• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR LAMPIRAN

3.4 Analisis Data dan Rancangan Percobaan

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL) dengan ulangan sebanyak 3 kali. Model rancangan percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut:

3 3 4Ybh Pl MOE 2 2 3 bh Pml MOR

� = �+ + + ( ) + � Keterangan:

� = Nilai pengamatan pada ulangan ke-k yang disebabkan oleh taraf

ke-i faktor α, taraf ke-j faktor β.

� = Nilai rata-rata sebenarnya. = Pengaruh perekat pada taraf ke- i.

= Pengaruh perlakuan jarak sambungan pada taraf ke-j.

( ) = Pengaruh interaksi dari unit percobaan antara perekat ke-i, dan jenis penguat sambungan ke-j.

� = Nilai galat (kesalahan percobaan) dari perekat ke-i, jenis penguat sambungan ke-j pada ulangan ke-k.

= Jenis Perekat (PVAc dan Epoxy).

= Jenis Perlakuan (Kontrol, Sambungan 2 cm, Sambungan 3 cm dan Sambungan 4 cm).

= Ulangan (1,2, dan 3).

Untuk mengetahui pengaruh faktor perlakuan terhadap sifat fisis dan mekanis bambu lapis yang dibuat maka dilakukan analisis sidik ragam atau analysis of variance (ANOVA). Nilai f-hitung yang diperoleh dari ANOVA tersebut dibandingkan dengan f-tabel pada selang kepercayan 95% dengan kaidah keputusan :

1. Apabila f-hitung < f-tabel, maka perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata atau sangat nyata terhadap sifat fisis mekanis papan pada selang kepercayaan 95%.

2. Apabila f-hitung > f-tabel, maka perlakuan memberikan pengaruh nyata pada sifat fisis mekanis papan pada selang kepercayaan 95%.

Apabila perlakuan memberikan pengaruh nyata atau sangat nyata terhadap sifat fisis dan mekanis papan, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan

Duncan Multiple Range Test (DMRT).

Nilai sifat fisis dan mekanis yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar SNI 01-5008.2-2000. Pengolahan data dilakukan dengan Excel 2007 dan SAS 9.1.

3.1 Sifat Fisis Bambu Lapis 3.1.1 Kadar Air

Nilai rata-rata kadar air bambu lapis kontrol dan jarak sambung 2 cm, 3 cm, dan 4 cm sebesar 10,81 % dengan kisaran antara 9,66 – 11,73%. Dengan demikian, nilai kadar air semua bambu lapis yang dihasilkan dalam penelitian ini memenuhi persyaratan SNI (2000) untuk kayu lapis penggunaan umum, yaitu lebih kecil dari 14%. Histogram nilai kadar air secara lengkap tersaji dalam Gambar 5.

Gambar 5 Nilai rata-rata kadar air bambu lapis.

Gambar 5 menunjukkan bahwa bambu lapis dengan perlakuan jarak sambung 3 cm dengan perekat Epoxy memiliki nilai kadar air terendah yaitu sebesar 9,66% sedangkan bambu lapis dengan perlakuan jarak sambung 4 cm dengan perekat PVAc memiliki kadar air tertinggi yaitu sebesar 11,73%.

Jika ditinjau berdasarkan jenis perekatnya maka bambu lapis dengan perekat Epoxy mempunyai nilai kadar air yang lebih rendah dibandingkan dengan bambu lapis yang menggunakan perekat PVAc. Menurut Muhammad Fadli (2006), perekat PVAc mempunyai daya tahan yang rendah terhadap cuaca dan kelembaban, hal ini menyebabkan air dapat dengan mudah masuk ke dalam

lapisan bambu lapis dan berikatan dengan molekul PVAc yang terkandung dalam bambu lapis.

