BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Analisis dan Pembahasan
gambaran perilaku menyimpang masyarakat dan merumuskan konsep arahan penanganannya.
masyarakat lebih banyak mengarah pada tindakan-tindakan kriminal seperti mencuri, menodong, memalak.
Hal ini menunjukan bahwa kematangan secara ekonomi sangat mempengaruhi tindakan sehari-hari. Kemiskinan, pendidikan rendah, pengangguran, pengetahuan yang kurang sangat berpengaruh terhadap perilaku menyimpang masyarakat.
Hal ini terlihat dengan munculnya atau terjadinya kasus-kasus kriminal, ilegalitas status warga hingga masih banyak masyarakat yang buang sampah kedalam kanal.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Zuryawan, 2008 temuannya adalah pada umumnya, kaum migran tidak sanggup dan bahkan gagal dalam usaha mencapai kemajuan, kesejahteraan dan kepuasaan yang diharapkan di tengah-tengah kehidupan perkotaan yang komplek penuh dengan persaingan dengan modal kejujuran dan kebenaran. Akibatnya adalah menimbulkan dorongan baru bagi kaum migran untuk mengubah, mencari dan mengadopsi cara-cara baru yang dianggap dapat mencapai keberhasilan, kendatipun harus melanggar norma-norma sosial atau tujuan-tujuan budaya dan cara-cara ilegal lainnya.Ada beberapa jenis penyimpangan perilaku yang sering terjadi di lokasi permukiman, diantaranya adalah membuang sampah disembarang tempat, corat-coret tembok, tamu menginap tidak melapor, enggan
membuat KTP, mabuk-mabukan dan skandal dengan sesama jenis, begadang sambil menyanyi keras hingga larut malam dan menggoda para wanita pejalan kaki. Termasuk Perilaku Menyimpang dalam Kategori Tindak Kejahatan, Ada beberapa tindak kejahatan yang pernah atau sering terjadi di permukiman kumuh ini, yaitu : penipuan, penjambretan, penodongan dan perampokan, pencurian, perkelahian dan penganiayaan, pemerasan dan pungli, serta pemerkosaan.
Persoalan ini sesuai dengan teori sosiologi yang dikemukakan oleh Merton bedasarkan teori anomie Durkheim, anomie akan muncul dalam situasi dimana orang menyadari bahwa mereka tidak dapat mencapai aspirasi dan tujuan budaya yang dominan melalui cara yang sah. Individu mungkin menyadari misalnya saja, bahwa betapapun ia bekerja keras, ia tidak dapat mencapai tingkat kekayaan materi yang diharapkan. Dalam keadaan yang demikian ini, perilaku menyimpang mungkin akan timbul. Jadi kewajiban moral untuk mencapai keberhasilan menimbulkan desakan untuk berhasil, baik melalui cara yang layak maupun cara yang melanggar (Robert K. Merton, 1957).
2. Pembahasan.
Hal ini menunjukan bahwa pendapat para ahli tentang faktor demografi yang berhubungan dengan sosiologi masyarakat Perkotaan
adalah benar adanya. Dimana diwilayah Perkotaan, dampak migrasi merupakan masalah pokok yang harus dihadapi, oleh karena akibat-akibatnya seperti urbanisasi atau pemusatan penduduk di dalam Kota Makassar dianggap sebagai suatu cara hidup individu, serta interaksi antara individu. Lahirnya corak hidup kaum urban dimana sifat individualis yang ekstrim, penuh perhitungan dan sifat bersaing, mementingkan penampilan luar, menekankan hal-hal yang bersifat pribadi, sifat acuh tak acuh dan sifat agresifitas warga Kota Makassar, sangat menonjol. Pertentangan-pertentangan disekitar konsumsi kolektif, perampasan tanah Kota Makassar atau pengusiran-pengusiran penghuni-penghuni liar, konflik budaya dan lain sebagainya. Benturan-benturan inilah yang menyebabkan penduduk pendatang merasa asing dan frustrasi disamping mereka harus terus mempertahankan hidup, dilain pihak mereka merasa tidak mampu menghadapi persaingan yang keras untuk hidup di Perkotaan.
