• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

1. Untuk pemberian makanan tambahan pada anak kurus lebih baik mengonsumsi 4 keping biskuit tetapi harus disertai dengan edukasi pemberian makan bayi dan anak sehingga makanan rumah tangga anak juga dapat dipertahankan setelah program pemberian makanan tambahan berakhir.

2. Disarankan untuk anak baduta di wilayah Kecamatan Ujung Tanah untuk lebih banyak mengonsumsi makanan yang sumber vitamin A dan zat besi sedangkan anak baduta di wilayah Kecamatan Makassar disarankan untuk lebih banyak mengonsumsi makanan yang sumber zat besi karena rata-rata asupan untuk vitamin A dan zat besi pada penelitian ini masih kurang dari AKG.

3. Untuk pembuat kebijakan, perlu mengevaluasi kembali pemberian makanan tambahan ini mengingat bahwa banyaknya anak baduta yang

tidak patuh mengonsumsi biskuit sehingga biskuit yang diberikan untuk anak dikonsumsi anak baduta tidak tepat sasaran.

4. Untuk pelaksana program, perlu melakukan perencanaan terkait pelatihan kader PMBA untuk semua posyandu agar masyarakat lebih banyak terpapar oleh pengetahuan tentang pemberian makan bayi dan anak yang sesuai standar.

5. Disarankan untuk peneliti selanjutnya melihat pertumbuhan kedua kelompok setelah tidak diberikan biskuit makanan tambahan lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Adriani, M. & Wirjatmadi, B., 2016. Peranan Gizi dalam Siklus Kehidupan Pertama., Jakarta: Prenadamedia Group.

Adu-Afarwuah, S. et al., 2007. Randomized comparison of 3 types of micronutrient supplements for home fortification of complementary foods in Ghane: effects on growth nad motor development. The American Journal of Clinical Nutrition, 86(1), pp.412–420.

Afriyani, R., Malahayati, N. & Hartati, 2016. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Wasting Pada Balita Usia 1-5 Tahun Di Puskesmas Talang Betutu Kota Palembang. Jurnal Kesehatan, VII(1), pp.66–72.

Agbozo, F., Colecraft, E. & Ellahi, B., 2015. Impact of type of child growth intervention program on caregivers ’ child feeding knowledge and practices : a comparative study in Ga West Municipality , Ghana.

Akombi, B.J. et al., 2017. Multilevel analysis of factors associated with wasting and underweight among children under-five years in Nigeria.

Nutrients, 9(1).

Almatsier, S., 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: Gramedia.

Ariska, Y., 2015. Perubahan Status Gizi Balita pada Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi. Jurnal Gizi dan Pangan, 10(3), pp.157–164.

Arnelia et al., 2013. Penerimaan Konsumen dan Compliance Makanan Siap Makan Cookies Berbasis Bahan Lokal untuk Anak Batita Wasting. Jurnal Gizi Indonesia, 36(1), pp.15–26.

Chalid, M.T., Wahyuni, S. & Islam, A.A., 2014. 1000 Hari Awal Kehidupan, Makassar: Sagung Seto.

Christian, P. et al., 2015. Effect of fortified complementary food supplementation on child growth in rural Bangladesh: A cluster-randomized trial. International Journal of Epidemiology, 44(6), pp.1862–1876.

Ciptaningtyas, R., Sumantri, A. & Ramadhan, M.A., 2012. Evaluasi Berat Badan Tidak Naik pada Bayi di Bawah Dua Tahun Warga Miskin Setelah Pemberian MP-ASI. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 7(5), pp.227–232. Available at:

http://jurnalkesmas.ui.ac.id/index.php/kesmas/article/view/45.

Dewi, M. & Aminah, M., 2016. Pengaruh Edukasi Gizi terhadap Feeding Practice Ibu Balita Stunting Usia 6-24 Bulan. Indonesian Journal of Human Nutrition, 3(1), pp.1–8.

Dumaguing, N. V, Hurtada, W.A. & Yee, M.G., 2015. Complementary feeding counselling promotes physical growth of infant and young children in rural villages in Leyte, Philippines. Journal of society &

technology, 5, pp.1–15.

Edvina, 2015. Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Pada Balita Gizi Kurang Usia 6-48 Bulan Terhadap Status Gizi Di Wilayah Puskesmas Sei Tatas Kabupaten Kapuas. Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia, 2(3), pp.110–115.