Namun jika ditinjau dari pengaruh jenis sambungan terhadap nilai kadar air, terlihat bahwa semakin besar jarak sambungan pada umumnya nilai kadar air yang dihasilkan juga semakin besar. Hal ini diduga karena semakin besar jarak sambungan maka akan semakin besar celah antar bambu yang dapat mempermudah penyerapan air dari luar. Asumsi ini sejalan dengan Iswanto (2008) yang menyatakan bahwa daerah sambungan mudah untuk dimasuki oleh air.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan pada sambungan, jenis perekat, dan interaksi antar keduanya terhadap kadar air bambu lapis, maka dilakukan analisis keragaman (ANOVA) dengan selang kepercayaan 95%.

Tabel 2 Analisis keragaman kadar air bambu lapis.

SK DB JK KT F-hit Pr>F Sambungan 3 6.6976125 2.2325375 0.96 0.4362tn Perekat 1 2.2878375 2.2878375 0.98 0.3364tn Sambungan*Perekat 3 1.7369125 0.57897083 0.25 0.8612tn Eror 16 37.2674 2.3292125 Total 23 47.9897625 Keterangan:

DB : Derajat Bebas JK : Jangkauan Kuadrat KT : Kuadrat Tengah

* : Nyata tn : Tidak nyata

Hasil analisis keragaman untuk nilai kadar air menunjukkan perlakuan pada sambungan, jenis perekat, dan interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap nilai kadar air bambu lapis.

4.1.2 Kerapatan

Nilai rata-rata kerapatan bambu lapis kontrol dan jarak sambungan 2 cm, 3 cm, dan 4 cm sebesar 0,72 g/cm3 dengan kisaran 0,63 – 0,76 g/cm3. Histogram kerapatan hasil penelitiannya dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Nilai rata-rata kerapatan bambu lapis.

Dari Gambar 6 diketahui bahwa bambu lapis dengan jarak sambungan 4 cm dengan perekat Epoxy memiliki nilai kerapatan paling tinggi yaitu sebesar 0,75 g/cm3 dan bambu lapis dengan jarak sambungan 2 cm dengan perekat PVAc memiliki nilai kerapatan yang paling rendah yaitu sebesar 0,63 g/cm3.

Jika dilihat dari jenis perekatnya, bambu lapis dengan perekat PVAc memiliki kerapatan yang lebih rendah dibandingkan bambu lapis dengan perekat Epoxy. Hal ini terjadi karena kekentalan dan berat jenis perekat PVAc lebih rendah dibandingkan perekat Epoxy. Apabila dibandingkan dengan nilai kerapatam bambu lapis dengan pola jahitan dan sambungan yang diteliti oleh Mardiana (2010), yaitu sebesar 0,63 g/cm3, maka nilai kerapatan bambu lapis pada penelitian ini relatif sama.

SNI (2000) tidak mempersyaratkan nilai kerapatan dalam kriteria standar kayu lapis penggunaan umum sehingga sampai saat ini belum ada batasan yang jelas mengenai nilai kerapatan yang dapat menghasilkan bambu lapis yang berkualitas baik. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan bentuk sambungan, jenis perekat, dan interaksi antar keduanya terhadap kerapatan bambu lapis, dilakukan analisis keragaman (ANOVA) dengan selang kepercayaan 95%. Hasil ANOVA kerapatan tersaji dalam Tabel 3.

Tabel 3 Analisis keragaman kerapatan bambu lapis. SK DB JK KT F-hit Pr>F Sambungan 3 0.0383 0.01276667 20.16 <.0001* Perekat 1 0.0024 0.0024 3.79 0.0694tn Sambungan*Perekat 3 0.0011 0.00036667 0.58 0.6372tn Eror 16 0.01013333 0.00063333 Total 23 0.05193333 Keterangan:

DB : Derajat Bebas JK : Jangkauan Kuadrat KT : Kuadrat Tengah

* : Nyata tn : Tidak nyata

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa bentuk perlakuan pada jenis perekat dan interaksi antara sambungan dan perekat memberikan pengaruh yang tidak nyata, tetapi sambungan memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai kerapatan bambu lapis. Uji lanjut Duncan dilakukan untuk mengetahui perlakuan sambungan yang terbaik sebagai mana terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Hasil pengujian perbandingan rata-rata perlakuan sambungan terhadap kerapatan bambu lapis berdasarkan uji lanjut Duncan.

