BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS
F. Analisis Data Foto VI
Gambar 6. Foto Patung Jenderal Sudirman
Sumber: http://www.antarafoto.com/fotocerita/v1441360511/menjaga- indonesia-dari-pulau-ndana
Caption:
Patung Jendral Sudirman di Pulau Ndana, Rote Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
1. Makna Denotasi
Sebuah patung berwarna hitam yang menjulang tinggi dengan beberapa keterangan yang terdapat di bawahnya. Patung dalam foto ini adalah sosok Jendral Sudirman yang merupakan Panglima Tertinggi Tentara Nasional Indonesia, dan juga menjadi salah satu jendral bintang lima. Patung ini terlihat di tengah sebuah lapangan, dan pagar besi yang sedikit berkarat. Dengan latar belakang birunya langit dan sedikit awan, di sebelah kanan terdapat sebuah bangunan. Di belakang patung juga terlihat sebuah bukit.
2. Makna Konotasi
Patung tersebut adalah sosok seorang panglima besar TNI yaitu Jendral Sudirman, ini diperkuat dari keterangan dari data foto VI. Angle dalam foto ini menyiratkan akan bagaimana kekuatan dari seorang panglima besar TNI. Sudirman merupakan sosok pahlawan yang menjadi tauladan bagi seluruh prajurit TNI. Foto tentang Patung Jendral Sudirman menyiratkan makna perjuangan tiada akhir bagi maasyarakat Indonesia, prajurit TNI untuk memertahankan kemerdekaan dan wilayah NKRI.
Pagar yang sedikit berkarat dalam foto ini menyiratkan bahwa kegigihan perjuangan para pahlawan dalam memertahankan wilayah kedaulatan Indonesia dari tangan para penjajah pada masa lalu.
Pada 2010 pemerintah melakukan pembangunan patung Jenderal Sudirman yang dibangun di atas taman seluas satu hektare. Patung ini diresmikan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso pada 2 Agustus 2010. Bupati Rote Ndao, Lens Haning menyatakan, dengan adanya Patung Sudirman di tengah-tengah pulau Ndana, memberikan bukti bahwa tidak akan ada klaim dari pihak manapun untuk merebut pulau itu dari NKRI.12
Sosok Sudirman dengan segala kegigihan dan keberanianya dalam menghadapi musuh untuk membela dan mempertahankan tanah air Indonesia dari tangan para penjajah inilah yang diharap menjadi motivasi bagi para prjurit yang bertugas di Pulau Ndana.
12
http://www.batasnegeri.com/pulau-ndana-pulau-terluar-bagian-selatan-indonesia/ (diakses pada 14 April 2017)
3. Makna Mitos
Jendral Sudirman merupakan sosok pahlawan nasional yang menjadi tauladan bagi para prajurit TNI di masa kini. Dia lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga, tepatnya di Dukuh Rembang. Sang Jendrak lahir dari sosok ayah yang bernama Karsid Kartowirodji, dan seorang ibu yang bernama Siyem. Ayah dari Sudirman ini merupakan seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan ibunya merupakan keturunan Wedana Rembang. Sudirman dirawat oleh Raden Tjokrosoenarjo dan istrinya yang bernama Toeridowati.13
Hingga pada 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Sudirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff.
Dengan ditandu, Sudirman berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya Sang Jendral Bintang Lima tersebut selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.
13 Hermansyah Sihombing, Sejarah - Biografi Jendral Soedirman,
https://www.academia.edu/10887779/Biografi_dan_Sejarah_Perjuangan_Jendral_Sudirman?auto= download (diakses pada 14 April 2017)
Surat kabar harian Yogyakarta, Kedaulatan Rakjat, menulis bahwa Indonesia telah kehilangan seorang "pahlawan yang jujur dan pemberani". Tokoh Muslim Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah, menggambarkan sosok Soedirman sebagai "lambang dari kebangunan jiwa pahlawan Indonesia".14
Hal ini menunjukan bahwa para prajurit yang bertugas menjaga perbatasan di pulau terluar, seperti di Pulau Ndana harus memiliki semangat berjuang seperti Jendral Sudirman. Mereka harus tetap menjalankan tugasa walaupun dalam keadaan yang serba terbatas.
