Pada perobaan fitokimia ini bertujuan untuk memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang dikerjakan, memilih bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang dikerjakan, mengidentifikasi komponen kimia tumbuhan dari kelompok terpenoid, steroid, fenolik (antrakuinon, tannin, dan fenol), flavonoid, dan alkaloid yang terkandung dalam ekstrak rimpang kunyit putih dan daun kelor. Hal yang dilakukan adalah :
1. Persiapan ekstrak metanol pada kunyit putih dan daun kelor
Pada percobaan pertama yaitu menyiapkan bahan yaitu rimpang kunyit putih dan daun kelor. Pada percobaan ini bertujuan untuk menghasilkan ekstrak metanol pada rimpang kunyit putih dan daun kelor.
a. Ekstrak metanol pada kunyit putih
Hal yang harus dilakukan yaitu rimpang kunyit putih yang berwarna coklat muda dibersihkan dari kulit dan kotoran yang menempel pada rimpang kunyit putih. Tujuannya yaitu agar dihasilkan sampel yang benar-benar bersih dan tidak
VIII. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada perobaan fitokimia ini bertujuan untuk memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang dikerjakan, memilih bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan yang dikerjakan, mengidentifikasi komponen kimia tumbuhan dari kelompok terpenoid, steroid, fenolik (antrakuinon, tannin, dan fenol), flavonoid, dan alkaloid yang terkandung dalam ekstrak rimpang kunyit putih dan daun kelor. Hal yang dilakukan adalah :
1. Persiapan ekstrak metanol pada kunyit putih dan daun kelor
Pada percobaan pertama yaitu menyiapkan bahan yaitu rimpang kunyit putih dan daun kelor. Pada percobaan ini bertujuan untuk menghasilkan ekstrak metanol pada rimpang kunyit putih dan daun kelor.
a. Ekstrak metanol pada kunyit putih
Hal yang harus dilakukan yaitu rimpang kunyit putih yang berwarna coklat muda dibersihkan dari kulit dan kotoran yang menempel pada rimpang kunyit putih. Tujuannya yaitu agar dihasilkan sampel yang benar-benar bersih dan tidak
tercampur dengan zat pengotor lain. lalu dipotong kecil-kecil dan dikeringkan dibawah sinar matahari. Tujuannya yaitu agar sampel yang dikeringkan dibawah sinar matahari dihasilkan sampel yang bagus, karena jika di oven akan dapat menimbulkan sampel rusak jika oven terlalu panas, sehingga tidak dapat dilakukan uji fitokimia. Kemudian di haluskan menggunakan blender hingga halus, sehingga dihasilkan sampel serbuk kunyit putih berwarna coklat muda.
Selanjutnya menimbang serbuk kunyit putih sebanyak 5 gram menggunakan neraca ohaus. Setelah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia 100 mL. Lalu serbuk yang berada dalam gelas kimia di ekstraksi dengan cara merendam larutan etanol 60-80% tidak berwarna sebanyak 30 mL. Fungsi penambahan metanol yaitu metanol mempunyai ukuran molekul yang kecil sehingga dapat menembus organel sel tempat terdapatnya senyawa metabolit sekunder pada kunyit putih. Metanol merupakan pelarut universal yang memiliki gugus polar (-OH) dan gugus nonpolar (-CH3) sehingga dapat menarik analit-analit yang bersifat polar dan nonpolar, sehingga semua kandungan kimia yang terdapat di dalam kunyit putih akan tertarik oleh metanol. Metanol dapat menarik alkaloid, steroid, saponin, dan flavonoid dari tanaman. Ketika serbuk kunyit putih ditambahkan dengan metanol hasilnya larutan berwarna kining kecoklatan.
Kemudian dipanaskan selama ± 1 menit. Fungsi pemanasan adalah untuk mempercepat jalannya reaksi antara serbuk kunyit putih yang direndam di dalam metanol. Lalu larutan yang sudah dipanaskan selama ± 1 menit disaring menggunakan corong dan kertas saring. Sehingga dihasilkan filtrat berwarna coklat muda dan residu berwarna coklat. Kemudian filtrat yang berwarna coklat muda dipekatkan dengan cara diuapkan diatas penangas air. Fungsinya yaitu untuk memperlambat proses pengendapan, sehingga filtrat yang dihasilkan akan stabil. Ketika filtrat sudah mengental berwarna kuning kecoklatan, maka filtrat dari rimpang kunyit putih tersebut sudah dapat digunakan untuk uji fitokimia.