Perlakuan Rata-rata Kerapatan Jumlah Wilayah Berganda Duncan Bambu Lapis (gr/cm2) Contoh Uji (α= 0.05)

B1 0.75500 6 A B4 0.73667 6 A B3 0.72500 6 A B2 0.65000 6 B Keterangan: B1 : kontrol B2 : 2 cm B3 : 3 cm B4 : 4 cm

Hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa semakin besar sambungan maka semakin besar besar nilai kerapatanya. Hal ini disebabkan karena adanya sambungan yang terdapat dalam bambu lapis dapat meningkatkan kekompakan/kerapatan bambu sebagai bahan penyusun panel.

4.1.3 Stabilitas Dimensi

Stabilitas dimensi bambu lapis terhadap keadaan lingkungan sekitar dapat diketahui dalam nilai pengembangan dan penyusutan dimensi bambu lapis, yaitu dimensi panjang, lebar, dan tebal. Pengujian stabilitas dimensi dilakukan untuk mengetahui ketahanan bambu lapis terhadap kelembaban dan cuaca lingkungan sekitar.

4.1.3.1 Pengembangan Dimensi

Pengembangan dimensi terjadi karena adanya perubahan kadar air dalam bambu di atas titik jenuh serat. Secara keseluruhan rataan nilai pengembangan dimensi bambu lapis setelah perendaman selama 24 jam tersaji pada gambar 7 dan tabel 5.

Gambar 7 Nilai rata-rata pengembangan dimensi bambu lapis.

Tabel 5 Nilai pengembangan dimensi bambu lapis.

Pengembangan dimensi bambu lapis (%)

Perlakuan perekat PVAC perekat EPOXY

P L T P L T Kontrol 0.61 0.75 3.91 0.46 0.36 2.35 S2 0.64 0.84 6.51 0.47 0.58 3.04 S3 0.78 0.88 6.93 0.57 0.59 3.36 S4 0.82 0.74 8.22 0.57 0.64 7.05 Rata-rata 0.71 0.80 6.40 0.52 0.54 3.95

Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengembangan panjang, lebar, dan tebal bambu lapis dengan perekat PVAc masing-masing sebesar 0,71%; 0,80%; dan 6,40% dengan kisaran antara 0,6 - 0,82%; 0,75 - 0.88% dan 3,91 – 8,22%. Adapun nilai rata-rata pengembangan panjang, lebar, dan tebal bambu lapis dengan perekat Epoxy masing-masing sebesar 0,52%; 0,54%; dan 3,95% dengan kisaran antara 0,46 – 0,57%; 0,36 – 0,66%; dan 2,35 – 7,05%. Apabila

dibandingkan dengan bambu lapis kontrol maka bambu lapis dengan perlakuan sambungan menghasilkan nilai pengembangan yang lebih besar.

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa semakin besar jarak sambungannya maka pengembagan dimensi yang dihasilkan juga semakin besar. Hal ini diduga karena pada bambu lapis dengan sambungan terdapat celah yang dapat mempermudah terjadinya penyerapan air. Jika dilihat dari jenis perekatnya bambu lapis dengan perekat Epoxy memiliki pengembangan dimensi yang lebih rendah dibandingkan bambu lapis dengan perekat PVAc. Hal ini diduga karena perekat PVAc mempunyai daya tahan yang rendah terhadap cuaca dan kelembaban. Hal ini menyebabkan air dapat dengan mudah masuk ke dalam lapisan bambu lapis dan berikatan dengan molekul PVAc yang terkandung dalam bambu lapis sehingga pengembangan dimensi lebih tinggi.