14 Hermansyah Sihombing, Sejarah - Biografi Jendral Soedirman,
https://www.academia.edu/10887779/Biografi_dan_Sejarah_Perjuangan_Jendral_Sudirman?auto= download (diakses pada 14 April 2017)
G. Analisis Data Foto VII
Gambar 7. Foto Prajurit Mengantre Mandi
Sumber: http://www.antarafoto.com/fotocerita/v1441360511/menjaga- indonesia-dari-pulau-ndana
Caption:
Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Pengamanan Pulau terluar XVII menunggu antrean kamar mandi di Pulau Ndana, Rote Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
1. Makna Denotasi
Pada foto ini terdapat sebuah bilik dari kayu berwarna hijau , dengan sebuah pintu yang berwarna hijau juga, di dalam bilik tersebut dilihat ada sepasang kaki, sandal berwarna kuning, sebuah dan tampak terlihat basah pada bagia lantainya. Hal tersebut menunjukan bahwa bilik tersebut menunjukan sebuah kamar mandi.
Di samping atau pada bagian kiri foto terdapat sepasang sepatu berwarna hitam, dan nampak juga sebuah tulisan pada kertas warna
putih menempel pada bilik tersebut. Di belakang bilik tersebut terdapat sebuah pohon besar. Di bagian kanan belakang terlihat agak samar seorang sedang duduk di bawah pohon menghadap ke arah kamera. Dari caption foto menerangkan bahwa Prajurit TNI menunggu antrean kamar mandi.
2. Makna Konotasi
Bilik tersebut bisa menyiratkan sebuah kamar mandi jika melihat objek yang ada pada sekelilingnya. Hal tersebut penulis melihat dari sepasang kaki yang tidak beralas, lantai bagian dalam bilik yang terlihat basah sampai mengalirkan air ke luar bilik, dan sebuah benda warna biru yang terlihat dari bawah pintu nampak seperti bejana atau wadah air. Sepatu hitam di samping bilik tersebut juga menandakan sepatu seorang prajurit TNI, yang sedang berada di dalamnya.
Caption foto juga memperkuat bahwa foto tersebut menggambarkan aktivitas seorang Prajurit yang sedang mandi, sementara di belakang nampak seseorang sedang duduk, caption juga menjelaskan bahwa orang tersebut sedang menunggu antrean untuk mandi. Hal tersebut bisa dilihat dari gesture orang tersebut yang terlihat seperti orang menunggu.
Pohon besar menjadi peneduh dari teriknya matahari di Pulau Ndana ini bisa dilihat pada bagian belakang foto yang nampak cahaya matahari yang begitu terik.
Dalam tugasnya mengamankan dan menjaga Pulau Ndana para prajurit yang tergabung dalam Satgas Pengamanan Pulau terluar XVII
juga beraktivitas sehari-hari seperti orang pada umumnya yaitu, mandi dan mencuci. Kamar mandi yang sederhana dan dengan jumlah terbatas menggambarkan bagaimana keterbatasan kehidupan dari para prajurit yang bertugas di sana. Hal ini menunjukan sikap kerelaberkorbanan para prajurit TNI yang menjaga kedaulatan dan wilayah teritorial Indonesia
3. Makna Mitos
Dari makna konotasi bisa didapatkan mitos bahwa para prajurit yang bertugas harus bersedia dan menerima di manapun mereka ditugaskan. Mereka juga harus menerima keadaan dari wilayah tempat mereka ditugaskan, karena pada dasarnya menjaga kedaulatan dan memertahankan wilayah Indonesia merupakan tugas pokok dari TNI. Ini sesuai dengan apa yang menjadi tugas pokok dari Tentara Nasional Indonesia, yaitu:15
Sebagai bagian dari TNI, tugas pokok TNI AD adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.
H. Analisis Data Foto VIII
Gambar 8. Foto Prajurit Menyuling Air
Sumber: http://www.antarafoto.com/fotocerita/v1441360511/menjaga- indonesia-dari-pulau-ndana
Caption:
Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Pengamanan Pulau terluar XVII mendapat giliran piket menyuling air untuk MCK di Pulau Ndana, Rote Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.
