• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen Wahyu Widodo S111008019 (Halaman 68-130)

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Data

4. 1.1 Kekhasan Bahasa Mantra Kidung Jawa

Kekhasan disini mengacu pada pengertian bahwa bahasa yang digunakan dalam mantra kidung Jawa berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahasa mantra tergolong sebagai bahasa ritual (ritua l la ngua ge) dikatakan seperti itu karena teks mantra digunakan dan dibacakan untuk tujuan-tujuan yang bersifat religio-magis. Berkaitan dengan tujuan itu, ia (teks mantra) diyakini dapat mengoneksikan pada kekuatan adikodrati. Dengan kata lain, teks mantra yang lingual dapat menghubungkan pada sesuatu yang transendental (from lingua l to trancendenta l). Konstruksi teks mantra yang didalamnya ada kekhasan lingual dapat ditelisik dari konstruksi pembentuknya, yaitu kata.

Kata memegang peranan penting dalam mantra, karena sebagai teks ritual ia merepresentasikan dirinya melalui kata. Suasana magis dan sakral akan hadir melalui pilihan kata yang digunakan. Ciri khas diksi mantra itu dimaksudkan untuk dapat membangkitkan suasana sakral atau efek magis. Suasana sakral dan efek magis yang dimaksudkan adalah bahwa mantra menunjuk kepada dunia di luar batas-batas kemampuan wajar manusia, dunia diluar kekuasaan hukum alam, alam gaib, sebagai pengaruh dari kekuatan sakral (Soedjijono,1985:26). Kata yang dihadirkan dan disusun dalam mantra tidak sebagaimana bahasa sehari-hari yang mudah dipahami. Kata yang tersusun dalam mantra kidung Jawa pada KPAA

commit to user 4.1.1.1Kata Tak Bermakna

Sebagaimana dipaparkan oleh Soedjijono, dkk (1985:25) bahwa mantra diucapkan dengan menggunakan bahasa yang kadang-kadang tidak dipahami maknanya (misalnya karena menggunakan kata-kata asing atau kuno) justru disitulah terletak terciptanya suasana gaib dan keramat. Selain itu, mantra tidak wajib dimengerti bahasa dan kalimatnya. Di dalam mantra terkandung banyak kias atau simbolik dari unsur-unsur kepercayaan yang dianggap berisi tenaga magis (Soedjijono, dkk, 1985:26).

Informasi yang sama datang dari Hefner sewaktu meneliti komunitas Hindu Jawa di Tengger, Gunung Bromo, Jawa Timur ia mengatakan bahwa kata dalam ritual diyakini memiliki daya yang ampuh meskipun kata tersebut tidak dimengerti maknanya secara langsung ‘ritua l words a re a ccorded power by the faithful even when they a re not, in any propositiona l sense, directly a ccessible or

intelligible’ (1985:212). Meskipun mereka tidak mengerti makna dalam bahasa ritual, mengapa keampuhan kata yang diproduksi tetap bekerja (manjur) ? Berkaitan dengan hal pertanyaan tersebut, Hefner menjelaskan bahwa kemanjuran doa ritual di Tengger tergantung pada aktor (pembaca mantra), situasi, partisipan ritual dan relasi-relasi yang terkait dengan pagelaran ritual. Berikut kutipan lengkap pernyataannya

the power of ritua l la nguage, in other words, ma y at times be more directly dependent upon the said of ritua l speech, and other times not. To determine when and why this is so, we ha ve to exa mine the socia l context in which ritua l speech functions, and not content ourselves with the forma l a na lysis of ritua l texts (1985:212-213).

Keeler (1987:137-138) mengatakan words, a s in ra pa l, that a re lea rned a nd pronounced secretly a nd that a re (at surfa ce level) mea ningless, confusing, or

pronounced in reverse order convey less immediate sense but more immediate

effect then every da y la ngua ge. ‘kata, dalam mantra, yang dipelajari dan diucapkan secara diam-diam (pada tingkat permukaan) tidak memiliki makna, membingungkan, atau diucapkan dalam urutan yang terbalik, menyampaikan makna kurang langsung, tetapi meskipun demikian keampuhanya melebihi bahasa sehari-hari’. Headley (2004:337) sewaktu meneliti mantra Durga juga menemukan hal yang serupa yaitu penggunaan kata arkaik (kata kuno) dan kata yang khusus digunakan dalam prosesi ritual, bahkan ada kata yang tidak memiliki makna.

