BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.2. Deskripsi Hasil Penelitian
sudah melakukan pemesanan maupun belum melakukan pemesanan (Maemonah, 2015).
4.1.2. Deskripsi Hasil Penelitian
4.1.2.1. Deskripsi Lingkungan Internal
R. David, Fred. (2011) menyatakan bahwa kekuatan bisa terkait dengan kepemilikan sumber daya alam atau reputasi kualitas yang melegenda. Kekuatan dan kelemahan juga dapat ditentukan relatif terhadap tujuan perusahaan sendiri. Menurut Indris (2015), sumberdaya internal perusahaan baik untuk perusahaan besar ataupun UKM adalah suatu kumpulan profil kompetensi perusahaan, terdiri dari aspek marketing, keuangan, operasi, SDM, dan sistem informasi. Analisis pada aspek-aspek tersebut dapat mencerminkan keadaan internal perusahaan yaitu kekuatan dan kelemahan. Berikut adalah pernyataan-pernyataan dari para informan terkait lingkungan internal (internal environment) industri kecil pembuatan gula Aren di Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.
“saya menjalankan industri ini sudah dari kecil, dari tamat sekolah, ya kurang lebih sekitar 15 tahun” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“saya mengolah Aren jadi gula jawa sudah Berapa tahun ya? Sekitar 30tahunan lebih lah pokoknya” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“industri ini saya jalankan sudah dari dulu mas, lebih dari 20 tahun yang lalu” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
Lebih lanjut disampaikan oleh informan pengrajin gula Aren di Desa Ngesrepbalong dan Nglimut yang menyatakan bahwa:
“saya menjalankan industri pembuatan gula Aren ini kira-kira ya, seingat saya sekitar tahun 1995 – 1997, tahun 1997 sudah berjalan rutin” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong). “sudah 25 tahun mas saya menjalankan industri ini, wong saya itu pas masih SMA, pagi sekali saya sudah nderes (nyadap nira Aren), dulunya untuk membantu pekerjaan orang tua” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“saya membuat dan menjual gula Aren ini sudah sejak lama, kurang lebih 10 tahun” (Ibu Sutarni-Pengrajin Gula Aren, Dsn. Nglimut, Desa Gonoharjo).
Dari pernyataan tersebut diatas, secara tersirat menunjukkan bahwa para pengrajin agula Aren di wilayah Kecamatan Limbangan ini memiliki keahlian yang sudah sangat matang dalam mengolah dan membuat produk gula Aren, sehingga mereka sanggup berkomitmen untuk mempertahankan jalannya industri tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama, bahkan lebih dari 10 tahun.
43
Modal sosial juga menjadi faktor penting bagi keberlangsungan industri gula Aren ini. Modal sosial tersebut terbentuk antara pengrajin gula Aren satu dengan pengrajin gula Aren lainnya, serta sudah terjalin pula keterikatan dan kerjasama yang baik antara pengrajin gula Aren dan pengepul/tengkulak gula Aren. Hal tersebut dapat terlihat dari pernyataan-pernyataan berikut:
“kerjasama ya yang tadi, saya kerjasama dengan tetangga saya bergiliran pohon Aren 2hari sekali” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“disini ada kelompok taninya mas, walaupun untuk pengerjaan di rumah masing-masing, tapi saya koordinasikan setiap bulan untuk sering mengadakan pertemuan/arisan” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“saya mendatangi sendiri ke rumah-rumah yang menjalankan industri gula Aren. Tidak pernah ada pengrajin yang datang langsung ke rumah saya. Jumlanya sekitar 10 orang lebih. Saya sudah percaya dan kerjasama kepada mereka, jadi saya tidak ada kekhawatiran yang besar” (Ibu Harini-Tengkulak Gula Aren).
