• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.3 Analisis Data

Metode analisis data dalam peneltian ini adalah analisis kuantitatif yang

meliputi analisis deskriptif, uji normalitas, uji asumsi klasik, uji regresi linear

berganda, uji hipotesis dan keofisien determinasi.

1. Hasil Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah nilai residual

terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang

memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Jika data berdistribusi normal

maka model regresi yang digunakan memenuhi asumsi normalitas (irawan, 2010).

Untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak maka dapat

menggunakan analisis grafik, plots, danone sample kolmogorov-smirnov. Berikut

adalah Gambar 4.1 Grafik Normal P-Plot Of Regression Standardized Residual

berikut:

Gambar 4.1GrafikNormal Probability Plot

Sumber: Lampiran 1OutputSPSS

Berdasarkan Gambar 4.1 output regresi diatas diketahui bahwa model

plot terlihat titik-titik menyebar disekitar garis diagonal serta penyebarannya

mengikuti arah garis diagonal sehingga memenuhi asumsi normalitas. Dengan

menggunakan grafik histogram, hasil uji normalitas data juga dapat dilihat pada

Gambar 4.2 Grafik histogram berikut:

Gambar 4.2Grafik Histogram

Sumber: Lampiran 1OutputSPSS

Berdasarkan Gambar 4.2 grafik histogram diatas menunjukkan bahwa

bentuk gafik mengikuti bentuk lonceng yang berarti bahwa model regresi

berdistribusi normal. Selain itu hasil uji normalitas juga dapat dilihat

menggunakan one sample kolmogorov-smirnov, yang disajikan pada Tabel 4.11

Berikut ini:

Tabel 4.11Output UjiKolmogorov-Smirnov

Unstandardized Residual

N 30

Asymp. Sig. (2-tailed) 0,922

Sumber: Lampiran 1OutputSPSS

Berdasarkan Tabel 4.11 UjiKolmogorov-Smirnovdi atas, diperoleh hasil

tersebut menunjukkan bahwa data yang diambil berdistribusi normal karena

signifikansiAsymp. Sig. 2-tailedlebih besar dari taraf signifikansi.

2. Hasil Uji Asumsi Klasik

Model regresi linear berganda (multiple regression) dapat dikatakan

sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi criteria BLUE (Best

Linear Unbiased Estimator). BLUE dapat dicapai bila data terdistribusi normal

dengan menggunakan uji normalitas serta terbebas dari gejala autokorelasi,

multikolinearitas, dan heteroskedastisitas (Setyadharma, 2010).

a. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model

regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi yang

baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas (Priyatno, 2011).

Metode pengujian yang biasa digunakan adalah dengan melihat nilai Inflation

Factor(VIF) dan tolerancepada model regresi. Jika nilai VIF kurang dari 10 dan

tolerance lebih dari 0,1 maka model regresi terbebas dari masalah

multikolinearitas. Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut:

Tabel 4.12Hasil Uji Multikolinearitas

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF (constant) X1 0,278 3,596 X2 0,220 4,551 X3 0,832 1,202 X4 0,630 1,586

Berdasarkan Tabel 4.12 hasil uji multikolinearitas di atas, dapat diketahui

bahwa nilai VIF seluruh variabel independen kurang dari sepuluh dan nilai

tolerance lebih dari 0,1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa keempat variabel

independen terbebas dari masalah multikolinearitas.

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual pada satu pengamatan ke

pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah jika tidak mengalami masalah

heteroskedastisitas. Metode yang bisa digunakan untuk menentukan terjadi maslah

heteroskedastisitas adalah dengan uji korelasi spearman, uji glejser, uji park, dan

scatterplot (nilai prediksi ZPRED dengan residual SRESID). Model Regresi

terbebas dari asumsi heteroskedastisitas apabila grafik scatterplot membentuk pola

dengan titik-titik menyebar diatas maupun dibawah sumbu Y. Hasil uji

heteroskedastisitas dapat dilihat pada Gambar 4.3 berikut:

Gambar 4.3GrafikScatterplot

Berdasarkan Gambar 4.3 Grafik scatterplot, dapat dilihat bahwa ada

pola-pola yang jelas dengan titik-titik menyebar diatas ataupun dibawah sumbu 0

dan sumbu Y. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model tersebut terbebas dari

masalah heteroskedastisitas. Agar lebih meyakinkan apakah terdapat masalah

heteroskedastisitas maka dilakukan ujiglejser yang dapat dilihat pada Tabel 4.13

berikut:

Tabel 4.13Hasil UjiGlejser

Model Unstandardized Coefficients

B Sig. (constant) 0,021 0,495 X1 0,015 0,577 X2 -0,044 0,215 X3 0,011 0,726 X4 0,028 0,276

Sumber: Lampiran 1OutputSPSS

Berdasarkan Tabel 4.13 Uji glejser diatas menunjukkan bahwa nilai

keofisien variabel bebas (indeks grayleverage, indeks gray likuiditas, indeks gray

profitabilitas, indeks gray porsi saham publik) sebesar (0,15; -0,044; 0,011; 0.028)

dengan nilai signifikansi (0,495; 0,577; 0,215; 0,726; 0,276) menunjukkan bahwa

semua nilai tersebut lebih besar dari 0,05 yang berarti bahwa model regresi

terbebas dari masalah heteroskedastisitas.

3. Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis yang selanjutnya dilakukan setelah model regresi terbebas dari

asumsi klasik adalah analisis regresi linear berganda. Analisis regresi linear

independen (bebas) dengan satu variabel dependen (terikat) yang ditampilkan

dalam bentuk persamaan regresi (Priyatno, 2011). Pengaruh variabel independen

(indeks gray leverage, indeks gray likuiditas, indeks gray profitabilitas, dan

indeks gray porsi saham publik) terhadap variabel dependen (pengungkapan

laporan keuangan) perusahaan perbankan dapat dilihat pada Tabel 4.14 hasil

output regresi linear berganda berikut:

Tabel 4.14Hasil Regresi Linear Berganda

Model Unstandardized Coefficients

B (constant) 0,342 X1 0,107 X2 0,080 X3 0,095 X4 0,230

Sumber: Lampiran 1OutputSPSS

Berdasarkan Tabel 4.14 hasil output regresi linear berganda diatas

diketahui bahwa persamaan regresi linear dari model penelitian ini adalah sebagai

berikut:

Y = 0,324 + 0,107 X1+ 0,080 X2+ 0,095 X3+ 0,230 X4

Berdasarkan persamaan diatas dapat diketahui beberapa pengertian

berikut:

1) Nilai konstanta sebesar 0,342 berarti bahwa jika variabel independen

(indeks gray leverage, indeks gray likuiditas, indeks gray profitabilitas,

dan indeks gray porsi saham publik) nilainya tetap (0), maka nilai

2) Koefisien regresi variabel indeks gray leverage sebesar 0,107 yang

berarti bahwa jika indeks grayleveragemengalami kenaikan satu-satuan

(1%), maka pengungkapan laporan keuangan akan mengalami

peningkatan sebesar 0,107 dengan asumsi variabel bebas lainnya tetap.

3) Koefisien regresi variabel indeks gray likuiditas sebesar 0,080 yang

berarti bahwa jika indeks gray likuiditas mengalami kenaikan satu-satuan

(1%), maka pengungkapan laporan keuangan akan mengalami

peningkatan sebesar 0,080 dengan asumsi variabel bebas lainnya tetap.

4) Koefisien regresi variabel indeks gray profitabilitas sebesar 0,095 yang

berarti bahwa jika indeks gray profitabilitas mengalami kenaikan

satu-satuan (1%), maka pengungkapan laporan keuangan akan mengalami

peningkatan sebesar 0,095 dengan asumsi variabel bebas lainnya tetap.

5) Koefisien regresi variabel indeks gray porsi kepemilikan saham publik

sebesar 0,230 yang berarti bahwa jika indeks gray porsi kepemilikan

saham publik mengalami kenaikan satu-satuan (1%), maka

pengungkapan laporan keuangan akan mengalami peningkatan sebesar

0,230 dengan asumsi variabel bebas lainnya tetap.

4. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen

memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (menolak Ho atau meneima Ho).

Untuk mengetahui hal tersebut dapat dilihat melalui uji simultan (uji F) dan uji

a. Uji F

Uji F adalah uji keofisien regresi secara bersama-sama. Uji F digunakan

untuk menguji pengaruh variabel bebas (indeks gray leverage, indeks gray

likuiditas, indeks gray profitabilitas, dan indeks gray porsi saham publik) secara

bersama-sama terhadap variabel terikat (pengungkapan laporan keuangan). Untuk

mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen melalui uji

F dapat dilihat pada Tabel 4.15 berikut:

Tabel 4.15Hasil Uji Simultan

Model F Sig

1 Regression 17,710 0,000a

Residual Total Sumber: Lampiran 1 Output SPSS

Dari Tabel 4.15 hasil uji simultan di atas diketahui bahwa nilai F hitung

sebesar 17,071 yang berarti dan nilai F tabel pada tabel uji uji F sebesar 3,056

yang beararti bahwa nilai F hitung > F tabel (17.071>3,056), maka Ho ditolak dan

menerima Ha yang berarti bahwa indeks gray leverage, indeks gray likuiditas,

indeks gray profitabilitas, dan indeks gray porsi saham publik secara simultan

(bersama-sama) berpengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan.

Persentase pengaruh variabel independen secara simultan terhadap

variabel dependen dalam model penelitian ini dapat dilihat melaui koefisien

determinasi. Analisis determinasi digunakan untuk mengetahui persentase

sumbangan pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel

dependen (Priyatno, 2011). Hasil analisis determinasi dapat dilihat pada output

dari dua variabel independen menggunakan adjusted R square sebagai koefisien

determinasi.Adjusted R squareadalah nilaiR squareyang telah disesuaikan.