Nurfaridah (2002) menyatakan bahwa urutan besarnya nilai pengembangan bambu lapis berbeda dengan kayu lapis atau kayu utuh. Pengembangan pada kayu utuh maupun kayu lapis dari yang terbesar sampai yang terkecil berturut-turut tangensial (lebar), radial (tebal), dan longitudinal (panjang). Menurut Dewi (2010), urutan pengembangan dimensi pada bambu dari yang terbesar adalah bagian tebal, lebar, dan panjang. Pengembangan dimensi bambu lapis pada bagian tebal lebih besar dibandingkan pengembangan dimensi pada bagian lebar dan panjangnya disebabkan oleh sifat anatomi bambu. Bambu tidak mempunyai jari- jari pada arah radial (tebal) kecuali pada bagian yang berbuku. Tidak adanya jari- jari pada arah radial menyebabkan air dapat dengan mudah masuk melalui pori- pori dari bagian radial bambu sehingga pengembangan pada bagian ini lebih besar dibandingkan dengan bagian panjang dan lebar (Muhammad Fadli 2006).

Untuk mengetahui pengaruh pemberian sambungan, jenis perekat dan interaksi antar keduanya dilakukan analisis ragam (ANOVA) yang tersaji pada Tabel 6, 7, dan 8.

Tabel 6 Analisis keragaman pengembangan panjang bambu lapis. SK DB JK KT F-hit Pr>F Sambungan 3 0.1153125 0.0384375 0.73 0.5498tn Perekat 1 0.2109375 0.2109375 4 0.0628tn Sambungan*Perekat 3 0.01037917 0.00345972 0.07 0.9773tn Eror 16 0.84413333 0.05275833 Total 23 1.1807625 Keterangan:

DB : Derajat Bebas JK : Jangkauan Kuadrat KT : Kuadrat Tengah

* : Nyata tn : Tidak nyata

Tabel 7 Analisis keragaman pengembangan lebar bambu lapis.

SK DB JK KT F-hit Pr>F Sambungan 3 0.11496667 0.03832222 0.32 0.8099tn Perekat 1 0.4056 0.4056 3.4 0.0838tn Sambungan*Perekat 3 0.06643333 0.02214444 0.19 0.9046tn Eror 16 1.9082 0.1192625 Total 23 2.4952 Keterangan:

DB : Derajat Bebas JK : Jangkauan Kuadrat KT : Kuadrat Tengah

* : Nyata tn : Tidak nyata

Tabel 8 Analisis keragaman pengembangan tebal bambu lapis.

SK DB JK KT F-hit Pr>F Sambungan 3 62.53923333 20.84641111 5.46 0.0089* Perekat 1 35.91706667 35.91706667 9.4 0.0074* Sambungan*Perekat 3 7.10283333 2.36761111 0.62 0.6122tn Eror 16 61.1084 3.819275 Total 23 166.6675333 Keterangan:

DB : Derajat Bebas JK : Jangkauan Kuadrat KT : Kuadrat Tengah

* : Nyata tn : Tidak nyata

Hasil Analisis keragaman atas pengembangan panjang, lebar, dan tebal bambu lapis menunjukkan bahwa perlakuan sambungan, jenis perekat, dan interaksi antara keduanya tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pengembangan panjang dan lebar bambu lapis. Tetapi pada pengembangan tebal perlakuan sambungan dan jenis perekat memberikan pengaruh yang nyata sehingga perlu dilakukan uji lanjut Duncan.

Tabel 9 Hasil Pengujian perbandingan rata-rata perlakuan perekat terhadap pengembangan tebal bambu lapis berdasarkan uji lanjut Duncan.

Perlakuan Rata-rata Pengembangan Jumlah Wilayah Berganda Duncan Tebal Bambu Lapis (gr/cm3) Contoh Uji (α= 0.05)

A1 6.395 12 A

A2 3.9483 12 B

Keterangan:

A1 : PVAc A2 : Epoxy

Tabel 10 Hasil Pengujian perbandingan rata-rata perlakuan sambungan terhadap pengembangan tebal bambu lapis berdasarkan uji lanjut Duncan.

