• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Data

4. Analisis Data

Analisis data didasarkan pada hasil angket dan tes yang dikerjakan oleh siswa. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas dan uji korelasi Product Moment.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data variabel sikap terhadap interaksi sosial terhadap variabel prestasi belajar matematika memiliki karateristik distribusi normal atau tidak. Uji normalitas menggunakan perhitungan Chi Kuadrat karena data penelitian berbentuk interval. Data dinyatakan normal jika χ2

hitung di bawah χ2

tabel pada

taraf signifikansi 5%. Jika data penelitian dinyatakan normal, maka analsis dapat dilanjutkan. Hasil uji normalitas kedua variabel dapat dilihat pada pada tabel 4.17.

Tabel 4.17. Rangkuman Hasil Uji Normalitas

No Variabel Dk χ2 hitung χ2 tabel (5%) Kriteria 1. Sikap terhadap

Interaksi Sosial 25 4,667 37,652 Normal

2. Prestasi Belajar 13 8,267 22,362 Normal

Berdasarkan hasil uji normalitas pada tabel 4.17, diketahui bahwa harga χ2

hitung variabel sikap terhadap interaksi sosial adalah 4,667 < 37,652 dan harga χ2

hitung data prestasi belajar adalah 8,267 < 22,362. Dapat interpretasikan bahwa data kedua variabel tersebut di atas

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

dinyatakan normal atau sebarannya normal pada taraf signifikan 5% karena harga χ2

hitung di bawah harga χ2

tabel.

b. Uji Korelasi Product Moment

Analisi korelasi Product Moment digunakan untuk menganalisis seberapa besar pengaruh variabel sikap terhadap interaksi sosial terhadap variabel prestasi belajar matematika karena data kedua variabel berbentuk interval atau ratio. Pedoman untuk memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi sebagai berikut.

Tabel 4.18. Kriteria Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,000 Sangat rendah Rendah Sedang Kuat Sangat kuat

Perhitungan analsis korelasi Product Moment antara variabel bebas dengan variabel terikat sebagai berikut.

rxy =

( ) ( )

( ) ( )

{

2 2

}{

( )

2

( )

2

}

Y Y N X X N Y X XY N Σ − Σ Σ − Σ Σ Σ − Σ =

( )

( ) ( )

{

2

}{

( ) ( )

2

}

2390 197852 30 2952 297750 30 ) 2390 ( 2952 238226 30 − − − =

{

8932500 8714304

}{

5935560 5712100

}

7055280 7176780 − − −

65

=

{

218196

}{

223460

}

121500

= 0,414

Berdasarkan perhitungan di atas, nilai r hitung diperoleh adalah 0,414. Nilai tersebut berada pada interval 0,40 – 0,599 dengan kategori sedang. Hasil tersebut dibandingkan dengan r tabel (n=30, α=5%) sebesar 0,361. Dapat diinterpretasikan bahwa nilai r hitung 0,414 di atas r tabel 0,361, artinya ada pengaruh yang positif dan signifikan antara sikap terhadap interakasi sosial dengan prestasi belajar siswa. Semakin baik sikap siswa terhadap interaksi sosial, maka semakin baik pula prestasi belajar siswa, sebaliknya semakin rendah sikap siswa terhadap interaksi sosial maka semakin rendah pula prestasi belajar siswa.

C. Pembahasan

1. Interaksi Sosial dalam Pembelajaran Matematika

Interaksi sosial dalam pembelajaran matematika diungkap melalui hasil observasi. Berdasarkan hasil observasi, setiap siswa melakukan interaksi sosial dengan prosentase yang berbeda pada masing-masing pertemuan. Hasil pertemuan I menunjukkan bahwa interaksi sosial dalam pembelajaran yang sering dilakukan siswa adalah siswa memanggil nama temannya untuk bertanya dengan frekuensi relatif 43,3%, siswabertanya secara lisan kepada temannya untuk menanyakan kesulitan yang dihadapi dengan frekuensi relatif 50%, siswa menjawab pertanyaan guru dengan frekuensi relatif 50%, dan siswa dibantu oleh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

temannya untuk mengatasi kesulitan dalam materi pelajaran dengan frekuensi relatif 56,7%

Berdasarkan pertemmuan II, interaksi sosial dalam pembelajaran matematika yeng sering dilakukan siswa adalah siswa memanggil nama temannya untuk bertanya dengan frekuensi relatif 33,3%, siswa bertanya secara lisan kepada temannya untuk menanyakan kesulitan yang dihadapi dengan frekuensi relatif 43,4%, siswa menjawab pertanyaan guru dengan frekuensi relatif 50%, dan siswa dibantu oleh temannya untuk mengatasi kesulitan dalam materi pelajaran dengan frekuensi relatif 33,3%.