Apa yang dipaparkan oleh Soedjijono, dkk (1985), Hefner (1985), Keeler (1987), dan Headley (2004) memperteguh bahwa salah satu ciri bahasa ritual adalah opaqueness of meaning’ kekaburan arti’ (Keane, 2000:53). Ihwal ketakbermaknaan kata ini muncul dalam mantra kidung Jawa dalam KPAA. Ketiadaan makna dalam hal ini mempunyai maksud bahwa makna yang terdapat dalam kata tersebut tidak terpahami oleh skemata sosial masyarakat penuturnya. Misalnya (1) a pa n wikuning wiku wikan liring pujasa madi, apabila penutur mengerti dan memahami bahasa sanskerta kuno data (1) secara leksikal ia memiliki makna, yaitu kata wika n yang berarti ‘paham’, liring berarti ‘seperti’,

puja sa ma di ‘beribadah’. Dalam hal ini, ketiadaan makna dalam kata mantra kidung terkait juga dengan skemata sosial penuturnya. Jadi, ketiadaan makna

commit to user

Penyebab kata takbermakna tersebut karena ia termasuk kata arkaik (kata purba) yang tidak terpahami lagi oleh penutur masyarakat modern. Kepurbaan (a rchaicness) dan keanehan kata dalam mantra biasanya berupa deretan bunyi yang takbermakna (nonsensica l words) (Taslim, 2007:202).

Kata-kata tak bermakna dalam mantra ini hadir untuk memberikan penekanan pada bunyi yang dihadirkan oleh kata tersebut, bukan pada makna leksikalnya. Hal ini ditemukan dalam contoh kidung wa ra wedha (KW) pada bait II baris 10,14, bait III baris 17, 21, dan bait IV baris 24

(1) (a) kulahu marang bali kul ‘...’ (b) kulhu balik bolak balik ‘...’ (c) kulahu barang bali ‘...’ (d) kulahu barang bali kun ‘...’

Pada contoh di atas penekanannya pada penggunaan kata kulla hu. Bila dipisah ia terdiri atas dua bunyi yaitu kul dan hu, keduanya secara leksikal tidak mempunyai makna.

Ada dua bentuk bunyi “kulhu’ dan “kulla hu” yang diulang-ulang dalam

kidung wa ra wedha. Secara leksikal tidak memiliki makna, tetapi penekananya pada bunyi ‘kul’ dan bunyi ‘hu’. Bila dua bunyi tersebut dilantunkan dengan terus-menerus akan menghadirkan suasana batin tertentu yang mengantarkan pada suasana magis dan tra nce.

Repetisi dengan pembalikan bunyi atau penyisipan bunyi yang mirip dengan pasangan minimal (minima l pairs) terjadi pada kata ma ra ng (2) dan

terjadi penambahan fonem konsonan /k/ untuk membentuk variasi bunyi, tetapi tidak mengubah makna. Bentuk reduplikasi bunyi terjadi pada kata bola k dan

ba lik (3) dengan pergantian fonem vokal /o/ dan /a/ pada kata [bolak] dan fonem vokal /a/ dan /i/ pada kata kata [balik]. Kedua kata tersebut dirangkai menjadi [bolak]-[balik] sebagai bentuk reduplikasi berubah bunyi. Ia mempunyai peran semantis intensifikasi (menyangatkan) atau kontinuatif (keberlanjutan). Fenomena ini oleh Sudaryanto (1991:39) disebut reduplikasi bervariasi bunyi. Bunyi-bunyi tersebut memiliki pengaruh emotive-expressive yang sangat kuat bagi pembaca atau memiliki kemampuan menghasilkan efek emosional tertentu terhadap pendengar mantra, ihwal ini Sudaryanto (1994:52) menyebut dengan kata emotif atau efektif yaitu ada hubungan antara bunyi dan keadaan emosi dari referen sebuah kata.

