BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Data
Analisis data atas laporan arus kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo dilakukan dengan menggunakan analisis komparatif berupa metode analisis horisontal atas arus kas periode 2014, 2015, dan 2016 untuk menggambarkan hubungan antara pos-pos yang signifikan dari arus kas masuk dan keluar serta kecenderungan dari arus kas masuk dan keluar tersebut. Analisis kemudian diteruskan dengan menggunakan analisis rasio atas arus kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo untuk menilai kinerja keuangan.
Analisis yang dilakukan atas laporan arus kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Analisis Horisontal atas Laporan Arus Kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo.
Analisis horisontal yang digunakan dalam pembahasan ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai perubahan jumlah arus kas yang terjadi selama tahun 2014, 2015, dan 2016. Analisis horisontal atas laporan keuangan arus kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo dilakukan dengan cara membandingkan arus kas tahun 2014 dengan tahun 2013 sebagai tahun dasar, tahun 2015 dengan tahun 2014 sebagai tahun dasar, dan tahun 2016 dengan tahun 2015
sebagai tahun dasar. Analisis horisontal atas laporan arus kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo akan disajikan sebagai berikut:
a. Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Aktivitas operasi meliputi pengaruh kas dari transaksi-transaksi yang menimbulkan pendapatan dan beban. Hal tersebut akan masuk dalam penentuan laba bersih. Aktivitas operasi meliputi pos-posan laporan laba-rugi (Jusup 2011).
Menurut International Federation of Accountants dalam SAK-ETAP (2013 :23), arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasilan utama pendapatan entitias. Arus kas operasi pada umumnya berasal dari transaksi, peristiwa dan kondisi lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi.
Contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah: 1) Penerimaan kas dari penjualan barang dan jasa
2) Penerimaan kas dari royalti, fees, komisi, dan pendapatan lain.
3) Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa 4) Pembayaran kas kepada dan atas nama karyawan
5) Pembayaran kas atau restitusi pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi.
6) Penerimaan dan pembayaran kas dari investasi, pinjaman, dan kontrak lainnya yang dimiliki untuk tujuan perdagangan
yang sejenis dengan persediaan yang dimaksudkan untuk dijual kembali.
AKO tahun 2014 = AKO −AKO AKO = . . . − . . . . . . = - 0,43783 = - 0,43783 x 100% = - 43,8%
AKO tahun 2015 = AKO −AKO AKO = . . . − . . . . . . = 0,17763 = 0,17763 x 100% = 17,8%
Rumus perubahan sejak tahun dasar = T − T T
AKO tahun 2016 = AKO −AKO AKO
= . . . − . . . . . . = - 0,79092 = - 0,79092 x 100% = -79,1%
Tabel 5.1.Arus Kas dari Aktivitas Operasi Koperasi Kredit CU Lantang Tipo
(dalam ribuan rupiah)
Sumber: Data diolah
Gambar 5.1 Grafik Arus Kas Operasi tahun 2014-2016
Tahun Arus Kas Operasi Perubahan (%)
2013 143.528.585.802 - -
2014 80.687.194.524 -62.841.391.278 -43,8% 2015 95.019.431.553 14.332.237.029 17,8% 2016 19.866.120.315 -75.153.311.238 -79,1%
Hasil analisis menunjukkan bahwa arus kas yang diperoleh dari aktivitas operasi mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014 arus kas operasi mengalami penuruan dari tahun sebelumnya sebesar -43,8% menjadi 80.687.194.524 rupiah, penurunan ini terjadi akibat adanya kenaikan piutang, kenaikan persediaan, kenaikan beban dibayar dimuka, kenaikan dana-dana, kenaikan hutang pajak, dan penurunan beban yang masih harus dibayar.
