HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
6. Analisis Data
Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Ada pun tujuan analisis data ini agar data yang terkumpul dan dianalisis tersebut mudah dipahami dan diinterpretasikan.
Untuk menganalisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik statistik analisis regresi ganda dengan 3 prediktor. Dengan teknik tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, serta dapat dipercaya kebenarannya. Seperti telah disebutkan, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar.
Selanjutnya dilakukan perhitungan untuk memperoleh r, terlebih dahulu menyiapkan tabel kerja/tabel perhitungan. Suatu garis regresi dapat dinyatakan dalam persamaan matematika. Persamaan ini disebut persamaan regresi. Agar hasil analisis regresi dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, maka analisis regresi melakukan uji prasyarat analisis regresi. Adapun uji prasyarat dari analisis regresi tersebut adalah data yang dianalisis harus berdistribusi normal.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan rumus χ2 dengan kriteria bahwa data berdistribusi normal apaila harga χ2hitung < χ2tabel pada taraf signifikansi 5%. Hasil perhitungan uji normalitas data pola asuh orang tua dan kemandirian siswa dalam belajar diperoleh hasil seperti tabel berikut :
Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Data
Variabel dk χχχχhitung χχχχtabel Kriteria X1 X2 X3 Y 3 3 3 3 2,4649 1,5019 1,9687 0,4075 7,81 7,81 7,81 7,81 Normal Normal Normal Normal Sumber : Data Hasil Penelitian
Pada taraf kesalahan 5%, dengan derajat kebebasan = 6 – 3 = 3 diperoleh nilai kritik chi kuadrat sebesar 7,81. Pada tabel 2 terlihat bahwa nilai chi kuadrat hitung untuk semua variabel lebih kecil dari 7,81, sehingga dapat disimpulkan bahwa data dari keempat variabel penelitian tersebut berdistribusi normal. Berdasarkan hasil analisis ini, maka analisis data penelitian dapat digunakan analisis regresi ganda.
2. Uji Hipotesis
Hipotesis penelitian (Ha) yang akan diuji kebenarannya dalam penelitian ini adalah “Ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006”. Untuk pengujian hipotesis secara statistik maka dirumuskan hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Tidak ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006”.
Analisis statistik yang akan digunakan untuk pengujian hipotesis tersebut adalah analisis regresi ganda. Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran diperoleh persamaan regresi Y = -5,098 + 0,933X1 + 1,739X2 + 1,040X3. Untuk menguji signifikansi dari persamaan regresi tersebut digunakan analisis varians untuk regresi. Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran diperoleh Fhitung = 43,692 > Ftabel = 2,81 untuk α = 5% dengan dk pembilang = 3 dan dk penyebut = 50 – 3 – 1 = 46. Karena Fhitung > Ftabel, hal ini menunjukkan bahwa persamaan regresi tersebut signifikansi sehingga hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Tidak ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006” ditolak dan hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi “Ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006” diterima.
Dari analisis diperoleh pula koefisien sebesar 0,7995 dan indeks determinasi sebesar 0,6392. Oleh karena itu variabel kemandirian siswa dalam belajar dapat dijelaskan oleh variabel pola asuh orang tua sebesar 63,92% sedangkan 36,09% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.
Besarnya pengaruh masing-masing pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Sumpiuh Kabupaten Banyumas dapat dilihat dari sumbangan efektif dari masing-masing variabel terikat dengan variabel bebas. Berdasarkan hasil analisis data lampiran diketahui bahwa sumbangan pola asuh otoriter terhadap kemandirian siswa dalam belajar yaitu 11,06%, untuk pola asuh demokratis berpengaruh terhadap kemandirian
siswa dalam belajar sebesar 37,03% dan untuk pola asuh permisive berpengaruh terhadap kemandirian siswa dalam belajar sebesar 15,83%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa yang memberikan pengaruh paling besar terhadap kemandirian siswa dalam belajar adalah pola asuh demokratis, kemudian diikuti oleh pola asuh permisive dan yang terakhir yaitu pola asuh otoriter.
7. Pembahasan
Di dalam keluarga, orang tua yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Keluarga tidak hanya berfungsi terbatas sebagai penerus keturunan saja. Masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian sangat besar.
Meski dunia pendidikan (sekolah) juga turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri, karena segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual serta ketrampilan diperoleh pertama kali dari orang tua. Pada siswa yang diasuh dengan pola asuh demokratis ini menunjukkan bahwa sikap siswa lebih dapat bertanggung jawab terhadap dirinya berkaitan tugas belajar yang dibebankan kepadanya.
Hal tersebut didukung oleh pernyataan Chabib Thoha (1996:111) bahwa dalam pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, dan anak diberi kesempatan untuk mengembangkan
kontrol internalnya sehingga sedikit demi sedikit berlatih untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri.
Pola asuh dengan memberikan kebebasan yang bertanggung jawab inilah, menyebabkan siswa lebih percaya dan lebih terbuka, mudah bekerjasama sehingga anak akan cenderung lebih mandiri, tegas terhadap diri sendiri, dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri. Dengan pola asuh demokratis tersebut, anak juga lebih mampu mengontrol dan mengarahkan emosinya. Mereka dapat lebih memahami kebiasaaan temannya dan bekerjasama dengan orang lain. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Tembong Prasetyo (2003:29). Sikap-sikap tersebut akan mampu mendorong anak untuk melakukan aktivitas-aktivitas belajarnya secara bertanggung jawab dan mandiri dalam upaya mendapatkan hasil belajar yang terbaik.