Ekawidyani, K.R. et al., 2015. Child Feeding Pattern During Transitional Period ( 6-8 Months ) in Jonggat Sub District , Central Lombok , West Nusa Tenggara. Jurnal Gizi dan Pangan, 10(2), pp.101–108.

Elvandari, M., Briawan, D. & Tanziha, I., 2017. Suplementasi vitamin A dan asupan zat gizi dengan serum retinol dan morbiditas anak 1-3 tahun. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 13(4), pp.179–187.

Fahmida, U. et al., 2015. Effectiveness in improving knowledge, practices, and intakes of "key problem nutrients" of a complementary feeding intervention developed by using linear programming:

experience in Lombok, Indonesia. The American journal of clinical nutrition, 101(3), pp.455–61.

Ferguson, E.L. et al., 2006. Design of optimal food-based complementary feeding recommendations and identification of key "problem nutrients" using goal programming. The Journal of nutrition, 136(9), pp.2399–404.

Ghodsi, D., 2018. Effectiveness of the national food supplementary program on children growth and nutritional status in Iran. Maternal and Child Nutrition, (January), pp.1–9.

Gibson, R.S., 1990. Principles of Nutritional Assesment, New York: Oxford University Press.

Gibson, R.S., 2005. Principles of Nutritional Assessment, New York:

Oxford University Press.

Gibson, R.S. & Ferguson, E.L., 2008. An Interactive 24-Hour Recall for Assessing the Adequacy of Iron and Zinc Intakes in Developing Countries, Washington, DC.: HarvestPlus Technical Monograph 8.

Hanasiah. dkk., 2016. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan

Pertumbuhan Baduta (Umur 7-24 Bulan) di Wilayah Kerja Puskesmas Penengahan Kabupaten Lampung Selatan. Jurnal Kesehatan, VII(2), pp.197–203.

Hayati, N., 2014. Latar Belakang Tidak Meningkatnya Berat Badan Balita Setelah Mendapat Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2014. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hendrayati et al., 2015. Praktek Pemberian MP-ASI, Asupan Zat Gizi dan Status Gizi Anak Usia 6-24 Bulan di Desa Minasa Upa Kabupaten Maros. Media Gizi Pangan, XIX(1), pp.60–66.

Hlaing, L.M. et al., 2018. Local food-based complementary feeding

recommendations developed by the linear programming approach to improve the intake of problem nutrients among 12 – 23-month-old Myanmar children. , 116(2016), pp.16–26.

Huynh, D.T.T. et al., 2015. PUBLIC HEALTH NUTRITION AND EPIDEMILOGY Longitudinal growth and health outcomes in nutritionally at-risk children who received long-term nutritional intervention. , (1).

Ihsan, M., 2012. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Anak Balita di Desa Teluk Rumbia Kecamatan Singkil Kabupaten Aceh Singkil. Jurnal Gizi Indonesia, 22(3), pp.44–54.

Imdad, A., Yakoob, M.Y. & Bhutta, Z.A., 2011. Impact of maternal education about complementary feeding and provision of

complementary foods on child growth in developing countries. BMC Public Health, 11(SUPPL. 3), p.S25. Available at:

http://www.biomedcentral.com/1471-2458/11/S3/S25.

International Food Policy Research Institute, 2016. GLOBAL NUTRITION REPORT 2016 - From Promise to Impact Ending Malnutrition By 2030, Washington, DC.

Issaka, A.I. et al., 2015. Determinants of inadequate complementary feeding practices among children aged 6-23 months in Ghana. Public Health Nutrition, 18(4), pp.669–678.

Jafar, N. et al., 2016. Pegangan Pertumbuhan dan Perkembangan, Makassar: Program Studi Gizi FKM Universitas Hasanuddin.

Jafar, N., 2005. Pertumbuhan dan Perkembangan, Makassar.

Kemenkes, 2013a. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia, Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes, 2016. Buku Saku Pemantauan Status Gizi dan Indikator Kinerja Gizi Tahun 2015. , pp.42–84.

Kemenkes, 2017a. HASIL PEMANTAUAN STATUS GIZI ( PSG ) TAHUN 2016, Jakarta.

Kemenkes, 2018. Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Tahun 2017, Jakarta.

