ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
3. Kepala Bidang Penyelenggara
5.6 Analisis Data
SIAK merupakan salah satu bentuk program pemerintah dalam yang memanfaatkan tekhnologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi pengeloaan informasi administrasi kependudukan ditingkat penyelenggara dalam hal ini kecamatan, selanjutnya keberadaan Tenaga Pengelola SIAK di masing-masing kecamatan diharapkan dapat menangani masalah yang muncul dalam penyelanggaraan Administrasi Kependudukan. Model Komitmen kerja Tenaga Pengelola SIAK di Kecamatan Waru, Taman, Sidoarjo, dan Jabon dapat dilihat dari aspek-aspek penelitian berikut ini:
• Identification (Identifikasi)
Untuk dapat mengidentifikasi tujuanTenaga Pengelola SIAK dalam melaksanakan tugas yang diberikan, dan mengidentifikasi terhadap tujuan oleh Dinas Kependudukan Catatan Sipil, maka peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang dapat mengungkap tujuan pribadi para Tenaga Pengelola SIAK dalam menyelesaikan tugas dariDinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Berdasarkan hasil wawancara dengan 4 informan, yaitu Tenaga Pengelola SIAK di Kecamatan Waru, Taman, Sidoarjo, dan Jabon. Maka dari itu, diperoleh
jawaban yang sama yaitu bahwa keempat informan ini intinya sangat keberatan dengan tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipilmelalui peran mereka sebagai Tenaga Pengelola SIAK, karenapada dasarnya tugas mereka sendiri sebagai staffdikecamatan sudah terlalu banyak. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara sebagai berikut:
"Keterlibatan langsung memang iya soale pengelolaan administrasi kependudukan contohnya kartu keluarga memang terlibat dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Tapi, tugas yang diberikan menambah tugas untuk pengelola SIAK makane kadang-kadang temen-temen sendiri kewalahan untuk mengambil kartu keluarga yang sudah jadi di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil." (Informan DD, Tenaga Pengelola SIAK Kecamatan Sidoarjo).
Terlihat dari jawaban diatas bahwa Tenaga Pengelola SIAK DD keberatan dengan tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Ketiga informan yang lainnya pun menjawab hal yang serupa, dimana intinya mereka tidak memiliki keyakinan terhadap serangkaian nilai dan tujuan organisasi yang telah ditetapkan.Sehingga mereka terkesan tidak tulus dalam menyelesaikan tugas – tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Terlebih lagi ketiga informan tersebut secara struktural tidak memiliki hubungan dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Akibatnya, inisiatif para Tenaga Pengelola SIAK terhadap Dinas Kependudukan Catatan Sipil menjadi lemah. Hal ini juga dibuktikan dengan jawaban wawancara informan keempat yaitu sebagai berikut:
"Komitmen untuk menyikapi tugas dari Dinas mungkin tidak begitu bisa dijamin. Karena tugas dari kecamatan itu sendiri sudah banyak, dan tugas dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sering terabaikan dan baru terurus cukup lama atau setelah kerjaan dari kecamatan selesai."(Informan MK, Tenaga Pengelola SIAK Kecamatan Jabon)
Tenaga Pengelola SIAK itu sendiri mendapat perintah secara langsung dari Camat.Tugas yang diberikan oleh Kecamatan sendiri sudah sangat banyak.Walau secara struktural pun sebenarnya Tenaga Pengelola SIAK juga menganggap tugas yang diberikan oleh kecamatan juga berat.Camat pun juga merasa keberatan dengan tugas yang diberikan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil wawancara bersama keempat Camat yang juga menaungi Tenaga Pengelola SIAK tersebut bekerja. Salah satu jawaban informan sebagai berikut:
"Tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebenarnya menambah tugas-tugas yang sudah diberikan oleh kecamatan.Sehingga hal ini membuat kinerja para Tenaga Pengelola SIAK bisa saja menjadi menurun." (Informan AR, Camat Kecamatan Sidoarjo)