1. Makna Denotasi
Seorang dengan kepala plontos sedang menunangkan air ke dalam wadah yang diletakan pada sebuah pohon, dari wadah tersebut . Di depannya sebuah gerobak yang di atasnya terisi tiga buah drum berwarna biru yang salah satunya dimasukan selang ke dalam drum tersebut. Dari caption foto ini tertulis bahwa prajurit tersebut sedang menyuling air untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK) mereka.
2. Makna Konotasi
Dari perpaduan foto dan caption ini menyiratkan bahwa kehidupan yang serba terbatas di Pulau Ndana. Demi mendapatkan air untuk keperluan sehari-hari mereka, para prajurit secara bergiliran bertugas menyuling air laut untuk dijadikan air tawar. Ini menandakan kehidupan yang serba terbatas, mereka rela melakukan usahas lebih keras untuk mendapatkan air bersih dengan cara menyulingnya untuk dipakai keperluan sehari-hari.
Hal tersebut menggambarkan sikap rela berkorban untuk menyuling air laut menjadi air tawar, walaupun bukan hanya untuk kebutuhan pribadi semata. Menyuling air adalah kegiatan untuk memperbaiki kualitas air agar dapat digunakan untuk keperluan sehari- hari, prinsip penyulingan air laut menjadi air yang tawar dan layak untuk diminum sama seperti halnya siklus air. Alat yang diperlukan untuk menyuling yaitu wadah untuk tempat menaruh air yang ingin disuling, selang, dan kompor untuk memanaskan air tersebut.
Seperti kata Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia yang menjelaskan bahwa, sikap rela berkorban adalah kesediaan dan keikhlasan memberikan sesuatu yang dimiliki untuk orang lain, walaupun akan menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri.16
3. Makna Mitos
Air merupakan sumber kehidupan, yang memiliki banyak fungsi dalam hidup ini. Selain untuk minum air juga dipakai untuk
menunjang kegiatan sehari-hari. Bahkan pada 2016 tema Hari Air Sedunia ialah “Water and Jobs atau Air dan Pekerjaan”. Dikutip dari
laman National Geographic Indonesia bahwa, Hari ini, hampir setengah dari jumlah pekerja di dunia sebesar 1,5 miliyar orang bekerja di dalam pekerjaan yang memiliki hubungannya dengan air dan hampir seluruh pekerjaan bergantung pada air. Namun, dari jutaan orang yang bekerja di dalam bidang yang memiliki kaitannya dengan air sering kali tidak mendapatkan pengakuan atau perlindungan dari hak dasar sebagi buruh.17
Air adalah anugrah sekaligus petaka. Penyair Ismaiil Marzuki merangkumnya dalam syair “Kulihat ibu pertiwi/ Sedang bersusah hati/ Air matamu berlinang Mas intanmu terkenangHutan gunung sawah lautan. Simpanan kekayaan. Kini ibu sedang lara/Merintih dan berdoa”
Syair tersebut mengandung makna tersirat bahwa kekayaan Indonesia ada di setiap tempat. hutan, gunung, sawah lautan. Dan tempat-tempat tersebut tak pernah nihil akan air. Sejatinya begitu. Di sisi lain, air menjadi simbol kepedihan sebuah negara yang tengah dalam kondisi kesusahan. Bisa jadi, Ismail Marzuki menggambarkan kondisi air di negeri ini dengan air juga.
I. Interpretasi
Setelah melakukan analisis delapan dari 11 foto cerita jurnalistik Menjaga Indonesia dari Pulau Ndana. Foto cerita tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan para prajurit TNI yang menjaga perbatasan RI dengan negara Australia yakni Pulau Ndana. Selain itu, penulis menangkap sikap patriortisme yang ditunjukan oleh prajurit yang tergabung dalam Satgas Pengamanan Pulau terluar XVII yaitu sikap keberanian, kesedian, keikhlasan, kesetiakawanan sosial dan rela berkorban.