“yang pertama memang kita mengelola dengan hasil produksi kita sendiri, kalau memang hasilnya kurang untuk targetnya kita kan tetap harus ngepul ke sesama teman kelompok pengrajin. Ada hubungan kekeluargaan, saya koordinasikan disini ada 25 orang, saya bagi menjadi 5 kelompok, berarti 1 kelompoknya ada 5 orang. Makanya kalau kadang-kadang kita kekurangan bahan, sedangkan untuk permintaan barang tinggi, otomatis kita sudah ada yang tim yang bisa saling mendukung satu sama lain” (Ibu Sawinah-PKU UKM Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
Pernyataan selanjutnya terkait keahlian yang matang, para pengrajin gula Aren di wilayah Kecamatan Limbangan ini mendapatkan keahlian tersebut secara turun-temurun dan sudah diwariskan oleh para orang tua terdahulu, pernyataan-pernyataan tersebut antara lain:
“sudah dari dulu orang tua saya mengajari membuat gula Aren” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“keahlian saya dalam industri ini saya peroleh secara turun-temurun dari ibu saya dulu” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“keahlian saya diperoleh dari orang tua saya sendiri dan dari tetangga-tetangga saya, dulu saya mengikuti saja” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“keahlian ini sudah sejak lama, turun-temurun mas” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“ini keahlian saya sendiri yang saya dapatkan secara turun-temurun dari ibu saya dulu yang banyak mengajari saya” (Ibu Sutarni-Pengrajin Gula Aren, Dsn. Nglimut, Desa Gonoharjo).
Dari segi sumber daya manusia (SDM), para pengrajin gula Aren ini tidak memiliki karyawan yang dikerjakan, melainkan semua proses pembuatan gula Aren yang dimulai dari penyadapan air nira Aren (nderes), pengolahan (memasak) nira Aren hingga menjadi produk gula Aren, dikerjakan sendiri oleh anggota keluarga. Pernyataan informan terkait hal tersebut antara lain:
“prosesnya dikerjakan sendiri dengan bapaknya, 2 orang, saya dan suami saya” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“semuanya dikerjakan sendiri dengan anak saya, totalnya ada 3 orang, yang ngerjain 2 orang dan yang nderes (nyadap air nira) 1 orang bapaknya” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“tidak ada karyawan dikerjakan, semuanya dikerjakan sendiri, hanya saya dan bapak, sama simbah bantu pas mengolah saja” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“semua saya kerjakan sendiri, tidak punya karyawan, hanya 2 orang saja” (Ibu Sutarni-Pengrajin Gula Aren, Dsn. Nglimut, Desa Gonoharjo).
45
Berdasarkan informasi yang tertulis di lembar persetujuan informan, para pengrajin gula Aren ini rata-rata memiliki usia 35 tahun sampai 50 tahun lebih. Tingkat pendidikan para pengrajin juga mayoritas tergolong rendah, yaitu lulusan SMA kebawah. Hal ini menyebabkan beberapa pengrajin kurang paham dan cenderung acuh mengenai kegiatan manajemen bisnis, berikut pernyataan informan terkait hal tersebut,
“kurang begitu paham, pokoknya yang dikepul (dikumpulkan) dan dapet uang gitu aja” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“manajemen bisnis piye (yang gimana) mas? Saya ndak tau” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“wah saya belum tau soal kaya gitu mas, gak pernah kesana-sana” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron). “manajemen bisnis ya? Saya kurang begitu paham mas” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
Dari segi operasional mengenai bahan baku yang digunakan, serta proses pembuatan gula Aren. Bahan baku didapatkan dari buah pohon Aren yang diambil niranya dengan cara penyadapan (nderes), pengambilan hasil sadapan tersebut biasanya diambil 2x dalam sehari, yaitu pagi dan sore hari. Pagi hari mengambil hasil sadapan waktu sore dan malam hari sebelumnya, sedangkan pengambilan pada sore hari diambil dari hasil sadapan pagi hari sebelumnya.