Tampak jelas terlihat dari jawaban diatas bahwa Camat juga mengkhawatirkan apabila tugas yang diberikan oleh kecamatan sendiri tidak bisa terselesaikan dengan baik.Apalagi ditambah dengan tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Dengan lemahnya inisiatif mengakibatkan waktu pengerjaan yang lama dan membuat pengambilan Kartu Keluarga di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menjadi sangat terlambat. Hal ini juga diperkuat oleh jawaban dari salah satu informan, sebagai berikut:
"Menurut saya, Tenaga Pengelola SIAK kurang dapat menjalankan tugas dengan baik. Dilihat dari seringnya terjadi delay waktu dalam pengurusan administrasi kependudukan yang berhubungan dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil." (Informan MM, Camat di Kecamatan Taman)
Hal-hal yang menjadi permasalah diatas juga diperkuat oleh informan kunci yaitu, Kepala Bidang Penyelenggaraan Kependudukan yang berperan
sebagai pemberi tugas untuk para Tenaga Pengelola SIAK.Beliau juga meyakini bahwa inisiatif yang rendah dari Tenaga Pengelola SIAK sendiri mengakibatkan hal yang buruk bagi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Hal ini dapat diperkuat dengan jawaban sebagai berikut:
"Kesalahan yang paling merugikan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil adalah karena keterlambatan dalam pengambilan Kartu Keluarga yang disebabkan oleh Tenaga Pengelola SIAK itu sendiri. Dan secara tidak langsung nama baik Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tidak menjadi baik di masyarakat. Wong
seharusnya dalam waktu satu hari, KK sudah ditandatangani oleh Kepala Dinas." (Informan ST, Kepala Bidang Penyelenggara Kepedudukan)
Maka dari itu dari beberapa hasil wawancara tersebut dapat dilihat bahwa identifikasi yang tercermin terhadap tujuan organisasi yaitu Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan tujuan individu yaitu Tenaga Pengelola SIAK hingga sampai saat ini belum sama. Kedua belah pihak masih menjunjung prinsip kerja masing-masing.Akibatnya, timbul permasalahan karena inisiatif atau kemauan Tenaga Pengelola SIAK dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipilmenjadi lemah dan sangat bergantung kepada Dinas dalam menyelesaikan masalah yang muncul dilapangan.Hal tersebut tentu saja akan berdampak pada tidak terpenuhinya SOP yang telah ditetapkan sehingga kredibilitas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Kabupaten Sidoarjo juga dipertaruhkan.
Menurut Kuntjoro (2002), identifikasi yang berwujud dalam bentuk kepercayaan anggota terhadap organisasi, biasanya dapat dikembangkan dengan memodifikasi tujuan organisasi atau organisasi, sehingga mencakup beberapa tujuan pribadi para anggota atau dengan kata lain organisasi memasukan pula kebutuhan dan keinginan anggota dalam tujuan organisasi atau organisasi. Hal ini
akan menumbuhkan suasana saling mendukung di antara para anggota dengan organisasi. Hal tersebut akan membuat anggota dengan rela menyumbangkan tenaga, waktu, dan pikiran bagi tercapainya tujuan organisasi, dimana hal tersebut akan memunculkan kinerja yang extra-role sebagaimana terdapat dalam teori OCB (Organizational Citizenship Behavior) yang dikemukakan oleh Organ & Batemen, dimana dikatakan bahwa: “ kondisi tersebut akan muncul ketika mereka kaum pekerja telah memberikan kontribusi mereka “di atas dan lebih dari” deskripsi kerja yang formal, yang melibatkan beberapa perilaku yang meliputi perilaku menolong orang lain, menjadi volunteer untuk tugas-tugas ekstra, patuh terhadap aturan-aturan dan prosedur-prosedur di tempat kerja”. Perilaku-perilaku seperti itu dapat menggambarkan nilai tambah karyawan dan merupakan salah satu bentuk perilaku prososial yaitu perilaku sosial yang positif, konstruktif dan bermakna membantu.
Organ (1988)mendefinisikan OCB sebagai: “Perilaku yang merupakan pilihan dan inisiatif individual, tidak berkaitan dengan sistem reward formal porganisasi tetapi secara agregat meningkatkan efektivitas organisasi. Hal ini berarti perilaku tersebut tidak termasuk ke dalam persyaratan kerja atau deskripsi kerja karyawan sehingga jika tidak ditampilkan pun tidak diberikan hukuman.”(Elanain, 2007).