Bentuk-bentuk pada contoh di atas menekankan pada hadirnya bunyi- bunyi tertentu yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tetapi mempunyai daya. Hal penting yang perlu ditekankan menghadirkan makna memang terjadi pada mantra kidung, tetapi ketiadaan makna juga menjadi ciri penting dalam mantra.

Tidak hanya penggunaan kata takbermakna yang menjadi elemen kekhasan dari aspek bahasa, tetapi juga penghadiran atau penyebutan nama-nama tokoh mitologi mitis yang tidak dikenal dalam khazanah Jawa. Dengan kata lain, apabila nama-nama tokoh tersebut ditelusur dalam khazanah keilmuan Jawa ia tidak ditemukan referensinya atau tidak tergolong tokoh historis. Sebagai contoh

commit to user

subaningsih, (6) ki tarulata, (7) ki mangutara, (8) ki reksajiwa, (9) ki balesupi, (10) mbok nirbiyah. Penyebutan nama tokoh mitologi mitis yang tidak ditemukan jejak rekamnya dalam khazanah Jawa mempunyai maksud bahwa tokoh mitologi mitis tersebut menghubungkan pada konsep alam pikiran tertentu yang membawa efek magis bagi pengamal mantra. Selain itu, Margana (2004:31) menambahkan informasi bahwa kekhasan sastra Jawa yang bersifat religio-magis [termasuk mantra yang bersumber dari primbon] adanya unsur memasukkan tokoh-tokoh imajinatif yang tidak dikenal dalam sejarah dan elemen-elemen mistis dari dongeng atau legenda rakyat setempat.

4.1.1.2Kata Tabu

Kekhasan bahasa mantra tidak hanya mengandung kata-kata tertentu yang tidak dapat dipahami maknanya. Kata-kata yang dipakai di dalam mantra kadang- kadang aneh bunyinya, atau merupakan permainan bunyi belaka. Tidak jarang ada mantra yang menggunakan kata-kata tabu, seperti menyebut alat vital manusia (Soedjijono, 1985:26). Kata-kata tabu dalam mantra pada KPAA ditemukan dalam mantra Kidung Ajiwedha. Kata-kata tabu tersebut adalah penyebutan alat vital (sexua l orga n atau excretory organ) manusia secara langsung. Kata-kata tabu tersebut sebagai berikut.

Tabel 6. Kata Tabu dalam Mantra Kidung Jawa No Kata-Kata Tabu Terjemahan

1 bokong pantat

2 ebol dubur

3 tinja veses

4 entut kentut

5 uyuh air kencing

6 dhakar alat vital laki-laki

7 jembut rambut kelamin

8 gantangan penis

9 walakang selangkang

Penggunaan kata tabu terbagi dalam dua kategori pertama mempunyai penghalusan (eufemisme) seperti kata (3) tinja, (6) dha ka r, (8) ga nta nga n dan (9)

wa la ka ng, kedua tanpa penghalusan atau langsung seperti kata (1) bokong, (2)

ebol, (5) uyuh, dan (7) jembut. Kata tabu hanya terdapat dalam Kidung Ajiwedha.

Kata tabu tersebut digunakan untuk menyebutkan keseluruhan anggota tubuh dari bagian yang paling atas (kepala) sampai dengan telapak kaki. Anggota tubuh manusia disamakan dengan besi dan berbagai bentuk material besi dalam khazanah Jawa, kata tabu yang muncul tersebut sewaktu menyebutkan bagian organ seksual yang disamakan dengan besi (material padat), misalnya, jembut

ka wa t gantanganku wesi menta h ‘rambut kemaluanku (seperti) besi kawat, kemaluan(penis)-ku besi mentah’. Kata tabu muncul bukan dilandasi keseronokan atau ketidaksopanan, tetapi lebih pada penuntasan pendeskripsian dari anggota tubuh yang sejelas-jelasnya.

