• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Analisis Data Antar Subjek Penelitian

Dari hasil penelitian, dapat dilihat bahwa para Subjek memiliki seluruh komponen kepribadian altruis yang dipakai sebagai parameter untuk mengukur altruisme pada pedagang di pasar tradisional di Wonogiri. Komponen yang dimaksud adalah: sikap empati, kesadaran melakukan tugas dan tanggung jawab untuk menolong, keyakinan pada keadilan bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan, inisiatif untuk menolong yang berasal dari dalam diri sendiri yang ditunjukkan melalui dorongan untuk berbuat jasa bagi orang lain, dan pehatian yang lebih terhadap orang lain daripada dirinya sendiri.

Peneliti menangkap beberapa hal dimana altruisme pada pedagang di “Pasar Kota Wonogiri” ternyata juga tak lepas dari nilai kejawaan dan prinsip kapitalisme. a. Sikap Empati. Para subjek menyadari bahwa manusia tidak dapat melakukan segala sesuatunya seorang diri. Mereka terdorong untuk menolong orang lain karena melihat ketidakmampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Manusia Jawa memiliki rasa kemanusiaan yang besar. Karena itu orang Jawa cenderung selalu mengutamakan perlakuan manusiawi terhadap orang lain. Perasaannya mudah tergerak oleh penderitaan sesama. Dalam hubungan dengan rasa kemanusiaannya, manusia Jawa sering cenderung berbuat emosional serta sentimental. Sesuatu yang menyentuh hatinya bisa mendorongnya untuk memberikan pertolongan tanpa disertai perhitungan meskipun ia sendiri kurang mampu. Menolong dan menunjukkan perbuatan baik kepada orang lain akan membuat orang lain merasa senang dan merasa dihargai.

Pedagang di “Pasar Kota Wonogiri” memiliki hubungan yang baik dengan sesama pedagang disekitarnya. Mereka berpendapat bahwa dalam hidup bersama harus menjaga kerukunan dengan orang lain. Demikian pula dengan para tetangga di kampung tempat tinggal mereka, para subjek menjaga kerukunan dengan tetangga di kampung dengan cara membantu mereka disaat membutuhkan. Bagi orang Jawa, hidup rukun adalah nilai sosial yang utama. Orang Jawa juga mewajibkan gotong royong kepada masyarakatnya. Hal ini disebabkan karena gotong royong menekankan agar orang bersedia menomorduakan kepentingan pribadi dan haknya sendiri demi kebersamaan seluruh desa. Selain itu, demi mencapai kerukunan, orang Jawa berusaha memperlakukan orang lain sebagai anggota keluarga. Mereka

seringkali memperlakukan tetangga sebagai anggota keluarga, orang asing juga mendapat sapaan dengan istilah dari bahasa keluarga, seperti: pak (bapak), bu (ibu), mbah (nenek), pak dhe (paman), dan sebagainya.

Konflik adalah sesuatu yang biasa dijumpai oleh para subjek ketika mereka sedang berjualan di pasar. Konflik tersebut bisa merupakan konflik dengan sesama pedagang atau dengan pembeli. Konflik-konflik yang seringkali dijumpai para subjek dengan pedagang lain adalah: pedagang lain meminjam barang namun tidak dikembalikan, pedagang lain meletakkan barang dagangannya secara sembarangan sehingga mengganggu kios disekitarnya, salah paham, sesama pedagang memberikan patokan harga sendiri sehingga menjatuhkan harga pasaran yang akibatnya merugikan pedagang lain, merebut pelanggan, sesama pedagang menggosip atau berkata-kata negatif tentang pedagang lain. Para subjek menghadapi setiap konflik yang ada dengan sikap yang wajar. Para subjek memilih mengalah ketika menghadapi konflik dengan pedagang lain. Mereka bersabar, menenangkan diri, mengalah, memaklumi, dan tidak membesar-besarkan masalah yang terjadi ketika menghadapi konflik dengan pedagang lain. Konflik yang terjadi diantara pedagang dapat segera diatasi sehingga hubungan mereka tetap baik seperti semula. Demikian pula ketika para subjek menghadapi konflik dengan para pembeli. Konflik yang dialami para subjek dengan pembeli adalah seperti: pembeli menawar dengan harga yang kurang pantas, pembeli tidak mampu membayar hutang, tidak mengambil barang yang telah dipesan, menipu, mencuri, menuntut pedagang untuk memenuhi keinginannya padahal keinginan pembeli kurang realistis seperti meminta barang yang sama sekali tidak cacat atau memaksakan ukuran timbangan walaupun