Kemenkes, 2014. Modul Pelatihan Konseling : Pemberian Makan Bayi dan Anak, Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes, 2011. Panduan Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Bagi Balita Gizi Kurang (Bantuan Operasional Kesehatan), Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes, 2012. Panduan Penyelenggaraan PMT Pemulihan Bagi Balita Gizi Kurang dan Ibu Hamil KEK, Jakarta: Ditjen Bina Gizi dan

Kesehatan Ibu dan Anak, Kementerian Kesehatan RI. Available at:

http://gizi.depkes.go.id/download/Pedoman Gizi/Panduan PMT Balita dan Bumil BOK 4 Jan 2012.pdf.

Kemenkes, 2017b. Petunjuk Teknis Pemberian Makanan Tambahan (Balita - Ibu Hamil - Anak Sekolah), Jakarta.

Kemenkes, 2013b. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013, Jakarta.

Kemenkes, 2010a. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. , p.40.

Kemenkes, 2010b. Strategi Peningkatan Makanan Bayi dan Anak (PMBA), Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkesra, 2012. Kerangka Kebijakan Gerakan Nasional Sadar Gizi Dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 HPK), Jakarta: Kementerian Kesejahteraan Rakyat RI.

Khomsan, A., 2000. Teknik Pengukuran Pengetahuan Gizi, Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Kristjansson, E., 2016. Supplementary feeding for improving the health of disadvantaged infants and children What works and why ? March 2016 Systematic Review Summary 5. , (March).

Kurniasih, E. & Hidayah, N., 2016. Hubungan Antara Peran Ibu Balita dalam Pemberian Makanan Bergizi dengan Status Gizi pada Balita.

Warta Bhakti Husada Mulia, 3(1), pp.19–24.

Kusumawati, Ndaru, H. & Ratna, E., 2015. Perbedaan Asupan Zat Gizi Makro Sebelum dan Setelah Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Bubur Instan Berbasis Ikan Gabus dan Labu Kuning pada Balita Gizi Kurang. Universitas Diponegoro Semarang.

Kyle, U.G., Shekerdemian, L.S. & Coss, J.A., 2015. Growth Failure and Nutrition Considerations in Chronic Childhood Wasting Diseases.

Nutrition in Clinical Practice, 30(2), pp.227–238.

Lassi, Z.S. et al., 2013. Impact of education and provision of

complementary feeding on growth and morbidity in children less than 2 years of age in developing countries : a systematic review. BMC public health, 13(Suppl 3), pp.1–10.

Latifah, N., Susanti, Y. & Haryanti, D., 2018. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Status Gizi pada Balita. Jurnal Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal, 10(1), pp.68–74.

Litbangkes, 2014. Studi Diet Total : Survei Konsumsi Makanan Individu 2014, Jakarta: Lembaga Penerbitan Badan Litbangkes.

Mansyur, M. et al., 2017. Efektivitas Pemberian Makanan Tambahan dan Edukasi PMBA (Pemberian Makanan Bayi dan Anak) untuk Perbaikan Status Gizi Anak Kurus Usia 6-23 Bulan di Indonesia. SEAMEO

RECFON, Fakultas Kedokteran UI.

Marimbi, H., 2010. Tumbuh Kembang, Status Gizi, dan Imunisasi Dasar Pada Balita, Yogyakarta: Nuha Medika.

More, J., 2014. Gizi Bayi, Anak dan Remaja I., Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Moshago, D., Gibson, R.S. & Abebe, Y., 2015. Assessing the Nutritional Adequacy of Complementary Foods and Infant and Young Child Feeding Practices in Sodo Zurea Woreda , Wolaiyta Zone, Southern Ethiopia. European Journal of Nutrition & Food Safety, 5(June 2014), pp.1196–1197.

Muharni, S., Susanty, A. & Tarigan, E.R., 2014. Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pada Pasien ISPA Pada Salah Satu Puskesmas di Kota Pekanbaru. Jurnal Penelitian Farmasi Indoneisa, 3(September), pp.10–15.

Muslihah, N. et al., 2016. Kepatuhan Konsumsi Suplemen Gizi Berbasis Lipid Dosis Kecil pada Bayi di Perdesaan, Kabupaten Bangkalan. Gizi Pangan, 11(2), pp.115–124.

Notoatmodjo, S., 2014. Ilmu Perilaku Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta.

Nugraha, D., 2012. Pengaruh Konsumsi Biskuit Terhadap Status Gizi dan Tingkat Morbiditas Balita yang Berstatus Gizi Buruk atau Gizi Kurang di Tiga Tipologi Wilayah Kabupaten Sukabumi.