Perlakuan Rata-rata Pengembangan Jumlah Wilayah Berganda Duncan Tebal Lapis (gr/cm3) Contoh Uji (α= 0.05)

B4 7.638 6 A B3 5.145 6 A B2 4.777 6 A B1 3.127 6 B Keterangan: B1 : kontrol B2 : 2 cm B3 : 3 cm B4 : 4 cm

Berdasarkan uji lanjut Duncan di atas, terlihat bahwa semakin besar jarak sambung bambu lapis maka akan semakin besar pula pengembangan tebalnya. Hal ini dapat diduga karena semakin besarnya sambungan memungkinkan air yang masuk semakin banyak sehingga pengembangan semakin mudah terjadi. Dan jika dilihat dari perekatnya, maka perekat PVAc menghasilkan bambu lapis yang memiliki pengembangan tebal lebih besar daripada perekat epoxy. Ini dikarenakan perekat PVAc mempunyai daya tahan yang rendah terhadap cuaca dan kelembaban, dan menyebabkan air dapat dengan mudah masuk ke dalam lapisan bambu lapis dan berikatan dengan molekul PVAc yang terkandung dalam bambu lapis sehingga pengembangan semakin mudah terjadi.

4.1.3.2 Penyusutan Dimensi

Penyusutan dimensi bambu lapis terjadi karena adanya perubahan kadar air di bawah titik jenuh serat. Nilai penyusutan dimensi bambu lapis setelah pengovenan selama 24 jam disajikan dalam Gambar 8 dan Tabel 11.

Gambar 8 Nilai rata-rata penyusutan dimensi bambu lapis.

Tabel 11 Nilai penyusutan dimensi bambu lapis.

Penyusutan dimensi bambu lapis (%)

Perlakuan perekat PVAC perekat EPOXY

P L T P L T Kontrol 0.19 0.23 5.74 0.14 0.31 2.05 S2 0.21 0.24 6.71 0.18 0.21 2.24 S3 0.21 0.46 7.66 0.28 0.29 2.52 S4 0.23 0.57 10.17 0.25 0.30 3.97 rata2 0.21 0.38 7.57 0.21 0.28 2.69

Tabel 11 menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengembangan panjang, lebar, dan tebal bambu lapis dengan perekat PVAc masing-masing sebesar 0,21%; 0,38%; dan 7,57% dengan kisaran antara 0,19 - 0,23%; 0,23 - 0.57% dan 5,74 - 10,17%. Adapun nilai rata-rata pengembangan panjang, lebar, dan tebal bambu lapis dengan perekat Epoxy masing-masing sebesar 0,21%; 0,28%; dan 2,69% dengan kisaran antara 0,14 - 0,25%; 0,21 - 0,31%; dan 2,05 – 3,97%.

Tidak berbeda dengan pengembangan dimensi bambu lapis, penyusutan bambu lapis juga memiliki kecenderungan yang sama yaitu penyusutan bagian tebal lebih besar dibandingkan dengan lebar dan panjang. Kecenderungan penyusutan dimensi bambu lapis ini dapat pula disebabkan oleh sifat anatomi bambu. Bambu tidak mempunyai jari-jari pada arah radial (tebal), Kecuali pada bagian yang berbuku. Tidak adanya jari-jari pada arah radial menyebabkan air

dapat dengan mudah keluar melalui pori-pori dari bagian radial bambu sehingga penyusutan pada bagian ini lebih besar dibandingkan dengan penyusutan pada bagian panjang dan lebar (Fadli 2006).

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan pada sambungan, jenis perekat, dan interaksi antar keduanya pada penyusutan dimensi bambu lapis, maka dilakukan analisis ragam (ANOVA) seperti tercantum pada Tabel 12, 13, dan 14.

Tabel 12 Analisis keragaman penyusutan panjang bambu lapis.