ukurannya tidak sesuai. Para subjek tetap bersikap baik dan sabar dalam menghadapi pembeli yang kurang menyenangkan. Mereka memaklumi sikap pembeli yang kurang menyenangkan. Para subjek menyadari bahwa orang bisa berbuat kesalahan dan watak tiap orang tidak sama. Dalam hal ini prinsip kapitalisme mempengaruhi perilaku altruisme mereka, dimana mereka bersikap baik dan sabar terhadap pembeli yang kurang menyenangkan agar tidak kehilangan pelanggan.

Hasrat untuk berbuat baik kepada orang lain ada didalam diri para subjek, baik itu hasrat untuk berbuat baik kepada sesama pedagang, hasrat untuk berbuat baik kepada pembeli, juga hasrat untuk berbuat baik kepada sesama pada umumnya. Hasrat untuk berbuat baik kepada sesama pedagang nampak dalam sikap mereka yang tidak merebut pelanggan pedagang lain dalam berjualan. Mereka menjaga kerukunan diantara para pedagang dan tidak mencampuri urusan orang lain. Mereka memberikan saran dan masukan kepada pedagang lain yang sedang memiliki masalah. Ketika menghadapi konflik, para subjek menjaga dirinya agar tidak bertengkar dengan pedagang lain. Hasrat untuk berbuat baik kepada pembeli ditunjukkan dengan bersikap baik kepada pembeli agar pembeli merasa senang, menanggapi pembeli yang mengajak mengobrol, memberikan barang yang dibutuhkan secara cuma-cuma ketika menjumpai pembeli yang tampak tidak mampu. Hasrat untuk berbuat baik kepada sesama pada umumnya muncul dalam niat mereka untuk senantiasa berbuat baik dan menolong orang yang membutuhkan. Para subjek ingin menyejahterakan keluarga mereka dengan hal-hal kecil yang bisa mereka lakukan untuk keluarga, seperti menjenguk keluarga yang jauh atau mengajak sanak-saudara bekerja agar bisa mendapatkan penghasilan. Mereka menolong tetangga di

kampung, teman, orang-orang kurang mampu yang ada disekitar mereka agar memiliki kehidupan yang lebih baik.

Kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Meskipun demikian, para subjek tidak lantas memaksakan kehendak mereka demi mencapai apa yang mereka inginkan. Untuk mencapai apa yang diharapkan, terutama dalam bekerja dan menyelesaikan konflik dengan orang lain, mereka menggunakan cara-cara yang sesuai dengan norma-norma umum yang berlaku di masyarakat. Cara-cara yang ditempuh para subjek untuk mendapatkan pelanggan adalah lewat keramahan, kesabaran, memberikan kualitas barang yang baik, harga bersaing, pelayanan yang baik dan simpatik, menanggapi pembeli yang mengajak mengobrol, memberikan potongan harga dan tempo untuk membayar, menolong pembeli ketika sedang ada keperluan, menekan harga, memastikan barang yang dicari pembeli selalu tersedia, berjualan dengan tulus, menawarkan barang dagangannya kepada pembeli tanpa memaksa pembeli untuk membeli di kiosnya, berdoa, bersyukur, merasa cukup dengan penghasilan yang didapat setiap hari. Mereka yakin bahwa setiap pedagang memiliki rezekinya masing-masing sehingga mereka merasa tidak perlu bersusah-payah untuk mendapatkan pelanggan. Cara-cara yang ditempuh para subjek untuk menyelesaikan konflik dengan sesama pedagang atau pembeli juga adalah dengan mengalah, berdiam diri, beristirahat untuk menenangkan hati dan pikiran serta meredam amarah, berdoa, membicarakan masalah dengan orang yang bersangkutan untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan masalah dengan mengikuti peraturan yang berlaku di pasar. Orang Jawa cenderung lunak dalam menghadapi hidup. Ia merasa tidak perlu bersusah payah untuk tetap bertahan hidup. Ia juga memiliki