Pada tahun 2015 mengalami kenaikan sebesar 17,8% menjadi 95.019.431.553 rupiah, kenaikan ini terjadi akibat adanya penurunan persediaan, kenaikan titipan anggota, dan kenaikan pada beban yang masih harus dibayar. Pada tahun 2016 mengalami penurunan sebesar -79,1% menjadi 19.866.120.315 rupiah, penurunan ini terjadi akibat adanya kenaikan piutang, kenaikan PPh 21, dan penurunan beban yang masih harus dibayar.
b. Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Menurut International Federation of Accountants dalam SAK-ETAP (2013: 24), arus kas dari investasi mencerminkan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Contoh arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah:
1) Pembayaran kas untuk memperoleh aset tetap (termasuk aset tetap yang dibangun sendiri), aset tidak berwujud, dan aset jangka panjang lainnya.
2) Penerimaan kas dari penjualan aset tetap, aset tidak berwujud, dan aset jangka panjang lainnya.
3) Pembayaran kas untuk perolehan efek ekuitas atau efek utang entitas lain dan bunga dalam joint venture (selain pembayaran untuk efek yang diklasifikasikan sebagai kas atau setara kas atau dimiliki untuk diperdagangkan). 4) Penerimaan kas dari penjualan efek ekuitas atau efek utang dari entitas lain dan bunga dari joint venture (selain penerimaan dari efek yang diklasifikasikan sebagai setara kas atau dimiliki untuk diperdagangkan). 5) Uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak
lain.
6) Penerimaan kas dari pembayaran kembali uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain.
7) Penerimaan kas dari pembayaran kembali uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain.
Menurut Jusup (2011), arus kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah:
1) Pembelian, penjualan investasi dan aset tetap (tanah, gedung, peralatan, dan sebagainya).
2) Pemberian pinjaman dan penerimaan pelunasan pinjaman.
Aktivitas investasi meliputi arus kas yang berasal dari perubahan investasi (pembelian dan penjualan investasi) dan aset-aset jangka panjang.
AKI tahun 2014 = AKI −AKI AKI = . . .. .− .. . . = 0,77939 = 0,77939 x 100% = 77,9% AKI tahun 2015 = −
= . . . − . . . . . . = 0,03762 = 0,03762 x 100% = 3,76%
Rumus perubahan sejak tahun dasar = T − T T
AKI tahun 2016 = −
= . . . − . . . . . . = 0,0282 = 0,0282 x 100% = 2,82%
Tabel 5.2. Arus Kas dari Aktivitas Investasi Koperasi Kredit CU Lantang Tipo
(dalam ribuan rupiah)
Sumber: Data diolah
Gambar 5.2 Grafik Arus Kas Investasi tahun 2014-2016
28,500,000,000 29,000,000,000 29,500,000,000 30,000,000,000 30,500,000,000 31,000,000,000 31,500,000,000 32,000,000,000 2014 2015 2016
Arus Kas Investasi
Tahun Arus Kas Investasi Perubahan (%)
2013 16.724.131.300 -
-2014 29.758.812.050 13.034.680.750 77,9% 2015 30.878.416.745 1.119.604.695 3,76% 2016 31.749.261.270 870.844.525 2,82%
Hasil analisis menunjukkan bahwa arus kas keluar untuk aktivitas investasi mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014 arus kas keluar untuk aktivitas investasi mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 77,9% menjadi 29.758.812.050 rupiah, kenaikan tersebut terjadi karena penambahan properti investasi dan penambahan aset lain-lain. Pada tahun 2015 arus kas keluar untuk aktivitas investasi mengalami kenaikan sebesar 3,76% menjadi 30.878.416.745 rupiah, kenaikan pada tahun 2015 terjadi akibat adanya penambahan penyertaan dan pembelian aset tetap. Pada tahun 2016 arus kas keluar untuk aktivitas investasi mengalami kenaikan sebesar 2,82% menjadi 31.749.261.270 rupiah, kenaikan pada tahun 2016 terjadi akibat adanya kenaikan pada properti investasi.
c) Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Menurut Jusup (2011), aktivitas pendanaan meliputi: 1) Mendapatkan kas dari penerbitan surat utang (misalnya
obligasi atau wesel) dan pembayaran kembali pinjaman.