Persamaan reaksinya:
b. Ekstrak metanol pada daun kelor
Hal yang harus dilakukan yaitu daun kelor yang berwarna hijau tua dibersihkan dari tangkainya. Tujuannya yaitu agar dihasilkan sampel yang benar- benar bersih. lalu dikeringkan dibawah sinar matahari. Tujuannya yaitu agar sampel yang dikeringkan dibawah sinar matahari dihasilkan sampel yang bagus, karena jika di oven akan dapat menimbulkan sampel rusak jika ovennya terlalu panas, sehingga tidak dapat dilakukan uji fitokimia. Kemudian di haluskan menggunakan blender hingga halus, sehingga dihasilkan sampel serbuk daun berwarna hijau tua.
Selanjutnya menimbang serbuk daun kelor sebanyak 5 gram menggunakan neraca ohaus. Setelah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia 100 mL. Lalu serbuk yang berada dalam gelas kimia di ekstraksi dengan cara merendam larutan etanol 60-80% tidak berwarna sebanyak 30 mL. Fungsi penambahan metanol yaitu metanol mempunyai ukuran molekul yang kecil sehingga dapat menembus organel sel tempat terdapatnya senyawa metabolit sekunder pada daun kelor. Metanol merupakan pelarut universal yang memiliki gugus polar (-OH) dan gugus nonpolar (-CH3) sehingga dapat menarik analit-analit yang bersifat polar dan nonpolar, sehingga semua kandungan kimia yang terdapat di dalam daun kelor akan tertarik oleh metanol. Metanol dapat menarik alkaloid, steroid, saponin, dan flavonoid dari tanaman. Ketika serbuk daun kelor ditambahkan dengan metanol hasilnya larutan berwarna hijau tua. Kemudian dipanaskan selama ± 1 menit. Fungsi pemanasan adalah untuk mempercepat jalannya reaksi antara serbuk daun kelor yang direndam di dalam metanol. Lalu larutan yang sudah dipanaskan selama ± 1 menit disaring menggunakan corong dan kertas saring. Sehingga dihasilkan filtrat berwarna coklat muda dan residu berwarna coklat. Kemudian filtrat yang berwarna coklat muda dipekatkan dengan cara diuapkan diatas penangas air. Fungsinya yaitu untuk memperlambat proses pengendapan, sehingga filtrat yang dihasilkan akan stabil. Ketika filtrat sudah mengental berwarna kuning kecoklatan, maka filtrat dari rimpang kunyit putih tersebut sudah dapat digunakan untuk uji fitokimia.
2. Identifikasi Alkaloid dengan Metode Culvenor Fitzgerald
Pada percobaan identifikasi alkaloid dengan metode Colvenor-Fitzgerald ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya kandungan alkaloid dalam rimpang kunyit putih dan daun kelor. Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak yang ditemukan di alam. Senyawa ini biasanya ditemukan pada daun-daunan yang memiliki rasa pahit. Hampir semua alkaloid yang ditemukan di alam mempunyai keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada juga yang sangat berguna dalam pengobatan, misalnya kuinin, morfin, dan stiknin adalah alkaloida
yang terkenal dan mempunyai efek fisiologis serta psikologis.
Fungsi senyawa alkaloid bagi tumbuhan adalah sebagai zat racun untuk melawan serangga atau hewan pemakan tanaman dan sebagai faktor pengaruh pertumbuhan. Identifikasi alkaloid ini dilakukan dengan menggunakan metode Colvenor-Fitzgerald yaitu dengan menggunakan reagen meyer, reagen wagner, dan reagen dragendorff, reagen-reagen tersebut berfungsi untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa metabolit sekunder. Hal yang dilakukan adalah :
a. Identifikasi Alkaloid pada rimpang kunyit putih dengan metode culvenor fitzgerald. Hal yang harus dilakukan yaitu menimbang sampel kunyit putih yang berwarna kuning kecoklatan sebanyak ± 1 mL dengan menggunakan neraca ohaus. Kemudian ditambahkan dengan 1 mL kloroform tidak berwarna larutan menjadi berwarna jingga kekuningan dan larutan memisah. Lalu ditambahkan 1 mL larutan ammonia tidak berwarna larutan terbentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna kuning sedangkan larutan bawah berwarna jingga tua. Fungsi penambahan kloroform dan ammonia yaitu, pada kloroform bertujuan untuk mengambil atau melarutkan senyawa yang ada di dalam daun tersebut dan kemudian diekstraksi dengan kloroform amoniakal. Proses ekstraksi dengan kloroform amoniakal ini bertujuan untuk memutuskan ikatan antara asam tanin dan alkaloid yang terikat secara ionik dimana atom N dari alkaloid berikatan silang stabil dengan gugus hidroksifenolik dari asam tanin tersebut. Dengan terputusnya ikatan tersebut alkaloid akan bebas sedangkan asam tanin akan terikat pada kloroform amoniakal. kemudian dipanaskan diatas penangas, fungsinya pemanasan yaitu untuk mempercepat reaksi. Kemudian di saring menggunakan kertas saring, tujuannya untuk menyaring antara filtrat dan residu. Dihasilkan filtrat berwarna kuning muda dan residu berwarna coklat muda. Kemudian filtrat yang berwarna kuning muda didistribusikan kedalam 3 tabung reaksi yang telah diberi label I, II, dan III.
