• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : PENGADILAN AGAMA BOYOLALI DAN KASUS

B. Analisis dasar dan pertimbangan hakim dalam menetapkan

nikah

Setelah penulis mencermati dari hasil wawancara kepada salah satu hakim dalam perkara pembatalan perkawinan ini, dimana hakim tersebut berkedudukan sebagai hakim anggota dalam perkara pembatalan perkawinan ini. Penulis dapat menuturkan sedikit banyak dari apa yang majelis hakim jadikan dasar dan pertimbangan hakim dalam menetapkan putusan terhadap pelaksanaan pembatalan perkawinan ini.

Adapun dasar dan pertimbangan hakim dalam menetapkan putusan terhadap pelaksanaan pembatalan perkawinan ini, sebagai berikut:

1. Bahwa terlebih dahulu majelis mempertimbangkan legalitas Pemohon dalam mengajukan permohonan ini bahwa untuk mengajukan suatu perkara adalah suatu keniscayaan adanya sandaran hukum (legal standing), sebagaimana fakta yang telah ditemukan oleh majelis, bahwa Pemohon dan Termohon adalah suami isteri yang sah sehingga demikian majelis harus menyatakan bahwa Pemohon berkualitas sebagai Pemohon karena sandaran hukum melekat pada Pemohon.

2. Bahwa majelis Hakim telah menasehati Pemohon agar dapat berdamai dan rukun kembali dengan Termohon akan tetapi tidak berhasil karena Pemohon tetap berkehendak bercerai dengan Termohon.

3. Bahwa dalam meneguhkan dalil-dalil permohonannya, Pemohon telah mengajukan alat-alat bukti berupa: surat-surat dan saksi-saksi.

73

4. Bahwa petitum kedua tentang agar perkawinan Pemohon dan Termohon dibatalkan, sebagaimana fakta yang telah ditemukan oleh majelis bahwa dalam perkawinan Pemohon dan Termohon telah terjadi penipuan dimana Termohon telah hamil dengan lelaki lain dan hal tersebut tidak diberitahukan Termohon kepada Pemohon

5. Bahwa pernikahan antara Pemohon dan Termohon telah melanggar ketentuan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, Pasal 27 ayat (2) karena Termohon sebelum menikah dengan Pemohon sudah melakukan hubungan layaknya suami isteri dengan orang lain sampai Termohon hamil.

6. Bahwa mengenai waktu pengajuan perkara, telah sesuai dengan maksud pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, dimana pengajuan perkara itu belum melampaui batas waktu yang ditentukan dalam Undang-Undang tersebut.

7. Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, selanjutnya majelis harus menyatakan bahwa Buku Akta Nikah 265/10/VIII/2010 tanggal 08 Agustus 2010 yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali atas nama Pemohon dan Termohon dinyatakan tidak berkekuatan hukum.

Hakim dalam melaksanakan tugasnya dalam memutus perkara mendasarkan putusannya pada hukum. Hukum yang berlaku yang dijadikan dasar adalah peraturan hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Putusan itu terkadang didasarkan atas putusan pengadilan atasannya. Jika

hakim tidak dapat menemukan hukumnya dalam peraturan-peraturan hukum atau yurisprudensi untuk dijadikan dasar putusannya, maka hakim membentukya sendiri terlepas dari putusan-putusan pengadilan yang pernah dijadikan putusan mengenai perkara yang sejenis. Hakim menetapkan sendiri hukumnya. (Mertokusumo, 1983:3).

Berdasarkan dasar dan pertimbangan hakim dalam menetapkan putusan terhadap pelaksanaan pembatalan perkawinan tersebut. Penulis akan memberikan penjelasan dari hal-hal tersebut. Dimana menurut hemat penulis bahwa memang benar adanya pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan lebih tepatnya lagi pada pasal 27 ayat (2), dimana pihak isteri tidak memberitahukan keadaan yang sebenarnya dari dirinya bahwa ia telah hamil dengan orang lain sebelum melaksanakan perkawinan.

Kemudian hakim memberikan kesimpulannya bahwa ia dapat mengetahui fakta bahwa pihak termohon hamil sebelum melaksanakan perkawinan dari hasil pembuktian, yang mana diketahui dari apa yang disampaikan dari para saksi dan pengakuan dari pihak termohon.