Contoh perilaku yang termasuk kelompok OCB adalah membantu rekan, sukarela melakukan kegiatan ekstra di tempat kerja, menghindari konflik dengan rekan kerja, melindungi properti organisasi, menghargai peraturan yang berlaku di organisasi, toleransi pada situasi yang kurang ideal atau menyenangkan di tempat kerja, memberi saran - saran yang membangun di tempat kerja, serta tidak
membuang - buang waktu di tempat kerja (Robbins, 2001). Organizational
Citizenship Behavior (OCB) adalah sikap membantu yang ditunjukkan oleh
anggota organisasi, yang sifatnya konstruktif, dihargai oleh perusahaan tapi tidak secara langsung berhubungan dengan produktivitas individu (Bateman & Organ dalam Steers, Porter, Bigley, 1996). Menurut Organ (1988), OCB merupakan bentuk perilaku yang merupakan pilihan dan inisiatif individual, tidak berkaitan dengan sistem reward formal organisasi tetapi secara agregat meningkatkan efektivitas organisasi. Ini berarti, perilaku tersebut tidak termasuk ke dalam persyaratan kerja atau deskripsi kerja karyawan sehingga jika tidak ditampilkan pun tidak diberikan hukuman. Menurut Organ(1988), OCB terdiri dari lima dimensi:
1. Altruismyaitu perilaku membantu meringankan pekerjaan yang
ditujukan kepada individu dalam suatu organisasi;
2. Courtesyyaitu membantu teman kerja mencegah timbulnya masalah
sehubungan dengan pekerjannya dengan cara memberi konsultasi dan informasi serta menghargai kebutuhan mereka
3. Sportsmanshipyaitu toleransi pada situasi yang kurang ideal di tempat kerja tanpa mengeluh
4. Civic virtueyaitu terlibat dalam kegiatan - kegiatan organisasi dan peduli pada kelangsungan hidup organisasi
5. Conscientiousnessyaitu melakukan hal -hal yang menguntungkan
organisasi – seperti mematuhi peraturan - peraturan di organisasi. Penelitian tentang OCB di Indonesia tampaknya belum pernah dilakukan, padahal topik ini sudah banyak dibicarakan dalam pembahasan perilaku
organisasi akhir - akhir ini, bahkan telah menjadi salah satu variabel dependen utama dalam penelitian perilaku organisasi (Robbins, 2001).Alasan di atas mendasari penelitian OCB ini. Selain itu, penelitian OCB sangat penting dilakukan di Indonesia karena akhir - akhir ini banyak organisasi di Indonesia menerapkan sistem tim kerja. Disamping itu, sekarang ini terjadi banyak perubahan - perubahan dalam organisasi di Indonesia, seperti downsizing
(perampingan organisasi dengan mengurangi jumlah tenaga kerja). Kebijakan ini berdampak pada terjadinya perubahan - perubahan, misalnya, perubahan pada tugas dan kewajiban karyawan, harapan organisasi agar karyawan menjadi lebih kreatif mencari cara baru untuk memperbaiki efisiensi kerja, serta adanya perhatian serius terhadap ketidakhadiran dan keterlambatan di tempat kerja. Ketika organisasi mengurangi jumlah karyawan, organisasi itu akan lebih tergantung pada karyawan yang tetap tinggal untuk melakukan hal - hal melebihi apa yang ditugaskan mereka. Oleh karena itu, karyawan tersebut diharapkan menampilkan OCB.
• Job Involvement (Keterlibatan)
Untuk dapat mengetahui keterlibatan individu dari Tenaga Pengelola SIAK dalam bentuk kepatuhan terhadap SOP yang ditetapkan untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, maka peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan komitmen kerja para Tenaga Pengelola SIAK dalam memenuhi SOP yang telah ditentukan.Berdasarkan hasil wawancara dengan informan-informan yang ada yaitu Tenaga Pengelola SIAK di Kecamatan Waru, Taman, Sidoarjo, dan Jabon dengan lemahnya inisiatif mereka dalam melakukan tugas yang diberikan Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil juga berdampak pada keterlibatan Tenaga Pengelola SIAK dalam mematuhi SOP yang ada.