Nurwijayanti, 2016. Keterkaitan Kekurangan Energi Protein (KEP) dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita Usia (1-5 Tahun). Jurnal Care, 4(3), pp.30–36.

de Onis, M. et al., 2004. The WHO Multicentre Growth Reference Study (MGRS): Rationale, planning, and implementation. Food and Nutrition Bulletin, 25(1 (supplement 1)), pp.S3–S89.

Onyango, A.W. et al., 2014. Complementary feeding and attained linear growth among 6-23-month-old children. Public Health Nutrition, 17(9), pp.1975–1983.

Purwestri, R.C. et al., 2013. Impact of Daily versus Weekly Supply of Locally Produced Ready-to-Use Food on Growth of Moderately Wasted Children on Nias Island , Indonesia. , 2013.

Rahayu, A. & Khairiyati, L., 2014. Risiko Pendidikan Ibu Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak 6-23 Bulan. Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research), 37(2 Dec), pp.129–136. Available at:

http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/pgm/article/view/4016.

Ramadhan, M.A., 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Berat Badan Tidak Naik (2T) Pada Baduta Gakin Setelah Pemberian Program MP-ASI Kemenkes di Kecamatan Pancoran Jakarta Selatan Tahun 2011.

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Rizky, O., Wirjatmadi, B. & Adriani, M., 2015. Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan Biskuit dan Bolu Tepung Tempe terhadap Peningkatan Berat Badan dan Tinggi Badan pada Balita Gizi Kurang Tahun 2015. Jurnal Ilmiah Kedokteran, 4(1), pp.16–24.

Rosha, B.C., Hardinsyah & Baliwati, Y.F., 2012. Analisis Determinan Stunting Anak 0-23 Bulan pada Daerah Miskin di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research), 35(1), pp.34–41.

Scherbaum, V. et al., 2015. Locally produced cereal/nut/legume-based biscuits versus peanut/milk-based spread for treatment of moderately to mildly wasted children in daily programmes on Nias Island,

Indonesia: An issue of acceptance and compliance? Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition, 24(1), pp.152–161.

Semba, R.D.B.M.W., 2008. Nutrition and Health in Developing Countries Second Edi., USA: Humana Press.

Soetjiningsih & Ranuh, G.I.N., 2014. Tumbuh Kembang Anak 2nd ed., Jakarta: EGC.

Sumedi, E. & Sandjaja, 2015. Asupan Zat Besi, Vitamin A dan Zink Anak Indonesia Umur 6-23 Bulan. Jurnal Penelitian Gizi dan Makanan, 38(2), pp.167–175.

Supariasa, I.D.N., Bakri, B. & Fajar, I., 2012. Penilaian Status Gizi, Jakarta: EGC.

Surkan, P.J. et al., 2014. Zinc and iron suplementation on motor and language milestone scores of infants and toddlers. Nutrion, 29(3), pp.542–548.

Tadesse, A., Hailu, D. & Bosha, T., 2018. Nutritional Status and

Associated Factors Among Pastoralist Children Aged 6-23 Months in Benna Tsemay. International Journal of Nutrition and Food Science, 7(1), pp.11–23.

Tashadella, I.F., 2017. Makanan Tambahan untuk Anak Usia 12-24 Bulan Ditinjau dari Sifat Fisik Organoleptik Kandungan Gizi dan Daya

Terima. Politeknik Kesehatan Yogyakarta.

Unicef, 2013. Position Paper READY-TO-USE THERAPEUTIC FOOD FOR. ready-to-use therapeutic foods (RUTF), (1), pp.1–4.

UNICEF, 2013. Improving child nutrition: The achievable imperative for global progress.,

Vazir, S. et al., 2013. Cluster-randomized Trial on Complementary and Responsive Feeding Education to Caregivers Found Improved Dietary Intake, Growth and Development among Rural Indian Toodlers.

Maternal and Child Nutrition, 9(1), pp.99–117.

Wahyuningsih, E. & Handayani, S., 2015. Pengaruh Pelatihan Pemberian Makan pada Bayi dan Anak terhadap Pengetahuan Kader di Wilayah Puskesmas Klaten Tengah Kabupaten Klaten. Motorik, 10(21), pp.55–

64.

Wahyuningsih, S. & Devi, M.I., 2017. Evaluasi Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Balita Gizi Kurang di Puskesmas Jakenan Kabupaten Pati. Cendekia Utama Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat, 6(2), pp.20–25.