anggapan bahwa ia bisa memenuhi syarat-syarat hidup bagi diri sendiri dan keluarganya tanpa perlu mencurahkan tenaga serta pikiran yang berlebih. Dia adalah manusia yang lekas merasa puas dengan nasib dan apa yang dicapainya.

b. Kesadaran melakukan tugas dan tanggung jawab untuk menolong. Tolong-menolong adalah sesuatu yang penting dan merupakan kewajiban menurut para subjek. Mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk menolong orang lain. Tolong-menolong adalah sesuatu yang penting karena sebagai sesama berbuat baik adalah kewajiban, sebagaimana yang diajarkan oleh perintah agama.

Dalam menolong orang yang membutuhkan, para subjek tidak mengharapkan imbalan dari orang yang ditolong. Mereka menolong orang lain tanpa pamrih. Harapan mereka dalam menolong hanyalah agar orang yang ditolong bisa memiliki keadaan yang lebih baik.

c. Keyakinan pada keadilan bahwa setiap orang akan mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan. Para subjek percaya bahwa orang yang baik akan mendapatkan pahala, sebaliknya jika berbuat jahat akan menerima ganjarannya. Mereka percaya ketika kita menanam budi suatu saat orang lain akan membalasnya, orang yang jahat tidak akan disukai oleh orang lain serta patut ditegur dan dihukum agar kelak tidak mengulangi kesalahannya. Mereka percaya bahwa orang yang suka menyakiti dan mencelakakan orang lain akhirnya akan celaka juga, namun dengan menunjukkan perbuatan baik kepada orang yang menyakiti kita akan membuat orang itu sadar dan bertobat. Ajaran Jawa yang berkaitan dengan altruisme itu antara lain: berbagi dengan orang lain, rukun dengan sesama, mengerjakan pekerjaan bersama-sama (gotong-royong), tolong-menolong, berbuat baik terhadap sesama, bekerja tidak

perlu sampai bersusah payah karena rezeki datang dari Tuhan, pembeli akan datang sendiri apabila dikejar justru tidak dapat, penuh prihatin, kalau kita menanam sesuatu yang baik suatu saat akan menuai hasil yang baik juga, kebersamaan, menghargai orang lain, orang akan menerima ganjaran setimpal dengan pebuatannya, dan orang akan menuai apa yang ditaburnya.

Ada manfaat yang bisa diperoleh dari tindakan menolong. Para subjek memiliki keyakinan bahwa dengan memberi pertolongan kepada orang lain mereka melakukan tindakan yang benar. Para subjek percaya apabila kita mau menolong orang maka kita sendiri juga akan ditolong ketika kita membutuhkan pertolongan, sebaliknya jika kita tidak mau menolong maka kelak kita juga tidak akan ditolong. Hal ini disampaikan bukan dalam arti harus ada timbal-balik atau balasan ketika menolong orang lain, melainkan sesuatu yang berjalan dengan alami bahwa ketika kita menolong orang lain maka kita juga akan menerima pertolongan ketika kita membutuhkan. Sebaliknya, jika kita tidak peduli dengan kesusahan orang lain, maka orang lain juga tidak akan peduli ketika kita mengalami kesusahan. Saling tolong-menolong membuat beban terasa lebih ringan. Ketika kita saling tolong-tolong-menolong dan menghargai orang lain maka orang juga akan menolong dan menghargai kita. Mereka percaya bahwa dengan menolong orang lain, kita akan memiliki masa depan yang baik.