SK DB JK KT F-hit Pr>F Sambungan 3 0.02966667 0.00988889 1.27 0.3183tn Perekat 1 0.00015 0.00015 0.02 0.8914tn Sambungan*Perekat 3 0.01431667 0.00477222 0.61 0.6165tn Eror 16 0.1246 0.0077875 Total 23 0.16873333 Keterangan:

DB : Derajat Bebas JK : Jangkauan Kuadrat KT : Kuadrat Tengah

* : Nyata tn : Tidak nyata

Tabel 13 Analisis keragaman penyusutan lebar bambu lapis.

SK DB JK KT F-hit Pr>F Sambungan 3 0.08534583 0.02844861 0.57 0.6452tn Perekat 1 0.1488375 0.1488375 2.96 0.1045tn Sambungan*Perekat 3 0.11537917 0.03845972 0.77 0.5299tn Eror 16 0.804 0.05025 Total 23 1.1535625 Keterangan:

DB : Derajat Bebas JK : Jangkauan Kuadrat KT : Kuadrat Tengah

* : Nyata tn : Tidak nyata

Tabel 14 Analisis keragaman penyusutan tebal bambu lapis.

SK DB JK KT F-hit Pr>F Sambungan 3 34.4700333 11.4900111 2.36 0.1101tn Perekat 1 142.6912667 142.6912667 29.29 <.0001* Sambungan*Perekat 3 5.0965 1.6988333 0.35 0.7906tn Eror 16 77.9483333 4.8717708 Total 23 260.2061333 Keterangan:

DB : Derajat Bebas JK : Jangkauan Kuadrat KT : Kuadrat Tengah

* : Nyata tn : Tidak nyata

Hasil Analisis keragaman atas penyusutan panjang, lebar, dan tebal bambu lapis menunjukkan bahwa perlakuan sambungan, jenis perekat, dan interaksi antara keduanya tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pengembangan

panjang dan lebar bambu lapis. Tetapi pada pengembangan tebal hanya perlakuan jenis perekat yang memberikan pengaruh yang nyata sehingga perlu dilakukan uji Duncan.

Tabel 15 Hasil Pengujian perbandingan rata-rata perlakuan perekat terhadap penyusutan tebal bambu lapis berdasarkan uji lanjut Duncan.

Perlakuan Rata-rata Penyusutan Jumlah Wilayah Berganda Duncan Tebal Bambu Lapis (gr/cm3) Contoh Uji (α= 0.05)

A1 7.57 12 A

A2 2.6933 12 B

Keterangan:

A1 : PVAc A2 : Epoxy

Berdasarkan uji lanjut Duncan di atas, terlihat bahwa perekat PVAc menghasilkan bambu lapis yang memiliki penyusutan tebal yang lebih besar daripada perekat epoxy.

4.2 Sifat Mekanis Bambu Lapis

Sifat mekanis yang diuji dalam penelitian ini adalah keteguhan lentur statis dan keteguhan rekat. Pengujian sifat mekanis dilakukan dengan dua cara, yaitu sejajar serat (sejajar lapisan permukaan) dan tegak lurus serat (sejajar lapisan inti).

4.2.1 Keteguhan Lentur Statis

Keteguhan lentur statis terdiri atas modulus elastisitas atau Modulus of Elasticity (MOE) dan modulus patah atau Modulus of Rupture (MOR).

4.2.1.1 Keteguhan Lentur (MOE)

4.2.1.1.1 Keteguhan Lentur Sejajar Lapisan Permukaan

SNI 01-5008.2-2000 untuk Kayu Lapis Penggunaan Umum tidak mensyaratkan nilai MOE dan MOR yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kualitas kayu lapis yang baik. Oleh karena itu, digunakan SNI 01-5008.7-1999 untuk Kayu Lapis Struktural. Berdasarkan standar tersebut, nilai MOE yang harus dipenuhi adalah 80.000 kg/cm². Nilai MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Nilai rata-rata MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis.