Gambar 4. 4. Pohon Aren & Cara Pengambilan Nira Aren (sumber : http://image.google.com)
Pohon Aren ini rata-rata dimiliki sendiri oleh pengrajin gula Aren, sehingga pemanfaatan bahan baku bisa maksimal dan tanpa ada pihak yang mengatur. Proses pembuatan gula Aren biasanya dilakukan pada waktu pagi sampai dengan sore hari, biasanya tergantung dari jumlah nira Aren yang diperoleh. Pernyataan dari informan terkait bahan baku dan proses pembuatan antara lain:
“asal bahan baku ya dari pohon Aren di hutan, pohon Aren saya sendiri. Untuk proses pembuatannya ya cairan dari pohon diturunkan, dibawa pulang, terus dituangkan ditempat masak, pakai kayu bakar, prosesnya 4-5 jam atau setengah hari” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“asal bahan baku dari pohon sendiri dan dari pohon tetangga, bergiliran, 2 hari sekali, 2 hari sekali ke yang punya dan 2 hari sekali ke saya. Untuk prosesnya sama dengan pengrajin gula Aren lainnya, niranya diambil dan diolah pakai perapian kayu bakar” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron). “yang gula Aren asli itu benar-benar dari air nira pohon Aren asli, untuk pohon Arennya kami punya sendiri dan ada yang beli dari petani lain. Untuk pengolahannya tinggal dimasak saja selama seharian, dari bentuknya cair sampai mengental dan siap dituangkan ke cetakan” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
47
Gambar 4. 5. Proses Pengolahan Gula Aren
Gambar 4. 6. Proses Pengolahan Gula Aren
“bahan bakunya dari pohon Aren mas, punya saya sendiri. Kalau proses pembuatannya itu dari air yang disadap itu langsung diolah atau dimasak, untuk waktunya tergantung sedikit/banyaknya nira yang didapatkan” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“pohon Aren punya saya sendiri, prosesnya setelah nira diambil dari pohonnya, kemudian direbus 1 hari tergantung banyak sedikitnya nira
Aren” (Ibu Sutarni-Pengrajin Gula Aren, Dsn. Nglimut, Desa Gonoharjo).
Dari pernyataan tersebut, proses pembuatan gula Aren membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa sampai 1 hari tergantung jumlah nira Aren yang didapatkan. Berdasarkan pengamatan, proses pembuatan gula Aren sendiri seluruhnya dikerjakan secara manual dan masih menggunakan peralatan yang sederhana.
Pengambilan nira Aren saat ini sudah memakai jerigen plastik, tidak lagi memakai bumbung yang terbuat dari bambu. Pengolahan nira Aren juga masih memakai wajan besar/kenceng yang terbuat dari tembaga/alumunium. Proses pengolahan gula Aren sendiri harus dilakukan di dapur terpisah, karena selain prosesnya yang cukup lama, perapian yang digunakan masih menggunakan tungku yang besar dan memakai kayu bakar yang cukup banyak pula. Berikut ini pernyataan informan terkait penggunaan peralatan untuk proses produksi:
“alat yang digunakan ya peralatan tradisional seperti biasa, kenceng, pengaduk, dll. Dikerjakan tanpa teknologi, semuanya manual. Tidak ada peralatan khusus untuk membuat gula Aren ini” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“peralatannya ya kenceng, ada lagi penyaringan, gayung, alat buat ngaduk. Alat buat ambil nira sekarang pakainya jerigen, kalau dulu pake bumbung / bambu. Tidak ada peralatan khusus yang dipakai” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron). “kenceng yang besar, alat pencetakannya pakai mangkok plastik. Tidak ada peralatan khusus, hanya peralatan seperti biasa” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron). “peralatan seperti biasa, kenceng bahan tembaga saja. Tidak ada peralatan khusus, karena memang bahan tembaga lebih awet
49
ketimbang yang bahan alumunium” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“peralatan normal seperti biasa, kenceng, deres, dll. Tidak ada peralatan khusus” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