d. Inisiatif untuk menolong yang berasal dari dalam diri sendiri yang ditunjukkan melalui dorongan untuk berbuat jasa bagi orang lain. Dorongan untuk menolong dalam diri para subjek berasal dari hati yang tergerak melihat orang yang membutuhkan. Mereka menolong karena kemauan yang muncul dari dalam hati

mereka sendiri, didorong oleh pikiran dan harapannya sendiri untuk menolong orang lain.

Perilaku menolong yang diwujudkan lewat tindakan nyata nampak dalam bentuk altruisme yang mereka lakukan terhadap sesama pedagang, pembeli, dan sesama pada umumnya. Bentuk altruisme yang mereka tunjukkan terhadap sesama pedagang adalah: membesuk pedagang yang sakit, menghadiri undangan pesta, membantu menjagakan kios sesama pedagang lain, membantu sesama pedagang menata dagangan, memberi pinjaman berupa uang atau barang dagangan untuk menambah modal dan memberikan tempo kepada mereka untuk membayarnya, membantu sesama pedagang yang sedang punya acara, memberi saran atau masukan ketika sesama pedagang sedang menghadapi masalah, peduli dengan keadaan pedagang lain dengan menyapa mereka dan menanyakan kabar ketika sesama pedagang melewati kios mereka. Bentuk altruisme yang mereka tunjukkan terhadap pembeli adalah: mengobrol dengan pembeli, menghutangi pembeli apabila uang pembeli kurang atau pembeli belum punya cukup uang untuk membayar, memberi saran atau masukan ketika pembeli menceritakan masalahnya, mengantarkan barang belanjaan pembeli ke tempat parkir, memberikan potongan harga, memberikan bonus berupa barang dagangan, membantu pembeli yang sedang punya acara dengan menyediakan dan membantu mencarikan apa yang dibutuhkan, tidak mengungkit-ungkit dan menganggap lunas hutang pembeli ketika pembeli tidak sanggup membayarnya, menanggapi keluhan pembeli soal kualitas barang atau harga dengan baik, menyediakan tempat bagi pembeli untuk menitipkan barang belanjaannya. Bentuk altruisme yang mereka tunjukkan terhadap sesama pada umumnya adalah:

menghadiri undangan pesta tetangga di kampung, menjenguk tetangga yang sakit, memberi sumbangan, sedekah baik berupa uang atau barang kepada orang yang membutuhkan, memberi pinjaman uang kepada orang lain, menolong orang lain agar dapat bekerja, menjamu orang yang singgah di rumah mereka, menolong tetangga yang sedang mengalami kesulitan, membantu tetangga yang sedang punya acara, berpartisipasi dalam kegiatan yang diadakan di kampung dengan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan untuk mengadakan acara seperti menyediakan tempat, makanan, seragam, atau memberikan sumbangan untuk kepentingan kampung.

Bentuk altruisme terhadap sesama pedagang merupakan altruisme yang dilakukan secara kolektif, dimana setiap pribadi melakukan tindakan altruisme bersama-sama dengan komunitas atau kelompoknya. Sementara, bentuk altruisme terhadap pembeli atau sesama pada umumnya kebanyakan merupakan altrisme yang dilakukan secara individual, yaitu setiap pribadi menolong orang lain yang membutuhkan secara langsung, walau tidak bersama-sama dengan komunitas atau kelompok.

