Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 pakan perlakuan dengan 3 ulangan. Seluruh data yang diperoleh diolah menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS 16.0.
11
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Penggunaan ragi pada pakan uji dengan kadar berbeda, yaitu 0% ragi bir (kontrol), 3% ragi bir, 6% ragi bir, dan 3% bioyeast yang diberikan selama 40 hari, menunjukkan pertumbuhan ikan mas. Hal ini ditandai dengan peningkatan biomassa ikan mas pada setiap perlakuan. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.
Keterangan: Huruf yang berbeda pada grafik menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (p<0,05).
Gambar 1. Peningkatan biomassa rata-rata ikan mas yang diberi pakan perlakuan ragi bir dengan kadar berbeda (0% ragi bir, 3% ragi bir, 6% ragi bir dan 3%bioyeast) setelah dipelihara selama 40 hari.
Peningkatan biomassa ikan mas di Gambar 1 menunjukkan hasil yang tidak berbeda secara signifikan pada setiap perlakuan. Perlakuan ragi bir 6% memiliki nilai peningkatan yang paling besar dibandingkan perlakuan lainnya yaitu sebesar 81%. Kemudian untuk perlakuan lainnya, yaitu kontrol, 3% ragi bir, dan 3% bioyeast secara berturut-turut terjadi peningkatan biomassa ikan sebesar 56%, 44%, dan 71%. 115,28 117,49 112,69 114,75 179,80 169,41 204,43 196,57 0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 K 3%RB 6%RB 3%BY B io m a sa a r a ta -r a ta ( g ) Perlakuan awal pemeliharaan akhir pemeliharaan a a a a a a a a
Tabel 5. Jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein (RP), retensi lemak (RL), laju pertumbuhan harian (LPH), efisiensi pakan (EP), dan tingkat kelangsungan hidup (TKH) ikan mas selama 40 hari masa pemeliharaan
Parameter Uji Perlakuan
K 3% RB 6% RB 3% BY JKP (g) 201,59±6,6a 190,11±6,48a 205,88±9,06a 195,78±30,53a RP (%) 12,72±3,74a 10,87±2,21a 17,14±2,64a 18,77±6,57a RL (%) 9,53±2,84a 10,68±2,15a 19,76±2,43b 20,18±5,54b LPH (%) 1,10±0,25a 1,35±0,28a 1,67±0,06a 1,44±0,35a EP (%) 38,03±11,74a 40,48±8,62a 50,68±0,89a 43,72±11,94a TKH (%) 86,67±17,64a 84,45±3,85a 93,33±6,67a 95,56±7,7a Keterangan: Nilai yang tertera merupakan nilai rata-rata ± standar deviasi. Huruf superskrip di belakang nilai
standar deviasi yang berbeda pada setiap baris menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (p<0,05).
Tabel 5 menunjukkan penggunaan ragi bir dan bioyeast pada pakan dengan dosis yang berbeda memberikan hasil yang tidak berbeda secara signifikan terhadap perlakuan kontrol (0% ragi bir) pada parameter jumlah konsumsi pakan, retensi protein, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup. Sedangkan penambahan dosis 6% ragi bir dan 3% bioyeast memberikan hasil yang berbeda secara signifikan dibandingkan kontrol (0% ragi bir) pada parameter retensi lemak. Uji statistik disajikan pada Lampiran 4.
Akumulasi kelangsungan hidup dihitung 10 hari pasca uji tantang. Persentase tingkat kematian ikan per hari pasca infeksi A. hydrophila yang diamati selama 10 hari dapat dilihat pada Gambar 2. Tingkat kelangsungan hidup ikan di hari ke-10 pasca infeksi dapat dilihat pada Gambar 3. Sedangkan jumlah kematian ikan per hari setiap ulangan disajikan dalam Lampiran 5.
0,00 13,33 40,00 46,67 50,00 6,67 3,33 6,67 3,33 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 T in g k a t k em a ti a n (% )
Hari pasca infeksi
K+ K-3%RB 6%RB 3%BY
Keterangan : Huruf ya (p<0,05). Gambar 3. Tingkat kela
hydrophila.
Gejala klinis yan A. hydrophilapada ikan berbagai bagian tubuh busung perut (Gambar 4 hydrophila yaitu ikan m Ikan kontrol negatif ya berupa tidak nafsu maka sudah terlihat normal d Jumlah ikan yang menga
50 17,32 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 K+ T in g k a t K e la ng sung a n H id up (%) a b b b b
yang berbeda pada grafik menunjukkan pengaruh yang berbeda ny
elangsungan hidup ikan mas di hari ke-10 pasca a.
ang ditimbulkan pada ikan yang mati akibat infek an mas yaitu munculnya warna kemerahan (hipere
h ikan, seperti perut, operkulum dan pangkal r 4). Gejala awal yang muncul saat ikan terserang mas mulai tidak mau makan dan berada di perm
yang disuntikkan PBS hanya menunjukkan ge akan selama dua hari. Pada hari ketiga, ikan kont
l dan bisa merespon pakan yang diberikan den galami gejala klinis dapat dilihat pada Tabel 6.