Berdasarkan hasil penelitian, nilai MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis berkisar antara 19.397,59 kg/cm² - 99.281,39 kg/cm² dengan nilai rata-rata 53.045,75 kg/cm². Nilai terkecil terdapat pada bambu lapis sambungan 2 cm dengan perekat PVAc dan nilai terbesar terdapat pada bambu lapis kontrol dengan perekat Epoxy. Dari seluruh tipe sambungan kayu lapis hanya bambu lapis kontrol berperekat epoxy (99.281,39 kg/cm2) yang memenuhi nilai MOE SNI 01-5008.7- 1999.

Gambar 10 Kerusakan contoh uji MOE sejajar lapisan permukaan.

Berdasarkan gambar di atas kerusakan cotoh uji terjadi pada bagian sambungan. Menurut Safitri dan Purnawan (2010) sambungan merupakan titik terlemah sehingga banyak kegagalan atau kerusakan struktur yang disebabkan

oleh gagalnya sambungan. Maka dari itu tidak heran jika dalam penelitian ini bambu lapis yang memiliki sambungan tidak memenuhi standar.

Gambar 9 menunjukkan bahwa semakin besar jarak sambungan maka semakin besar pula nilai MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis. Pernyataan ini sesuai dengaan Safitri dan Purnawan (2010) yang menyatakan bahwa kuat lentur dan elastisitas meningkat seiring dengan bertambahnya panjang sambungan, karena semakin besar perbandingan panjang sambungan yang dibuat akan mengakibatkan bertambahnya luasan perekat.

Jika dibandingkan dengan penelitian Dewi (2010) nilai MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis dengan perekat PVAc dan epoxy masing-masing berkisar antara 1252,91 – 10.873,51 kg/cm2 dan 4.021,37 – 6572,62 kg/cm2. Dengan demikian, hasil penelitian kali ini memiliki nilai MOE sejajar lapisan permukaan yang lebih baik. Jika dibandingkan dengan MOE kayu lapis yang berasal dari kayu cepat tumbuh seperti akasia dan sengon hasil penelitian Rosihan (2005), maka bambu lapis penelitian ini memeiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan kayu lapis akasia (99.660 kg/cm2) dan lebih besar dibandingkan kayu lapis sengon (13.760 kg/cm2). Hal ini menandakan bambu lapis pada penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif pengganti bahan baku kayu.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan pada sambungan, jenis perekat, dan interaksi antar keduanya terhadap nilai MOE sejajar permukaan bambu lapis, maka dilakukan analisis ragam (ANOVA) seperti tercantum pada Tabel 16.

Tabel 16 Analisis keragaman MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis.

SK DB JK KT F-hit Pr>F Sambungan 3 6319307938 2106435979 7.79 0.002* Perekat 1 4511579873 4511579873 16.69 0.0009* Sambungan*Perekat 3 1989467054 663155685 2.45 0.1009tn Eror 16 4326129434 270383090 Total 23 17146484299 Keterangan:

DB : Derajat Bebas JK : Jangkauan Kuadrat KT : Kuadrat Tengah

* : Nyata tn : Tidak nyata

Hasil Analisis keragaman atas nilai MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis menunjukkan bahwa perlakuan sambungan dan jenis perekat memberikan

pengaruh yang nyata terhadap MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis sehingga perlu dilakukan uji lanjut Duncan.

Tabel 17 Hasil Pengujian perbandingan rata-rata perlakuan sambungan terhadap nilai MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis berdasarkan uji lanjut Duncan.

Perlakuan Rata-rata MOE Sejajar Lap. Jumlah Wilayah Berganda Duncan

Permukaan Bambu Lapis (gr/cm3) Contoh Uji (α= 0.05)

B1 72888 6 A B4 52053 6 B B3 50140 6 B B2 27059 6 C Keterangan: B1 : kontrol B2 : 2 cm B3 : 3 cm B4 : 4 cm

Tabel 18 Hasil Pengujian perbandingan rata-rata perlakuan perekat terhadap nilai MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis berdasarkan uji lanjut Duncan.