2) Mendapatkan kas dari pemegang saham, pembelian kembali saham, dan pembayaran dividen.
Aktivitas pendanaan meliputi arus kas yang berasal dari perubahan perubahan dalam pos-pos utang jangka panjang dan ekuitas pemegang saham.
Menurut International Federation of Accountants dalam SAK-ETAP (2013: 24), arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan adalah:
1) Penerimaan kas dari penerbitan saham atau efek ekuitas lain.
2) Pembayaran kas kepada para pemegang saham untuk menarik atau menembus saham entitas.
3) Penerimaan kas dari penerbitan pinjaman, wesel, dan pinjaman jangka pendek atau jangka panjang lainnya. 4) Pelunasan pinjaman.
5) Pembayaran kas oleh lessee untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan dengan sewa pembiayaan.
AKP tahun 2014 = −
= . . . − . . . . . . = - 0,31794 = - 0,31794 x 100% = - 31,8%
Rumus perubahan sejak tahun dasar = T − T T
AKP tahun 2015 = −
= . . . − . . . . . . = - 0,25217 = - 0,25217 x 100% = - 25,2% AKP tahun 2016 = −
= . . . − . . . . . . = - 0,17912 = - 0,17912 x 100% = -17,9%
Tabel 5.3. Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan Koperasi Kredit CU Lantang Tipo
(dalam ribuan rupiah)
Sumber: Data diolah
Tahun Arus Kas Pendanaan Perubahan (%)
2013 295.382.186.109 -
-2014 201.465.692.954 -93.916.493.155 -31,8% 2015 150.661.226.420 -50.804.466.534 -25,2% 2016 123.673.904.440 -26.987.321.980 -17,9%
Gambar 5.3 Grafik Arus Kas Pendanaan tahun 2014-2016
Hasil analisis menunjukkan bahwa aktivitas pendanaan mengalami penurunan dari tahun 2014-2016. Aktivitas pendanaan pada tahun 2014 mengalami penurunan sebesar -31,8% menjadi 201.465.692.954 rupiah, penurunan pada tahun 2014 terjadi akibat adanya alokasi pembagian SHU pada kewajiban jangka panjang, penambahan simpanan pokok, penambahan simpanan wajib, penambahan cadangan pembangunan gedung, penambahan cadangan pengembangan, pengambilan cadangan tujuan risiko, penambahan cadangan umum.
Arus kas pendanaan pada tahun 2015 mengalami penurunan sebesar -25,2% menjadi 150.661.226.420 rupiah, penurunan ini terjadi akibat adanya alokasi pembagian SHU pada kewajiban jangka panjang, penambahan simpanan pokok, penambahan simpanan wajib, penambahan cadangan pembangunan gedung, penambahan cadangan pengembangan, pengambilan cadangan tujuan risiko, penambahan cadangan umum. 0 50.000.000.000 100.000.000.000 150.000.000.000 200.000.000.000 250.000.000.000 2014 2015 2016
Arus kas pendanaan pada tahun 2016 mengalami penurunan sebesar -17,9% menjadi 123.673.904.440 rupiah, penurunan tersebut terjadi akibat adanya alokasi pembagian SHU pada kewajiban jangka panjang, simpanan pokok, simpanan wajib, cadangan pembangunan gedung, cadangan pengembangan, cadangan tujuan risiko, dan cadangan umum.
2. Analisis Rasio Arus Kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo
Analisis laporan arus kas menggunakan analisis rasio arus kas yaitu dengan cara membandingkan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan sehingga dapat diketahui kondisi keuangan jika ditinjau dari arus kasnya.
Analisis rasio arus kas yang akan dibahas meliputi rasio arus kas operasi (AKO), rasio total hutang (TH), rasio pengeluaran modal (PM), rasio cakupan arus dana (CAD), rasio cakupan kas terhadap bunga (CKB), rasio cakupan kas terhadap hutang lancar (CKHL), dan rasio kecukupan arus kas (KAK).