Gambar 4. 7. Peralatan Produksi: Kenceng Besar dari Tembaga
Lebih lanjut terkait pernyataan jumlah atau hasil produksi gula Aren perhari, serta keunikan dan kekhasan produk gula Aren daripada produk gula lainnya seperti gula kelapa dan gula pasir, antara lain:
“hasil produksi perhari, kalau diambil rata-rata sebanyak 10kilo. Kadang juga bisa lebih dan bisa kurang juga. Untuk keunikannya ungkin rasanya ya, beda dengan gula kelapa. Gula kelapa kan cenderung ke rasa asin, kalu gula Aren kan benar-benar manis” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“kalau sekarang baru sedikit mas, paling 4 kilonan. Kalau pas banyak bisa 10 kilo, ini pas kebetulan sedikit, kadang-kadang dan tidak mesti. Kalau Unik dan khasnya gula Aren itu rasanya yang manis, banya manfaatnyam misalnya buat bumbu masak dan sebagai pelengkap rempah” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“saya ada produk murni gula Aren dan produk campuran, kalau yang produk murni Gula Aren hasilnya saya sedikit gak sampai 10 kilo. Khasnya, kalau yang saya rasakan, gula Aren yang asli itu manisnya
manis lerr, lewat tenggorokan juga lerr gitu, halus karena alami” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“pokoknya tergantung banyak / sedikitnya nira Aren yang diperoleh. Kalau seperti ini sekitar 13 – 15 kilo, tapi kalau rata-rata ya dihitung 10kg saja. Kalau keunikan dan khasnya ya itu katanya mempunyai rasa manis yang berbeda dengan gula merah dan gula campuran. Bisa untuk pengobatan, bisa menurunkan dan menstabilkan kadar gula buat penderita diabetes. Orang Semarang yang punya kebun jati sering ambil kesini, untuk mengambil air niranya yang katanya bisa menurunkan kadar gula ditubuh” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
Gambar 4. 8. Proses Pencetakan Gula Aren
“gula Aren yang asli itu benar-benar manis, cocok kalau buat bumbu masakan dan olahan masakan tradisional, berbeda dengan gula kelapa yang rasanya cenderung lebih asin” (Ibu Harini-Tengkulak Gula Aren).
“manfaatnya juga banyak, pertama untuk mengembalikan stamina atau pemulihan tenaga, misalnya anda terlalu capek terus anda konsumsi gula Aren inshaAllah staminanya akan kembali. Bisa juga sebagai pengganti atau substitusi gula pasir, intinya pengganti gula pasir, apabila ada konsumen yang mempunyai penyakit diabetes dan otomatis takut minum dengan gula pasir bisa digantikan dengan alternatif produk gula Aren, misalnya pada saat mereka minum kopi & teh. Dan itu akan mendapatkan rasa yang khas dan unik” (Ibu Sawinah-PKU UKM Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
51
Berdasarkan pernyataan yang disampaikan oleh informan tersebut, jumlah gula Aren yang dihasilkan setiap harinya apabila dihitung rata-rata adalah sebanyak 10 kilogram. Namun pada kenyataannya, hasil yang diperoleh tersebut bersifat fluktuatif (naik-turun), kadang bisa lebih banyak dan bahkan bisa kurang, hal tersebut disesuaikan dengan banyak/sedikitnya nira Aren yang diperoleh dari proses penyadapan (nderes).
Lebih lanjut Ibu Nafisah dari Kantor Kecamatan Limbangan menyatakan bahwa produk gula Aren adalah produk yang unggul dan sudah terkendal di wilayah Kabupaten Kendal, berikut pernyataannya:
“kalau di Kecamatan Limbangan sendiri gula Aren sudah termasuk menjadi produk unggulan dan terkenal dari Kabupaten Kendal. Selain merupakan produk yang alami dan berkualitas tinggi, Dan kebetulan jika ada Kendal Expo atau pameran lainnya di Kendal pasti selalu diikutkan dan pasti laris terjual. Baik produk gula Aren murni maupun gula semut” (Ibu Nafisah-Kantor Kecamatan Limbangan).