Selain penjelasan di atas, pertimbangan berikutnya ialah bahwa penyebutan anggota tubuh, yang di dalamnya termasuk seksual organ (genital),

commit to user

magis secara aspek kultural. Maka, bagian tersebut diekspresikan atau disebutkan karena unsur daya magisnya. Dalam hal ini penekananya bukan pada simbol (word), tetapi lebih pada referennya (objek tubuh).

4.1.1.3Penjajaran Kata bahasa Arab dan Jawa

Penjajaran kata bahasa Arab dan Jawa mempunyai arti bahwa kata bahasa arab digunakan secara sejajar dengan bahasa Jawa atau menyandingkan kata bahasa Arab dan bahasa Jawa dalam satu kalimat dalam mantra. Penjajaran bahasa Arab dan bahasa Jawa, dengan kata lain bisa dikatakan sebagai upaya meminjam elemen bahasa lain, ihwal peminjaman elemen bahasa lain menjadi ciri khas register bahasa ritual (Keane, 1997:53). Hal tersebut mempunyai fungsi bahwa elemen bahasa yang khas tersebut seolah-olah bersumber dari surga yang pada akhirnya menimbulkan keampuhan ritual bagi partisipan ritual. Berikut kutipan lengkap dari Keane

proposed to explain the specia l forms ta ken by ritua l speech on the grounds that listeners a lwa ys a ssume that those forms a re somehow ca used by their divine sources a nd a re thus evidence of the workings of forces that a re otherwise imperceptible (Keane, 1997:53).

Penjajaran kata berbahasa Arab dalam mantra kidung dalam KPAA terbagi dalam tiga kategori. Perta ma, dalam satu bait dominan menggunakan bahasa Arab, artinya dalam satu bait beberapa baris menggunakan bahasa Arab, misalnya, dalam kidung yoga wedha (KY) dan kidung wa ra wedha (KW) sebagai berikut.

kidung yoga wedha (KY) bait XI baris 61-66

(2) (61) Ma ngkana ta donga nipun ‘demikianlah doanya’ (62) Alla huma ada m sa rpin ‘Alla huma a da m sa rpin’

(63) Cheruhu cha kula ika ‘Cheruhu cha kulaika ’

(64) Wa jibuhu nga laihi ‘Wa jibuhu nga la ihi’

(65) Cha heruhu huwa la ha ‘Cha heruhu huwa la ha’ (66) Wa ra bu cha yatulla hi ‘Wa ra bu cha yatulla hi’ kidung wa ra wedha (KW) bait XII baris 78-84

(3) (78) Sun la nggeng a muja ma ntra ‘aku abadi memuja mantra’ (79) Pa s ja swa di putra ing kodratma nik ‘Pa s ja swa di putra ing

kodratmanik’

(80) La ila h haila hu ‘Laila h haila hu’

(81) Muha mad Ra sulla h ‘Muha ma d Ra sulla h’

(82) Sa lla hu nga laihi wa sa la mu ‘Sa lla hu nga laihi wa sa la mu’ (83) Wa nga la ekum wa sa la m ‘Wa nga la ekum wa sa la m’

(84) Puniku pupuji ma mi ‘inilah doaku’

Data (62) Alla huma adam sarpin (63) Cheruhu cha kulaika, (64) Wa jibuhu nga laihi, (65) Cha heruhu huwa la ha, dan (66) Wa ra bu cha yatulla hi merupakan

doa berbahasa Arab yang secara leksikal dalam bahasa Arab terdiri atas kata ganti (isim dhomir) dan kata benda (isim). Bila dijelaskan dalam gramatika bahasa Arab sebagai berikut:

(4) (62) ّﻢﮭﻠﻟا adam sarpin Ya Tuhanku Adam sarpin (63) كﻲــﻟا ّﻖﺣهﺮﯿـــﺧ Kebaikanya dan kebenaranya (64) ﮫــــﯿﻠﻋﮫـــﺒﺟو Kewajibanya