Berdasarkan pertemuan III, interaksi sosial dalam pembelajaran matematika yang sering dilakukan siswa pada pertemuan III adalah siswa memanggil nama temannya untuk akan bertanya dengan frekuensi relatif 43,3%, siswa bertanya secara lisan kepada temannya untuk menanyakan kesulitan yang dihadapi dengan frekuensi relatif 46,7%, siswa menjawab pertanyaan temannya yang mengalami kesulitan dengan frekuensi relatif 33,3%, dan siswa menjawab pertanyaan guru dengan frekuensi relatif 50%.

Berdasarkan hasil observasi sikap terhadap interaksi sosial dalam pembelajaran matematika pada pertemuan I, II, dan III, dapat dinyatakan bahwa sebagian besar siswa dapat melakukan interaksi sosial dalam pembelajaran matematika cukup. Artinya, guru dan siswa, serta siswa dan siswa yang lain cukup dalam melakukan interaksi belajar di kelas.

67

Bentuk interaksi dalam pembelajaran adalah guru dan siswa melakukan kontak sosial, komunikasi, dan simpati.

2. Sikap terhadap Interaksi Sosial dalam Pembelajaran Matematika

Berdasarkan hasil analisis data sikap terhadap interaksi sosial, 4 responden termasuk dalam kategori skor sikap yang tinggi dengan frekuensi 13,33%, 14 responden dalam kategori skor sikap yang cukup dengan frekuensi 46,67%, dan 12 responden dalam kategori skor sikap yang tinggi rendah dengan frekuensi 40%. Dapat diinterpretasikan bahwa siswa yang sikapnya terhadap interaksi sosial tergolong tinggi hanya 4 siswa, sedangkan 14 siswa cukup tinggi, dan 12 siswa sikapnya relatif rendah (kurang). Dapat dinyatakan bahwa sebagian besar siswa hanya cukup dalam melakukan interaksi sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa sikap terhadap interaksi sosial yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran matematika tergolong cukup. Artinya, siswa memliki sikap yang cukup baik terhadap kegiatan pembelajaran matematika yang telah berlangsung. Sikap siswa tersebut diwujudkan melalui kontak sosial dan komunikasi dengan guru ketika mengajukan beberapa pertanyaan tentang materi yang belum dipahami dan bahkan dengan siswa yang lainnya dalam belajar kelompok. Siswa juga melakukan imitasi, sugesti, dam identifikasi terhadap kegiatan pembelajaran matematika yang telah berlangsung, sehingga siswa memiliki sikap yang baik terhadap interaksi sosial yang telah terjadi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

3. Prestasi Belajar

Berdasarkan hasil analisis prestasi belajar, 21 responden termasuk dalam kategori prestasi belajar tinggi dengan frekuensi 70%, 8 responden dalam kategori prestasi belajar cukup dengan frekuensi 26,67%, dan 1 responden dalam kategori prestasi belajar rendah dengan frekuensi 3,33%. Dapat diinterpretasikan bahwa dari 30 responden, 21 responden memiliki nilai yang tinggi atau tuntas belajar dengan nilai di atas nilai KKM sekolah sebesar 75. Sementara itu terdapat 8 siswa dengan nilai antara 46 – 73 dalam kategori cukup baik dan 1 siswa dengan nilai di bawah 45 atau belum tuntas belajar. Berdasarkan analisis data di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar termasuk dalam kategori tinggi dengan frekuensi 70%.

Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian prestasi siswa sangat baik. Hal ini terlihat dari hasil tes prestasi belajar siswa dimana sebagian besar siswa mendapatkan nilai yang baik sesuai dengan yang diharapkan. Pencapaian prestasi dalam belajar matematika merupakan pencapaian hasil dengan kemampuan yang ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperoleh dari belajar dengan waktu tertentu. Prestasi belajar ini dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian.

Sutratinah Tirtonegoro (1984) mengatakan bahwa prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk symbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat

69

mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap siswa dalam periode tertentu. Sedangkan menurut Slameto (1988:30) Prestasi belajar dapat disebut juga sebagai tes hasil belajar yang merupakan sekelompok pertanyaan atau tugas yang harus dijawab ataudiselesaikan oleh siswa secara mandiri dengan tujuan untuk mengukur kemajuan belajar siswa.

Dokumen terkait