32 100 0,00 93,33 5,77 93,33 5,77 96,67 K- 3%RB 6%RB 3%B Perlakuan a b b b nyata ca infeksi A. feksi bakteri eremia) pada al sirip dan ng infeksiA. rmukaan air. gejala awal ntrol negatif dengan baik. ,67 5,77 3%BY a b b b b
15 Keterangan: (a), (b), (c) dan (d) yaitu kemerahan (hiperemia) pada sirip dada, sirip perut, operculum dan
sirip ekor, (e) busung perut.
Gambar 4. Gejala klinis ikan mas pasca infeksi bakteriA. hydrophila. Tabel 6. Persentase ikan mati yang mengalami gejala klinis hiperemia dan busung
perut
Perlakuan
Gejala klinis (%) Tubuh memerah
(Hiperemia) Busung perut Kontrol Positif 40,00±10,00 23,33±15,28
Kontrol Negatif 0,00±0,00 0,00±0,00
3% Ragi Bir 6,67±5,77 6,67±5,77
6% Ragi Bir 3,33±5,77 3,33±5,77
3%Bioyeast 3,33±5,77 0,00±0,00
Berdasarkan Tabel 6 terlihat bahwa ikan pada perlakuan kontrol positif menunjukkan gejala klinis yang jauh lebih banyak yaitu 40,00±10,00% menunjukkan hiperemia dan 23,33±15,28% busung perut. Sedangkan ikan di perlakuan lainnya (3% ragi bir, 6% ragi bir dan 3% bioyeast) hanya sedikit yang menunjukkan gejala tersebut; bahkan perlakuan kontrol negatif tidak menunjukkan gejala klinis.
3.2 Pembahasan
Penambahan ragi bir dengan dosis yang berbeda pada pakan ikan mas menunjukkan adanya peningkatan kinerja pertumbuhan. Pertumbuhan ikan uji terlihat secara kuantitatif dengan adanya penambahan bobot tubuh. Penambahan bobot tersebut menunjukan bahwa ikan mampu mencerna pakan dan menyerap semua nutrien yang terkandung dalam pakan dan mengkonversinya menjadi energi. a d e c b
Persentase penambahan biomassa ikan meningkat seiring dengan lamanya waktu pemeliharaan. Berdasarkan hasil yang didapatkan dalam penelitian ini, biomassa akhir yang dihasilkan pada semua perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Perlakuan 6% ragi bir memiliki nilai peningkatan yang paling tinggi dibandingkan perlakuan lainnya yaitu sebesar 81%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar dosis ragi yang ditambahkan maka biomassa akhir yang dihasilkan akan semakin besar pula, selama dosis ragi bir masih dalam batas toleransi ikan tersebut. Hasil penelitian Li dan Gatlin (2003) memperlihatkan bahwa suplementasi ragi bir sebesar 1% dan 2% pakan dapat menghasilkan biomassa akhir lebih besar dibandingkan dengan kontrol pada ikan striped bass.
Peningkatan biomassa rata-rata pada penelitian ini sejalan dengan peningkatan laju pertumbuhan harian. Laju pertumbuhan harian tidak menunjukkan hasil yang berbeda secara signifikan pada semua perlakuan. Namun, hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis ragi yang diberikan makan laju pertumbuhan hariannya semakin besar pula. Pertambahan biomassa dan laju pertumbuhan harian yang tinggi pada perlakuan 6% ragi bir, diikuti dengan jumlah konsumsi pakan yang paling tinggi pada perlakuan tersebut.
Jumlah konsumsi pakan pada semua perlakuan menunjukkan nilai yang tidak berbeda secara signifikan terhadap perlakuan kontrol. Hal ini menandakan bahwa pakan memiliki nilai palatabilitas yang sama. Sesuai dengan hasil penelitian Olivia-Tales dan Goncalves (2001) bahwa penambahan ragi bir hingga 50% pada ikan sea bass tidak mempengaruhi palatabilitas pakan atau jumlah konsumsi pakan. Namun, nilai jumlah konsumsi pakan tertinggi yaitu pada perlakuan 6% ragi sebesar 205,88±9,06 g.