Pada dasarnya para Tenaga Pengelola SIAK sudah mengikuti SOP atau tupoksi yang telah diterapkan oleh Kecamatan.Namun, hal ini berarti bagi tugas yang diberikan oleh Camat bukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Hal ini dapat diperkuat dengan jawaban sebagai berikut:
"Untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kecamatan untuk sampai saat ini selalu ngikuti tupoksi yang dikeluarkan oleh Camat. Mau tidak mau konco-koncokudu mematuhi peraturan sing wis
ditetapkan dari atasan." (Informan IR, Tenaga Pengelola SIAK di Kecamatan Waru)
Terlihat dari jawaban diatas bahwa para Tenaga Pengelola SIAK patuh terhadap SOP yang ditetapkan oleh Kecamatan karena tugas yang diberikan turun langsung dari Camat sebagai atas mereka yang memiliki kewenangan lebih terhadap Tenaga Pengelola SIAK dibandingkan dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Jawaban tersebut juga diperkuat dengan jawaban Camat yaitu sebagai berikut:
"Menurut pandangan saya, Tenaga Pengelola SIAK di kecamatan Taman telah sangat patuh terhadap peraturan yang ada di Kecamatan.Mereka melaksanakan tugasnya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.Selama ini belum ada masalah yang menganggu jalannya aktivitas di kecamatan." (Informan MM, Camat di Kecamatan Taman)
Jawaban-jawaban tersbut tampak jelas bahwa Tenaga Pengelola SIAK hanya mengikuti SOP yang ditentukan oleh Kecamatan dan mematuhi SOP tersebut.Namun, jika ditinjau dengan jawaban dibawah ini, maka Tenaga Pengelola SIAK tidak mematuhi terhadap tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Hasil wawancara sebagai berikut:
"Sebetulnya sulit tetapi pekerjaan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dikerjakan setelah tugas dari kecamatan selesai." (Informan DD, Tenaga Pengelola SIAK di Kecamatan Sidoarjo) "Semua diselesaikan dengan baik walau sebenarnya saya sangat keberatan namun inisiatif saya untuk menjalin hubungan kerja yang baik dari Tenaga Pengelola SIAK dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Hingga sekarang masih menjadi tugas sampingan, karena tugas yang diberikan oleh kecamatan masih menjadi kepentingan yang utama." (Informan MK, Tenaga Pengelola SIAK di Kecamatan Jabon)
Dapat dilihat pada jawaban diatas adalah para Tenaga Pengelola SIAK mengerjakan tugas dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil setelah mereka menyelesaikan tugas yang diberikan kecamatan.Hal ini mengakibatkan penundaan tugas kerja yang sangat menganggu Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dalam hal urusan yang menyangkut tentang Administrasi Kependudukan. Hal ini dibuktikan dengan jawaban Informan ST sebagai informan kunci sebagai berikut:
"Sebenarnya menurut saya, semua tugas yang diberikan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil terhadap para pengelola SIAK tidak begitu berjalan dengan baik.Contohnya, untuk pembuatan keluarga SOP nya adalah sekitar 3 hari sudah selesai.Namun, para Tenaga Pengelola SIAK baru mengambilnya di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dan menyerahkan kepada warga lebih dari SOP yang ditentukan." (Informan ST, Kepala Bidang Penyelenggara Kependudukan)
Jawaban diatas membuktikan bahwa Tenaga Pengelola SIAK tidak mematuhi SOP yang ada dalam pengurusan Administrasi Kependudukan.Tenaga Pengelola SIAK tidak memiliki komitmen kerja yang baik terhadap Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dan hal ini menyebabkan hubungan kerja yang tidak baik terhadap keduanya. Hal ini diperkuat dengan jawaban dibawah ini sebagai berikut:
"Kalau keterlibatan secara personal memang sangat baik.Namun jika ditinjau dari komitmen kerja para Tenaga Pengelola SIAK mungkin tidak sangat baik. Contohnya keterlambatan dalam
mengambil kartu keluarga yang sudah selesai di proses di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Seharusnya dalam waktu 3 (tiga) hari, KK sudah dapat diambil, namun buktinya selalu ada delay waktu dan itu membuat kepuasan warga di kecamatan tidak bagus." (Informan ST, Kepala Bidang Penyelenggara Kependudukan)
Kesimpulan dari jawaban-jawaban yang telah dijelaskan adalah Tenaga penggelola SIAK hanya mengikuti perintah dari atasan langsung mereka yaitu Camat. Namun, di sisi lain kepatuhan terhadap SOP yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tidak ada. Hal ini membuktikan bahwa rendahnya komitmen kerja antara Tenaga Pengelola SIAK terhadap tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dalam bentuk kepatuhan terhadap SOP yang telah ditetapkan.