(65) ﷲو هﺮﯿــــــﺧ Kebaikanya demi Allah

(66) ﷲﺔــــــﯿﺣﮫﺑّرو Tuhan yang meliputi segala kehidupan Kata ganti (hu) atau ‘nya’ merujuk kepada ‘adam sarpin’, secara umum makna data di atas adalah doa untuk yang ditujukan untuk jati diri anak (hakikat anak) atau ‘adam sarpin’. Kidung yoga wedha dikhususukaan untuk anak (bayi) agar selamat dari malapetaka dan menanamkan ketauhidan sejak dini serta

commit to user

mengingat keberadaan eksistensi Allah dalam setiap gerak dan aktivitas sehari- hari.

Data (80) La ila h haila hu, (81) Muha ma d Ra sulla h, (82) Sa lla hu nga la ihi wa sa la mu, (83) Wa nga la ekum wa sa la m merupakan kalimat yang paling populer

dalam tradisi Islam. Data 80-81 adalah ikrar syahadat ‘kesaksian adanya Allah sebagai tuhan yang satu” dan ikrar bahwa nabi muhammad sebagai utusan (rasul). Kedua kalimat tersebut lebih dikenal dengan sya hadatain ‘dua kalimat syahat’. Data 82 merupakan sebutan yang disematkan untuk nabi Muhammad yaitu

Sa lla hu nga la ihi wa sa la mu yang biasa disingkat dengan (S.A.W). Data 83, yaitu jawaban dari salam umat Islam, Wa nga la ekum wa sa la m, jawaban dari salam

pembuka, a sa la mu a laikum.

Kedua, yaitu menggunakan bahasa arab dan bahasa Jawa dalam satu baris yang sejajar. Sebagaimana contoh-contoh di bawah ini.

(5) (62) Allahuma ada m sa rpin ‘Allahuma adam sarpin’ (68) Allahuma ca cing putih ‘Allahuma cacing putih’ (1) sifat ima n wa mantulilahi ‘sifat iman kepada Allah’ (21) ka ping tiga ne wakutubihi ‘ketiganya kepada kitab Allah’

(69) Ya Allahuma seksi ‘Ya Allahuma seksi

(56) liwat sirata l musta kim ‘melalui siratal mustakim’

Dalam data (62) yaitu a lla huma adam sarpin, sedangkan dalam kidung yoga wedha (KY) bait XII baris 68 terdapat fenomena yang serupa yaitu (68)

a lla huma cacing putih. Dalam kidung setya wedha (Kse) bait I baris yaitu, (1)

sipat iman wa ma ntulilahi, dan baris (21) ka ping tiga ne wa kutubihi. Dalam

kidung wa ra wedha (KW) bait X baris 56 terdapat (56) liwat sirata l musta kim

‘melalui siratal mustakim’

Data kata berbahasa arab tersebut mempunyai arti allahuma ‘Ya Allah Tuhanku’. Kata tersebut diikuti kata berbahasa Jawa adam sarpin, cacing putih secara leksikal bermakna ‘cacing’ (binatang) berwarna putih, seksi ‘saksi’. kata berbahasa Arab tersebut mempunyai arti iman kepada Allah dan iman kepada kitab.

Ketiga kata bahasa Arab yang telah diadaptasi ke bahasa Jawa, ada yang sudah diterima dalam bahasa Jawa dan ada yang belum diterima dalam bahasa Jawa. Berikut ditemukan dalam kidung Japa wedha (KJ) bait XII-XIII baris 118- 127.