Produk gula Aren mempunyai karakteristik yang unik dan khas dari pada produk gula lainnya. Produk gula Aren umumnya berwarna merah kecoklatan, ada juga yang berwarna kuning kecokelatan. Gula Aren ini biasanya dicetak dengan memakai tempurung kelapa / mangkok plastik, sehingga mempunyai bentuk yang unik, yitu menyerupai setengah bola. Produk gula Aren benar-benar mempunyai rasa manis murni dan seutuhnya, tidak ada rasa pahit selama proses pembuatannya memperhatikan tingkat kualitas nira Aren, memperhatikan tingkat kebersihan peralatan, serta menjaga perapian pada saat memasaknya. Pendapat lain menyatakan bahwa gula Aren mempunyai manfaat di bidang kesehatan, salah satunya adalah mampu menurunkan kadar gula darah bagi penderita diabetes. Manfaat lainnya di bidang kuliner, gula Aren bisa digunakan sebagai bumbu masakan untuk pelengkap rempah-rempah, seperti masakan opor, bacem, rica-rica, sayur lodeh dan olahan sayur lainnya.
53
Dilanjutkan terkait harga produk gula Aren per kilogram dan cara pemasaran yang dilakukan olah para pengrajin, disampaikan oleh informan dalam pernyataan berikut:
“harga gula Aren per kilo saat ini Rp. 15.000, biasanya ada tengkulak atau pengepul yang mengambil” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“harga saat ini Rp. 13.000, kalau saat bulan puasa dan menjelang lebaran bisa naik sampai Rp. 20.000. Ada bakul gula yang kesini, pengepul biasanya. Saya sendiri tidak pernah jualan langsung ke pasar” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“saat ini harganya sedang turun mas, Rp. 14.000, kalau pas puasa dan lebaran pasti naik lagi. Jualnya saya ke pengepul, ada simbah orang sekitar sini, nanti baru mbahnya itu yang jualan langsung ke pasar” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“harga yang produk gula Aren yang murni saya jual Rp. 14.000. Untuk penjualannya kadang saya jual ke pengepul dan saya juga kadang menjual langsung ke pasar” (Ibu Sumarni-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“harga perkilo bervariasi, kalau saat ini Rp. 16.000. Penjualannya, diambil oleh pengepul biasanya, saya tidak pernah terjun langsung ke pasar. Diambil oleh pengepul langsung, malah saat ini pemasarannya ke daerah Weleri” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
“Harganya kalau saya jual ke pasar ya sekitar Rp. 17.500 – 18.000, kalau harga pas bulan puasa dan lebaran bisa lebih tinggi lagi” (Ibu Harini-Tengkulak Gula Aren).
Dari pernyataan yang disampaikan oleh beberapa informan, mayoritas pengrajin gula Aren menjual produk gula Arennya melalui pengepul atau biasa disebut dengan tengkulak. Pengrajin memiliki harga jual yang berbeda-beda dengan pengrajin
lainnya, kisaran harga jual produk gula Aren dari Rp. 13.000 sampai dengan Rp. 16.000, harga tersebut dapat meningkat secara signifikan pada saat menjelang bulan ramadhan dan hari raya idul fitri.