Hal tersebut menggambarkan bagaimana perjuangan prajurit TNI dalam menjaga pulau terluar seperti Pulau Ndana yang tidak. Mereka jauh dari keluarga, sanak saudara, dan kamupung halaman, inilah salah satu yang mereka korbankan. Jauh dari hingar bingar dan gemerlap lampu kota, para prajurit TNI hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan fasilitas, mereka rela meninggalkan semua itu demi menjalakan tugas negara yakni menjaga wilaya teritorial Indonesia.
Dengan ikhlas mereka bahu membahu mengerjakan kegiatan sehari-hari seperti, memasak, menyuling air, sertu tugas utama mereka yakni berpatroli keliling pulau.
Dari analiasis foto cerita ini menunjukan bahwa sebuah foto menjadi medium penyampaian pesan yang yang efektif. Efektif dalam hal memberikan segala yang tidak dapat diperoleh orang secara langsung. Hal ini juga merupakan karakteristik dari foto jurnalistik. Seperti yang dikutip Alwi dalam bukunya Foto Jurnalistik, Frank P. Hoy menjelaskan ada
delapan karaketer foto jurnalistik yang di antaranya, yaitu:18 Foto jurnalistik adalah komunikasi melalui foto. Komunikasi yang dilakukan akan mengekspresikan pandangan pewarta foto terhadap suatu subjek, tetapi pesan yang disampaikan bukan merupakan ekspresi pribadi, dan foto jurnalistik adalah komunikasi dengan orang banyak (mass audiences). Berati pesan yang disampaikan harus singkat dan segera disegera diterima orang yang beraneka ragam.
Melalui foto cerita, khalayak diajak untuk melihat, menikmati, dan berimajinasi lebih dalam mengenai sebuah peristiwa. Dari rangkaian foto cerita jurnalistik berjudul Menjaga Indonesia dari Pulau Ndana didapat makna lain dari sekadar apa yang bisa dilihat dengan mata. Penulis membaca bahwa foto ini memberikan informasi kepada masyarakat bagaimana sikap patriotisme dari para prajurit TNI yang menjaga kedaulatan dan wilayah Indonesia di pulau paling selatan yaitu Pulau Ndana.
87 PENUTUP A. Kesimpulan
Kesimpulan penelitian ini yang berjudul Makna Patriotisme pada Foto Cerita Jurnalistik, yaitu yang didapat dari foto cerita jurnalistik berjudul Menjaga Indonesia dari Pulau Ndana karya pewarta foto Antara yang diunggah pada portal online www.antarafoto.com pada 4 September 2015.
1. Makna Denotasi, Konotasi, dan Mitos.
Dari penelitian yang menganalisis delapan dari sebelas foto ini dapat disimpulkan bahwa makna denotasi dari foto cerita jurnalistik berjudul Menjaga Indonesia dari Pulau Ndana adalah bagaimana gambaran kehidupan prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Pengamanan Pulau terluar XVII yang menjaga dan mengamankan pulau paling selatan Indonesia dari klaim negara lain.
Sementara makna konotasi dari keseluruhan rangkaian foto cerita jurnlistik tersebut ialah perjuangan para prajurit dalam menjaga kedaulataan wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia, meski dalam keterbatasan dan kesederhanaan mereka tetap melaksanakan tugas negara dengan baik. Seperti apa yang ditunjukan oleh Panglima Besar TNI Jendral Sudirman pada masa penjajahan dan pendudukan sekutu.
Yang terakhir makna mitos yang bisa disimpulkan dari foto cerita jurnalistik karya M.Agung Rajasa ini adalah nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh Jendral Sudirman diharapkan bisa menular pada setiap prajurit TNI di mana pun bertugas, khusus di Pulau Ndana yang merupakan pulau terluar di bagian selatan Indonesia. Di pulau ini dibangun patung Jendral Sudirman untuk menyutikan
semangat perjuangan dari Sang Jendral kepada para prajurit TNI yang bertugas mengamankan tapal batas negeri ini.