Tingginya jumlah konsumsi pakan diduga karena ragi bir mengandung mannan, nukleotida dan β glucan sebagai substrat mikro flora dalam usus sehingga dapat merangsang bakteri usus untuk memproduksi enzim pencernaan secara intensif. Hal ini didukung dengan Ghoshet al. (2005) bahwa penambahan ekstrak ragi pada pakan benih ikan rohu Labeo rohita hingga 0,2% dapat memproduksi enzim ekstraseluler (protease dan amilase) oleh mikroflora usus dan membantu dalam pemanfaatan pakan lebih baik. Sehubungan dengan hasil Ghosh
17 et al. (2005), maka pada perlakuan 6% ragi bir, pencernaan ikan bekerja lebih baik, sehingga penyerapan protein dan energi dari pakan untuk tumbuh menjadi lebih besar, pada gilirannya laju pertumbuhan menjadi lebih baik. Manoppo (2011) menyebutkan bahwa peningkatan pertumbuhan udang vaname terjadi karena nukleotida dan β–glukan yang ditambahkan dalam pakan dapat meningkatkan nafsu makan sehingga efisiensi dan pengambilan pakan meningkat.
Retensi protein secara tidak langsung menggambarkan jumlah protein pakan yang dikonsumsi dan digunakan untuk pertumbuhan dan membangun jaringan protein tubuh (Halver, 1989). Nilai retensi protein pada penelitian tidak berbeda secara signifikan pada semua perlakuan yakni berkisar antara 10,87-18,77% (Tabel 5). Hasil retensi protein yang tidak berbeda tersebut diduga bahwa pada ikan perlakuan, protein yang tersimpan di dalam tubuh lebih banyak digunakan untuk tumbuh dibandingkan untuk kegiatan aktivitas dan metabolisme.
Lemak merupakan penyumbang energi paling besar dibandingkan dengan energi yang dikandung protein dan karbohidrat. Nilai retensi lemak yang diperoleh pada penelitian berkisar 9,53-20,18%. Hasil penelitian menunjukkan nilai retensi lemak pada perlakuan 6% ragi bir dan 3%bioyeastmemberikan nilai yang berbeda secara signifikan dari perlakuan lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa sumbangan lemak yang berasal dari pakan banyak disimpan dalam tubuh sementara pada perlakuan lainnya (0% dan 3% ragi bir) lemak lebih banyak digunakan untuk kegiatan metabolisme sehingga lemak yang tersimpan didalam tubuh lebih sedikit.
Efisiensi pakan menggambarkan banyaknya pakan yang dikonsumsi ikan selanjutnya digunakan untuk pertumbuhan ikan. Efisiensi pakan yang diperoleh pada penelitian ini berkisar 38,03-50,68%. Nilai tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada semua perlakuan. Akan tetapi, penambahan 6% ragi bir memberikan nilai efisiensi pakan sebesar 50,68±0,89%. Ini mengandung makna bahwa 50,68% dari pakan yang dikonsumsi oleh ikan digunakan sebagai energi untuk pertumbuhannya, sedangkan sisanya 49,32% merupakan limbah yang terbuang. Di sisi lain, pada nilai efisiensi pakan 38,03±11,74% (0% ragi bir), maka limbah yang dihasilkan adalah sebesar 61,97%. Dengan demikian, semakin tinggi nilai efisiensi pakan, maka limbah yang dihasilkan semakin rendah.
Semakin tinggi limbah pada media pemeliharaan dalam jangka panjang, dapat menyebabkan ikan stres, kerusakan insang atau jaringan (Charo-Karisa et al., 2006) bahkan kematian pada ikan.
Tingkat kelangsungan hidup ikan mas pada penelitian menunjukkan hasil yang tidak berbeda secara signifikan pada semua perlakuan (Tabel 5). Hal ini menandakan bahwa ragi bir tidak memberikan pengaruh yang negatif pada kelangsungan hidup dan dapat digunakan sebagai sumber protein dalam pakan ikan mas. Didukung dengan kondisi media perairan selama pemeliharaan dijaga melalui penyiponan dan penggantian air setiap hari untuk menciptakan kondisi air yang baik bagi ikan. Data kualitas air dapat dilihat pada Tabel 4.
Bakteri uji yang digunakan untuk uji tantang sudah dipastikan adalah bakteriA. hydrophila. Hasil dari LD50menunjukkan bakteriA. hydrophiladengan kepadatan 106 cfu/mℓ dapat mematikan 50% dari populasi ikan mas. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri dengan kepadatan 106cfu/mℓlayak digunakan untuk uji tantang. Uji tantang ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari pakan perlakuan yang diberikan terhadap kelangsungan hidup dan gejala klinis pada ikan yang ditimbulkan oleh infeksi bakteriA. hydrophila.