Pada tabung pertama ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3 tetes, sehingga larutan menjadi kuning kecoklatan. Penambahan asam sulfat 2 N ini mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar. Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar. Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna. Lalu dikocok dan didiamkan beberapa menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi meyer tidak berwarna sehingga larutan menjadi endapan jingga dan larutan jingga. Fungsi penambahan pereaksi meyer yaitu untuk mendeteksi alkaloid, dimana pereaksi ini akan berikatan dengan alkaloid melalui ikatan koordinasi antara atom N alkaloid dengan Hg pereaksi meyer sehingga menghasilkan senyawa kompleks merkuri yang non polar
yang mengendap berwarna putih kekuningan. Persamaan reaksinya:
Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam rimpang kunyit putih pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Alkaloid Reagen Mayer Larutan berwarna merah kecoklat an + Reagen Wagner Larutan berwarna merah + 4 KI + HgCl2→HgI2 + 2KCl
kecoklat an dan terbentuk endapan coklat Reagen Dragendo orff Larutan berwarna merah kecoklat an +
Pada tabung kedua ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3 tetes, sehingga larutan menjadi kuning kecoklatan. Fungsi penambahan H2SO4yaitu untuk Penambahan asam sulfat 2 N ini mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar. Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar. Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna. Lalu dikocok dan didiamkan beberapa menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi wagner berwarna jingga sehingga larutan menjadi merah kecoklatan. Fungsi penambahan pereaksi wagner yaitu untuk mendeteksi alkaloid dengan ditandai terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning. Diperkirakan endapan tersebut adalah kalium-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Wagner, iodin bereaksi dengan ion I- dari kalium iodide menghasilkan ion I3- yang berwarna coklat. Pada uji Wagner, ion logam K+ akan membentuk ikatan kovalen koordinat dengan nitrogen pada alkaloid membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap berwarna
coklat.
Persamaan reaksinya: I2 + I- → I3
-Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam rimpang kunyit putih pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Alkaloid Reagen Mayer Larutan berwarna merah kecoklat an + Reagen Wagner Larutan berwarna merah kecoklat an dan terbentuk endapan coklat + Reagen Dragendo orff Larutan berwarna merah kecoklat an +
Pada tabung ketiga ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3 tetes, sehingga larutan menjadi kuning kecoklatan. Penambahan asam sulfat 2 N ini mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar. Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar. Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna. Lalu dikocok dan didiamkan beberapa menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi dragendrof berwarna jingga
(++) sehingga larutan menjadi berwarna jingga. pada uji Dragendorff ditandai dengan terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning. Endapan tersebut adalah kalium-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Dragendorff, bismut nitrat dilarutkan dalam HCl agar tidak terjadi reaksi hidrolisis karena garam-garam bismut mudah terhidrolisis membentuk ion bismutil (BiO+). Agar ion Bi3+ tetap berada dalam larutan, maka larutan itu ditambah asam sehingga kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri. Selanjutnya ion Bi3+ dari bismut nitrat bereaksi dengan kalium iodide membentuk endapan hitam Bismut(III) iodida yang kemudian melarut dalam kalium iodida berlebih membentuk kalium tetraiodobismutat. Pada uji alkaloid dengan pereaksi Dragendorff, nitrogen digunakan untuk membentuk ikatan kovalen
koordinat dengan K+ yang merupakan ion logam. Persamaan reaksinya:
Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam rimpang kunyit putih pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Alkaloid Reagen Mayer Larutan berwarna merah kecoklat an + Reagen Wagner Larutan berwarna merah kecoklat an dan terbentuk endapan coklat +
Reagen Dragendo orff Larutan berwarna merah kecoklat an +
b. Identifikasi Alkaloid pada rimpang daun kelor dengan metode culvenor fitzgerald. Hal yang harus dilakukan yaitu menimbang sampel daun kelor yang berwarna hijau tua sebanyak± 1 mL dengan menggunakan neraca ohaus. Kemudian ditambahkan dengan 1 mL kloroform tidak berwarna larutan menjadi berwarna hijau. Lalu ditambahkan 1 mL larutan ammonia tidak berwarna larutan terbentuk 2 lapisan, lapisan atas berwarna kuning sedangkan larutan bawah berwarna hijau. Fungsi penambahan kloroform dan ammonia yaitu, pada kloroform bertujuan untuk mengambil atau melarutkan senyawa yang ada di dalam daun tersebut dan kemudian diekstraksi dengan kloroform amoniakal. Proses ekstraksi dengan kloroform amoniakal ini bertujuan untuk memutuskan ikatan antara asam tanin dan alkaloid yang terikat secara ionik dimana atom N dari alkaloid berikatan silang stabil dengan gugus hidroksifenolik dari asam tanin tersebut. Dengan terputusnya ikatan tersebut alkaloid akan bebas sedangkan asam tanin akan terikat pada kloroform amoniakal. Kemudian dipanaskan diatas penangas, fungsinya pemanasan yaitu untuk mempercepat reaksi. Kemudian di saring menggunakan kertas saring, tujuannya untuk menyaring antara filtrat dan residu. Dihasilkan filtrat berwarna hijau dan residu berwarna hijau tua. Kemudian filtrat yang berwarna hijau didistribusikan kedalam 3 tabung reaksi yang telah diberi label I, II, dan III.
Pada tabung pertama ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3 tetes, sehingga larutan menjadi Hijau kehitaman. Penambahan asam sulfat 2 N ini mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar. Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar. Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna. Lalu dikocok dan didiamkan beberapa menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua
diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi meyer tidak berwarna sehingga larutan menjadi kuning jernih. Fungsi penambahan pereaksi meyer yaitu untuk mendeteksi alkaloid, dimana pereaksi ini akan berikatan dengan alkaloid melalui ikatan koordinasi antara atom N alkaloid dengan Hg pereaksi meyer sehingga menghasilkan senyawa kompleks merkuri yang non polar yang mengendap berwarna putih kekuningan.
Persamaan reaksinya
Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam daun kelor pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Alkaloid Reagen Mayer Larutan berwarna merah kecoklatan -Reagen Wagner Larutan berwarna merah kecoklatan dan terbentuk endapan coklat + Reagen Dragendoorff Larutan berwarna merah kecoklatan
-Pada tabung kedua ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3 tetes, sehingga larutan menjadi Hijau kehitaman. Penambahan asam sulfat 2 N ini mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat
kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar. Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar. Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna. Lalu dikocok dan didiamkan beberapa menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi meyer tidak berwarna sehingga larutan menjadi merah kecoklatan Fungsi penambahan pereaksi wagner yaitu untuk mendeteksi alkaloid dengan ditandai terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning. Diperkirakan endapan tersebut adalah kalium-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Wagner, iodin bereaksi dengan ion I- dari kalium iodide menghasilkan ion I3- yang berwarna coklat. Pada uji Wagner, ion logam K + akan membentuk ikatan kovalen koordinat dengan nitrogen pada alkaloid membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap berwarna coklat.