2. Makna Patriotisme
Secara keseluruhan penulis menyimpulkan nilai patriotisme dari foto cerita jurnalistik berjudul Menjaga Indonesia dari Pulau Ndana karya pewarta foto ANTARA M. Agung Rajasa adalah nilai keberanian, kesetiakawanan sosial dan rela berkorban. Foto cerita tersebut menggambarkan bagaimana para prajurit TNI yang mengamankan sebuah pulau paling selatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dari klaim negara tetangga. Mereka berani mempertaruhkan seluruh jiwa dan raganya untuk keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu mereka juga rela meninggalkan keluarga, anak, istri, serta kampung halaman demi menjaga sebuah pulau paling selatan di Indoensia dari gangguan asing.
B. Saran
Dari penelitian yang telah disimpulkan pada bab ini, maka adapun saran agar penelitian ini tidak berhenti pada analisis ini saja, dan dapat terus berkembang di kalangan mahasiswa progam studi jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan khalayak umum yang menyukai dunia fotografi khususnya fotografi Jurnalistik, sebagai berikut:
1. Semakin banyaknya peminat fotografi dan penelitian terhadap foto diharapkan kepada perpustakaan, baik Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi maupun Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk memperbanyak buku-buku yang berkaitan dengan fotografi apa saja, karena peminat foto tidak hanya terdapat dalam satu jenis kategori foto.
2. Analisis menggunakan metode semiotika banyak diminati oleh para mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah khususnya mahasiswa konsentrasi Jurnalistik, hal ini dilihat dari banyaknya mahasiswa yang membuat skripsi dengan metode analisis tersebut, oleh karena itu penulis memberi saran agar diadakannya mata kuliah semiotika atau materi tentang analisis semiotika di fakultas ini khususnya pada Konsentrasi Jurnalistik, minimal satu semester.
3. Diharapkan ke depannya agar menambah porsi mata kuliah yang berkaitan dengan fotografi. Tidak hanya satu semester saja, bahkan minimal dua atau tiga semester. Untuk menghasilkan calon-calon pewarta foto yang handal dan mampu bersaing dalam dunia kerja nantinya.
4. Untuk pihak Kampus khususnya Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi penulis menyarankan agar menyediakan sarana di bidang fotografi, seperti studio foto dan berbagai kelengkapannya. Mengingat meningkatnya minat fotografi di kalangan mahasiswa terlebih bagi mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik yang memang lebih spesifik mempelajari mata kuliah fotografi jurnalistik. Selain itu juga sebagai penunjang bagi mahasiswa dalam memeraktikan materi yang didapat di kelas.
A. Sumber Buku
Adjidarma, Seno Gumira. Kisah Mata, Fotografi antara Dua Subjek:Perbincangan tentang Ada, Yogyakarta: Galang Press, 2003.
Agung, Yuniadhi. Makalah Pengantar Fotografi Jurnalistik, Jakarta:T,pn, 2004.
Alwi, Audy Mirza. Foto Jurnalistik: Metode Memotret dan Mengirim Foto ke Media Massa, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2004.
Arifin, Zainal. Penelitian, Pendidikan Metode dan Paradigma Baru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012.
Bachtiar, Ray. Ritual Fotografi, Chip foto video edisi spesial.
Bahtiar, Wardi. Metodologi Penulisan Ilmu Dakwah, Jakarta: logos, 1997. Bakry, Noor Ms. Pendidikan Pancasila, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010. Barthes, Roland. Mitologi, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009.
Berger, Arthur Asa. Pengantar Semiotika: Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2010.
Berger, Arthur Asa. Tehnik-tehnik Analisis Media second Edition, Yogyakarta Universitas Atmajaya, 2000.
Bungin, Burhan. Metode Penelitian Kuantitaif, Jakarta: Kencana, 2008. Company profile Antara Foto, Galeri Foto Jurnalistik Antara.
Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif : ANALISIS DATA, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010.
Ferry, Darmawan. Dunia dalam Bingkai, cet 1, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009.
Fotomedia, Foto Jurnalistik Gabungan Foto dan Kata, April 2003
Giwanda, Griand. Panduan Praktis Belajar Fotografi, Jakarta: Puspa Swara, 2001.
Hoed, Benny H. Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya, Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI Depok, 2008.
Irons, Peter. Keberanian Mereka yang Berpendirian, Bandung : Angkasa,2003.
