• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 ANALISIS DAN PEMODELAN SISTEM Analisis Sistem

Analisis Situasional

Permintaan produk EB di berbagai negara mengalami peningkatan, demikian pula yang terjadi kawasan Asia Pasifik (termasuk Indonesia) akan mengalami peningkatan sebesar 14% per tahun dari total penjualan USD 243 juta. Di sisi lain, produksi pisang nasional yang mencapai 5.7 juta ton (40% total produk buah nasional) (BPS, 2012) dengan daya serap UMKM pengolah pisang hanya berkisar 30 ribu ton per tahun (Balitbang Deptan, 2005) menjadikan komoditas ini sangat prospektif untuk dikembangkan menjadi EB berbasis pisang.

Rancang bangun sistem produksi diperlukan untuk menunjang daya saing agroindustri, karena dengan sistem produksi yang baik agroindustri mampu meningkatkan output, efisiensi, dan kualitas produk. Model rancangan sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang diperlukan untuk menjembatani para pihak yang berkepentingan terhadap pendirian agroindustri EB berbasis pisang. Dengan rancangan sistem produksi, para pihak yang berkepentingan dapat mengetahui informasi, melakukan simulasi dan membantu mengambil keputusan terhadap rancangan sistem produksi yang akan digunakan dalam agroindustri EB

berbasis pisang.

Analisis Kebutuhan Sistem

Kebutuhan sistem merepresentasikan kebutuhan para pihak yang berkepentingan dalam sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang. Pihak yang berkepentingan pada sistem produksi yang dimaksud adalah individu atau organisasi yang berkepentingan terhadap sebuah sistem atau output dari sistem. Masing-masing aktor yang terlibat mempunyai kepentingan tersendiri pada sebuah sistem. Pada model sistem produksi agroindustri yang dirancang ini, kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan diakomodir dalam model sistem produksi yang akan dibangun. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap sistem produksi agroindustri EB berbasispisang dapat dilihat pada Tabel 6.

Pada tahap awal perancangan sistem produksi agroindustri juga ditetapkan ukuran kinerja (measure of performance) dari model sistem produksi yang dirancang. Sistem produksi yang dikembangkan harus mampu memenuhi spesifikasi produk yang diinginkan (densitas energi produk= 4.66-500 kkal/g dengan kadar air kurang dari 9.5%), memenuhi kapasitas produksi 800 kg produk/hari dengan rendemen tepung pisang 22% dan produk EB berbasis pisang >80%, serta memenuhi kriteria kelayakan finansial. Ukuran-ukuran tersebut menjadi ukuran kinerja ada model sistem produksi pada agroindustri EB berbasis pisang yang kembangkan.

Tabel 6 Analisis kebutuhan stakeholder pada sistem produksi agroindustri EB

berbasis pisang

No Stakeholder Kebutuhan

1 Investor  Mendapatkan informasi tentang sistem produksi

EB berbasis pisang

 Mendapatkan informasi mengenai tingkat pengembalian investasi untuk agroindustri EB

berbasis pisang

 Investasi yang menguntungkan

2 Perbankan  Kelancaran pengembalian kredit untuk agroindustri EB berbasis pisang

 Pemantauan tingkat pengembalian kredit pada agroindustri EB berbasis pisang

 Meningkatkan jumlah nasabah 3 Pemerintah  Pertumbuhan investasi di daerah

 Mendapat informasi agroindutri prospektif untuk dikembangkan di daerah terebut

 Meningkatkan pendapatan daerah

4 Konsumen  Mendapatkan informasi produk EB berbasis pisang

 Menginginkan produk EB berbasis pisang yang berkualitas

 Kemudahan mendapatkan produk 5 Pelaku industri EB

berbasis pisang

 Informasi jalanya produksi pada agroindustri EB

berbasis pisang

 Kelancaran produksi EB berbasis pisang

 Memenuhi permintaan

 Keuntungan

 Mengetahui keuntungan dan tingkat pengembalian investasi

6 Pemasok  Kemudahan menjual pisang nangka dengan harga jual yang menguntungkan

 Mendapatkan informasi mengenai kapasitas pasokan pada agroindustri EB berbasis pisang 7 Lembaga

Litbang/Perguruan Tinggi

 Teknologi EB berbasis pisang yang dikembangkan diadopsi oleh pelaku industri

 Mendapatkan informasi referensi rancangan sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang

Identifikasi Sistem

Tahap identifikasi sistem merupakan tahapan awal dalam menyusun model konseptual sistem produksi dengan mengidentifikasi input, proses, dan output pada sebuah sistem. Dalam hal ini identifikasi sistem dilakukan menggunakan diagram lingkar sebab akibat dan diagram kotak gelapuntuk mengetahui variabel

25 input, output, kontrol dan batasan sistem yang dibuat. Diagram lingkar sebab akibat pada perancangan model sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang dapat dilihat pada Gambar 8.