Penduduk Kota Makassar yang semakin membengkak ini sudah barang tentu akan menyebabkan timbulnya berbagai kerawanan sosial di Perkotaan. Terjadinya benturan dari kebiasaan lama ke kebiasaan baru yang pada akhirnya menimbulkan krisis identitas yang merupakan manifestasi dari ketiadaan norma (anomie), yakni kesenjangan antara ditinggalkannya norma tradisional yang mereka
hayati sewaktu tinggal di desa dengan diterimanya norma baru di Kota Makassar.
Hal ini sesuai dengan pendapat Nasikun (1980) keadaan ini akan memudahkan para migran melakukan perbuatan yang melanggar norma (perilaku menyimpang) ataupun terjerumus ke dalam tindakan-tindakan kejahatan.
Hubungan lain antar migrasi dan perilaku menyimpang juga terlihat dari kenyataan bahwa ketidakmampuan atau kegagalan para pendatang untuk menampilkan role performance dalam hubungan-hubungan sosial seringkali mendorong dipilihnya cara-cara menyimpang dalam berbagai bentuknya (Mulyana W. Kusumah, 1990).
Dikatakan pula oleh Kuncaraningrat (1992) bahwa nilai-nilai sosial budaya berfungsi sebagai pedoman dan pendorong perilaku manusia di dalam hidupnya. Jika terjadi ketidakseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya dengan kaidah-kaidah, atau terjadi ketidakselarasan antara aspirasi-aspirasi dengan saluran untuk mencapai tujuan tersebut, maka hal inilah yang merupakan gejala-gejal kriminalitas. Sebab setelah itu akan terjadi kelakukan-kelakuan menyimpang (deviant behaviour).
Masalah permukiman kumuh selalu menarik perhatian, karena dimensi kemanusiaan yang terkait padanya. Pemukiman ini sering
diidentikkan dengan perkampungan orang miskin. Menurut Reksodiputro (1990), sekurang-kurangnya citra ini harus dinetralisir bilamana kita ingin melakukan penelitian secara obyektif. Citra umum tetap yang sering dijumpai adalah bahwa mereka hidup dalam keadaan yang tidak terorganisasi (disorganized). Tidak mengenal waktu atau jadwal tetap, tidak hemat dan tidak bisa menunda kepuasan. Mereka sering pula digambarkan sebagai cepat frustrasi, agresif dan mempunyai nilai dan norma yang berbeda dengan yang dimiliki budaya umum yang dominan. Gambaran yang kurang benar ini karena kita sebagai “orang luar” sering menilai mereka dengan tolok ukur yang cukup baik. Malah sering pula dikatakan adanya budaya kemiskinan (culture of poverty) yang diidap pemukim kumuh ini yang seolah-oleh mencengkeram penghuninya dan tidak akan dapat melepaskan diri kecuali dengan cara keluar dari daerah itu.
Dalam situasi tanpa uang dan penghasilan, bagi pendatang baru di Kota Makassar atau pun dalam keadaan berpenghasilan rendah, mereka terpaksa menggunakan permukiman itu sebagai tempat tinggal. Dalam permukiman itu mereka menemukan rasa aman karena berkumpul dengan sanak keluarga atau orang sekampung atau setidak-tidaknya dengan mereka yang senasib terlantar di Perkotaan. Permukiman inilah yang hanya terjangkau kemampuan keuangan mereka. Ada kecenderungan selama arus urbanisasi masih
berlangsung dan selama orang masih menganggap daerah Perkotaan tempat untuk memperbaiki nasibnya, maka selama itu pula permukiman kumuh di Perkotaan dianggap sebagai pilihan tempat tinggal yang paling tepat bagi pendatang pada umumnya. Cara hidup demikian itu merupakan jalan keluar terbaik untuk mengurangi beban bagi para penghuni pemukiman kumuh yang pada umumnya berpenghasilan rendah dan tidak tetap.