Irons, Peter. Keberanian Mereka yang Berpendirian, Bandung: Angkasa,2003. Isroi, Fotografi Asyik dengan Kamera Saku, Yogyakarta: C.V. ANDI OFFSET, 2013.
Maleong, Lexy J. Metodologi penelitian kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000.
Matta, Anis. Mancari Pahlawan Indonesia, Jakarta: Tarbawi Center, 2004. Matta, Anis. Mancari Pahlawan Indonesia, Jakarta: Tarbawi Center, 2004. Muhtadi, Asep Saeful. Jurnalistik Pendekatan teori dan praktek, Jakarta: logos Wacana Ilmu, 1999.
Mulyana, Deddy. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003.
Munti, Ratna Batara. Demokrasi Keintiman: Seksualitias di Era Global, Jakarta: PT LKiS Pelangi Aksara, 2005.
National Gheograpic, Ultimate Field Guide To Photography, China: National Gheograpic Society, 2009.
Patmono, SK. Teknik Jurnalistik Tuntunan Praktis untuk Menjadi Wartawan, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1996.
Piliang, Yasraf Amir. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, Bandung: Jalasutra, 2003.
Rashid, Abdul Rahim Abdul. Patriotisme: Agenda Pembinaan Bangsa, Kuala Lumpur: Utusan, 2004.
Ruslan, Rosady. Metodologi Penelitian Relation dan Komunikasi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Sumardi, I. Sandyawan. Melawan Stigma Melalui Pendidikan Alternatif, Jakarta: PT. Grasindo, 2005.
Sobur, Alex. Analisis Teks Media Suatu Analisis Untuk Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framming, Bandung: PT.Rosdakarya, 2004.
Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2009.
Soedjono, Soeprapto. Pot-Pourt Fotografi, Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti, 2007.
Soelarko, R.M. Pengantar Foto Jurnalistik, Jakarta: PT.Karya Nusantara, 1985.
Soerjoatmodjo,Yudhi. IPPHOS Indonesian Press Photo Service, Jakarta: Galeri Foto Jurnalistik Antara, 2013.
Sugiarto, Atok. Indah Itu Mudah, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2006.
Sumardi, I. Sandyawan. Melawan Stigma Melalui Pendidikan Alternatif, Jakarta: PT.Grasindo, 2005.
Sunardi, Semiotika Negativa., Yogyakarta: Kanal, 2002.
Suprapto dan kawan-kawan. Pendidikan Kewarganegaraan Kelas X SMA/MA1, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2007.
Svarajati, PHŌTAGŌGÓS: Terang-Gelap Fotografi Indonesia, Semarang: Suka Buku, 2013.
Way, Wilsen. Human Interest Photography, Jakarta: PT Alex Media Komputindo, 2014.
Wijaya, Taufan. Foto Jurnalistik dalam Dimensi Utuh, Jakarta: CV.Sahabat, 2011.
B. Sumber Jurnal
Aritonang, Keke T. Menghidupkan Kembali Semangat Nasionalisme Soe Hok Gie, (Jurnal Pendidikan Penabur - No.14/Tahun ke-9/Juni 2010
Jurnal Andita Trias Nur Azizah, PERBANDINGAN NILAI-NILAI PATRIOTISME DALAM FILM (Analisis Isi Perbandingan Nilai-Nilai Patriotisme dalam Film Sang Pencerah (2010) dan Film Sang Kiai (2013))
C. Sumber Internet
Darmadi, Kesetiakawanan Tetap Diperlukan, http : //www.suaramerdeka.com
http://kbbi.kemdikbud.go.id http://www.1000kata.com http://www.antara.net.id https://id.wikipedia.org
Masykur, Ahmad. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan,
www.elcom.umy.ac.id https://bisnis.tempo.co/
http://www.ppkkp3k.kkp.go.id http://www.batasnegeri.com http://www.antaranews.com
Hermansyah Sihombing, Sejarah - Biografi Jendral Soedirman,
https://www.academia.edu/10887779/Biografi_dan_Sejarah_Perjuangan_J endral_Sudirman?auto=download