Perlakuan Rata-rata MOE Sejajar Lap. Jumlah Wilayah Berganda Duncan Permukaan Bambu Lapis (gr/cm3) Contoh Uji (α= 0.05)

A2 64246 12 A

A1 36824 12 B

Keterangan:

A1 : PVAc A2 : Epoxy

Berdasarkan uji lanjut Duncan di atas, terlihat bahwa semakin besar jarak sambung bambu lapis makan akan semakin besar pula nilai MOE sejajar lapisan permukaan bambu lapis. Adapun jika dilihat dari perekatnya, maka perekat PVAc menghasilkan bambu lapis yang memiliki nilai MOE sejajar lapisan permukaan lebih rendah daripada perekat epoxy.

4.2.1.1.2 Keteguhan Lentur Sejajar Lapisan Inti

Nilai MOE sejajar lapisan inti bambu lapis berkisar antara 13.614,68 - 28.306,88 kg/cm² dengan nilai rata-rata 22.100,84 kg/cm². Bambu lapis jarak sambung 2 cm dengan perekat PVAc memiliki nilai MOE terendah yaitu 13.614,68 kg/cm² dan bambu lapis jarak sambung 3 cm berperekat epoxy memiliki nilai MOE yang tertinggi yaitu 28.306,88 kg/cm². Nilai MOE sejajar lapisan inti untuk semua bambu lapis dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11 Nilai rata-rata MOE sejajar lapisan inti bambu lapis.

Nilai MOE sejajar lapisan inti yang dipersyaratkan oleh SNI 01-5008.7- 1999 yaitu sebesar 10.000 kg/cm2. Berdasarkan nilai tersebut, semua bambu lapis hasil penelitian memenuhi standar yang telah ditetapkan SNI. Semua bambu lapis yang menggunakan jarak sambung baik yang menggunakan perekat PVAc maupun epoxy menghasilkan nilai MOE yang lebih rendah dari bambu lapis kontrol. Hal ini diduga karena adanya sambungan yang dapat menurunkan sifat mekanis bambu lapis.

Pada gambar 11 menyatakan bahwa semakin panjang perlakuan sambungan yang diberikan maka nilai MOE sejajar lapisan inti semakin besar seperti halnya pada MOE sejajar lapisan permukaan. Karena semakin panjangnya jarak sambungan maka semakin besar pula nilai MOE antara titik kritis dengan area beban tekan yang diberikan pada bambu tersebut sehingga perlemahan yang terjadi semakin kecil dan menghasilkan nilai MOE yang semakin besar.

Mengacu pada penelitian Rosihan (2005), bambu lapis pada penelitian ini meghasilkan nilai MOE sejajar lapisan inti yang lebih besar daripada kayu lapis akasia (6.827 kg/cm2) dan kayu lapis sengon (1.570 kg/cm2). Dengan demikian bambu lapis hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk menggantikan kayu lapis.

Gambar 12 Pengujian MOE sejajar lapisan inti.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan pada sambungan, jenis perekat, dan interaksi antar keduanya terhadap nilai MOE sejajar permukaan inti bambu lapis, maka dilakukan analisis ragam (ANOVA) dengan selang kepercayaan 95% seperti tercantum pada Tabel 19.

Tabel 19 Analisis keragaman MOE sejajar permukaan inti bambu lapis.

SK DB JK KT F-hit Pr>F Sambungan 3 457869155.2 152623051.7 4.02 0.0261* Perekat 1 148246281.7 148246281.7 3.91 0.0655tn Sambungan*Perekat 3 110559031.1 36853010.4 0.97 0.4305tn Eror 16 606900598 37931287 Total 23 1323575066 Keterangan:

DB : Derajat Bebas JK : Jangkauan Kuadrat KT : Kuadrat Tengah

* : Nyata tn : Tidak nyata

Hasil Analisis keragaman atas nilai MOE sejajar lapisan inti bambu lapis menunjukkan bahwa perlakuan jenis perekat dan interaksi antara perlakuan sambungan dan jenis perekat tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap MOE sejajar lapisan inti bambu lapis. Tetapi pemberian jarak sambungan memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai MOE sejajar lapisan inti bambu

Dokumen terkait