Dalam setiap usaha atau perjuangannya dalam rangka memperoleh penghidupan yang lebih baik, terutama bagi keluarga dan anak-anaknya. Mereka senantiasa didorong oleh pemikiran dan sikap tindak (perilaku) yang relatif keras dan spekulatif. Disamping oleh karena mobilitas horizontal penduduk pemukim yang cukup tinggi dan tidak adanya waktu kerja yang teratur dalam mencari nafkah, maka nampak intensitas hubungan sosial dan perencanaan masa depan mereka terbatas dan tidak pasti adanya dalam suasasana yang penuh ketidakpastian (pekerjaan dan penghasilan), maka ada kecenderungan mereka lebih mengutamakan usaha pemenuhan kebutuhan waktu sekarang yang senantiasa mendesak. Jika mengalami kegagalan, pada umumnya mereka lebih cepat frustrasi, yang kemudian dapat mendorong mereka untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan baik berupa pelanggaran nilai-nilai dan norma-norma hukum, maupun melakukan tindak kejahatan. Dalam
menjawab tantangan hidup semacam ini para penghuni permukiman kumuh pada umumnya selalu dalam keadaan resah, penuh kecurigaan terhadap lingkungan sosial dan aparat pemerintah setempat.
Masalah yang terjadi akibat adanya permukiman kumuh ini, khususnya Kota Makassar besar diantaranya wajah Perkotaan menjadi memburuk dan kotor. Disisi lain bahwa kehidupan penghuninya terus merosot baik kesehatannya, maupun sosial kehidupan mereka yang terus terhimpit jauh dibawah garis kemiskinan (Sri Soewasti Susanto, 1974)
Menurut Merton, keadaan yang menghawatirkan pada masyarakat modern terjadi oleh karena warga-warga masyarakat ingin mencapai kemajuan dan keberhasilan yang menyertainya, akan tetapi untuk mencapai hal itu dengan cara yang benar bukanlah hal yang penting, dengan kata lain masyarakat ingin mencapai keberhasilan dengan berbagai macam cara walaupun dengan cara yang tidak sah (Soerjono Soekanto, 1984).
Secara umum, anomie dapat diartikan sebagai suatu keadaan sosial dalam mana keterikatan pada aturan-aturan normatif sangat lemah. Merton dalam pembentukan teori anomie mengemukakan anomie sebagai suatu keadaan dari struktur sosial dimana terdapat beberapa ketidak serasian antara nilai-nilai yang diakui secara budaya
dalam cara-cara yang diakui untuk pencapaian nilai-nilai ini. Anomie terjadi dimana penekanan yang berlebihan diletakkan pada suatu pilihan dengan mengorbankan yang lain : penekanan pada pencapaian nilai-nilai budaya mungkin akan menyebabkan orang mengambil cara apapun baik sah ataupun tidak. Pencapaian pada tujuan-tujuan ekonomi, misalnya, mungkin akan cenderung menyebabkan sedikitnya perhatian pada sah atau tidaknya cara-cara yang dipergunakan. Bagi beberapa kelompok sosial, dalam mencapai nilai tertentu seperti keberhasilan mungkin akan dipergunakan cara-cara yang kurang diterima secara-cara budaya dibanding pada kelompo-kelompok lainnya (Berry, 1995).
Marsall B. Clinard dalam Sociology of Deviant Behavior berpendapat, anomie adalah salah satu pandangan sosiologi yang dikaitkan dengan kekacauan yang menjelaskan berbagai bentuk penyimpangan seperti kriminal, alkoholism, pemakaian obat-obatan, bunuh diri dan penyakit mental. Teori anomie menyebutkan bahwa penyimpangan hasil dari ketegangan struktur sosial tertentu yang menempatkan penekanan pada individu-individu.
Pandangan tersebut dikembangkan oleh Robert K. Merton pada tahun 1930-an, anomie adalah nama dari kondisi sosial dimana suatu tujuan untuk mencapai sesuatu (materi) ditekankan lebih banyak pada cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut, dimana
konsekuensinya beberapa orang dipaksa untuk mencapai tujuan tersebut dengan cara yang tidak sah. Dalam menjelaskan perilaku menyimpang teori anomie mendasarkan pada fakta bahwa tingkat penyimpangan tertinggi adalah disebabkan karena kemiskinan dan terjadi pada masyarakat kelas bawah, hal ini disebabkan karena kesempatan untuk mencapai keberhasilan materi terbatas hanya pada sejumlah kecil masyarakat yang mempunyai kesempatan untuk meraihnya (Clinard, 1989).
Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa, perilaku masyarakat yang paling sering terjadi adalah perilaku yang mengarah pada tindakan kriminal. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat di kawasan kumuh Tamamaung Kecamatan Panakukang, cenderung melakukan tindakan menyimpang dari norma, hukum dan kaidah agama.
F. ArahanDalam Penanganan Perilaku Menyimpang Masyarakat