Perlakuan kontrol negatif tidak menunjukkan gejala klinis. Perlakuan ini hanya mengalami stres selama dua hari pasca infeksi dan tidak terjadi kematian. Hal ini dikarenakan, pada perlakuan ini ikan tidak diinjeksi dengan menggunakan bakteri A. hydrophila melainkan menggunakan PBS. Sehingga kelangsungan hidup yang dihasilkan 100±0.00% (Gambar 3) sampai akhir pemeliharaan. Pada perlakuan kontrol positif, terjadi kematian sangat tinggi pada hari ke-2 sebesar 40%, kematian mencapai 50% hingga hari ke-6 dan selanjutnya tidak ditemukan kematian hingga hari ke-10.
Ikan mas yang mati pasca infeksi bakteri pada perlakuan kontrol positif mengalami gejala klinis seperti munculnya warna kemerahan (hiperemia) dengan persentase sebanyak 40% pada berbagai bagian tubuh ikan seperti perut, operkulum dan pangkal sirip, serta busung perut sebanyak 23,33% (Gambar 4 dan Tabel 6). Hal ini sesuai dengan Swann dan White (1989), yang menyatakan bahwa ikan yang terinfeksi dengan A. hydrophila memiliki gejala klinis seperti adanya kematian mendadak pada ikan, kurangnya nafsu makan, kelainan renang,
19 insang berwarna pucat, tubuh kembung, dan ulser pada kulit. Selain itu Maulinaet al. (2006), menyatakan bahwa ikan yang terinfeksi A. hydrophila mengalami gejala klinis berupa sirip ekor, sirip dada, dan sirip perut rusak, ikan lemah, dan pada permukaan tubuh terdapat bagian-bagian yang berwarna merah (hiperemia). Gejala yang timbul dikarenakan tidak adanya imunostimulator yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Sehingga kelangsungan hidup yang dihasilkan hanya sebesar 50,00±15,72% (Gambar 3).
Perlakuan 3% ragi bir, 6% ragi bir dan 3%bioyeast tingkat kematian dan persentase gejala klinis yang ditimbulkan jauh sangat rendah dibandingkan dengan perlakuan kontrol positif yakni sebesar 3,33-6,67%. Kelangsungan hidup ikan pasca infeksi pada perlakuan tersebut menunjukkan nilai cukup tinggi yakni dengan nilai berturut-turut sebesar 93,33±5,77%, 93,33±5,77%, dan 96,67±5,77% (Gambar 3). Hal ini diduga pakan ragi bir maupun bioyeast mengandung imunostimulator seperti asam nukleat dan β glukan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh non spesifik ikan.
Siwicki et al. (1994), menyatakan bahwa ragi bir Saccharomyces cerevsiae adalah produk dari industri pembuatan bir yang mengandung berbagai senyawa imunostimulan sepertiβglucan, asam nukleat, mannan oligosakarida dan sedikit kitin. Senyawa imunostimulan tersebut telah terbukti untuk meningkatkan respon kekebalan tubuh.
Mekanisme kerja β glucan dalam ragi yaitu melalui fagositosis dengan cara mengaktifkan sel-sel darah putih, seperti makrofag, granulosit dan monosit, bertanggung jawab untuk pertahanan terhadap infeksi, dan membantu memperbaiki jaringan yang rusak. β glucan menginduksi sekresi molekul sitokin yang merangsang pembentukan sel darah putih baru (Raa, 1996dalamAndewset al., 2011). Induksi diduga karena β glucan dikenali oleh reseptor yang terdapat pada permukaan sel-sel fagosit. Sehingga sel fagosit menjadi lebih aktif dalam melakukan fagositosis terhadap patogen atau partikel asing (Manoppo, 2011).
Penelitian ini menunjukkan bahwa pada dosis ragi bir 3% dan 6% dalam pakan, masih memberikan pengaruh daya tahan tubuh yang optimal atau belum terjadi kelebihan dosis yang dapat menyebabkan immunosuppression. Sehingga tubuh ikan mas masih bertahan terhadap infeksi bakteriA. hydrophila, persentase
kelangsungan hidup ikan tinggi dan kematian dapat menurun secara signifikan. Hal ini sesuai dengan Sahan dan Duman (2010) yang menyatakan bahwa pemberianβ glucandengan dosis yang terlalu tinggi menyebabkan over dosis dan immunosupression pada ikan, sehingga akan menurunkan sistem kekebalan non spesifik ikan.
21
IV. KESIMPULAN
Penambahan ragi bir di dalam pakan memberikan pengaruh yang sama dengan kontrol terhadap kinerja pertumbuhan ikan mas. Namun berdasarkan jumlah limbah yang dihitung dari nilai efisiensi pakan, penambahan 6% ragi bir adalah perlakuan terbaik. Di sisi lain, penambahan ragi bir dan bioyeast pada seluruh kadar yang diujikan mampu menekan kematian ikan akibat infeksi bakteri Aeromonas hydrophila.