Kapasitas produksi rendah dan hasil produksi tidak tentu

Melanjutkan poin nomor 7 pada tabel sebelumnya (Tabel Strategi Internal – Kekuatan), jumlah gula Aren yang dihasilkan setiap harinya apabila dihitung rata-rata adalah sebanyak 10 kilogram. Namun pada kenyataannya, hasil yang diperoleh tersebut bersifat fluktuatif (naik-turun), kadang bisa lebih banyak dan bahkan bisa kurang, hal tersebut disesuaikan dengan banyak/sedikitnya nira Aren yang diperoleh dari proses

penyadapan (nderes).

5. Tidak ada promosi

Melanjutkan poin nomor 9 pada tabel sebelumnya (Tabel Strategi Internal – Kekuatan), bahwa para pengrajin menjual produk gula Arennya hanya di pengepul atau tengkulak saja, sehingga pengrajin tidak ada promosi untuk meningkatkan nilai jual produknya. Umumnya para tengkulak yang datang ke rumah untuk mengambil barang, jadi para pengrajin sendiri sampai saat ini masih tergantung pada keberadaan pengepul.

6. Lingkup Pemasaran Sempit

“bidang pekerjaan yang berbeda ya? Belum ada yang seperti itu mas. Untuk pengembangan pemasaran produk gula semut saja sampai saat ini saya masih menunggu informasi dari Koperasi yang mau dijalankan itu” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“sampai saat ini tidak ada kerjasama dengan industri pabrik maupun restoran” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

79

“sampai saat ini belum ada kerjasama dengan industri lain, baik di bidang restoran atau industri pabrik. Pengembangan pemasaran ya kalu bisa dimanfaatkan bisnis online itu, tapi yaa sampai saat ini tetap lewat pengepul, karena dari pengepul sendiri sampai saat ini masih sering kekurangan stock gula Aren” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa

Ngesrepbalong).

“saya hanya menjual ke pasar, dan menitipkan gula Aren ke toko-toko saja, sampai saat ini tidak pernah kerjasama dengan industri lain” (Ibu Harini-Tengkulak Gula Aren).

“kalau cara pemasarannya kita saat ini masih door-to-door, kita masih mengandalkan pertemanan dan relasi yang sudah saya kenal. Harapan kita tetap harus ada instansi yang berperan sebagai penyalur yang memfasilitasi penjualan gula Aren ini, bisa dibantu juga dengan penentuan harga yang sesuai petaninya” (Ibu Sawinah-PKU UKM Gula Aren Dsn.

Manggung, Desa Peron).

7.

Kurangnya keahlian dalam manajemen usaha

“Kurang begitu paham, pokoknya yang dikepul (dikumpulkan) dan dapet uang gitu aja” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“manajemen bisnis piye (yang gimana) mas? Saya ndak tau” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“wah saya belum tau soal kaya gitu mas, gak pernah kesana-sana” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“manajemen bisnis ya? Saya kurang begitu paham mas” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

Para pengrajin gula Aren tidak memiliki pembukuan dan tidak melakukan kegiatan administrasi keuangan. Bahkan para pengrajin tidak memisahkan antara keuangan keluarga dan bisnis. Uang dari hasil penjualan semuanya langsung digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti yang dijelaskan pada poin no 1 pada tabel ini.

8.

Pelaku usaha kurang memikirkan tujuan jangka panjang

“selain gula Aren, ya sesuai pelatihan gula semut disini kemarin dan pernah juga di ajak ke Banyumas, tapi sampai saat ini masih belum saya jalankan karena belum ada waktu untuk menyempatkan” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).

“ya kalau saat ini masih hanya gula Aren aja, pengembangan lainnya perlu modal yang lebih besar tentunya. Manajemen bisnisnya juga macem-macem” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).

9.

Rendahnya

pendidikan pelaku usaha

Berdasarkan informasi yang tertulis di lembar persetujuan informan, para pengrajin gula Aren ini rata-rata memiliki usia 35 tahun sampai 50 tahun lebih. Tingkat pendidikan para pengrajin juga mayoritas tergolong rendah, yaitu lulusan SMA kebawah. Hal ini menyebabkan beberapa pengrajin kurang paham dan cenderung cuek mengenai kegiatan manajemen bisnisnya.