Selanjutnya terkait aspek keuangan di industri pembuatan gula Aren ini, menurut R. David, Fred. (2011), perusahaan-perusahaan dengan sistem perencanaan yang mengadopsi perencanaan strategis, biasanya, menunjukkan kinerja keuangan jangka panjang yang lebih baik relatif terhadap industri mereka. Ini dikarenakan mereka membuat keputusan yang lebih cerdas dengan antisipasi yang baik terhadap konsekuensi jangka pendek dan panjang. Salah satu aspek keuangan yang sangat berpengaruh dalam suatu industri adalah modal saat pertama kali mendirikan usaha, serta pengelolaan keuangan yang baik dari hasil pemasaran produk yang dihasilkan, berikut ini adalah pernyataan para informan terkait aspek keuangan, antara lain:
“tidak ada modal yang saya gunakan dalam membuka usaha ini, berjalan seperti biasa lah. Kalau keuangan saya mengikuti kebutuhan sehari-hari, kebanyakan buat nyumbang kalo seperti ini (kondangan)” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“ndak ada modal dalam betuk uang, hanya modal tenaga saja dan usaha sendiri. Untuk keuangan Dikelola buat kebutuhan sehari-hari, mengalir saja” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“modal pertama, mengalir saja sesuai nira Aren yang diperoleh setiap harinya, kalau hasilnya banyak ya banyak, kalau hasilnya sedikit kan juga sedikit, kadang-kadang mas pokoknya. Untuk keuangannya hanya digunakan kebutuhan sehari-hari, susah buat nabung, banyak buat setoran dan banyak tanggungan yang lain” (Ibu Muslikah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
55
“modal yang digunakan untuk membeli pohon Arennya, tidak terhitung untuk nominalnya, dan tidak ada pengelolaan keuangan, bergulir untuk kebutuhan sehari-hari” (Bp. Suparwoto-Pengrajin Gula Aren Desa Ngesrepbalong).
Berdasarkan pernyataan yang disampaikan oleh informan, bahwa pada saat memulai atau mendirikan industri gula Aren ini mereka tidak menggunakan modal yang cukup besar, karena bahan baku yang diperoleh dan digunakan adalah pohon Aren milik sendiri, perlatan yang digunakan seperti wajan/kenceng masih memakai warisan yang diberikan oleh orang tua. Peralatan lain seperti alat untuk mengambil nira Aren dulunya masih menggunakan bumbung yang terbuat dari bambu (sekarang jerigen), serta alat untuk mencetak produk gula Aren sampai saat ini masih memakai tempurung kelapa. Disisi yang sama, sampai saat ini tidak ada pengelolaan keuangan atas hasil penjualan produk gula Aren, tidak ada uang yang disimpan di bank, semua hasil penjualan digunakan langsung untuk kebutuhan sehari-hari.
Disisi lain, pemerintah daerah saat ini tidak boleh memberikan bantuan modal dalam bentuk uang maupun modal dalam bentuk hibah atau barang, seperti yang disampaikan oleh staff dari Diseperindagkop & UMKM Kabupaten kendal,
“kalau dari PEMDA memang tidak ada bantuan modal berupa uang maupun peralatan penunjang. Yang kami berikan lebih banyak ke pelatihan pengembangan” (Bp. Wiwid Bekti-Dinas Koperasi & UMKM).
“kalau dari kita tidak ada bantuan modal mas, karena dari PEMDA sendiri untuk tahun-tahun tidak boleh memberikan modal secara langsung baik modal berupa uang ataupun peralatan” (Bp. Heri Kusnandar-Dinas Perindustrian).
Pengembangan industri gula Aren sendiri sampai saat ini sudah berjalan dengan diadakannya pelatihan dan sosialisasi pembuatan gula Aren menjadi gula semut dan produk lainnya, seperti yang disampaikan oleh informan berikut:
“ada pengembangan produknya mas, bukan cuman gula Aren, kadang ada pembuatan gula semut, bandrek, ya macam-macam itu” (Ibu Soimah-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron). “pengembangan gula Aren itu ya saat ini dirubah menjadi gula semut, dan minuman bandrek” (Ibu Waliyam-Pengrajin Gula Aren Dsn. Manggung, Desa Peron).
“beberapa waktu terakhir memang ada pelatihan secara khusus dari Gula Aren menjadi Gula Aren untuk pengembangan produknya” (Ibu Nafisah-Kantor Kecamatan Limbangan).
“saat ini lebih dikembangkan menjadi gula semut mas” (Bp. Wiwid Bekti & Bp. Heri Kusnandar – Disperindagkop & UMKM).
57
Gambar 4. 12. Minuman Bandrek sebagai Produk Pengembangan Gula Aren