Webster-Gandy, J., Madden, A. & Holdsworth, M., 2014. Gizi & Dietetika

2nd ed., Jakarta: EGC.

WHO, 2010. Interpretation Guide Nutrition Landscape Information System (NLIS). World Health Organization, pp.1–51.

WHO, 2017. World Health Statistic - Monitoring Health For The SDGs.

Widodo, S. et al., 2015. Perbaikan Status Gizi Anak Balita dengan

Intervensi Biskuit Berbasis Blondo, Ikan Gabus dan Beras Merah. Gizi Pangan, 10(2), pp.85–92.

Zaidah, U., 2014. Efektivitas Program Pemberian MP-ASI Lokal dan

Program Pemberian MP-ASI Pabrikan dalam Upaya Penanggulangan Kurang Gizi Balita Keluarga Miskin di Puskesmas Taliwang. Media Bina Ilmiah, 8(7), pp.19–23.

1. Tanggal wawancara / / 2018 (tanggal/bulan/tahun)

2. Kecamatan 1. Makassar

2. Ujung Tanah

SUBDISTR

[ ]

3. Kelurahan/Desa VILLAG

[ ] 4. Alamat lengkap Kampung________________________ RT____

RW_____

ADDR_COMP 5. No. telp yang dapat

dihubungi HP

6. Nomor urut Responden __ ____ NO_ID [ ]

A1. IDENTITAS SUBYEK

7. Nama kepala keluarga ………..

8. Usia kepala keluarga tahun [ ]

9. Hubungan kepala keluarga dengan anak 1.Ayah 2. Ibu

3. Kakek

77. Lainnya,sebutkan

[ ] 10. Nama pengasuh (nama respondent)

11. Hubungan pengasuh dengan anak 1. Ibu 77. Lainnya,sebutkan [ ]

12. Usia pengasuh tahun [ ]

13. Usia ibu (jika pengasuh bukanlah Ibu) tahun [ ] 14. Nama anak (yang terpilih dalam survei) ………..

15. Jenis kelamin anak 1. Laki-laki 2. Perempuan [ ]

16. Tanggal lahir anak / /20

(tanggal/bulan/tahun) A2 KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA DAN SUBYEK

1. Jenis keluarga 1. Keluarga Inti(ayah,ibu,anak)

2. Keluarga Besar/Tambahan [ ]

2. Jumlah total anggota rumah tangga orang [ ]

3. Tingkat pendidikan formal tertinggi a. Kepala rumah tangga [ ] 1. Tidaksekolah

2. Tidak lulusSD 3. Lulus SD/MI 4. Lulus SMP/MTS 5. Lulus SMA/MA

6. Lulusdiploma/S1 7. LulusS2/S3 66. Tidak relevan 88. Tidak tahu

b. Ayah dari anak (jika kepala rumah tangga

bukanlah si Ayah) [ ] c. Ibu dari anak [ ] d. Pengasuh (jika pengasuh bukanlah Ibu) [ ]

4. Jenis pekerjaan a. Kepala rumah tangga [ ]

1. PNS/ABRI/Polisi 2. Pegawaiswasta 3. Wirausaha,

sebutkan 4. Petani 5. Nelayan

6. Buruh 7. Ibu rumah

tangga 66. Tidak relevan 77.

Lainnya,sebutkan 88. Tidak tahu

b. Ayah dari anak (jika kepala rumah tangga

bukanlah Ayah) [ ] c. Ibu dari anak [ ] d. Pengasuh (jika pengasuh bukanlah Ibu) [ ]

5.

Apakah ….(Ayah/Ibu) Tinggal dalam rumah yang sama dengan balita?

1. Ya 2. Tidak

6.a. Ayah 6.b. Ibu

[ ] [ ]

B. SANITASI 1. Sumber utama

air minum rumah tangga

1. Air mineral bermerk 2. Air isi ulang

(tidakbermerk) 3. Airkran

4. Sumur tertutup

5. Sumur terbuka

6. Gerobak/tangki trukair 7. Sungai/danau

8. Air hujan

1.

[ ]

2. Jamban yang biasa digunakan dalam rumah tangga

1. Milik pribadi 2. Milik bersama 3. Milik umum

4. Sungai

5. Kebun/tempat terbuka 77. Lainnya, sebutkan

2.