Berdasarkan output regresi pada lampiran 1 dapat diketahui angka

adjusted R square sebesar 0,697 atau 69,7%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa

persentase sumbangan pengaruh variabel independen indeks grayleverage, indeks

gray likuiditas, indeks gray profitabilitas, dan indeks gray porsi saham publik

sebesar 69,7%. Atau variasi variabel bebas yang digunakan dalam model regresi

mampu menjelaskan sebesar 69,7% variasi variabel dependen. Sedangkan sisanya

sebesar 43% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model

penelitian ini. Selain itu nilaistandar error of the estimate(SEE) sebesar 0,04387

atau 4,4%. Artinya apabila semakin kecil nilai SEE akan membuat model regresi

semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen.

b. Uji t

Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel

independen (indeks gray leverage, indeks gray likuiditas, indeks gray

profitabilitas, dan indeks gray porsi saham publik) terhadap variabel dependen

(pengungkapan laporan keuangan). Uji parsial dapat diketahui dengan melihat

tingkat signifikansi masing masing koefisien dari hasil output regresi linear

dengan menggunakan ߙ= 5%. Apabila dari masing-masing variabel bebas terlihat bahwa nilai signifikansi < 0,05 maka menolak Ho dan menerima Ha yang berarti

bahwa masing-masing variabel bebas yang dimaksud berpengaruh terhadap

variabel terikat. Hasil output regresi linear uji t dapat dilihat pada Tabel 4.16

Tabel 4.16Hasil Uji Parsial

Model Unstandardized Coefficients

B Sig. 1 Constant 0,342 0,000 X1 0,107 0,214 X2 0,080 0,007 X3 0,095 0,028 X4 0,230 0,000

Sumber: Lampiran 1OutputSPSS

Dari Tabel 4.16 uji parsial di atas dapat diketahui beberapa kesimpulan

berikut:

(a) Uji t antara indeks grayleveragedengan pengungkapan laporan keuangan.

Dari Tabel 4.16 diketahui bahwa variabel indeks gray leverage memiliki

nilai koefisien 0,107 dan nilai signifikansi 0,214. Nilai tersebut lebih besar dari

0,05 yang berarti bahwa Ho diterima. Hasil Ini menunjukkan bahwa tidak ada

pengaruh implementasi IFRS dalam indeks grayleverageterhadap pengungkapan

laporan keuangan.

(b) Uji t antara indeks gray likuiditas dengan pengungkapan laporan

keuangan.

Dari Tabel 4.16 diketahui bahwa variabel indeks gray likuiditas memiliki

nilai koefisien 0,080 dan nilai signifikansi 0,007. Nilai signifikansi 0,007 lebih

kecil dari 0,05 yang berarti bahwa Ho ditolak dan menerima H2. Hasil ini

menunjukkan bahwa implementasi IFRS dalam indeks gray likuiditas

berpengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan.

(c) Uji t antara indeks gray profitabilitas dengan pengungkapan laporan

Dari Tabel 4.16 diketahui bahwa variabel indeks gray profitabilitas

memiliki nilai koefisien 0,095 dan nilai signifikansi 0,028. Nilai signifikansi

0,028 lebih kecil dari 0,05 yang berarti bahwa Ho ditolak dan menerima H3. Hasil

ini menunjukkan bahwa implementasi IFRS dalam indeks gray profitabilitas

berpengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan.

(d) Uji t antara indeks gray porsi saham publik dengan pengungkapan laporan

keuangan.

Dari Tabel 4.16 diketahui bahwa variabel indeks gray porsi kepemilikan

saham publik memiliki nilai koefisien 0,230 dan nilai signifikansi 0,000. Nilai

signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 yang berarti bahwa Ho ditolak dan

menerima Ha4. Hasil ini menunjukkan bahwa implementasi IFRS dalam indeks

gray porsi kepemilikan saham publik berpengaruh terhadap pengungkapan

laporan keuangan.

Secara singkat hasil penelitian ini dijelaskan melalui Tabel 4.17 berikut:

Tabel 4.17Hasil Uji Hipotesis

Hipotesis Keterangan Hasil

H1 Implementasi IFRS dalam indeks grayleverage

berpengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan

Ditolak

H2 Implementasi IFRS dalam indeks gray likuiditas berpengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan

Diterima

H3 Implementasi IFRS dalam indeks gray Profitabilitas berpengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan

Diterima

H4 Implementasi IFRS dalam indeks gray porsi saham publik berpengaruh terhadap pengungkapan laporan keuangan

Diterima

H5 Implementasi IFRS dalam indeks grayleverage,likuiditas, profitabilitas, dan porsi saham publik berpengaruh

terhadap pengungkapan laporan keuangan

Diterima

Dokumen terkait