Berdasarkan teori keterlibatan yang adaketerlibatan atau partisipasi anggota dalam aktivitas-aktivitas kerja penting untuk diperhatikan karena adanya keterlibatan anggota menyebabkan mereka bekerjasama, baik dengan pimpinan atau rekan kerja.Keterlibatan kerja mempunyai definisi yaitu derajat dimana orang dikenal dari pekerjaannya, berpartisipasi aktif didalamnya, dan mengangga
Karyawan dengan tingkat keterlibatan kerja yang tinggi dengan kuat memihak pada jenis kerja yang dilakukan dan benar-benar peduli dengan jenis kerja itu, misalnya karyawan menyumbangkan ide untuk kemajuan pekerjaan, dengan senang hati memenuhi peraturan - peraturan perusahaan dan mendukung kebijakan perusahaan, dan lain - lain. Sebaliknya, karyawan yang kurang senang terlibat dengan pekerjaannya adalah karyawan yang kurang memihak kepada perusahaan dan karyawan yang demikian cenderung hanya bekerja secara
rutinitas.Dalam suatu perusahaan ataupun suatu organisasi keterlibatan kerja karyawan sangat berperan besar.
Ada beberapa teori dari berbagai sumber yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan keterlibatan kerja The degree to which a person a identifies psychologically with his or here work and the importance of work to one’s self
image (Brown, 1996) yaitu dimana seorang karyawan dikatakan terlibat dalam
pekerjaannya apabila karyawan tersebut dapat mengidentifikasikan diri secara psikologis dengan pekerjaannya, dan menganggap kinerjanya penting untuk dirinya, selain untuk organisasi. Beberapa studi yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana keterlibatan kerja dapat timbul pada para pekerja, yang akhirnya menghasilkan dua sudut pandang yang dianggap menyebabkan timbulnya keterlibatan kerja yang pertama adalah (the first : job involvement is occur when the possession of certain needs, value, or personal characteristics individuals to become more or less involved in their jobs) keterlibatan kerja akan terbentuk karena keinginan dari pekerja akan kebutuhan tertentu, nilai atau karakteristik tertentu yang diperoleh dari pekerjaannya sehingga akan membuat pekerja tersebut lebih terlibat atau malah tidak terlibat pada pekerjaannya. Yang kedua adalah (the second: job involvement as a response to specific works situation characteristics. In other words certain types of job or characteristics of the work situation influence the degree to which an individual becomed involved in his jobs) keterlibatan kerja itu timbul sebagai respon terhadap suatu pekerjaan atau situasi tertentu dalam lingkungan kerja. Dengan lain kata suatu jenis pekerjaan atau situasi dalam lingkungan kerja akan mempengaruhi orang tersebut makin terlibat atau tidak dalam pekerjaannya. Karyawan dalam keterlibatan yang tinggi
dengan kuat memihak pada jenis kerja yang dilakukan dan benar-benar peduli dengan jenis kerja itu (Robbins, 2003:91). Teori yang mendasari adalah bahwa dengan mengetahui keterlibatan kerja karyawannya dengan demikian maka para karyawan akan menjadi lebi
Faktor-faktor keterlibatan kerja dilihat dari sejauh mana seorang karyawan ikut berpartisipasi dengan seluruh kemampuannya dalam membuat peningkatan kesuksesan suatu organisasi atau perusahaan. Ada beberapa faktor yang dapat dipakai untuk melihat keterlibatan kerja seorang karyawan, dimana faktor - faktor ini telah banyak digunakan para ahli untuk studi - studi keterlibatan kerja:
1. Aktif berpartisipasi dalam pekerjaan dapat menunjukkan seorang pekerja terlibat dalam pekerjaan (Allport, 1943:60). Aktif partisipasi adalah perhatian seseorang terhadap sesuatu. Dari tingkat atensi inilah maka dapat diketahui seberapa seorang karyawan perhatian, peduli dan menguasai bidang yang menjadi bagiannya.