[ ]

C. AKSES DAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN 1. Fasilitas pelayanan kesehatan yang

dikunjungi untuk mendapat pengobatan (dalam 1 tahun terakhir)

(dapat beberapa jawaban) 1. Ya

2. Tidak

1) Rumah sakit [ ]

2) Puskesmas [ ]

3) Klinik praktik bidan [ ] 4) Klinik praktik dokter [ ] 5) Polindes (Pondok bersalin desa) [ ] 2. Dari beberapa fasilitas pelayanan

kesehatan berikut, mana yang paling sering Anda kunjungi?

1) Rumah sakit 2) Puskesmas

3) Klinik praktik bidan 4) Klinik praktik dokter

5) Polindes (Pondok bersalin desa)

[ ]

3. Apa alasan UTAMA yang mendasari Anda ke fasilitas pelayanan kesehatan

tersebut?

1. Dekat (mudah diakses) 2. Pelayanan baik

3. Familiar

4. Rekomendasi teman/keluarga 5. Terjangkau

6. Lainnya

[ ]

4. Seberapa sering Anda datang ke Posyandu dalam 6 bulan terakhir?

1. >3 kali 2. 1-3 kali 3. Tidak pernah

[ ]

D. PROFIL KESEHATAN ANAK

1. Dalam DUA MINGGU terakhir (14 hari sebelum wawancara) dan hari ini apakah anak Ibu mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan?

Kode Gejala 0 tidak

1 ya E1.A Batuk

E1.B Pilek

E1.C Sakit tenggorokan

KESIMPULAN:

1. ISPA (minimal menunjukkan 2 gejala atau lebih) 2. Tidak ISPA

(menunjukkan hanya 1 gejala atau tidak ada gejala)

66. Tidak relevan (bila anak tidak sakit)

Berdasarkan KESIMPULAN

[ ]

2. * Dalam DUA MINGGU terakhir (14 hari sebelum wawancara) dan hari ini apakah anak Ibu

mengalami diare (mengeluarkan tinja encer sebanyak > 3x dalam sehari)?

1. Ya 2. Tidak 88. Tidak tahu

[ ]

3. * Dalam DUA MINGGU terakhir (14 hari sebelum wawancara) dan hari ini apakah anak Ibu

mengalami cacingan keluar cacing dari dubur atau bersama kotoran ?

1. Ya 2. Tidak 88 Tidak tahu

[ ]

E. PRAKTEK PEMBERIAN MAKAN ANAK

PERTANYAAN E3-E8 JAWABAN SESUAI USIA ANAK E1. Pada usia berapa (nama baduta)

pertama kali diberikan makanan lain selain ASI?

………bulan - Usia dibulatkan ke satuan BULAN

88.Tidak tahu 99. Tidak menjawab

[ ]

E2. Apa jenis makanan yang pertama kali Ibu berikan selain ASI?

Probe: Bagaimana

bentuknya?...

....

*cair, saring, lunak, padat

1. Bubur beras/sereal 2. Bubur buah /pisang 3. Jus buah

66. Tidak relevan (jika anak belum pernah diberi makanan, jika tidak ada lainnya)

77. Lainnya, sebutkan……….

[ ]

………

E3. Apakah makanan (nama baduta) dibedakan jenis makanannya makanan keluarga?

1. Ya (Makanan anak BERBEDA dengan makanan keluarga) 2. Tidak (Makanan anak SAMA

dengan makanan keluarga) 66. Tidak relevan (jika anak belum mendapat MP ASI)

88. Tidak tahu

[ ]

E4. Apakah makanan (nama baduta) dibedakan pengolahannya dengan makanan keluarga?

1. Ya (Makanan anak BERBEDA dengan makanan keluarga) 2. Tidak (Makanan anak SAMA

dengan makanan keluarga) 66. Tidak relevan (jika anak belum

mendapat MP ASI) 88. Tidak tahu

[ ]

E5. Apakah (nama baduta) sulit

menghabiskan makanan yang disiapkan Ibu?

1. Ya 2. Tidak

66. Tidak relevan (jika anak belum mendapat MP ASI)

[ ]

E6. Jika Ibu mempersiapkan makanan untuk satu hari (misalnya bubur, sayur, atau daging), bagaimana cara Ibu menyiapkan makanan tersebut pada saat akan memakan kembali?