Kas keluar

Jumlah tenaga kerja langsung Pendapatan Jumlah limbah padat

Laba bersih

Jumlah bahan baku

Biaya Variabel

Pajak

Biaya operasional

Jumlah produksi

energy bar pisang

Biaya pengolahan limbah Harga jual produk Penjualan produk

energy bar pisang

Produksi kompos

Harga bahan baku

Kredit investasi Aktivitas nir

produktif

Kas masuk

Kredit modal kerja

Pengembalian investasi Pembayaran kredit

Tingkat output

Tingkat kontinuitas produksi industri energy

bar pisang + + + + + + + + + + + + + + + _ + + + + + + + _ + +

Gambar 8 Diagram sebab akibat pada rancang bangun sistem produksi agroindustri EB berbasispisang

Gambar tersebut menjelaskan hubungan sebab akibat pada sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang. Untuk meningkatkan tingkat kontinuitas produksi dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah pendapatan dengan menekan biaya operasional pabrik dan meningkatkan penjualan.

Sedangkan diagram kotak gelap menjelaskan input, output, dan kontrol pada model sistem produksi yang dirancang. Input pada sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang terbagi menjadi dua kelompok yaitu input terkendali dan input tidak terkendali. Demikian pula dengan output, output dalam hal ini dikelompokkan dalam output terkendali dan output tak terkendali. Manajemen pengendalian juga digunakan dalam sistem produksi agroindustri EB

berbasis pisang adalah manajemen investasi/produksi. Gambar diagram kotak gelap yang mendeskripsikan model sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang dapat dilihat pada Gambar 9.

Sistem Produksi Agroindustri Energy Bar Berbasis Pisang

Input terkendali:

a. Jumlah produksi energy bars pisang b. Jumlah bahan baku pisang nangka dan bahan pembantu (ingredient) c. Tingkat teknologi

d Jumlah tenaga kerja

e. DER (debt equity ratio), rasio modal pinjaman dan modal sendiri

Input tidak terkendali:

a. Harga pisang nangka b. Harga bahan pembantu c. Tingkat suku bunga kredit investasi dan kredit modal kerja

Output dikehendaki:

a. Investasi yang untung dan layak b. Kontuinuitas produksi c. Menghasilkan produk dengan spesifikas yang dinginkan (jaminan kualias)

d.Kuantitas produk sesuai dengan perencanaan

Output tidak dikehendaki: a. Investasi gagal (tidak layak) b. Pencemaran lingkungan akibat limbah

d. Kuantitas produk tidak sesuai perencanaan

Input Lingkungan a. Kebijakan pemerintah

b. Isu lingkungan

c. Isu kesehatan produk pangan (terkait produk pangan berkalori tinggi)

Manajemen produksi

Gambar 9 Diagram kotak gelap pada model sistem produksi agroindustri EB

berbasis pisang

Pemodelan Sistem

Model Konseptual (Prelimery Design)

Model konseptual merupakan representasi teoritis dari sistem produksi berdasarkan studi literatur dan observasi lapang (Parnel et. al., 2012). Model konseptual untuk sistem produksi agroindustri EB berbasispisang yang diusulkan disajikan dalam konfigurasi sistem yang dapat dilihat pada Gambar 10. Model sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang diwujudkan dalam bentuk sistem penunjang keputusan dan diberi nama “SPK Sispro groban .0”.

