• Tidak ada hasil yang ditemukan

H. Teknik Analisis Data

3. Analisis Data Kualitatif tentang Kelancaran Prosedural dalam Pemecahan

Menurut Miles, M.B., Huberman, A.M., dan Saldana, J (2014) di dalam analisis data kualitatif terdapat tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan. Aktivitas dalam analisis data antara lain sebagai berikut.

a. Kondensasi Data (Data Condensation)

Kondensasi data merujuk pada proses memilih, menyederhanakan, mengabstrakkan, dan atau mentransformasikan data yang mendekati keseluruhan bagian dari catatan-catatan lapangan secara tertulis, transkip wawancara, dokumen-dokumen, dan materi-materi empiris lainnya. Data yang dikondensasi diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih baik dan memudahkan peneliti untuk mengambil data lain yang diperlukan.

Selama pengumpulan data berlangsung, peristiwa selanjutnya yang terjadi pada kondensasi data adalah: menulis kesimpulan, pengkodean, mengembangkan tema, menghasilkan kategori- kategori, dan menulis catatan analisis. Pengkodean digunakan agar memudahkan peneliti memaparkan data kelancaran prosedural dalam pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif dan efikasi diri.

b. Penyajian Data (Display Data)

Penyajian data adalah sebuah pengorganisasian, penyatuan dari infomasi yang memungkinkan penyimpulan atau dengan kata lain, penyajian data yang meliputi pengklasifikasian dan identifikasi data, yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut. Penyajian data membantu dalam memahami apa

63

yang terjadi dan untuk melakukan sesuatu, termasuk analisis yang lebih mendalam atau mengambil aksi berdasarkan pemahaman.

c. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Drawing and Verifyng

Conclusions)

Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari awal pengumpulan data, seorang penganalisis kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan penjelasan, konfigurasi-koritigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, dan proposisi. Kesimpulan-kesimpulan “akhir” mungkin tidak muncul sampai pengumpulan data berakhir, tergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan lapangan, pengkodeannya, penyimpanan, dan metode pencarian ulang yang digunakan, kecakapan peneliti, dan tenggat waktu yang digunakan.

Hasil analisis tes tertulis dan wawancara akan digunakan untuk memperkuat informasi tentang bagaimana kelancaran prosedural dalam pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif dan efikasi diri siswa. Secara umum, skema analisis data dapat dilihat pada bagan berikut.

64

Gambar 3.4: Skema analisis data Pengumpulan Data

Hasil wawancara Hasil tes tertulis

Membuat transkrip data

Menelaah data

Kondensasi data

Display data

Validasi data

Data Valid

Analisis tujuan penelitian Analisis hal-hal yang menarik

65

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini menyajikan hasil penelitian dan pembahasan tentang deskripsi kelancaran prosedural dalam pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif dan efikasi diri. Adapun subjek yang terpilih dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut.

a. Subjek FIET, siswa yang memiliki gaya kognitif field independent dengan efikasi diri tinggi.

b. Subjek FIER, siswa yang memiliki gaya kognitif field independent dengan efikasi diri rendah.

c. Subjek FDET, siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent dengan efikasi diri tinggi.

d. Subjek FDET, siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent dengan efikasi diri rendah.

Adapun karakteristik subjek penelitian yang ditinjau dari gaya kognitif dan efikasi diri dalam pemecahan masalah matematika disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian ditinjau dari gaya kognitif dan efikasi diri

Kategori subjek

Karakteristik subjek

Gaya kognitif Efikasi diri

FIET 1. Dari hasil tes GEFT, subjek memperoleh skor 16.

1. Berdasarkan angket efikasi diri, subjek memperoleh skor 13.

66

2. Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh informasi bahwa subjek sangat suka belajar matematika.

3. Subjek cenderung menyukai belajar matematika secara individu atau independent. 4. Subjek pernah mewakili

sekolah mengikuti olimpiade matematika di event Geometri 2016 tingkat SulSel-Bar dan masuk dalam 10 besar.

2. Berdasarkan pengamatan peneliti, subjek memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam menyelesaikan masalah matematika.

3. Saat wawancara, subjek terlihat lebih percaya diri dan yakin dengan jawaban yang sudah ia berikan.

FIER 1. Dari hasil tes GEFT, subjek memperoleh skor 17.

2. Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh informasi bahwa subjek suka matematika.

3. Subjek cenderung menyukai belajar matematika secara individu atau independent. 4. Subjek pernah mewakili

sekolah mengikuti olimpiade matematika di event Geometri 2016 tingkat SulSel-Bar dan masuk dalam 15 besar, mewakili sekolah pada olimpiade matematika tingkat provinsi dan masuk pada 3 besar.

1. Berdasarkan angket efikasi diri, subjek memperoleh skor 8.

2. Berdasarkan pengamatan peneliti, apabila subjek mengalami hambatan dalam permasalahan yang diberikan, subjek cenderung mengabaikannya.

3. Saat wawancara, subjek sering menjawab pertanyaan ke arah yang kurang jelas, berputar-putar pada topik lain.

FDET 1. Dari hasil tes GEFT, subjek memperoleh skor 8.

2. Berdasarkan hasil wawancara, diperoleh informasi bahwa subjek tidak hanya menyukai belajar matematika tetapi juga menyukai pelajaran bidang sosial.

3. Subjek cenderung menyukai belajar matematika secara kelompok atau diskusi. 4. Subjek pernah mewakili

sekolah mengikuti olimpiade matematika di event Geometri 2016 tingkat SulSel-Bar dan masuk dalam 15 besar, mewakili sekolah pada

1. Berdasarkan angket efikasi diri, subjek memperoleh skor 11.

2. Berdasarkan pengamatan peneliti, subjek memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam menyelesaikan masalah matematika.

3. Saat wawancara, subjek berbicara dengan santai dan jelas.

67

olimpiade IPS tingkat provinsi dan masuk pada 3 besar tahun 2017.

FDER 1. Dari hasil tes GEFT, subjek memperoleh skor 5.

2. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi bahwa subjek tidak terlalu suka dengan pelajaran matematika. 3. Meskipun subjek belajar matematika secara individu, namun seringkali subjek membutuhkan bantuan ketika ia diberikan masalah matematika.

4. Subjek merupakan anggota paskibraka tingkat kecamatan dalam upacara pengibaran bendera merah putih 2017.

1. Berdasarkan angket efikasi diri, subjek memperoleh skor 7.

2. Berdasarkan pengamatan peneliti, subjek hanya terdiam ketika diberikan masalah matematika.

3. Pada saat wawancara, subjek selalu ragu menjawab pertanyaan meskipun yang ia lihat adalah hasil pekerjaannya.

Setelah melakukan pengamatan dan wawancara singkat kepada 4 (empat) orang subjek terpilih, diperoleh hasil yang dapat dijadikan sebagai tambahan informasi mengenai pengelompokan gaya kognitif dan efikasi diri pada masing-masing subjek penelitian.

Untuk hasil tes tertulis dan wawancara, pengkodean mengacu pada kode petikan jawaban subjek dalam transkrip wawancara. Kode petikan jawaban subjek terdiri atas 8 (delapan) digit. Empat kode pertama menyatakan kategori subjek, yakni “FIET”, “FIER”, “FDET”, atau “FDER”. Digit selanjutnya menyatakan nomor soal, yakni “1” atau “2”, diikuti dengan indikator kelancaran prosedural, yakni “1”, “2”, atau “3”. Dua digit terakhir menyatakan urutan petikan jawaban subjek. Sebagai contoh “FIET-12-03” menyatakan petikan jawaban urutan ke-3 untuk indikator 1 (pertama) soal nomor 1 (satu) oleh subjek bergaya kognitif Field

68

Untuk data valid, digunakan kode yang terdiri atas 7 (tujuh) digit. Diawali dengan dua huruf yaitu “DV” yang berarti data valid. Empat digit selanjutnya menyatakan kategori, yakni “FIET”, “FIER”, “FDET”, atau “FDER”. Kemudian digit terakhir menyatakan indikator kelancaran prosedural, yakni “1”, “2”, atau “3”. Sebagai contoh “DV-FDER-1” menyatakan data valid untuk subjek begaya kognitif

Field Dependent dengan Efikasi diri Rendah pada indikator 1 (pertama) kelancaran

prosedural.

Dokumen terkait