Berdasarkan tabel 4.3, faktor – faktor strategi internal (kelemahan) bagi industri kecil pembuatan gula Aren di wilayah Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

Tabel 4. 4. Daftar Faktor Strategis Internal – Kelemahan No Faktor Strategis Internal – Kelemahan

1 Tidak ada modal

2 Peralatan masih sederhana dan tradisional 3 Proses produksi secara manual

4 Kapasitas produksi rendah dan hasil produksi tidak tentu 5 Tidak ada promosi

6 Lingkup Pemasaran Sempit

7 Kurangnya keahlian dalam manajemen usaha

8 Pelaku usaha kurang memikirkan tujuan jangka panjang 9 Rendahnya pendidikan pelaku usaha

Pearce & Robinson dalam Widjajanti, Kesi dan Eviatiwi (2017) membagi sumberdaya internal menjadi 3 bagian yaitu asset tangible, asset intangible dan kapabilitas. Asset tangible adalah aset terlihat yang dimiliki oleh suatu organisasi, umumnya terdiri dari fasilitas produksi, bahan baku, sumber daya keuangan, dsb. Sedangkan asset intagible adalah aset tak terlihat dalam suatu organisasi yang terdiri dari merek, reputasi, moral perusahaan, paten, merk dagang, pengalaman perusahaan, dsb.

81

Indris dalam Widjajanti, Kesi dan Eviatiwi (2017) beragumen bahwa lingkungan internal adalah suatu kumpulan profil kompetensi perusahaan yang terdiri dari aspek marketing, keuangan, operasi, SDM, dan sistem informasi.

Hasil pembahasan di atas menunjukkan faktor-faktor internal pada industri kecil pembuatan gula Aren di wilayah Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal terdiri dari:

1. Marketing, mengenai kualitas produk, keunikan dan kekhasan produk,

manfaat produk, dan promosi.

2. Keuangan, mengenai modal, akses permodalan, dan pengelolaan keuangan.

3. Operasi, mengenai bahan baku, proses produksi, kapasitas produksi, dan

inovasi pengembangan produk

4. Sumber Daya Manusia (SDM), mengenai keahlian yang turun temurun,

pendidikan pelaku usaha, keahlian manajemen usaha, orientasi pelaku usaha.

5. Modal Sosial, mengenai hubungan kekeluargaan antar sesama pengrajin dan

tengkulak.

Selanjutnya terkait pembahasan selanjutnya terkait faktor strategi eksternal (peluang) pada industri kecil pengrajin gula Aren di wilayah Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4. 5. Analisis Lingkungan Eksternal – Peluang No Faktor Strategis – Peluang Keterangan 1. Perhatian dan dukungan dari Pemerintah

“dukungan kami dari Koperasi dan UMKM Kendal adalah dengan mengadakan pelatihan, peningkatan kualitas, izin dan pemasarannya” (Bp. Wiwid Bekti-Dinas Koperasi & UMKM). “sampai saat ini kita sudah melaksanaan pembinaan terkait industri tersebut. Kalau dari Perindustrian lebih ke proses produksinya, kalau dari UKM sendiri lebih ke kelembagaannya dalam membentuk suatu perkumpulan Organisasi atau

Koperasi” (Bp. Heri Kusnandar-Dinas Perindustrian). “peran kami sudah berulang kali sangat mendukung dengan adanya UKM-UKM gula Aren oleh warga Kecamatan Limbangan tersebut, masing-masing personel kami harapkan untuk bisa izin pendirian industri tersebut, sehingga kalau membutuhkan dana dari bank bisa terdukung bisa adanya” izin UKM itu” (Ibu Nafisah-Kantor Kecamatan Limbangan).

2. Adanya event dan pameran lokal

“gula Aren dari wilayah Kecamatan Limbangan memang yang masih asli, kami sering ikutkan pameran produk lokal. Kami juga pernah mengundang narasumber nasional dalam pameran tersebut dan memberikan oleh-oleh berupa gula Aren agar gula Aren semakin dikenal” (Bp. Heri Kusnandar-Dinas

Perindustrian).

“ya kami bantu melalui pameran dan kemitraan, ke pabrik dan industri yang menggunakan gula semut, seperti pabrik Roti dan

Dokumen terkait