BAB III : PENGADILAN AGAMA BOYOLALI DAN KASUS
C. Kasus Pembatalan perkawinan di Pengadilan Agama Boyolali
Pasal 22 UU No. 1/1974 menyatakan bahwa perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan. Namun demikian, perkawinan yang tidak memenuhi syarat tidak dengan sendirinya menjadi batal, melainkan harus diputuskan oleh Pengadilan Pasal 37 PP No. 9/1975 menegaskan bahwa batalnya suatu perkawinan hanya dapat diputuskan oleh Pengadilan. Hal ini mengingat bahwa pembatalan suatu perkawinan dapat membawa akibat yang jauh lebih baik terhadap suami isteri maupun terhadap keluarga. Maka ketentuan ini dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya pembatalan suatu perkawinan oleh instansi di luar Pengadilan.
Tata cara pengajuan permohonan pembatalan perkawinan dilakukan sesuai dengan tata cara pengajuan gugatan perceraian. Hal-hal yang
berhubungan dengan pengadilan, pemeriksaan pembatalan perkawinan dan putusan Pengadilan, dilakukan sesuai dengan tata cara tersebut dalam Pasal 20 sampai 35 PP No. 9/1975, yaitu tentang tata cara penyelesaian gugatan perceraian (Pasal 38 PP No. 9/1975). Tata cara penyelesaian pembatalan perkawinan dilakukan sebagai berikut:
1. Hanya pengadilan yang berwenang menetapkan batalnya perkawinan. a. Batalnya suatu perkawinan hanya dapat diputuskan oleh Pengadilan
(Pasal 37 PP No. 9/1975).
b. Instansi pemerintah atau lembaga lain di luar Pengadilan atau siapapun juga tidak berwenang untuk menyatakan batalnya suatu perkawinan. 2. Gugatan pembatalan perkawinan
Yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan yaitu:
a. Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau isteri;
b. Suami atau isteri;
c. Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan balum diputuskan; d. Pejabat yang ditunjuk, jaksa dan setiap orang yang mempunyai
kepentingan hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut, tetapi hanya setelah perkawinan itu putus.
3. Gugatan pembatalan perkawinan harus memuat: a. Identitas para pihak dalam perkara.
b. Posita yang memuat alasan-alasan pembatalan perkawinan. c. Petitum.
51
Suami dan isteri yang perkawinannya menjadi objek sengketa pembatalan perkawinan, maka berkedudukan sebagai Tergugat I dan Tergugat II, kecuali jika ia sendiri menjadi penggugat.
4. Alasan-alasan pembatalan perkawinan ialah sebagaimana diatur dalam Pasal 70, 71 dan 72 Kompilasi Hukum Islam, sebagai berikut:
Perkawinan batal apabila:
a. Suami melakukan perkawinan, sedang ia tidak berhak melakukan akad nikah karena sudah mempunyai 4 (empat) orang isteri, meskipun salah satu dari keempat isterinya itu dalam „iddah talak raj‟i.
b. Seseorang menikahi bekas isterinya yang telah dili‟annya.
c. Seseorang menikahi bekas isterinya yang pernah dijatuhi tiga kali talak olehnya, kecuali bila bekas isteri tersebut menikah dengan pria lain
yang kemudian bercerai lagi ba‟da dhukul dari pria tersebut dan telah habis masa iddahnya.
d. Perkawinan dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan darah, semenda atau sesusuan sampai derajat tertentu yang menghalangi sahnya perkawinan menurut Pasal 8 UU No. 9/1974, yaitu:
1) Berhubungan darah dalam keturunan lurus ke atas dan ke bawah. 2) Berhubungan darah dalam keturunan menyamping yaitu antara
saudara dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya.
3) Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu atau ayah tiri.
4) Berhubungan sesusuan, yaitu orang tua sesusuan, anak sesusuan, saudara sesusuan dan bibi atau paman sesusuan.
e. Isteri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri atau isteri-isterinya.