(6) (118) kulite iku sarengat ‘kulitnya itu syariat’

(119) getihipun Tarekat ‘darahnya tarekat yang sejati’

ingkang sejati

(120) ototipun kakekat ‘ototnya itu hakikat’

(121) da gingupun makripat sa jati ‘dagingnya makrifat yang sejati’ (122) cucukipun sa jatining Sadat ‘paruhnya sejatinya syahadat’

(123) eleda n Tokid wa stane ‘lidahnya tauhid sebutanya’ (124) pupusuhe Supiyah nenggih ‘hatinya supiyah’

(125) ha mperune amarah ‘limpanya amarah’ (126) mutmaenah jantung ‘mutmainah jantung’

(127) luamah wa dukeika ‘luamah perutnya’

Data di atas khususnya baris (118-119) merupakan penahapan dalam ajaran tasawuf dalam Islam yaitu sya riat, tha riqat, ma krifat, dan ha kikat (lihat Widodo, 2011b dan 2012a), sedangkan (124-127) merupakan nama nafsu yang terdapat dalam diri manusia yaitu supiyah, a ma ra h, mutma ena h, dan lua ma h. Data tersebut

commit to user

menunjukkan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Arab yang sudah diterima menjadi leksikon bahasa Jawa.

Selain apa yang dipaparkan di atas, tentang kekhasan bahasa mantra kidung Jawa, kekhasan bentuk kebahasaan yang lain yaitu repetisi. Berkaitan dengan tersebut, perihal repetisi akan dibahas secara khusus dibawah ini. Karena repetisi menjadi titik sentral dalam penelitian ini.

4.1.2 Bentuk-Bentuk Repetisi dalam Mantra Kidung Jawa

Bentuk-bentuk repetisi mantra kidung Jawa dalam KPAA ditemukan dan diklasifikasi atas (1) repetisi gramatikal, (2) repetisi leksikal, (3) repetisi unik, dan (4) repetisi semantik. Repetisi gramatikal yaitu pengulangan yang terjadi pada mantra kidung Jawa dengan menggunakan pola kalimat yang sama (pola sintaksis), sedangkan repetisi leksikal yaitu pengulangan yang terjadi pada mantra kidung Jawa dengan menggunakan kategori kata atau frasa yang sama. Repetisi Unik yaitu pengulangan yang terjadi pada mantra kidung Jawa yang pengulangan tersebut terjadi pada tataran gramatikal, leksikal, dan semantik secara serentak. Repetisi semantik yaitu pengulangan yang terjadi pada mantra kidung Jawa dengan menghadirkan makna yang sama dengan bentuk yang berbeda (sinonim) dan makna yang masih dalam jangkauan medan leksikal yang sama. Berikut dipaparkan secara lebih terinci masing-masing pengulangan tersebut.

4.1.2.1 Repetisi Gramatikal

Repetisi gramatikal dalam mantra kidung Jawa ditemukan 20 pola gramatikal yang sama atau ‘kesebangunan gramatikal’ (lihat lampiran rekapitulasi

repetisi gramatikal). Berikut rincian 20 pola gramatikal yang terjadi pada mantra kidung.

Pada Kidung Da rma wedha (KD) ditemukan dua (2) pola repetisi gramatikal: (1) S (FN/N) + P yang terjadi pada bait VII, VIII, X dan baris 64, 65, 70, 71, 102, 105, 109. Pola ini berulang dengan 8 frekuensi kemunculan (KD-1a s.d. KD-1h). (2) S (V. Psf) + Pel. (N) yang terjadi pada bait VIII, X dan baris 81, 103. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KD-2a s.d. KD-2b).

Dalam Kidung Mantra wedha (KM) ditemukan enam (6) pola repetisi gramatikal:(1) P (V. Impr) + K (F. Prep) yang terjadi pada bait I baris 2 dan 3. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KM-1a s.d. KM-1b). (2) S (FN) + P (FV. Impr/V. Impr) yang terjadi pada bait II baris 11, 12, 14, 16, 17. Pola ini berulang dengan 5 frekuensi kemunculan (KM-2a s.d. KM-2e). (3) P (V.Psf) + Pel. (FN/N) yang terjadi pada bait III dan IV baris 23, 24, 28, 48. Pola ini berulang dengan 4 frekuensi kemunculan (KM-3a s.d. KM-3d). (4) S (FN) + P (F. Pron Pos) yang terjadi pada bait IV dan V baris 32, 33, 34, 35, 36, 38, 42. Pola ini berulang dengan 7 frekuensi kemunculan (KM-4a s.d. KM-4g). (5) S (FN) + P (F. Prep) yang terjadi pada bait IV dan V baris 37, 44, 45. Pola ini berulang dengan 3 frekuensi kemunculan (KM-5a s.d. KM-5c). (6) S (F. Pron Pos) + P (FN/N) yang terjadi pada bait III, IV, V baris 29, 30, 31, 40, 41, 46. Pola ini berulang dengan 7 frekuensi kemunculan (KM-6a s.d. KM-6g).