Analisis laporan arus kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo tahun 2014, 2015, dan 2016 tersebut jika ditinjau dari analisis rasio arus kas adalah sebagai berikut:
a. Rasio Arus Kas Operasi
Menurut Darsono dan Ashari (2005: 91), “Rasio arus kas operasi menghitung kemampuan arus kas operasi dalam membayar kewajiban lancar”
Rasio ini diperoleh dengan membagi arus kas operasi dengan kewajiban lancar. Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik. Rasio ini dapat dibuat dalam bentuk presentase. Apabila rasio ini 1:1 atau 100% berarti aktiva lancar dapat menutupi semua kewajiban jangka pendeknya. Rasio yang lebih aman adalah berada diatas 1 atau diatas 100% (Afrina, 2013).
Perusahaan yang memiliki rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar di bawah 1 berarti bahwa perusahaan tersebut tidak mampu melunasi kewajiban lancar hanya dengan menggunakan arus kas operasi saja (Heri, 2015: 124).
Tahun 2014 = . . . . . . = 0,20378 = 0,20378 x 100% = 20,38% Rasio AKO =
Tahun 2015 = . . . . . . = 0,23051 = 0,23051 x 100% = 23,05% Tahun 2016 = . . . . . . = 0,04148 = 0,04148 x 100% = 4,15%
Tabel 5.4. Rasio Arus Kas Operasi Koperasi Kredit CU Lantang Tipo (dalam ribuan rupiah)
Sumber: Data diolah
Gambar 5.4 Grafik Rasio Arus Kas Operasi Koperasi Kredit CU Lantang Tipo tahun 2014-2016
Tahun Arus kas Operasi Kewajiban Lancar Persen (100)
2014 80.687.194.524 395.950.601.761 20,38
2015 95.019.431.553 412.199.883.217 23,05
Berdasarkan tabel 5.4 perhitungan rasio arus kas operasi Koperasi Kredit CU Lantang Tipo selama 3 tahun yaitu:
1) Tahun 2014 rasio arus kas operasi sebesar 0,20378 yang berarti untuk setiap seratus rupiah kewajiban lancar dijamin dengan 20,38 rupiah arus kas operasi.
2) Tahun 2015 rasio arus kas operasi sebesar 0,23051 yang berarti untuk setiap seratus rupiah kewajiban lancar dijamin dengan 23,05 rupiah arus kas operasi.
3) Tahun 2016 rasio arus operasi sebesar 0,04148 yang berarti untuk setiap seratus rupiah kewajiban lancar dijamin dengan 4,15 rupiah arus kas operasi.
b. Rasio Total Hutang
Menurut Darsono dan Ashari (2005: 91), rasio ini menunjukkan jangka waktu pembayaran hutang oleh perusahaan dengan asumsi semua arus kas operasi digunakan untuk membayar hutang. Rasio ini diperoleh dari arus kas operasi dibagi dengan total hutang. Rasio ini untuk menganalisis dalam jangka waktu beberapa lama perusahaan akan mampu membayar hutang dengan menggunakan arus kas yang dihasilkan dari aktivitas operasional perusahaan.
Semakin besar nilai rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik, rasio ini tidak harus 100% atau 1:1 (Afrina, 2013).
Angka sekitar 20% untuk rasio ini merupakan hal yang biasa untuk perusahaan yang sehat keuangannya (Mamduh dan Halim, 2014: 211).
Tahun 2014 = . . . . . . . = 0,04583 = 0,04583 x 100% = 4,58% Tahun 2015 = . . . . . . . = 0,050197 = 0,050197 x 100% = 5,02% Tahun 2016 = . . . . . . . = 0,00971 = 0,00971 x 100% = 0,97% Rasio TH = T
Tabel 5.5. Rasio Total Hutang Koperasi Kredit CU Lantang Tipo (dalam ribuan rupiah)
Sumber: Data diolah
Gambar 5.5 Grafik Rasio Total Hutang Koperasi Kredit CU Lantang Tipo tahun 2014-2016
Berdasarkan tabel 5.5 perhitungan rasio total hutang Koperasi Kredit CU Lantang Tipo selama 3 tahun yaitu:
1) Tahun 2014 rasio total hutang menunjukkan rasio sebesar 0,04583. Hal tersebut menunjukkan total hutang koperasi dijamin oleh arus kas operasi bersih tahun 2014 sebesar 4,58%.