Yang sebenarnya wanita hamil di luar perkawinan dapat melaksanakan perkawinan. Namun, dalam hal ini, majelis hakim justru membatalkan perkawinan sebab dalam perkara ini telah ada unsur penipuan sehingga menyebabkan adanya salah sangka dari pihak suami terhadap isteri.

Dalam hal untuk mengetahui apakah pemohon berkualitas sebagai pemohon, majelis hakim dapat menemukan faktanya berdasarkan dari

75

pembuktian dalam persidangan. Bahwa telah diketahui pemohon dan termohon memang telah melaksanakan perkawinan, dengan melihat bukti yang ada, berupa Buku Akta Nikah atas nama pemohon dan termohon.

Dalam pelaksanan perdamaian atau mediasi hakim telah berupaya mendamaikan kedua belah pihak. Namun, tidak ada kesepakatan untuk terus menjalankan kehidupan rumah tangga secara bersama, karena jika hidup bersama tidak akan menjadi lebih baik, dan lebih baiknya adalah berpisah. Maka diambil jalan keluar untuk tetap melaksanakan pembatalan perkawinan. Hal ini dilaksanakan untuk menghilangkan madharatnya dan lebih mengedepankan manfaanya.

Fakta-fakta lain yang dapat majelis hakim gunakan untuk menentukan putusan, yaitu setelah majelis hakim mendengarkan keterangan saksi-saksi. Kemudian majelis hakim mengkwalifisir keterangan saksi-saksi yang mana saja yang dapat dijadikan pertimbangan majelis hakim. Tindakan yang dilakukan majelis hakim dengan menghadirkan dua orang saksi sudah sesuai prosedur. Dimana syarat saksinya, yaitu dua orang saksi, beragama Islam dan tahu benar tentang permasalahannya.

Setelah dikeluarkannya putusan pembatalan perkawinan, maka Buku Akta Nikah yang dimiliki oleh pihak pemohon dan termohon menjadi tidak inkracht (berkekuatan hukum) lagi. Sehingga harus diganti dengan kutipan akta cerai. Namun, dalam hal ini, karena perkawinan yang dilaksanakan belum lebih dari 6 (enam) bulan, maka tidak disebut dalam putusan sebagai perceraian melainkan disebut pembatalan perkawinan. Mengenai jangka

waktu ini dapat dilihat pada Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang

Perkawinan pasal 27 ayat (3), yang berbunyi: “Apabila ancaman telah

berhenti, atau yang bersalah sangka itu menyadari keadaannya, dan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah itu masih tetap hidup sebagai suami isteri, dan tidak mempergunakan haknya untuk mengajukan permohonan

pembatalan, maka haknya gugur.”

Dalam hal pokok pada dasar dan pertimbangan hakim dalam menetapkan putusan terhadap pelaksanaan pembatalan perkawinan ini, semua langkah-langkah yang dilakukan oleh pihak majelis hakim telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam.

77 BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari uraian yang telah penulis bahas pada bab-bab sebelumnya pada skripsi ini yang berjudul PEMBATALAN PERKAWINAN KARENA HAMIL DI LUAR NIKAH (Studi Putusan Pengadilan Agama Boyolali No. 0886/Pdt.G/2010/PA.Bi) dan penelitian yang penulis lakukan penulis dapat memberikan kesimpulan, sebagai berikut:

1. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang disebutkan pada bab IV tentang batalnya perkawinan, pasal 22, yaitu: perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak memnuhi syarat- syarat untuk melangsungkan perkawinan dan pada pasal 28 ayat (1) menyebutkan bahwa, batalnya suatu perkawinan dimulai setelah keputusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan.

Maka menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, bahwa perkawinan dapat dibatalkan karena telah sesuai dengan ketentuan yang ada dalam undang-undang tersebut.

2. Ditinjau dari hukum Islam pembatalan perkawinan karena hamil di luar nikah ini dapat di batalkan karena dalam hal ini, perkawinan itu lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya yang berakibat tidak baik untuk semua pihak dan terdapatnya unsur penipuan sehingga menyebabkan

adanya salah sangka dari perkawinan oleh pihak suami terhadap pihak isteri. Maka, perkawinan ini tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Agama Islam di dalam Al-Qur‟an maupun Sunah Rasul serta dalam Kompilasi Hukum Islam, sehingga perkawinan ini dapat dibatalkan karena tidak memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam Kompilasi Hukum Islam pada bab XI tentang batalnya perkawinan.

