• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data Kualitatif

Dalam dokumen Tesis Konsep Manajemen Pendidikan Islam (1) (Halaman 36-41)

G. Metodologi Penelitian

2. Analisis Data Kualitatif

Setelah diperoleh data dari berbagai sumber sebagaimana tersebut di atas, maka peneliti melakukan pengolahan secara deskriptif-analitik melalui proses

12 Mahmûd Thahhân, Ushûlu at-Takhrîj wa Dirâsâtu al-Asânîd, (Kairo: Dâr al-Kutub as-Salafiyyah, 1982), h. 10. Lihat juga Ahmad bin Muhammad aú-ùiddîq al-Gimârî, Huúûlu at-Tafrîj bi Uúûli at-Takhrîj, (Riyad: Maktabah ğabariyah, 1994), h. 13.

17

pengumpulan data yang signifikan sesuai pokok permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ayat-ayat Al-Qur’an menggunakan metode tafsîr maudû‘î tentang istilah-istilah yang berkaitan dengan manajemen pendidikan. Langkah-langkah yang ditempuh dalam tafsîr maudû‘î adalah sebagai berikut:

a. Menetapkan masalah (topik/tema) yang akan dibahas.

b. Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut.

c. Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya disertai pengetahuan tentang asbâbu an-nuzûl-nya.

d. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing. e. Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna.

f. Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan.

g. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikannya dengan yang ‘âm (umum) dan yang khaú (khusus),

mutlaq-muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan,

sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara tanpa perbedaan atau pemaksaan.13

13 ‘Abdul Hay Farmawî, Bidâyah fî Tafsîri al-Maudû‘î, (Kairo: Hadarah Al-‘Arabiyyah, 1977), h. 62.

18

Sedangkan dalam penelitian hadis-hadis kutub at-tis‘ah, data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisa secara kritis dengan menggunakan pendekatan kritik hadis (takhrîj al-hadîĞ), yaitu :

a. Pendekatan kritik sanad hadis yang mengacu pada kaidah atau standar kesahihan hadis. Mengikuti tradisi peneliti hadis pada

umumnya, maka peneliti lebih menekankan pada penelitian sanad hadis sebagai gerbang utama menuju kritik matan. Mengingat jumlah hadis yang diteliti cukup banyak, tanpa mengurangi kualitas penelitian, maka tidak semua periwayat hadis akan diungkap dalam penelitian ini. Jika tidak ada hal-hal yang istimewa dan kontroversial, maka penulis hanya mengungkapkan para periwayat dimana seluruh imam hadis meriwayatkan hadis tersebut melalui dirinya. Namun, jika terdapat periwayat yang bermasalah dan kontroversial (yang diperselisihkan oleh para ulama hadis), maka penulis akan mengungkap dan mengkritisi mulai dari periwayat tersebut, tidak dari awal sanad. Dengan demikian, penelitian terhadap hadis dari para periwayat yang sudah dikenal

ke-Ğiqqah-annya seperti hadis yang disepakati oleh Bukhârî dan Muslim

(muttafaq ‘alaih) atau para sahabat yang sudah disepakati keadilannya,14 tidak akan dibahas secara panjang lebar dalam penelitian ini. Selanjutnya,

14 Kaidah yang disepakati untuk kualitas para sahabat adalah ƾÌÂÉƾÉǟ ÊƨÈƥÈƢƸċǐdz¦ ČDzÉǯ. Lebih lengkap baca ‘Adâlatu aú-ùahâbah dalam Al-KhaĠîb al-Bagdâdî, al-Kifâyah fî ‘Ilmi ar-Riwâyah, (ttp.: Dâr Ihyâ’ at-TurâĞ al-‘Arabî, 1352 H.), h. 46-49; ‘Abdurrahmân bin Abî Bakr As-SuyûĠî,

Tadrîbu ar-Râwî, (Riyâd: Makatabah Riyâd al-HadîĞah, tth.), h. 400; Syamsuddîn Muhammad bin ‘Abdurrahmân As-Sakhâwî, Fathu al-MugîĞ, (Libanon: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1403H.), jilid 4, h. 34.

19

jika dari sanad sudah jelas ke-da‘îf-annya maka penulis hanya memberikan catatan singkat mengenai matannya.