2) Tahun 2015 rasio total hutang menunjukkan rasio sebesar 0,05019. Hal tersebut menunjukkan total hutang koperasi dijamin oleh arus kas operasi bersih tahun 2015 sebesar 5,02%.
Tahun Arus Kas Operasi Total Hutang Persen (100)
2014 80.687.194.524 1.760.723.411.211 4,58
2015 95.019.431.553 1.892.929.644.117 5,02
3) Tahun 2016 rasio total hutang menunjukkan rasio sebesar 0,00971. Hal tersebut menunjukkan total hutang koperasi dijamin oleh arus kas operasi bersih tahun 2016 sebesar 0,097%.
c. Rasio Pengeluaran Modal
Menurut Darsono dan Ashari (2005: 92), “Rasio ini digunakan untuk mengukur modal tersedia untuk investasi dan pembayaran hutang yang ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas operasi dibagi dengan pengeluaran modal”.
Menurut Mamduh dan Halim (2014: 212), “Besar-kecilnya arus kas untuk pengeluaran investasi akan sangat bergantung dari siklus produk yang dipunya. Rasio yang lebih besar dari 1 (satu) dapat diharapkan”.
Semakin besar rasio ini, maka perusahaan dikatakan semakin baik karena kecukupan modal yang tersedia untuk investasi dan pembayaran hutang (Afrina, 2013).
Tahun 2014 = . . .
. . . = 0,70722 atau 0,71 kali Rasio PM =
Tahun 2015 = . . .
. . . = 4,90267 atau 4,9 kali
Tahun 2016 = . . .
. . . = 0,97485 atau 0,97 kali
Tabel 5.6. Rasio Pengeluaran Modal Koperasi Kredit CU Lantang Tipo
(dalam ribuan rupiah)
Sumber: Data diolah
Gambar 5.6 Grafik Rasio Pengeluaran Modal Koperasi Kredit CU Lantang Tipo tahun 2014-2016
Tahun Arus Kas Operasi Pengeluaran Modal Perputaran (kali)
2014 80.687.194.524 114.090.425.850 0,71
2015 95.019.431.553 19.381.144.700 4,9
Berdasarkan tabel 5.6 perhitungan rasio pengeluaran modal Koperasi Kredit CU Lantang Tipo selama 3 tahun yaitu:
1) Tahun 2014 rasio pengeluaran modal sebesar 0,71 menunjukkan bahwa kemampuan arus kas operasi dalam membiayai pengeluaran modal tahun 2014 sebesar 0,71 kali.
2) Tahun 2015 rasio pengeluaran modal sebesar 4,9 menunjukkan bahwa kemampuan arus kas operasi dalam membiayai pengeluaran modal tahun 2015 sebesar 4,9 kali.
3) Tahun 2016 rasio pengeluaran modal sebesar 0,97 menunjukkan bahwa kemampuan arus kas operasi dalam membiayari pengeluaran modal tahun 2016 sebesar 0,97 kali.
d. Rasio Cakupan Arus Dana
Menurut Darsono dan Ashari (2005: 92), rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas guna membayar komitmen-komitmennya (bunga, pajak dan dividen preferen). Rasio ini diperoleh dengan laba sebelum pajak dan bunga (EBIT) dibagi bunga, penyesuaian pajak dan dividen preferen. Rasio yang besar menunjukkan bahwa kemampuan yang lebih baik dari laba sebelum pajak dalam menutup komitmen yang jatuh tempo dalam satu tahun.
Rasio CAD = T
+ + Type equation here.