User User

Sistem Manajemen Dialog Sistem Manajemen Dialog

Data bahan baku Data bahan baku Data biaya investasi &

operasional Data biaya investasi &

operasional

Data karakteristik lokasi Data karakteristik

lokasi Data neraca massa dan

energi Data neraca massa dan

energi

Model neraca massa dan energi Model neraca massa dan

energi

Model analisi kelayakan & sensitivitas Model analisi kelayakan &

sensitivitas Model pemilihan lokasi

industri Model pemilihan lokasi

industri Basis Data Dinamis

Basis Model Sistem Pengolahan Terpusat

Sistem Pengolahan Terpusat

SPK Sispro Agroban 1.0

Model penentuan komposisi bahan baku Model penentuan komposisi

bahan baku Fasilitas penjelasan

Fasilitas penjelasan

Data mesin dan peralatan Data mesin dan

peralatan Informasi produk

Informasi produk

Model sistem produksi agroindustri energy bar pisang

process flow diagram process flow diagram

Basis Data Statis

Model tata letak fasilitas Model tata letak fasilitas

Gambar 10 Konfigurasi model sistem produksi yang dalam bentuk SPK Konfigurasi model sistem produksi agroindustri yang diusulkan terdiri dari tiga sub sistem, yaitu basis data, basis model, dan basis dialog. Model yang diusulkan juga dilengkapi dengan informasi terkait produk, rancangan teknologi

27 proses, rancangan tata letak fasilitas, dan penjelasan. Pengguna dalam hal ini bisa melihat informasi, melakukan simulasi, dan diharapkan aplikasi ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan terkait dengan sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang.

Pemodelan berorientasi objek digunakan dalam pengembangan model sistem produksi pada bentuk aplikasi komputer berbasis web. Nugroho (2002) menjelaskan pemodelan beorientasi objek memandang data dan fungsi dalam suatu sistem sebagai objek atau kelas. Pada penelitian ini digunakan diagram berbasis pemodelan berorientasi objek untuk mengembangkan sistem yang dibangun antara lain use casediagram, activity chart diagram, state char diagram,

dan class diagram dengan bantuan perangkat lunak Sybase Power Designer 16.0

(SAP, 2011). Berikut ini akan dibahas satu-persatu instrumen analisis untuk memodelkan sistem produksi pada agroindustri EB berbasis pisang.

Analisis Usecase

Usecase merupakan teknik dokumentasi kebutuhan fungsional sistem yang

mendeskripsikan interaksi antara sistem dengan aktor diluar sistem untuk mencapai tujuan tertentu (Booch et al., 2007). Interaksi antara aktor di luar sistem dalam bentuk diagram usecase dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11 Diagram usecase pada model sistem produksi agroindustri EB

berbasis pisang SPK Sispro Agroban 1.0 Pengguna Administrator Pakar Memberikan peniaian prioritas lokasi Investor Perbankan Pemerintah Konsumen Supplier Litbang/PT

melihat informasi produk

Melakukan simulasi neraca massa melihat rancangan process

melakukan simulasi neraca energi melakukan simulasi densitas energi

melihat prioritas lokasi industri

Melihat rancangan tata letak

Melakukan simulasi kelayakan finansial

Pada diagram usecase diilustrasilakan bahwa terdapat tiga aktor yang terlibat dalam sistem yaitu administrator, pakar, dan pengguna. Masing-masing

user memiliki hak akses yang berbeda pada terhadap sistem yang dibangun. Admnistrator memiliki hak akses dalam mengelola user, pakar memiliki hak akses dalam memberikan penilaian prioritas lokasi agroindustri, sedangkan pengguna (investor, pelaku industri, konsumen, pemasok, pemerintah, litbang/perguruan tinggi) mempunyai hak akses untuk mengetahui rancangan sistem produksi, melakukan simulasi, serta mendapatkan hasil penilaian prioritas terkait pengambilan keputusan untuk menentukan komposisi bahan baku produk, memilih lokasi industri, dan kelayakan finansial pendirian agroindustri EB

berbasis pisang.

Diagram Aktivitas

Diagram aktivitas merupakan diagram alir yang digunakan untuk menganalisis aliran kerja atau aktivitas dalam sebuah sistem. Kelebihan diagram aktivitas dibandingkan dengan diagram alir biasa adalah adanya konkurensi (pelaksanaan aktivitas secara bersama), pengiriman pesan dan pelaku aktivitas (Booch et al., 2007). Diagram aktivitas digambarkan dalam unit organisasi yang merepresentasikan perusahaan, sistem, layanan, organisasi, pengguna, atau peran dalam melakukan aktivitas pada sebuah sistem. Terdapat empat unit organisasi yang terlibat dalam diagram aktivitas pada pengembangan sistem ini, yaitu

administrator, pakar, pengguna, dan sistem (SPK Sispro Agroban 1.0) itu sendiri.