Suatu Perkawinan dapat dibatalkan apabila:
1) Seorang suami melakukan poligami tanpa ijin Pengadilan Agama. 2) Perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih
menjadi isteri pria lain yang mafqud.
3) Perempuan yang dikawini ternyata masih dalam iddah suami lain. 4) Perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan, sebagaimana
ditetapkan dalam Pasal 7 Undang-undang No. 1/1974.
5) Perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak.
6) Perkawinan dilaksanakan dengan paksaan.
7) Seorang suami atau isteri dapat mengajukan pembatalan perkawinan apabila perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar hukum.
8) Seorang suami atau isteri dapat mengajukan pembatalan perkawinan apabila pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi penipuan atau salah sangka mengenai diri suami atau isteri.
53
9) Apabila ancaman telah berbunyi, atau yang bersalahsangka itu telah menyadari keadaannya dan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah ia masih hidup sebagai suami isteri, dan tidak menggunakan haknya untuk mengajukan pembatalan, maka haknya gugur.
5. Kewenangan relatif Pengadilan Agama
a. Gugatan pembatalan perkawinan dapat diajukan kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat: di mana perkawinan dilangsungkan, di tempat tinggal kedua suami isteri, di tempat tinggal suami, atau di tempat tinggal isteri
b. Yang paling tepat ialah diajukan kepada Pengadilan Agama di mana perkawinan dilangsungkan, atau ditempat tinggal suami dan isteri tersebut (Yurisprudensi).
6. Pemanggilan
Tatacara pemanggilan sama seperti pemanggilan dalam perkara cerai gugat.
7. Pemeriksaan
Tatacara pemeriksaan sama seperti pemeriksaan dalam perkara cerai gugat.
8. Upaya damai
9. Pembuktian
Pembuktian dilakukan menurut hukum pembuktian dalam hukum acara khusus, sama dengan pembuktian dalam perceraian.
10.Putusan hakim
a. Pengadilan agama setelah memeriksa pembatalan perkawinan dan berkesimpulan bahwa perkawinan tidak memenuhi syarat-syarat perkawinan yang berakibat batalnya perkawinan, maka Pengadilan
Agama menjatuhkan “Putusan” yang isinya “menetapkan perkawinan
batal demi hukum” atau “membatalkan perkawinan tersebut”.
b. Terhadap putusan tersebut dapat dimintakan banding atau kasasi. 11.Biaya perkara
Biaya perkara dibebankan kepada penggugat. 12.Berlakunya putusan hakim
Batalnya suatu perkawinan dimulai setelah putusan Pengadilan Agama mempunyai kekuatan hukum tetap dan berlaku sejak berlangsungnya perkawinan (pasal 28 ayat (1) UU No. 1/1974).
13.Salinan putusan sebagai bukti
Sebagai bukti batalnya perkawinan, para pihak dapat meminta salinan putusan yang telah diberi catatan bahwa putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
55
14.Pengiriman salinan putusan
Pengiriman salinan putusan pembatalan perkawinan, dilakukan sama seperti dalam perkara cerai gugat. ( Arto, 1998:231).
Kasus di Pengadilan Agama Boyolali hanya terdapat satu perkara pembatalan perkawinan yang disebabkan karena hamil di luar nikah. Adapun perkara pembatalan perkawinan yang lain disebabkan karena adanya paksaan dari orang tua dan adanya pemalsuan data serta ada pula yang karena umur pihak suami atau isteri yang belum mencapai batas yang dibolehkan yaitu batas yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Dimana untuk perempuan batas minimal 16 tahun dan untuk laki-laki batas minimalnya adalah 19 tahun. Adapun dengan alasan lain dalam pembatalan perkawinan diantaranya karena suami tidak mampu memberi nafkah secara batin.
D. Putusan Pengadilan Agama Boyolali No. 0886/Pdt.G/2010/PA.Bi Tentang