Persamaan reaksinya: I2 + I- → I3
-Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam daun kelor pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Alkaloid Reagen Mayer Larutan berwarna merah kecoklatan -Reagen Wagner Larutan berwarna merah kecoklatan dan terbentuk endapan coklat +
Reagen Dragendoorff Larutan berwarna merah kecoklatan
-Pada tabung ketiga ditambahkan 3 tetes H2SO4 2 N tidak berwarna sebanyak 3 tetes, sehingga larutan menjadi Hijau kehitaman. Penambahan asam sulfat 2 N ini mengakibatkan larutan terbentuk menjadi 2 fase karena adanya perbedaan tingkat kepolaran antara fase aquades yang polar dan kloroform yang relatif kurang polar. Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas (fasa aquades), sedangkan lapisan kloroform berada pada lapisan bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar. Proses pengadukan disini dimaksudkan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara cepat dan sempurna.. lalu dikocok dan didiamkan beberapa menit hingga larutan terpisah menjadi 2 bagian. Setelah terpisah menjadi dua diambil larutan bagian atas untuk diuji dengan pereaksi meyer tidak berwarna sehingga larutan menjadi larutan jingga. pada uji Dragendorff ditandai dengan terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning. Endapan tersebut adalah kalium-alkaloid. Pada pembuatan pereaksi Dragendorff, bismut nitrat dilarutkan dalam HCl agar tidak terjadi reaksi hidrolisis karena garam-garam bismut mudah terhidrolisis membentuk ion bismutil (BiO+). Agar ion Bi3+ tetap berada dalam larutan, maka larutan itu ditambah asam sehingga kesetimbangan akan bergeser ke arah kiri. Selanjutnya ion Bi3+ dari bismut nitrat bereaksi dengan kalium iodide membentuk endapan hitam Bismut(III) iodida yang kemudian melarut dalam kalium iodida berlebih membentuk kalium tetraiodobismutat. Pada uji alkaloid dengan pereaksi Dragendorff, nitrogen digunakan untuk membentuk ikatan kovalen koordinat dengan K+ yang merupakan ion logam.
Tabel hasil perbandingan (+) dan (-) dari Alkaloid yang terkandung dalam daun kelor pada percobaan kami
Pengujian Pereaksi Hasil kesimpulan
Alkaloid Reagen Mayer Larutan berwarna merah kecoklatan -Reagen Wagner Larutan berwarna merah kecoklatan dan terbentuk endapan coklat + Reagen Dragendoorff Larutan berwarna merah kecoklatan -3. Identifikasi Flavonoid a. Sampel Kunyit Putih
Pada percobaan ketiga ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen kimia yaitu flavonoid yang terkandung pada sampel. Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru, dan kuning yang ditemukan banyak dalam tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran, serta jarang sekali dijumpai berupa senyawa tunggal. Misalnya antosianin dalam mahkota bunga yang berwarna merah, hampir selalu ditemukan mengandung senywa flavon atau flavonol yang tak berwarna (Tim Kimia Organik, 2017 : 43).
Langkah pertama yang dilakukan yaitu memasukkan sampel sebanyak ± 1 mL ke dalam tabung reaksi. Sampel kunyit putih berwarna kuning kecoklatan. Kemudian sampel tersebut ditambahkan 3 mL etanol 70%. Penambahan etanol ini berfungsi untuk mengekstrak senyawa tertentu yang ada dalam sampel misalnya senyawa flavonoid. Setelah ditambahkan etanol larutan sampel menjadi lebih jernih karena lebih encer dari yang sebelumnya. Setelah itu campuran dikocok dan dipanaskan di atas penangas. Setelah dipanaskan, campuran larutan dikocok untuk mempercepat larutan menjadi homogen dan kemudian disaring.
Setelah proses penyaringan diperoleh filtrat dan residu. Filtrat yang diperoleh ditambahkan dengan 0,1 gram Mg yang berupa serbuk putih. Setelah ditambahkan Mg, Mg tidak dapat larut dan mengendap pada dasar tabung. Kemudian ditambahkan 2 tetes HCl yang tidak berwarna. Setelah ditambahkan HCl pekat, timbul gelembung-gelembung pada campuran larutan. Penambahan HCl berfungsi untuk melarutkan logam Mg, sehingga dalam larutan tersebut terbentuk senyawa MgCl2 dan gas H2 dengan reaksi sebagai berikut.
Mg (s) + 2HCl (aq) → MgCl2 (aq) + H2(g)
Senyawa MgCl2 dan gas H2 inilah yang nantinya akan bereaksi dengan flavonoid yang terkandung dalam sampel kunyit putih (jika ada) menghasilkan senyawa kompleks dengan Mg yang ditunjukkan dengan terbentuknya warna kuning pekat pada lapisan etanol. Fungsi penambahan Mg dan HCl pekat yaitu untuk mereduksi inti benzopiron yang terdapat pada struktur flavonoid sehingga dapat berikatan dengan Mg. Hal ini menunjukkan bahwa sampel kunyit putih positif mengandung senyawa flavonoid. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.
+ 2H2→ + 5H+
- b. Sampel Daun Kelor
Pada percobaan ketiga ini bertujuan untuk mengidentifikasi komponen kimia yaitu flavonoid yang terkandung pada sampel daun kelor. Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam.