BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 2
a. Deskripsi Sekolah
SD Kanisius Sorowajan beralamat di Jl. Sorowajan No.111, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta. Berdiri sejak tahun 1962. Sekolah ini adalah sebuah sekolah yang
mempunyai kelas paralel dari kelas 1-5 (A dan B), kecuali kelas 6 (hanya satu kelas). Terdiri dari seorang kepala sekolah (BS/bukan nama sebenarnya), 11 guru kelas, dua orang guru olah raga, seorang guru komputer, empat orang guru ekstrakurikuler (tari, taekwondo, menyayi, karawitan), dan tiga orang petugas tata usaha, serta seorang satpam.
Sekolah yang memiliki visi ”Menjadi pendidik anak Indonesia agar cerdas, berkarakter, peduli terhadap sesama dan lingkungan” dan misi
”Menyelenggarakan pendidikan sekolah dasar dan menengah yang
berkualitas berlandaskan Paradigma Pedagogi Reflektif dan
mengoptimalkan sumber daya bersama mitra strategis” ini telah
menerapkan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) sejak tahun 2008 dengan salah satu alasan sebagai berikut: pendidikan intelektual belaka ternyata tidak cukup berhasil membuat orang sukses dalam kehidupannya. Banyak orang pandai tetapi tidak sukses dan banyak juga yang kendati tidak menonjol di bidang pengetahuan, tapi sukses karir atau hidupnya. Sebelum penerapan PPR, di sekolah ini terlebih dahulu menerapkan pendidikan karakter MATIUS (MANDIRI, AKTIF, TAAT, INOVATIF, ULET, SANTUN) yang Multikultur dengan alasan bahwa pendidikan bukan hanya mengembangkan aspek intelektual saja, tetapi aspek yang lain juga dikembangkan, maka sekolah ini mencoba mengembangkan sekolah yang berwawasan lingkungan berbasis kearifan lokal yaitu dengan menerapkan pendekatan pendidikan karakter MATIUS yang Multikultur. (Selayang Pandang SD K Sorowajan.2010).
Untuk kebijakan penerapan PPR di SD K Sorowajan ini, sejauh pengamatan tidak ditemukan bagaimana bunyi kebijakan tersebut dan bukti dokumennya. Yayasan Kanisius mengambil keputusan bahwa untuk saat ini PPR merupakan pola pembelajaran yang terbaik. PPR merupakan keputusan yang final untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah Katholik, khususnya di Yayasan Kanisius.
b. Guru Kelas IVB
Penelitian ini difokuskan pada kelas IVB dengan wali kelas bernama R. Ibu R sudah mengajar di SD K Sorowajan selama satu setengah tahun. Sebelum ditempatkan di SD K Sorowajan, ia mengajar di SD K Demangan Baru. Ia tinggal bersama dengan orangtuanya karena masih berstatus lajang di daerah Samben RT 05/Argomulyo Sedayu Bantul, Yogyakarta. Jenjang pendidikan yang ia tempuh semuanya
berada di Yogyakarta, antara lain di “SD N Gunung Mulyo Sedayu (1993- 1998), SMP N Sedayu (1998-2001), SMA N 1 Godean (2001-2004), Universitas Sanata Dharma (th. 2004-2008”) (WK/17-21/260311.) Ibu Roz ini memilih untuk jadi guru SD, walaupun ia lulusan dari Prodi Matematika karena arahan dari ibu kandungnya yang juga seorang guru sekolah dasar. Selain alasan tersebut, ia juga mempunyai keinginan yang kuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pekerjaannya.
c. Siswa Kelas IVB
Subjek ketiga yaitu siswa kelas IVB SD K Sorowajan yang berjumlah 32 orang. Mereka berumur rata-rata 9-10 tahun. Jumlah siswa laki-laki 15 orang, sedangkan jumlah siswa perempuan yaitu 17 orang. Mereka mayoritas tinggal di sekitar lingkungan SDK Sorowajan. Latar belakang ekonomi keluarga cukup merata dari atas, menengah dan bawah, misalnya dokter, guru, buruh.
Wawancara dilakukan kepada dua orang siswa yang dipilih secara acak yaitu K dan VR. Wawancara bertujuan untuk mengetahui dampak dari pendekatan pedagogi reflektif dalam setiap pembelajaran oleh Ibu R.
d. Orang Tua Murid IVB
Peneliti memilih secara acak subjek pendukung penelitian yaitu orang tua murid IVB, yang diwakili oleh bapak TT dan Ibu BD. Ibu BD adalah seorang kepala sekolah dari sebuah SMA swasta di Kabupaten
Bantul Yogyakarta. Suaminya adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Ibu BD cukup ramah dan terbuka dalam menceritakan anaknya (K). K bukan anak kandung dari Ibu BD, ia mempunyai kelainan pada salah satu organ (jantung) tubuhnya yang membuat orang tua kandung tidak bisa merawatnya. Meskipun demikian, K tetap tumbuh sebagai gadis yang ceria di tengah orang tua dan kakak-kakaknya di rumah.
Bapak TT adalah seorang guru olah raga di SD K Sorowajan. Dia mempunyai seorang istri dan dua orang anak (R dan VR). Bapak TT sangat memperhatikan perkembangan anaknya, baik dalam sekolah maupun pergaulan di masyarakat.
2. Implementasi PPR
Implementasi PPR di SD Kanisius Sorowajan belum optimal diseluruh kelas dan di semua mata pelajaran. Hanya beberapa kelas saja yang sudah menerapkan PPR dalam pembelajarannya yaitu kelas IVB dan VA. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, guru masih kesulitan dalam menerapkan PPR dalam pembelajaran. Selain karena kurang mendapatkan pelatihan dan bimbingan, hal ini juga disebabkan karena hanya para guru yang mendapatkan pelatihan dan bimbingan PPR, sehingga pemberian pelatihan dan bimbingan PPR kepada para guru tidak merata.
Dari pengamatan di kelas IVB, penerapan PPR sudah cukup maksimal. Guru telah menerapkan PPR dalam lima mata pelajaran pokok yaitu IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Matematika dan Pkn. Guru tidak menerapkan siklus utuh dalam setiap mata pelajaran, karena butuh banyak waktu untuk menerima PPR yang merupakan sesuatu hal yang baru, sehingga tugas admisnistrasi guru menjadi semakin banyak serta RPP yang berbeda dengan RPP yang lain telah menyita waktu berpikir guru. Maka untuk mengatasi kesulitan tersebut, para guru diberi sebuah pelatihan
khusus tentang PPR. Hasil yang didapat masih saja guru merasa bingung tentang penerapan PPR, karena sesuatu hal yang baru dibutuhkan proses yang panjang untuk mempelajari serta menerapkannya.
Walaupun tidak utuh penerapan tahapannya, yang terpenting adalah kekhasan dari PPR itu sendiri yaitu refleksi dan aksi, karena refleksi dan aksi dapat dilakukan dalam setiap metode pembelajaran yang guru gunakan. Hal yang dilakukan guru sudah baik, beliau masih berusaha menerapkan PPR sesuai dengan kemampuannya. Karena beliau menginginkan anak didiknya berkembang secara utuh dan maksimal, baik dalam prestasi, moral, dan sikapnya. Maka sebaiknya, dalam hal ini guru masih perlu banyak waktu untuk lebih memperdalam tentang PPR, agar hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan PPR itu sendiri serta anak didiknya dapat berkembang secara maksimal dan utuh.
Penerapan yang dilakukan oleh Ibu Ros telah memberikan dampak positif bagi siswanya. Sejauh pengamatan dan wawancara, siswa menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab dengan apa yang menjadi tugasnya, baik di sekolah maupun di rumah. Dengan adanya PPR ini, siswa lebih mudah untuk mengerti materi yang guru berikan, karena guru menggunakan alat peraga yang akan membuat siswa antusias mengikuti pelajaran dan pembelajaran menjadi menyenangkan. Nilai-nilai pelajaran siswa pun sebagian besar sudah melebihi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Namun tidak dipungkiri, masih ada sebagian kecil siswa yang mendapatkan nilai di bawah rata-rata.
3. Dampak PPR
Pembelajaran yang menggunakan PPR ini memberikan dampak yang positif bagi siswa. Siswa mengatakan bahwa mereka merasa senang dengan pembelajaran yang disampaikan Ibu R. Vr (siswa) menyadari bahwa ada perubahan sikap yang dilakuakan di sekolah dari hari ke hari,
misalnya “semakin rajin mengerjakan PR dan tugas”.(S/14-19/24051). Demikian juga K (siswa) mengatakan bahwa ia “tidak mencontek teman, rajin belajar dan piket” pasca mendapatkan pendekatan PPR (S/18- 20/240511).
Sedangkan di rumah, mereka (Vr dan K) juga semakin rajin dalam melakukan tugas mereka sebagai anak dalam membantu meringankan tugas orang tua. Misalnya, Vr biasanya “menyapu lantai” (S/44/240511) sedangkan K “bantu ibu cuci piring” (S/45/240511). Dampak juga dirasakan sendiri oleh guru kelas IVB. Ibu R mengatakan bahwa ada perubahan baik dari segi akademik maupun nonakademik. Menurut Ibu R misalnya perubahan sikap (emosional) salah satu siswa, “Contohnya: N, dulu Ia sangat tomboy dan suka ngatur-ngatur temannya dengan bentak- bentak. Lambat laun Ia semakin feminine dan bisa mengalah dengan temannya” (WK/236-244/290411). Sedangkan dari segi akademik, Ibu R mengatakan bahwa pembelajaran PPR juga memberikan perubahan
misalnya “T, rata-rata nilainya cenderung membaik” (WK/277- 278/290411). Demikian juga yang dirasakan oleh orang tua dari siswa
kelas IVB. Orang tua dari Vr mengatakan bahwa, “Vr mengalami perubahan sikap yang sangat terlihat jika dibandingkan sebelum mendapatkan PPR, yaitu sikap pemberani dalam setiap hal. Sekarang Vr berani untuk berkecimpung di dalam masyarakat, terutama dalam kegiatan gereja. Misalnya ikut Puteri Altar” (OtV/1-9/230511). Sedangkan
orang tua dari K mengatakan bahwa “secara keseluruhan, Kinanti belum mengalami perubahan yang signifikan dalam bersikap pasca mendapatkan PPR di sekolah, namun rasa empati terhadap teman sebaya saat bergaul di lingkungan rumah semakin terlihat saat ia memberi bantuan baik berupa materi (misalnya makanan dari rumah) maupun moril” (OtK/87- 100/24051).
Pembelajaran yang menggunakan PPR ini memberikan pengaruh dan dampak yang sangat positif, dilihat dari hasil wawancara dengan guru, murid, dan orang tua. Mereka menyadari bahwa ada perubahan positif yang terus terjadi baik dari prestasi maupun sikap, setelah mendapatkan pembelajaran yang berbasis PPR ini secara berkelanjutan.
Terakhir peneliti juga melakukan penerapan PPR dalam pembelajaran di kelas IVB sebanyak dua kali pada mata pelajaran IPS dan PKn. Hal itu difokuskan pada penerapan langkah-langkah PPR karena peneliti ingin menemukan pengalaman seperti yang dialami oleh guru. Dalam penerapannya peneliti telah mempersiapkan bahan ajar dan instrument pembelajaran (RPP, LKS, lembar refleksi dan aksi, media pembelajaran). Peneliti merasa senang telah melakukan penerapan PPR tersebut, walaupun masih mengalami kendala yaitu manajemen waktu.
BAB V KESIMPULAN
A. Kesimpulan:
1. Penerapan PPR di SDK Sorowajan dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
a. Sekolah menerapkan PPR di setiap kelas, akan tetapi belum maksimal di seluruh kelas dan di semua mata pelajaran karena guru masih perlu banyak waktu untuk lebih mempelajari dan mendapatkan pelatihan tentang cara penerapan PPR dalam kegiatan pembelajaran.
b. Sekolah melakukan pemantauan yaitu dengan diadakannya rapat evaluasi PPR dan membentuk tim sukses PPR untuk mengatasi kendala- kendala yang dialami guru.
2. Penerapan PPR yang dilakukan guru di kelas IVB adalah guru tidak menerapkan siklus PPR secara utuh dalam setiap mata pelajaran. Kadang- kadang hanya 1 atau 2 mapel yang menggunakan PPR secara utuh. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yaitu:
a. Penerapan PPR membutuhkan waktu persiapan kurang lebih seminggu per materi pelajaran.
b. Untuk materi-materi yang tidak bisa diterapkan PPR secara utuh, guru hanya memberikan tahap refleksi dan aksi pada materi tersebut.
3. Dampak positif yang ditimbulkan adalah: a. SD K Sorowajan
Sekolah dapat memberikan lulusan yang kompeten dan berguna bagi diri sendiri serta orang lain.
b. Siswa
Siswa merasa senang dan mengalami perubahan yang positif dari hari ke hari baik dari segi akademik maupun nonakademik. Dari segi akademik dapat dilihat peningkatan nilai siswa. Dari segi nonakademik, siswa mengalami perubahan sikap yang positif baik di rumah maupun di sekolah. c. Guru
Guru terbantu dengan adanya pendekatan (PPR) yang sangat dibutuhkan siswa saat ini, yaitu pendekatan yang dapat mengembangkan pribadi siswa menjadi lebih bertanggung jawab, peduli terhadap sesama dan mandiri.