Adapun mengenai hadis yang da‘îf sanadnya tetapi tampak sahih matannya, selama ke-da‘îf-annya masih dapat ditolerir, artinya: periwayatnya bukan pendusta, tidak tertuduh dusta yakni periwayat yang hadis-hadisnya matrûk dan munkâr (menyalahi riwayat periwayat Ğiqqah), hafalannya rusak berat yakni terlalu sering melakukan

kesalahan, bukan ahli bid’ah, bukan periwayat yang mubhâm/majhûl (tidak dikenal), maka penulis akan berusaha mencari jalur periwayat lain yang mungkin bisa menaikkan derajatnya menjadi hasan li gairih (hasan karena yang lainnya). Namun, jika kelemahannya keterlaluan (da‘îf jiddan) dan sama sekali tidak ditemukan jalur periwayat lain yang bisa mendukung peningkatan kualitas hadisnya maka penulis akan menggunakan dalil yang lebih umum yang terdapat dan diakomodasi dalam Al-Qur’an ataupun hadis yang sudah pasti kesahihannya. Hal ini karena hadis dalam tingkatan tersebut meskipun jumlahnya banyak, tidak bisa meningkat menjadi hadis hasan li gairih. 15

b. Pendekatan kritik matan hadis yang mengacu pada kaidah kesahihan matan. Ini dilakukan khususnya bila ditemukan pertentangan

riwayat dengan riwayat para periwayat yang lebih Ğiqqah atau

bertentangan dengan kaidah kesahihan matan hadis secara umum. Dalam menyelesaikan pertentangan matan hadis yang sanadnya sama-sama sahih,

15 Kriteria di atas didasarkan pada madzhab yang moderat (mu‘tadil) sebagaimana diungkapkan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalânî. Kriteria inilah yang disepakai jumhûr (mayoritas) ulama hadis. Lihat: As-SuyûĠî, Tadrîbu ar-Râwî, h. 196-197.

20

maka sebagai langkah pertama, peneliti akan menempuh metode pengkompromian (al-jam‘u wa at-taufîq). Jika tidak bisa dengan pengkompromian maka langkah kedua yakni melakukan at-tarjîh (mencari dalil yang paling kuat di antara dalil yang sama-sama sahih). Jika dengan metode tarjih tetap tidak selesai maka sebagai langkah terakhir yakni dengan metode an-nâsikh wa al-mansûkh yaitu dalil yang datang belakangan menghapus hukum dalil yang datang lebih dahulu.16 Namun jika tidak ditemukan lagi adanya pertentangan, maka penulis langsung menjelaskan pemahaman terhadap hadis (fiqhu al-hadîĞ)

secukupnya.

Berdasarkan langkah-langkah tersebut di atas peneliti berusaha:

a. Menetapkan tema yang akan dicari konsepnya dalam Al-Qur’an dan hadis

kutub at-tis‘ah, yaitu manajemen pendidikan.

b. Mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis kutub at-tis‘ah yang membahas atau berkaitan dengan manajemen pendidikan.

c. Mencari penafsirannya di dalam Al-Qur’an atau dalam penjelasan hadis Nabi Muhammad saw.

d. Mencari penafsiran (penjelasan) pada beberapa kitab tafsir dan kitab syarh hadis.

16

‘Abdul Wahhâb Khallâf, ‘Ilm Ushûlu Fiqh, (Kairo: Maktabah ad-Da‘wâtu al-Islâmiyyah, 1968), h. 229. Ulama Syafi’iyah dan Malikiyah menambahkan langkah ke empat yakni at-tawaqquf (mendiamkannya) untuk sementara waktu. Mengingat masalah ini cukup mendesak untuk dipecahkan maka tidak bijak kiranya jika masalah ini di-tawaqquf-kan meski untuk sementara waktu.

21

e. Penafsiran para mufassir dan pen-syarh hadis dihubungkan dengan teori-teori manajemen pendidikan.

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi (content analysis),17 yaitu suatu analisis data yang sistematis dan objektif. Analisis yang dilakukan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis kutub at-tis‘ah dihubungkan dengan teori manajemen pendidikan yang relevan kemudian diinterpretasi dengan hal-hal yang menjadi kenyataan secara empirik dalam pendidikan sehingga menghasilkan proposisi-proposisi yang merupakan pernyataan hubungan atau hakikat hubungan antara ayat Al-Qur’an dan hadis serta teori manajemen pendidikan.

Dalam dokumen Tesis Konsep Manajemen Pendidikan Islam (1) (Halaman 36-41)

Dokumen terkait