Secara umum diagram aktivitas pada model sistem produksi agroindustri EB

berbasis pisang disajikan pada Gambar 12.

Pada gambar tersebut diilustrasikan aktivitas pada setiap unit organisasi yang terlibat didalam sistem. Pada unit organisasi pengguna, akivitas pertama yang dilakukan adalah login sebagai pengguna, kemudian pengguna dapat melakukan serangkaian aktivitas yaitu melihat informasi spesifikasi produk, menentukan komposisi bahan baku, melihat informasi rancangan process flow

diagram, melihat informasi tata letak fasilitas, melakukan simulasi neraca massa

dan energi, melihat prioritas lokasi, dan melakukan simulasi kelayakan finansial pada pendirian agroindustri EB berbasis pisang. Unit organisasi administrator, melakukan aktivitas login untuk mengelola user yang bertindak sebagai pakar dan pengguna. Unit organisasi pakar melakukan aktivitas untuk memberikan penilaian terhadap prioritas lokasi pendirian agroindustri EB berbasis pisang. Aktivitas masing-masing unit organisasi akan dijelaskan pada masing-masing modul yang tersedia pada SPK Sispro Agroban 1.0 melalui diagram status yang akan dijelaskan pada sub bab berikutnya.

29

Gambar 12 Diagram aktivitas pada SPK Sispro Agroban 1.0

Diagram Status

Diagram status (state chart diagram) menggambarkan tentang perilaku pada elemen-elemen dinamis model yang berhubungan dengan aktivitas–aktivitas yang akan dilakukan (Booch et al., 2007). Diagram ini fokus pada perpindahan tahapan ke tahapan lain di dalam suatu sistem.

a) Sub model penentuan komposisi bahan baku

Sub model penentuan komposisi bahan baku pada produk EB berbasis pisang didasarkan pada parameter mutu utama produk EB yaitu densitas energi. Densitas energi pada produk EB berbasis pisang dihitung berdasarkan sumbangan kalori komponen nutrisi makro pada masing-masing bahan baku. Dengan mengkonversi bobot masing-masing komponen nutrisi makro menjadi kkal (1 gram protein = 4 kkal, 1 gram karbohidrat = 4 kkal, dan 1 gram lemak = 9 kkal) dan membaginya dengan total bobot bahan baku maka diperoleh densitas energi untuk produk EB berbasis pisang. Densitas energi yang memenuhi standar IOM (2002) yaitu 4.66–5.00 kkal/g adalah densitas energi yang dipakai dalam

Perhitungan densitas energi

Perhitungan densitas energi

Standar densitas energi IOM (2002) 4.77-5.00 kkal/g

Standar densitas energi IOM (2002) 4.77-5.00 kkal/g Komposisi bahan energy bar pisang Komposisi bahan energy bar pisang Selesai Selesai 4.77-5.00 kkal/ gram? 4.77-5.00 kkal/ gram? Tidak Ya Input/edit/hapus Nutrisi Bahan baku

Input/edit/hapus Nutrisi Bahan baku

Mulai

Mulai

Input bobot komposisi bahan baku

Input bobot komposisi bahan baku

Data bahan baku

Data bahan baku

menentukan komposisi bahan baku EB berbasis pisang. Rumus perhitungan densitas kalori disajikan sebagai berikut:

ensitas nergi (gramkkal) ∑nb 4Pb ∑nb 4Kb ∑nb 9Lb b

n

b ………( )

dimana :

b = bahan ke-n

P = gram protein bahan ke-n K = gram karbohidrat bahan ke-n L = gram lemak bahan ke-n B = gram bahan ke-n

Pada sub model penentuan komposisi bahan baku ini hanya satu kriteria yang digunakan dalam penentuan bahan baku yaitu densitas energi. Keputusan terhadap komposisi bahan baku digunakan jika densitas energi telah memenuhi standar IOM (2002) yaitu 4.66-5.00 kkal/g. Jika kurang dan lebih dari standar, maka komposisi bahan baku yang diusulkan tidak diterima. Diagram alir penentuan densitas energi EB berbasis pisang dapat dilihat pada Gambar 13, sedangkan diagram statusnya dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 13 Diagram alir deskripsi sub model penentuan komposisi bahan baku pada agroindustri EB berbasispisang