Tahun 2014 = . . . . . . + . . + . . . = 0,01 kali Tahun 2015 = . . . . . . + . . + . . . = 0,02 kali Tahun 2016 = . . . . . . + . . + . . . = 0,03 kali
Tabel 5.7. Rasio Cakupan Arus Dana Koperasi Kredit CU Lantang Tipo
(dalam ribuan rupiah)
Sumber: Data diolah
Tahun EBIT Bunga Pajak Dividen Perputaran (kali)
2014 3.196.202.428 158.587.894.350 425.309.750 114.090.425.850 0,01
2015 3.585.467.396 164.104.866.500 461.511.500 19.381.144.700 0,02
Gambar 5.7 Grafik Rasio Cakupan Arus Dana Koperasi Kredit CU Lantang Tipo tahun 2014-2016
Berdasarkan tabel 5.7 perhitungan rasio cakupan arus kas dana Koperasi Kredit CU Lantang Tipo selama 3 tahun yaitu:
1) Tahun 2014 rasio cakupan arus kas dana sebesar 0,01 menunjukkan bahwa semua komitmen-komitmen yang akan jatuh tempo sebanyak 0,01 kali.
2) Tahun 2015 rasio cakupan arus kas dana sebesar 0,02 menunjukkan bahwa semua komitmen-komitmen yang akan jatuh tempo sebanyak 0,02 kali.
3) Tahun 2016 rasio cakupan arus kas dana sebesar 0,03 menunjukkan bahwa semua komitmen-komitmen yang akan jatuh tempo sebanyak 0,03 kali.
e. Rasio Cakupan Kas Terhadap Bunga (CKB)
Menurut Darsono dan Ashari (2005: 91), rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atas hutang yang telah ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas dari operasi tambah pembayaran bunga, dan pembayaran pajak dibagi pembayaran bunga.
Rasio yang tinggi menunjukkan bahwa arus kas operasi perusahaan memiliki kemampuan yang baik untuk menutup biaya bunga, sehingga kemungkinan perusahaan untuk tidak mampu membayar bunga menjadi sangat kecil (Heri, 2015: 125).
Tahun 2014 = . . . + . . . + . . . . . = 1,51 kali Tahun 2015 = . . . + . . . + . . . . . = 1,58 kali Tahun 2016 = . . . + . . . + . . . . . = 1,13 kali Rasio CKB = + +
Tabel 5.8. Rasio Cakupan Kas terhadap Bunga Koperasi Kredit CU Lantang Tipo
(dalam ribuan rupiah)
Sumber: Data diolah
Gambar 5.8 Grafik Rasio Cakupan Kas terhadap Bunga Koperasi Kredit CU Lantang Tipo tahun 2014-2016
Berdasarkan tabel 5.8 perhitungan rasio cakupan kas terhadap bunga Koperasi Kredit CU Lantang Tipo selama 3 tahun yaitu:
1) Tahun 2014 sebesar 1,51 menunjukkan bahwa kemampuan arus kas operasi membayar biaya bunga sebesar 1,51 kali.
2) Tahun 2015 sebesar 1,58 menunjukkan bahwa kemampuan arus kas operasi membayar biaya bunga sebesar 1,58 kali.
3) Tahun 2016 sebesar 1,13 menunjukkan bahwa kemampuan arus kas operasi membayar biaya bunga sebesar 1,13 kali.
Tahun Arus Kas Operasi Bunga Pajak Perputaran (kali) 2014 80.687.194.524 158.587.894.350 425.309.750 1,51 2015 95.019.431.553 164.104.866.500 451.511.500 1,58 2016 19.866.120.315 154.833.865.100 491.453.000 1,13
f. Rasio Cakupan Kas Terhadap Hutang Lancar (CKHL)
Menurut Darsono dan Ashari (2005: 91), rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang lancar berdasarkan arus kas operasi bersih. Rasio ini diperoleh dengan arus kas operasi ditambahkan dividen kas dibagi dengan hutang lancar. Rasio yang rendah menunjukkan kemampuan yang rendah dari arus kas operasi dalam menutup kewajiban lancar.