Berbeda dengan gaya otoriter, anak cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu. Di dalam keluarga, orang tua lebih cenderung memaksakan kehendaknya, dengan menerapkan aturan-aturan yang sifatnya kaku. Sikap-sikap tersebut dalam waktu lama akan menjadi sifat yang akan dibawanya, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang tua).
Di dalam pergaulan, muncul perilaku anak yang cukup ekstrem. Anak cenderung menjauhkan diri dari lingkungan (menarik diri secara sosial). Hal tersebut diperkuat oleh pendapat G. Tembong Prasetyo (2003:30) yang mengetahui bahwa ada pengaruh yang berbeda terhadap perilaku yang muncul pada anak. Jika anak laki-laki dengan pola pengasuhan otoriter sangat mungkin
memiliki risiko berperilaku anti sosial dan anak perempuan cenderung menjadi tergantung (dependent) pada orang tua.
Pada pola asuh otoriter yang cenderung memaksakan kehendaknya akhirnya sulit menciptakan kreativitas, menjadi penakut dan tidak percaya diri. Dari hal tersebut diperkuat oleh pendapat Siti Rahayu H dalam Chabib Toha (1996:113) yang menambahkan bahwa pola asuh otoriter pada akhirnya membuat anak tidak mandiri, karena segala sesuatunya orang tua memegang kendali (yang mengatur).
Pada pola asuh permisive yang ditandai dengan cara orang tua mendidik anak secara bebas, kontrol orang tua terhadap anak sangat lemah, juga tidak memberikan bimbingan yang cukup berarti bagi anaknya (Chabib Thoha, 1996:112).
Pernyataan tersebut di atas didukung oleh Agoes Dariyo (2004:98) yang menyatakan bahwa apa yang diberlakukan oleh anak diperbolehkan orang tua, orang tua menuruti segala keamanan anak, dari sisi negatif lain, anak kurang disiplin. Hal tersebut memungkinkan kemandirian siswa dalam belajar lebih rendah daripada yang diasuh dengan pola asuh demokratis. Namun, bila anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab, maka anak akan menjadi seorang yang mandiri.
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa pola asuh orang tua berpengaruh secara signifikan terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis regresi yang memperoleh Fhitung
menunjukkan bahwa semakin baik pola asuh orang tua dalam mendidik anaknya, maka akan semakin tinggi pula kemandiriannya dalam belajar.
Pengaruh yang diberikan oleh pola asuh orang tua otoriter (X1), demokratis (X2) dan Permisive (X3) terhadap Y (kemandirian siswa dalam belajar) secara bersama-sama ditentukan oleh Koefisien R2 atau 63,92%. Hal ini berarti bahwa meningkat/menurunnya kemandirian siswa dalam belajar ditentukan oleh pola asuh orang tua sebesar 63,92%. Sedangkan sisanya 36,08% ditentukan oleh perubahan lain yang juga berpengaruh terhadap kemandirian siswa dalam belajar.
Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh yang paling berpengaruh terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006 adalah pola asuh demokratis sebesar 37,03%. Mengacu dari hasil tersebut maka memberi gambaran kepada para orang tua siswa bahwa dengan mendidik anaknya dengan pola asuh demokratis dapat menumbuhkan kemandirian yang tinggi dalam belajar dan anak dapat memperoleh sesuatu yang positif dalam kegiatan belajarnya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Singgih D. Gunarsa (2003:84) yang menyatakan bahwa dengan pola asuh demokratis, orang tua memperhatikan dan menghargai kepentingan anak, kebebasan yang tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara kedua belah pihak, anak dan orang tua. Orang tua juga mengarahkan perilaku anak sesuai dengan norma-norma kepada anak diterangkan secara rasional dan obyektif, kalau baik perlu dibiasakan dan kalau tidak baik hendaknya tidak diperlihatkan lagi. Dengan cara demokratis ini pada anak tumbuh rasa tanggung jawab yang besar. Dari rasa tanggung jawab
yang besar itu mendasari anak memiliki kemauan untuk memiliki kemandirian dalam belajar.
Pada kenyataannya orang tua tidak dapat menggunakan salah satu pola asuh saja misalnya hanya menerapkan pola asuh demokratis, sebab untuk mendidik anak berkaitan dengan hal-hal yang prinsip dan tidak bisa ditawar-tawar lagi seperti penanaman norma-norma/aturan-aturan yang berlaku di masyarakat, penanaman ajaran-ajaran keagamaan maupun yang lainnya. Hal ini sesuai pernyataan Agoes Dariyo (2003:98), bahwa tidak ada orang tua dalam mengasuh anaknya hanya menggunakan satu pola asuh dalam mendidik dan mengasuh anaknya. Dengan demikian ada kecenderungan bahwa tidak ada bentuk pola asuh yang murni dan diterapkan oleh orang tua tetapi orang tua dapat menggunakan ketiga bentuk pola asuh tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat itu.
BAB V