31

<simpan database bahan baku> <masuk modul penentuan densitas

energ>

Input nutrisi bahan baku entry / data nutrisi

Input bobot komposisi bahan baku entry / input bobot bahan baku

Laporan perhitungan densitas kalori do / lihat laporan

<hitung densitas energ>

<keluar modul penentuan densitas energ>

<masuk modul pemilihan lokasi>

Input bobot kriteria dan alternatif lokasi entry / input bobobt

Laporan prioritas lokasi do / lihat laporan

<keluar modul pemilihan lokasi> <hitung prioritas lokasi (AHP)>

Gambar 14 Diagram status pada penentuan densitas energi produk EB berbasis pisang

b) Sub model pemilihan lokasi agroindustri EB berbasis pisang

Penentuan lokasi agroindustri EB berbasis pisang dilakukan berdasarkan metode AHP dengan melakukan pembobotan terhadap kriteria dan alternatif lokasi agroindustri. Diagram status pada sub model penentuan lokasi agroindustri

EB berbasis pisang dapat dilihat pada Gambar 15. Diagram alir deskripsi model penentuan lokasi agroindustri EB berbasis pisang dapat dilihat pada Gambar 16.

Gambar 15 Diagram status pada sub model pemilihan lokasi agroindustri EB

Lokasi agroindustri energy bar

pisang

Lokasi agroindustri energy bar

pisang

Penentuan bobot kriteria pemilihan lokasi dengan AHP

Penentuan bobot kriteria pemilihan lokasi dengan AHP

Konsisten?

Konsisten?

Penentuan bobot pemilihan alternatif lokasi dengan AHP

Penentuan bobot pemilihan alternatif lokasi dengan AHP

Konsisten? Konsisten? Selesai Selesai Ya Tidak Ya Tidak Input/edit/hapus pemobobotan alternatif lokasi Input/edit/hapus pemobobotan alternatif lokasi Input/edit/hapus Responden (Pakar) Input/edit/hapus Responden (Pakar) Data Pakar Data Pakar Mulai Mulai Input/edit/hapus pemobobotan alternatif lokasi Input/edit/hapus pemobobotan alternatif lokasi

Gambar 16 Diagram alir deskripsi model pemilihan lokasi agroindustri EB

33 c) Model kelayakan finansial pada agroindustri EB berbasispisang

Model kelayakan finansial pada sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang dilakukan untuk menentukan kelayakan sistem produksi yang dirancang. Kriteria kelayakan yang digunakan dalam model kelayakan finansial adalah

internal rate of return (IRR), net present value (NPV), payback period (PBP), dan

benefit cost ratio (B/C). Diagram alir sub model penentuan kelayakan finansial

pada agroindustri EB berbasis pisang dapat dilihat pada Gambar 17, sedangkan diagram status pada model kelakayan finansial dapat dilihat pada Gambar 18.

Input/edit/hapus Komponen Biaya Input/edit/hapus Komponen Biaya 1. Biaya Investasi 2. Biaya Operasional 1. Biaya Investasi 2. Biaya Operasional Mulai Mulai

Input skenario produksi

Input skenario produksi Skenario produksi 1,2,3,4,5Skenario produksi 1,2,3,4,5

1. Proyeksi Laba Rugi 2. Proyeksi Arus Kas

1. Proyeksi Laba Rugi 2. Proyeksi Arus Kas

Kriteria kelayakan investasi (NPV, PBP, IRR, B/C)

Kriteria kelayakan investasi (NPV, PBP, IRR, B/C)

Layak?

Layak?

Skenario produksi terpilih

Skenario produksi terpilih

Selesai

Selesai

Gambar 17 Diagram alir deskripsi sub model kelayakan finansial pada sistem produksi agroindustri EB berbasispisang

<hitung kelayakan>

input biaya investasi dan operasional entry / input biaya

<masuk modul kelayakan finansial>

input skenario produksi entry / input skenario <simpan data biaya>

laporan kelayakan finansial do / lihat laporan

<keluar modul kelayakan finansial>

Gambar 18 Diagram status pada sub model kelayakan finansial agroindustri EB

berbasis pisang

Diagram Kelas

Diagram kelas (class diagram) merupakan suatu diagram yang menggambarkan keadaan statis suatu sistem sebagai objek seperti dikehidupan nyata (Berardi et al., 2005). Objek didefinisikan sebagai konsep abstraksi atau sesuatu yang dianggap memiliki arti bagi sistem. Entitas-entitas di dalam diagram ini memiliki atribut-atribut yang berkaitan antara satu dengan yang lain. Diagram kelas merupakan diagram inti pada pemodelan berorientasi objek. Pada diagram kelas model sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang ini, entitas yang dipandang sebagai objek adalah user, prioritas lokasi, kelayakan finansial, biaya, neraca massa dan energi, densitas energi, bahan baku, dan user interface terkait modul pada aplikasi komputer yang dikembangkan. Gambar diagram kelas pada model sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang disajikan pada Gambar 19.