Dalam Kidung Japa wedha (KJ) ditemukan 9 pola repetisi gramatikal: (1) S (FN) + P (V. Impr) yang terjadi pada bait I, II, VI, VII, VIII, IX, XI baris 10, 11,

commit to user

(KJ-1a s.d. KJ-1i). (2) S (FN) + P (F. Prep) yang terjadi pada bait III baris 24, 25, 26, 27. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KJ-2a s.d. KJ-2b). (3) S (N) + P (F. Prep) yang terjadi pada bait IV,V, VII, baris 38, 41, 44, 61. Pola ini berulang dengan 4 frekuensi kemunculan (KJ-3a s.d. KJ-3d). (4) P (V.Akt) + Pel. (N) yang terjadi pada bait VII baris 64, 67, 68. Pola ini berulang dengan 3 frekuensi kemunculan (KJ-4a s.d. KJ-4c). (5) P (V. Impr) + K (F. Prep) yang terjadi pada bait VII, VIII, IX baris 70, 74. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KJ-5a s.d. KJ-5b). (6), S (FN) + P (V) + Pel. (Adv) yang terjadi pada bait IX baris 86, 87. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KJ-6a s.d.KJ-6b). (7), S (N) + P (F. Prep) yang terjadi pada bait X baris 93, 94, 95. Pola ini berulang dengan 3 frekuensi kemunculan (KJ-7a s.d. KJ-7c). (8), P (FV. Akt) + Pel. (F. Prep) yang terjadi pada bait IX baris 85, 107. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KJ-8a s.d. KJ-8b). (9), S (Pron. Pers III) + P (N) yang terjadi pada bait XII, XIII baris 118, 119, 120, 121, 122, 123. Pola ini berulang dengan 6 frekuensi kemunculan (KJ-9a s.d. KJ-9f).

Dalam Kidung Jiwa wedha (KJi) ditemukan 2 pola repetisi gramatikal: (1) S (FV. Akt) + P (F. Prep) yang terjadi pada bait I baris 5, 9. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KJi-1a s.d. KJi-1b). (2), P (V. Akt) + O (N) yang terjadi pada bait I baris 3, 6, 10, 13. Pola ini berulang dengan 4 frekuensi kemunculan (KJi-2a s.d. KJi-2d).

Dalam Kidung Yoga wedha (KY) ditemukan 4 pola repetisi gramatikal : (1) S (FN) + P (V.Akt) + K (F. Prep) yang terjadi pada bait V baris 29, 30. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KY-1a s.d. KY-1b). (2), P (V.Psf) +

Pel. (FN/N) yang terjadi pada bait VI baris 33, 34, 35, 36. Pola ini berulang dengan 4 frekuensi kemunculan (KY-2a s.d. KY-2d). (3), S (Pron. Pers I) + P (V) + Pel. (FN) yang terjadi pada bait XXVIII baris 167, 169. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KY-3a s.d. KY-3b). (4), P (V. Impr) + K (F. Prep) yang terjadi pada bait XXXII baris 190, 191. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KY-4a s.d. KY-4b).

Dalam Kidung Wa ra wedha (KW) ditemukan 2 pola repetisi gramatikal: (1), konstruksi pengulangan frasa yang terjadi pada bait I baris 3, 4, 5. Pola ini berulang dengan 3 frekuensi kemunculan (KW-1a s.d. KW-1c). (2), S (F. Pron Pos) + P (FN) yang terjadi pada bait X baris 64, 69, 76. Pola ini berulang dengan 3 frekuensi kemunculan (KW-2a s.d. KW-2c).