3. Pertimbangan hakim dalam menetapkan putusan terhadap pembatalan perkawinan karena hamil di luar nikah sebagaimana termuat dalam putusan Pengadilan Agama Boyolali No. 0886/Pdt.G/2010/PA.Bi, sebagai berikut:

a. Mempertimbangkan legalitas Pemohon dalam mengajukan permohonan.

b. Telah menasehati Pemohon agar dapat berdamai dan rukun kembali dengan Termohon akan tetapi tidak berhasil.

c. Pemohon telah mengajukan alat-alat bukti.

d. Telah terjadi penipuan dimana Termohon telah hamil dengan lelaki lain dan hal tersebut tidak diberitahukan Termohon kepada Pemohon. e. Pernikahan antara Pemohon dan Termohon telah melanggar ketentuan

Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, Pasal 27 ayat (2) f. Bahwa mengenai waktu pengajuan perkara, telah sesuai dengan

maksud pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, dimana pengajuan perkara itu belum melampaui batas waktu yang ditentukan dalam Undang-Undang tersebut.

79

g. Buku Akta Nikah 265/10/VIII/2010 tanggal 08 Agustus 2010 yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali atas nama Pemohon dan Termohon dinyatakan tidak berkekuatan hukum.

Dengan melihat dasar dan pertimbangan hakim dalam menetapkan putusan terhadap pelaksanaan pembatalan perkawinan di atas dan dengan penelitian yang telah penulis laksanakan terhadap penelusurannya sebagaimana yang di bahas pada bab IV, maka dapat disimpulkan bahwa semua langkah-langkah yang dilakukan oleh pihak majelis hakim tersebut telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam serta Hukum Islam.

B. Saran

Adapun saran penulis dalam masalah pembatalan perkawinan ini, sebagai berikut:

1. Untuk Pengadilan Agama Boyolali:

a. Untuk lebih mengupayakan suatu proses mediasi agar berhasil. b. Lebih hati-hati dan lebih teliti dalam menerima perkara.

2. Untuk masyarakat

a. Alangkah baiknya kita dalam melangkah ke jenjang yang lebih serius yaitu suatu perkawinan sebaiknya terlebih dahulu mempersiapkan semuanya, baik persiapan mental maupun persiapan fisik.

b. Sebaiknya sebelum mengikat janji suci perkawinan terlebih dahulu pihak perempuan dan pihak laki-laki saling mengenal dan saling terbuka satu sama lain tentang kehidupan masing-masing (ta‟aruf). c. Tidaklah sepatutnya seorang suami menolak keadaan isteri apabila

memang suami telah siap lahir dan batin untuk menikahi isterinya, maka seharusnya suami mampu menerima apa adanya situasi dan kondisi isteri.

d. Sebaiknya seorang perempuan mampu menjaga martabat sebagai seorang perempuan dengan menjaga kehormatan yang palig berharga dalam kehidupan ini.

e. Orang tua harus menjadi suri tauladan pertama terhadap anak-anaknya dalam melangkah di kehidupan ini. Maka orang tua harus berperan aktif dalam memberi nasehat-nasehat dan meperhatikan pergaulan anak-anaknya.

f. Sebagai umat Islam alangkah baiknya kita selalu senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar kita selalu diberi petunjuk untuk tetap berjalan di jalan yang benar dan di ridhoi Allah SWT.

81

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zainuddin. 2006. Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika

Anshori, Abdul Ghofur. 2007. Peradilan Agama Di Indonesia, Pasca Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2006 (Sejarah, Kedudukan, dan Kewenangan), Yogyakarta: UII Press Yogyakarta (anggota IKAPI)

Arifin, Bey dan A. Syinqithy Djamaluddin. 1992. Tarjamah Sunan Abu Dawud Jilid III, Semarang: CV. Asy Syifa‟

Arto, Mukti.t.t. Praktek Perkara Perdata, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Pusat. 1992/1993. Pedoman Pegawai Pencatat Nikah (PPN), Jakarta

Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4). 2009. Buku Panduan Keluarga Muslim, Semarang

Bungin, Burhan. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta

Chafidh, Afnan M. dan A. Ma‟ruf Asrori. 2008. Tradisi Islami, Panduan Prosesi Kelahiran-Perkawinan-Kematian, Surabaya: Khalista

Departemen Agama RI. 1985/1985. Ilmu Fiqh Jilid II, Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam

Departemen Agama RI. 2005. Membina Keluarga Sakinah, Ditjen Bitmas Islam dan Penyelenggaraan Haji, Direktorat Urusan Agama Islam