Menurut Mamduh dan Halim (2014: 204), studi empiris di Amerika Serikat memperlihatkan bahwa rasio arus kas terhadap hutang lancar untuk kondisi yang sehat adalah sekitar 0,4 atau lebih.
Tahun 2014 = . . . . . . = 0,2 kali Tahun 2015 = . . . . . . = 0,23 kali Tahun 2016 = . . . . . . = 0,04 kali Rasio CKHL = +
Tabel 5.9. Rasio Cakupan Kas terhadap Hutang Lancar Koperasi Kredit CU Lantang Tipo
(dalam ribuan rupiah)
Sumber: Data diolah
Gambar 5.9 Grafik Rasio Cakupan Kas terhadap Hutang Lancar Koperasi Kredit CU Lantang Tipo tahun 2014-2016
Berdasarkan 5.9 perhitungan rasio cakupan kas terhadap hutang lancar Koperasi Kredit CU Lantang Tipo selama 3 tahun yaitu:
1) Tahun 2014 rasio sebesar 0,2 menunjukkan bahwa kemampuan arus kas operasi dalam membayar hutang lancar tahun 2014 sebesar 0,2 kali.
Tahun Arus Kas Operasi Dividen Kas Hutang Lancar Perputaran (kali)
2014 80.687.194.524 - 395.950.601.761 0,2
2015 95.019.431.553 - 412.199.883.217 0,23
2) Tahun 2015 rasio sebesar 0,23 menunjukkan bahwa kemampuan arus kas operasi dalam membayar hutang lancar tahun 2015 sebesar 0,23 kali.
3) Tahun 2016 rasio sebesar 0,04 menunjukkan bahwa kemampuan arus kas operasi dalam membayar hutang lancar tahun 2016 sebesar 0,04 kali.
g. Rasio Kecukupan Arus Kas (KAK)
Menurut Darsono dan Ashari (2005: 91) dalam Mukhtarom (2015), rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menyediakan kas untuk memenuhi kewajibannya dalam jangka waktu 3 tahun mendatang. Rasio ini diperoleh dengan laba bersih sebelum pajak dikurangi pembayaran pajak dan pengeluaran modal dibagi rata-rata hutang lancar selama 3 tahun.
Lembaga pemberi kredit sering menggunakan rasio kecukupan arus kas untuk mengevaluasi sejauh mana satu perusahaan dapat menutupi pembayaran tahunan seperti hutang pengeluaran untuk barang modal dan dividen dari arus kas operasi. Rasio ini sekurang-kurangnya satu (Fraser dan Ailen 2004: 187).
Rasio KAK = T− − −
Tahun 2014 = . . . − . . . − . . − . . . . . . = - 0,63 kali Tahun 2015 = . . . − . . . − . . − . . . . . .
= - 0,42 kali Tahun 2016 = . . . − . . . − . . − . . . . . .
= - 0,4 kali
Tabel 5.10. Rasio Kecukupan Arus Kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo
(dalam ribuan rupiah)
Sumber: Data diolah
Tahun EBIT Bunga Pajak Pengeluaran Modal Rata-rata Hutang Lancar Perputaran (kali) 2014 3.196.202.428 158.587.894.350 425.309.750 114.090.425.850 428.998.358.790 -0,63 2015 3.585.467.396 164.104.866.500 451.511.500 19.381.144.700 428.998.358.790 -0,42 2016 4.642.626.353 154.833.865.100 491.453.000 20.378.476.700 428.988.358.790 -0,4
Gambar 5.10 Grafik Rasio Kecukupan Arus Kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo tahun 2014-2016
Dari hasil analisis pada tabel 5.10 menunjukkan bahwa rasio kecukupan arus kas Koperasi Kredit CU Lantang Tipo selama 3 tahun yaitu tahun 2014 sebesar -0,63, tahun 2015 sebesar -0,42 dan tahun 2016 sebesar -0,4 yang berarti koperasi dalam 3 tahun mendatang kemungkinan tidak dapat memenuhi kewajibannya secara tunai karena nilai rasionya adalah negatif.