Kidung Setya wedha (KSe) ditemukan 1 pola repetisi gramatikal yaitu S FN/N) + P (dilesapkan) + O (Num) yang terjadi pada bait III baris 10, 25, 27, 28. Pola ini berulang dengan 4 frekuensi kemunculan (KSe-1a s.d. KSe-1d).

Dalam Kidung Ajiwedha (KA) ditemukan 1 pola repetisi gramatikal yaitu S (F. Pron Pos) + P (FN/N) yang terjadi pada bait II-IX baris 10-60. Pola ini berulang dengan 33 frekuensi kemunculan (KA-1a s.d. KA-1gg).

Dalam Kidung Sa ktiwedha (KSa) ditemukan 1 pola repetisi gramatikal yaitu P (V) + O (N) + K (Num) S dilesapkan yang terjadi pada bait VIII baris 48, 54. Pola ini berulang dengan 2 frekuensi kemunculan (KSa-1a s.d. KSa-1b).

Dalam Kidung Ba gya wedha (KB) ditemukan 1 pola repetisi gramatikal yaitu S (N) + P (FV) + O (N) yang terjadi pada bait V baris 27, 28, 29, 33. Pola ini

commit to user

Dari penjabaran tentang pola repetisi gramatikal yang terjadi pada mantra kidung Jawa, hasil rekapitulasi menunjukkan: (1) terdapat 20 pola repetisi gramatikal yang muncul. (2) Jumlah total frekuensi kemunculan sebanyak 135 kemunculan. Dari 20 pola repetisi gramatikal tersebut terdapat tiga (3) pola yang frekuensi kemunculannya paling tinggi dan dominan. Tiga pola tersebut yaitu (1) S (F. Pron. Pos) + P (FN/N) sejumlah 43 kemunculan. (2) yaitu berpola S (FN) + P (V. Impr) sejumlah 22 kemunculan. (3) yaitu berpola P (V. Psf) + Pel. (N/FN) sejumlah 10 kemunculan. Ketiga pola tersebut secara rinci dibahas dibawah ini.

4.1.2.1.1 Pola : S (F. Pron. Pos) + P (FN/N)

Pengulangan gramatikal dengan pola ini ditemukan pada kidung ma ntra wedha (KM) dengan tujuh (7) kemunculan pengulangan, kidung wa ra wedha (KW) dengan tiga (3) kemunculan pengulangan, dan Kidung Ajiwedha (KA) dengan 33 kemunculan pengulangan, Jadi total pola gramatikal 1 sejumlah 43 pengulangan.

Pada mantra kidung ma ntra wedha (KM) dibahas tiga dari 7 pola yang terjadi pada bait yang sama sebagai berikut.

(7) S P

a. ati(-ku) (na bi) ada m (KM-6/III/29)

‘hati (ku)’ ‘(nabi) adam’

b.utekku ba ginda esis (KM-6/III/29)

‘otakku’ ‘nabi esis’

c. pa nguca p(ku) na bi musa (KM-6/III/30) ‘pengucapan(ku)’ ‘nabi musa’

Pada bait III, IV, dan V dan baris 29, 30, 31, 40, 41, 46 terdapat pola Subjek (S) + Predikat (P) yang secara konsisten berulang. Keberulangan tersebut ditunjukkan

dengan adanya pola sintaksis yang sama pada konstruksi berikut penjabaran contoh (1) : Ati (-ku) ‘hatiku’, utekku ‘otakku’, pangucap(ku) ‘pengucapanku’ menduduki fungsi S, sedangkan (na bi) ada m ‘nabi adam’, ba ginda esis ‘nabi esis’, na bi musa ’nabi musa’ menduduki fungsi P. Pengisi fungsi S yaitu, frasa pronomina posesif (F. Pron Pos) yang secara berulang digunakan dalam pola di atas, sedangkan pengisi P berkategori frasa nomina (FN).

Dalam dokumen Wahyu Widodo S111008019 (Halaman 68-130)

Dokumen terkait