e. Perhatian yang lebih terhadap orang lain daripada dirinya sendiri. Seorang yang altruis mudah bekerja sama dengan orang lain sebab mereka tidak terfokus untuk memperhatikan kepentingan mereka sendiri saja. Para subjek adalah orang-orang yang mudah bekerja sama dengan orang lain. Hal ini nampak dalam keikut-sertaan mereka membesuk orang sakit, menghadiri undangan, melayat bersama-sama dengan pedagang lain. Mereka membantu menjagakan kios dan menata dagangan pedagang lain, membantu pedagang lain yang tidak memiliki dagangan dan kekurangan modal, memberikan harga yang seimbang dengan pedagang lain agar sesama pedagang

dapat saling diuntungkan (Ea). Sesuai dengan prinsip kapitalisme, yaitu bekerja untuk meraih keuntungan. Ada kepercayaan dan timbal-balik dari tindakan altruisme yang mereka lakukan. Para subjek tidak hanya memikirkan kemajuan kios mereka sendiri saja, namun juga membantu pedagang lain agar pekerjaan mereka bisa berjalan lancar. Sebagai warga kampung, mereka juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang ada di kampung, seperti membantu tetangga yang sedang punya acara untuk mempersiapkan acara, memberikan sumbangan untuk kepentingan kampung (Ea). Menurut para subjek kebersamaan itu penting, karena itu kita harus bergaul dengan orang lain dan saling tolong-menolong.

Perhatian yang lebih terhadap orang lain ditunjukkan para subjek dengan mendahulukan kepentingan orang yang membutuhkan daripada kepentingan sendiri. Ketika ada sesama pedagang yang sakit, para subjek menitipkan kios atau menutup kios agar bisa menjenguk orang sakit bersama-sama dengan pedagang lain (Eb). Mereka lebih mengutamakan menjenguk orang yang sakit daripada berjualan. Apabila ada pembeli yang uangnya kurang untuk membeli, para subjek menghutangi pembeli. Bahkan jika pembeli tidak mampu membayar hutangnya, mereka tidak menuntut pembeli untuk melunasinya, sebaliknya menganggap hutang pembeli telah lunas (Eb). Keadaan ini dapat membuat mereka merugi, namun mereka memaklumi pembeli yang tidak mampu membayar hutang. Meskipun diri mereka sendiri kekurangan, mereka mengusahakan untuk sebisa mungkin menolong orang yang membutuhkan. Tidak selalu mereka bisa mendapatkan yang mereka harapkan. Terkadang mereka justru merugi karena menolong orang lain. Mereka ditipu, disalah-mengerti oleh orang yang ditolong, atau orang yang ditolong berbuat yang

sebaliknya, bukannya rasa terima kasih namun sikap yang kurang menyenangkan. Mereka menganggap hal itu merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam hidup bersama. Perlakuan-perlakuan buruk yang kadangkala mereka terima dari orang yang sudah ditolong tidak menyurutkan keinginan mereka atau membuat mereka merasa jera untuk terus berbuat baik kepada orang-orang disekitar. Mereka belajar, dalam menolong juga harus berhati-hati agar hal-hal yang buruk jangan sampai terulang kembali. Terlebih menolong orang yang sama sekali tidak dikenal. Mereka cenderung berhati-hati, mencermati apakah orang yang minta tolong itu betul-betul membutuhkan atau hanya mau menipu. Kepercayaan akan semakin menguatkan perilaku altruisme. Norma-norma sosial yang ada di lingkungan mereka juga menuntut mereka untuk menolong orang yang membutuhkan sehingga walaupun mereka pernah mengalami hal yang kurang menyenangkan, mereka tetap menolong. Masyarakat Jawa menilai tinggi perbuatan warganya yang tertuju pada peringanan penderitaan sesamanya. Tanggapan yang mereka berikan ketika melihat orang yang membutuhkan adalah memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan. Mereka menolong orang yang membutuhkan dengan segera. Para subjek menolong siapa pun yang membutuhkan, bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun. Orang-orang yang pernah ditolong oleh para subjek adalah: sesama pedagang, pembeli, orang yang membutuhkan meskipun tidak dikenal, pengemis, keluarga dan kerabat, warga di kampung tempat tinggal, teman dan tetangga dari desa asal.

Dokumen terkait