Departemen Agama RI. 2011. Al-Quran dan Terjemahnya, Bandung: Diponegoro Djalil, A. Basiq. 2006. Peradilan Agama Di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada

Media Group

Fajar, Em Zul dan Ratu Aprilia Senja. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Difa Publisher

Khalim. 2005. Menikahi Wanita Hamil Dalam Perspektif Hukum Islam. Skripsi. Salatiga. Jurusan Syariah

Kompilasi Hukum Islam (KHI). Inpres Nomor 1 Tahun 1991/ Departemen Agama RI. 2001. Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia, Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam

Laporan Tahunan Pengadilan Agama Boyolali, 2011.

Mahsun. 2005. Pembatalan Nikah Karena Menggunakan Wali Hakim. Skripsi, Salatiga: Jurusan Syariah

Majah, Sunan Ibnu. t.t. Sunan Ibnu Majah. Semarang: Toha Putra Semarang, hal. 592

Mardani, Dr. 2009. Hukum Acara Perdata Peradilan Agama dan Mahkamah

Syar’iyah, Jakarta: Sinar Grafika

Mathlub, Abdul Majid Mahmud. 2005. Panduan Hukum Keluarga Sakinah, Solo: Era Intermedia

Mertokusumo, Sudikno. 1983. Sejarah Peradilan dan Perundang-undangannya Di Indonesia Sejak 1942 dan Apakah Kemanfaatannya Bagi Kita Bangsa Indonesia, Yogyakarta: Liberty

Nawawi, Hadari dan H.M. Martini Hadari. 1992. Instrumen Penelitian Bidang Sosial, Gadjah Yogyakarta: Mada University Press

Nawawi, Hadari. 1990. Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Nazir, Moh, t.t. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia

Proyek Peningkatan Sarana Keagamaan Islam Zakat dan Wakaf .1996/1997. Pedoman Pegawai Pencatat Nikah dan Pembantu Pegawai Pencatat Nikah, tkp

Putusan Pengadilan Agama Boyolali Nomor 0886, 2010. Sabiq, Sayyid. 1980. Fikih Sunah 6, Bandung: PT Al Ma‟arif

Saleh, H.E. Hassan. 2008. Kajian Fiqh Nabawi dan Fiqh Kontemporer, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

83

Sofwan. 2001. Ideologi Tafsir Ahmadiyah (Kajian Wacana Kritis AtasAl-Qur’an dengan Terjemahan dan Tafsir Singka ) Skripsi, Surakarta. Jurusan Ushuludin

Sy, Musthofa. 2005. Kepaniteraan Peradilan Agama, Jakarta: Prenada Media Tihami, dan Sahrani. 2009. Fikih Munakahat, Kajian Fikih Nikah Lengkap,

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Zuhriah, Erfaniah. t.t. Peradilan Agama Di Indonesia (Sejarah Pemikiran dan Realita), Yogyakarta: UIN-Malang Press (Anggota IKAPI)

(http://www.pa-boyolali.go.id/index.php/profil-pa-boyolali): Profil Pengadilan Agama Boyolali

(http://www.pa-boyolali.go.id/index.php/struktur): Struktur Organisasi Pengadilan Agama Boyolali

(Http://www.Pa-boyolali.Go.Id/index.Php/proses-perkara):Proses Berperkara di Pengadilan Agama Boyolali

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Astuti Nur Halimah

Tempat/tanggal lahir : Boyolali, 14 November 1986 Jenis Kelamin : Perempuan

Warga Negara : Indonesia

Agama : Islam

Alamat : Klimas Rt 02/ Rw IV, Kelurahan Sendang, Kecamatan Karanggede, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia

No Hp : 081387610226

Riwayat Pendidikan : MI Klimas masuk tahun 1992 lulus tahun 1998

SLTP Muhammadiyah 8 Karanggede masuk tahun 1998 lulus tahun 2001

SMA N 1 Karanggede masuk tahun 2001 lulus tahun 2004

STAIN Salatiga masuk tahun 2008 Lulus tahun 2012 Nama Ayah : Sumarno

Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil Nama Ibu : Sudarsi

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Nama Suami : Mustakim

Pekerjaan : Swasta

Demikian daftar riwayat hidup ini yang penulis buat dengan sebenar-benarnya. Salatiga, 04 Agustus 2012 Penulis

Astuti Nur Halimah NIM 21208019

Dokumen terkait