1. Selalu dipanaskan dulu sebelum diberikan

2. Kadang kadang dipanaskan 3. Tidak pernah dipanaskan 4. Memasak untuk sekali makan

[ ]

E7. Apakah (nama baduta) minum sesuatu dari botol dot?

1. Ya

2. Tidak [ ]

E8. Kapan saja ibu biasanya mencuci tangan?

–jawaban boleh lebih dari satu

1. sebelum menyiapkan makanan anak

2. setelah buang air 3. sebelum makan 77. lainnya, …..

[ ]

F. Form Recall 24 jam

F1. Tolong diingat makanan dan minuman apa saja yang dikonsumi anak ibu hari kemarin selama 24 jam, sejak bangun hingga tidur. Disebutkan makanannya dulu ya, Bu

- tanyakan dulu jenis makanannya dari bangun hingga tidur, lakukan probing: masih ada lagi?

- Dibaca ulang semua jenis makanan yang telah disebutkan. Setelah selesai baru dilanjukan pada metode memasak, bahan dan ukurannya satu per satu

- Ukuran: ukuran makanan yang dihabiskan oleh anak

- Jika responden menyebutkan makanan campuran seperti BUBUR, TUMISAN, BAKSO, GADO-GADO, dll, probing:

Apa saja bahan makanan yang terdapat di dalam (nama makanan campuran) tersebut?, tulis bahan makanan dan metode memasak

- Setelah selesai, ulang kembali jenis makanan (baca ke bawah, lanjutkan ke samping untuk setiap makanan) HARI (KEMARIN) : ………. TANGGAL (KEMARIN) : ………./………/ ………

Waktu Menu Metode masak Bahan

Makanan

Ukuran

URT Berat

F2. Apakah makanan yang dimakan hari kemarin merupakan makanan yang biasa dikonsumsi?

1. Ya

2. Tidak [ ] F3. Jika tidak, apakah lebih banyak atau lebih kurang

dari biasaya?

1. Lebih banyak

2. Lebih kurang [ ] F4. Jika lebih kurang, Jenis asupan apa yang lebih

kurang? ……….

F5. Apakah anak anda mengkonsumsi suplemen ? (termasuk vitamin)

1. Tidak

2. Ya [ ] F6. Jika ya, sebutkan merknya

………

F7. Berapa sering anak anda mengkonsumsi suplemen?

1. Setiap hari 2. Seminggu

sekali 3. Seminggu 2

kali 77. Lainnya, _______

[ ]

KESIMPULAN 24 HOURS RECALL (TIDAK DITANYA-Diisi berdasarkan hasil 24 h recall) Frekuensi makan utama dalam sehari? F8: [ ] [ ] x sehari

Frekuensi snack dalam sehari? F9: [ ] [ ] x sehari

Jumlah makanan fortifikasi yang dikonsumsi? F10: [ ] [ ] Jumlah makanan dengan fortifikasi ZAT BESI yang dikonsumsi? F11: [ ] [ ]

FA. (TIDAK DITANYA) KESIMPULAN DARI 24 HOURS RECALL CHILD DIETARY DIVERSITY SCORE

No Grup Makanan Contoh Makanan (1) Ya (2) Tidak

FA1 Biji-bijian, akar-akaran, dan umbi-umbian dan olahannya

Jagung, nasi, beras, mie, biscuit, cookies, kentang, kentang putih, ubi, singkong, bubur nasi, bubur bayi (cerelac, promina, milna), roti yang terbuat dari gandum

[ ]

FA2 Kacang-kacangan dan olahannya

Makanan yang diolah dari kacang-kacangan (tempe, tahu), makanan yang terbuat dari kacang, polong, lentils, dan biji-bijian

[ ]

FA3 Produk susu dan olahannya

Susu, keju, yoghurt, dan olahan susu lainnya [ ] FA4 Daging, unggas, ikan,

kerang, seafood, organ dalam dan olahannya

Daging (sapi, ayam, bebek, burung dara, kambing), ikan, kerang, tutut (keong sungai), siput, makanan laut, hati, jantung, paru, ginjal, usus, dan jerohan lainnya.