35

Gambar 19 Diagram kelas pada model sistem produksi agroindustri EB berbasis pisang

Verifikasi dan Validasi Model

Verifikasi model dilakukan untuk memastikan bahwa sistem yang dibangun sudah benar sehingga nantinya dapat digunakan oleh user (Wasson, 2006). Verifikasi model sistem produksi dilakukan dengan cara memeriksa logika operasional model (SPK Sispro Agroban 1.0) dan mencocokkan output model dengan hasil perhitungan manual. Tahapan ini dilakukan untuk memeriksa kesesuaian hasil dengan luaran yang diinginkan. Redecka dan Zilik (2004) menyatakan bahwa model dikatakan terverifikasi ketika output pada model telah sesuai dengan rancangan model yang telah dibuat sebelumnya. Hasil pencocokan

1 input biaya

0..*

menerima input masukan1

1 dipakai 1 1..1 0..* input kalori 1 hitung kalori 1 melaporkan 0..* menerima laporan 1 menampilkan 0..* melihat 1 menampikan 0..* melihat 1 menampilkan 0..* melihat 0..* 0..* 1 menampilkan 0..* melihat 0..* input bobot 0..* simpan bobot 1 menampilkan 0..* melihat User - - - - ID Nama email password : int : varchar : varchar : varchar + + input data () melihat hasil () Kelayakan finansial - - - - IRR NPV PBP Net B/C : float : float : float : float + + + + hitung IRR () hitung NPV () hitung Net B/C () hitung PBP () : float : float : float : float Prioritas Lokasi - - ID Lokasi Bobot prioritas lokasi

: int : float + hitung prioritas () : float

Densitas energi -

-

Komposisi bahan baku Densitas energi

: int : float + hitung densitas energi () : float

Bahan Baku - - - - - - - - ID Bahan Kalori Protein Lemak Karbohidrat Air Serat Nutrisi mikro : int : float : float : float : float : float : float : float + simpan data () Biaya - - ID biaya Biaya : int : float + simpan data () Interface kelakayan finansial + + + + IRR NPV PBP Net B/C : float : float : float : float + + menampilkan kelayakan () simpan kelayakan () : void

Interface tata letak + gambar tata letak : blob + menampilkan ()

Interface_process flow diagram + gambar : blob

+ menampilan () Neraca massa & energi

- -

data neraca massa data neraca energi

: float : float + hitung neraca massa ()

interface prioritas lokasi + bobot prioritas lokasi : float + menapilkan prioritas lokasi ()

interface neraca massa & energi + gambar neraca massa & energi : blob + menampilkan neraca massa & energi ()

Biaya Investasi - - - ID biaya invetasi Item Biaya Biaya : int : float : float + simpan () : void Biaya operasional - - - ID biaya operasional Item biaya operasional BIaya

: int : float : float + simpan () : void

Interface densitas energi + densitas energi : float + menampilkan densitas energi ()

logika operasional model dan luaran model pada SPK Sispro Agroban 1.0 telah sesuai dengan perhitungan manual.

Validasi model sistem produksi dilakukan dengan face validity, yaitu teknik validasi yang dilakukan dengan menanyakan kepada pakar (orang yang berkompeten) mengenai kesesuaian model terhadap gambaran sistem produksi pada keadaan nyata dilapangan (Becker, 2012). Pakar yang dimintai pendapat terkait validasi model yaitu Ainia Herminiati, ST, MSi. (peneliti bidang gizi dan makanan, LIPI), Hermawan Prasetya, SSi, MT (peneliti bidang perencanaan wilayah & geografi terapan, BPPT), dan Nanda Erlangga, SP, MM (pengusaha hortikultura, pemilik CV. Agro Mandiri Sentosa). Hasil validasi menunjukkan bahwa model yang dibangun mampu merepresentasikan gambaran sistem produksi pada industri EB pisang dan sangat mungkin untuk diterapkan pada dunia nyata.

Dokumen terkait