2. Menunjukkan pekerjaannya sebagai yang utama
Factor view it as a central life interest pada karyawan dapat mewakili tingkat keterlibatan kerjanya (Dubin, 1966:131). Apabila karyawan tersebut merasa bahwa pekerjaanya adalah hal yang utama.Seorang karyawan yang mengutamakan pekerjaannya akan selalu berusaha yang terbaik untuk pekerjaannya dan mengganggap pekerjaannya sebagai pusat yang menarik dalam hidup dan yang pantas untuk diutamakan.
3. Melihat pekerjaannya sebagai sesuatu yang penting bagi harga diri. Keterlibatan kerja dapat dilihat dari sikap seorang pekerja dalam pikiran
mengenai pekerjaannya, dimana seorang karyawan menganggap pekerjaan itu penting bagi harga dirinya (Gurin et al., 1960).Harga diri merupakan perpaduan antara kepercayaan diri dan penghormatan diri, mempunyai harga diri yang kuat artinya merasa cocok dengan kehidupan dan penuh keyakinan, yaitu mempunyai kompetensi dan sanggup mengatasi masalah - masalah kehidupan (Wahyurini,2004). Harga diri adalah rasa suka dan tidak suka akan dirinya (Robbins, 2003:128). Apabila pekerjaan tersebut dirasa berarti dan sangat berharga baik secara materi dan psikologis bagi pekerja tersebut maka pekerja tersebut akan menghargai dan akan melakukan pekerjaannya sebaik mungkin sehingga keterlibatan kerja dapat tercapai, dan karyawan tersebut merasa bahwa pekerjaan mereka penting bagi harga dirinya.
• Loyalty (Loyalitas)
Untuk dapat mengetahui loyalitas Tenaga Pengelola SIAK terhadap Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dalam konteks hubungan kerja non struktural, maka peneliti mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan loyalitas Tenaga Pengelola SIAK dalam menerima tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Berdasarkan hasil dari wawancara dengan informan-informan tersebut dapat diketahui bahwa loyalitas Tenaga Pengelola SIAK terhadap Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tidak baik. Hal ini dibuktikan dengan jawaban sebagai berikut:
"Menurut saya, Tenaga Pengelola SIAK kurang dapat menjalankan tugas dengan baik. Dilihat dari seringnya terjadi delay waktu dalam pengurusan administrasi kependudukan yang berhubungan dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil." (Informan MM, Camat di Kecamatan Taman)
Jawaban diatas membuktikan bahwa kurangnya komitmen kerja Tenaga Pengelola SIAK dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Hal ini disebabkan karena Tenaga Pengelola SIAK kurang bisa membagi waktu antara tugas kecamatan dan tugas dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Dikuatkan dengan jawaban sebagai berikut:
"Waktu mungkin ada namun selalu melebihi deadline yang diberikan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil." (Informan MK, Tenaga Pengelola SIAK di Kecamatan Jabon)
"Sebenere ngga isok.Tapi, sering disisipkan waktu untuk
mengerjakan tugas dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.Ben ndang selesai." (Informan IR, Tenaga Pengelola SIAK di Kecamatan Waru)
Jawaban dari keempat informan yang berasal dari Tenaga Pengelola SIAK di Kecamatan Waru, Taman, Sidoarjo, dan Jabon sama saja. Keempat informan tersebut menyebutkan bahwa tidak dapat memaksimalkan dalam penyelesaian tugas yang dikerjakan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Hal ini juga dikuatkan dengan jawaban dari informan kunci sebagai berikut:
"Menurut saya, hingga sampai saat ini loyalitas para Tenaga Pengelola SIAK masih diperuntukkan kepada Camat sebagai atasan langsung mereka.Kalau loyalitas terhadap Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil masih sebatas hubungan kerja