(Termasuk yang segar, kering, atau diasinkan)

[ ]

FA5 Telur Telur ayam, bebek, puyuh [ ]

FA6 Buah dan sayuran sumber vitamin A

Waluh, wortel, labu, blewah, ubi manis, ketela kuning, buah-buahan berwarna jingga terang, sayur dan daun-daunan berwarna hijau tua

[ ]

Mangga, papaya, sawo, nanas, buah naga, tomat, pisang, melon, semangka, ubi ungu, belimbing (buah tinggi vitamin A) FA7 Buah-buahan dan

sayuran lainnya (Buah dan sayuran SELAIN yang disebutkan di No. 6)

Lobak, bunga kol, kol, labu siam, rambutan, melon, ketimun, nangka, durian, sawo, duku, kelengkeng, sawi putih

[ ]

FA8 Lihat Dietary Diversity Score:

Adakah salah satu dari kategori makanan dibawah ini yang dikonsumsi (nama anak baduta) ?

Sayuran berdaun hijau, Hati, ginjal, jantung, usus, dan jerohan lain Daging (sapi, kambing, babi, ayam, bebek, burung dara, dll)

(1) Ada (2) Tidak

[ ]

H. PENGETAHUAN PENGASUH TENTANG MAKANAN, GIZI, DAN KESEHATAN Kode: 0 = Jawaban responden berbeda dengan kunci jawaban

1 = Jawaban responden sama dengan kunci jawaban 88 = Tidak Tahu

99 = Tidak Jawab

B : Benar S: Salah TT: Tidak Tahu TJ: Tidak Jawab N

o Pernyataan

Jawaban Responden

Kunci KODE B S TT TJ

1 Bayi usia 6-9 bulan perlu makanan utama

sekurang-kurangnya 2 kali sehari selain menyusu S [ ] 2 Cara mencuci tangan yang benar adalah dengan

menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir B [ ] 3 Ibu yang anaknya sakit, menunggu sampai

anaknya sembuh baru memberikan makanan dengan tekstur padat kepada anak

S [ ] 4 Pada saat enam bulan, makanan pertama yang

dimakan bayi hendaknya memiliki tekstur seperti ASI sehingga bayi dapat menelan dengan mudah.

B [ ] 5 Anak yang mengonsumsi makanan yang beragam

sejak usia 6 bulan akan menyebabkan anak kurus S [ ] 6 Anak (usia 6-24 bulan) hendaknya tidak diberi

makanan hewani seperti telur dan daging S [ ]

7 ASI saja tidak cukup untuk memenuhi kecukupan

gizi anak usia diatas 6 bulan B [ ]

8 Tekstur makanan pendamping ASI bagi bayi berumur dibawah 12 bulan dapat dibuat seperti makanan dewasa

S [ ] 9 Mengonsumsi banyak sumber hewani (misalnya

daging, ikan, telur) dapat mencegah anemia B [ ]

10 Ayah mempunyai peranan penting dalam hal

bagaimana memberikan makan bayi dan anak B [ ]

A1. IDENTITAS SUBYEK

Nomor urut responden ………..

Alamat lengkap Kampung________________________

RT____ RW_____

ADDR_CO MP

D. PROFIL KESEHATAN ANAK

PERTANYAAN D1-D4 DITANYAKAN KEPADA IBU KANDUNG/PENGASUH D1. Dalam DUA MINGGU terakhir (14 hari sebelum

wawancara) dan hari ini apakah anak Ibu mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan?

Kode Gejala 0 tidak

1 ya E1.A Batuk

E1.B Pilek

E1.C Sakit tenggorokan

KESIMPULAN:

3. ISPA (minimal menunjukkan 2 gejala atau lebih) 4. Tidak ISPA

(menunjukkan 1hanya 1 gejala atau tidak ada gejala)

66. Tidak relevan (bila anak tidak sakit)

Berdasarkan KESIMPULAN

[ ]

D2. * Dalam DUA MINGGU terakhir (14 hari sebelum wawancara) dan hari ini apakah anak Ibu

mengalami diare (mengeluarkan tinja encer sebanyak > 3x dalam sehari)?

1. Ya 2. Tidak 88. Tidak tahu

[ ]

D3. * Dalam DUA MINGGU terakhir (14 hari sebelum wawancara) dan hari ini apakah anak Ibu

mengalami cacingan keluar cacing dari dubur atau bersama kotoran ?

3. Ya 4. Tidak 88 Tidak tahu

[ ]

I. PERSEPSI IBU TENTANG PMT

1 2 3 4 5

Beri skor sesuai emoji diatas

1. Setelah memakan PMT selama 1 bulan, apakah anak ibu suka dengan rasa PMT yang diberikan ?

I1_med1 [ ]

Dokumen terkait